
“Letnan, bukankah kita akan melewati perbatasan?”
Pengemudi kendaraan yang bertugas memancing musuh yang bernama ‘Penulis’ alias Arif, dirinya terlihat kebingungan ketika Nio tidak memerintahkannya untuk berhenti ketika kendaraan hampir melewati perbatasan. Penumpang kendaraan dibelakang mereka yakni Hendra, Ratna, dan Edera bertanya-tanya juga.
“Kekuatan musuh semakin mendekat…!”
‘Gadis Tinggi’, alias mantan anggota regu yang dipimpin Nio ketika menjadi siswa di pelatihan pasukan khusus pelajar yang bernama Ika memperingatkan Nio dari kendaraan ketiga yang ditumpanginya. Namun, Nio masih belum memerintahkan pengemudinya… bahkan Arif tidak menyangka jika akan mendapatkan atasan seperti Nio.
Jarak kendaraan pertama dengan barisan terdepan pasukan berkuda Aliansi sekitar 300 meter, dan semakin dekat hingga keringat dingin keluar dari dahi Arif, bahkan dia bergumam di dalam hatinya, “Benar-benar mayat hidup”.
“Siapkan tembakan, arahkan ke barisan terdepan musuh.”
Operator senjata… Hassan menyiapkan senapan mesin berat dan melihat sasaran dari kamera yang terpasang di atap kendaraan dan terhubung dengan remote kontrol nya. Sistem kendali yang dipegang Hassan berbentuk mirip dengan remote kontrol pada mobil mainan, dengan beberapa tombol yang memiliki fungsi masing-masing, dan salah satunya menembakkan peluru senapan mesin berat.
“Akhirnya... memang tidak salah para atasan memberimu kode nama ‘Mayat Hidup’.”
Nio dan seluruh anggota tim ini memiliki kode nama masing-masing, yang diberikan kepada prajurit yang akan melakukan misi khusus. Nio memberikan kode nama kepada seluruh bawahannya kecuali Edera menurut keahlian mereka ketika masih sipil. Mereka memiliki keahlian yang tidak dimiliki prajurit reguler, dan paling penting bahwa pemimpin mereka… Nio memiliki keberuntungan ekslusif yang membuatnya tetap bertahan hidup di tengah pertarungan hidup dan mati. Hingga akhirnya para atasannya memberikan kode nama khusus untuknya ‘Mayat Hidup’. Bagi para jendral kontingen Arevelk dan Yekirnovo, Nio adalah jenis orang yang sangat sulit mati, dan akan kembali dari jurang kematian paling dalam sekalipun. Mereka yang telah kembali dari kemungkinan hidup yang kecil akan bisa mengatasi rintangan yang mustahil dengan hanya dengan melirik sekilas ke arah musuhnya.
“Apa kau mengatakan sesuatu, Hassan?”
Hassan menggelengkan kepalanya dan menyiapkan tembakan peluru 12,7mm ke arah barisan terdepan musuh sesuai perintah. Dari layar 6 inchi di remote kontrol yang dipegangnya, Hassan melihat barisan penunggang kuda Aliansi berjumlah jauh lebih banyak dari yang dia lihat sebelumnya. Lagipula, jarak antara mereka berdua hanya sekitar 250 meter.
Kendaraan pertama melintas di depan garis perbatasan dan terus melaju untuk memancing musuh agar mengejar mereka, hingga pasukan kavaleri Aliansi melewati perbatasan dengan jumlah 400 prajurit berkuda mereka.
Tombak-tombak sepanjang 4 meter mulai diarahkan ke depan oleh para prajurit berkuda, namun tetap tidak dapat menjangkau kendaraan beroda empat yang menjadi target mereka. Pasukan ini tidak dilengkapi dengan pemanah, jadi mereka mungkin hanya melakukan pertempuran jarak dekat dengan tombak mereka. Mereka mulai berteriak yang bertujuan meruntuhkan semangat musuh-musuh mereka.
Namun, Nio sudah pernah mendengar teriakan musuh yang jauh lebih keras dari mereka, meski itu mampu membuat bawahan barunya terlihat gugup. Zirah logam yang menutupi hampir seluruh tubuh prajurit berkuda, yang menjadikan mereka sebagai kavaleri lapis baja, memantulkan sinar matahari dan terus bergerak seperti air yang mengalir.
Pasukan kavaleri Aliansi berbaris dengan teratur… seperti dilatih hanya untuk melakukan hal ini, dan berjarak sekitar 2 meter antar kuda. Suara logam yang dihasilkan zirah yang mereka kenakan seperti suara gemerisik yang mengganggu, dan suara teriakan mereka terdengar penuh semangat dan keyakinan untuk meraih kemenangan.
