Prajurit SMA

Prajurit SMA
145. Bebas dari tanggung jawab


__ADS_3

Ada sebuah kastil besar yang ada di Kekaisaran Luan, dan berjarak 50 kilometer dari Istana Kaisar. Sebenarnya bangunan ini milik salah satu bangsawan fraksi perdamaian Kekaisaran Luan, namun bangsawan tersebut telah dieksekusi mati oleh pihak Aliansi karena dianggap menghambat ‘pengusiran’ pasukan Indonesia dari Tanah Suci. Tak heran, setelah kejadian itu hampir seluruh bangsawan fraksi perdamaian yang ada di Kekaisaran Luan mencari perlindungan ke Negara Yekirnovo maupun Kerajaan Arevelk. Beberapa dari mereka yang beruntung diterima dengan senang hati oleh Arevelk dan Yekirnovo, karena diharapkan dapat membantu mempercepat berakhirnya perang, tetapi yang tertangkap di tengah jalan menjalani eksekusi mati di tempat.


Kastil ini sekaligus berfungsi menjadi markas pusat Aliansi, dan inilah tempat dimana perang besar melawan Pasukan Ekspedisi direncanakan. Di sinilah para pemimpin negara-negara dan petinggi militer anggota Aliansi berkumpul untuk membahas kelanjutan perang, maupun sekedar menikmati tubuh gadis-gadis malang yang diculik atau dirampas paksa dari desa-desa Kekaisaran demi memuaskan para petinggi Aliansi.


Di tengah perang, hiburan memang sangat diperlukan, atau pasukan akan menderita stres. Tetapi tidak dengan para petinggi militer Aliansi yang mementingkan kemenangan daripada kesehatan mental prajuritnya. Meski mereka berhasil membuat para prajurit bersemangat untuk melawan pasukan Indonesia di Tanah Suci dengan kata-kata racun mereka, tapi hal itu tidak cukup hanya untuk sekedar meraih kemenangan.


Bisa dikatakan kemenangan besar yang ingin diraih Aliansi adalah ambisi yang sangat besar. Meraih kemenangan besar menurut sebagian orang adalah kehormatan tertinggi dari menjadi seorang prajurit, dan menurut mereka derajat bisa dinaikkan jika mengalahkan pasukan sekuat pasukan Indonesia. Bahkan prajurit yang berasal dari kalangan petani dijanjikan status bangsawan jika berhasil memusnahkan pasukan Indonesia dari Tanah Suci.


Tetapi, setelah perang besar tersebut usai, Aliansi hanya menerima hasil ‘nyaris menang’, dan menderita kerugian yang sangat besar. Kemenangan yang diimpikan seluruh rakyat negara-negara anggota Aliansi yang sangat membenci pasukan Indonesia, semua itu hanya tinggal mimpi yang tidak terwujud.


300.000 prajurit merupakan jumlah fantatis bagi dunia ini, bahkan negara-negara di benua lainyang mendengar kabar tersebut khawatir jika pasukan sebesar itu melawan negara mereka setelah berperang dengan pasukan Indonesia di Tanah Suci. Apalagi dengan adanya Kekaisaran Luan dan sebuah negara yang bernama Kekaisaran Duiwel yang sama-sama memiliki kekuatan militer besar, tentu saja kemenangan kemenangan akan menjadi harapan yang dekat.


Kekaisaran Duiwel merupakan negara yang menguasai sebagian besar dari benua kecil yang seluas Kanada, benua tersebut bernama Benua Debule. Kekaisaran Duiwel yang menguasai sebagian besar dari Benua Debule membuatnya memiliki kekuatan militer yang sangat besar, karena menguasai sebagian besar populasi dari benua tersebut yang membuatnya memiliki potensi ilmuan militer yang besar juga.


Hanya Kekaisaran Duiwel negara anggota Aliansi yang berasal dari luar Benua Andzrev. Sisanya, anggota Aliansi adalah lima dari tujuh negara yang berada di Benua Andzrev. Itulah yang menyebabkan Aliansi memiliki kekuatan militer yang sangat besar, sekaligus persatuan militer pertama yang tercipta di dunia ini.


