Prajurit SMA

Prajurit SMA
128. Keagungan raja naga angin


__ADS_3

Cahaya menyinari bidang penglihatan yang terbiasa dengan kegelapan ruang bawah tanah. Setelah melewati terowongan, seekor kuda dan seorang penjaga menunggu.


“Yang Mulia! Apa anda selamat?”


“Tidak, sejujurnya aku terluka. Ayo kita bergabung dengan Pasukan Aliansi.”


Kaisar Bogat melarikan diri dari penjara bawah tanah setelah pertempuran antara Sigiz dan Zelev terjadi. Ada sebuah rute pada penjara bawah tanah yang merupakan jalur rahasia, dan ada beberapa celah untuk melarikan diri, itu adalah jalan kabur yang digunakan Kaisar.


Pada jarak 1 kilometer di depan pandangan Kaisar Bogat, raja naga angin hampir menghancurkan kota. Ada beberapa naga yang mengamuk, dan sepertinya terpengaruh oleh tindakan raja naga angin itu. Naga-naga dan wyvern saling membantu untuk membakar Kota Aibu.


Pasukan aliansi menawarkan kesepakatan kepada Zelev, yang berhasil menetaskan dan menjinakkan raja naga angin. Itu artinya, raja naga angin seperti hewan peliharaan Zelev, yang diberi daging hewan-hewan besar dan terpidana mati.


Ide Zelev yang telah menjinakkan raja naga angin untuk melawan Sigiz tidaklah buruk, tapi dia seperti pemilik hewan peliharaan yang buruk saat membesarkannya.


Untungnya, Kekaisaran dan negara Pasukan Aliansi memiliki rekam jejak pengembangbiakan wyvern dan naga untuk pertempuran. Naga yang baru lahir memang cukup kuat untuk membunuh seekor gajah, tapi tetap saja kadal fantasi itu merupakan makhluk yang rentan dan lemah ketika masih bayi. Naga yang ditetaskan tanpa induknya, harus dipelihara dengan suhu yang sama dengan induknya, dan daging yang menjadi makanannya harus dicincang untuk menjaga pencernaan.


Awalnya Zelev yang menawarkan bantuan, karena memiliki raja naga angin. Dan berharap terbebas dari belenggu budak yang selama ini mengekangnya.


**


Nio dan rekan-rekannya yang bergegas keluar dari penjara bawah tanah mendengarkan apa yang terjadi di luar. Setelah beberapa menit berlari menaiki ratusan anak tangga, mereka tiba di permukaan tanah, dan mengeluarkan ekspresi pahit.


Teriakan para prajurit yang tercampur dengan suara tembakan senapan mesin dan serbu terdengar. Suara yang khas dari meriam artileri anti-pesawat juga berangsur-angsur berkurang. Dalam kobaran api, beberapa kendaraan ‘meleleh’ karena semburan api raja naga angin.


“Setidaknya, kami bisa berharap pada Ratu Sigiz,” batin Nio saat melihat Pasukan Ekspedisi dalam keadaan kacau.


Nio kemudian melihat sekilas ke samping, dimana Sigiz terlihat bertarung melawan Zelev dan beberapa wyvern muda yang liar. Mungkin ini tujuan Kaisar, dimana melibatkan Ratu Sigiz dalam pertarungan dengan harapan itu bisa membunuhnya.


Sebagai prajurit dengan pendengaran yang tajam, Nio mungkin bisa mendengar malaikat kematian sedang menari di tengah prajurit yang sekarat dan hampir mati.


“Unit Lapis Baja juga ada di sini!?”


Butuh beberapa saat untuk Nio memahami tugas korps lapis baja tersebut. Tank tua yang dimiliki Pasukan Ekspedisi memiliki banyak keunggulan jika harus dihadapkan oleh lawan yang ada di udara, karena sudut elevasi turret yang cukup fleksibel jika harus menembak jatuh seekor kadal terbang. Tapi, raja naga angin menyerang di darat, sehingga tank-tank dan kendaraan lapis baja bisa menyerang ke tubuh raja naga angin.


Di sisi lain, raja naga angin memanfaatkan sepenuhnya kemampuan untuk terbang di langit, dan dengan mudah terbang ke belakang barisan korps lapis baja dan membakar 3 tank dengan semburan apinya.


Tank tua yang terbakar seperti di film perang meledak dan terbakar. Prajurit yang selamat melompat dari palka untuk menyelamatkan diri dari api dan asap hitam yang membumbung tinggi.