Itu adalah pasukan dunia lain yang memiliki tujuan menyergap unit penjaga perbatasan Pasukan Perdamaian, dan menunjukkan kepada Sekutu jika mereka masih memiliki kekuatan yang sangat besar untuk berperang.
Turret senapan mesin berat 12,7mm pada kendaraan pertama berputar, dan larasnya mengarah pada barisan terdepan pasukan kavaleri. Namun, penembak senjata… Hassan belum menembak meski musuh telah berada dalam jarak yang sangat dekat untuk ditembaki, dan Nio masih memerintahkan Arif untuk terus melaju.
Kendaraan pertama yang ditumpangi Nio menggiring pasukan kavaleri, dan mereka mengejar gerobak lapis baja itu dengan tujuan merebut dan membunuh penumpangnya, lalu menunjukkan pada dunia jika Aliansi adalah pasukan terkuat di dunia.
“Pertahankan laju kendaraan pada 60 kilometer perjam!”
Adrenalin Arif sudah memuncak ketika Nio memerintahkannya, dan otaknya menyuruhnya untuk terus lari dari kejaran pasukan kavaleri musuh, tetapi dia sedikit tersenyum yang menunjukkan rasa semangat pada dirinya.
“Berkelahi dengan pasukan dunia lain adalah tradisi kita mulai sekarang. Tembak mereka sekarang, Hassan!”
Sersan Mayor Hassan menekan tombol yang membuat senapan mesin berat di atap kendaraan menembakkan 1.000 peluru dalam satu menit dengan tembakan menyapu, dan selongsong tanpa proyektil terjatuh dan menyebabkan seperti suara air hujan yang menghantam atap kendaraan.
Tembakan menyapu yang dilakukan Hassan langsung menyebabkan tubuh puluhan prajurit berkuda Aliansi yang dilindungi lapisan logam yang mereka sebut sebagai ‘Zirah Kebanggaan’ berlubang dan terjatuh dari tunggangan dan terinjak-injak oleh kaki kuda prajurit lain. Beberapa kuda terkena peluru dan tersungkur dengan darah keluar deras sehingga menyebabkan tuannya terjatuh ke tanah dengan keras, lalu tidak mungkin melanjutkan perjuangan karena terkena sapuan tembakan dari senapan mesin berat dari gerobak lapis baja tersebut.
Zirah logam yang mereka banggakan tidak mampu menahan laju peluru yang melesat dalam kecepatan 1.000 meter per menit. Itu menyebabkan barisan rapat mereka berantakan, dan senapan mesin memusnahkan sebuah regu lagi.
Kendaraan kedua mulai melakukan serangan ke barisan musuh, sedangkan kendaraan ketiga mulai menghujani barisan belakang musuh yang diam karena barisan depan yang macet. Pintu belakang kendaraan kedua terbuka, dan muncul Hendra dengan peluncur roket anti-tank disposable di pundaknya yang diarahkan ke barisan tengah musuh. Kemudian roket melesat cepat dengan ekor api di belakangnya, dan menciptakan ledakan besar yang menghancurkan puluhan tubuh prajurit berkuda.
Kemudian, anggota seluruh kendaraan menembak dari dalam kendaraan melalui celah yang bisa dibuka tutup sesuai kebutuhan, biasanya mereka membuka celah untuk dijadikan jendela supaya bisa melihat pemandangan luar dan menghirup udara segar, karena kaca hanya terdapat bagian depan agar pengemudi bisa melihat ke depan.
__ADS_1
Kendaraan kedua mulai membombardir musuh dengan granat yang dilemparkan dari pelontar granat yang terpasang pada senapan serbu Gita serta sapuan dari senapan mesin berat, dan senapan mesin berat dengan bantuan tembakan dari penumpangnya menyapu barisan belakang musuh yang mengenakan zirah kuat (menurut standar militer dunia ini) yang rapuh. Tanpa membiarkan musuh melakukan serangan balasan, seluruh anggota menembakan amunisi yang dimiliki hingga memusnahkan 20 persen dari keseluruhan jumlah kekuatan musuh.
Potongan-potongan logam, darah, serta daging manusia dan kuda terlempar ke udara akibat ledakan kedua yang dihasilkan roket anti-tank yang dilepaskan penumpang kendaraan ketiga dengan kode nama ‘Pemarah’ yang bernama Bima.