Pasukan dengan kekuatan 300.000 prajurit dengan senjata-senjata terbaru hanyalah 10% dari kekuatan sebenarnya yang dimiliki Aliansi. Mereka juga memobilisasi monster yang berhabitat di negara-negara anggota Aliansi, yang menambah kekuatan militer mereka. Aliansi juga memiliki pengrajin senjata handal, dan menciptakan beberapa senjata baru untuk berperang menghadapi pasukan Indonesia dan sekutunya.


Tetap saja, jumlah fantatis 300.000 prajurit mereka hanyalah sekedar angka. Mereka sendiri kesulitan untuk memobilisasi pasukan sebegitu banyaknya, dan hanya menggunakan taktik lama yang tidak lagi efisien. ‘Seni perang adalah salah satu hal vital bagi suatu pasukan’, namun Aliansi malah menunjukkan kecerobohan yang luar biasa akibat tidak memprediksi jika pasukan Indonesia memiliki bantuan.


Pada akhirnya, Gerbang sempurna yang mereka tutup secara paksa tidak membuat pasukan Indonesia melemah. Justru hal itu yang membuat prajurit pasukan Indonesia bertarung mati-matian untuk menjaga sesuatu yang sangat berharga. Mereka sebelumnya juga tidak memperkirakan jika Arevelk dan Yekirnovo akan membantu pasukan Indonesia melawan mereka.


Lalu, Aliansi juga telah melakukan ritual pemanggilan pahlawan untuk menambah kekuatan militer mereka. Para pahlawan yang terpanggil dikatakan akan memiliki sedikit kekuatan dari Dewa Perang, dan diharapkan kekuatan besar mereka bisa menghancurkan pasukan Indonesia dan sekutunya.


Pahlawan yang terpanggil memang terbukti memiliki sedikit kekuatan Dewa Perang. Contohnya saja Pahlawan Nafsu yang memiliki sihir kuno logam, dia bisa menciptakan senjata yang pernah dia lihat. Lalu, Pahlawan Iri Hati memiliki kemampuan untuk membuat racun atau senjata kimia, dan Pahlawan Amarah yang memiliki sihir khusus yang cocok dengan senjatanya yang berupa senapan serbu, yakni Peluru Abadi yang tidak akan habis.


Dalam setiap penyerbuan terhadap benteng pasukan Indonesia, Aliansi mengerahkan pahlawan mereka dan berhasil membunuh beberapa prajurit Indonesia dan menghancurkan senjata-senjata baja kebanggan mereka. Itu adalah kepuasan tersendiri bagi Aliansi saat mereka berhasil mengurangi cukup banyak kekuatan pasukan Indonesia.


Tapi…


“Bagaimana mungkin, 300.000 pasukan kita dikalahkan musuh dalam waktu kurang dari setengah hari saja!?”


“Jangan lupakan musuh juga mendapatkan bantuan dari Arevelk dan Yekirnovo.”


Bogat dan beberapa pemimpin negara-negara anggota Aliansi lainnya hanya memasang wajah muram selagi Kaisar Kekaisaran Duiwel dan Raja Ban Mamaki tidak percaya dengan hasil perang.


“Untuk apa kita memanggil para pahlawan tidak berguna itu!?”


“Ya! Mereka bahkan melarikan diri ketika pasukan kita berjuang melawan pasukan bantuan musuh.”


Ketika mereka melihat dengan mata sendiri kesembilan pahlawan kembali dari medan perang dengan wajah pucat, hal itu adalah hal yang paling memalukan. Bagaimana bisa para pahlawan yang memiliki kekuatan luar biasa bisa mundur dari pertempuran melawan pasukan yang hanya mengandalkan senjata baja mereka? Itulah yang dipikirkan para pemimpin dan petinggi militer negara-negara anggota Aliansi.


Setelah kejadian para pahlawan yang melarikan diri dari pertempuran, kini mereka dirumorkan jauh lebih lemah dari raja naga yang pernah dikalahkan pasukan Indonesia. Rumor ini menyebar dengan cepat ke seluruh negara-negara anggota Aliansi, seperti api menyambar bensin. Karena itulah kepercayaan rakyat terhadap para pahlawan menurun dengan cepat.


Teknologi dari senjata-senjata baja yang dimiliki pasukan Indonesia seperti bukan tandingan kekuatan para pahlawan. Seharusnya, jika para pahlawan memutuskan untuk bersatu, mereka bisa mengalahkan kekuatan besar pasukan bantuan dari Indonesia dan sekutunya.


