Prajurit SMA

Prajurit SMA
85. Mengunjungi Kerajaan Arevelk 2


__ADS_3

28 September 2321, pukul 13.52 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, siang hari.


**


“Sheyn!”


“A-ayah? Ada apa?”


Sheyn dengan panik berhenti berjalan saat mendengar Bogat memanggilnya. Dia berencana untuk mengikuti pertemuan yang dilakukan hari ini.


Hari ini, Kekaisaran mengadakan rapat untuk menentukan peperangan di masa depan. Setelah kekalahan besar yang kesekian kalinya dialami kembali oleh militer negara ini, semua bangsawan sudah lelah untuk memberikan pendapat mereka untuk perang.


Seluruh bangsawan yang akan memasuki ruang pertemuan, menatap Bogat dengan tatapan dingin dan berjalan melewatinya. Sheyn menyadari hal itu, tetapi Bogat seperti tidak menyadarinya saking frustasinya.


“Apa kau punya rencana untuk perang selanjutnya?”


Sheyn juga sudah lelah untuk menghadapi ayahnya yang sangat gila perang, meski belakangan ini selalu mengalami kekalahan yang besar.


Ada dua jenis orang bodoh di dunia, yakni orang bodoh yang menyadari kebodohannya. Lalu orang bodoh selanjutnya berpikir kalau mereka pintar. Bogat adalah orang bodoh yang berpikir jika keputusannya sangat bijak, kata lainnya dia terlalu tolol.


“Kalau ayah berniat menghancurkan Kekaisaran, jangan libatkan aku.”


Dalam kebanyakan kasus, anak tertua memilik klaim untuk meneruskan pemerintahan. Namun Bogat tidak menuruti tradisi itu, meski dia dulu diangkat menjadi Kaisar karena menjadi anak pertama. Bogat ingin anak laki-laki satu-satunya menjadi penerusnya, tetapi Rantz telah mati di pertempuran belum lama ini.


“Jika memenangkan perang ini, aku akan menjadikanmu penerus tahta.”


Sheyn terlihat tidak tergiur dengan perkataan ayahnya itu, bahkan dia memaknainya tak berbeda dengan anjing yang menyalak. Negara ini sedang dalam bahaya, tidak masuk akal jika mengumumkan penerus tahta sekarang.


Satu lagi, Sheyn merasa jika sikap Bogat terhadapnya berubah sangat cepat. Dimana sebelumnya fisik dan kemampuan Sheyn sering dihina oleh Bogat dan Rantz, kini ayahnya bersikap seolah-olah hal itu tidak pernah dia lakukan.


“Aku tidak memerlukan itu, aku hanya ingin negara ini berdamai dengan pasukan penguasa Gerbang.”


Sheyn begitu saja meninggalkan ayahnya yang memasang ekspresi bodoh di depan ruang pertemuan. Kata-kata Sheyn yang tenang dan logis bahkan tidak dapat membersihkan kepala Bogat yang hanya berisi keinginan untuk mengalahkan TNI.


Ketika menyadari sesuatu, kepala Bogat kini dipenuhi dengan berbagai kemungkinan.


Bogat tiba-tiba menyadari jika Kekaisaran lebih dekat dengan perdamaian, tanpa melalui jalur peperangan. Itu artinya, Kekaisaran menyerah terhadap negara asal TNI tanpa jalur kekerasan, atau dia lebih suka menyebutnya dengan ‘jalur perjuangan’ meski itu sia-sia. Rencana Bogat untuk mengalahkan pasukan itu akan sia-sia jika perdamaian benar-benar terwujud berkat Sheyn.


“Pasukan itu adalah musuh yang lemah, selama tidak melawannya secara langsung.”


Bogat hanya memiliki sedikit informasi mengenai pasukan penguasa Gerbang itu, tetapi Sheyn terlihat memiliki informasi yang cukup. Di dunia ini, informasi adalah salah satu senjata yang cukup untuk menghancurkan sebuah negara.


Salah satu bangsawan militer yang mendukung perang mendekati Bogat. Mereka lalu berbincang-bincang sejenak sebelum mencapai inti pembicaraan.


