
Sebagai Penjelajah kelas penyihir, Sabole belum mati, tepatnya dia tidak akan dengan mudah mati saat lima belati milik para goblin menembus tubuhnya, dia menjerit kesakitan. Untungnya, seluruh serangan yang dia terima tidak mengenai organ vital. Tentu saja seluruh rekan-rekannya dan Nio tidak akan diam saja setelah dia terluka.
Sayangnya, dua puluh goblin kecil dan lima goblin setinggi dua meter mengepung Nio dan memaksanya bertarung bersama mereka. Nio belum tahu berapa lama dia akan berada di tempat ini, sehingga memaksa dirinya untuk menghemat amunisi yang tersisa lima magasin yang masing-masing magasin berisi tiga puluh peluru. Dia meladeni tantangan seluruh monster tersebut dan bertarung dengan pedang di tangan kanan dan pisau tarung di tangan kiri. Pisau tarung pada tangan kirinya berfungsi sebagai perisai, dan pedang di tangan kanannya berfungsi sebagai senjata utama yang akan menebas kepala atau tangan para goblin.
Dengan gerakan terlatih, dia menghindari, menahan tebasan belati goblin dengan pisau tarung di tangan kirinya, lalu menebas tubuh goblin kecil. Masalah utama ada pada goblin besar yang membawa batang pohon besar sebagai senjatanya, untungnya jumlah mereka tidak sebanyak goblin kecil. Dia melakukan beberapa tarikan napas – yang telah dicemari oleh aroma darah goblin yang berbau busuk – lalu menendang dengan keras setiap goblin kecil yang melompat ke arahnya dengan sangat lincah. Bagian depan sepatu bot-nya cukup keras, sehingga mampu melumpuhkan beberapa goblin kecil dalam sekali tendangan. Puluhan goblin kecil yang menghalangi jalannya untuk menghadapi goblin besar telah berkurang, dan dia dapat menyerahkan sisanya pada Kardas dan Sayf.
Kardas dan Sayf tidak hanya ahli dalam pertarungan jarak dekat menggunakan pedang, mereka berdua juga ahli beladiri – meski tidak semahir Nio. Tetapi, mereka berdua dapat dikatakan termasuk dalam golongan Penjelajah ‘miskin’, karena pedang yang mereka gunakan tidak setajam milik Nio dan dihiasi dengan sedikit karat. Sayf dan Kardas dengan berani menebas setiap goblin yang telah dilukai Nio hingga mati. Meski mereka hanya melakukan serangan terakhir untuk membunuh goblin yang telah dilukai Nio, mereka telah menekan rasa takut dengan lantai sepuluh yang sangat berbahaya, mereka pantas mendapatkan pujian.
Nefe menyeret Sabole ke semak-semak, lalu mengarahkan kedua telapak tangannya ke depan perut Sabole yang terus mengeluarkan darah. Lingkaran sihir kecil tercipta di depan perut Sabole, lalu Nefe mulai merangkai beberapa kata yang merupakan mantra sihir penyembuhan. Rata-rata Penjelajah kelas penyihir menguasai sihir penyembuhan sebagai pertolongan pertama jika ada anggota kelompok yang terluka. Mereka berdua dapat mendengar suara rekan-rekan mereka bertarung melawan salah satu jenis monster penghuni lantai sepuluh ini. Nefe dan Sabole tahu jika goblin di lantai sepuluh mampu menggunakan senjata, dan bertarung dengan strategi. Faktanya, mereka mampu memisahkan Nio dari kelompok utama dan menyerbu pria itu.
“Kau adalah gadis yang kuat, Sabole. Bertahanlah!” ucapan Nefe yang berusaha menghentikan pendarahan mengguncang Sabole.
Tapi, napas Sabole masih tidak beraturan dan wajahnya semakin pucat, gadis itu juga tidak menjawab ucapan Nefe. Darah keluar dari perut dan punggung Sabole tanpa henti, dan Nefe masih berusaha memperkuat sihir penyembuhannya hingga batas tertinggi yang dia mampu. Lima bilah belati berkarat yang ditancapkan para goblin di punggung Sabole masih tertancap di tempatnya, Nefe sangat takut dan ragu untuk mencabutnya jika tanpa bantuan orang yang ahli pada bidangnya. Yang dia bisa lakukan hanya berusaha menghentikan pendarahan yang dialami Sabole. Air mata kepedihan mengalir di kedua pipi Sabole, dan darahnya masih tidak berhenti mengalir.