Pasukan kavaleri yang jumlahnya tidak bisa dibandingkan dengan Tim Ke-12 yang beranggotakan 13 orang menyebar seperti semut, mereka tidak bisa melarikan diri dari kepungan senapan mesin berat yang serangannya menembus tubuh, kuda, dan teman mereka.
Kendaraan pertama bergerak lagi dan seluruh personelnya terus menembak dari celah kendaraan. Kendaraan kedua bergerak ke baris belakang musuh lagi, dan tembakan dari senapan serbu dan mesin berat, serta ledakan yang dihasilkan granat tangan anti-tank bukanlah tandingan tombak 4 meter mereka. Kendaraan ketiga menyapu barisan sayap musuh dengan sisa amunisi dengan berlindung di balik sebuah batu yang tingginya tak menghalangi tembakan.
Nio tersenyum kurang ajar ketika menembaki musuh dari jendela samping yang terbuka sambil sesekali melemparkan granat tangannya. Dia memiliki bawahan yang bisa diandalkan meski ditengah pertempuran yang tak masuk akal ini.
Dia dengan percaya diri bisa membuat musuh-musuhnya kembali ke sarangnya, namun dia merasakan sesuatu yang tidak nyaman.
“Arif, hentikan kendaraan…”
Arif benar-benar menghentikan kendaraan ketika musuh menyusun kembali barisan, dan kendaraan kedua dan ketiga masih melakukan serangan dengan sisa amunsi. Dia melihat ke arah Nio… yang memegangi perutnya sambil menutup mulutnya.
“Aku mau muntah.”
“Haaaaaaah?!” itu adalah jawaban yang diberikan seluruh personel kendaraan pertama atas perkataan Nio.
“Penulis (Arif), ada apa dengan Mayat Hidup (Nio) ?”
Pertanyaan itu datang dari Gita yang melihat kendaraan pertama berhenti dengan senapan mesin dan senapan serbu dari personel yang masih menembak.
“Ah, dia memiliki masalah dengan taktiknya.”
“Apa itu buruk?”
“Tidak, hanya masalah kecil, dan bisa diatasai dalam waktu singkat.”
Nio dengan cepat membuka pintu sampingnya, dan melompat keluar lalu berjongkok karena rasa mualnya semakin kuat dan membuatnya mengeluarkan sebagian isi perutnya. Lalu, ada lima prajurit penunggang kuda Aliansi yang melihat Nio sebagai sasaran empuk bergerak untuk menyerangnya. Melihat itu, Hendra mengarahkan senapan mesin ke arah mereka dan mengenai beberapa dari mereka. Dua orang yang berhasil lolos dari serbuan peluru yang ditembakkan dari senapan mesin berat memacu kudanya agar bergerak lebih cepat lalu membunuh Nio yang terlihat masih berjongkok dan menciptakan genangan dari isi perutnya.
Tidak ada yang bisa mencegah Nio untuk segera menyelesaikan masalahnya, semua anggota fokus pada musuh di depan mereka dan menembak dengan sisa amunisi yang seharusnya bisa digunakan 2 bulan kedepan. Tentu saja, mereka melindungi Nio yang telah berdiri sambil mengusap mulutnya dengan wajah pucat karena isi perut yang dia keluarkan adalah seluruh makan pagi dan siangnya.
Edera melihat dua orang prajurit penunggang kuda telah berjarak 30 meter dari Nio, dan dia langsung melompat keluar dari pintu belakang kendaraan dalam mode kucing. Dia bergerak dengan sangat cepat… seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan asin, dan dia mendekati kedua prajurit musuh yang telah mengarahkan tombak mereka ke arah Nio yang terlihat… tak berdaya?
Nio mengganti magasin kosongnya, dan memasang magasin baru lalu menyiapkan senapan dalam mode otomatis penuh. Dia mengangkat senapan dan membidik kedua sasaran yang semakin dekat dengannya, namun Edera dengan cepat menebas kepala musuh yang kebetulan melepas helm mereka, dan kepala salah satu dari mereka menggelinding di tanah.
Sementara satu rekannya berhasil lolos dari sergapan Edera, namun itu hanya bertahan untuk sementara. Edera berlari cepat lalu melompat untuk menebas tubuh kuda bagian bawah yang tidak dilindungi oleh lapisan zirah. Kuda yang dia serang tersungkur ke tanah, dan menyebabkan penunggangnya terpental dan terbang ke arah Nio. Prajurit itu mendarat di depan Nio dengan wajah yang menghantam tanah terlebih dahulu, dan terseret lalu mengenai genangan isi perut Nio.
