
2 Oktober 2321, pukul 14.31 WIB/ tahun 1914 Kerajaan Arevelk, siang hari.
**
Pada saat kepala raja naga api berwarna kemerahan yang merupakan salah satu dari dua raja naga api di perlihatkan di alun-alun ibukota Kerajaan, dan karena itu ketakutan masyarakat perlahan-lahan menghilang.
Raja naga adalah keberadaan yang tidak bisa dilawan oleh manusia, dan orang-orang dunia ini menyamakan keberadaan mereka dengan bencana alam, seperti gempa bumi. Karena itu, saat kepala salah satu raja naga api diletakkan di alun-alun, masyarakat yang melihat bergumam ‘nasib baik’. Mereka merasa jika para raja naga dan makhluk berbahaya lainnya dikirim oleh para dewa untuk menghukum manusia. Tidak ada yang dapat melawan kehendak yang maha kuasa.
Tentu saja, masyarakat berusaha untuk melindungi diri mereka dari keberadaan raja naga. Seperti halnya antisipasi untuk menghadapi bencana, banyak kesatria dan pahlawan terdahulu yang telah mencoba untuk mengalahkan raja naga. Namun, sampai sekarang tidak ada satupun dari mereka yang berhasil.
Para pahlawan dan kesatria tidaklah lemah, setidaknya mereka memiliki yang namanya tekad dan motivasi. Satu-satunya kesalahan yang mereka hindari adalah ‘kalah’. Tidak berlebihan memang untuk mengatakan jika mereka tidak akan menang.
Para masyarakat terbelah menjadi dua kubu, yakni kubu yang meyakini jika pasukan hijau yang dibawa Ratu Sigiz dengan kendaraan aneh mereka-lah yang telah mengalahkan kedua raja naga api. Namun, kubu yang satunya justru meragukan, dan ketegangan timbul diantara kedua kubu.
Kabar kematian dua raja naga api telah tersebar ke seluruh Benua Andzrev, dan mengakibatkan ketakutan bagi kebanyakan pemimpin dan bangsawan.
Pada hari ini, kepala milik salah satu simbol ketakutan dan teror menjadi hiasan alun-alun ibukota Kerajaan Arevelk.
Hanya mampu mengusir raja naga adalah hal yang sangat menakjubkan. Namun, sekarang bukti kematian raja naga api ada di depan mata, dan ternyata berdampak kuat terhadap orang yang melihatnya.
Reaksi mereka dapat dikatakan dengan ‘terpesona’ maupun ‘tercengang’, meskipun kata-kata yang cocok untuk mendeskripsikannya adalah ‘mereka menatap dengan mata dan mulut terbuka lebar’.
Hati masyarakat Kerajaan Arevelk dipenuhi dengan sukacita dan kegembiraan. Namun, makhluk yang disebut dengan raja naga api begitu kuat, sehingga tampaknya tidak realistis bahwa ada sebuah pasukan membunuhnya. Sekarang, pihak yang meragukan melihat kepala raja naga api yang terpisah dari tubuhnya, yang mereka rasakan hanya kebingungan.
Jangan harap daging naga bisa dimakan seperti daging sapi ataupun tokek yang umum digunakan sebagai obat tradisional masyarakat Indonesia. Aroma daging naga sangat busuk, sehingga hanya serangga dan makhluk pengurai saja yang mampu mengkonsumsi daging naga. Karena ada kasus dimana sebuah kelompok petualang yang membunuh anak naga dan memasaknya. Namun, setelah memakannya, seluruh anggota kelompok tersebut mati keracunan.
Daging naga dan wyvern memang sangat tidak enak dan pahit, lebih dari rasa pahit dari jamu daun pepaya.
Bagaimanapun, suara sorak sorai masyarakat ibukota membuat beberapa pihak ‘iri’, para petinggi militer contohnya.
Jalanan ibukota ‘macet’ dengan orang-orang yang ingin melihat apa yang terjadi. Setiap lokasi dipadati dengan orang-orang, baik itu jalanan maupun bangunan. Mendadak, keberadaan kepala raja naga membuat banyak orang membuka lapak dagangan dadakan, tentu saja tidak ada penjual cilok maupun es blender di dunia ini.
