
Sejak penghancuran ibukota Kekaisaran oleh pasukan hijau, Pasukan Aliansi telah melakukan banyak penyelidikan terhadap musuh, termasuk mewawancarai para pahlawan yang mengetahui kekuatan militer nagara asal pasukan hijau.
Hal pertama yang Pasukan Aliansi lakukan adalah mengumpulkan informasi secara menyeluruh. Pertempuran akan dapat dimenangkan jika mengetahui kekuatan musuh, dan mengumpulkan kekuatan yang lebih besar.
Pasukan Aliansi mengumpulkan informasi dari tentara yang pernah berperang dengan Indonesia, tawanan perang yang didapatkan Kekaisaran Luan, pahlawan, serta senjata yang diperoleh dari dunia lain, dan banyak informasi lainnya. Kesimpulan sementara yang didapatkan setelah meneliti hal-hal tersebut, mereka akhirnya menemukan kesimpulan, yakni “musuh dari dunia lain akan sangat sulit dikalahkan, meski memanggil para pahlawan”.
Namun, pemimpin-pemimpin negara anggota Pasukan Aliansi tidak menyerah. Mereka terus mencari cara untuk tidak kalah pada perang ini, dan memanfaatkan para pahlawan sebaik mungkin.
Setelah penelitian yang dilakukan penyihir terbaik yang dimiliki Pasukan Aliansi, mereka menemukan penjelasan mengenai Gerbang yang dikuasai pasukan hijau.
Menurut para penyihir terhebat Pasukan Aliansi, Gerbang adalah ‘benda sihir tak bergerak’ yang memiliki batas waktu, seperti masa kedaluarsa sebuah produk. Dikatakan, saat awal peradaban, dunia ini pernah terhubung dengan dunia lain sebelum terhubung dengan dunia asal pasukan hijau.
Pemilihan Tanah Suci sebagai tempat untuk mendirikan Gerbang, karena di sana terdapat energi sihir terbesar di dunia ini, tapi lebih mirip dengan sumber daya yang tak bisa diperbaharui, jika digunakan terus menerus, energi tersebut akan habis juga dalam waktu yang belum diketahui. Meski begitu, Gerbang adalah sebuah benda yang menghubungkan dua dunia, dan memiliki batas waktu tertentu untuk menghilang.
Namun, ada beberapa cara untuk menghilangkan Gerbang selain menunggu hingga batas waktu tiba, yakni memberikan aliran energi sihir tertentu sehingga sihir yang ‘mengikat’ Gerbang untuk membuatnya tetap berdiri tidak stabil. Namun, aliran sihir itu membutuhkan sekelompok penyihir yang menguasai ‘sihir kuno’. Sihir kuno adalah aliran terkuat dari segala sihir yang ada di dunia ini, karena menurut beberapa catatan sejarah, sihir kuno merupakan salah satu bagian dari pembentuk dunia ini.
Kesembilan pahlawan yang terpanggil memiliki ‘berkah’ Dewa Perang berupa sihir kuno, yang berarti kemampuan mereka bisa untuk menutup dan menghilangkan Gerbang. Sihir kuno yang mereka miliki memiliki nama perasaan manusia,yang juga menjadi nama mereka.
Sihir salah satu pahlawan yakni Pahlawan Kesedihan adalah samudera yang diwakilkan oleh air, yang dikatakan sebagai bagian terpenting dari pembentuk dunia. Itu mengapa orang yang menjadi Pahlawan Kesedihan berlambang mata yang meneteskan air mata, yang merupakan gambaran Dewi Harapan ketika menciptakan air saat dia membuat dunia ini. Indah adalah orang yang terpilih untuk menjadi Pahlawan Kesedihan.
Sementara itu, matahari yang diwakilkan oleh api adalah salah satu unsur terpenting dalam kehidupan manusia.Pahlawan Amarah adalah pemilik dari aliran sihir kuno ini. Sepanjang sejarah manusia, ‘api’ adalah salah satu unsur yang paling tidak bisa dilepaskan selain air. Orang dari dunia lain yang menjadi Pahlawan Amarah adalah prajurit bernama Rio, yang dilambangkan dengan tangan yang menggenggam panah api.