“Tenanglah, musuh kita hanya satu! Konsentrasikan daya tembak ke kadal terbang itu!”


Kali ini, unit helikopter mulai menembaki raja naga angin. Mereka mencoba memusatkan daya tembak seluruh senjata helikopter dan berhasil membuat sedikit kerusakan pada tubuh kadal terbang tersebut.


“Jika mereka tidak menghentikan tembakan---.”


Kadal terbang raksasa yang nampak kesakitan setelah beberapa sisik tebalnya terjatuh ke tanah kembali menciptakan tragedi sebelum Nio menyelesaikan kata-katanya. Tiba-tiba raja naga angin jatuh ke tanah, dan menyemburkan api dengan liar saat terjatuh akibat serangan beruntun artileri meriam helikopter dan roket-roket.


Seluruh penerbang memiringkan helikopter ke arah raja naga angin yang terjatuh, dan mencoba melanjutkan serangan terhadap raja kadal terbang itu.


“Sial, ada pasukan kawan di bawah…! Berhenti menembak!”


Segera setelah perintah penghentian tembakan untuk mencegah tembakan mengenai pasukan kawan, semburan api biru keluar dari mulut raja naga angin, menyebabkan dua helikopter serang meledak di udara. Puing-puing helikopter yang meledak mengenai pasukan kawan di darat yang tidak beruntung.


Lalu ada sebuah helikopter yang terbang tidak terkendali setelah terkena puing helikopter yang meledak.


Komandan helikopter itu berkata dengan sangat panik, dan mempersiapkan kematian untuknya sendiri, “Ini Dewa Terbang 7, helikopter lepas kendali! Kami akan jatuh!”


Helikopter yang lepas kendali terbang rendah secara signifikan sambil berputar. Beberapa saat kemudian, helikopter tersebut menghantam tanah dan meledak. Api dan asap hitam membumbung tinggi, menggugurkan 10 prajurit penumpang helikopter tersebut.


Total ada 11 persenjataan termasuk helikopter yang hancur dan lebih dari 70 prajurit gugur. Namun, pertarungan ini belum akan berakhir sebelum tujuan tercapai, yakni membunuh raja naga angin yang menyebalkan.


Raja naga angin terbang dengan tenang setelah membunuh prajurit dan menghancurkan apapun yang dia lihat. Raja naga angin memang hanya ada satu di dunia ini, namun keagungan nya melampaui raja naga manapun yang hidup di dunia ini. Bahkan raja naga api yang dikalahkan dengan mudah oleh Pasukan Ekspedisi hanya seperti anak kadal biasa di mata raja naga angin. Pertarungan ini hampir seperti neraka.


Pemandangan mengerikan memenuhi Kota Aibu yang dibumihanguskan oleh Pasukan Aliansi dan semburan api raja naga angin.


“Komandan Grup Tempur 6, unit helikopter hanya tersisa 5 unit saja. Dan bagi Komandan Grup Tempur 1 hingga 4, peleton artileri anti-pesawat dan infanteri mekanis---.”


Seorang prajurit Tentara Pelajar bagian unit komunikasi melaporkan apa yang dia dapatkan dari seluruh pasukan. Untuk mencegah turunnya moral pasukan, seluruh Komandan Grup Tempur meminta agar prajurit muda itu menghentikan laporannya.


Seluruh prajurit kawan berusaha menyelamatkan diri.


Pertarungan ini memang tidak terduga, seluruh pasukan benar-benar panik atas munculnya raja naga angin dan puluhan kadal terbang liar lainnya. Awalnya, Markas Pusat berasumsi jika makhluk seperti raja naga dapat dibunuh oleh Unit Udara Pasukan Ekspedisi.


Namun, kali ini pesawat perang belum diturunkan, karena Markas Pusat masih menilai jika unit helikopter Grup Tempur 6 bisa menangani raja naga angin.


Di tempat lain, keputusasaan memenuhi hati Nio saat dia melihat kobaran api dan aroma bubuk mesiu dan bahan bakar dimana-mana. Helikopter yang terkena semburan api jatuh dan meledak di darat, tank-tank hancur, dan manusia terpanggang.