“Berapa banyak budak dari negara asal pasukan itu yang kita dapatkan?”


“Sekitar 100 budak, Kaisar. Kita telah membagi budak-budak yang di dapatkan saat menyerang negara asal pasukan hijau itu dengan negara sekutu.”


Orang bodoh yang pandai adalah orang yang sangat berbahaya, itu dapat terlihat dari sorot mata Bogat yang penuh dengan rencana jahat.


Jika rencananya benar-benar berjalan, Bogat berpikir kalau pasukan Kekaisaran dapat mengalahkan TNI. Dengan memanfaatkan para budak yang didapatkan dari negara asal TNI, Bogat akan menghancurkan pasukan itu pada peperangan selanjutnya.

__ADS_1


Atau dengan kata lain, mereka akan memprovokasi TNI menggunakan para budak.


“Saya juga telah mendapatkan kabar jika pasukan Kerajaan Arevelk sedang melakukan perjalanan pulang. Kami telah menyiapkan pasukan untuk menyergap mereka, Kaisar.”


Bogat tidak menyangkan jika jendralnya bisa berpikir hingga sejauh ini, tentu saja dia menyambut keputusan ini dengan senyuman hangat.


Beberapa saat kemudian Bogat dan seorang bangsawan militer yang berbicara dengannya memasuki ruang pertemuan. Puluhan bangsawan yang masih terbelah menjadi dua fraksi ini telah lama menunggu Kaisar yang seharusnya turun takhta karena banyak melakukan kegagalan.


Sheyn yang berdiri di depan para bangsawan, melihat sorot mata ayahnya yang penuh dengan rencana licik, yang memungkinkan untuk terjadinya perang melawan TNI lagi.


Sheyn berpikir jika dia harus berhati-hati dalam memilih sikap agar perdamaian dengan negara asal TNI dapat terwujud, tentu saja tanpa campur tangan militer. Namun, menjadi penerus takhta adalah hal yang menggirukan, tetapi gadis ini mencoba untuk menyingkirkan hal tersebut jauh-jauh dan memilih fokus dengan perdamaian.


**


Tinggal beberapa hari perjalanan lagi untuk mencapai perbatasan antara Kekaisaran Luan dengan Kerajaan Arevelk.


Sebenarnya bukan ide yang bagus untuk membawa rombongan sebanyak ini di wilayah musuh. Tetapi, setidaknya setelah kekalahan Kekaisaran, mereka tidak akan melakukan apapun terhadap rombongan besar ini. Tapi siapa yang tahu?


Pusat komando memerintahkan 10 Regu penjelajah untuk menuju Kerajaan Arevelk, termasuk Regu penjelajah 1. Tentu saja kendaraan yang di miliki para Regu membuat rombongan semakin megah. Mereka berada pada rombongan di belakang barisan pasukan Sigiz, para pengemudi menyesuaikan kecepatan kendaraan dengan laju perjalanan pasukan Kerajaan yang kebanyakan menumpang gerobak itu.


Mereka berangkat bersama pasukan Sigiz, karena tidak tahu rute yang harus di lalui. Sebenarnya TNI tidak perlu segan untuk melewati wilayah udara nagara di benua ini, lagipula mereka juga tidak paham mengenai hal ini. Namun, terbatasnya peralatan adalah hal yang menghambat memperoleh peta wilayah selain Kekaisaran Luan dan wilayah terdekatnya.


Regu penjelajah 1 berada di barisan terdepan, dekat dengan keberadaan Sigiz. Pada salah satu kendaraan, suasananya sangat canggung, bahkan tangan Liben yang memegang kemudi tak henti-hentinya gemetar. Sedangkan Nio dan yang lainnya hanya bisa duduk diam tanpa bisa bercanda seperti saat melaksanakan misi.


“Apa kalian tidak ada musik yang bisa diputar, suasana ini sangat membosankan tahu!”


Sucipto yang duduk di bangku samping pengemudi tidak menyembunyikan rasa bosannya sama sekali. Meski usianya hampir menginjak 50 tahun-an, dia menyukai musik yang banyak disukai anak muda, seperti prajurit yang menumpang kendaraan ini. Itu artinya, dia adalah orang paling tua di kendaraan ini.


