
Satu hari setelah penyerangan pertama pasukan Arevelk anti-Persekutuan melawan pasukan Arevelk yang memihak Persekutuan. Kini, mereka menempati sebuah area tanah gersang yang kering dan berdebu. Pasukan pemberontak mendirikan perkemahan, beristirahat, mengobati tentara yang terluka, dan menyusun rencana.
Para pemberontak mengharapkan kemenangan selanjutnya untuk menyingkirkan pemerintahan saat ini yang bersekutu dengan bangsa ‘dunia lain’, meski itu mengharuskan mereka menghadapi Arevelk bersama sekutu mereka yang memiliki senjata brutal yang mampu mengalahkan ribuan tentara dalam sekejap mata.
Pemberontak memerangi teman mereka sendiri agar ratu maupun bangsawan militer dan pemerintahan yang berpihak pada Persekutuan membuka mata bahwa bersekutu dengan bangsa ‘dunia lain hanya membuat Arevelk seperti negara bawahan. Sebagian komandan yang berjuang bersama pemberontak menganggap jika tentara Aliansi hanya dijadikan target yang dapat diserang sesuka hati tanpa memikirkan arti pertarungan yang mereka pahami. Sehingga, mereka beranggapan bahwa Arevelk pantas membantu mereka dibanding membantu pasukan ‘dunia lain’ yang sangat kuat.
Selain itu, melibatkan orang luar untuk mengembangkan militer Arevelk hanya membuat pasukan ‘dunia lain’ menganggap militer Arevelk sama lemahnya dengan negara-negara lain. Berjuang secara mandiri tanpa campur tangan pihak asing adalah pilihan terbaik menurut komandan pasukan Arevelk anti-Persekutuan tersebut, dan mereka menyebarkan paham tersebut kepada sebanyak-banyaknya prajurit sebagai upaya untuk melemahkan kekuatan Arevelk agar tidak mengirimkan pasukan lagi untuk Persekutuan.
Upaya yang mereka lakukan sangat jelas, yakni memengaruhi tentara dengan paham bahwa Aliansi adalah pihak yang benar, dan Aliansi hanyalah pasukan yang melakukan perlawanan untuk mengambil milik mereka yang telah dirampas pasukan ‘dunia lain’ sejak mereka pertama kali menginjakkan kaki di dunia ini.
Namun, kebanyakan komandan pasukan anti-Persekutuan tersebut menganggap memengaruhi para tentara tidak semudah yang direncanakan, lebih-lebih memengaruhi tentara yang sudah berpengalaman dan paham dengan pihak yang akan membawakan kemenangan bagi pasukan Arevelk. Sebagian besar tentara berpengalaman memilih mempercayai Persekutuan, dan tetap menganggap sebuah negeri yang bernama Indonesia sebagai sekutu untuk menghadapi Aliansi.
“Yah, aku sadar kita hanya mampu memengaruhi tentara muda. Namun mereka masih dapat berpikir jika Persekutuan adalah rekan terbaik untuk memperkuat militer. Aku khawatir kalau kita tidak dapat mengumpulkan pasukan besar dalam waktu yang tidak lama ini. Aliansi membutuhkan kita, tuan-tuan. Aku tidak ingin mereka kalah dalam perang ini, dan menyebabkan Tanah Suci bagian Kekaisaran Luan menjadi milik pasukan ‘dunia lain’ sialan itu.”
Ucapan Ofra mampu membuat perasaan tujuh komandan yang menjadi bawahannya bersemangat untuk membantu Aliansi mengusir orang-orang ‘dunia lain’ dari Tanah Suci, dan mengembalikan Kerajaan Yekirnovo ke wilayah Kekaisaran Luan. Namun, Ofra hanya berbicara perkataan yang menurutnya dapat dipercaya oleh komandan-komandannya yang tampak mudah dipengaruhi oleh uang dan kata-kata manis darinya.