Nefe merasa tidak dapat bernapas beberapa saat setelah melihat pemandangan yang mengerikan dari kondisi temannya saat ini, keringat mulai mengalir di dahi lalu menetes dari dagunya dan terjatuh ke tanah.
“Ah… Agh… !”
Sabole masih hidup, tubuhnya sempat berkedut beberapa kali dan mengejang, tapi dia masih hidup.
“Masih ada waktu. pasti ada,” Nefe meyakinkan dirinya sendiri jika ia mampu menyelamatkan Sabole. Dia menggigit bibirnya karena merasa energi magisnya mulai berkurang, namun pendarahan yang dialami Sabole belum berhenti.
Nefe hanya memusatkan energi magis miliknya pada lingkaran sihir penyembuh untuk menyelamatkan Sabole. Lingkaran sihir beberapa kali menghembuskan angin kecil, seolah-olah ingin mendorong kembali darah yang keluar kembali ke tempatnya. Nefe kemudian mengucapkan kembali mantra-nya.
“Dewa, taruh tangan terhormat Anda di raga gadis ini, dan selamatkan jiwanya…”
Sihir adalah hasil dari pengendalian segala unsur yang ada di dunia ini, dan mempengaruhi rasionalitas dunia sehingga dapat menciptakan kekuatan besar dan tidak masuk akal bagi orang yang dapat mengendalikan beberapa unsur di dunia ini, merekalah yang disebut sebagai ‘penyihir’. Beberapa orang menganggap sihir adalah kerjasama manusia dengan setan, namun dunia ini menganggap sihir adalah hasil kerjasama manusia terhadap dewa. Penyihir non militer pasti melibatkan nama dewa yang mereka sembah, seperti Dewi Kematian, Dewi Penyembuhan, Dewa Kemakmuran. Sementara bagi penyihir militer dan para prajurit, mereka memuja dua dewa yang sama, yakni Dewa Perang dan Dewi Kematian.
Saat mantra sedang diucapkan, lingkaran sihir yang melayang di atas perut Sabole mengeluarkan cahaya semakin terang namun lembut. Sihir memang sesuatu yang jelas antara batas realita dan fantasi, namun tidak bagi dunia ini. Bagi dunia ini, sihir adalah realita yang terus bersama sejak manusia pertama diciptakan. Sehingga, belati yang tadinya menancap di perut Sabole secara hati-hati tercabut tanpa menimbulkan rasa sakit pada gadis itu, kemudian daging yang tadinya terbuka kini secara perlahan-lahan tertutup kembali dan menghentikan pendarahan.
Tentu saja para goblin yang melihat Sabole berhasil diselamatkan bukanlah tipe monster yang akan kabur dan membiarkan hal itu terjadi.
“Kau sembuhkan saja Sabole, biar aku yang menahan mereka!”
Nio telah membunuh dua goblin besar dan menyerahkan sisanya pada Sakuya, serta goblin-goblin kecil yang mudah dikalahkan diserahkan pada Kardas dan Sayf. Dia membelah kepala goblin kecil dengan mudah, seperti membelah semangka. Pedang yang dia gunakan adalah salah satu senjata standar bagi prajurit TNI setelah perang dengan bangsa dunia lain terjadi, tentu saja itu hanyalah senjata cadangan selain pisau tarung jika senapan dan pistol atau senjata jarak jauh lainnya tidak berguna saat kehabisan peluru. Senjata tajam diproduksi di pabrik senjata, sehingga baik Tamtama maupun Perwira mendapatkan pedang dengan kualitas yang sama. Setidaknya, pedang tersebut mampu membelah bambu dalam sekali tebasan.
Setiap kali ada goblin yang berusaha menggagalkan usaha Nefe, Nio akan menebas kepala dan memotong tangan para goblin kecil dan sedang. Jika pegangan pada gagang pedangnya mulai melemah, Nio akan mencengkram gagang pedangnya dengan kuat. Dia menahan serangan belati goblin dengan pisau tarung di tangan kirinya, lalu menusuk dan mendorong pedangnya yang menancap di leher seekor goblin berukuran sedang.
“Yang mau mati, maju sini!”