Tapi, para pahlawan hanya diberi tahu jika mereka harus membantu Aliansi untuk memenangkan perang, dan dijanjikan berbagai hal, termasuk gelar bangsawan dan dipulangkan ke dunia asal jika kemenangan diraih Aliansi.


“Kedua ratu jalang itu… sepertinya mereka juga ingin mengadu kekuatan pasukan kita dengan pasukan mereka…”


“Jika kita kemudian memilih berperang dengan Arevelk dan Yekirnovo, itu artinya kita akan kembali berperang dengan Indonesia. Para pahlawan sepertinya tidak bisa diharapkan lagi…”


Bogat dan beberapa pemimpin negara lainnya tetap tidak bereaksi apapun mengenai kalimat tersebut. Mereka hanya menyesap anggur dengan kadar alkohol tinggi, dan diam di tempat sambil memandang peta area Tanah Suci yang berhasil dikuasai kembali oleh Indonesia.


Hanya kurang dari 80.000 prajurit mereka yang berhasil kembali dari medan perang, meski mereka kembali dengan berbagai kondisi. Kebanyakan dari mereka menderita tekanan mental yang luar biasa, hingga hampir mendekati kegilaan.


Beberapa prajurit Aliansi yang kembali menceritakan apa yang mereka lihat ketika bertempur dengan pasukan bantuan.


Seorang prajurit yang berasal dari Kekaisaran Luan menceritakan pengalamannya ketika menghadapi infanteri Indonesia, tapi ekspresi yang diberikannya hampir mirip dengan orang yang memiliki gangguan jiwa.


“Apa kau lihat!? Di medan perang, mereka (prajurit TNI) menyerang kami dengan ledakan. Bang! Bang! Bang!... seperti itu serangan yang mereka berikan terhadap kami!” kawan-kawan prajurit tersebut hanya memandangnya dengan tatapan prihatin. Prajurit tersebut benar-benar terlihat hampir gila meski hanya menjalani pertempuran selama satu minggu. Tidak ada yang tahu mengapa dia bisa sampai seperti ini setelah pulang dari medan perang.


Tapi, keheningan di ruang pertemuan para pemimpin negara-negara anggota Aliansi adalah jawabannya.


Hanya pasukan Indonesia dan sekutunya yang bisa membuat para prajurit Aliansi hampir gila, dan enggan untuk kembali ke medan perang. Sebenarnya mereka masih mau pergi ke medan perang, kecuali medan perang dengan musuh yang berupa pasukan Indonesia dan sekutunya.


Hampir seluruh orang yang mendengar berita kekalahan Pasukan Aliansi bertanya-tanya apakah pendengaran mereka masih berfungsi. Setelah itu, mereka memastikan dengan pendengaran dari telinga sendiri jika pasukan besar Aliansi hampir hancur di medan perang Tanah Suci.


Kaisar Bogat hanya berkata, “Begitu, Kambana juga membantu musuh” setelah mendengar laporan jika adik Sheyn tersebut menciptakan senjata baru untuk menghadapi Pasukan Aliansi.


Kastil yang dilindungi tembok setinggi 4 meter didatangi ribuan manusia dari Kekaisaran Luan dan negara anggota Aliansi. Mereka menuntut Aliansi untuk mengembalikan anak, suami, dan kekasih mereka yang mati di medan perang. Perkataan yang mereka lontarkan terdengar seperti hinaan terhadap Aliansi, dan amarah mereka sudah mendidih seperti siang hari yang panas ini.


Terlihat ironis memang, karena para pria dan pemuda yang berasal dari negara-negara anggota Aliansi tidak secara sukarela menjadi prajurit Aliansi. Sebagian besar dari prajurit Aliansi dipaksa untuk berperang, dan jika melawan hukuman akan diterima keluarga prajurit. Apalagi mereka jelas-jelas dipaksa untuk bertarung melawan pasukan yang hampir mustahil untuk dibuat menyerah, dan para prajurit Aliansi sebagian besar tidak memiliki rasa nasionalisme terhadap negara asal dan Aliansi, dan jiwa korsa terhadap sesama prajurit. Demi selamat dari pertarungan pasukan Indonesia dan sekutunya, ada banyak perwira Aliansi yang menggunakan tubuh bawahannya sebagai tameng. Lalu, jika pertempuran semakin mustahil untuk dimenangkan, sebagian prajurit akan melarikan diri dan membiarkan rekan-rekan mereka terbunuh.

