Prajurit SMA

Prajurit SMA
133. Harapan 2: malam pertemuan


__ADS_3

Tiga hari setelah Gerbang tertutup, namun belum ada tanda-tanda pergerakan musuh hingga pukul 3 sore ini. Sigiz dan Sheyn belum juga kembali, tidak ada yang tahu kemana perginya mereka berdua, namun semua orang mencoba tidak mencurigai mereka berdua. Sudah terlalu sering terjadi saling curiga di antara prajurit Pasukan Ekspedisi, para komandan bekerja keras untuk menghilangkan kekacauan diantara bawahan mereka.


Saat ini, pukul 15.08 adalah waktu para komandan berkumpul, mulai dari komandan Grup Tempur hingga komandan Regu penjelajah dikumpulkan di ruang rapat darurat ini. Yang memerintahkan mereka berkumpul adalah Jendral Sucipto sendiri.


Beberapa saat lalu seluruh drone diterbangkan untuk memata-matai tempat-tempat di Kekaisaran yang dicurigai menjadi basis utama berkumpulnya Pasukan Aliansi. Hingga sore ini, baru sedikit informasi yang didapatkan markas pusat dari drone mata-mata yang dikerahkan.


Tidak mungkin pada kondisi seperti sekarang pasukan diperintahkan untuk bergerak, kecuali jika Sucipto ingin pasukan menghabiskan sumber daya dengan cepat dan tumbang setelah habis, seluruh prajurit juga tahu kalau langkah itu terlalu bodoh.


Musuh pasti bangga bisa mengurangi kekuatan Pasukan Ekspedisi, dan berhasil menutup Gerbang yang berhasil dikuasai Pasukan Ekspedisi selama beberapa bulan ini. Secara langsung, langkah mereka akan memutus pasokan, baik logistik, amunisi, dan bantuan pasukan bagi Pasukan Ekspedisi. Kemungkinan buruknya jika langkah ini terus berlanjut, dan tidak ada cara lain untuk membuka lagi Gerbang sempurna ini.


Salah satu informasi yang didapatkan markas pusat dari drone mata-mata adalah ribuan penyihir nampak sedang berkumpul di salah satu wilayah Kekaisaran di dekat ibukota. Pasukan Ekspedisi sudah mempelajari mengenai membedakan penyihir dengan orang biasa dari para pengungsi dan atribut yang dikenakan ksatria sihir Kerajaan Arevelk ketika mengunjungi negara tersebut.


Menurut Zariv, untuk menutup Gerbang membutuhkan energi yang sangat besar, bahkan energi yang dimiliki para pahlawan cukup terbatas jika hanya digunakan untuk menutup Gerbang. Jadi, gadis itu berpendapat jika para penyihir menyalurkan energi sihir mereka kepada pahlawan yang ditugaskan mengacaukan sihir pengikat yang membuat Gerbang sempurna terus berdiri.


Dalam hal ini, sihir terlemah menjadi perhatian, dan kemungkinan besar sihir akan mendominasi peperangan di masa depan. Sihir adalah sumber kehancuran utama Pasukan Ekspedisi yang merupakan buah hasil kerja keras pemikiran petinggi militer Pasukan Aliansi.


Saat ini rapat para komandan belum dimulai, dan para hadirin masih menyaksikan empat layar TV 60 inci yang memutar rekaman kiriman on time dari drone mata-mata.


Lalu, Sucipto memerintahkan bawahannya untuk mematikan TV agar pasokan listrik yang disimpan dengan media baterai tetap aman. Karena pasokan listrik disimpan menggunakan baterai, mau tidak mau pasukan harus menghemat listrik dan tidur dengan cahaya bulan dan bintang. Karena itu, meriam railgun pada MBT untuk sementara tidak bisa digunakan karena pasokan listrik yang terbatas. Kecuali jika situasi keamanan sangat mendesak, pasukan terpaksa menyalurkan daya listrik untuk mengoperasikan puluhan turret pertahanan yang melindungi benteng.


(note: MBT/ Main Battle Tank: Tank Tempur Utama)


“Seperti yang tuan-tuan lihat, musuh mulai bergerak dengan jumlah besar. Sepertinya musuh mulai memanfaatkan situasi tidak menguntungkan dari kita karena tertutupnya Gerbang.”


