
23 Oktober 2321, pukul 23.16 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, malam hari.
**
Nio sepenuhnya sadar dengan yang dia lakukan barusan, namun melihat seseorang yang memiliki ciri-ciri seperti penduduk Indonesia umumnya, dia bertindak begitu saja tanpa perintah. Orang yang bernama Dewi ini mengangkat kepalanya karena melihat seseorang yang memakai atribut TNI, dan berbicara bahasa Indonesia. Beberapa gadis yang nampak berasal dari Indonesia juga belum diketahui namanya.
Sepuluh antek-antek si panglima mundur beberapa langkah sambil menggenggam erat pedang mereka. Sementara Nio, dia mendapatkan senjata dari seorang perwira yang melemparkan pisau tarungnya untuk Nio. Nio memantapkan kuda-kudanya, dan mencoba untuk tetap tenang.
“Kami dari TNI, apa kamu orang Indonesia?”
“Apa kamu datang untuk menyelamatkan kami?”
Beberapa dari gadis Indonesia ini tidak dapat berbicara, karena perlakuan yang mereka dapatkan ketika menjadi budak. Dan hanya gadis bernama Dewi inilah yang masih bisa berbicara meski dengan suara yang begitu lirih.
“Ya, kami akan membawa kalian pulang ke tanah air kita.”
Ketika beberapa gadis berambut berwarna hitam ini mendengar kata-kata dari Nio, air mata mereka mengalir. Situasi sekarang tidak memungkinkan untuk melepaskan rantai pada leher gadis-gadis itu, beberapa prajurit musuh berada di dekat para gadis-gadis ini. Jika Nio mulai bergerak, mungkin mereka akan bertindak yang bisa melukai gadis-gadis calon mantan budak ini.
Sebenarnya TNI tidak tahu gadis-gadis ini ditangkap oleh musuh, informasi yang mereka dapatkan begitu sedikit mengenai warga yang diculik. Jadi secara teknis Nio terpaksa berbohong kepada gadis-gadis Indonesia ini.
Namun begitu Nio dan para perwira tahu ada rakyat Indonesia yang menderita disini, tidak mungkin untuk meninggalkan mereka. Nio dan para perwira yang ada disini memiliki satu pemikiran yang sama, dan mereka serta seluruh Regu penjelajah bersiap untuk pertempuran.
“Nona, jika kalian masih menangis, lebih baik kalian tersenyum dengan manis. Itu akan membuat semangat saya bertambah.”
Sambil mengatakan hal itu kepada para gadis Indonesia, Nio bersiap untuk melawan antek-antek si panglima yang nampak menggunakan zirah besi tebal.
Jika ada yang mencoba menghentikan para prajurit TNI ini, akan ada pihak yang menyesal telah melakukan hal itu. Para tentara tua ini memiliki pengalaman tempur yang lebih tinggi dari tentara muda, itu mengapa mereka pantas menjadi perwira. Setidaknya mereka belum terlalu tua, kebanyakan dari mereka masih berusia 45-50 tahun.
Di sisi lain, Sucipto menghela napas sambil menggenggam kedua pistol yang ia sembunyikan di celana. Tetapi, dia telah melihat beberapa gadis Indonesia menjadi korban penculikan dan sasaran kebrutalan musuh.
Sehingga, Sucipto terpaksa memerintahkan seluruh Grup Tempur untuk menuju ibukota Kekaisaran, dengan misi pertempuran dalam kota. Meski sambungan komunikasi terbatas, setidaknya perintah Sucipto dapat diterima oleh orang-orang di markas pusat.
__ADS_1
Para tentara tua ini mempersiapkan diri untuk melakukan pertempuran yang mungkin akan melelahkan, mereka seharunya menyusun strategi di markas pusat Pasukan Ekspedisi.
Seluruh prajurit Regu penjelajah tersenyum pahit ke arah ribuan prajurit yang mengepung mereka di seluruh penjuru tempat. Seharusnya ini akan menjadi pertempuran singkat yang melelahkan, tentu saja dengan menggunakan kekuatan penuh Pasukan Ekspedisi.
Sheyn tidak mengerti mengapa penglima Kekaisaran melakukan hal ini, yang pasti akan menghadapkan Kekaisaran pada kekalahan dalam perang sekali lagi. Dari melihat cara Nio bertindak, gadis ini menyimpulkan jika orang Indonesia sangat menghargai kehidupan manusia.
Meski begitu, Sheyn berpikir jika tindakan si panglima lebih dari cukup untuk membahayakan perjanjian perdamaian antara Indonesia dan Kekaisaran. Tapi, seharusnya pihak Indonesia seharusnya bisa memisahkan perasaan pribadi mereka dengan kepentingan bangsa.
Namun, Nio beberapa menit yang lalu telah menghajar seorang yang penting bagi Kekaisaran. Ini adalah hal yang tidak bisa diabaikan, dan Nio mungkin akan berada dalam bahaya karena tindakannya.
Di tengah alun-alun yang luas ini, Sheyn mencoba menenangkan seluruh prajurit dari kedua pihak.
“Tu-tuan Nio! Tolong hentikan. Semuanya, tolong simpan pedang kalian demi aku. Kumohon, mundurlah!”
Namun, prajurit Kekaisaran masih memegang senjata mereka, dan para kesatria milik Shyen tidak ingin bertindak seperti mereka. Sheyn dan para kesatrianya paham dengan kekuatan senjata dan prajurit Indonesia ini. Meski sebuah kekerasan terjadi, mereka harus melindungi Kaisar Bogat dan Raja Lukav dengan tubuh mereka.