__ADS_1


Petinggi Aliansi menjanjikan bayaran yang setimpal bagi prajurit-prajurit mereka, termasuk keluarga prajurit yang gugur akan dijanjikan uang yang sama seperti yang diterima prajurit yang berhasil bertahan hidup. Namun, Aliansi telah kalah perang dengan sangat telak, dan janji-janji tersebut hanyalah tinggal ucapan omong kosong.


Meski Pasukan Aliansi telah melakukan pertempuran dengan berani, tapi rakyat sepertinya tidak mau menerima perjuangan mereka jika hasil yang didapatkan adalah ‘kekalahan terbesar’.


Memang, pasukan dengan jumlah 300.000 harus kalah dengan musuh yang berjumlah lebih sedikit adalah hasil yang sangat memalukan. Meski Arevelk dan Yekirnovo telah mengirimkan bantuan mereka, jumlah Pasukan Aliansi masih jauh lebih banyak. Tapi, perbedaannya adalah prajurit Pasukan Aliansi telah melalui serangkaian pertempuran panjang dan melelahkan, sementara pasukan bantuan menyimpan tenaga hanya untuk menghadapi mereka.


Setidaknya, para rakyat harus bisa menerima kehilangan anggota keluarga yang terbunuh di peperangan, meskipun Aliansi tidak memenangkan pertempuran.


Sepertinya, kekalahan besar Pasukan Aliansi disamakan dengan bencana besar setingkat tsunami. Tapi, yang mereka hadapi adalah sebuah negara yang berasal dari dunia lain dengan tingkat peradaban lebih tinggi ribuan tahun dari mereka, dan tidak salah jika menyamakan musuh mereka dengan bencana.


“Situasinya tidak sesederhana itu. Kita tidak sekedar menelan kekalahan yang sangat memalukan.”


Akhirnya, Bogat membuka mulut dan berbicara setelah menghabiskan dua gelas anggur. Kegelisahan orang-orang di tempat ini muncul setelah kalimat tersebut dikatakan Bogat.


“Saya mengerti. Pertempuran yang kita mulai mungkin akan menciptakan benih-benih permusuhan dari negara-negara lain. Karena pertempuran besar kita, Tanah Suci telah dinodai oleh darah perang.”


Lalu, Kaisar Bogat mengatakan hal yang paling mengkhawatirkan setelah perkataan Kaisar Serca, tapi dia mengatakan hal itu dengan senyum menyeringai.


“Sepertinya, kita ‘tidak sengaja’ memulai Perang Dunia Pertama, ya?”


**


Tanah Suci, yang kini berhasil dipertahankan, dan Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela yang berhasil diselamatkan dari pertempuran besar beberapa minggu yang lalu.


Belum ada satu pun prajurit pasukan bantuan, baik prajurit TNI, Rusia, dan Korea Utara yang kembali ke dunia asal. Ada beberapa alasan penting yang menyebabkan pasukan bantuan belum kembali, termasuk masa penugasan yang belum mencapai tahap akhir. Menurut waktu yang telah ditentukan, pasukan bantuan akan kembali ke dunia asal satu bulan sejak ketibaan mereka ke medan perang. Itu berarti, pasukan bantuan masih memiliki masa tugas selama 2 minggu di dunia ini.


Alih-alih marah dengan masa tugas selama 1 bulan di dunia lain tersebut, prajurit Rusia dan Korea Utara ternyata sangat menikmati penugasan mereka ke dunia lain ini. Meski saat peperangan mereka melihat medan perang paling mengerikan yang pernah mereka lihat sepanjang menjalani pekerjaan menjadi prajurit, yakni medan perang yang dipenuhi pasukan besar yang menjadi sasaran tembak yang sangat mudah.


Ada sebuah bukit yang tercipta dari tumpukan puing-puing bangunan benteng, bukit tersebut memiliki tinggi sekitar 30 meter. Sebagian puing digunakan kembali untuk menambal beberapa bagian tembok benteng yang runtuh, dan sebagian lagi digunakan untuk menciptakan bukit buatan tersebut. Itu adalah pekerjaan tambahan bagi prajurit pasukan bantuan dari Rusia dan Korea Utara.