Dalam sejarah dunia ini, pasukan sebanyak 300.000 merupakan jumlah terbesar yang pernah dikerahkan, pastinya akan sulit memobilisasi pasukan sebesar itu. Jika angka sebesar itu masih kalah dengan Pasukan Ekspedisi yang memiliki sisa prajurit 14.809 orang, maka itu akan menjadi sejarah kekalahan perang paling memalukan di kedua dunia.


Lalu, seluruh komandan diijinkan untuk menyatakan pendapatnya. Dan yang pertama mengangkat tangan adalah komandan Kompi 01 yang berpangkat Kapten Infanteri.


“Ijin bertanya. Apakah pasukan sebesar itu akan berhadapan langsung dengan kita?”


Sucipto memegang dagunya yang ditumbuhi janggut berwarna keputihan karena faktor usia, dan kemudian mengalihkan pandangan ke seluruh komandan yang juga bertanya-tanya mengenai hal itu. Saat ini, belum ada jawaban untuk pertanyaan itu.


Nio hanya menggambar sesuatu di atas kertas kosong yang diberikan ke seluruh komandan untuk menulis pendapat mereka. Selain tulisan mengenai jumlah perkiraan pasukan musuh, Nio juga menggambar hal yang mirip dengan benteng dengan beberapa anak panah yang mengelilinginya. Komandan yang ada di sampingnya hanya bertanya-tanya mengenai apa yang Nio lakukan, sebagian lagi beranggapan jika Nio hanya bosan dengan rapat membosankan ini.


“Ijin berbicara. Apakah saya boleh menjawab pertanyaan anda?” yang bertanya adalah Nio dan langsung disetujui Sucipto, tidak ada salahnya mendengarkan beberapa pendapat untuk saat ini.


“Untuk saat ini, mari kita bersyukur kepada Tuhan. Karena musuh dengan jumlah perkiraan 300.000 dengan tambahan pahlawan tidak menyerang kita hari ini. Kita memang tidak tahu kekuatan sebenarnya dari pahlawan ini, namun menghilangnya Gerbang mungkin karena ulah mereka. Dan untuk pasukan musuh, mungkin mereka akan memanfaatkan pasukan besar mereka untuk mengepung kita dari beberapa arah. Mungkin mereka akan memanfaatkan jalur air juga, namun Unit Laut Pasukan Ekspedisi apakah belum melaporkan pertempuran mereka, Jendral Sucipto?”


“Hmmm, sebenarnya Unit Laut kita belum melaporkan melakukan pertempuran.”


“Terimakasih atas jawabannya, Jendral. Saya sarankan mereka juga bersiap untuk melakukan pertempuran meski belum ada tanda-tandanya, walau dengan pasokan yang terbatas karena kita belum menemukan jalan keluar dari masalah ini, mari kita berharap seluruh orang berjuang untuk menjaga rakyat Indonesia.”


Situasi ini memang mengerikan, dan tidak bisa dibayangkan jika Pasukan Ekspedisi belum menemukan jalan keluar hingga hari pertempuran tiba. Ujian berat seperti ini memang sering terjadi di medan perang, dan menemukan jalan keluarnya mengharuskan seluruh orang untuk memeras pikiran mereka.


Untungnya, Pasukan Ekspedisi masih memiliki kekuatan udara berupa 15 helikopter yang tersisa. Seluruh pesawat perang belum bisa beroperasi hingga landasan pacu yang rusak diperbaiki. Karena sumber daya yang terbatas, untuk saat ini perbaikan landasan pacu belum bisa dilaksanakan sebelum jalan keluar tentang kembali ke Indonesia ada.


Untuk masalah pertempuran gerilya, pasukan sangat terlatih tentang hal itu. Kebetulan pasukan juga memiliki banyak prajurit yang tergabung ke satuan pasukan khusus maupun elit TNI.


Semula pasokan makanan hampir membuat semua orang putus asa, namun sejak mengingat jika pasukan memelihara ratusan ayam dan kambing, serta mendirikan perkebunan membuat hati seluruh orang lega. Memang ada ungkapan prajurit terkuat pun tidak bisa berperang dengan perut kosong.


