
Untuk Tim Ke-12 Korps Pengintaian dan Pertempuran, tidak ada kata-kata yang lebih buruk untuk menggambarkan hari ini. Mereka ingin istirahat setelah tidak mendapatkan waktu istirahat yang layak, padahal mereka adalah unit Pasukan Perdamaian (Persekutuan) yang paling produktif.
‘Produktif’ berarti mereka telah banyak terlibat di hampir seluruh pertempuran yang dihadapi Persekutuan, bahkan unit-unit yang lebih besar dari mereka tidak mendapatkan tugas penting selama ditugaskan di dunia ini.
Tentu saja tidak ada kata-kata yang pas untuk menjelaskan keadaan perasaan dua puluh anggota Tim Ke-12 setelah mereka menjalankan tugas patroli, dengan tambahan anggota Edera dan hevaz. Bahkan, meski mereka telah terbagi menjadi dua grup dan berpencar, mereka tidak akan kembali ke Benteng Girinhi sebelum menemukan sesuatu seperti informasi penting dan berharga untuk dilaporkan.
Meski Ratu Sigiz tiba-tiba mengirimkan pasukan tambahan untuk mempertahankan Benteng Girinhi dan wilayah sekitarnya, itu hanya membuat kebingungan besar. Untuk apa mereka dikirimkan setelah seorang perwira muda dari TNI menyadari kelemahan terbesar fasilitas pertahanan Kerajaan Arevelk tersebut? Intinya, militer kerajaan tersebut terlambat untuk menyadari jika Benteng Girinhi adalah titik terlemah di garis perbatasan. Jika pasukan tambahan tersebut datang, maka akan terjadi penataan ulang yang memusingkan. Setidaknya, di dalam pasukan tambahan terdapat seribu penyihir militer yang akan memperkuat Benteng Girinhi yang sebelumnya dipertahankan tanpa adanya penyihir sama sekali.
Di lain sisi, penambahan pasukan di Benteng Girinhi memberikan kekuatan tambahan bagi Arevelk dan diharapkan mampu membuat musuh mengurungkan niat mereka menyerang fasilitas militer tersebut. Sementara itu, belum terlihat pergerakan dari pasukan pemberontak, sehingga prajurit mendapatkan waktu untuk mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, yakni pertempuran sesama teman. Jika hal itu terjadi, maka Kompi Bantuan 002 dan Tim Ke-12 yang akan menghadapi pemberontak agar moral pasukan dapat dipertahankakan dan tidak runtuh.
Setidaknya, kabar mengenai keberadaan unit Pasukan Perdamaian di Benteng Girinhi merupakan informasi rahasia. Jika Aliansi dan pemberontak menyerang bersamaan, maka Kompi Bantuan 002 akan melawan mereka dengan senapan mesin sedang serta berat, meriam otomatis, mortir, senjata panghancur MBT, dan pelontar api. Mereka adalah kompi infanteri tidak murni, dan hampir setara dengan kekuatan setengah batalyon lapis baja.
Sementara itu, Tim Ke-12 tengah terbagi menjadi dua kelompok, dan membuat mereka cukup lemah jika dihadapkan dalam pertempuran. Tugas mereka bukanlah melawan, namun melakukan pertempuran pertahanan. Medan hutan yang menjadi tempat dilaksanakannya tugas mereka menjadi keuntungan tersendiri, dan mereka siap menyergap musuh yang terlihat terus mendekat dari perangkat pemancar panas tubuh di helm masing-masing.
Sangat merepotkan jika puluhan orang yang terdeteksi melalui pemancar panas tubuh seluruh anggota Tim Ke-12 dan Regu A Kompi Bantuan 002 adalah prajurit musuh, terlebih lagi jika mereka adalah pasukan Aliansi yang memiliki senapan. Meskipun mereka terlatih dalam pertempuran modern, namun mereka tidak tahu keahlian musuh dalam pertarungan menggunakan senapan atau senjata jarak jauh lainnya.
“Apa mereka benar-benar musuh, Hevaz?”
Melalui helm yang ia gunakan, Nio hanya dapat melihat puluhan orang pemilik panas tubuh yang terdeteksi melalui penerima radiasi inframerah di helm-nya terus bergerak mendekati grup yang dia pimpin.
Sejak Hevaz merasakan adanya gerombolan orang yang bergerak ke arah mereka, Nio terus memerintahkan anggota grup 1-nya untuk tetap waspada dengan senapan dalam mode siap tembak. Nio tidak menyarankan bawahannya untuk menembak dalam mode otomatis penuh, atau konsumsi amunisi mereka akan sangat boros, paling boros daripada tim-tim Korps Pengintaian dan Pertempuran lainnya.