Mendengar jika para pahlawan memiliki aliran sihir kuno yang dibutuhkan, para pemimpin Pasukan Aliansi meminta mereka untuk melakukan pelepasan sihir untuk mengganggu kestabilan sihir pengikat Gerbang.
Tapi, ada satu masalah, karena Gerbang berada di Tanah Suci yang kini dikuasai pasukan hijau, dan tidak mungkin mengirimkan pasukan ke sana untuk saat ini. Namun, ada tiga orang pahlawan yang dikatakan berasal dari negara yang sama dengan pasukan hijau, yakni Pahlawan Amarah, Pahlawan Kesedihan, dan Pahlawan Nafsu.
Setelah berkonsultasi dan melakukan negosiasi yang membuat Pasukan Aliansi mengeluarkan dana yang sangat besar, ketiga pahlawan tersebut akhirnya mau menuruti permintaan pemimpin negara anggota Pasukan Aliansi, meski salah satu pahlawan melakukannya secara sangat terpaksa.
Menurut Pahlawan Kesedihan, alias Indah, membantu Pasukan Aliansi untuk menutup Gerbang berarti membantu untuk menghancurkan pasukan tempat kekasihnya berjuang. Karena menutup Gerbang berarti melemahkan Pasukan Ekspedisi, dan mempermudah untuk mengalahkan dan menghancurkan mereka. Seperti ‘nama pahlawannya’, Indah memang sedih untuk melakukan ini, dan tidak tahu apa yang harus dia katakan pada orang-orang jika dia berhasil pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan tugasnya sebagai pahlawan di sini.
Meski dia siap untuk berperang, karena dia sandiri juga pernah mengalaminya, namun akan berbeda cerita jika musuh yang dihadapi adalah kekasih sendiri. Jika sebuah kebetulan terjadi, bahkan jika itu benar-benar terjadi, Indah akan sangat malu jika harus bertemu dengan Nio di tengah medan perang.
Di lain tempat, Pahlawan Amarah, alias Rio memoles senapan serbu 20 generasi pertama yang sudah berubah warna menjadi keperakan, dan memilki berkat ‘peluru abadi’, atau tepatnya Rio memiliki sihir khusus menurut senjatanya yang memungkinkan baginya untuk terus menembak tanpa takut kehabisan amunisi. Karena dia memiliki kekuatan sihir kuno api, jadi senapan serbu milik Rio akan menembakan peluru api, bukannya peluru timah 7,62mm. Kostum yang dikenakan Rio bukan lagi seragam loreng TNI, melainkan seragam loreng dengan warna dasar hitam dengan motif darah mengalir berwarna merah, mirip dengan warna bendera perang Pasukan Aliansi. Dan ikat lengan berlambang Tentara Pelajar milik Rio sudah dibakar menggunakan kekuatan miliknya, yang menandakan jika Rio sudah tidak terikat dengan TNI maupun Tentara Pelajar.
Selain ‘senapan serbu sihir’, seluruh senjata standar TNI seperti pistol juga memiliki peluru tak terbatas. Meski memiliki senapan serbu yang sudah mematikan, Rio tetap bukan pahlawan terkuat.
Sihir kuno logam yang dimiliki Pahlawan Kebahagiaan adalah sihir kuno terkuat di dunia ini, dan pemilik sihir ini bisa dihitung dengan jari. Pahlawan atau seorang penyihir yang memiliki sihir logam memungkinkan dia menciptakan sesuatu, termasuk senapan serbu selama dia memiliki ingatan mengenai bentuk senjata itu. Karena itu, banyak yang menyebut jika sihir ini terlalu kuat, dan menganggapnya sebagai sihir terlarang. Meski begitu, banyak orang dan penyihir yang menginginkan sihir ini, namun membutuhkan kapasitas sihir setara pahlawan.
Pahlawan Amarah dan Pahlawan Kesedihan yang sudah berjanji setia, dan bersumpah untuk menyelamatkan Pasukan Aliansi dari penjajah dunia lain, bersiap berangkat menuju Tanah Suci dengan mengendarai naga angin. Saat berangkat, mereka akan menyaksikan dari atas Pasukan Ekspedisi yang berusaha merebut ibukota Kekaisaran Luan.
