
28 April 2321, pukul 08.42 WIB.
**
Suasana di tempat pelatihan ramai seperti biasanya, namun hari ini tidak ada tes maupun latihan.
Para prajurit mengenakan pakaian seragam latihan dan berwajah tidak biasanya. Hari ini tidak ada gertakan dan ‘siksaan’ dari pelatih. Hari ini tidak ada pakaian dan wajah yang kotor karena cat dan lumpur.
Hari ini tidak ada ‘siksaan’ semacam harus menghabiskan satu porsi penuh makan siang dalam waktu 30 detik. Selain itu, hari ini tidak ada waktu makan yang diatur dan seluruh orang dapat memakan makanan yang disediakan.
Pelatih dan peserta tes yang tidak lulus dan masih dapat melanjutkan tes hingga akhir berkumpul bersama serta berbaur satu sama lain. Bahkan pelatih masih dapat bercanda meski situsai tidak memungkinkan untuk melakukan ‘pesta’.
Penyebabnya sudah jelas, karena situasi belum damai sepenuhnya dan perang masih berlangsung di sekitar Kota Karanganyar. Apalagi Kecamatan Jumapolo berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo yang berusaha dipertahankan dari serbuan pasukan dunia lain.
Beberapa warga melihat dari pagar para prajurit yang terlihat bebas setelah mengikuti pelatihan yang keras dan melelahkan fisik serta mental.
Beberapa warga merasa maklum dengan para prajurit yang masih sempat melakukan hal yang menyenangkan. Beberapa lagi merasa geram, karena masih banyak warga yang kekurangan makanan dan di tempat pelatihan tersedia banyak makanan.
Intinya hal yang dilakukan tempat pelatihan ini membuat warga terpecah menjadi dua kubu. Yaitu kubu yang mendukung agar para prajurit tidak stres setelah mengikuti pelatihan yang keras dan kubu yang menentang para prajurit itu melakukan hal menyenangkan dalam situasi masih berperang.
Mayor Sugeng tiba untuk bergabung dengan para peserta dan pelatih yang sedang bersenang-senang. seluruh peserta dan pelatih berhenti sejenak untuk memberi hormat pada Sugeng selaku prajurit berpangkat paling tinggi di tempat ini.
“Kalian dapat melanjutkan bersenang-senangnya sebelum terjun di medan tempur lagi,” ucap Sugeng dengan wajah serius meski dalam suasana santai.
“Siap…!” jawab seluruh peserta dan pelatih.
Pada hari ini, tidak ada satu tempat makan untuk 10 prajurit dan saling berbagi isinya. Para prajurit dapat memakan makanan yang disediakan dan meminum es teh yang ada.
Beberapa prajurit melihat beberapa warga yang melihat kearah tempat pesta ini. Itu membuat canggung suasana dan merasa tidak pantas melakukan hal menyenangkan ini.
__ADS_1
Pepatah yang mengatakan ‘bersenang-senang diatas penderitaan orang lain’ mungkin pantas dikatakan pada suasana saat ini.
Namun Sugeng mengambil pengeras suara dan berkata, “Para warga sekitar tempat pelatihan sekalian, jika ingin bergabung bersama kami silahkan kemari. Gerbang akan kami buka dan anda sekalian dapat bergabung dengan kami….”
Dua orang pelatih menuju gerbang tempat pelatihan untuk melaksanakan perintah Sugeng, yaitu membukakan gerbang agar warga yang ingin bergabung dapat mengikuti pesta.
Beberapa warga masuk ke tempat pelatihan dengan wajah yang masih memperlihatkan rasa ‘ragu-ragu’. Sebagian besar warga yang memasuki tempat pelatihan adalah para ibu yang membawa anak-anak mereka yang masih balita.
Dalam situasi perang seperti saat ini, bahan makanan akan menjadi sangat sulit ditemukan dan sangat mahal. Itu sebabnya para ibu membawa anak-anak mereka ke tempat ini yang disediakan banyak makanan.
Makanan yang diperoleh militer kemudian di distribusikan ke tempat lain yang masih ada hubungannya dengan militer sejatinya berasal dari uang pajak yang dibayar para warga negara.
Jadi mengijinkan para warga untuk ikut makan bersama bukanlah hal yang salah.
Selain para ibu dan anak, lansia juga diajak makan bersama. Karena para lansia adalah golongan masyarakat yang rentan menderita kekurangan gizi meski setiap hari mereka memakan nasi. Jika setiap hari hanya memakan nasi saja, sama saja mereka tidak mendapatkan nutrisi lain selain dari nasi itu sendiri.
