Prajurit SMA

Prajurit SMA
Ranjau yang jauh lebih berbahaya


__ADS_3

Di wilayah Amerika Serikat, terdepat pusat komando di bawah Pegunungan Rocky, yang dibangun untuk mengarahkan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat jika terjadi perang nuklir.


Di dalam novel atau film, tempat seperti itu akan memiliki interior yang gelap, dengan penerangan dari cahaya layar utama raksasa dan lusinan titik cahaya yang lebih kecil, dengan penampakan ikon target dan jalur perjalanan di seluruh layar.


Sebenarnya, interior Komando Armada TNI AL yang tersebar di seluruh lautan di bumi juga seperti itu, juga Ruang Pengamatan di bawah tanah Karanganyar.


Namun, tidak seperti kedua hal di atas, Pusat Komando Tentara Pelajar yang ada di bawah tanah, yang lebih sering disebut dengan Ruang Pengamatan---lebih mirip dengan studio film untuk perencanaan politik. Ada ruangan pengeditan video di salah satu sudut ruangan dengan layar monitor yang terang benderang, dan sisaya dipenuhi dengan layar monitor bagi para staf ruangan ini. Selain itu, ruang bawah tanah luas ini dipenuhi oleh staf TNI AD berseragam harian yang terus menerus mengganti ikon tampilan pada layar monitor raksasa sebagai respon terhadap perubahan situasi setiap detik.


Saat ini, tampilan layar seluas 4 meter tersebut menunjukkan tiga jet tempur Cina terbang menuju Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, serta posisi enam jet tempur TNI AU yang telah dikirimkan untuk mencegatnya. Selain itu, lokasi kapal selam tak berawak tak dikenal di dekat Kepulauan Natuna ditunjukkan dengan ikon kotak berwarna merah, serta Armada Laut Cina Selatan Indonesia ditunjukkan dengan ikon kotak berwarna biru.


Ada adegan dalam film laga tentang beberapa hal-hal yang tidak akan terjadi di Ruang Pengamatan, tetapi Ruang Pengamatan modern sekarang telah terhubung dengan kejadian secara real time. Untuk membantu meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan dari personel di lapangan, yang bergerak dalam aksi dan memiliki bidang pandang yang terbatas, maka pasukan khusus, alias personel di garis belakang akan bekerja dengan kepala dingin yang memiliki akses dan pandangan luas ke gambar untuk memberikan perintah dan dukungan.


Staf Khusus Presiden yang bertanggung jawab atas setiap hal yang berhubungan dengan dunia lain, dan seseorang yang ‘batal’ menjadi duta besar Indonesia untuk Kekaisaran Luan, Raditya Nurdjito, melangkah ke ruangan ini. Dibelakangnya, berjalan dua staf Kementerian Pertahanan dan seorang anggota DPR yang mendukung pengiriman Pasukan Perdamaian.


“Selamat Malam, Pak Radit.”


Lokasi ini aktif 24 jam sehari, dengan orang-orang yang bekerja di dalamnya sepanjang waktu, tetapi terlepas apa yang ditunjukkan jam, praktik seharusnya tetaplah “Selamat Malam”. Itu memang seperti yang dikatakan roporter berita pagi, tetapi itu meringankan suasana militer yang serius dan memungkinkan orang untuk bersantai.


Radit mengangkat tangannya dan menjawab, “Selamat Malam”. Lalu dia dibawa ke tempat yang disediakan sementara untuknya di pusat komando, dan dia kemudian duduk disitu.


“Saya komandan Ruang Pengamatan, Mayor Catur. Senang bertemu dengan Anda.”


Staf tempat ini, yang mengenakan seragam harian muncul di depan Radit dan memperkenalkan dirinya.


“Sejujurnya, aku tidak menyangka hal ini akan terjadi. Apa mereka berniat melakukan perang modern dengan kita?”


Setelah berkata seperti itu, Radit melepas jas nya, dan meletakkannya di rak. Meski ada seorang staf perempuan yang menawarkan diri untuk membantunya meletakkan jas miliknya, Radit tetap melakukannya sendiri dan membiarkan staf perempuan tersebut melanjutkan pekerjaannya.