Meski Kekaisaran Luan sudah bekerja sama dengan sebuah negara besar nan adidaya di benua tetangga, tapi bantuan tidak hanya berasal dari negara tersebut. Kelima negara Benua Andzrev yang dulunya berencana melakukan perjanjian perdamaian dengan Indonesia, berpaling dari tujuan tersebut dan memilih bergabung dengan Pasukan Aliansi.
Alasan bergabungnya mereka pada Pasukan Aliansi sangat mudah dimengerti. Seseorang akan berpaling dari tujuan utama yang tidak menguntungkan setelah dia melihat sebuah hal yang menjanjikan keuntungan yang besar. Karena bergabungnya kelima negara tersebut ke Pasukan Aliansi, itu berarti kekuatan pasukan tersebut akan sangat besar. Dan dengan jumlah besar itu pasti akan sangat mudah bagi mereka untuk mengalahkan pasukan hijau yang menguasai Tanah Suci.
Selain Gerbang, Tanah Suci adalah tempat yang sakral selain menyimpan energi sihir bawah tanah yang melimpah. Konon, tempat inilah awal seluruh kehidupan di dunia ini terjadi.
Kini perang tidak hanya terpusat pada rencana perebutan Gerbang, karena benda itu akan segera dihilangkan. Tanah Suci adalah target perebutan Pasukan Aliansi, dan sebentar lagi peperangan akan terjadi.
**
Lima unit drone dikerahkan untuk melakukan operasi pengeboman yang tertunda karena seluruh pasukan diperintahkan mundur, bahkan pasukan basis garis depan juga terkena imbasnya. Pemandangan ibukota yang hampir hancur benar-benar menggugah selera bagi operator drone berbentuk mirip helikopter tersebut. Karena landasan pacu rusak dan membutuhkan waktu sangat lama untuk memperbaiki, alat tempur udara yang bisa terbang tanpa menggunakan landasan pacu hanyalah helikopter dan pesawat tanpa awak, alias drone itu sendiri. Selain itu, penggunaan senjata drone mampu untuk mengurangi jumlah korban prajurit manusia yang berharga.
Saat melewati ratusan kendaraan tempur yang berbaris untuk kembali ke benteng, seluruh prajurit di darat berharap jika mereka bisa mengebom ibukota hingga hancur. Tidak ada yang menghalangi drone untuk tetap melaju ke arah mangsanya, kecuali beberapa naga yang sudah terbang sebelumnya.
“Semoga musuh menerima pesan kami dengan baik!” salah satu operator drone berkata seperti itu di ruang kendali Markas Pusat.
Kelima drone menjatuhkan masing-masing 3 bom langsung ke wilayah ibukota Kekaisaran, dan salah satu bom diarahkan ke istana Kaisar yang dilepaskan dari ketinggian 5 kilometer.
Beberapa jam setelah pengeboman, dampak ledakan bisa dirasakan para petinggi Pasukan Aliansi. Mereka melihat kilatan yang menyilaukan, dilanjutkan dengan suara ledakan yang sangat keras, dan menyebabkan badai debu. Setelah itu, pemandangan istana Kaisar yang sudah kosong dengan penghuninya terlihat.
Itu sudah jelas, yang menghancurkan istana adalah pasukan hijau.
Keheranan, kekaguman, dan ketakutan bercampur menjadi satu dan dirasakan para petinggi militer Pasukan Aliansi yang mendirikan markas pada jarak 5 kilometer dari istana Kaisar.
“Itu adalah kekuatan senjata paling mematikan yang mereka miliki. Lalu, setelah Gerbang tertutup, apa yang bisa mereka lakukan? Apakah mereka akan terus berperang tanpa gerobak dan meriam berjalan baja mereka? Apa mereka mampu mencari jalan keluar dari tertutupnya Gerbang? Senjata biadab mereka akan lebih rendah dari belati setelah Gerbang tertutup.”