“Jika kita bisa mengalahkan sebagian pasukan musuh, dan membuat mereka mundur, kita mungkin bisa mendapatkan waktu untuk bernapas dan mencari cara untuk kembali ke Indonesia.” Nio menggumamkan hal itu, dan membuat seluruh komandan kagum dengan pemikirannya.


“Tentu saja! Demi mencari cara untuk kembali, kita harus mengerahkan semua yang terisa!”


Masing-masing prajurit memiliki persenjataan berupa: 1 senapan serbu, 1 pistol, 2 pisau tarung, 1 pedang, 2 pisau tarung tambahan berjenis karambit khusus untuk para komandan, 6 jatah magasin untuk senapan serbu, 3 jatah magasin untuk pistol, 3 granat. Tapi, masih ada ratusan stok senjata di gudang senjata, dan itu merupakan kabar baik.


Sementara itu, untuk persenjataan yang dimiliki Pasukan Ekspedisi adalah:


[Persenjataan Darat]:


13 MBT meriam biasa 110 mm


11 MBT meriam railgun (tidak dioperasikan sebelum mendapatkan pasokan listrik tambahan)


18 medium tank 108mm


40 kendaraan pengangkut personel lapis baja


20 truk pengangkut serba guna lapis baja


20 Kendaraan pendukung tembakan serba guna (bisa untuk mendukung tembakan dan mengangkut personel)


126 kendaraan taktis yang dilengkapi dengan senapan mesin berat 12,7mm (semula pasukan memiliki 135 kendaraan taktis, namun beberapa hancur saat pertempuran melawan raja naga angin)


15 Artileri medan gerak sendiri.


20 Artileri anti-personel, 12anti-pesawat, 12 anti-tank


5 Kendaraan peluncur roket


13 kendaraan lapis baja yang dilengkapi dengan mortir 120mm


50 mortir 60mm (masih ada ratusan unit di dalam gudang)


33 mortir 81mm


5 Meriam derek howitzer 155mm self-propeled


Ribuan senapan mesin ringan dan berat


Ribuan pelontar granat


Ratusan peluncur roket disposable


Ratusan senjata pelontar api

__ADS_1


Puluhan ribu granat


[Persenjataan udara]


5 helikopter pengangkut besar


3 helikopter pengangkut rudal dan roket


2 helikopter serba guna


5 helikopter serang


Jet tempur sisa 6 unit


Pesawat pengebom strategis memiliki jumlah terbaru sebanyak 3 unit


Puluhan pesawat tanpa awak mata-mata dan serang


4 pesawat transportasi serba guna


[Persenjataan air/laut. Memiliki markas di salah satu pelabuhan Kerajaan Arevelk dan Negara Yekirnovo]


1 kapal perang kelas penghancur tenaga nuklir (berbahan bakar nuklir, dan bisa bertahan 10 tahun berlayar tanpa pengisian ulang. Serta membawa 1 rudal balistik antar benua)


2 kapal selam torpedo besar (Indonesia saat ini masih memiliki 120 unit kapal selam berbagai kelas)


2 kapal perang kelas KCR


1 kapal transportasi


2 kapal perang kelas landing platfromdock dan pengangkut serba guna(bisa mengangkut 3 helikopter serang dan 5 tank amphibi)


4 kapal pertahanan pantai


12 tankboat


Dengan demikian itu adalah kekuatan yang cukup selama jalan keluar untuk masalah Gerbang belum ditemukan. Seluruh kendaraan dalam kondisi penuh dengan bahan bakar, jadi masalah bahan bakar tidak lagi terlalu memusingkan. Kecuali pada MBT railgun yang membutuhkan daya listrik yang terpaksa dialihkan ke puluhan turret pertahanan.


Karena amunisi dan bahan bakar terbatas, pasukan harus berjuang sambil berhemat. Ini juga menghambat pergerakan, dan tidak menguntungkan pasukan.


**


Ini adalah malam setelah pertemuan para komandan yang melelahkan. Di barak prajurit yang hanya diterangi dengan obor, Nio menatap seluruh penghuni yang sedang tertidur dengan berbagai posisi. Suasana malam ini tidak berbeda dengan sebelumnya, di mana prajurit selalu bisa tidur nyenyak meski kenyataannya tidak.