“Sebenarnya, kami telah menghubungi komandan Kekaisaran Luan yang kami kenal, agar mengirimkan bantuan untuk menggempur Benteng Girinhi. Mereka seharusnya sudah melakukan te*ror terhadap desa-desa di sekitar Benteng Girinhi. Namun, hingga sekarang pasukan utama mereka belum terlihat, dan hanya unit Peleton Khusus Aliansi yang bergerak.”
“Kabarnya, pasukan ‘dunia lain’ yang menjadi bantuan di benteng itu hanya berjumlah kurang dari tiga ratus tentara. Ada satu tentara yang bertugas di Benteng Girinhi memberiku informasi itu, dan dia memutuskan berjuang bersama kita.”
Ofra mengangguk senang, dan menganggap satu tentara Arevelk yang berubah haluan ke pasukan Arevelk anti-Persekutuan sebagai pembawa informasi terpenting bagi pemberontak. Meski hanya satu orang, namun tentara tersebut memiliki keberanian besar untuk membocorkan informasi tentang adanya bantuan pasukan ‘dunia lain’ di Benteng Girinhi.
“Kemenangan pertama kita membuat moral tentara meningkat, dan kepercayaan diri mereka tampak membara.”
“Permintaan Aliansi kepada kita adalah membantu mereka melemahkan Arevelk agar negara ini tidak mempercayai lagi Persekutuan. Begitu mereka mengetahui jika babi-babi hijau itu mengarahkan senjata aneh mereka ke barisan warga sipil, aku yakin Sigiz akan marah dan menganggap mereka melanggar perjanjian perdamaian,” ucap Ofra sambil menusuk-nusuk pakaian kamuflase hutan milik tentara Indonesia yang terbunuh pada penyerangan besar pertama Aliansi beberapa bulan lalu menggunakan belatinya.
Dengan begitu, sudah jelas apa rencana Ofra selanjutnya dalam jajaran rencana pemberontakan dan perebutan kursi pemerintahan agar dirinya menjadi raja Arevelk, serta menjadikan Sigiz menjadi miliknya.
Ofra tidak ingin rencana perebutan kekuasaannya disebut sebagai kudeta, karena dia menganggap apa yang dia lakukan – bahkan membuat sesama tentara Arevelk berperang – adalah demi membuat pasukan ‘dunia lain’ yang menguasai Tanah Suci mundur dan meninggalkan dunia ini.
“Lihat sekarang, Sigiz sudah sangat dipengaruhi oleh Indonesia dan sekutunya. Bahkan dia memberikan sebagian besar hartanya untuk babi-babi hijau ‘dunia lain’ itu hanya setelah mereka berhasil mengalahkan tentara Aliansi yang menyerang ibukota.”
Sebagian komandan tidak paham kenapa Ofra tidak memanggil ratu Kerajaan Arevelk dengan awalan ‘Yang Mulia’. Sebelumnya, mereka sangat tahu jika Ofra memang sangat menginginkan Sigiz jika rencana kudeta berhasil, dan membuat Arevelk berjuang dibawah bendera Aliansi. Namun, kabarnya Sigiz sudah jatuh cinta dengan seorang tentara dari ‘dunia lain’. Sehingga mereka memutuskan untuk diam agar ‘tangan kanan’ panglima militer Arevelk tidak mengamuk alih-alih memberi tahu fakta tersebut.
“Apa tidak apa-apa memengaruhi warga biasa alih-alih kalangan militer seperti tentara atau komandan. Tuan Ofra, bukankah kita dapat memberitahu niat kita terhadap bangsawan militer yang tidak menyetujui bersatunya Arevelk di bawah bendera Persekutuan.”
“Itu memang rencana ku sebelumnya. Namun, sebagian besar bangsawan militer dan komandan memilih berpihak pada Persekutuan daripada bertarung bersama Aliansi.”