**
Yang pertama menyadari keanehan pada Gerbang adalah Sigiz, dia memiliki sihir yang memungkinkan dia merasakan keanehan pada suatu fenomena sihir. Meski termasuk benda mati, Gerbang tetap saja hal yang diciptakan dengan sihir.
“E…eh…?”
__ADS_1
Sigiz membuka matanya seolah-olah sedang melihat sesuatu yang luar biasa mengejutkan. Saat melihat Gerbang yang perlahan tertelan ke dalam tanah, dan menghilangkan portal di dalamnya, Sigiz merasakan perutnya seakan-akan diguncang dengan sangat kuat. Seluruh indera di tubuhnya merasakan ketidaknyamanan dan membuat tubuhnya gemetar.
“Apa…!?” Sementara itu, Gio merasakan suaranya bergetar ketika berdiri mematung saat melihat Gerbang lenyap seperti terhisap ke dalam perut bumi. Dia menjatuhkan ratusan lembar berkas yang dia apit di ketiaknya sebelumnya, dan merasakan firasat yang amat buruk.
Bahu Gio bergetar, dan beberapa prajurit yang betugas menjaga markas melihat Gerbang yang perlahan lenyap di depan mata dengan tatapan lemas.
Suasana begitu tegang sampai-sampai bernapas pun sangat sulit, bahkan perwira paling hebat bergetar lututnya. Firasat tak menyenangkan yang membekukan telapak kaki ini membuat seluruh penghuni benteng dan pemukiman pengungsi geger.
“Kenapa suasananya tidak menyenangkan begini?”
Saat Sucipto mengatakan itu, hampir seluruh telepon di ruang kendali, perwira dan seluruh telepon yang tersebar di seluruh benteng berbunyi menandakan ada banyak pihak dari Indonesia yang ingin menanyakan mengapa Gerbang tiba-tiba lenyap. Hal ini membuat suasana semakin suram.
**
Beberapa jam yang lalu…
Kesembilan pahlawan mendarat pada jarak 10 kilometer dari Tanah Suci, atau tepatnya ‘Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Lain’. Indonesia telah mendapatkan perjanjian dengan Negara Yekirnovo atas hak wilayah seluas 101,2 kilometer persegi ini.
Kaisar Bogat dan beberapa petinggi militer Pasukan Aliansi juga mendarat setelah terbang lebih lama dibandingkan mereka.
Tanpa arahan apapun, seluruh pahlawan mengatakan beberapa kata dengan sangat cepat. Itu adalah mantra untuk melepas sihir yang mengikat Gerbang agar tetap berdiri. Pahlawan Penyesalan, alias tentara Israel yang bernama Gurion Zoharya Moshen, atau panggil saja Gurion, nampak menunjukkan ekspresi paling berbeda dibanding pahlawan lainnya yang dengan yakin melaksanakan tugas menutup Gerbang. Wajah Gurion dibasahi dengan keringat yang mengucur deras dari dahinya, dan memasang ekspresi paling khawatir meski sudah memiliki kekuatan yang besar.
Rio menyadari ekspresi khawatir yang Gurion pasang, namun dia tidak bisa meyakinkan orang itu karena dia sendiri juga khawatir ketika melakukan hal ini. Perasaan yang hampir sama juga dirasakan oleh Indah, tapi yang dia khawatirkan adalah jika mereka diketahui oleh pasukan patroli. Tetap saja, dia masih tidak tega jika harus melawan tentara Indonesia menggunakan kekuatan sihir miliknya.
Setelah merapal mantra yang panjang, kesembilan pahlawan mengayunkan kedua talapak tangan ke tanah. Seketika, Gerbang menyala kemerahan, namun hanya mereka yang bisa melihatnya, dan perlahan-lahan Gerbang tertelan ke dalam tanah.
Selain rencana menutup Gerbang, kesembilan pahlawan akan menyusup ke pemukiman pengungsi untuk ‘mengacau’ di sana. Mengacau di sini berarti melakukan hal buruk, seperti merusak atau berbagai hal yang sifatnya merugikan para pengungsi.