Seluruh anggota yang duduk di bangku belakang hanya bisa saling tatap, mereka tidak berani untuk bertindak begitu saja hanya karena Sucipto ingin mendengarkan musik.


Sucipto terdengar bersenandung riang dengan nada lagu kesukaan para remaja, itu membuat para prajurit terihat memasang senyum miring. Para prajurit mungkin saja bisa stres karena perjalanan yang tingkat kebosanannya terlalu tinggi.


“Peltu Nio, aku melihatmu cukup fasih berbahasa dunia ini, berapa lama kamu berlatih?”


“Siap! Saya belajar bahasa dunia ini sejak buku kamus dibagikan.”


“Wah! Itu waktu yang sangat singkat.”


Nio berpikir jika dia sudah terlalu banyak mendapatkan pujian, termasuk yang didapatkan dari Presiden. Dia merasa sedikit bersalah terhadap para anggotanya yang mungkin jarang dipuji. Padahal dia mendapatkan banyak prestasi karena bantuan rekan-rekannya di Kompi 406 dan 32 dulu.


Prestasi hanyalah prestasi, itu yang dipikirkaan Nio. Prajurit itu akan menang, mendapatkan hadiah dan kekasih. Namun dalam kenyataannya, tidak semua prajurit mendapatkan hadiah berkat perjuangannya. Karena mereka bisa saja gugur dan di bawa pulang dalam peti yang dibalut bendera merah putih disertai ratapan sedih rekan-rekannya. Dari kata-kata ini, bayaran yang diterima para prajurit sangat murah.


Mengingat itu, membuat Nio merasa rindu dengan kota bawah tanah beserta para penghuninya.


Dunia lain penuh dengan hal yang hebat, menganggumkan, dan sangat berbahaya dengan hal yang belum pernah di lihat di Indonesia. Nio tidak mau mati di dunia ini, meskipun selama ini hidupnya selalu sama saja. Tapi dia berpikir hidupnya tidak cukup berharga, karena dia harus melindungi satu-satunya keluarga yang ia miliki. Hingga pada akhirnya menjadi prajurit adalah pilihan terakhir.


“Peltu Nio! Aku memangglimu dari tadi! Apa yang kamu lamunkan?”


“Si-siap! Maafkan saya. Saya benar-benar melamun tadi.”


Sucipto terus memperhatikan tingkah Nio yang duduk tepat di belakangnya. Saat Nio mulai tenggelam dalam lamunan, dia segera membentak Nio agar segera sadar. Jika terus melamun, bisa saja Nio tidak menjadi fokus terhadap pekerjaannya.

__ADS_1


“Apa kamu baik-baik saja, Komandan?”


Chandra terlihat mengkhawatirkannya, seluruh anggota Regu yang menumpang kendaraan ini juga terlihat seperti itu. Nio tidak pernah suka dengan situasi seperti ini, dimana ada banyak orang yang mengkhawatirkannya, seolah-olah dia adalah orang yang sangat penting bagi orang-orang tersebut.


Liben kemudian memberitahu Nio jika Sigiz menunggang kudanya tepat di depan kendaraan yang mereka tumpangi, dan memberi kode untuk berhenti.


Sucipto memerintahkan Nio untuk menghampiri Sigiz setelah kendaraan berhenti. Dengan berat hati Nio turun dari pintu belakang kendaraan, entah apa isi hatinya hingga wajah Nio menjadi datar.


“Tuan Nio, bisa anda beritahu komandan anda jika kita akan mendirikan perkemahan.”


Nio hanya menjawab dengan anggukan dan berjalan memunggungi Sigiz yang terlihat heran dengan sikap Nio hari ini.


Sekarang hari sudah mulai sore, ditandai dengan langit yang telah berubah menjadi oranye, warna langit saat pagi juga oranye tetapi berbeda dengan warna langit sore.


Seluruh pasukan menurunkan logistik dan mendirikan tenda di tanah lapang yang berupa padang rumput. Rumput yang tumbuh tidak terlalu tinggi, itu membuat para prajurit tidak perlu memangkasnya terlebih dahulu sebelum mendirikan tenda. Selain itu, padang rumput ini penuh dengan nutrisi yang diperlukan para kuda milik pasukan.