Beberapa orang bahkan sampai naik ke atap bangunan untuk melihat kepala salah satu raja naga. Orang-orang berdesakan hingga menginjak kaki orang lain saat bergerak. Untungnya tidak ada kegaduhan maupun masalah besar.
Ketika melihat kepala raja naga, masyarakat berdiri membeku dengan mulut terbuka lebar, bahkan beberapa sampai lupa berkedip ketika melihat sebuah fakta yang mencengangkan di depan mereka.
Beberapa orang terlihat saling berbisik.
“Siapa yang mampu melakukan hal besar seperti membunuh raja naga?”
“Bukankah pasukan seharusnya bertempur melawan Kekaisaran Luan?”
Di dunia ini, belum ada media masa yang dapat dengan cepat menyebarkan sebuah informasi. Di dunia ini, sebuah informasi sepele bisa diketahui masyarakat luas dalam waktu beberapa tahun kemudian, misalnya seorang bangsawan yang rela memelihara kambing.
Ketika pihak tertentu ingin menyebarkan sebuah informasi, cara tercepatnya adalah menempelkan poster maupun selebaran dengan informasi yang tersirat. Jika tidak, beberapa pihak yang menjadi penipu akan berkata “Aku yang melakukan ini!” karena orang-orang sibuk mendiskusikan masalah ini.
Namun, belum adanya teknologi semacam smartphone, membuat hal seperti ini tidak bisa diposting. Yang bisa dilakukan untuk melihat kepala raja naga api adalah menyaksikannya langsung di alun-alun ibukota Kerajaan Arevelk.
Tidak ada seorangpun yang dapat menjawab pertanyaan seperti “Siapa yang melakukan ini. dan pertempuran besar seperti apa yang mereka lalui?”. Bukti kepala raja naga berukuran besar ini adalah bukti jika pasukan itu telah memenangkan sebuah pertempuran ‘mustahil’.
Kalau bisa, seniman Kerajaan akan membuat monumen dengan kepala raja naga api agar kemenangan ini bisa terus dikenang.
Manusia adalah makhluk hidup yang menghasilkan teori, penjelasan, dan kesimpulan, lalu mencari orang untuk setuju dengan gagasan mereka. Karena itu, orang-orang mulai berspekulasi.
Beberapa orang menganggap jika hanya pasukan hijau yang dibawa Ratu Sigiz adalah pihak yang dapat mengalahkan salah satu raja naga ini.
Salah satu pihak yang iri dengan pencapaian pasukan yang dapat mengalahkan raja naga api adalah Kaisar Bogat.
Ketika berita itu beredar di masyarakat, hal itu membuat beberapa pihak takut dengan ‘masalah keamanan nasional’ Kekaisaran Luan.
Hampir setiap orang yang mendengar berita ini bertanya-tanya apakah telinga mereka masih berfungsi. Setelah itu, bangsawan Kerajaan Arevelk pergi ke ibukota untuk melihat kebenarannya.
Saat para bangsawan sibuk memandang kepala raja naga api dengan mulut menganga, mereka sepertinya lupa jika sebentar lagi penandatanganan perjanjian perdamaian akan dilaksanakan.
**
“Apa orang yang diramalkan selamat setelah bertempur melawan raja naga api?”
Sigiz segera meminum satu teguk anggur, lalu menyekanya dengan sapu tangan sebelum menjawab pertanyaan Penyihir agung.
“Ya, dia hanya terluka sedikit, tapi dia baik-baik saja.”
Sigiz tidak langsung pulang ke Istana Awan, tetapi mengunjungi kediaman Penyihir agung untuk mengundangnya pada acara penandatanganan perjanjian perdamaian.
Sudah jelas tujuan Sigiz untuk mengundang Penyihir agung, karena sekaligus untuk menunjukkan para TNI jika sihir dan ramalan itu benar-benar ada di dunia ini.
Tiba-tiba, ingatan pertempuran melawan dua raja naga api terlintas di kepala Sigiz. Dia tidak bisa menguraikan kejadian tersebut dengan kata-kata.
**
Rombongan kendaraan tempur yang hampir seluruhnya berwarna hijau ini melintas di pintu gerbang ibukota Kerajaan Arevelk. Ini adalah siang hari yang sangat cerah, dan sinar matahari yang bersinar tidak begitu panas.