“Sepertinya bukan, Tuan. Mereka sama sekali tidak memiliki niat untuk bertarung," kata Hevaz.
“Apa kau memiliki kemampuan membaca niat seseorang hanya dengan merasakan aura mereka?” Nio hanya melihat bahwa panas tubuh terus mendekat, dan berhenti beberapa saat kemudian yang membuat Nio melakukan sikap membidik.
“Sebenarnya mereka adalah warga sipil Kekaisaran Luan. Lebih baik Anda melepas penutup kepala aneh itu agar dapat melihat kebenarannya.”
“Eh?” Nio berkata dengan nada bodoh yang lucu.
Karena militer tidak ingin kehilangan prajurit terbaik mereka hanya karena mengenakan helm yang tidak menutupi seluruh bagian kepala, maka para sistem pengaman perseorangan kini dilengkapi dengan helm yang menutupi seluruh bagian kepala dan beberapa komponen penunjang lainnya. Untuk menambah jangkauan penglihatan, helm dilengkapi dengan perangkat khusus yang berupa kamera biasa yang dapat disetel menjadi kamera penerima radiasi inframerah. Karena TRIP hanya satuan infanteri, maka mereka tidak dilengkapi dengan exoskeleton seperti personel batalyon artileri atau batalyon kavaleri.
Nio memerintahkan anggota grup 1-nya untuk mengembalikan mode pada kamera yang semula dalam mode penglihatan malam menjadi penglihatan biasa. Dia tidak memerintahkan mereka untuk melepas helm, sehingga hanya Nio yang melepas helm miliknya untuk memastikan apa yang dikatakan Hevaz adalah benar.
“Apa mereka benar-benar warga sipil Kekaisaran Luan? Untuk apa mereka memasuki wilayah Kerajaan Arevelk secara sembunyi-sembunyi?” tanya Hendra.
Sejak kedatangan TNI untuk pertama kalinya di Benua Andzrev, negara-negara yang berdiri di benua tersebut kini mengenal sebuah sistem yang bernama ‘kewarganegaraan’, meski untuk penduduk non-manusia tetap teridentifikasi sebagai binatang seperti ras Demihuman dan manusia setengah monster. Sebelum itu, mereka adalah warga suatu negara yang sama sekali tidak memiliki kesetiaan terhadap negara yang menjadi tempat tinggal mereka.
Ketika perang, maka fenomena ‘pengungsi’ karena perang atau konflik di suatu negeri, baik perang antar negara atau perang saudara, adalah hal yang lumrah. Meski begitu, di dunia ini belum mengenal istilah pengungsi akibat perang atau konflik sejenis. Jika mereka tiba di wilayah Kerajaan Arevelk sebelum Tim Ke-12, dapat dipastikan mereka akan dianggap sebagai pengembara yang kabur dari negeri untuk menghindari suatu insiden.
__ADS_1
Bahkan Nio melihat orang-orang yang terdampak perang di depan matanya sendiri, lagi. Dan perasaan ketika melihat kejadian seperti keadaan sekumpulan warga negara lain yang bersusah payah keluar dari negara asal demi mendapatkan masa depan yang tidak menjanjikan di negeri orang adalah perasaan yang membuat hati tidak nyaman.
Namun, tidak seperti pengungsi akibat perang di Timur Tengah maupun negara yang dilanda perang saudara atau antar etnis di negara-negara Afrika, mereka mungkin tidak akan diterima dengan tangan terbuka oleh Kerajaan Arevelk mengingat negara tersebut masih berperang dengan Kekaisaran Luan.
“Kurasa aku memiliki firasat khusus jika mereka tiba di kota jika mereka benar-benar pengungsi.”
Nio berpikir jika Kerajaan Arevelk akan memberlakukan syarat tertentu terhadap warga sipil Kekaisaran Luan, seperti negara-negara maju memperlakukan syarat ketat terhadap pengungsi yang ingin mencari perlindungan di negara mereka. Atau kemungkinan buruknya, mereka dianggap sebagai prajurit Aliansi yang bertugas menyusup di wilayah negara anggota Persekutuan, sehingga mereka diperlakukan layaknya prajurit musuh.
“Edera? Apa itu kau?”
Nio mengangkat telapak tangan kirinya untuk mencegah anak buahnya berbuat sesuatu yang membahayakan seorang gadis yang memanggil nama Edera tersebut. Namun, gadis yang memakai tudung tersebut terlihat sangat ketakutan hingga gemetar dan terdengar suara tangisan darinya.