Sejak kedatangan pasukan ‘dunia lain’ yang diawali dengan pengiriman lima belas ribu tentara Indonesia, para pemimpin negara di Benua Andzrev tengah dilanda dilema. Kekaisaran Luan telah melarang negara-negara bawahannya untuk berhubungan dengan ‘dunia lain’, atau mereka akan dibumihanguskan dan para penduduk yang tinggal di negara yang melanggar aturan akan dijual sebagai budak atau bekerja secara paksa. Selain itu, menurut Ofra, tujuan Kaisar Bogat untuk membentuk Aliansi bersama lima negara lainnya adalah hal yang baik untuk dunia ini.
Kekuatan militer yang tidak masuk akal yang dibawa pasukan ‘dunia lain’ dikhawatirkan akan merubah keseimbangan kekuatan pemerintahan maupun militer secara luas, bahkan kemungkinan buruknya hingga seluruh negara di dunia ini terpengaruh oleh kekuatan negara-negara ‘dunia lain’ tersebut.
Ofra, komandan-komandan, dan bangsawan militer jelas tidak menyetujui Arevelk yang berhubungan dengan Indonesia dan sekutunya. Tetapi, sebagian besar bangsawan militer, pemerintahan, daerah, dan komandan militer menyetujui langkah paling bersejarah untuk Kerajaan Arevelk tersebut. Sehingga mereka hanya bisa berjuang dengan kekuatan yang ada, dan terus menggalang empati dengan cara apapun, bahkan memengaruhi warga sipil yang tidak tahu apapun tentang perang ini.
Faktanya, para pemberontak semakin terpuruk dalam dilema setelah para tentara mereka dilatih oleh pasukan Indonesia dan sekutunya, dan kerja sama dalam bidang pertukaran teknologi telah dilakukan. Namun, hingga sekarang, militer Arevelk belum menggunakan tongkat meriam seperti milik Yekirnovo, sehingga Ofra merasa kesempatan untuk melawan masih ada.
“Lalu, bagaimana dengan rencana menggalang bantuan dari warga? Bisakah kita melakukannya segera?” tanya salah satu komandan.
Setelah penyerangan kemarin, mereka kehilangan seratus tentara dan ribuan tentara terluka ringan hingga sedang. Dari 29.000 prajurit yang tersisa, mereka sama sekali tidak memiliki pasukan cadangan. Selain itu, wilayah Arevelk terlalu luas untuk dijelajahi dalam waktu singkat ketika Ofra menginginkan pasukan besar dan bantuan dalam waktu yang sedikit.
Namun, Kerajaan Arevelk masih memiliki 400.000-an tentara dan persenjataan yang membuat mereka jauh lebih unggul dibanding para pemberontak. Jelas-jelas mereka tidak dapat membuat kemajuan apapun dalam rencana kudeta ini, bahkan jika mereka telah mendapatkan ritme pertempuran.
“Ya, kita akan memengaruhi warga desa-desa terdekat. Perintahkan para prajurit yang bertugas menggunakan kalimat-kalimat semanis mungkin. Jika mereka berhasil memengaruhi satu atau dia desa, maka itu akan menjadi jalan masuk untuk memengaruhi desa-desa selajutnya. Sehingga, musuh tidak akan mendapatkan kepercayaan lagi dari para penduduk.”
**
Tiga hari setelah pertempuran antara Tim Ke-12 menghadapi 138 tentara Peleton Khusus Aliansi, namun para prajurit muda itu belum puas untuk beristirahat di dalam tenda yang berdiri di dalam area Benteng Girinhi. Meski suara staf mekanik untuk Kompi Bantuan 002 seperti orang gila saking kerasnya mereka berbicara satu sama lain, suara alat-alat yang para mekanik gunakan untuk memeriksa kendaraan tempur atau turret 40mm menambah polusi suara.
Itu memang mengganggu pengungsi yang mencoba membantu pekerjaan prajurit dengan tenang, bahkan para lansia berteriak agar para mekanik bekerja dengan lebih tenang. Sementara itu para anak-anak berlari ke sana kemari ketika para tentara masih sibuk melakukan pekerjaan, seperti mendirikan tenda tambahan dan menurunkan perbekalan untuk para pengungsi.