Sebagian besar bangunan yang berdiri di benteng Pasukan Ekspedisi runtuh dan rusak berat, sehingga tidak mungkin dapat digunakan kembali. Sehingga, untuk tempat tinggal prajurit di dunia ini, sementara waktu mereka menggunakan tenda. Meski beberapa dari mereka merasa nyaman tidur di dalam kendaraan tempur, misalnya kendaraan taktis dan helikopter pengangkut.


Misi ini juga menjadi kesempatan prajurit Korea Utara dan Rusia untuk berinteraksi lebih dalam dengan prajurit TNI dan prajurit dunia lain yang berasal dari Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo. Sebagian dari mereka mewawancarai prajurit Pasukan Ekspedisi dengan tujuan ingin membayangkan pertempuran yang mereka alami saat Gerbang tertutup dan pasukan bantuan belum dikirimkan.


Meski hanya dengan membayangkan, prajurit Rusia dan Korea Utara dapat merinding dan merasa kagum dengan pengalaman prajurit Pasukan Ekspedisi yang berjuang mati-matian hingga pasukan bantuan tiba.


Lalu, di tempat yang terpisah, 60.000 tawanan perang yang dikumpulkan diamankan di sebuah area yang dulunya area barak prajurit Pasukan Ekspedisi. Para tawanan dijaga dengan ketat oleh 400 infanteri TNI.


Meski status mereka merupakan tawanan perang, tidak satu pun dari mereka dibiarkan menerima kejahatan dalam bentuk apapun. Walau begitu, masih ada beberapa prajurit TNI yang menantang para tawanan berkelahi, atau berlaku kasar terhadap tawanan. Tentunya para prajurit yang iseng tersebut akan mendapat hukuman sesuai perbuatan mereka.


Beberapa pengungsi untungnya hanya menderita luka ringan hingga sedang, sebagian besar luka berjenis luka bakar. Bagi pengungsi yang menjadi pasukan sukarela, mereka hanya mendapatkan beberapa luka sayatan pedang, dan menerima beberapa jahitan di tubuh mereka.


Regu penjelajah 1 adalah salah satu unit yang bisa dikatakan ‘beruntung’, karena jumlah anggotanya masih utuh setelah perang usai. Sementara itu, ada beberapa Regu penjelajah yang kehilangan sebagian besar anggotanya, bahkan beberapa hampir tak tersisa satu anggota pun. Itulah yang membuat anggota Regu penjelajah 1 bersyukur, dan memutuskan untuk saling menjaga demi keutuhan unit.


Mengenai Nio, pemuda tersebut terlihat sedang berjalan dengan seragam lapangan baru. Meski Nio berjalan sambil menatap lurus ke depan, namun tatapan yang dia berikan ternyata mampu membuat Sigiz dan Lux yang ingin mendekatinya mengurungkan niat mereka. Sigiz dan Lux merasa jika Nio benar-benar sangat sedih dan marah atas gugurnya Jendral Sucipto dan Kapten Surya.


Suasana hati Nio jauh lebih buruk daripada ketika menghadapi musuh-musuhnya di perang sebelumnya ketika mendengar kabar gugurnya Sucipto dan Surya. Wajah Nio yang hampir tanpa ekspresi membuat beberapa orang menjaga jarak darinya. Beberapa lagi bahkan harus mempertimbangkan lagi untuk melihat sosok Nio ketika pemuda tersebut sedang dalam suasana hati yang tidak jelas.


Surat yang ditulis Sucipto adalah awal Nio mengetahui berita kematian pria tersebut. Pemuda tersebut menerima tiga buah surat, yang semuanya ditulis oleh Sucipto, salah satu surat khusus diterima oleh Nio. Isinya adalah ucapan terimakasih Sucipto terhadap Nio yang sudah berjuang bersama di perang besar melawan Aliansi. Dan tertulis juga ungkapan kekaguman Sucipto terhadap kemampuan Nio, pria tersebut memuji kemampuan Nio yang berbeda dengan prajurit Tentara Pelajar biasa.


