
Selamat malam untuk para pembaca Prajurit SMA (sial, aku selalu tertawa saat menyebut judul ceritaku sendiri) yang masih terjaga di malam minggu ini, kuharap saat membaca chapter spesial ini kalian tidak sedang sibuk atau semacamnya. Maksudku, aku harap tidak mengganggu waktu kalian yang berharga. Yah… bisa saja ada satu atau dua diantara pembaca setia cerita ini yang sedang keluar bersama pacarnya (bagi yang tidak punya pacar silahkan baku hantam di kolom komentar, nanti aku menyusul).
Hidup Indom*e, gorengan, dan kopi!
Omong-omong ketiga makanan di atas sangat nikmat jika dinikmati disaat waktu yang tepat. Meski aku belum mendapatkan panggilan di beberapa tempat yang telah kukirimi surat lamaran hingga hari ini, ketiga makanan tersebut ternyata mampu membuat rasa frustasiku sedikit mereda selain dengan membuat cerita ini.
Terimakasih untuk para pembaca setia yang telah telah menyemangatiku untuk melanjutkan cerita ini dengan berbagai cara. Kalian adalah pahlawan ketiga setelah kedua orang tua dan keluarga yang menjadi pahlawan pertama dan kedua ku.
Bagi pembaca yang baru saja mengenal novel ‘Prajurit SMA’, perkenalkan saya adalah olog. Bagi yang penasaran dengan nama asli saya, sayangnya tentu saja itu bukan hal yang dapat dipublikasikan dengan mudah.
Beberapa pembaca baru atau lama mungkin akan membaca episode ini terlebih dahulu sebelum membaca bab utama, jadi aku akan menahan diri untuk memberi kalian spoiler. Aku adalah orang yang mencintai perdamaian, dan aku tahu apa yang akan terjadi padaku jika memberi kalian spoiler meski beberapa dari kalian mungkin tidak akan mempedulikannya.
Novel Prajurit SMA menceritakan tentang orang-orang yang terlibat dalam dunia fantasi, dan perang yang penuh dengan absurditas dan kesengsaraan bagi pihak yang merasa diri mereka paling menderita. Dari cerita ini kita dapat mengetahui jika profesi menjadi tentara bukanlah tentang latihan dan operasi perang maupun non-perang yang banyak diberitakan oleh media masa. Tekanan yang dihadapi tentara bukanlah hal yang dapat dianggap enteng, dan pekerjaan mereka tetap dibumbui dengan ‘kebohongan’ yang hanya orang-orang berkedudukan tinggi saja yang mengetahuinya. Bahkan Nio sendiri tidak tahu apa yang dirahasiakan pemerintah dan militer tentang masa depan perang antara Persekutuan (dalam hal ini termasuk Pasukan Perdamaian) melawan Aliansi. Bahkan menjadi pegawai sipil tetap mendapatkan tekanan meski tidak seberat prajurit di tengah medan perang.
Aku harap, dengan kopi di satu tangan dan rokok tembakau atau elektik dengan tambahan gorengan, para pembaca sekalian dapat menikmati perjuangan Nio seolah-olah kalian berada di posisi orang itu. Atau, jika kalian membaca cerita ini dan benar-benar menikmati alur cerita, sehingga kalian akan merasa seperti terlibat di tengah pertempuran dengan senjata di tangan dan hantaman artileri dan senapan mesin yang menjadi backsound di banyak film perang selain teriakan penuh semangat atau keputusasaan prajurit yang akan menghadapi kematian. Aku harap kalian memiliki perasaan seperti itu, dan membuat hati kalian merasakan suatu perasaan yang membuat kalian ingin terlibat dalam pertempuran.
Akhir-akhir ini aku mendapatkan pesan dari salah satu pembaca yang berisi “Thor, kenapa Nio keliatan sering banget mengeluh. Bukannya dia bisa manfaatin kekuatan yang dia terima buat ngalahin musuh ketimbang terus-terusan perang?”
Hah?! Kekuatan apaan? Yah, mungkin saja kekuatan fisik Nio meningkat dan dia terlihat terlalu sering menggunakan pedang dan pisau untuk bertarung. Aku benar-benar menyukai tokoh seperti itu, ketika bawahannya terlalu bergantung pada senapan dan beladiri masing-masing tapi Nio masih mempertahankan pertempuran jarak dekat menggunakan atau tidak dengan senjata.
Sayangnya, kekuatan yang dimiliki Nio masih dirahasiakan hingga beberapa episode kedepan, atau aku akan menerima banyak keluhan tentang spoiler yang tidak sengaja tersirat. Dia akan berkembang sedikit-demi sedikit, hingga kemampuan ‘orang yang diramalkan’ muncul dan membuat cerita semakin berkembang.