Meski matahari hampir tenggelam, dan langit telah berubah warna keoranye-oranyean, namun seluruh anggota Tim Ke-12 masih terlelap dalam alam mimpi dengan berbagai kondisi. Meski mereka hanya tidur di atas matras lapangan yang tidak cukup lembut, namun beberapa anggota pria masih dapat mendengkur dan ngiler dengan tenang dan melakukan berbagai pose yang menggemaskan. Hanya Hendra yang tidak banyak tingkah ketika tidur, dan tidur dengan tenang di tepi tenda di samping Nio yang tidak tertidur.
“Apa tidak apa-apa membiarkan mereka bermalas-malasan seperti itu? Bukannya misi patroli belum berakhir?”
“Apa yang kau bicarakan? Regu 2 sudah kembali setelah melihat perkemahan besar di dekat garis perbatasan, sedangkan Tim Ke-12 bertempur dengan musuh yang menggunakan senapan. Bukannya kedua hal itu memang membuat mereka sangat kelelahan?”
__ADS_1
“Benar, lagipula tugas kita di sini hanya berkeliling benteng dan desa-desa terdekat, memperbaiki kendaraan dan senjata, apalagi kita memiliki banyak waktu bersantai dibanding mereka.”
“Memperlakukan mereka seperti senjata hanya membuat mereka menjadi gila,” ucap salah satu bintara yang berusia sekitar 30 tahun-an menanggapi perkataan para tamtama muda yang sedang memoles senapan masing-masing tersebut.
Pada hari-hari ketika mereka tidak harus pergi untuk tugas atau misi tertentu, patroli misalnya, memanfaatkan waktu luang yang tidak selalu mereka dapatkan harus dilakukan sebaik mungkin.
Beberapa tentara Arevelk yang bertugas di Benteng Girinhi berbincang-bincang bersama beberapa tentara kontingen Indonesia, Rusia, dan Korea Utara meski masih mengandalkan kamus jika mereka tidak mengingat beberapa kata atau tidak mengetahui arti kata yang dikatakan lawan bicara mereka.
Ketika jam tangan masing-masing prajurit menunjukkan pukul 6, namun suasana masih seperti jam lima dan cukup terang untuk disebut malam. Memang, satu hari di dunia ini lebih cepat dibanding dunia asal mereka, dan para tentara ‘dunia lain’ tersebut harus dapat beradaptasi hingga batas penugasan mereka di dunia ini habis.
ratusan tentara Arevelk dan puluhan personel tiga kontingen ‘dunia lain’ Kompi Bantuan 002 saling membantu mendirikan dapur lapangan, menyiapkan bahan untuk dimasak sebagai makan malam seluruh tentara di benteng ini.
Kedatangan Kompi Bantuan 002 yang membawa baterai berkapasitas cukup untuk mengoperasikan tank railgun selama satu minggu membuat Benteng Girinhi diterangi oleh lampu neon berwarna putih, meski api unggun yang biasa dijadikan penerangan tetap dibutuhkan untuk menghangatkan diri atau membakar beberapa singkong sebagai camilan. Terbatasnya ransum dan logistik makanan membuat Kompi Bantuan 002 dan Tim Ke-12 membawa hasil perkebunan yang berupa singkong atau jagung sebagai pengganti jika perbekalan yang mereka bawa habis sewaktu-waktu.
Beberapa tentara Arevelk dan remaja Demihuman laki-laki berjalan di dalam area benteng sambil membawa seekor hewan buruan yang memiliki rupa seperti kambing, namun memiliki tanduk di hidung sehingga terlihat seperti cula pada badak. Selain itu, warna bulu pada hewan tersebut juga tidak lazim untuk kambing-kambing pada umumnya karena berwarna merah pada bagian perut, kaki, hingga punggung, dan hitam untuk bagian leher hingga kepala.
“Apa… itu bisa… untuk… makan?” salah satu prajurit kontingen Indonesia bertanya pada salah satu tentara Arevelk yang kembali dari berburu hewan tersebut, meski kata-kata yang ia ucapkan masih berantakan.