Bagi Sucipto, Nio adalah seorang prajurit muda yang memiliki masa depan yang menjanjikan di militer. Bahkan, ketika berjuang bersama Nio melawan Pasukan Aliansi, Sucipto merasa jika Nio benar-benar berubah menjadi sosok yang melebihi jendral sekalipun. Pria tersebut juga menulis surat bagi keluarganya jika perang ini akan membuatnya gugur secara terhormat, dan memerintahkan Nio untuk menyerahkan langsung surat tersebut ke keluarganya. Sementara satu surat lainnya adalah surat rahasia yang harus diberikan Nio kepada Presiden setelah kembali ke Indonesia.


Lalu, mengenai gugurnya Surya, Nio tentu saja sangat merasa kehilangan. Nio mengenal pemuda tersebut memiliki sikap arogan, dan sering mencari perhatian di depan prajurit perempuan Kompi 406. Bahkan Herlina tak luput dari godaan Surya, dan tidak menyerah untuk mendekati gadis itu meski tahu jika Herlina menyukai laki-laki lain.


Nio juga menerima surat yang dinodai dengan darah Surya, surat yang khusus ditulis pemuda tersebut untuknya. Surat yang menjadi pesan penting bagi Nio, dan menyinggung mengenai masa depan adik Surya, Nike.


Surya ingin Nio menjaga Nike seperti pemuda tersebut menjaga negara, dan menyerahkan masa depan adiknya ke Nio. Hanya pemuda itu yang Surya percayai untuk misi menjaga Nike, karena dia sendiri telah melihat sifat Nio selama berada di Kompi 406. Di akhir surat, Surya memerintahkan Nio untuk memintakan maaf kepada Nike jika dia harus gugur sebelum melihatnya bahagia. Karena, hanya Nike keluarga yang Surya miliki sejak perang dengan dunia lain dimulai.


“Kenapa aku yang mereka beri tugas ini? Apa tidak ada orang lain?”


Bukannya tidak ingin menerima tugas dari kedua prajurit yang gugur tersebut, Nio hanya membayangkan reaksi keluarga Sucipto dan Nike ketika mengetahui kabar gugurnya mereka berdua. Nio bahkan bisa membayangkan apa yang terjadi saat dia menyerahkan surat terakhir yang ditulis Surya dan Sucipto kepada keluarga mereka berdua.


Bukti kemarahan Nio atas gugurnya Surya dan Sucipto dan prajurit-prajurit lainnya adalah beberapa tawanan perang yang harus menerima perawatan khusus. Itu terjadi sesaat setelah Nio menerima surat dari mereka, yang menandakan jika Surya dan Sucipto gugur saat bertarung melawan musuh. Kalung milik Surya dan Sucipto yang Nio terima juga menjadi bukti jika kedua prajurit tersebut gugur.


Nio yang kehilangan kesabaran dan tidak bisa berpikir jernih setelah melalui peperangan yang melelahkan dan gila, menuju area yang menjadi tempat tawanan perang diamankan. Dia menantang beberapa tawanan, dan lebih dari 40 tawanan menerima tantangan Nio.


Dengan tangan kosong dan melawan sendiri para tawanan yang dia tantang, dalam waktu 15 menit Nio bisa membuat beberapa tawanan patah tulang, tak sadarkan diri, dan trauma. Jika beberapa prajurit tidak menghentikan aksi Nio berkelahi dengan para tawanan, mungkin tawanan yang terluka jauh lebih banyak.


Karena hal itu, Nio menjadi bahan pembicaraan orang-orang. Ketika dia berjalan menuju Markas Operasional Darurat, dia bisa mendengar bisikan disekitarnya, kebanyakan orang yang membicarakannya justru prajurit Kerajaan Arevelk, “Itu dia, orang yang diramalkan, dan orang yang bisa membuat ratu kita jatuh cinta untuk pertama kalinya. Prajurit yang berlumuran darah yang kejam dan tidak berperi kemanusiaan.”


“Katanya, kita tidak akan bisa bertahan 5 detik saja jika kita bertarung melawannya!”


“Kau bercanda!?”

__ADS_1


“Serius…”


Meski begitu, Nio masih menyimpan dendam pribadi terhadap Aliansi yang telah membunuh banyak prajurit terbaik bangsa. Tepatnya, hampir semua prajurit sangat marah terhadap semua musuh Indonesia, karena telah membunuh anggota keluarga mereka.