Teriakkan Nio mengundang seekor goblin besar. Nio melemparkan belati milik seekor goblin yang dia bunuh, lalu menancap di mata seekor goblin besar yang telah siap membanting dahan pohon besar padanya. Ketika goblin besar tersebut menjatuhkan senjatanya, dia berlari beberapa langkah lalu melompat untuk menebas leher monster tersebut.
__ADS_1
Setelah tebasan yang hampir memisahkan leher dari kepalanya, goblin besar itu berteriak keras hingga mengundang teman-temannya lebih banyak lagi untuk membalas perbuatan Nio terhadapnya.
Tapi, Nio tidak peduli seberapa banyak goblin yang menantangnya bertarung dan berkata, “Nah, aku tidak tahu apa masalah kalian dengan kami. Tapi, datanglah padaku jika kalian mau mati!”
Sepuluh goblin kecil dan dua goblin sedang mendengus hingga lubang hidung mereka mengeluarkan asap, mereka menatap tajam ke arah Nio dan berteriak seakan-akan paham dengan perkataan pria itu. Bagaimanapun, monster di lantai sepuluh jauh lebih pintar dari kebanyakan monster di Labirin ini, tapi Nio tidak begitu yakin jika mereka dapat memahami tantangannya. Namun, melihat reaksi mereka yang bersiap untuk menyerangnya adalah hal yang membuktikan jika tantangan Nio telah diterima.
Ksatria kuat yang menghadapi serbuan monster paling berbahaya adalah cerita pengantar tidur yang paling umum. Mereka membunuh monster dan musuh terkuat, melawan kejahatan, dan menyelamatkan dunia. Di sini, di lantai sepuluh Labirin ini, keempat gadis penjelajah melihat Nio berjuang bersama Sakuya melawan lusinan goblin yang terasa tidak ada habisnya. Menyelamatkan mereka – yang berasal dari negara musuh – dan bekerja sama dengan pahlawan yang mungkin telah membunuh banyak temannya, Nio bertarung dengan begitu ikhlas. Pada akhirnya, keempat gadis Penjelajah melihat Nio sebagai ksatria yang menyelamatkan gadis-gadis bodoh dan lemah seperti mereka.
Pikiran seperti itu membuat mereka ingin semakin keras berjuang. Begitu juga dengan Sakuya – yang mengagumi Nio setelah dia telah memastikan jika pria itu adalah prajurit yang telah membuat Pahlawan Amarah babak belur hingga menderita serangan mental berat. Membayangkan jika dia tidak dipaksa menjadi pahlawan bagi Aliansi, dan terlahir sebagai prajurit Indonesia membuat Sakuya merasa ingin berjuang bersama Nio lebih lama lagi.
Tanpa status yang tinggi, dan uang yang mereka miliki sedikit, membuat Sayf dan Kardas hanya mampu membeli pedang murah dengan perlengkapan usang. Pelindung dada yang mereka gunakan terbuat dari pelat perunggu tipis yang dilapisi dengan kulit hewan. Barang berharga yang mereka dapatkan selama menjelajahi lantai sepuluh diperkirakan mampu membeli perlengkapan baru yang lebih bagus dan kuat bagi mereka berempat. Meski dengan pedang murah yang dapat dengan mudah parah dan tumpul, Kardas dan Sayf dengan berani melawan goblin-goblin kecil lemah karena telah dilukai oleh Nio sebelumnya. Sehingga tugas mereka hanyalah sebagai tim yang melakukan serangan terakhir untuk membunuh musuh.
Sementara itu, rajah dengan motif bunga dan pedang yang membara dengan kobaran api besar menambah daya hancur dari serangan Sakuya. Meski energi magis yang dia miliki tersisa sedikit dan tidak dapat membuat setiap musuh yang dia tebas menjadi abu, tetapi serangan Sakuya masih sangat mematikan. Dia menjadi begitu semangat setelah Nio bertarung bersama mereka tanpa mengandalkan senapan, dan berjuang menggunakan pisau dan pedang. Meski dia tahu tujuan Nio mengistirahatkan senapannya adalah untuk menghemat amunisi, dia tetap memuji keahlian berpedang Nio yang dipadukan dengan beladiri pria itu yang begitu terlatih.