“Hayo, dia nagis tuh…,” ucap Nio dengan nada mengejek yang kekanak-kanakan yang tentu saja ditanggap dengan dingin oleh bawahannya.
“Barista kepada Mayat Hidup, apa di sana terjadi sesuatu?”
Alat komunikasi radio yang terpasang pada helm Nio terhubung dengan radio wakil-nya, yakni Hassan. Dia mengambil perangkat radio yang berbentuk seperti handsfree, kemudian memasangnya ke telinga kanan.
“Di sini Mayat Hidup, kami hanya menemukan sekelompok warga sipil Kekaisaran Luan. Grup 2 silahkan melanjutkan patroli, masalah ini serahkan saja pada kami.”
“Siap, laksanakan. Harap berhati-hati, Mayat Hidup. Kami melihat ada pergerakan misterius.”
“Siap!”
Hassan mengakhiri komunikasi setelah menjawab arahan Nio dengan nada bersemangat. Nio melepas radionya, lalu kembali menatap seorang gadis yang masih menangis setelah sebelumnya ditodong senapan oleh beberapa bawahannya. Beberapa perempuan mencoba menenangkan gadis itu sambil menatap Nio dan bawahannya dengan perasaan takut, sementara beberapa pria dan wanita tua nampak menggenggam kedua telapak tangan dan mengatakan beberapa kata semacam doa. Diantara puluhan warga sipil Kekaisaran Luan, ada beberapa anak-anak yang menatap dengan wajah polos ke arah prajurit ‘dunia lain’ seperti anggota grup 1 Tim Ke-12.
Tatapan polos anak kecil yang tidak tahu jika prajurit ‘dunia lain’ seperti dirinya dan Pasukan Perdamaian adalah pasukan kuat yang telah membunuh sangat banyak prajurit Aliansi sangat Nio takuti daripada perlawanan yang dilakukan oleh sekelompok warga jika hal itu terjadi.
Nio merasa para anak-anak tersebut cukup beruntung karena bertemu dengan unit-nya, setidaknya karena bawahannya memperlihatkan ancaman yang hanya sebatas melakukan sikap membidik meski senapan dalam mode putaran tunggal. Dia tidak dapat membayangkan jika mereka justru bertemu dengan pasukan yang membunuh siapapun yang ditemui di sepanjang jalan, seperti Pasukan Salib ketika melakukan perjalanan ke suatu wilayah yang menjadi target penyerangan, atau parahnya mereka bertemu dengan sekelompok pedagang budak yang membutuhkan barang dagangan baru.
“Eh? Oy, Edera! … Edera!” Nio sedikit terkejut ketika gadis kucing tersebut berjalan ke arah puluhan warga Kekaisaran Luan tersebut. Panggilan bernada lirih yang dia lakukan sama sekali tidak dipedulikan oleh Edera.
Edera berjalan dengan tatapan sedih dan tanpa rasa takut sama sekali, sementara itu Nio berjalan di belakangnya tanpa memegang senjata dan menyelempangkan senapannya di belakang punggung untuk menghidari ketakutan lebih parah dari para pengungsi. Dengan wajah cemas, Nio mengawasi setiap langkah Edera yang terlihat tidak sabar untuk menghampiri seseorang yang memanggil namanya.
Gadis yang memanggil nama Edera sebelumnya mengangkat kembali kepalanya dengan mata yang masih basah oleh air mata dan area sekitar mata yang sedikit memerah. Dia menatap Edera dengan penuh harapan, dan mereka berdua telihat seperti memiliki ikatan yang membuat mereka nampak saling mengenal.
“Kakak... akhirnya aku bertemu dengan mu lagi.”
Pada akhirnya, Edera juga ikut menangis seperti gadis yang memanggil namanya. Namun, Edera yang memanggil gadis itu dengan sebutan ‘kakak’ cukup membuat Nio heran. Dia tidak mempedulikan bawahannya yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Edera, itu karena mereka yang terlalu malas untuk belajar bahasa lokal dan memilih mengandalkan dirinya. Itu sebabnya dia membiarkan anggota grup 1 kebingungan sambil berdiri mematung tanpa tahu situasi sebenarnya.
__ADS_1
Sementara itu, satu persatu pengungsi menurunkan tudung yang menutupi kepala hingga sebagian wajah mereka, begitu pula dengan gadis yang Edera sebut sebagai ‘kakak’.
“Mereka semua… ras Demihuman?”
