
25 September 2321, pukul 14.29 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, siang hari.
**
Di hamparan padang rumput yang luas dibawah langit biru yang bersih, dimana orang-orang Benua Andzrev menyebutnya sebagai Tanah Suci, dua pasukan dengan jumlah besar dikumpulkan. Kedua pasukan yang berada di baris depan, membawa bendera dengan tongkat panjang dan menciptakan hutan baja.
Ujung tombak yang menjulang dari tongkat sepanjang 5 meter, sepertinya siap untuk menghabis lawan masing-masing. Pedang terbaik pasukan telah dihunus, dan siap untuk menebas leher musuh.
Peralatan Tempur yang dimiliki kedua pasukan, disiapkan di beberapa titik yang cocok. Jarak tembak balista dan ketapel raksasa telah disetel, amunisi yang berupa batu dan tombak besar siap ditembakkan oleh masing-masing operator senjata.
Masing-masing komandan pasukan berada dibarisan terdepan, paling depan di antara ribuan pasukan yang mereka berdua miliki. Sigiz menggenggam erat tombak miliknya, dan menelan ludah karena berhadapan dengan musuh yang hampir berjumlah seimbang. Pertempuran pertama dalam 10 tahun kepemimpinannya, akan segera terjadi.
Pasukan Sigiz, meskipun mereka baru pertama kali menjalani pertempuran besar, setidaknya mereka memiliki kemampuan setara dengan prajurit veteran. Ditambah dengan pasukan penunggang naga, pasukan yang dipimpin Rantz gentar dengan pasukan kadal tebang itu.
Jendral pasukan mati-matian membangun semangat para prajurit yang akan menghadapi dua pasukan terbesar benua ini. Meski hal itu mampu membuat mental para prajurit meningkat, namun tidak ada yang tahu terhadap hasil akhir perang ini.
Setidaknya, Sigiz bisa merasa lega karena mendapatkan sedikit bantuan dari TNI. Meski kekuatan yang didapatkan hanya satu Grup Tempur, namun itu adalah pilihan yang dibuat Sigiz sendiri.
Tidak ada yang percaya dengan bantuan yang didapatkan Sigiz, bayaran yang akan diberikan pastinya akan sangat mahal. Untuk mendapatkan bantuan yang kuat, para pemimpin tidak segan untuk membayarnya dengan sesuatu yang besar. Setidaknya setelah pertempuran ini selesai, Kerajaan Arevelk akan memastikan dirinya menjadi sekutu TNI.
“Sialan! Kenapa ratu jalang itu bisa bekerja sama dengan pasukan dunia lain!?”
Rantz memegang pedang sihir miliknya semakin erat, dia mengeratkan giginya sekuat yang dia bisa. Dia tidak memiliki keinginan untuk mundur meski Sigiz mendapatkan bantuan yang kuat.
Namun, dia merasa takut dengan pasukan hijau yang berada di dalam gerobak besi. Dia tidak mau mempercayai hal ini, karena berhadapan dengan pasukan yang hampir menghancurkan pasukan gabungan lima negara.
Tidak ada rasa lain yang membuat wajah seluruh pasukan Kekaisaran Luan menjadi kaku, selain rasa takut terhadap pasukan hijau yang menjadi bantuan Kerajaan Arevelk.
**
Strategi yang digunakan Grup Tempur 1 adalah pertempuran terbuka, ini adalah taktik paling sederhana. Dimana mereka akan berada di baris depan untuk melemahkan musuh, lalu mengincar bagian terlemah dari musuh, kemudian menyerahkan pertempuran kepada pasukan Kerajaan Arevelk.
Komandan Grup Tempur 1 memerintahkan masing-masing komandan Regu untuk memimpin pasukannya.
Pembagian pasukan berjalan singkat, karena pengalaman tempur pasukan yang bisa dibilang cukup luas. Karena taktik perang yang digunakan lawan adalah pertempuran langsung, maka Komandan pasukan ini harus memikirkan strategi khusus.
‘Serangan kilat’ adalah taktik yang akan digunakan Grup Tempur 1, taktik ini digunakan militer Jerman saat perang dunia ke-2. Serangan ini merupakan sebuah metode perang secara cepat yang mengandalkan pasukan infateri dengan kendaraan lapis baja, dan didukung oleh serangan udara jarak dekat.