Sakuya untuk beberapa saat menyadari betapa tergantungnya Jepang dengan drone dan senjata jarak jauh, sehingga para prajurit hanya dilatih pengetahuan militer umum dan beladiri dasar dan pertempuran jarak jauh menggunakan senapan. Meski teknologi semacam robot perang dan drone merupakan bukti jika Jepang adalah salah satu negara yang maju akan hal tersebut, namun dia berpikir jika seharusnya para prajurit juga dilatih perang untuk pertempuran langsung – seperti yang dilakukan Nio. Dia memang percaya jika perjuangannya bersama Aliansi hanya dianggap sebagai pembelotan bagi negara asalnya, Kekaisaran Jepang. Namun dia juga menaruh harapan bagi JSDF agar tidak terlalu bergantung dengan otak, namun juga bertarung dengan otot.
Suara dentingan pedangnya yang beradu dengan belati milik seekor goblin berukuran sedang membuat Sakuya kesal, dan tidak percaya ada monster yang mampu menahan serangannya. Goblin dihadapannya terdengar seperti tertawa, namun tak lama kemudian mati setelah Nio melemparkan belati milik goblin lainnya dan mengenai matanya.
“Sakuya, jangan diam saja!”
“Aku juga berjuang keras seperti mu, tahu!”
“Tidak mungkin!”
Kardas berkata dengan wajah tak percaya setelah melihat goblin besar tanpa lengan kiri menyerangnya dan Sayf. Seharusnya Nio sudah melemahkan monster tersebut, namun pedang Sayf terlempar beberapa meter setelah goblin besar itu menyerang mereka dengan batang pohon besar. Kardas kemudian menebas kaki kanan goblin besar itu, namun tenaganya telah terkuras setelah mengalahkan puluhan goblin kecil. Tebasan pedang darinya tidak cukup membuat goblin besar itu kesakitan, dan dia melakukan serangan tidak mematikan.
Kardas memerintahkan Sayf untuk segera mengambil pedangnya, dan dia yang akan menahan goblin besar di depannya. Setelah Sayf berlari kencang ke arah pedangnya terjatuh setelah terlempar, Kardas melakukan serangan kedua kepada goblin tersebut, dan kali ini dia berhasil mengalahkan goblin besar untuk pertama kalinya dengan cara menebas wajahnya.
Tapi sesaat kemudian, seekor goblin kecil melompat dari belakangnya. Kardas dengan cepat memutar tubuh dan menendang tubuh goblin kecil hingga menghantam batang pohon besar dengan keras. Itu adalah hasil pengamatannya setelah memperhatikan cara bertarung Nio yang mencampur unsur seni beladiri dengan seni berpedang.
Nefe dan Sabole telah bergabung kembali dengan pertarungan, dan mereka dikelilingi oleh sepuluh goblin kecil yang meneteskan liur menjijikkan mereka. Namun, pada saat yang sama, Nio sendiri juga dikepung oleh puluhan goblin berukuran sedang, dan terlihat tidak dapat membantu mereka untuk saat ini.
Karena itu, Nefe dan Sabole mengucapkan kata-kata mantra bersamaan, dan sepuluh lingkaran sihir berwarna kemerahan tercipta di atas sepuluh goblin yang mengepung mereka. Selesai mengucapkan matra, sepuluh lingkaran sihir mengeluarkan cahaya terang dan membuat kepala para goblin tersebut mendongak ke atas untuk melihat apa yang terjadi. Sesaat kemudian, masing-masing lingkaran sihir mengeluarkan panah api yang melesat dalam kecepatan tinggi dan membunuh para goblin itu seketika.
Seekor goblin berukuran besar melihat dua gadis penyihir telah membunuh puluhan rekannya hingga gosong, lalu berjalan perlahan sambil menenteng batang pohon besar di bahunya. Tangan kirinya menggenggam kepala Nefe dengan sangat kuat, dan terdengar seperti tertawa saat dia berhasil menangkap salah satu penyihir musuh. Sabole yang melihat temannya dalam kesulitan mengatakan kata-kata mantra dengan sangat cepat, namun dia masih kalah cepat dengan serangan batang pohon goblin besar tersebut. Tubuhnya dihantam dengan sangat kuat menggunakan batang pohon yang menjadi senjata goblin itu, mulutnya memuntahkan seteguk darah saat punggungnya menghantam batu dengan sangat keras. Saat itulah puluhan goblin berukuran sedang mengepung dirinya yang dalam keaadaan lemah.