Roda-roda kendaraan yang kebanyakan memiliki bobot lebih dari 2.000 kilogram ini menimbulkan debu, dan tetap melaju di jalanan.
__ADS_1
Di dalam kendaraan, seluruh personel mendengar suara mesin berpadu dengan suara alat musik khas Kerajaan Arevelk. Beberapa alat musik memiliki bentuk yang mirip dengan tifa, beberapa anak muda memainkan alat musik tersebut.
Saat melihat alat musik dengan bentuk yang mirip dengan tifa tersebut, Liben teringat dengan kampung halamannya. Saat dia hampir menangis, seluruh personel langsung memukul kepalanya agar Liben tidak menangis.
Sekelompok remaja menyanyikan lagu dengan nada bersemangat. Bagi yang memahami liriknya, lagu tersebut berisi sambutan terhadap kesatria yang mempertaruhkan hidupnya di pertempuran besar. Beberapa lirik berisi mengenai seorang kesatria yang bisa bertemu dengan kekasihnya setelah mengikuti pertempuran mematikan. Itu membuat Nio dan personel yang mengerti bahasa dunia ini terharu.
“Itu sangat indah.”
“Ya.”
“Jangan sampai rindu rumah, kita disini masih lama!”
Setelah Nio mengingatkan hal itu terhadap seluruh anggotanya, beberapa anggota justru terlihat kesal. Memangnya, apa yang salah jika merindukan keluarga?
Beberapa prajurit mengeluarkan smartphone milik mereka untuk merekam penyambutan ini. Beberapa prajurit perempuan sampai menyeka air mata karena tidak menyangka akan mendapatkan sambutan yang sangat besar. Namun mereka tidak dapat memposting rekaman ini, karena jaringan internet keliling belum tersedia banyak.
Semua personel terkesan dengan sambutan meriah masyarakat ibukota Kerajaan Arevelk. Ataukah mungkin mereka perlu turun dari kendaraan untuk membaur bersama mereka?
Kelompok yang memainkan alat musik dan bernyanyi nampak senang tampil bagi pasukan asing ini.
Nio duduk di kursi depan, sampingnya adalah Liben yang sedang mengemudikan kendaraan taktis ini. Nio kemudian membuka jendela untuk menghrup udara segar, karena selama perjanan dia hanya menghirup aroma bahan bakar.
Nio bisa saja menggantikan Liben mengemudi, di tempat yang tidak ada peraturan lalu lintas dan lampu lalu lintas, menjadikan kebebasan mengemudi bagi pengemudi kendaraan tempur ini. Kebetulan beberapa anggota perempuan juga mencoba belajar mengemudi, itu mengingatkan para laki-laki betapa menakutkannya pengemudi perempuan, apalagi emak-emak.
Nio dan seluruh penumpang kendaraan taktis terlihat menikmati alunan musik yang baru pertama kali mereka dengar.
“Aku bisa bermain musik juga. Tapi, malam ini kau harus…, awww…!”
Lux tiba-tiba muncul dan berjalan dengan kecepatan yang sama dengan kendaraan yang Nio tumpangi. Meskipun Lux menyembunyikan niat ‘cabulnya’, namun terdengar jelas dari nadanya jika dia mencoba menggoda Nio. Namun ditengah perkataannya, tiba-tiba omongannya berakhir dengan teriakan aneh.
Seorang perempuan memukul kepala Lux dengan keras, belum diketahui siapa perempuan yang berani menghajar kepala salah satu jendral pasukan Kerajaan Arevelk.
“Mohon maaf prajurit hijau, saya akan membawa dia supaya tidak membuat anda tidak nyaman.”
“Si-silahkan.”
Nio tidak mengenal siapa kesatria perempuan itu, tapi dia tidak tertarik dengan perempuan paruhbaya.
“Tuan Nio, malam ini mampirlah ke rumahku…!!!”
Nio menanggapi perkataan Lux hanya dengan senyum kecut. Sementara anggotanya menatap Nio dengan tatapan penuh rasa ‘jijik’.
“Dulu ratu, sekarang bawahannya. Pilih salah satu dan jangan diembat semua dong Komandan!”
Nio berpikir apa yang mereka katakan. Dia bersandar dengan posisi ternyaman hingga rombongan mencapai sebuah bangunan besar.