Metode ini dengan cepat merusak garis pertahanan lawan dan kemudian mengacaukan barisan pertahanan. Dengan menggunakan berbagai manuver serangan, metode ini berusaha merusak keseimbangan lawan dengan membuat mereka kesulitan merespon serangan.
Serangan yang mendadak, cepat dan tidak terduga akan membawa kekalahan yang besar di pihak lawan dengan tidak memberikan kesempatan apapun untuk menyusun kembali pertahanan.
Menyerang seluruh garis pertahanan akan dilakukan pasukan infateri, cara ini akan mengetahui kekuatan utama musuh dan membuat mereka kesulitan menyusun kembali pertahanan.
Serangan ini kemudian akan diakhir dengan ‘pertempuran pemusnahan’.
“Tapi yang menjadi masalah adalah pasukan penyihir milik musuh.”
Semua informasi mengenai musuh telah diperolah, penyihir militer milik Kekaisaran Luan dikatakan cukup kuat untuk mengubah jalannya peperangan.
__ADS_1
Setidaknya, 3 tank tempur utama dengan meriam railgun bisa diandalan pada pertempuran ini, beserta puluhan kendaraan lapis baja dengan senjata senapan mesin berat dan helikopter tempur yang telah dipasangi puluhan roket sebagai kekuatan udara kecil.
Pengirim pesan dari pasukan Kerajaan Arevelk memberitahu kepada Komandan Grup Tempur 1 untuk melakukan pertempuran terlebih dahulu. Kesempatan ini diterima dengan baik oleh Komandan pasukan yang berpangkan Kolonel tersebut.
Prajurit Grup Tempur 1 akan melakukan pertempuran yang kurang mereka ‘nikmati’ sebelum ke dunia ini. Taktik perang yang mereka pelajari saat masih di akademi, akan mereka kerahkan demi memenangkan pertempuran.
Meski Grup Tempur 1 dapat dipastikan memenangkan pertempuran ini, tapi merumuskan dan melaksanakan taktik sangat penting dalam sebuah pertempuran. Karena sebuah pasukan terkuatpun bisa kalah dalam medan tempur meskipun strategi perang yang sudah terkoordinasi dengan baik, strategi militer yang tepat, dan strategi operasi yang terancang baik.
Grup Tempur 1 memiliki keuntungan dalam membantu Kerajaan Arevelk, yakni tidak terikat dengan komando Sigiz. Artinya, Sigiz tidak memiliki wewenang untuk memerintahkan Grup Tempur 1 menyerang atau lainnya. Kecuali dia ingin jika pasukan ini melakukan perlawanan terlebih dahulu.
**
Rantz memberlakukan sebuah strategi perang, dimana pasukan penyihir militernya akan menyerang sesuatu yang berharga milik musuh yang terlalu kuat untuk diserang. Dia yakin jika pasukan hijau memiliki kelemahan, setidaknya satu kelemahan.
Dia berpikir jika melakukan serangan langsung dengan pasukan besar, itu hanya akan merugikan pasukan ini. Itulah mengapa dia menggunakan pasukan penyihir militernya untuk menyerang senjata terkuat milik musuh. Saat senjata terkuat milik musuh berhasil dilenyapkan, serangan terakhir yang dilakukan adalah dengan mengirimkan pasukan dengan jumlah besar untuk melenyapkan pasukan hijau yang melemah karena kehilangan senjata terkuat mereka.
Pasukan ini tidak memiliki pasukan penunggang naga, namun bukan berarti tidak memiliki senjata yang kuat. Pasukan ini dibekali dengan 10 meriam, senjata inilah yang akan membantu pasukan penyihir militer untuk menghancurkan senjata terkuat musuh.
Namun, operator meriam harus tahu batasan yang dimiliki senjata ini. Jika meriam terus menembakan amunisi melebihi kapasitas, senjata ini akan meledak dan membunuh prajurit.
Para operator memasukkan bubuk mesiu dari depan meriam, atas perintah komandan bagian artileri. Karena bisa saja Rantz segera memberi perintah untuk menyerang.