Nio terlihat terus memperhatikan smartphone miliknya, meski seluruh anggota Regu penjelajah 1 sedang bersenang-senang. Dia melihat foto arunika bersamanya saat upacara kenaikan pangkat dirinya. Nio membayangkan aktivitas Arunika dan anggota Kompi 406 di kota bawah tanah Kota Karanganyar.


Jika waktu Karanganyar sekarang siang hari, mereka pasti sedang berlatih menembak dan lainnya. Jika malam hari, mungkin para prajurit sedang melakukan aktivitas malam yang tak jarang membuat mereka harus begadang.


“Apa kamu merindukan kakakmu?”


Sigiz tiba-tiba muncul dan membuat seluruh rekan Nio diam, wajah mereka tiba-tiba menjadi menyebalkan karena melihat Nio dekat dengan seorang wanita cantik. Sementara para prajurit perempuan, mereka terlihat iri dengan kesempurnaan yang dimiliki Sigiz.


Nio menyadari hal itu, dan berharap jika mereka tidak mengetahui usia sebenarnya Sigiz meski luarnya dia terlihat masih berusia 20-an.


“Tentu saja, rasanya sudah lama disini.”


Sigiz memperhatikan benda berbentuk persegi panjang dan sangat tipis, seperti terbuat dari kaca dan mengeluarkan cahaya.


Dia tentu saja tidak terkejut dengan teknologi yang dimiliki pasukan TNI, atau tepatnya dia mencoba untuk tidak terkejut. Dia mencoba untuk memahami hal ini, bahwa peradaban dunia asal TNI sangat jauh dengan dunia ini.


“1 hari lagi kita akan memasuki wilayah Kerajaan Arevelk. Saat tiba di ibukota, kamu bisa mengistirahatkan pikiranmu di pemandian air panas.”


Nio bergumam di dalam hatinya, “Memangnya disini Jepang sampai ada pemandian air panas?”


“Ya, aku menantikan hal itu.”


Nio mencoba untuk memahami dunia ini, jika dunia ini hampir sama dengan latar tempat novel dan komik fantasi, beberapa hal mungkin yang menjadi pembeda. Namun, Nio berpikir jika dunia ini terlalu menakjubkan dengan berbagai hal yang hanya dapat dilihat pada ilustrasi novel fantasi saja.


Saat meninggalkan tanah air dan memasuki dunia lain yang sangat asing, memang awalnya sangat sulit bagi para prajurit TNI ini. Kebanyakan dari mereka pasti memiliki orang yang sangat berharga di sana, dan dengan terpaksa harus meninggalkan untuk melaksanakan tugas yang mungkin sangat berbahaya.


Tetapi, tidak hanya satu dua orang saja yang mengalami hal seperti itu. Hampir seluruh prajurit TNI disini mengalami hal yang sama, itu sebabnya mereka menghibur diri dengan mengakrabkan satu sama lain yang memiliki perasaan yang sama.


Namun, sebuah suara gemuruh mengubah suasana yang semula gembira menjadi tegang.


“Penyergapan, pasukan Kekaisaran dengan jumlah ribuan akan menyergap kita…!!!”


Setelah mendengar teriakan salah satu prajurit Kerajaan, Nio meninggalkan Sigiz untuk menaiki kendaraan lapis baja bersama anggota Regu.


Sucipto memerintahkan seluruh bawahannya untuk menyiapkan senjata, dan bersiap untuk melakukan pertempuran. Pasukan Sigiz juga melakukan hal yang sama, namun menyusun barisan akan memakan waktu yang lama. Kemudian, seluruh kendaraan tempur melaju meninggalkan perkemahan untuk menghadapi pasukan Kekaisaran yang berjumlah ribuan.

__ADS_1


Prajurit TNI yang perasaannya sedang sedih karena teringat keluarga dan teman di dunia asal, mengeluarkan aura dingin dan siap untuk kembali membantai pasukan Kekaisaran.


Pertempuran ini akan berlangsung singkat, jadi tidak ada prajurit yang khawatir.


__ADS_2