Nio langsung menyambar seragam lapangan dan mengenakan perlengkapannya, dia bersiap untuk melakukan tugas jaga di pemukiman pengungsian.


Keluar dari barak, Nio melihat dua bulan yang bersinar ditemani triliunan bintang dunia lain.


Dia berjalan kaki untuk menuju pemukiman pengungsian yang juga tengah menjalani kehidupan malamnya. Meski untuk beberapa orang masih terlihat berkumpul di beberapa tempat, tentu saja untuk membantu para prajurit pengaman mereka.


Karena pasokan listrik di benteng juga terputus, otomatis penerangan di pemukiman pengungsi juga terputus. Di jalan-jalan hanya diterangi dengan ratusan obor dan api unggun besar. Namun, sebelum kedatangan Pasukan Ekspedisi di sini, itulah sumber cahaya andalan sebelum kedatangan lampu neon di sini.


“Nio, kenapa kamu berjalan sendirian?” Nio mendengar sebuah suara dari belakangnya, dan ternyata pemilik suara adalah Zariv.


“Apa ini jadwal mu untuk patroli?” Zariv tidak sendirian, yang bertanya hal itu adalah Lux yang belum kembali ke Kerajaan Arevelk sejak perginya Sigiz.


“Ya. Tapi kenapa kalian sendiri juga ada di luar?”


Nio tidak akan khawatir akan ada pria yang macam-macam terhadap mereka berdua, mengingat kekuatan mereka yang setara prajurit pasukan khusus, terutama Zariv yang memiliki sihir. Sedangkan Lux, memiliki kekuatan yang Nio sendiri pernah mengadunya dengan kekuatannya sendiri.


“Tentu saja untuk menemanimu. Kau pasti kesepian kan?” jawaban Zariv yang penuh percaya diri itu adalah daya tariknya tersendiri, Nio juga tertarik dengan gadis tersebut, namun dia masih memiliki seorang kekasih yang menurutnya sangat khawatir tentang fenomena tutupnya Gerbang.


Nio membiarkan kedua gadis dunia lain itu melangkah bersamanya di pemukiman pengungsi ini. Lagipula, dia juga bisa memanfaatkan bantuan mereka jika terjadi hal-hal yang mengharuskan bertahan atau melindungi pengungsi.


Nio mengawasi sekelilingnya dengan mata yang awas dan dengan bantuan senter, sementara Lux dan Zariv yang terbiasa dengan suasana gelap seperti ini tetap biasa saja sambil mengikuti langkah kemana Nio berjalan.


Kadang-kadang, Lux dan Zariv saling berbincang mengenai topik yang Nio juga ingin dengar, karena dia mendengar mereka berdua membicarakannya. Bagaimanapun, Lux dan Zariv adalah perempuan meski mereka juga prajurit, jadi obrolan mengenai keunggulan pria yang mereka sukai adalah hal yang wajar. Nio adalah subjek pembicaraan mereka kali ini, dan sebisa mungkin berbicara hingga Nio tidak bisa mendengarnya.


“Kita cukup lama tidak bertemu ya, Nio…”


Di tengah gelapnya jalan dan sejuknya angin malam, Nio mendengar suara dari balik tiang listrik yang terbuat dari kayu sebuah pohon. Suaranya tidak asing, dan sangat akrab ditelinga Nio, namun asing ditelinga Lux dan Zariv.


“Nio, siapa!?” Zariv bertanya dengan nada cemas dan menyiapkan belati yang sudah dia lapisi dengan sihir penajam.


Nio menyiapkan senapan serbu nya ke mode otomatis penuh saat pria yang memangilnya perlahan menampakan diri. Hanya waspada yang Nio bisa lakukan sekarang, dan bersiap untuk pertarungan yang tidak diinginkan. Ada keraguan dan rasa tidak percaya dengan kostum yang dikenakan pria yang sebentar lagi akan menampakkan wajahnya.


Tidak ada saluran radio saat listrik padam, dan jika Nio membunyikan peluit untuk memanggil rekan-rekan yang berpatroli di tempat terdekat, hal itu hanya akan membuat bising dan mengganggu para warga yang sedang beristirahat.