**
“Aku terkejut jika gadis muda itu seorang ratu.”
Nio tersenyum kecut saat Sucipto mengatakan hal itu. Mereka berdua duduk berhadap-hadapan di ruang makan hotel yang bisa disewa dengan harga 10 keping perak perhari, itu artinya hotel ini berbintang 3. Dihadapan mereka ada minuman anggur tanpa alkohol, karena prajurit TNI dilarang untuk mengkonsumsi alkohol.
Bukan karena tuntutan agama tertentu, karena alkohol bisa saja membuat prajurit menjadi tidak terkendali dan bertindak brutal.
Nio tidak tahu alasan jendral seperti Sucipto berbaur dengan para prajurit bawahan, padahal meja makan perwira sudah disediakan terpisah dan mendapatkan tempat terbaik hotel ini.
Nio berkata didalam hatinya, “Semoga saja Jendral tidak mengetahui umur asli Ratu Sigiz.”
Lalu Nio menjawab perkataan Sucipto, “Yah, mungkin saja sistem pemerintahan di dunia ini adalah kerajaan, atau pemerintahan yang bisa diwariskan ke pihak tertentu.”
“Memang tidak salah kita menerima prajurit seperti mu. Kau bisa mengambil kesimpulan besar dalam waktu cepat, bukankah itu menakjubkan?”
“Siap! Bukankah anda terlalu banyak memuji saya? Ada banyak prajurit yang seperti itu disini, jadi mereka juga perlu dipuji.”
“Siap! Ya pak! Dipahami!”
Nio hanya tersenyum ketika Sucipto justru bercanda seperti itu, beberapa prajurit yang menyaksikan terlihat berbisik mengenai kedekatan Nio dan Sucipto.
“Tapi, kenapa kau mendaftar menjadi Tentara Pelajar, dan malah tidak bergabung dengan Pasukan Utama?”
Nio paham dengan pertanyaan seperti ini, karena saat tes psikologi dia juga menerima pertanyaan yang serupa. Lalu Nio mencoba menjawab pertanyaan Sucipto dengan jawaban yang sama saat menjalani tes psikologi.
“Karena saya ingin di tempatkan di Garnisun Karanganyar, agar bisa terus memantau keadaan kakak saya. Dia satu-satunya keluarga yang saya miliki, jadi saya wajib berjuang untuk melindungi dia. Hingga secara kebetulan saya benar-benar ditempatkan di Garnisun Karanganyar.”
“Nilai matematika selalu tidak lebih dari 20 digit, sangat menguasai pelajaran sejarah dan bahasa asing, bisa menyusun rencana walau mendadak, siswa pemalas namun sangat pandai. Aku juga tidak tahu mau memujimu atau yang lain.”
Nio tidak terkejut jika Sucipto bisa mengetahui hal tentangnya hingga sejauh itu, dia hanya bisa mengucapkan terimakasih kepada Sucipto.
Setiap kali dipuji, Nio akan menghela napas karena kebanyakan orang yang memujinya adalah orang-orang terpandang, Presiden contohnya.
“Apa masalahnya? Kenapa dia murung?”
Anggota Regu penjelajah 1 yang duduk tak jauh dari Nio mencuri pandangan ke arahnya dan Sucipto.
__ADS_1
**
Ibukota Kerajaan Arevelk adalah salah satu kota bersejarah di negara ini, atau bisa disebut dengan kota yang memiliki masa lalu terhormat. Kota ini didirikan sebelum Kerajaan Arevelk menjadi negara besar, sekitar 2.000 tahun yang lalu.
Bahkan sejarah ibukota Kerajaan jauh lebih panjang dari Kekaisaran Luan dan kerajaan lainnya. Bisa dikatakan, ibukota Kerajaan adalah kebanggan bagi rakyat Kerajaan Arevelk.
Banyak ras yang peneliti Indonesia memutuskan untuk menyebut mereka sebagai Demihuman. Meski begitu, hanya telinga dan tambahan ekor saja yang membuat salah satu ras ini berbeda dengan manusia biasa. Kebanyakan dari mereka bertelinga kucing, rakun, dan lainnya, dan sebuah ras monster yang di sebut dengan ‘centaurus’, yakni manusia yang setengah badannya adalah tubuh kuda.