Nio tidak menghiraukan rasa sakit di sekujur tubuhnya, dan memungut senapan serbu milik prajurit kawan yang gugur yang tergeletak di tanah. Dia meletakkan jarinya di pelatuk senapan, dan Nio berlari kencang disertai dengan teriakan yang membuat seluruh orang yang mendengar menolah ke sumber suara teriakan.


“Nio!’


Zariv berteriak saat dia melihat apa yang Nio coba lakukan dalam keadaan penuh luka seperti itu.


“Kita tidak bisa menghentikan Komandan sekarang! Apa yang akan dia lakukan…?”


“Sekarang, jika kita tidak mengalahkan kadal raksasa itu, kita akan kalah dan musnah! Pokoknya tidak ada pilihan lain selain terus berjuang!”


Mengabaikan kata-kata bawahannya, Nio menarik pelatuk senapan serbu nya, dan mengabaikan peluru yang tersisa sedikit, dan terus menembaki musuh di depannya. Tidak peduli musuh yang menghalanginya manusia atau monster, mereka akan terkena peluru yang ditembakkan Nio.


“Komandan, jangan lupakan kami juga!”


Melihat dan mendengar orang yang mengatakan itu, Nio tersenyum hangat. Mereka semua adalah bawahan yang sangat baik, hingga membuat Nio merasa sangat bersalah jika membiarkan bawahannya yang tersisa gugur.


“Aku tidak tahu apakah kita bisa melakukannya, tapi aku akan melakukannya!”


Nio mencoba menginspirasi seluruh teman-temannya, Sheyn dan Zariv serta beberapa penyihir yang akan bergabung dengan Pasukan Sukarela Kerajaan Arevelk dan Negara Yekirnovo.


“Jangan takut! Kita hanya perlu menjadi pembunuh raja naga angin yang pertama! Ada banyak senjata milik TNI, penyihir, dan ratu hebat di sini, kita akan memanfaatkan itu semua!”

__ADS_1


“Siap! Dimengerti!”


Sheyn dan Zariv memutuskan untuk melakukan apa yang mereka bisa untuk membantu Nio dan teman-temannya.


“A-aku juga bisa melakukan sihir. Aku akan mengeluarkan sihir terkuat ku! Aku mohon beri aku waktu untuk menyiapkan sihir itu!”


Hanya di tempat ini, di medan pertempuran melawan raja naga anginlah Zariv bisa membanggakan kemampuan sihirnya. Satu-satunya jalan untuk situasi ini adalah dengan bertaruh.


“Komandan! Ledakan dari arah kanan mu!”


Suara Fariz terdengar sangat keras, beberapa saat kemudian kendaraan taktis yang terbakar meledak. Nio segera melindungi kepalanya dan berlindung dari puing-puing kendaraan yang terbang. Dia melompat kesamping dan menunduk di tanah untuk mengurangi dampak dari jatuhnya puing kendaraan yang meledak.


Lalu, terdengar suara teriakan lagi, dan Nio menoleh kebelakang untuk memeriksanya. Liben terjatuh seolah dia tersandung, tampaknya pergelangan kakinya terkilir saat mencoba menghindari dampak ledakan seperti Nio. Itu memang bukan cedera yang serius, tapi bukan cedera yang sembuh dalam beberapa menit. Liben tidak akan bisa bertempur dengan benar dalam kondisi seperti ini.


“Jangan khawatirkan aku!”


Liben mengangkat suaranya, lalu mengambil senapan serbu miliknya yang jatuh dan mengganti magasinnya.


“Aku masih bisa menembak dari sini!”


“Jangan bodoh!”


Nio ingin Liben berlindung di suatu tempat yang aman. Namun, jika dia bergerak dalam kondisi seperti ini, Liben akan menjadi sasaran empuk musuh dan raja naga api.


“Komandan, evakuasi diri dalam 30 detik!”


Tiba-tiba Fariz berteriak setelah mendapatkan pesan dari radionya.


“Apa aman!?”


“Akan ada tembakan perlindungan artileri anti-tank. Mari kita ajarkan kekuatan peradaban pada dunia fantasi ini!”


“Suara ini, Dinda!?”


Namun, Nio segera memerintahkan semuanya untuk mundur.


Regu penjelajah 1 masih mencoba memaksa Liben untuk bergerak, dan terlihat enam benda terbang yang mengeluarkan asap dari ekornya terbang di atas kepala. Dua dari roket-roket yang dilepaskan meleset dari raja naga api, dan sisanya menghantam tubuh dan sayap raja naga angin. Naga itu mengaum saat roket yang membawa hulu ledak besar menghantam tubuhnya.