Lalu, ketika pria itu menunjukkan wajahnya dengan jelas, Nio menatapnya seperti tatapan musuh bebuyutan meski mereka ‘dulunya’ bersahabat.


“Rio… kenapa kau ada di sini? Apa kau termasuk prajurit Pasukan Ekspedisi juga? Tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu?”


“Aku adalah salah satu pahlawan yang dipanggil untuk memerangi kalian… maaf.” Jawaban Rio disertai dengan nada bersalah dan dia menundukkan wajahnya dari Nio.


Lux seketika menarik pedang dari sarungnya yang ada di pinggang kirinya, dan berlari sebelum melompat untuk mencoba menebas leher Rio. Sementara Zariv, dia terdengar merapalkan mantra yang cukup panjang, dan muncul lingkaran sihir di depannya dengan motif yang rumit. Setelah mendengar ucapan Rio yang langsung menyatakan diri sebagai pahlawan, membuat Lux dan Zariv bersiap untuk bertarung seperti ini.


Lux melompat dan hendak melakukan tebasan cepat yang mengarah pada leher Rio, pedang mengkilap milik Lux menciptakan kilatan cahaya saat menebas cepat ke arah leher Rio. Sementara itu, Zariv mengarahkan kedua tangannya ke depan, dan puluhan kilatan cahaya seperti panah melesat cepat ke arah Rio juga. Hanya ada Rio di sini, dan tidak nampak ada tanda-tanda adanya pahlawan lain di sini.


Alis Lux menurun dengan cepat saat tebasan kilatnya tidak mengenai leher Rio, bahkan bisa dihindari dengan mudah olehnya hanya dengan sedikit melompat kebelakang. Dan serangan sihir yang dilepaskan Zariv ditangkis dengan sihir tameng yang melindungi tubuh Rio, namun datang entah dari mana.


“Dia… benar-benar pahlawan?” Lux bergumam seperti itu, dan langsung membuat Rio menatap tajam ke arahnya.


Lux melompat jauh kebelakang dan berdiri di samping Nio, pemuda itu mengaktifkan senapan serbunya kemode otomatis penuh setelah memasang magasin.


Zariv terlihat kelelahan setelah mengeluarkan serangan sihir yang tidak mengenai target, Lux menyuruhnya untuk mundur jika benar-benar merasa kelelahan. Namun Zariv menolak dan tetap menyerap energi sihir di Tanah Suci ini untuk melakukan serangan selanjutnya.

__ADS_1


Nio melihat sekelilingnya sambil menggenggam erat pistol grip senapan serbunya, dia tidak melihat ada bantuan sama sekali yang mendekat.


“Kau pasti berpikir mengapa bantuan yang kau harapkan tidak ada?” ucapan Rio membuat keringat dingin mengalir dari dahi Nio.


**


Di tempat yang terpisah dengan Rio dan Nio yang sudah bertemu, Indah masih berhadapan dengan 4 prajurit Pasukan Ekspedisi yang hendak menyusul Nio yang meminta bantuan mereka. Namun, dia menghalangi pergerakan mereka, dan membuat pergerakan hendak melakukan serangan.


“Jika kau bukan musuh, silahkan beritahu identitas anda!”


Wajah Indah masih bisa terlihat tenang meski keempat prajurit itu mengarahkan moncong senapan mereka kepadanya. Meski gadis itu memiliki fisik seperti orang Indonesia, namun dia memakai atribut yang menandakan jika dia membela Pasukan Aliansi. Itu cukup untuk menandakan jika Indah merupakan musuh yang pantas dilawan.


“Saya Pahlawan Kesedihan. Maaf jika saya harus melawan anda.”


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Indah mengangkat busur panah dengan cepat dan melepaskan beberapa anak panah dengan cepat juga. Gerakan yang cepat dari Indah tidak bisa diantisipasi oleh keempat prajurit, dan anak panah yang melesat cepat langsung menembus tubuh mereka yang dilindungi rompi anti peluru yang mampu menahan laju peluru dan panah, serta seragam lapangan yang bisa menahan serangan senjata tajam.