Garam memang melimpah, karena wilayah laut Indonesia yang lebih luas dari wilayah daratan dan produksi garan Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia. Sebagian besar garam yang dikonsumsi warga Indonesia adalah garam laut. Makan nasi garam memang sudah mengenyangkan, namun belum memenuhi gizi standar.
**
Setelah ini, adalah acara utama dari susunan acara yang sudah direncanakan. Acara yang sangat ditunggu seluruh peserta yang berhasil mengikuti pelatihan dan tes hingga tuntas seluruhnya.
Ini adalah acara yang membuat seluruh peserta yang berhasil mengikuti pelatihan dan tes hingga tuntas merasa gugup. Setelah ini adalah acara pengumuman peserta yang lulus menjalani pelatihan menjadi Pasukan Pelajar Khusus.
Seluruh peserta, baik yang tidak lulus dan yang dapat mengikuti pelatihan hingga akhir menuju tempat diadakan acara selanjutnya, yaitu aula.
Beberapa orang berdoa menurut agama masing-masing agar mendapatkan hasil yang memuaskan. Beberapa lagi terlihat pasrah dan terkesan ‘masa bodoh’.
Saat pendaftaran, tidak dicantumkan apa saja keuntungan jika lulus menjadi Pasukan Pelajar Khusus. Yang para peserta pikirkan saat pendaftaran mungkin hanya ‘kehormatan’ dan ‘kebanggaan’ jika berhasil menjadi bagian pasukan khusus.
__ADS_1
Para peserta yang mengikiti pelatihan hingga akhir duduk di barisan terdepan hingga seterusnya. Sedangkan peserta yang tidak lulus duduk di barisa belakang dan seterusnya.
Di depan mereka duduk 25 orang pelatih dan Mayor Sugeng. Tidak ada undangan pada acara ini, karena ini adalah acara yang bersifat tertutup.
Itu juga terjadi di tempat pelatihan di seluruh Indonesia. Meski orang-orang di Satuan awal peserta mengetahui jika mereka mengikuti pelatihan, namun masyarakat umum tidak diperbolehkan untuk mengetahui identitas prajurit pasukan khusus. Itu juga berlaku bagi prajurit dari bagian Pasukan Pelajar Khusus.
Pembawa acara berdiri di mimbar untuk membacakan urutan acara, pembawa acara adalah salah satu pelatih.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kemudian pidato dari Sugeng yang bertema tentang ‘semangat darah muda’.
“Sudah tiba saatnya acara utama, yaitu urutan para peserta yang lulus tes pembentukan Pasukan Pelajar Khusus, akan saya bacakan peserta yang lulus dari urutan pertama…,”
Pembawa acara membacakan satu persatu nama peserta yang lulus, namun yang mengejutkan adalah peserta yang menempati urutan pertama bukanlah Nio.
Saat penyebutan nama selanjutnya nama Nio tidak disebutkan, hingga pada urutan ke 10 yang ditempati Rio.
Sima menempati urutan ke 20 dibawah peserta yang lulus dari Kompi 406. Hingga urutan peserta terakhir, yakni 24 nama Nio tidak disebutkan.
Arista yang tidak lulus terlihat sangat terkejut, begitu pula Ika yang lulus dan berada urutan 22. Begitu pula rekan-rekan Nio di Regu 3 juga terligat tidak terima dengan perkataan pembawa acara.
Namun wajah Nio tidak memperlihatkan rasa kecewa atau semacamnya. Wajah Nio tetap menunjukkan ekspresi tenang meski rekan-rekan terdekatnya tidak tenang.
Seluruh orang menatap heran kearah Nio yang membuat dia berkata, “Kenapa semua orang terlihat kecewa? Padahal yang tidak lulus itu aku.”
“Karena peserta urutan 24 sedang dalam keadaan sakit, dia dinyatakan tidak lulus. Untuk menggantikan urutan 24, maka yang menempati urutan tersebut adalah peserta urutan 25, yaitu Sersan Satu Nio dari Kompi 406,” ucap pembawa acara yang membuat sebagian orang bernapas lega.
Nio hanya menunjukkan ekspresi tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Rio dan Sima dengan cepat menuju tempat duduk Nio dan merangkulnya.
Beberapa pihak memang sudah dapat menebak jika Nio lulus pada pelatihan ini, namun dengan cara yang dapat dibilang sangat ‘kebetulan’ dan sangat bergantung pada keberuntungan.
__ADS_1
"Lulus...!!!" teriak Rio dan Sima bersamaan yang membuat Nio terganggu.
“Untung pelatihan ini menguji mental,” ucap Nio sambil mengeluarkan sedikit air mata di sudut matanya.