“Oke, raja naga angin sudah melemah! Zariv sekarang!”


Setelah perintah dari Sheyn, Zariv melepaskan sihir yang membutuhkan beberapa menit untuk mempersiapkannya. Dan dalam waktu beberapa detik, ledakan petir menghantam tubuh raksasa sang raja naga angin. Bahan bakar kendaraan yang tercecer, saat terkena listrik dari sihir Zariv menyala dan meledak.


**


Kilatan dan raungan dari petir besar yang menyilaukan mata siapapun yang melihatnya, membuat seluruh prajurit kawan tengkurap di tanah untuk melindungi diri.


Serangan sihir terkuat milik Zariv pasti mengenai dan membuat luka parah pada tubuh raja naga api.


Nio menadahkan kedua tangannya, dan berdoa dengan harapan raja naga angin mati.


Lalu, wajah besar raja naga angin muncul dari asap, dan mengejutkan semua pihak.


Salah satu sayap raja naga angin patah, dan dia juga kehilangan tangan kanannya.


Nio segera membalikkan punggungnya dari raja naga angin, dan mulai berlari mundur sekuat tenaga. Dia mencoba menyelinap melalui kendaraan yang rusak, dan bersembunyi di baliknya sebagai perisai.


“Gawat!”


Setelah Nio mengatakan itu, raja naga angin menyemburkan apinya dengan kuat yang membuat Nio sulit bernapas. Kendaraan rusak yang dijadikan tameng Nio terlempar dan terhempas ke tanah.


Ekspresi wajah Nio nampak menunjukkan rasa sakit yang teramat, dia merasakan kulitnya seperti terbakar setelah merasakan semburan api itu. Meskipun Nio menghindari semburan api itu secara langsung, tapi api yang keluar menyebabkan suhu disekitar meningkat tajam. Nio menutup rapat mulut dan hidungnya, dan menahan napas dengan putus asa. Jika dia bernapas dalam situasi sekarang, paru-paru Nio bisa rusak akibat suhu sekitar yang tinggi.


Jika tembakan dukungan dari Regu penjelajah 1 terlambat, Nio mungkin akan mati. Tapi mereka melakukannya lebih cepat dari perkiraan, anggota Regu yang bernama Prajurit Satu Ryhan menembakan roket dari peluncur roket disposable di pundaknya. Roket yang melesat dengan kecepatan 1000 meter per jam mengenai mata raja naga angin, dan membuatnya terbang tak terkendali sambil meraung.


“Sepertinya serangan ku tidak berguna.”


Nio berlari mendekati Regunya yang masih melakukan serangan perlindungan. Saat berada di dekat Zariv, Nio meremas pundak gadis itu.


“Tenang Zariv! Serangan mu tadi berhasil menyelamatkanku!”


Tidak ada pilihan jika tidak ingin gagal, Nio berubah pikiran untuk mundur dan mengambil senjatanya lagi untuk mengalahkan raja naga angin.


“Kita tidak akan mati di sini! Kita akan berjaya di sini!”


Setelah mendengar kata-kata anggotanya yang terdengar meyakinkan, Nio mulai menembaki raja naga angin.


“Regu penjelajah 1 melakukan tembakan dukungan menggunakan area pemukiman sebelah kanan sebagai perlindungan! Ada banyak tempat untuk berlindung dari semburan api!”


“Diterima!”


Setelah perkataan wakil Komandan Regu penjelajah 1, seluruh prajurit kawan yang ada di dekat Regu penjelajah 1 mulai bergerak kembali sambil menembaki raja naga angin. Sementara itu, Nio juga kembali bergerak mundur, tapi dia melihat ke arah pertarungan Sigiz.


“Semoga beruntung, Ratu!”


Sigiz lebih unggul dalam kemampuan sihir, tapi dia harus berjuang keras karena Zelev dan kadal-kadal terbang liar mengeroyoknya. Sigiz bergerak cepat dengan tombaknya, tetapi beberapa wyvern mencoba melindungi Zelev dengan tubuh mereka.


Tetap saja, tubuh wyvern bukan tandingan bagi tombak yang telah dilapisi sihir oleh Sigiz, dan mata tombaknya perlahan berubah warna menjadi merah darah.


**


“Jangan jauh-jauh dari Komandan!”