Selain itu, kupikir chapter spesial di tengah-tengah konflik baru yang akan dihadapi para tokoh sangat menyebalkan bagi kalian yang menunggu kelanjutan cerita.
Heh! Siapa yang bilang chapter selingan seperti ini tidak berguna?!
Aku menggunakan chapter spesial untuk berkomunikasi dengan para pembacaku, sekaligus menambah intensitas update ketika ide sedang kering daripada tidak update sama sekali. Asal kalian tahu, para pahlawan tidak akan mengeluh, dan pahlawan yang sebenarnya adalah mereka yang rela menyisihkan waktu berharga mereka untuk membaca cerita tidak jelas karanganku.
__ADS_1
Dan untuk semua pembaca yang menantikan episode baru, aku benar-benar meminta maaf telah membuat kalian menunggu dan malah membuat chapter selingan seperti ini. Aku benar-benar kehabisan ide, meski cerita ini hanya menceritakan pertempuran pasukan modern melawan pasukan dunia lain yang masih mengandalkan peralatan tempur abad pertengahan dan sihir serta teknologi fantasi yang sering ada di novel sebelah, kecuali ‘sistem’ atau apalah itu dan semacamnya.
Aku harap kalian tetap menikmati cerita ini dengan membaca ulang episode yang paling kalian sukai, dan tetap setia dengan novel dengan kisah yang sama sekali tidak menyentuh ini.
Apakah kalian tersentuh dengan setiap episode dan konflik-konflik yang terjadi di setiap episode?
Karena aku tengah kehabisan ide, bisakah kalian memberiku ide untuk episode selanjutnya?
Kupikir aku tidak terlalu berpikir keras untuk menemukan ide bagi setiap episode cerita ini, dan hanya menggambarkan konflik yang terjadi di dunia kita saat ini. Sejujurnya, aku cukup ragu melibatkan konflik negara-negara kuat (kalian tahu lah), serta beberapa chapter sebelumnya yang terlalu menyinggung para binatang politik. Yah, daripada melibatkan mereka (para binatang politik yang mengaku sebagai wakil rakyat), aku lebih menyukai menyebutnya ‘mengkritik’ karena aku tidak tahu cara yang tepat untuk melakukannya.
Sejujurnya, ketika menulis tentang politik dan masalah negara luar negeri, kukira aku akan mendapatkan pesan dari polisi cyber, dan membuat cerita ini tidak dapat dilanjutkan. Ternyata hingga hari ini aku masih selamat, meski di dekat rumah ada pedagang bakso.
Aneh memang, karena kupikir tidak banyak penulis di platfrom ini yang melibatkan perang, masalah internasional, dan politik di dalam novel mereka. Sehingga aku berpikir dengan keras tentang apakah para pembaca berminat dengan novel seperti itu. Kalau ada, beri aku rekomendasi novel militer dengan konflik seperti itu, dan akan kujadikan refrensi.
Ini adalah novel tentang militer, perang, fantasi, sihir, dan remaja, yang diangkat menjadi cerita yang menggabungkan antara dunia modern dan fantasi. Ini adalah novel ringan, kupikir begitu. Yah, semoga saja kalian menganggap novel ini novel ringan yang bagus dan benar-benar seperti novel ringan.
Omong-omong, ternyata ada satu pembaca yang mengaku jika dia menyadari jika novel karanganku menampar kehidupan remaja saat ini. Aku dan pembaca yang kurahasiakan identitasnya saling berkomunikasi di chat pribadi, dan dia mengatakan jika tidak sedikit remaja saat ini yang sangat terpengaruh oleh media sosial, terutama Tik-T*k, khususnya remaja yang membuat konten yang memperlihatkan rahasia pribadi atau menari-menari tidak jelas, meski sebagian konten di aplikasi tersebut cukup berguna.
Tentu saja, jika aku menulis novel yang menceritakan para binatang politik yang sangat menyukai menyebarkan kebohongan dan kebodohan mereka yang sudah tak tertolong, namun mereka sangat membenci orang-orang yang menyebarkan fakta tentang kebenaran dan kebusukan mereka, sudah dapat dipastikan akan sangat banyak pihak yang menuntutku untuk tidak melanjutkan novel tersebut.
Jika ada pasukan yang membela orang-orang seperti para politikus kotor dan menganggap diri mereka di atas segalanya, sudah dapat dipastikan yang akan mereka dapatkan hanyalah kekalahan dan kehinaan.