“Ini adalah hewan dengan rasa daging paling enak. Pasti akan sangat cocok dimakan bersama buah singkong dan nasi milik kalian,” jawab prajurit Arevelk tersebut.
Sinar matahari terbenam menyinari tembok benteng yang berdiri di dekat hutan lebat dengan sinar kemerahannya, dan menyinari pepohonan sehingga menghasilkan pemandangan senja yang indah, menakjubkan, seperti cahaya merah dan biru dari dua bulan dunia ini.
Beberapa menit setelah makan malam selesai dibuat, seluruh pria Tim Ke-12 akhirnya keluar dari tenda setelah seharian tidak banyak melakukan kegiatan yang berguna. Ada yang mengatakan jika mereka adalah tentara yang memiliki kemampuan lebih baik dari tentara biasa, namun tetap saja mereka baru memasuki fase dewasa awal yang masih teraliri oleh darah muda.
Puluhan lampu neon yang mendapatkan daya untuk menyala dari baterai khusus yang mampu menyimpan daya listrik kurang dari empat juta VA, sehingga cocok untuk daya meriam railgun pada tank sekaligus penggerak kendaraan beroda rantai itu sendiri.
Tentu saja cahaya lampu berukuran kecil dan menyinari bagian dalam benteng dengan terang itu membuat tentara Arevelk di Benteng Girinhi dan para pengungsi merasakan hal yang luar biasa seumur hidup mereka… selain melihat senjata-senjata yang dibawa kontingen tiga negara ‘dunia lain’. Selain senjata yang sangat mematikan dari dunia lain, mereka ingin merasakan berkeliling di ‘dunia lain’.
Setelah selesai membereskan makan malam puluhan ribu tentara yang berada di benteng itu dan para pengungsi, beberapa prajurit memilih bersantai atau berpatroli sesuai jadwal masing-masing, dan para pengungsi membantu pekerjaan semampu mereka dibanding memilih bersantai. Sebelum lampu dimatikan, masih ada waktu tiga jam untuk bersantai atau melakukan hal yang disukai selama itu bukan rencana desersi.
Koki alias Ratna, Gadis Tinggi alias Ika, dan Atlet alias Nam Ae-Ri, dibantu ratusan tentara Arevelk menuangkan kopi untuk beberapa tentara yang masih melek dan bercakap-cakap satu sama lain untuk menambah informasi satu sama lain.
Sebagai atlet maraton untuk Korea Utara di berbagai event olahraga, Ae-Ri mendapatkan kode nama ‘Atlet’ dari Nio karena pria itu tidak mau pikir panjang untuk menentukan kode nama setiap bawahannya. Itu sebabnya gerakan gadis itu cukup lincah dan mampu berdiri serta berjalan cukup lama.
Karena ukuran kaleng pada T2P varian ayam bumbu rujak lebih besar dari kaleng kopi instan, maka poin yang didapatkan jika tembakan mengenai sasaran juga berbeda. 1 poin jika mengenai kaleng ransum tersebut dan 3 poin jika berhasil mengenai kaleng kopi.
“Dua tembakan pada kaleng ransum dan tiga tembakan pada kaleng kopi, total skor Zefanya adalah sebelas poin!” Gita mengumumkan hasil yang diraih Zefanya dengan nada semangat, sementara peserta lain hanya menatapnya dengan tatapan lesu.
“Aaah, aku tertinggal enam poin! Hei, Zefanya, trik apa yang kau gunakan?” tanya Bima dengan nada kesal dan wajah marah.
“Tidak ada teknik khusus. Mungkin kau hanya kurang latihan,” jawab Zefanya dengan nada dan wajah santai.
“Ayolah, apa kau tidak bisa sedikit serius? Ah, lupakan! Orang selanjutnya!” teriak Bima untuk memanggil peserta setelah Zefanya.
“Oh, sekarang giliranku,” Ferdi berdiri untuk menanggapi tantangan dan mulai membidik dengan pistolnya.
Dua tembakan Ferdi mengenai dua kaleng ransum dan satu tembakan mengenai kaleng kopi, poin yang dia dapatkan lebih sedikit dari Zefanya.