Melihat kebelakang, Nio melihat Pratu Ryhan menaiki kendaraan taktis tanpa pengemudi yang dibiarkan. Beberapa anggota membantu Ryhan untuk melakukan tembakan perlindungan selama dia menembakan senapan mesin yang terpasang pada kendaraan. Pada saat yang sama, tembakan terus berlanjut hingga senapan sangat panas, dan raja naga angin itu mengepakkan sayapnya untuk berusaha kabur.


“Bagus! Semuanya, terus menembak! Targetnya adalah raja naga angin, aku akan menembak matanya! Tembak!”


Dengan perintah Nio, kendaraan taktis dan lapis baja milik Regu penjelajah 1 maupun kendaraan yang ditemukan berhenti dengan posisi yang presisi, dan mulai menembak. Peluru 12,7mm dari senapan mesin berat terpental dengan mudah setelah mengenai sisik raja naga angin, dan itu bukan hal yang mengejutkan lagi dan tidak membuat pasukan putus asa.

__ADS_1


Bagaimanapun daya tembak masih lemah, dan tembakan yang kuat diperlukan.


“Komandan, masuklah!”


Suara roda yang membuat debu-debu beterbangan terdengar, dan kendaraan taktis berhenti di depan Nio. Saat Nio naik melalui pintu yang dibukakan oleh Dinda, kendaraan taktis ini melaju dengan gas ditekan penuh. Di dalam kendaraan sudah ada Zariv dan Sheyn, mereka berdua nampak sangat berharap pada Nio agar pemuda itu memiliki rencana yang bagus.


Nio menarik napas dalam-dalam dan memberitahu seluruh anggotanya melalui radio.


“Dengarkan semuanya, aku punya ide bagus!”


**


Strategi yang ada dalam pikiran Nio cukup sederhana dan mudah dimengerti oleh prajurit amatir sekalipun. Inti dari rencana ini adalah “kerahkan semuanya pada raja naga angin”.


Namun, tidak mudah untuk mengunci target yang terbang seperti raja naga angin dengan senjata berat yang besar seperti peluncur roket disposable.


Oleh karena itu, Nio memutuskan untuk melakukan penyergapan dengan menyusun senjata berat di area yang sudah ditentukan. Dia melihat sekeliling menggunakan teropong untuk menemukan tempat yang cocok untuk penyergapan.


“Ada bangunan mirip gereja di sana! Pergi ke sana dan siapkan seluruh peluncur roket!”


Dua kendaraan taktis memandu kendaraan lapis baja di belakangnya ke zona penyerangan. alasan untuk menggunakan dua kendaraan adalah untuk memungkinkan operasi terus berlanjut, bahkan jika salah satunya dihancurkan.


“Pengemudinya adalah aku dan Ryhan, dan penembaknya adalah Sidik dan Bimo. Semua penembak harus mengikuti instruksi Liben untuk penyerangan.”


Anggota Regu penjelajah 1 memahami rencana Nio, pastinya itu bisa setidaknya melukai raja naga angin.


Setelah mendapatkan persetujuan semua orang, Nio mengeluarkan perintah.


“Oke, operasi dimulai!”


Dua kendaraan taktis yang membuka penuh akselerator mulai berjalan pada kecepatan maksimum. Di belakang tim penyergap, tim persiapan bergerak untuk mempersiapkan zona penyerangan.


“Sidik, Bimo, mulai tembaki musuh!”


Setelah perintah Nio, keduanya menembakan peluru 12,7mm pada senapan mesin berat kendaraan taktis. Serangan itu membuat raja naga angin menoleh ke arah mereka, dan raja naga angin membuka mulutnya yang bersinar. Dia menyiapkan semburan bagi penyerangnya.


Meski begitu, Nio dan teman-teman tetap tidak sabar dan langsung mengamankan jarak sesuai rapat tadi. Jika musuh menyerang, dia akan melarikan diri, dan jika musuh mundur, dia akan menyerang lagi dengan mengulang serangan, raja naga angin akan secara bertahap akan diarahkan ke lokasi yang ditentukan.


Tapi, raja naga angin juga terlihat bergerak dan melakukan semburan. Sekali lagi, Nio mengubah arah dan menjauh.


“Sedikit lagi!”


“Terima ini!”


Saat Nio hampir frustasi, dia mendengar suara kemarahan Dinda dan suara tembakan senapan serbu. Dia dan Ryhan menghindari semburan panas yang dikeluarkan raja naga angin, dan melanjutkan penarikan perhatian raja naga angin lagi.