“Benar, Pak. Banyak orang mungkin berpikir perang seperti di film-film, atau pertempuran antara Pasukan Ekspedisi dengan Aliansi. Dimana dua kekuatan besar berbenturan selama berhari-hari. Tetapi, di peperangan jaman sekarang dapat dibagi menjadi dua jenis utama. Pertama adalah pertempuran gerilya. Lalu, yang kedua seperti Perang Teluk, di mana anda mempersiapkan semuanya sebelum pertempuran dan melakukan pengintaian terhadap kelemahan musuh, kemudian setelah pertempuran dimulai, anda mengalahkan kelemahan musuh dalam satu serangan dan menghancurkan kemampuannya untuk bertarung. Saya pikir satu-satunya tempat anda menemukan gaya perang abad pertengahan di film atau dunia lain.”


Catur mengambil contoh pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah sebagai contoh.


Di masa lalu, perang gerilya terjadi di hutan, dimana kedua belah pihak hampir tidak bisa melihat tangan mereka terulur di depan mereka sambil melalui semak belukar. Di lingkungan berhutan lebat ini, mereka menyembunyikan diri dan melancarkan serangan ‘tembak lalu lari’, atau menyergap musuh. Namun, jaman sekarang perang tidak lagi seperti ini. Musuh akan bersembunyi di antara warga sipil tidak berdosa dan mengenakan jas atau pakaian biasa untuk menyembunyikan identitas sebelum melepaskan tembakan, atau mereka akan meledakkan mobil, dan kadang-kadang mereka bahkan memasang bom di rompi dan mengubah diri menjadi pelaku bom bunuh diri. Terkadang ini disebut serangan bunuh diri, tetapi tidak seperti serangan bunuh diri yang sebenarnya, karena pembom bunuh diri biasanya tidak menyasar fasilitas militer, dan lebih sering meledakkan diri di antara warga sipil, alias mereka hanyalah te***is biasa.


Untuk menghadapi situasi seperti ini, harus ada cara untuk memberitahu musuh jika ada warga sipil yang tak bersalah. Kemudian mereka harus menghancurkan musuh secara menyeluruh. Sebagai pengandaian dapat ditarik penyakit kanker sebagai contoh. Diantara sel-sel yang sehat, ada beberapa sel kanker, tetapi membiarkan sebuah sel kanker bukanlah pilihan.


Tujuan dari kegiatan pengintaian adalah untuk menemukan di mana setiap sel kanker bersembunyi. Di sisi lain, pasukan militer akan menghilangkan bagian kanker ini dengan cara pembedahan. Misalnya, jika seseorang menderita suatu jenis kanker di tangannya, mengamputasi seluruh tangan adalah pilihan, tetapi kegilaan seperti itu tidak lagi diperbolehkan di jaman sekarang ini.


Untuk menghindari bagian tubuh yang sehat, diperlukan ketelitian yang ekstrem. Militer Amerika Serikat telah habis-habisan di perang Timur Tengah, tetapi situasi di sana tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Sederhananya, mereka terlalu meremehkan bagian pengintaian tersebut, dan hanya melakukan sedikit pekerjaan itu. Jika seseorang memulai operasi tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi dan hanya mengayunkan pisau, Timur Tengah tidak akan sembuh dari perang, seperti penderita kanker stadium akhir yang sekarat. Dan jika kekuatan yang berlebihan digunakan untuk mengurangi musuh di sana-sini, mereka akan dikecam karena melibatkan warga sipil tak bersalah dalam operasi militer.


“Jadi, dalam pengertian itu, apa yang sedang kita hadapi sekarang sebagai jenis perang modern kedua, yakni perang dengan menghadapi musuh secara langsung_ ah, maafkan saya, saya terlalu asyik berbicara hingga saya lupa menampilkan situasinya di layar.”


Staf yang menjaga jalannya operasi manganggik, dan mengklik mouse-nya beberapa kali.


Peta Area Terlarang dan wilayah sekitarnya muncul di layar utama. Ini dimulai pada skala 100.000:1, tetapi kemudian diperbesar dari 50.000:1 menjadi 10.000:1 dan seterusnya. Dan pada saat yang sama, ditail pada peta bertambah jelas, akhirnya seluruh tampilan layar utama didominasi oleh gambar salah satu jalan lebar yang berfungsi sebagai pintu masuk Area Terlarang.


“Jalan yang terlihat biasa saja ini akan segera berubah menjadi panggung pertunjukkan malam ini. Aturannya sangat sederhana, yakni: lindungi seluruh tamu dari dunia lain, dan cegah pasukan musuh mendekat dan menyerang. Orang-orang terbaik kita sudah ada di tempatnya.”