Bahkan jika perang ini terus berlanjut hingga waktu yang tidak bisa diperkirakan, para prajurit tidak keberatan untuk terus bertarung dengan seluruh musuh-musuh Indonesia dan membalaskan dendam pribadi mereka.


**


Nio tiba di depan tenda paling besar dibanding seluruh tenda yang didirikan di garis pertahanan sementara sebelum benteng dibangun kembali. Dia bertanya terhadap salah satu dari empat prajurit yang menjaga tempat ini tentang keberadaan Nugroho, yang katanya memanggil dirinya untuk menemui sang panglima tersebut.


Prajurit berpangkat Prajurit Satu meminta Nio untuk memasuki tenda saja jika ingin menemui Nugroho, dan memang si panglima ingin menemui Nio. Setelah berterimakasih, Nio memasuki tenda dan melirik ke segala arah untuk mencari keberadaan Nugroho.


Ketika berjalan, Nio beberapa kali memberi hormat kepada perwira-perwira, hingga dia menemukan sosok Nugroho. Beberapa prajurit yang sedang bekerja menatap sekilas ke arah Nio, yang sudah berubah beberapa hal, termasuk pandangan yang hampir mirip dengan orang yang dipenuhi ambisi untuk membunuh.


“Mungkin dia benar-benar akan mendapatkan pangkat letnan.”


“Itu memang tidak diragukan lagi…”


Nio hanya mendengar pembicaraan orang-orang terhadapnya seperti nasehat yang masuk ke lubang telinga dan keluar ke lubang telinga yang satunya.


Meski rumor mengenai Nio dan seluruh prajurit Pasukan Ekspedisi akan menerima kenaikan pangkat karena telah berjuang melindungi lambang negara, yakni Sang Merah Putih, Nio menganggap jika hal tersebut adalah hukuman.


Nio merasa jika semakin tinggi pangkat yang akan diterima, maka pekerjaan yang diterima dan tanggung jawab akan semakin besar. Itu adalah hal yang paling ingin dihindari Nio, dia lebih suka bekerja di medan perang langsung daripada di dalam ruang kerja ber-AC.


Orang yang ingin ditemui Nio tersenyum ketika melihat kedatangan pemuda tersebut. Nugroho duduk di meja kerja sambil menuliskan sesuatu pada tumpukan kertas di depannya. Perwira ini, hampir tidak seperti sedang bekerja di medan perang karena begitu tenangnya. Hampir seluruh prajurit masih cemas dengan serangan musuh jika hal itu datang dengan tiba-tiba.


Nio berdiri tegap di depan meja kerja Nugroho sambil memberikan hormat sesuai protokol. Nugroho yang mengenakan pakaian dinas harian menghentikan pekerjaannya, dan membalas hormat pemuda tersebut.


“Selamat atas promosi mu, sebentar lagi kau akan berpangkat Letnan Satu Tentara Pelajar. Nio…”


Nio tersenyum tipis dan dingin sebagai tanggapan ucapan selamat Nugroho. Nio hanya bisa merasa kesal di dalam hati, karena di hadapannya merupakan seorang perwira tertinggi di TNI. Nio tidak bisa menolak ‘hukumannya’, mau tidak mau dia harus menerima kenaikan pangkat tersebut.


Tetapi, situasi yang menyedihkan seperti sekarang adalah hal yang menciptakan suasana aneh di hatinya mengenai promosi jabatan yang dia terima.


“Siap! Terimakasih atas pujiannya, Pak…”


Dia tidak bisa marah hanya karena dirinya akan mendapatkan kenaikan pangkat, tapi Nio sama sekali tidak merasa bahagia atas hal tersebut.


Prajurit berprestasi seperti Nio seharusnya tidak berpikir seperti itu, tapi dia juga tidak bisa dengan mudah menghilangkan rasa sedih di hatinya. Dia tidak bisa menerima penghargaan setinggi itu, di saat kemenangan ini diraih dengan harga yang mahal dari darah dan nyawa para pejuang.


Seperti memiliki kekuatan esper, Nugroho berkata, “Apa kamu cukup dekat dengan Jendral Sucipto?”


“Siap…, menurut saya beliau cukup dekat dengan para prajurit. Beliau juga pantas dijadikan panutan.”