**
Pangkalan hanya mengalami kerusakan ringan pada bagian yang berdiri di sekitar Gerbang, pagar pembatas hampir setengah bagiannya runtuh, namun tidak membuat Pasukan Ekspedisi mengalami kerugian yang besar.
Satu-satunya hal yang terlihat setelah Gerbang menghilang adalah kawah kecil di tempat Gerbang sebelumnya berdiri. Itu justru terlihat jika Gerbang dipindahkan ke tempat lain daripada tenggelam ke dalam tanah. Memang ada sihir yang mempu mengacaukan ruang dan digunakan untuk memindahkan sesuatu ke tempat tujuan, namun itu membutuhkan kekuatan sihir yang sangat besar.
“Pihak yang bisa melakukan ini hanyalah penyihir setingkat pahlawan…” Sigiz bergumam mengenai hal ini dan membuat beberapa prajurit Pasukan Ekspedisi di sekitarnya bertanya-tanya mengenai kekuatan sebenarnya pahlawan yang dimaksud.
Seluruh prajurit Pasukan Ekspedisi telah mengetahui kekuatan manusia yang disebut dengan pahlawan ini. Tentu saja, jika bertarung dengan mereka dengan senapan atau artileri biasa tidak akan mempan. Pantas saja hal itu membuat seluruh prajurit TNI yang sama sekali tidak mengerti dan memiliki sihir khawatir.
Nio membuka matanya dengan lemas, dia tertidur saat beristirahat setelah bekerja sepanjang hari.
Itu karena pangkalan sibuk dengan pekerjaan rekonstruksi setelah mundur dari ibukota Kekaisaran. Setelah tiba di pangkalan, seluruh prajurit langsung melakukan pekerjaan seperti memindahkan puing dan menguburkan teman-teman yang gugur. Tidak mungkin menunggu hingga Gerbang terbuka lagi hanya untuk memindahkan tubuh teman yang gugur ini ke tanah air. Mereka gugur sebagai pahlawan, dan akan menjadi prajurit pertama yang akan dikuburkan bukan di Indonesia.
Nio mengeluh, “Aku tahu kalau pasukan tidak punya tenaga yang cukup, tapi membiarkan kami bekerja terlalu keras bukankah sangat berlebihan?”
Melihat ke arah luar benteng, Nio melihat orang-orang berkumpul dengan jarang.
Ini adalah masa yang sulit, jadi tentang ras, agama, suku, atau pangkat bukanlah masalah lagi. Mereka semua mengalami kesulitan yang sama, dan bersatu menuju demi tujuan yang sama, yaitu terus menjaga tanah air meski Gerbang tak terbuka.
Tapi tetap saja, tidak ada hal yang menghangatkan di pemukiman pengungsian. Minimarket dan warung-warung tutup lebih cepat karena khawatir jika hal buruk terjadi lagi.
Di pemukiman pengungsian, para pengungsi dan pedagang pendatang yang membuat pemukiman bertambah besar mulai tidak percaya dan saling curiga. Bisa saja Pasukan Aliansi mengirimkan beberapa orang mereka dan membaur di antara para pemukim di sini, lalu menjalankan rencana mereka setelah semua hal yang diperlukan siap.
Tetapi, mungkin ada pengkhianat di antara prajurit Pasukan Ekspedisi serta para pengungsi atau pendatang.
Alasan yang logis jika mencurigai prajurit Pasukan Ekspedisi dan para pemukim adalah mereka mendapatkan pencucian otak, terperangkap pada perangkap madu mata-mata, disuap dengan uang yang banyak, dan macam-macam kemungkinan lainnya.
Untuk menghadapi situasi seperti ini, Jendral Sucipto memutuskan untuk memperkuat pengawasan dan keamanan dengan membentuk ‘Unit Pengaman Khusus Darurat’, dengan tugas yang mirip dengan intelejen negara.
**
“Ternyata kau di sini.”
Seorang gadis kucing yang dipanggil Nio segera menoleh ke belakang. Seluruh tahanan di penjara Pasukan Ekspedisi dibebaskan setelah Gerbang tertutup, termasuk Edera. Edera dinyatakan bebas dari hukuman percobaan, meski sebelumnya dia dituntut dipenjara selama 10 tahun atas kasus percobaan pembunuhan.