Arif dan Hendra yang melihat prajurit musuh yang mendarat tepat di muntahan Nio memasang wajah pucat, dan tidak bisa membayangkan bila mereka berada di posisi orang itu. Mereka juga merasa mual, dan tertawa setelah melihat prajurit itu kebingungan ketika wajahnya mengenai sesuatu yang beraroma busuk dan basah.
Nio mengarahkan moncong senapannya ke arah kepala prajurit yang wajahnya dipenuhi muntahannya sambil menahan mual lagi sambil berkata, “Jatuhkan senjatamu, dan menyerahlah. Maka kau akan tetap hidup.”
Namun, kebingungan juga melanda personel kendaraan ketiga yang melihat beberapa musuh tumbang dengan kondisi yang beragam. Mereka menghentikan tembakan karena musuh yang terbunuh dengan tiba-tiba cukup banyak, dan tidak ada musuh yang mendekati kendaraan mereka.
**
Mata sabit yang dihiasi tetesan darah terus menebas tubuh prajurit berkuda Aliansi.
Kepala manusia terbelah dengan mudahnya seperti semangka, dan organ tubuh yang berceceran karena tubuh yang terbelah menciptakan pemandangan khas penyiksaan neraka dunia yang disebut 'perang'.
__ADS_1
Terdengar suara teriakan orang-orang yang menghadapi malapetaka dan teriakan pahit penderitaan.
Tanah telah penuh dengan mayat manusia dan kuda, serta beberapa anggota tubuh terinjak-injak kaki kuda yang terlihat kacau dengan serangan mendadak.
Itu sebabnya mereka tidak bisa mengantisipasi serangan cepat seorang gadis bersayap yang menebaskan sabitnya ke tubuh-tubuh prajurit berkuda Aliansi.
Pada saat ini, ketika seorang gadis bersayap bernama Hevaz datang dengan tiba-tiba dan membawakan kematian yang tiba-tiba juga terhadap prajurit-prajurit yang berperang dengan Tim Ke-12. Sabit besar yang dia pegang membuat mereka merinding.
Hevaz bersenandung dengan bahasa dunia ini dimana jika berbahasa Indonesia akan menjadi, “Matilah, dan persembahkan jiwamu untuk membangun surga para pejuang!”
Gita dengan teropongnya melihat gadis terbang dengan dua sayap berwarna putih dan tangan kirinya memegang sabit besar yang bersimbah darah. Nio juga melihat hal yang serupa setelah tidak mendengar suara tembakan dari kendaraan kedua dan ketiga, dia memerintahkan seluruh bawahannya agar tidak menyerang Hevaz dan menganggap gadis itu sebagai rekan.
Hevaz berputar sambil mengayunkan sabitnya, membelah perisai lawannya kemudian baru membelah tubuh lawannya. Dia tampaknya sangat santai ketika melakukan aksinya, dan menciptakan kematian yang jauh lebih banyak daripada serangan Tim Ke-12.
Musuh-musuhnya mencoba menekannya dengan tombak panjang mereka yang dilemparkan ke arah Hevaz yang terbang, namun Hevaz kemudian mendarat dan mengayunkan sabitnya dari atas ke bawah. Dia memotong prajurit berkuda Aliansi yang dilindungi zirah logam, seperti sedang membelah bambu.
Wajah Hevaz dihiasi dengan percikan mutiara merah dari darah lawan-lawannya, dan dia kembali menebas angin, menebas tubuh musuh, dan membelah zirah logam mereka.
Sebuah tombak besar yang dipenuhi dengan rasa takut, kebencian, dan haus darah terayun dari salah satu prajurit Aliansi dan mengarah ke kepala Hevaz.
Tapi, mata tajam yang menggoda Hevaz melihat serangan itu, lalu memotong tangan lawannya yang berwajah putus asa.
Pada saat ini, Nio tiba dengan pedangnya menikam leher seorang prajurit yang hampir berhasil menusuk Hevaz.
Nio menebas dan menikam leher yang merupakan titik yang tidak dilindungi oleh apapun, namun para perwira menggunakan zirah rantai, tetapi jumlah mereka sangat sedikit dan sudah mati oleh serangan Tim Ke-12 sebelumnya. Kemudian dia mengarahkan pangkal gagang pedang ke hidung seorang prajurit yang sudah putus asa sehingga melepas helmnya agar musuhnya menebas kepalanya untuk mempercepat kematiannya, dan Nio menembaknya dengan peluru pistol.