TNI mengirimkan 6 prajurit Kopassus yang ditampilkan bersembunyi di tempat paling aman di area sekitar jalan yang telah dikosongkan dari sipil. Beberapa ikon muncul di pepohonan dan fitur medan lainnya di sekitar jalan tersebut, masing-masing ikon mewakili posisi personel. Ikon lingkaran mewakili prajurit tingkat tamtama, sementara ikon kotak mewakili perwira.


Di sekitar jalan menuju Area Terlarang, berdiri beberapa bangunan dengan tinggi 15 hingga 30 meter, yang cocok sebagai posisi penembak jitu. 6 personel lapangan yang dikirimkan, 1 diantaranya adalah penembak jitu. Dia berada di salah satu bangunan yang diperkirakan akan sulit dideteksi oleh perangkat musuh. Setidaknya, penembak jitu TNI mendapatkan perlengkapan standar yang berupa teknologi jubah tembus pandang, yang memungkinkan tubuh si penembak jitu menyatu dengan sekitarnya, seperti kemampuan mimikri pada bunglon.


“Lalu, bagaimana dengan keamanan para tamu? Apakah ada unit khusus yang disiapkan di sana?”


“Di sekitar penginapan dan hotel para tamu dari dunia lain, ada prajurit-prajurit terbaik kita. Lalu di hotel-hotel yang dihuni prajurit Pasukan Ekspedisi, beberapa dari mereka dipersenjatai dan didukung satu kompi Garnisun Karanganyar. Setidaknya, beberapa dari prajurit Pasukan Ekspedisi adalah Pasukan Pelajar Khusus.”


“Oh, bukankah Peltu Nio juga termasuk anggota pasukan khusus itu?”


Nio adalah orang pertama di ingatan Radit ketika mengengar unit khusus Tentara Pelajar tersebut, termasuk kejadian dimana pemuda itu melindunginya dari pembunuh yang mengincarnya dan peristiwa ketika Nio menghajar panglima Kekaisaran Luan yang kini melayani Yekirnovo sampai hampir sekarat.


“Benar, Pak. Tapi, dia sekarang telah berpangkat Letnan Satu Tentara Pelajar.”


“Menarik!”


“Mereka adalah anak-anak muda yang memiliki kemampuan setara intel. Tentu saja kebanyakan dari mereka spesialis pertempuran gerilya atau semacamnya. Tapi beberapa dari mereka terpilih karena keahlian khusus mereka yang lain dari yang lain. Misalnya, beberapa dari mereka adalah ahli komputer, tukang kunci, bahkan pengemudi mobil balap. Beberapa bahkan ahli dalam hal medis atau akrab dengan racun mematikan, dan mereka mungkin ahli dalam memperbaiki atau merusak psikologi dan ahli menenangkan hati dan pikiran.”


“Apakah Nio juga seperti itu?”


“Iya. Dia ahli dalam bersembunyi atau menyembunyikan sesuatu dari bahaya atau hal-hal yang tidak dia sukai. Sebenarnya Pasukan Pelajar Khusus melakukan latihan yang bernama ‘berburu kutu’, dengan para calon anggota sebagai target. Dan, Nio membuat para pelatihnya kesal karena terlalu sulit menemukannya.”

__ADS_1


“Itu… sedikit berbeda dengan data yang kubaca. Dari yang kubaca, dia jauh lebih hebat dari itu.”


Setelah mendengar perkataan Radit, beberapa staf tidak bisa menahan tawa, sementara beberapa lagi memegangi perut mereka dan mencoba yang terbaik untuk tidak bergabung dengan pembicaraan ini.


“Pak, apakah data seperti itu diberikan kepada Anda oleh seseorang melalui jalur tidak resmi? Jika itu diperoleh dengan cara yang ilegal, tolong bakar atau buang di tempat sampah. Lalu, beri tahu kami bagaimana anda bisa memperoleh informsi ini sehingga kami dapat menutup kebocoran dalam keamanan data pertahanan kita.”


“Ada apa dengan semua ini?”


“Informasi pribadi tentang anggota pasukan khusus TNI hanya bisa didapatkan melalui cara ilegal, misalnya melalui peretasan atau pembajakan. Tapi, biasanya TNI akan menambahkan informasi palsu ke profil anggota pasukan khusus jika musuh menangkap mereka. Singkatnya, data mengenai profil pribadi anggota pasukan khusus TNI adalah rahasia nasional.”