Edera tidak mengeluh tentang hukumannya, mengingat apa yang dia lakukan dan dengan patuh menerima putusan pengadilan. Meski begitu, waktu penjara 10 tahun adalah keringan yang berasal dari permohonan Nio untuk meringankan hukuman Edera.
Setelah bebas, Edera tidak memiliki tujuan, dia pasti tidak diterima di pemukiman pengungsian untuk bekerja di sana. Edera memutuskan untuk menebus dosa-dosanya dengan menjaga Nio, itu keputusan yang sangat sulit untuk dibuat oleh Edera.
“Sudah waktunya makan, ini jatah untukmu.”
“Terimakasih.”
__ADS_1
Setelah melihat Edera yang meraih piring perak yang berisi nasi dan menu sederhana seperti sayur dan tahu dan tempe, serta sebungkus bubur kacang hijau, Nio merasa jika hatinya terasa lebih tenang dibanding kemarin saat melihat Edera tersenyum ke arahnya. Dia merasa tidak perlu khawatir, dan tetap menjaga Edera agar tidak berbuat apapun yang membuatnya masuk ke dalam penjara lagi.
“Ini makan malam yang spesial, kita harus menikmatinya.”
“Meski anda terus memaksakan diri di tengah kegilaan perang?”
“Ya, selain makanan, aku juga memerlukan beberapa hiburan.”
Pasokan listrik otomatis terputus ketika Gerbang tertutup, jadi jaringan internet dan listrik untuk mengisi daya ponsel tidak ada. Dan ponsel milik Nio hancur saat pulang setelah perintah penarikan dari ibukota Kekaisaran.
Sebelum Nio dan Edera memasukkan sesuap nasi dengan lauk tahu dan tempe, terihat prajurit pengemudi tank yang sedang memakan bubur kacang hijau tiba-tiba nampak aneh.
“Apa kau baik-baik saja!?”
Nio segera meletakkan piringnya di tanah, dan itu membuat Edera terkejut serta kehilangan nafsu makan. Nio berlari ke arah prajurit itu dengan tergesa-gesa, meski dia merasakan lelah yang hebat di tubuhnya, namun fisik dan mentalnya pernah mengalami lelah yang jauh lebih berat saat menjalani pelatihan pasukan khusus.
“Aku… a… ku… aku… diracuni…”
Nio segera menangkap tubuh prajurit itu sebelum dia membentur tanah, dan keluar sedikit busa dari mulut prajurit itu. Firasat buruk mengisi hati lelah Nio, dan dugaan Nio benar.
“Ada apa?” Edera yang penasaran berjalan mendekati Nio yang memegangi prajurit pengemudi tank itu dengan wajah panik.
Nio mencium aroma aneh dari mulut prajurit itu, ada bau aneh yang pernah dia cium ketika melakukan latihan mengenal dan menangani zat beracun yang mematikan.
Prajurit yang satu unit dengan prajurit ini berlari dengan tergesa-gesa, diikuti beberapa prajurit dibelakangnya.
“Dia… sudah gugur…”
Nio mengatakan itu dengan bibir bergetar, dan orang-orang yang mendengar suaranya segera berkumpul. Penyebab kematian prajurit ini karena racun, dan membuat ketakutan menyebar dengan cepat.
Seluruh prajurit berteriak untuk memperingatkan prajurit lainnya agar tidak memakan jatah makanan malam ini. Bagi yang baru makan sesuap masih bisa ditangani tentara unit medis, tetapi yang sudah menghabiskan makanannya harus meregang nyawa dengan mulut berbusa dan mata melotot.
“Ada yang sudah meracuni makanan! Ada mata-mata!”
“Jika kalian menemukan orang yang mencurigakan, tangkap semuanya! Jika tidak, semua prajurit akan diracuni dan mati!”
Jika peracunan ini adalah rencana Pasukan Aliansi, operasi ini telah membuahkan hasil yang memuaskan. Orang-orang yang panik langsung membuang makanan di dekat mereka, dan menyalahkan Unit Dapur Lapangan yang membuat jatah makan malam bagi prajurit yang lelah bekerja.