“Sayang sekali, ternyata pak guru tidak bisa mendekati Zefanya dan Bima,” ucap Gita dengan nada mengejek.
“Oke sekarang giliranku,” Hassan mulai membidik dan menembak sebanyak lima kali.
“Oke, wakil kapten mendapatkan enam poin. Tak terlalu jauh dari pak guru,” Gita kembali berkomentar.
Hendra kemudian menyusun kembali kaleng-kaleng tersebut sebagai sasaran peserta selanjutnya. Sepuluh anggota Kompi Bantuan 002 dan beberapa anggota Tim Ke-12 tidak mampu melampaui Zefanya.
“Sekarang giliranmu, Let!” teriak beberapa bawahan Nio.
“Apa?”
Nio menghabiskan kopi hitam yang sudah dingin dalam empat tegukan, lalu mengangkat senapan serbu-nya, kemudian memberondong dua puluh proyektil yang menghancurkan seluruh kaleng yang menjadi sasaran tembak.
“Oy! Kau melanggar peraturan, Letnan Nio! Kau seharusnya menggunakan pistol dan bukannya senapan serbu!” Gita berkata dengan nada kesal.
“Iya, iya, maaf. Dasar cabe-cabean…”
__ADS_1
“Hah! Kau menyebutku apa tadi?!”
Ransum ayam (sintetis) bumbu rujak adalah makanan mewah bagi tentara Arevelk dan pengungsi, dan daging kambing berbulu merah jauh lebih enak dari pada daging sapi wagyu terbaik menurut beberapa tentara Indonesia, Rusia, dan Korea Utara yang belum pernah memakan daging ‘asli’ termahal asal Jepang tersebut. Karena terlalu mewah, mereka memutuskan untuk memakannya bersama agar dapat saling berbagi dan bertukar pengalaman satu sama lain.
Hari ini cukup menyenangkan, dan itu karena mereka melakukan beberapa hal bersama. Melihat semua orang senang membuat Nio bahagia dan dapat membidik dengan tenang.
Nio segera mengangkat pistolnya setelah meletakkan SS20 G2-nya di atas tanah, lalu membidik ke suatu sasaran.
“Apa!”
Proyektil 9mm melesat dengan kecepatan 800 meter per detik, dan hampir melubangi kaki seorang tentara Aliansi yang ditangkap yang berencana kabur bersama dua rekannya.
Sebanyak sembilan puluh delapan tentara Aliansi berhasil ditangkap, dan ditahan pada salah satu kamar di benteng. Namun, penjagaan tidak terlalu ketat sehingga beberapa dari mereka berhasil keluar dan kabur ketika kebanyakan tentara bersenang-senang.
Namun, mata Nio mampu melihat pergerakan mereka dan hampir melumpuhkan mereka dengan timah panas dari pistolnya.
“Mau kabur? Kalian ternyata punya nyali juga ya?”
Ucapan Nio yang bernada mengancam membuat ketiga tentara Aliansi gemetar, dan kedua paha salah satu dari mereka dibasahi oleh air kencingnya sendiri karena terlalu takut dengan ancaman Nio.
“Kenapa Anda tidak segera membunuhnya, Tuan?” tanya Edera sambil mendekati Nio dan berdiri di sampingnya.
“Yah, itu hanya membuatku seperti penjahat perang saja.”
Mungkin karena menyadari jawabannya yang terlalu pendek, serta tatapan para pengungsi yang menginginkan jawaban yang lebih jelas membuat Nio melanjutkan perkataannya lagi.
“Membunuh tawanan hanya membuat kita seperti penjahat, dan itu hal yang tidak dapat diampuni… kecuali jika mereka sudah melampaui batas dan terlalu banyak membuat kerusakan ketika ditawan. Karena aku tentara yang harus mematuhi hukum perang internasional, maka memperlakukan tawanan seperti warga biasa adalah suatu keharusan. Membuat mereka mati bukanlah pilihan kami, dan itu terserah para tawanan menginginkan mati atau tetap mendapatkan perawatan agar terus hidup. Menurutku, pilihan terbaik para tawanan adalah tetap diam di kurungan mereka, menikmati makanan yang kami berikan pada mereka, dan menunggu hasil pengadilan.”