**
Nio yang sedang memimpin Regu penjelajah 1, terlihat begitu bersemangat ketika mendengar suara meriam dunia lain. Suara yang dihasilkan ternyata tidak sekeras dari meriam railgun. Seluruh prajurit bergumam tentang kepemiliki meriam pada militer dunia ini.
Ledakan bola meriam tidak menggentarkan seluruh Regu yang telah disebar, masing-masing Regu berjarak tidak sampai 100 meter.
Komandan masing-masing tank memerintahkan penembak dan pengemudi untuk melaju dan membidik pasukan yang bergerak dengan kuda. Seluruh penembak di ketiga tank tempur utama telah menyiapkan peluru dan membidik sasaran sambil menjaga jarak yang sesuai.
Tiga suara ledakan beruntun terdengar dan mengejutkan pasukan Sigiz dan dia sendiri. Bahkan bumi seperti bergetar saat meriam railgun melepaskan peluru dengan kecepatan suara.
Pasukan penyihir milter merapalkan mantra singkat sambil mengarahkan ujung tongkat mereka ke atas. Sesaat kemudian terlihat cahaya berwarna kemerahan muncul dan membentuk kubah yang melindungi seluruh pasukan dari serangan musuh. Rantz dan pasukannya merasa yakin jika kubah ini bisa melindungi mereka dari serangan terkuat musuh.
Peluru yang ditembakan dari meriam raligun menghantam kubah sihir tersebut. Mustahil jika bombardir meriam itu tak mampu menghancurkan kubah sihir. Perlahan-lahan kubah transparan berwarna merah itu retak dan hancur setelah tak mampu menahan terjangan peluru meriam railgun.
Pasukan penyihir yang tadinya tersusun rapi, kini menjadi sasaran empuk seluruh Regu yang telah perada di jarak efektif menembak senapan serbu. Senapan mesin yang di pundak beberapa prajurit juga menembakan 800 peluru dalam semenit.
“Regu 1, pandu kendaraan lapis baja dan rantis untuk menyerang pasukan penyihir utama musuh. Ganti.”
“Regu 1 akan melaksanakan perintah. Selesai.”
Percakapannya yang datar-datar dengan pusat komando Grup Tempur 1 begitu bersih dari suara teriakan pasukan musuh. Nio memberi kode tangan kepada anggota Regu untuk memimpin pasukan kendaraan lapis baja dan rantis yang masih dalam perjalanan.
Puluhan roket dilepaskan dari helikopter yang terbang hanya beberapa puluh meter di atas pasukan penyihir. Para penyihir tidak berdaya dengan puluhan roket meledak dengan daya besar, bahkan potongan tubuh itu nantinya hanya akan menjadi makanan burung pemakan bangkai.
“Apa yang sebenarnya pasukan ini inginkan? Kalau mereka hanya ingin menjadi taget latihan tembak, mereka hanya perlu bilang saja.”
Ungkapan Nio yang terdengar dari saluran komunikasi radio hanya membuat para anggota Regunya tersenyum miring.
__ADS_1
Grup Tempur 1 mengira jika pasukan penyihir militer Kekaisaran Luan akan melancarkan serangan kelas kakap. Namun, yang diterima pasukan ini hanyalah serangan kelas teri yang berupa hujan panah kecil. Ratusan anak panah hanya terpental saat mengenai tubuh kendaraan lapis baja.
Prajurit yang berada di helikopter melakukan serangan udara dengan meriam yang terpasang, selain dengan puluhan roket yang telah ditembakan. Yang diterima pasukan utama musuh dari serangan meriam helikopter adalah hujan timah, dan proses kematian sesaat.
Dengan mudah, peluru dari senapan mesin berat kendaraan lapis baja mengantarkan malaikat kematian kepada pasukan penyihir dengan bantuan helikopter.
“Mengapa? Dewa Perang, mengapa ini tidak sesuai yang kupikirkan?”
Rantz dengan wajah pucatnya menengadah ke langit. Bombardir meriam milik pasukannya, seakan-akan tidak berguna melawan meriam yang jauh lebih kuat milik TNI.