Sebanyak 10 prajurit mati keracunan seketika setelah beberapa detik menghabiskan makanan mereka, sebanyak 50 kritis dan membuat tentara Unit Medis bekerja sangat keras dengan peralatan seadanya, dan kepanikan dengan cepat menyebar.
Tentara Unit Dapur Lapangan bertanya-tanya mengenai kekacauan yang berasal dari prajurit yang memakan makanan mereka. Beberapa Demihuman yang membantu unit ini hanya mengangkat bahu saat ditanyai perihal masalah ini.
“Pasti salah satu pengungsi yang membantu Unit Dapur Lapangan yang meracuni makanan!”
“Tapi makanan dibuat bersama Unit Dapur Lapangan kan!?”
“Apa ada pengkhianat diantara kita!?”
Saling tuduh dan usaha pembelaan diri secara mati-matian adalah pemandangan malam ini, hampir mirip dengan perburuan penyihir abad pertengahan Eropa. Nio merasa tidak nyaman dengan malam suram ini. Jika ketidakpercayaan seperti ini terus terjadi malam ini, hal itu akan menghancurkan pasukan perlahan-lahan. Musuh akan tertawa puas setelah itu.
Virus bernama kegelisahan akan menyebar ke suluruh orang di Tanah Suci ini, dan akan membuat seluruh orang khawatir.
Bahkan Sigiz, Sheyn, Zariv dan Lux ikut gelisah ketika melihat beberapa prajurit diangkat menggunakan tandu, dan Nio yang dicecar tuduhan akibat prajurit yang mati keracunan. Bahkan jika Nio berkata sebenarnya, mereka terus menanyakan pertanyaan yang sifatnya memaksa Nio untuk mengakui kesalahan yang tidak dia perbuat.
Jika ini taktik musuh untuk menghancurkan pasukan ini dari dalam, atau tepatnya menggunakan prajurit pasukan ini untuk menghancurkan pasukan mereka sendiri, itu membuat tempat ini dikelilingi dengan ketidakpercayaan yang mengerikan.
“Ini menyedihkan, tapi harapan dibutuhkan sekarang!”
Situasi putus asa membuat orang-orang merasa tidak yakin untuk bisa terus berada di sini.
Nio yang sudah lepas dari tuduhan tak berdasar itu berjalan melewati gadis-gadis dunia lain itu dengan wajah kesal. Wajah Nio sudah memerah karena menahan marah, dan tangannya juga memerah karena mengepal dengan sangat kuat.
“Andaikan ada cara paling mudah untuk membuka Gerbang lagi.”
Harapan Nio didengar dengan baik oleh Sigiz, dan ratu itu langsung membuka Gerbang tak sempurna yang hanya bisa untuk dilewati untuk satu orang. Sesaat kemudian, Sigiz lenyap setelah Gerbang tak sempurna itu menghilang. Itu mengejutkan Sheyn, Zariv, dan Lux yang ditinggal Sigiz entah kemana.
Setelah mendengar harapan Nio, Sigiz merasa bisa membantu sedikit Pasukan Ekspedisi dengan kemampuan membuka Gerbang tak sempurna miliknya dan penyihir-penyihir terhebat Kerajaan Arevelk.
Setelah melihat Gerbang tak sempurna yang dibuka Sigiz, Sheyn teringat penyihir-penyihir hebat yang dimiliki Negara Yekirnvo, meski jumlahnya tak sebanyak penyihir hebat Kerajaan Arevelk. Dia langsung menaiki wyvern dan terbang ke istana meninggalkan Zariv dan Lux yang kebingungan.
Nio juga melihat Sigiz yang membuka Gerbang tak sempurna untuk dirinya sendiri, dan Nio tidak berharap ratu tersebut membuka Gerbang tak sempurna bagi Pasukan Ekspedisi, bisa saja Gerbang terbuka di tempat lain yang buka di dunia asal Indonesia. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Nio adalah berdoa agar Sigiz dan penyihir hebat nan baik di dunia ini mau membantu Pasukan Ekspedisi kembali ke tanah air.
__ADS_1