Ada total 3.000 prajurit di alun-alun ibukota Kekaisaran, mereka menyebar untuk mengepung perwakilan pasukan hijau, mereka memiliki keunggulan dalam jumlah. Karena itu, mereka tidak terlalu memikirkan resiko ketika melawan prajurit hijau ini. lagipula, yang harus mereka lakukan hanyalah membunuh seluruh perwakilan untuk menang.
Si panglima tertawa dari tempatnya tersungkur, dia membayangkan orang yang memukulnya menjadi berkeping-keping.
Nio hanya menjawab, “Jendral, perintah anda?”
Sucipto dengan senyum terpaksanya menggenggam erat alat komunikasi, dan berbicara dengan orang-orang di marksa pusat.
Sesaat kemudian, seluruh anggota Regu penjelajah yang tersebar di ibukota mengaktifkan senapan serbu mereka ke mode otomatis penuh. Seluruh operator senjata juga melakukan hal yang sama, beberapa prajurit terlihat menenteng peluncur roket disposable mereka di pundak untuk menghancurkan seluruh barikade yang musuh buat.
Sucipto menjawab pertanyaan Nio, “Perintahku adalah, jangan rusak senjatamu.”
Nio menanggapi perintah Sucipto dengan menyeringai.
**
__ADS_1
Pertempuran dengan pisau adalah seni perang yang masih digunakan hingga sekarang, meski sudah banyak kombinasi dalam jenis pertarungan ini. Di beberapa negara, militernya menggunakan seni berperang dengan pisau dan dikombinasikan dengan bela diri setempat, itu akan membuat dampak kerusakan yang lebih besar.
Sama seperti bagaimana meriam pesawat masih berguna di jaman peluru kendali, pertempuran dengan pisau adalah bagian dari pendidikan tempur pasukan infanteri. Itu penting dalam pertempuran jarak dekat, dan tidak bisa dibiarkan menghilang seiring berjalannya waktu.
Berbeda dengan teknik bertarung dengan pisau pada bela diri umumnya, yang lebih termasuk olahraga. Pertempuran pisau yang dikombinasikan beberapa cabang pencak silat dipraktikan untuk pertempuran sesungguhnya. Ini adalah keterampilan yang dirancang untuk berperang.
Meski beberapa negara masih menerapkan pertempuran bayonet, karena jika lawan pejuang bayonet terampil dalam pertempuran jarak dekat, pejuang bayonet hanya bisa mundur dan menembakkan senapan mereka. Ini terdengar tidak adil, tapi inilah perang.
Suara ledakan dari senapan milik seluruh anggota Regu penjelajah terdengar dari seluruh penjuru ibukota. Bahkan beberapa ledakan yang jauh lebih keras mampu untuk membuat orang-orang Kekaisaran gemetar.
Prajurit dunia ini terbiasa bertempur sambil berlindung perisai mereka, sehingga kesulitan untuk melawan pasukan bersenjata senapan, pelontar granat dan roket itu. Taktik utama tempur mereka adalah menyerbu bersamaan dengan kontak senjata langsung, kemudian mendorong dengan perisai, dan menebas dengan pedang mereka.
**
Tidak peduli seberapa kuat prajurit itu, atau seberapa tajam pedang mereka jika tak bisa mengenai musuhnya. Dengan cepat, Nio menghindari pedang yang menyasar tubuhnya, kemudian menusukkan pisaunya ke celah helm mereka, seketika mereka kehabisan darah yang keluar dari mata. Jika Nio dan mereka terlalu dekat, dia dengan keras menendang perisai mereka dan menusuk kepala mereka yang terlindungi helm logam.
Antek-antek si panglima menyombongkan diri dengan jumlah besar mereka, dan pelatihan intensif yang mereka dapatkan. Tetapi Nio mengejek mereka ketika mereka melakukan serangan yang sia-sia. Satu-satunya cara mereka bisa melawan Nio adalah dengan menyerangnya dengan jumlah besar mereka.
Namun, Nio dilindungi oleh pistol milik para perwira dan satu Regu penjelajah dan beberapa Regu lainnya yang telah menyelesaikan pertempuran mereka.
Katika puluhan musuh kembali mengelilingi Nio, senapan mesin berat 12,7mm yang terpasang di kendaraan lapis baja sudah cukup kuat untuk menembus pelat baja setebal 10mm.
**
Ladang gandum hijau yang menghiasi jalur untuk menuju ibukota Kekaisaran, terbentang ke arah cakrawala, dan hamparan medan perang baru untuk mereka seindah lukisan.
Nampak asap hitam mengepul dari arah target, anggota Grup Tempur 6 yang menaiki helikopter serang melihat asap hitam yang mengepul di kejauhan. Itu membuat mereka berpikir jika akan menghadapi raja naga api lagi.
Puluhan Halikopter pengangkut, dan para pengawalnya melintas beberapa puluh meter di atas tanah.
Para prajurit yang menumpang helikopter menyaksikan beberapa penunggang naga dihantam 4 roket dari helikopter serang. Itu membuat mereka merasa jika medan perang sudah dekat.
__ADS_1
Beberapa anggota Regu penjelajah yang tak terlalu banyak mendapatkan misi, memberikan tumpangan kepada anggota Regu penjelajah 1 yang tidak diikutkan menjadi perwakilan ke ibukota. Seorang operator mikrofon di salah satu helikopter berbicara, “Ada beberapa orang tergeletak di jalanan.”
Misi utama seluruh Grup Tempur adalah melindungi perwakilan TNI dan memburu pasukan Kekaisaran dan Kerajaan di ibukota, dan mereka harus menghancurkan mereka tanpa ampun. Itulah misi yang diberikan Sucipto saat dia dikepung ribuan prajurit musuh bersama beberapa perwira dan Nio.