**


Sementara itu, Nio dan Arunika kembali setelah melihat rumah baru mereka, saat ini jam sudah menunjukkan pukul 23.03. Malam yang telah larut adalah penyebab berkurangnya pengendara di jalan, dan membuat Nio bisa memacu mobil sewaannya dengan kecepatan 70 kilometer per jam.


Namun, Nio terlihat tidak bisa memandang wajah Arunika dengan bebas dan hanya fokus dengan jalanan di depannya, dan terlihat ekspersi wajah gadis itu cukup menyeramkan menurut Nio. Lalu, di dahi Nio terlihat membiru, seperti dihantam benda tumpul. Nio bahkan terlihat menjaga jarak dengan Arunika, dan membulatkan tekad untuk tidak membuat kakaknya mengamuk lagi.


Itu berawal ketika mereka berdua melihat-lihat kondisi rumah baru, dan Nio menyarankan Arunika untuk menentukan ruangan-ruangan yang ada di rumah tersebut dan dia menunggu di luar rumah dengan alasan mencari udara segar.


Rumah dua lantai ini memang berukuran sedang, namun jauh lebih luas dari tempat tinggal mereka sebelumnya. Arunika sebenarnya sudah cukup puas dengan tempat tinggal kecil seperti rumah kost mereka dulu yang bisa disewa dengan harga 300.000 rupiah per bulan. Waktu itu, sebelum perang, dan Arunika bekerja sebagai guru matematika di tempat Nio bersekolah dengan gaji 2.000.000 rupiah per bulan. Pernah suatu ketika Nio berkata ingin membantu ekonomi mereka berdua dengan bekerja paruh waktu, tapi Arunika melarangnya, dan akhirnya berakhir dengan pertengkaran antara mereka berdua.


Dengan uang 2.000.000 rupiah per bulan, setidaknya Arunika bisa memenuhi berbagai tagihan bulanan, dan karena Nio adalah keluarganya yang berarti dia adalah keluarga guru, dia bisa mendapatkan sedikit potongan biaya bulanan sekolah. Lalu, biaya makanan pokok cukup murah, dan mereka tetap bisa hidup tanpa makan makanan mahal. Terimakasih untuk pemerintah yang sudah murah hati tidak sering menaikkan bahan makanan pokok, meski sekali naik harganya menjadi tidak masuk akal.


Lalu, setelah menjadi prajurit dan meraih berbagai prestasi, tabungan milik Nio jauh lebih banyak dari miliknya. Bahkan gaji Nio menjadi Letnan Satu lebih besar dari gaji ketika dia masih menjadi guru.


Ketika perang dengan dunia lain usai, dan ekonomi negara mulai membaik, otomatis anggaran pertahanan naik daripada saat perang. Itu artinya, gaji prajurit mengalami kenaikan setelah masalah pembangunan pasca perang selesai.


Setelah menentukan ruangan di setiap tempat rumah ini, Arunika menuju luar rumah untuk menemui kembali Nio. Dia kemudian melihat Nio berjongkok di teras, karena mereka belum membeli perlengkapan rumah. Namun, nampak asap kecil mengepul dari jari tengah dan telunjuk pemuda itu yang terlihat mengapit sesuatu.


Lalu, Nio terpergok oleh Arunika menghisap rokok sambil berjongkok dan menatap bulan sabit di langit. Itulah penyebab dahi Nio membiru, dan membuat Nio membulatkan tekad untuk tidak merokok ketika bersama Arunika.


“Sejak kapan kamu ngerokok?”


Meski nada bicara Arunika terdengar biasa saja, tapi Nio yang telah merasakan lemparan batu dari Arunika dan mengenai dahinya merasa jika itu adalah ancaman yang jauh lebih berbahaya daripada terjebak di tengah ladang ranjau darat. Tepatnya, dia telah menginjak ranjau yang jauh lebih berbahaya.


Dia bahkan hanya bisa diam saja ketika Arunika mematahkan satu per satu batang rokok hingga potongan terkecil, dan membuangnya dari jendela mobil. Itu menyebabkan aroma tembakau menyebar di dalam mobil, dan Arunika merasa tidak nyaman dengan aromanya. Meski begitu, itu adalah salahnya sendiri melakukan hal itu ketika masih berada di dalam mobil.


Adegan yang Nio lihat jauh lebih buruk ketika pelatihnya menginjak-injak kantung plastik yang berisi mi instan miliknya hingga hancur. Arunika mengeluarkan ekspresi yang jauh lebih menakutkan daripada ketika marah biasa, meski ekspresi itu lebih terkesan datar. Namun, tatapan datar Arunika terhadapnya membuat Nio merinding dan pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Nio menyadari bahwa lebih baik diam dan tetap fokus dengan jalanan, dan mencoba tidak sering berbuat yang menurut Arunika adalah hal yang salah dan tercela.