Kekuatan goblin besar jauh lebih besar dari Nefe, dan tangannya mencengkran semakin kuat kepala gadis itu. Dalam keadaan, kesakitan, takut, dan panik, Nefe tidak dapat merapalkan mantra dengan benar dan berkali-kali dia gagal mengeluarkan sihirnya. Seolah-olah bosan dengan musuhnya yang terus memberontak, goblin besar itu membanting kepala Nefe dengan sangat keras ke batang pohon di dekatnya. Nefe pingsan seketika dengan darah mengalir dari kedua lubang hidung dan dahinya. Seperti tidak cukup hanya dengan membuat korbannya pingsan, goblin besar bersama teman-temannya memukuli tubuh lemah gadis itu dengan senjata mereka berkali-kali. Para goblin memukuli Nefe dengan senjata mereka, dan tidak mendengar teriakan dan tangisan gadis itu. Pakaian Nefe mulai rusak dan robek dan memperlihatkan area penting tubuhnya karena pukulan tanpa henti.
Melihat Nefe sudah tidak bergerak lagi, dua goblin besar mendekati tubuh Nefe yang lemah lalu merobak pakaiannya. Wajah para monster itu menyeringai di wajah mereka, benang-benang air liur menggantung di tepi mulut mereka. Nefe belum mati meski sudah dipukuli berkali-kali dengan pentungan dan batang pohon milik para goblin. Dia tahu jika monster di lantai sepuluh memiliki perilaku seperti manusia, seperti memperkosa gadis tak berdaya. Nefe menutup kedua matanya, lalu air mata mengalir di kedua pipinya seolah-olah pasrah begitu saja dengan keadaan.
Ketika para goblin hampir merenggut kehormatannya, lima ledakan menggema di udara dan mengejutkan dua goblin besar yang akan memperkosanya. Sesaat kemudian, dua goblin besar tumbang dan jatuh ke tanah dengan keras mengikuti tarikan gravitasi. Mata Nefe dengan lemah melirik ke sumber ledakan, dan melihat Nio menenteng tongkat anehnya.
__ADS_1
Sabole membuka matanya perlahan setelah tubuhnya menghantam batu dengan keras, dan mendengar suara goblin-goblin yang mengerumuninya. Dia lemah dan tidak bisa bergerak, dan para goblin memanfaatkan momen itu untuk merobek baju yang dia kenakan. Dua kembaran yang cukup besar keluar setelah pakaiannya dirobel oleh belati karatan salah satu goblin kecil. Dia berteriak sekeras mungkin, namun hal itu justru membuat para goblin merobek celana panjangnya hingga memperlihatkan bagian penting miliknya. Seperti tidak ingin melepaskan dirinya, dua goblin besar mencengram kedua tangannya dengan kuat, dan tiga goblin kecil mulai memperlihatkan anu mereka yang siap untuk merenggut kehormatannya.
Tidak ada harapan untuk menyelamatkan kehormatannya. Namun, semua rasa putus asa itu tiba-tiba sirna…
Sesaat kemudian, saat dia telah siap untuk segala yang akan menimpanya, Sabole mendengar suara ledakan beberapa kali dan membunuh dua goblin kecil. Sesaat kemudian, terdengar suara ledakan lagi yang membunuh dua goblin besar yang mencengkram kedua tangannya. Ketika ledakan itu terjadi, dia melihat kilatan cahaya yang menyertai terbunuhnya para goblin yang hampir memperkosanya.
Rasanya seperti mimpi yang menjadi nyata setelah melihat kilatan cahaya tadi menyelamatkan diri dan kehormatannya. Beberapa saat kemudian, dia melihat Nio berlari ke arahnya sambil membawa tongkat anehnya. Sebole sekarang paham jika yang menyelamatkannya adalah Nio, seorang prajurit dari negara musuh.
Mendengar suara ledakan yang sangat keras dan mengejutkan, seluruh goblin yang mengepung mereka berenam berlari menyebar ke segala arah dengan raungan khas mereka. Nefe mengeluarkan air mata dan mengalir di pipinya yang mengeluarkan darah dan lebam setelah dikeroyok puluhan goblin. Kini dia percaya jika ksatria tidak hanya terdapat di dongeng, tetapi dia telah melihat ksatria sesungguhnya langsung di depan matanya.
Wajah Nio begitu tenang, dan di sampingnya adalah Kardas yang menggendong Nefe yang mengalami hal yang sama dengan Sabole. Sakuya dan Sayf menyusul mereka setelah melakukan serangan terakhir terhadap goblin sebelum monster tersebut kabur.