Pertempuran ini tidak imbang, namun Kekaisaranlah yang telah menantang Kerajaan Arevelk untuk berperang. Dan Kerajaan itu telah mendapatkan bantuan yang bahkan menghancurkan setengah kekuatan pasukan penyihir militernya.
Seorang tentara yang waras akan menyebutnya sebagai pembantaian, bukan pertempuran. Pasukan penyihir militer tidak diberi kesempatan untuk merapalkan satu kata mantra.
“Ini tidak seperti yang diberitahukan! Pasukan hijau sialan itu akan membantai kita!”
“Mundur! Cepat mundur! Lepaskan tembakan perlindungan!”
“Tanganku! Tanganku patah!”
“Pasukan penyihir apa tidak melakukan sesuatu?”
“Terkutuklah kalian pasukan dunia lain!”
Kesenjangan teknologi terbuka lebar, dimana sihir yang menjadi senjata terkuat pasukan ini melawan teknolgi yang dimiliki TNI. Masalah yang dimiliki Kekaisaran telah melemahkan kekuatan pasukan dan mengancam keberadaan negara. Kekaisaran telah membayar mahal akibat memaksakan diri untuk berperang dengan dunia lain dan Kerajaan Arevelk.
Peperangan yang terjadi sekarang, adalah peperangan yang tidak bisa dimenangkan Kekaisaran sendiri.
Pasukan mengutuk Kaisar Bogat karena terus membarakan semangat nasionalisme tanpa mau menerima kenyataan. Bangsawan fraksi militer, atau lebih tepatnya penjahat bayaran yang hanya mampu melontarkan sampah-sampah propaganda, dengan mudahnya mengatakan jika pertempuran ini sebagai ‘merebut kembali Tanah Suci dari orang-orang dunia lain’. Sungguh omong kosong.
Seharusnya perang ini adalah milik pasukan Kerajaan Arevelk, namun mereka hanya bisa melihat pembantaian dari jarak beberapa kilometer di belakang tank tempur utama dan Regu-Regu.
Grup Tempur 1 hampir memusnahkan setengah kekuatan pasukan Kekaisaran, dan Sigiz tidak bisa membiarkan para pasukannya untuk ikut serta dalam pertempuran yang dilakukan Grup Tempur 1.
“Tidak masuk akal.”
Beberapa jendral pasukan mendekati Sigiz, mereka juga memiliki masalah yang sama dengan Ratu mereka. Yakni tidak tahu harus berbuat apa agar Grup Tempur 1 membiarkan pasukan ini mengambil alih pertempuran.
Pasukan ini melihat dua capung besi terus memuntahkan hujan timah kepada pasukan infateri dan kavaleri dengan brutal. Sigiz telah melihat yang hampir serupa saat di Karanganyar, namun bagi pasukannya, mereka telah melihat dengan mata kepala sendiri sebagian kecil kekuatan TNI yang kuat.
Pasukan Kekaisaran benar-benar telah panik, dan berusaha menyelamatkan diri. Namun, peluru dari senapan serbu dan senapan mesin berat tidak membiarkan mereka selamat.
Tidak ada seorang pun prajurit yang tenang setelah dibodohi setelah mendengar jika ‘memenangkan perang ini maka kejayaan bagi Kekaisaran’, hingga akhirnya menjadi santapan empuk Grup Tempur 1 yang tersusun rapi berkat rapat strategi dadakan.
Tak diragukan lagi, kebodohan macam ini akan tercatat dalam sejarah Kekaisaran Luan.
Sudah jelas jika lawan Kekaisaran adalah Kerajaan Arevelk, namun Grup Tempur 1 untuk sementara merupakan bagian dari pasukan tersebut. Setidaknya, Sigiz tidak ingin ambil resiko jika pasukannya berada di dalam pertempuran bersama pasukan TNI.
Para jendral pasukan Kekaisaran berusaha menyusun kembali pasukan mereka setelah terkena hantaman artileri. Jika pasukan ini mundur, pasti Kekaisaran akan menjalankan propaganda lagi seperti biasa.
__ADS_1
Mereka tidak menyangka jika Kaisar akan menuruti bangsawan Fraksi militer demi perang ini, begitu bodohnya hingga tidak ada harapan untuk diperbaiki.