“Ganti rencana! Sidik jaga naga tetap di tempat dan tidak bergerak! Tim penyerang berkonsentrasi di bawah menara sebelah kiri bangunan!”


“Komandan, apa yang kau katakan…?”


Liben, pemimpin tim penyerang pada awalnya bingung, tapi dia segera mengerti setelah melihat menara yang dimaksud Nio. Sebuah menara yang difungsikan sebagai identitas kota, bangunan ini setinggi 60 meter, dan menjadi bangunan tertinggi di Kekaisaran Luan.


“Komandan, ini sudah waktunya!”


Anggota tim penyerang, Satya terdengar tidak sabaran di radio.


“Sedikit lagi! Liben, beri perintah tembakan kalau semuanya sudah siap!”


Saat Nio memerintahkan, semua persiapan telah selesai. Segera setelah perintah Liben, suara tembakan senapan mesin dan roket yang menghantam dan menghasilkan ledakan terus berlanjut.


“Sidik turun dan bantu…!”


“Siap!"


Melalui radio, seluruh tim penyerang dapat mendengar suara tegas Nio yang memerintahkan Sidik agar bergabung dengan tim penyerang.


“Semua penembak, cepat siapkan tembakan!”


8 roket anti-tank yang diluncurkan melesat ke puncak menara dalam lintasan lurus. Dua roket menghantam fondasi menara, seperti yang direncanakan dan sisanya menghantam tubuh raksasa raja naga angin.


Sejumlah besar puing beton dan besi berserakan, dan fondasi menara hancur dan mengenai raja naga angin yang mulai melemah setelah dihantam beberapa roket.


Saat terjadinya runtuhnya menara, suara gemuruh yang tak terbayangkan bergema, dan jeritan raja naga angin bercampur dengan itu. sejumlah besar debu beterbangan, dan ketika debu menyingkir, semua orang bisa melihat raja naga angin berhenti bergerak dan terkubur oleh puing-puing menara yang berat, dan hampir mati setelah kepalanya terhantam oleh 6 roket yang dilepaskan tim penyerang.


“Jangan berhenti, tembak sebanyak yang kalian bisa!”


Dengan komando Nio, Regu penjelajah 1 menembak lagi. Raja naga angin yang belum mati mencoba untuk menyingkirkan puing-puing yang mengubur tubuhnya, tetapi sayapnya yang tersisa tidak bergerak dan membuat tubuhnya yang sebagian sisiknya telah terkelupas terkena tembakan senapan mesin berat.


Akhirnya, raja naga angin yang berjuang untuk menyelamatkan diri itu tidak bergerak lagi setelah sebuah roket yang entah siapa yang melepaskannya menghantam mata raja naga angin.


“Sip, serangan terakhir sukses!”


Nio membuang peluncur roket disposable yang sudah tidak ada roketnya ke samping kendaraan taktis yang dia kemudikan.


**


Nio menghentikan kendaraan taktisnya dan bergabung dengan Regu penjelajah 1 yang sudah berkumpul dengan lengkap, dengan tambahan Zariv dan Sheyn. Dari tempat ini, Sigiz dan Zelev serta beberapa kadal terbang yang tersisa masih bertarung, dan terkadang disertai suara ledakan sihir ‘artileri’ Sigiz.


“Untuk berjaga-jaga, coba lakukan tembakan perlindungan?” gumam Nio di dalam hatinya.


Namun, kondisinya yang masih terluka dan sudah bergerak terlalu banyak membuat Nio merasa mual. Sesaat kemudian tumpukan puing-puing terhempas saat ledakan sekali lagi terjadi, seluruh orang secara refleks menutupi wajah mereka dengan lengannya.


Ketika Nio dan anggota Regu penjelajah, serta Sheyn dan Zariv membuka matanya lagi, raja naga angin muncul lagi. sayapnya yang patah dan ekornya telah hilang, serta sebagian besar sisiknya terkelupas dan jatuh ke tanah. Mata raja naga angin berubah menjadi merah darah, membuatnya terlihat bahwa semangat juang raja naga angin tidak hilang sama sekali.


**


Funfact#8: alasan karakter prajurit dibuat terluka atau memiliki bekas luka di tubuhnya adalah “selama kamu seorang prajurit, kamu akan terluka”.

__ADS_1


__ADS_2