Sebagian Demihuman menguasai sihir, banyak orang bijak dan penyihir yang menempuh pendidikan di ibukota. Tidak ada deskriminasi ras di Kerajaan Arevelk sejak Sigiz naik tahta, sangat berbeda dengan negara lainnya yang menjadikan ras Demihuman sebagai budak.
Sebagian besar bangunan kota ini setinggi dua hingga tiga lantai, bangunan dengan empat lantai atau lebih sangat langka. Di atas jalanan kecil, orang-orang menggantung cucian.
Jalan utama ibukota memiliki lebar kurang dari lima meter, itu sebabnya rombongan Regu penjelajah sedikit terhambat.
Bangunan hotel dengan tinggi enam lantai adalah penginapan yang khusus dipesan bagi rombongan TNI di Kerajaan Arevelk. Yang menentukannya adalah Hin setelah mendapatkan kabar jika pihak TNI akan mengadakan kunjungan untuk melakukan penandatanganan perjanjian perdamaian. Seperti kebanyakan bangunan di dunia ini, lantai bangunan menggunakan kayu yang sangat kuat.
Pelayan hotel dengan panik melayani ratusan personel pasukan hijau. Beberapa pelayan berasal dari ras Demihuman, itu menandakan jika negara ini memang menghargai semua ras yang tinggal di wilayahnya.
Tidak hanya personel Regu penjelajah saja yang berada di hotel ini, tetapi beberapa pengunjung lainnya juga ada disini, namun jumlah mereka tidak sebanyak para prajurit ini. Keberadaan para prajurit ini membuat mereka sangat tertekan, meski seluruh prajurit bersikap sesopan mungkin yang mereka bisa.
Lalu pengunjung hotel yang bukan dari kalangan Regu penjelajah tiba-tiba berdiri dengan pose melakukan hormat terhadap raja maupun ratu. Lalu, pemilik hotel ini juga keluar dari ruang kerjanya untuk menemui kedua orang penting itu.
“Selamat datang Yang Mulia Sigiz, dan Raja Hin. Merupakan kehormatan bagi saya atas kedatangan Yang Mulia. Dan terimakasih atas perlindungan yang mulia atas kekalahan raja naga api.”
Bagi pihak yang menjalankan bisnis, kedatangan orang penting berarti bisnis mereka semakin terkenal, termasuk menurut pemilik hotel ini.
“Maaf, pemilik penginapan. Yang membunuh raja naga api bukanlah pasukan kita, tetapi mereka yang memakai pakaian hijau.”
Sigiz menunjuk barisan meja yang diisi oleh 320 personel Regu penjelajah yang membuat mereka terkejut. Meskipun perilaku mereka sopan terhadap warga lokal, namun para penyihir merasakan tekanan yang kuat terhadap para prajurit yang memiliki pengalaman tempur tinggi, Nio salah satunya.
Antek-antek Sucipto kemudian berdiri dan memberi hormat kearah Sigiz dan Hin dengan postur tubuh tegap. Tingkah mereka ternyata mampu membuat prajurit Kerajaan yang menjadi pengawal Sigiz dan Hin merasa iri.
Pelajaran pertama untuk menjadi prajurit memang peraturan baris-berbaris, tetapi pasukan Kerajaan tidak sehebat TNI dalam hal ini.
Sucipto mengajak Nio yang fasih menggunakan bahasa setempat untuk mendekati Sigiz dan Hin. Sepertinya, Nio memiliki tugas sampingan, yakni menjadi penerjemah. Nio berharap jika dia akan digaji saat melakukan pekerjaan menjadi penerjemah.
Nio dan Sucipto kembali memberi hormat kepada Sigiz dan Hin, tentu saja mereka berdua tidak tahu cara membalasnya. Sebagai gantinya, Sigiz dan Hin membungkuk dan meletakkan telapak tangan di dada kiri sebagai balasan penghormatan.
Tentu saja itu membuat masyarakat yang menyaksikan terkejut, karena hormat itu hanya dilakukan bagi orang yang benar-benar terpandang, memiliki jabatan yang jauh lebih tinggi dari raja dan ratu atau setara.
Sigiz memandang Nio dengan tatapan ‘terpesona’, karena pemuda yang masih melakukan pose hormat itu seperti ‘berwibawa’, tidak seperti pria paruh baya yang bersama Nio yang berperut buncit.