Kita hidup di negara dimana seorang koruptor di bela layaknya dewa dan pahlawan, sedangkan veteran diperlakukan layaknya gelandangan(nemu di ig:v, semoga aja gw masih aman dan gk ditangkep ama pembenci mural:v)
Dan, bagi kawan-kawan yang baru saja bergabung dengan para pembaca Prajurit SMA lainnya, selamat datang di perjuangan fiksi yang kutulis sendiri.
Dengan sepenuh hati, aku sangat berterimakasih dengan kalian.
__ADS_1
Olog.
**
Bonus:
Tentang tokoh utama cerita ini.
Nama lengkap Nio adalah Nio Candranala, nama Nio aku ambil dari kalimat sehari-hari bahasa Jawa, yakni renio/reneo yang berarti ‘kesini atau kemari’. Sedangkan Candranala terdiri dari dua kata yakni ‘Candra’ yang berarti bersinar dengan lembut, dan kata ‘Nala’ yang berarti jantung hati. Dia memiliki tinggi tubuh 168 centimeter ketika masih bersekolah dan 178 centimeter ketika bergabung dengan Tentara Republik Indonesia Pelajar, dan berat badan 62 kilogram.
Hobi sebelum menjadi tentara adalah mengoleksi film biru bersama Jonathan dan Rio, dan menontonnya bersama-sama. Tanggal lahirnya 4 Juni, dia menderita hilang ingatan sementara setelah kematian ibu kandung ketika Nio berusia 6 tahun, dan membuat Nio tidak ingat nama ibu kandungnya namun masih mengingat bagaimana wajah ibunya.
Dia menderita phobia terhadap matematika, dan akan merasakan sakit kepala yang teramat sangat setelah melihat kumpulan rumus dan membaca daftar isi buku paket matematika. Namun, dia sempurna di semua mata pelajaran dan olahraga. Pelajaran favoritnya adalah sejarah, bahasa asing, dan olahraga.
Karya Ilmiah Remaja Nio dengan kerja sama guru sejarahnya, yakni Lisa, hampir berhasil melaju ke tingkat nasional jika dia tidak menyinggung senjata nuklir, kekalahan negara kuat di perang melawan negara lemah dan miskin, serta perang dunia ketiga yang menjadi mimpi buruk ketika itu.
Nio adalah tipe orang yang sering mengeluh ketika pekerjaan yang dia terima sangat berat dan mengurangi waktu bersantainya. Namun, ketika bergabung dengan militer, Nio tetap masih sering mengeluh meski tidak berani mengeluh terhadap orang yang membuatnya mengeluh, yakni atasannya. Namun, jika dia diberikan suatu tugas, dia akan menyisihkan seluruh waktunya bersama orang lain demi dapat menyelesaikan tugas jauh lebih cepat, sehingga dia dapat bersantai lebih lama.
Potongan rambut favoritnya adalah mandarin undercut, namun memiliki rambut yang sangat sulit diatur sehingga selalu mendapatkan omelan dan teguran atasan karena rambutnya selalu berantakan. Karena TRIP tidak melarang personelnya memiliki potongan rambut aneh-aneh selama poni tidak menutupi mata, sehingga Nio dapat mempertahankan potongan rambut andalannya tersebut.
Makanan favorit Nio adalah mi instan varian goreng, terutama merek Indo*ie, dan kopi hitam manis dingin.
Yang paling Nio takuti adalah Ayahnya (meski sudah meninggal), disusul Arunika kemudian anjing. Saat Nio masih kelas 3 SMP, sementara Arunika telah bekerja sebagai guru matematika, dia pernah dimarahi oleh Arunika selama tujuh jam tanpa henti karena mengetahui dirinya bekerja bersama anak tetangga menjual buah yang mereka ambil dari rumah seseorang.
Dia memiliki bekas cakaran cukup panjang di punggung setelah diserang anjing milik tetangga yang dia ambil buahnya tanpa ijin. Nio juga memiliki bekas luka sayatan benda tajam sepanjang 10 centimeter di sisi kiri lehernya yang didapatkannya ketika penyerangan tiga kali sehari pertama Aliansi.
Dia mulai merokok setelah dipengaruhi rekan-rekan sesama Sersan Mayor, dan tetap diijinkan merokok selama atasan tidak mengetahuinya.
__ADS_1
Menyukai novel ringan dan komik yang diimpor dari Jepang, dan menyukai tokoh kakak perempuan dan perempuan yang lebih tua darinya.
Jika ada pertanyaan lebih lanjut silahkan tuliskan di kolom komentar atau chat pribadi.