Beberapa anak panah yang tidak mengenai keempat prajurit terus melaju, hingga mengenai beberapa pengungsi yang melakukan ronda, tentu saja mereka mati di tempat setelah terkena serangan itu.


Tanpa membalas satu tembakan pun keempat prajurit Pasukan Ekspedisi terjatuh menghantam tanah setelah terkena serangan yang Indah lakukan. Mata mereka masih terbuka yang menandakan jika serangan itu memang sangat cepat membunuh mereka. Darah terus keluar dari tempat yang terkena panah, dan menyebabkan mereka mati kehabisan darah secara perlahan.


Tugas Indah untuk membunuh bantuan untuk Nio sudah selesai, dia kemudian berjalan ke arah Rio bertemu Nio. Setelah membunuh prajurit Pasukan Ekspedisi, Indah sama sekali tidak merasakan apapun. Yang dia rasakan hanya seperti menginjak semut, lalu berjalan melalui mereka begitu saja.


Namun, Indah masih memperlihatkan wajah bersalah meski hatinya merasakan hal lain. Dia masih bisa merasa takut untuk bertemu dengan Nio dengan keadaannya yang seperti ini. Dia bahkan bisa membayangkan reaksi dan kata-kata pertama yang akan Nio berikan ketika dia menampakan diri.


Indah mendengar Rio yang masih berbicara dengan Nio dengan nada keras yang dikhawatirkan mengundang prajurit untuk mendekat.


Indah berjalan perlahan untuk keluar dari kegelapan agar bisa menampakan diri di hadapan Nio. Perlahan, wujud Indah yang ‘baru’ terlihat dengan jelas oleh mata Nio yang tidak mengenakan perangkat night vision dan hanya mengandalkan mata kirinya saja untuk melihat.


“Kau bercanda? Indah, kenapa kau juga ada di sini?” reaksi yang Nio berikan memang sedikit melenceng dari yang Indah pikirkan sebelumnya, namun itu cukup untuk memberitahunya jika Nio juga bingung dengan situasi ini.


“Maaf, situasi ku sekarang sama seperti Rio…”


“Pahlawan? Kau juga menjadi pahlawan!?”


Ujung jari Nio yang memegang pelatuk melemas, dan tangan kirinya berkeringat dengan berlebihan. Hal itu disadari oleh Lux, dan Zariv terus bersiaga dengan sihir serangannya di belakang mereka berdua.


Lux masih menyimpan pertanyaan di hatinya mengenai perempuan dan pria di depannya yang nampak sangat mengenal Nio. Begitu juga dengan Nio yang terasa sangat dekat dengan mereka berdua.


“Ada apa? Sebenarnya siapa mereka, Nio?”


Nio menelan ludah, dan berpikir jawaban seperti apa yang akan dia berikan atas pertanyaan yang Lux lontarkan padanya.


“Sahabat seperjuangan… dan… kekasihku…”


Mata Lux dan Zariv membulat setelah mendengar jawaban yang Nio ucapkan, dan dengan serempak berkata, “Sejak kapan kau punya kekasih!?”


Napas Nio terdengar berat, namun situasi yang dia hadapi jauh lebih menyesakkan. Apalagi dengan keberadaan Indah yang berada pada posisi yang sama seperti Rio tempati.


Sementara itu, perasaan Indah menjadi tidak karuan setelah melihat mata kanan Nio yang ditutup dengan penutup mata, yang menandakan jika Nio melihat hanya dengan satu mata sekarang. Dia masih menyusun kata-kata yang pas untuk dikatakan mengenai kondisi Nio sekarang.


“Nio,untuk seorang prajurit kau sudah terlalu banyak terluka. Untuk apa kau berjuang sampai kehilangan sesuatu seperti mata seperti itu?”


Nio tidak berpikir jika Indah bisa berkata seperti itu, dan dia merasa jika Indah sudah dicuci otak saat akan dijadikan pahlawan oleh musuh.


“Sepertinya kalian berdua sudah dicuci otak oleh musuh.”


“Tidak… tidak ini murni tindakan kami, tidak ada siapapun yang mengendalikannya.”


Reaksi yang ditunjukkan Nio sudah jelas, dia semakin yakin jika kedua orang terdekatnya tersebut memihak musuh.