“Apa kebanyakan perwira tinggi pasukan itu berperut buncit?”
Sigiz melirik ke arah perut Nio yang tidak sebesar milik Sucipto. Lagipula, Perwira tinggi dengan pangkat jendral lebih sering melakukan tugas dari dalam ruangan, berbeda dengan Komandan Lapangan yang kebanyakan tugasnya di medan tempur.
**
10 orang prajurit Kerajaan memimpin personel Regu penjelajah untuk menuju pemandian air panas terkenal ibukota. Sementara Nio dan Sucipto masih melakukan sebuah diskusi bersama Hin dan Sigiz.
Jarak pemandian air panas kurang lebih 700 meter dari penginapan, dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki selama 15 menit. Jangankan berjalan kaki, dalam jarak 700 meter para prajurit mampu menempuhnya dengan jalan sambil jongkok.
Suasana sore di ibukota Kerajaan adalah hal baru bagi para prajurit, sehingga mereka mengabadikannya menggunakan smarphone dan kamera masing-masing. Alun-alun juga mulai ramai dengan remaja yang berkencan, itu tidak bedanya kebanyakan alun-alun di Indonesia yang berfungsi sebagai tempat kencan remaja saat malam.
Tentu saja pemandian di pisah bagi perempuan dan laki-laki, para prajurit Kerajaan yang mengarahkan mereka menurut jenis kelamin masing-masing. Tentu saja beberapa prajurit mengetahui kata-kata dasar dunia ini, jadi mereka tidak akan salah masuk tempat pemandian.
Jenis pemandian ini adalah tipe terbuka, dimana pemandian dapat digunakan secara bersama-sama, seperti kolam renang.
Setelah menyimpan seragam lapangan mereka di loker, prajurit laki-laki memasuki tempat pemandian dengan teratur. Beberapa prajurit langsung masuk kedalam kolam air hangat, beberapa lagi memilih untuk berkeliling.
Mereka saat memasuki kolam diharuskan telanjang. Saat masih berada di Garnisun masing-masing, para prajurit sering mandi bersama dan dalam keadaan telanjang, jadi hal ini bukanlah masalah.
Beberapa prajurit bahkan membanding-bandingkan ukuran anu mereka dengan milik yang lain. Siapa yang memiliki anu yang besar, merekalah yang menang.
Chandra dan Liben masih berdebat mengenai ukuran anu mereka, jika dilihat-lihat ukuran anu Liben memang lebih besar dari Chandra, bahkan dari seluruh prajurit yang ada di pemandian. Tentu saja tentang hal ini Liben bisa membanggakan diri.
Beberapa prajurit merasa iri mengenai ukuran anu Liben, sisanya tidak peduli dengan kegiatan tak berguna yang dilakukan para prajurit muda ini.
Nio baru selesai melakukan pekerjaannya, dan diantar ke pemandian oleh dua prajurit. Tidak mungkin Nio dibiarkan berkeliaran tanpa pengawasan, statusnya di Kerajaan Arevelk adalah tamu.
Setelah menyimpan pakaianannya di loker, Nio memasuki tempat pemandian laki-laki. Dari balik pintu, Nio bisa mendengar suara Liben dan anggota Regunya yang lain.
Nio membuka pintu dan menyapa anggota Regunya yang terdengar masih memperdebatkan soal ukuran anu. Namun, setelah Nio membuka handuknya untuk ikut berendam, semua orang terdiam saat anu Nio menggantung dengan ukuran 1,5 kali lipat dari milik Liben. Seketika kepercayaan diri Liben runtuh saat melihat ukuran anu Nio.
Beberapa orang mengelilingi Nio, dan terfokus pada anu miliknya.
“Ada apa?”
Nio tidak menyadari jika anu miliknya menjadi pusat perhatian. Beberapa saat kemudian dia melihat ke arah orang-orang melirik.
Wajah Nio seketika pucat saat mengetahui anu miliknya yang menyebabkan orang-orang mengelilinginya.
Dia segera melarikan diri dari kolam berendam dan segera menuju tempat penyimpanan pakaian. Wajahnya semakin pucat saat orang-orang menyuarakan kekecewaan mereka karena ukuran anu mereka yang lebih kecil dari milik Nio.
__ADS_1