Sangat mudah untuk membedakan jenis dan asal suku manusia ras Demihuman, yakni hanya dengan melihat telinga kucing, rakun, dan kelinci dan lain-lainnya yang menjadi identitas utama mereka. Gadis yang Edera sebut sebagai ‘kakak’ juga memiliki telinga kucing, yang menurut Nio mereka berdua memang memiliki hubungan tertentu yang Nio tidak ingin menebaknya secara sembarangan.
Tiba-tiba Edera menangis dengan keras dan tidak ditahan sambil menerjang tubuh gadis yang memanggil namanya. Gadis tersebut juga menangis sambil memeluk sangat erat Edera sekuat yang dia bisa. Pemandangan mengharukan di depannya membuat Nio merasa dirinya harus menjauh, dan memutuskan melangkah mundur beberapa langkah.
Meski mereka adalah prajurit yang tangguh, Ro Ga-Eun, Zefanya, dan Ika tetaplah perempuan yang memiliki hati layaknya gadis remaja biasa. Mereka dapat merasa sedih hingga tak sadar mengeluarkan air mata ketika melihat kejadian yang menyentuh hati, dan hal itu sedang terjadi di depan mereka sendiri. Sementara itu, Ratna tentu saja mencoba menjadi gadis setengah dewasa, meski dirinya tetap mengalirkan air mata ketika melihat pemandangan menyedihkan. Namun, Hevaz tetap memasang ekspresi tenang dan mengambil kesempatan untuk memeluk tangan kiri Nio yang hangat dan meletakkan kepalanya di lengan atas pria tersebut.
Ketika gadis yang belum diketahui namanya dan Edera saling berpelukan untuk melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu, seluruh warga Kekaisaran lainnya memasang ekspresi seperti telah menemukan harapan dan mengelilingi mereka berdua.
“Sepertinya Edera memang memiliki hubungan dengan mereka,” Nio membenci menebak-nebak jika akhirnya meleset dari tebakannya. Jadi, dia menunggu hingga pemandangan mengharukan ini berakhir dengan mengambil beberapa foto dengan kamera.
Sementara itu, Edera dan kakaknya melepaskan kerinduan satu sama lain dan menangis dengan lepas. Lalu, orang-orang yang bernasib tidak seberuntung Edera akhirnya berhasil menemukan seseorang yang mereka cari setelah Kekaisaran Luan bersama beberapa negara memutuskan menyulut perang yang jauh lebih besar dan membuat perpisahan mereka bertambah lama.
Edera menangis hingga terisak dan bahunya nampak gemetar, begitu pula dengan kakaknya. Selain bahagia setelah bertemu kembali dengan kakaknya, Edera senang jika orang-orang yang dulunya bernasib sama seperti dirinya akhirnya berhasil melarikan diri, dan dengan kebetulan mereka ditemukan oleh unit yang dipimpin oleh tuannya.
Ya, orang-orang yang berjumlah sekitar tiga puluh jiwa tersebut merupakan budak yang memiliki tugas sama seperti Edera, yaitu sebagai pembunuh bayaran dan pekerja paksa. Mereka berasal dari kalangan ras Demihuman yang beragam, yakni bertelinga kucing, rakun, dan kelinci, jumlah mereka seimbang.
“Kita… bagaimana harus menanggapinya? Apa kalian menemukan cara yang cocok?”
“Letnan, tidak mungkin kita menanggapi pertemuan kembali yang mengharukan ini dengan menangis seperti para gadis.”
“Tapi Ardi, kupikir kau cocok dengan peran perempuan. Karena itulah aku memberimu kode nama ‘Crossdresser’.”
“Jangan buat aku seolah-olah pria gila yang sering ber-cosplay sebagai gadis cantik, Letnan.”
“Atau mungkin aku harus mengganti kode namamu menjadi ‘pria cantik’?”
Sesaat kemudian, Sigit menyambung pembicaraan antara Nio dan Ardi tersebut, “Crossdresser dan cosplay, apa itu?”
Ardi dengan cepat mendahului Nio yang ingin menjawab pertanyaan polos Sigit, “Semakin sedikit yang kau tahu, itu akan semakin baik.”
"Sepertinya aku pernah mendengar ungkapan itu," ucap Herman.
Kemudian, Yogi berguman dengan pelan setelah tahu arti istilah yang ditanyakan Sigit, “Dasar wibu!”
**
__ADS_1
Kondisi tubuh sedang tidak mendukung, jadi aku menulis episode ini sebaik mungkin meski belum mencangkup seluruh isi untuk episode ini.