“Jadi, apa tujuan kalian berpihak pada musuh Indonesia?”


“Tentu saja untuk melawan kalian… itu berarti termasuk kau, Nio. Aku melakukan ini supaya perang cepat berakhir dan pulang,” jawab Rio dengan senyum menantang, dan membuat Indah hanya bisa diam.


“Ini adalah satu-satunya cara yang tersisa untuk bisa pulang.” Sambung Rio lagi.


Meski menyedihkan, Nio tidak menjawab semua pernyataan jujur yang Rio katakan. Selain rasa lelah yang masih dia rasakan, Nio juga merasa sangat sedih dengan jalan juang yang Rio ambil.


“Lalu, setelah menyelesaikan tugasmu sebagai pahlawan, kalian akan melakukan apa?”


Rio dan Indah sama sekali tidak bisa menjawabnya.


“Jika kalian mengatakan akan bertarung dengan TNI, maka aku dengan terpaksa bertarung dengan kalian! Jika kalian benar-benar berpihak pada Pasukan Aliansi yang menjadi musuh kami, itu berarti kalian tidak bedanya dengan pengkhianat! Tugas kami adalah melindungi Indonesia dari sini, meski Gerbang sudah tidak ada lagi!”


“Lalu, apa kau bisa membebaskan ku dan Indah dari tanggung jawab bodoh ini? Para pahlawan memiliki sedikit kekuatan dewa dunia ini! Bahkan jika semua pasukan Indonesia berhadapan dengan para pahlawan, itu belum tentu bisa mengalahkan kami!”


“Aku tidak akan tahu sampai melihat kenyataannya kan?”


Badan Nio menjadi panas setelah mengatakan itu, dan mencoba mengatur napasnya setenang mungkin setelah melakukan perdebatan kecil dengan Rio. Dia melihat Indah berdiri mematung, dan menatap dirinya dengan tatapan bersalah.


Nio memposisikan tubuhnya dengan posisi menembak sambil berdiri, dan bersiap bertarung jika hal itu terjadi. Nio juga meminta tolong kepada Zariv yang bisa melakukan sihir untuk melindungi dirinya jika pertarungan terjadi sewaktu-waktu. Sementara itu, Nio meminta Lux untuk mencari bantuan, dan akan mencoba menahan mereka berdua jika mencoba menghalangi Lux mencari bantuan.


Rio menyadari rencana Nio, tapi meski seluruh prajurit Pasukan Ekspedisi bergerak, itu belum tentu memberikan kemenangan mereka atas para pahlawan.


Rio membalikan punggungnya dan berkata, “Kami tidak memiliki niat bertarung. Tugas kami hanya menutup Gerbang, dan melakukan sedikit kerusakan di sini.”


“Terimakasih sudah memberikan kesempatan pada kami. Dan, satu lagi… Indah, aku tidak tahu harus melanjutkan hubungan ini atau tidak, semua keputusan ada di tanganmu. Cepat atau lambat, kami akan berhadapan dengan para pahlawan dan musuh-musuh Indonesia lainnya.”


Bibir Indah bergetar, tapi dia tak mampu berkata apapun bahkan bernapas rasanya sesak setelah mendengar perkataan Nio seakan-akan sudah menyerah dengan hubungan mereka berdua.


Dalam satu kedipan mata, Rio dan Indah lenyap dari pandangan dan hanya menyisakan hawa dingin malam hari. Bahkan tangan logam Nio bisa merasakan dinginnya malam ini, meski seharusnya tangan logam itu tidak bisa merasakan apapun, bahkan sakit.


Lux dan Zariv berjalan perlahan dengan hati yang takut setelah kedua pahlawan lenyap di hadapan mata. Menurut mereka, Nio memiliki ketenangan yang luar bisa ketika berhadapan dengan pahlawan yang memiliki kekuatan sangat besar, meski itu hanya berhadapan untuk berbicara saja.


“Nio, bagaimana perasaanmu?”

__ADS_1


“Sangat kacau. Tapi, semoga saja harapan baik berpihak pada kami.”


Lux dan Zariv tersenyum bersamaan dan berkata, “Tenang saja, kami berdua tetap berpihak padamu dan terus bertarung bersamamu, Nio…”


__ADS_2