Arunika menagih jawaban atas pertanyaannya sebelumnya, namun itu membuat tangan kiri Nio gemetar dan keringat dingin keluar seperti buliran beras di dahinya.


“Sejak bekerja…”


Nio tidak bisa membayangkan jika Arunika mengetahui jika dia merokok saat masih bersekolah, dan belum bekerja seperti sekarang. Dia menyerah untuk membela diri, dan membiarkan Arunika menceramahinya.


**


Setelah mereka mendeteksi orang-orang tak dikenal di dekat salah satu pintu masuk ke Area Terlarang, pertempuran modern dimulai.


Tampilan Ruang Pengamatan tengah menunjukkan kemajuan pertempuran di sekitar area tersebut. Beberapa analis mengirimkan informasi yang bermunculan di layar monitor komandan ketika mereka memilah-milah informasi dari satelit mata-mata dan menyamarkan drone udara.


“Ada beberapa sumber panas, di utara dan timur, mereka tersebar di perumahan. Satu, mereka berjumlah 10 hingga 12.”


“Ini Satu, Target terlihat.”


“Lakukan prosedur nomor 5, mengerti?”


“Dimengerti.”


Grup ini dibentuk dalam waktu singkat, dan mereka harus menangani operasi intensitas rendah dan tidak konvensional ini. Setelah serangkaian uji coba dan latihan untuk membentuk grup khusus pengaman tamu dari dunia lain, unit ini memilih sistem ‘kendali jarak jauh’. Dengan kata lain, unit pengaman tamu dari dunia lain akan memasangkan operator di eselon belakang (Pengendali) dengan personel yang bertugas langsung di pertempuran (orang yang dikendalikan).


(olog note: mirip-mirip lah sama anime Fate series yang menggunakan sistem Master-Servant)


Saat ini, ada enam pasangan di grup ini, dengan nama sandi Satu, Dua dan seterusnya hingga Enam. Skema penamaan dipengaruhi oleh ‘tamu tak diundang’ yang menyebabkan grup ini harus melakukan pertempuran yang mendadak, sehingga unit ini tidak sempat memberikan nama operasi personel mereka dengan julukan yang keren.


“Tiga, beralih ke titik ketiga.”


“Ini Tiga, mengerti.”


“Lima, lakukan prosedur kedua. Dua bergeraklah dari titik ketiga ke titik keempat. Tahan tembakan.”

__ADS_1


“Ini Tiga, aku terperosok ke dalam lumpur (selokan). Mungkin akan terlambat 1 detik ke titik keempat.”


“Cepatlah bergerak!”


(olog note: sempet-sempetnya nyemplung ke selokan pas perang…)


Alur pertempuran dengan cepat berpihak ke grup pengaman tamu dari dunia lain.


Personel grup ini menggunakan peralatan terbaru, yang bisa dengan mudah menemukan posisi musuh, sehingga mereka tidak perlu khawatir dengan jumlah musuh.


Dengan musuh tidak dapat merasakan kehadiran mereka, mereka dengan cepat melumpuhkan musuh satu per satu.


Cara efektif yang dilakukan oleh personel grup ini adalah melakukan serangan kombinasi yang dikerahkan dengan terampil dan terarah. Namun, sementara ada tiga kelompok musuh di area ini, ketiganya bertindak secara independen, seolah-olah mereka berasal dari asal yang berbeda.


Bahkan seorang amatir tentang militer seperti Radit bisa tahu dari layar bahwa dari pergerakannya, musuh terlihat sangat kebingungan, dan dia menoleh ke Catur untuk membahas tujuan musuh.


“Apa yang musuh pikirkan? Mereka terlihat benar-benar berantakan. Mereka harus tahu seberapa ketat keamanan di Area Terlarang ini.”


Kelompok musuh yang asalnya belum diketahui diserang tanpa bisa membalasnya, dan kemudian kelompok yang lain bergerak maju. Cara mereka maju seolah-olah mereka tidak tahu bahwa kelompok pertama baru saja diserang.


“Secara logika, mungkin saja musuh tidak mengharapkan kita tidak memiliki pertahanan yang kuat. Dengan demikian, mereka telah melakukan kesalahan yang besar. Kemungkinan lain adalah mereka sedang mencoba memperkirakan kekuatan tempur kita, dan mereka ingin menyelesaikan tujuan mereka terlepas dari segala kerugian yang mereka terima.”