Dan itulah sebabnya Nio selalu memasang wajah mengancam, karena dia tidak bisa dengan mudah melepas kepergian Sucipto untuk selama-lamanya.


“Selain beliau, kita juga membutuhkan pemuda-pemuda sepertimu, Nio…”


“Siap… Republik juga sedang dalam bahaya. Kebahagiaan terbesar saya adalah dimana pemuda seperti saya dipercaya untuk menjaga bangsa.”


“Luar biasa.”


Mungkin satu-satunya hal yang ada dalam pikiran Nio ketika menyampaikan kalimat tersebut adalah ingin menyembunyikan rasa marahnya terhadap musuh. Menurutnya, dia masih merasa jika ekspresinya masih terlalu jelas menunjukkan rasa marah. Selain itu, dia mengatakan hal itu karena untuk formalitas, daripada mengatakan hal yang terlalu monoton.


Nugroho kemudian menyerahkan selembar kertas yang sudah dia tanda tangani, dan inilah tujuan pria itu memanggil Nio kesini. Meskipun Nio sudah siap menerima hukuman karena berkelahi dengan para tawanan, tapi dia jauh lebih beruntung karena tidak diseret ke pengadilan militer karena membunuh pasukan tawanan perang yang sebagian besar berasal dari Indonesia.


Para staf di tenda ini hampir tidak memandang Nio, masing-masing mengerjakan dokumen yang mereka terima. Nio merasa jika ada hal buruk yang menimpanya karena suasana tempat ini yang begitu tenang.


“Kamu, akan dibebaskan dari tanggung jawab memimpin Regu penjelajah 1.”


Nio yang terkejut dengan perkataan Nugroho kemudian membaca kertas yang ia terima, dan tulisan yang ada di kertas berisi jika Nio tidak lagi menjadi komandan Regu penjelajah 1. Sebelumnya, Nio mengira jika kertas yang dia terima berisi pemberitahuan jika gajinya akan dipotong karena berkelahi dengan tawanan. Tapi isi tulisan di kertas ternyata jauh lebih buruk.


“Kau akan dipindahkan ke Grup Pengintaian dan Pertempuran, dan memimpin salah satu tim di sana. Tentu saja kau akan melaksanakan tugas ini setelah kembali dari Indonesia.”


Nugroho menjelaskan kepada Nio apa itu Grup Pengintaian dan Pertempuran. Pria itu memberi tahu Nio jika pasukan ini hanya menyerap anggota dari Pasukan Pelajar Khusus. Itu artinya, seluruh anggota pasukan akan berasal dari kalangan prajurit Tentara Pelajar yang menjadi bagian dari pasukan elit tersebut. Tapi, Nio lagi-lagi menganggap jika tugas barunya sebagai hukuman atas seluruh kesalahannya di medan perang.


Setelah selesai mengatakan hal itu, Nugroho memberi tahu Nio waktu dan tempat dilaksanakannya upacara kenaikan pangkat baginya dan seluruh prajurit Pasukan Ekspedisi.


“Kamu juga menerima pujian dari perwira-perwira Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo. Dan Ratu Sigiz dan Yang Mulia Sheyn katanya akan memberikanmu gelar khusus. Aku juga tidak tahu pasti apa yang akan mereka berdua berikan padamu, tapi sepertinya mereka punya rasa padamu.”


Seketika, suasana di tempat ini semakin mencekam ketika beberapa staf perempuan menghentikan pekerjaan mereka dengan tiba-tiba setelah mendengar jika Nio akan menerima hadiah dari Sigiz dan Sheyn. Apalagi perkataan Nugroho ‘mungkin mereka punya rasa padamu’ membuat beberapa tatapan tajam dari staf laki-laki dan perempuan mengarah padanya.


“Yah… apapun yang akan kamu terima, jangan lupa tugas pertamamu menjadi prajurit Pasukan Pelajar Khusus.”

__ADS_1


“Siap… mengerti, Pak!”


Nio kemudian memberikan hormat kepada Nugroho sesuai protokol, dan berjalan ke pintu keluar sambil membawa kertas yang diberikan untuknya. Beberapa staf kembali melanjutkan pekerjaan mereka, beberapa staf perempuan tersenyum hingga pipi mereka merona perlahan, sementara kebanyakan staf laki-laki memelototi Nio dengan iri.


__ADS_2