“Kau jangan bergerak dulu, “perintah Nio.
Kardas menurunkan Nefe dengan hati-hati dan menaruhnya di samping Sabole. Kedua sama-sama kehilangan pakaian, dan kini mereka berdua dalam kondisi hampir telanjang bulat. Mereka ingin berteriak agar Nio menjauh, tapi keadaan mengerikan tadi membekukan lidah mereka. Wajah Nio sedikit memerah melihat kondisi mereka berdua. Melihat itu, Nio langsung melepas mantel miliknya dan menutup tubuh keduanya sebelum hal buruk menimpa mereka berdua. Setelah Nio melepas mantelnya, seluruh perlengkapan Nio terlihat dengan jelas, dan tetap saja keempat gadis Penjelajah menganggap pakaian pria itu aneh.
“Kita sudah aman, sepertinya,” ucap Nio dengan nada ragu-ragu.
Makhluk yang disebut dengan Nio berpikir apakah seluruh goblin di dunia ini memiliki sifat alami seperti manusia ketika melihat tubuh polos gadis lemah, yakni memperkosa mereka. Dia berpikir jika goblin hanya jenis monster yang bertarung dalam jumlah besar dan mengandalakan gerakan lincah mereka, dan tidak mengira jika monster tersebut memiliki kebiasaan seperti itu.
“Siapa kamu sebenarnya, Nio?” tanya Nefe dengan wajah lebamnya, namun senyuman manisnya tetap tidak menghilang.
Meski jawabannya sudah jelas, Nio tidak berpikir akan menambah identitasnya selain prajurit Persekutuan, seperti vampir, pemburu naga, atau pemburu monster yang suka memperkosa gadis. Dia tetap menjawab dengan wajah bangga jika dirinya adalah prajurit yang berasal dari dunia yang sama dengan Sakuya, dan berpihak pada musuh Aliansi.
Bagaimana seluruh gadis Penjelajah menatap Nio adalah seperti tatapan gadis yang telah menemukan ksatria yang hanya ada dalam dongeng. Mereka duduk bersandar di batu dengan lemah, bahkan melupakan rasa sakit di seluruh tubuh mereka. Pakaian, perlengkapan, dan senjata yang dimiliki Nio semuanya adalah benda aneh menurut keempat gadis Penjelajah, namun Sakuya sangat familiar dengan pakaian tempur modern seperti itu.
“Kalian beruntung, dapat menjelajahi lantai sepuluh bersama Nio,” ucap Sakuya dengan wajah tersenyum manis ke arah pria itu.
Ingatan jika Nefe dan Sabole hampir kehilangan kehormatan oleh goblin tidak akan terlupakan di kepala mereka berdua. Itu akan menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan, dan menyakitkan hati dan pikiran. Namun, mata mereka berdua yang berlinang air mata memberi tahu jika Nio benar-benar sudah menyelamatkan apa yang berharga milik keduanya.
Mereka paham jika jasa Nio tidak dapat dibeli dengan uang atau barang berharga yang mereka temukan selama menjelajahi lantai sepuluh ini. Kelima gadis tersebut melihat Nio meletakkan ranselnya ke tanah, lalu mengeluarkan enam bungkusan berwarna hijau tua. Itu adalah imukal, nutrisi tambahan yang Nio bawa selama melaksanakan misi penyusupan dan pengintaian di Kota Tanoe. Namun, sekarang dia malah kesasar hingga ke wilayah Kekaisaran Duiwel yang berjarak ribuan kilometer dari kota tujuannya.
“Kalian semua, minumlah ini.”
Nio menyobek pinggir bungkus imukal yang terbuat dari kertas daur ulang, dan memberikannya pada kelima gadis tersebut.
“Apa ini? Ramuan penyembuhan?” tanya Kardas.
Nio tersenyum, dan menganggap jika imukal – yang dapat membekan nutrisi selama satu hari – sama dengan benda yang dimaksud Kardas. Dia bisa saja menjelaskan apa itu imukal terhadap gadis-gadis itu, namun Nio terlalu malas untuk melakukannya.
Nio tahu jika dirinya bukanlah dukun atau penyihir, tetapi saat dia memberikan setiap bungkus imukal kepada kelima gadis tersebut dia mengatakan kata-kata harapan agar kekuatan mereka kembali pulih, dan dapat terus berjuang hingga membantu menemukan jalan keluar bagi dirinya.
__ADS_1