“Kelompok musuh pertama tersisa 10 orang, mereka kehilangan dua orang.”


“Kelompok musuh kedua baru saja mundur untuk mengatur kembali, serangan dari mereka yang sebenarnya akan segera terjadi.”


“Kelompok musuh ketiga tidak bergerak, mereka masih mempersiapkan diri.”


“Jadi jumlah mereka lebih banyak dari yang diperkirakan. Mungkinkah ketiga kelompok musuh saling bertentangan?”


Sementara mereka mendiskusikan ini, Radit bertanya-tanya apakah tindakan musuh bersifat politis. Perang adalah bentuk dari politik, dan tidak ada perang di dunia ini yang tidak terkait dengan politik. Kemenangan dalam pertempuran ditentukan pada tingkat politik. Ada saat-saat ketika pertempuran yang berakhir kekalahan bisa mengarah pada kemenangan politik. Namun, bahkan jika menebak tujuan musuh dengan hal tersebut, tindakan musuh tampaknya sama sekali tidak ada gunanya. Lagi pula, musuh seharusnya tahu bahwa pasukan wilayah ini siap untuk menghadapi mereka. Namun, mereka justru hampir terang-terangan menunjukkan diri mereka, rasanya seperti memecahkan telur dengan mortir.


Pemerintahan tidak bisa lepas dari militer, karena kebenarannya, masalah politik dan militer adalah dua sisi mata uang yang sama, namun satu pihak menyalahkan pihak yang satunya.


“Apa kau bisa menyelidiki tentang identitas musuh, aku punya firasat buruk tentang pertempuran ini.”


Permintaan Radit membuat Catur mengerutkan kening.


“Jika musuh memutuskan untuk mundur, itu adalah hal yang mungkin. Tapi pertempuran belum sepenuhnya selesai.”


“Tapi tetap ada cara kan? Misalnya ras asal musuh, karena itu adalah hal yang tidak bisa disamarkan.”


Negara-negara seperti Cina dan Jepang sangat nasionalis. Untuk membuktikan kesetiaan mutlak pada operasi mereka, mereka tidak akan menggunakan orang dari negara lain. Jika mereka orang Malaysia, mereka akan dengan sangat mudah berbaur dengan warga Indonesia, karena jarang ada warga Indonesia memiliki fisik seperti orang Cina atau Jepang.


“Mayor, Satu ada di dekat dua tubuh musuh yang dihabisi. Tolong ijinkan kami untuk maju dan memverifikasi.”


Setelah menerima saran salah satu bawahannya, Catur memerintahkan personel dengan kode nama ‘Satu’ tersebut untuk maju dan memeriksa mayat-mayat tersebut.


“Pak, kalau boleh tahu, apa yang Anda pikirkan?”


“Ah… tentu saja masalah politik. Bagaimanapun, saya seorang politisi.”


“Mohon maaf. Tapi, apa hubungannya dengan menyelidiki mayat musuh?”


“Ini Satu. Aku baru saja memeriksa mayat musuh. Ada yang aneh di sini, ijin untuk menggunakan lampu.”


Radit langsung menyambar alat komunikasi untuk berbicara dengan Satu.


“Apa maksudmu dengan aneh?”


“Dilihat dari bentuk wajah musuh, mereka tampak seperti orang Asia Timur.”


Saat Radit mendengar ini, rasa dingin merambat di tulang punggungnya.


“Maaf, tapi tolong verivikasi identitas setiap mayat musuh. Sangat penting bagi kita untuk mengetahui asal musuh.”


Catur dengan cepat mengambil alat komunikasi dari Radit, tetapi setelah beberapa saat, dia berbicara lagi.


“Satu, kau mendapatkan ijin untuk menggunakan lampu. Tapi kerjakan dengan cepat, setelah selesai, segera bergabung dengan yang lain.”

__ADS_1


Setelah 2 detik menunggu, Satu akhirnya berbicara, “Ini Satu, musuh adalah orang kulit hitam dan orang dengan mata sipit!”


Jika musuh adalah Cina atau negara Asia Timur lainnya, tidak mungkin mereka akan mencampurkan orang kulit hitam dan kulit putih ke dalam unit tempur. Ketika dia mendengar laporan itu, Radit menelpon Menteri Pertahanan.


__ADS_2