Melihat tawanan yang berperilaku sesuka hati adalah salah satu hal yang membuat Nio sama sekali tidak senang. Bahkan senyum yang dia pasang ketika melihat anggotanya bertengkar karena perlombaan kecil perlahan menghilang karena percobaan kabur yang dilakukan tiga tawanan.
“Aku punya penawaran untuk kalian…” Nio berjalan mendekati tiga tawanan, dengan Bima dan Arif yang mengangkat senapan mereka jika ketiga tawanan menunjukkan perlawanan.
“Kalian ingin hidup terjamin di dalam status tawanan, atau memilih kabur dengan bahaya yang masih mengancam?” tanyanya.
Salah satu tawanan meludah dan mengenai sepatu bot lapangan Nio, lalu dia berbicara, “Untuk apa aku memakan makanan dari musuh seperti kalian, babi hijau?!”
“Kau, anjing!” salah satu anggota Kompi 002 berkata seperti itu dan mencoba berlari untuk menghajar tawanan yang mengatakan hal tersebut, namun Nio melepaskan satu tembakan untuk menghentikan seluruh keributan.
“Udah dikasih kemudahan, kok kalian malah ngelunjak, ya?”
“Heh, dasar babi hijau, kau bahkan tidak dapat berbicara bahasa manusia normal seperti kami. Kalian ternyata hanya kuat, tapi sangat bodoh.”
Kedua rekan tawanan yang berkata seperti itu semakin gemetar dan berlutut karena sudah tidak kuat berdiri saking takutnya mereka.Nio melirik ke arah ratusan tentara Arevelk, puluhan anggota Kompi Bantuan 002, beberapa remaja Demihuman, dan seluruh anggotanya yang sudah memegang senjata masing-masing.
Nio kemudian kembali ke tempatnya semula, menuangkan kopi pada gelas perak yang dia gunakan tadi, lalu berjalan lagi ke hadapan ketiga tawanan yang mencoba kabur tersebut.
“Pergi saja kalau kalian mau.”
Ucapan Nio membuat seluruh orang – kecuali seluruh bawahannya – terkejut dan tidak dapat menerima keputusannya.
“Yah, semoga keberuntungan menyertai kalian,” ucap salah satu tawanan.
Tawanan yang meludahi sepatu Nio berlari meninggalkan kedua rekannya yang masih berlutut, dan keluar benteng dari gerbang utama, sekaligus satu-satunya gerbang yang ada di benteng ini.
“Letnan Nio, apa kau serius membiarkan dia ka-“
Sebelum salah satu anggota Kompi Bantuan 002 melanjutkan perkataannya, suara teriakan yang sangat keras terdengar mengejutkan semua orang. Bahkan prajurit yang sudah tertidur terbangun lalu mengumpat kepada sesuatu yang membuat mereka terganggu.
“Bukannya ketika malam di sekitar benteng akan ada banyak binatang buas berkeliaran?” ucap Nio dengan tenang sambil menyeruput kopi hitamnya yang masih panas.
Saat bertugas jaga semalam, dia dan beberapa bawahannya melihat adanya puluhan anjing melata yang pernah digunakan oleh Kekaisaran Luan untuk menghadapi Pasukan Ekspedisinya. selain anjing melata, berbagai jenis hewan karnivora yang berhabitat di hutan dekat benteng berkeliaran saat malam hingga fajar.
Itu artinya, teriakan yang Nio dan yang lain dengar berasal dari seorang tawanan yang dipersilahkan oleh Nio untuk melarikan diri sedang diterkam lalu dimakan oleh binatang-binatang karnivora yang berkeliaran.
Dua tawanan yang masih berlutut tampak pucat, dan tanah disekitar mereka menjadi basah.
__ADS_1