Dia menangkis ayunan pedang dari prajurit musuh yang turun dari kudanya dengan tangan kanannya, yang hampir merusak tangan bioniknya. Dia bertanya-tanya adanya prajurit berkuda Aliansi yang turun dari kudanya, padahal mereka lebih kuat ketika berada di atas kuda. Dia menyapu langkah lawannya dengan tendangan, dan kemudian menginjak wajahnya dengan tumit sepatu botnya.
Ini memang pertarungan yang barbar, namun Nio ingin menghemat amunisinya dan bertarung dengan pedang dalam pertarungan jarak dekat dan menembak ketika melihat musuh yang mencoba mundur. Setelah pistolnya kehabisan peluru, dia melemparkan granat ke barisan musuh yang mencoba menyerang anggota timnya yang masih berjuang memberikan bantuan tembakan.
Sedangkan Edera memberi bantuan dengan membunuh kuda-kuda milik musuh, sehingga memaksa mereka untuk bertarung di tanah. Dalam mode kucing, kuku Edera akan memanjang, tajam, dan kuat sehingga mampu menembus area tubuh kuda yang tak terlindungi oleh zirah. Selain pada kuku, perubahan yang terlihat pada Edera adalah pupil matanya yang meruncing, taringnya yang memanjang, serta berlari cepat dengan empat kaki seperti kucing.
Nio menyerah untuk bertarung dengan pedang, dan mengangkat kembali senapan dengan sisa peluru dalam magasin sebelumnya, dan mengaktifkan senapan dalam mode semi otomatis. Karena pasukan berkuda membutuhkan pergerakan yang cepat, maka perisai yang mereka gunakan sedikit lebih lemah dari infanteri lapis baja, sehingga peluru 7,62mm bisa dengan mudah melumpuhkan musuh yang berlindung di balik perisai mereka.
Anggota tim tidak mau ketinggalan, jadi mereka melindungi Nio, Edera dan Hevaz. Dengan senapan serbu dan mesin, dan lemparan granat mereka berusaha supaya musuh tidak mengepung mereka bertiga.
Jika seseorang bisa mengambil langkah mundur dan dengan tenang mengamati pertarungan Hevaz dan Edera yang dibantu Nio, itu akan menjadi pemandangan yang indah. Terutama Hevaz, yang sepertinya kekuatannya tak tertandingi. Apakah itu karena medan perang yang gila, atau memang seperti itu dia? Hevaz tersenyum lebar ketika Nio dengan tenang menembak kepala musuh yang disertai dengan gerakan bela diri, dan Edera yang dengan lincah menghabisi musuh yang sudah putus asa. Meskipun ini medan perang, melihat senyuman Hevaz ditambah dengan tubuhnya yang sangat bagus membuat pria manapun pasti ingin melihat sosok itu di ranjang.
Mereka bertiga dengan bersemangat menunjukkan kerja sama pertarungan mereka.
Lalu, terdengar suara seperti sesuatu yang menabrak dengan sangat kuat. Kemudian, ketiga kendaraan taktis menabrak siapapun yang menghalangi laju mereka, dan melindas tubuh musuh yang belum terbunuh dalam serangan sebelumnya. Nio tersenyum melihat aksi bawahan barunya yang merusak bagian depan kendaraan, dan pastinya akan mendapatkan omelan dari staf perawatan kendaraan tempur jika mereka kembali nanti.
Hassan melemparkan magasin baru kepada Nio, dan dia membuang magasin kosong ke tanah lalu menembak musuh yang berusaha kabur.
Musuh yang melihat rekan mereka yang melawan dihabisi satu per satu oleh prajurit dunia lain berusaha menyelamatkan diri, dan meninggalkan medan perang dan lawan mereka yang berjumlah 14 orang tersebut.
**
Sementara itu, seorang Sigiz merengek kepada Lux, namun dia juga memiliki perasaan yang sama dengan ratunya.
“Kenapa hanya Hevaz yang boleh membantu Tuan Nio…!”
__ADS_1
“Mohon maaf, Ratu Sigiz. Tapi yang dibutuhkan sekarang adalah kecepatan dan kekuatan yang setara dengan ratusan prajurit, dan Hevaz-lah yang cocok dengan tugas itu.”
Yang menjawabnya tadi adalah salah satu staf pria Korps Pengintaian dan Pertempuran. Sementara itu, rengekan Sigiz semakin menjadi-jadi, dan kecewa dengan Hevaz dan Edera yang bisa berjuang bersama Nio di sana.