Prajurit SMA

Prajurit SMA
127. Pelarian 4: mimpi buruk


__ADS_3

Namun, tidak baik mempercayakan nasib suatu bangsa pada bangsa lain.


**


“Sekarang, sepertinya aku sudah berbicara terlalu lama. Seharusnya waktunya sudah tiba…”


Begitu Kaisar Bogat selesai berbicara, getaran besar mengguncang ruangan bawah tanah. Tikus-tikus dan serangga penghuni ruang bawah tanah menjadi panik, tapi tidak dengan Nio.


Suara ledakan yang saling bersahutan, membuat mata Nio menyipit dan menebak-nebak sumber ledakan. Tapi, Nio tidak hanya mendengar suara ledakan, namun juga jeritan makhluk hidup.


Sesaat setelah Nio memasang ekspresi suram, pintu ruang bawah tanah meledak dengan peledak. Sekelompok prajurit menyerbu melewati pintu baja yang hancur berkeping-keping. Liben yang sudah menjalani perawatan pada lukanya bersiaga dengan senapan di barisan paling depan, diikuti oleh Fariz dan beberapa penyihir.


“Komandan!”


“Kau baik-baik saja!?”


Seluruh rekan-rekan Nio mencoba merangsek masuk, tetapi prajurit Kekaisaran berdiri berbaris di depan mereka dengan barisan yang rapat. Kaisar Bogat dengan tenang menyuruh Liben dan teman-temannya untuk menjatuhkan senjata mereka.


Liben melihat jika kedua tangan Nio terikat di bagian belakang kursi dengan rantai yang tergembok. Dia melihat jari-jari Nio dengan lihai menggerakkan sebuah jepit rambut untuk mencoba melepas gembok yang menahan rantai ini. Nio melakukan hal ini sejak dia dipaksa keluar dari kurungan dan berada di ruang bawah tanah bau ini.


“Ini lebih lambat dari yang diperkirakan.”


Kaisar tersenyum pada seluruh orang yang waspada setelah mengatakan hal itu. Perkataan Bogat membuat Liben dan Fariz semakin waspada, sementara tiga penyihir terdengar mengucapkan sesuatu dengan sangat cepat.


“Jangan khawatir, aku akan mengembalikan salah satu tawanan ini.”


Kaisar sengaja menekan bagian ‘salah satu tawanan ini’. Nio tidak sebodoh yang terlihat sehingga dia tidak bisa mengerti artinya.


“Apa masih ada tawanan lainnya?”


Pasukan Ekspedisi telah berhasil memulangkan warga Indonesia yang tertawan di Kekaisaran Luan sejumlah 20 orang. Memang, jumlah korban hilang masih jauh lebih banyak. Itu artinya, masih ada ratusan warga Indonesia yang hidup sengsara dalam penjara tawanan, atau lebih buruk daripada menjadi tawanan perang musuh.


Korban tewas di pihak warga sipil Indonesia saat penyerangan hari kemerdekaan dalam keadaan mengenaskan, tidak mengherankan pemerintah mencoba merahasiakan hal ini demi mencegah gelombang demonstrasi yang menginginkan pasukan musuh diperangi dan meminta ganti rugi secara paksa.


“Aku tidak membenci anak yang pintar.”


Setelah Kaisar berkata demikian, dia mengangkat tangan kirinya sebagai kode untuk prajuritnya untuk ‘bawa tawanan itu’.


**


Benar saja, yang dibawa dari ruangan kurungan yang terletak beberapa ruangan dengan penjara Nio adalah seorang perempuan dengan pakaian buruk dan tangan serta lehernya dirantai. Hanya dengan melihatnya secara sekilas, Nio dan rekan-rekannya bisa dengan mudah menebak jika yang dibawa adalah orang Asia Tenggara, tepatnya Indonesia.


Perempuan yang nampak berumur 23 tahunan membuka matanya dengan lebar ketika dia melihat seragam yang dikenakan Nio dan anggota Regu penjelajah 1.


“Kalian… mungkinkah kalian TNI?”


Apa yang keluar dari mulutnya adalah bahasa Indonesia, karena dia adalah salah satu dari sekian ratus tawanan Indonesia yang didapatkan Kekaisaran dan teman-temannya.


Lalu, beberapa saat kemudian terdengar bunyi ‘klek’ dan gemerincing logam yang saling beradu. Suara itu berasal dari gembok yang berhasil dilepaskan dan rantai yang jatuh ke lantai ruang bawah tanah.


Perempuan di depan Nio bukanlah orang yang asing, bahkan perempuan itu nampak menunjukkan tatapan jika dia mengenal Nio. Pemuda itu nampak terkejut saat perempuan itu ‘masih hidup’, karena dia tercatat sebagai korban tewas saat insiden penyerangan.


“Tenang saja kak, Indah masih baik-baik saja. Dan kau, akan segera kami selamatkan.”


Kini, Nio kembali mementingkan tindakan, dia tidak bisa diam lagi setelah kakak kekasihnya dijadikan tawanan dengan keadaan menyedihkan seperti ini. Kakak Indah, Sonia, menatap Nio dengan penuh harapan. Pemuda itu jauh berbeda sebelum dia menjadi tentara, itu pandangan Sonia terhadap Nio.


Tapi, sebelum melakukan sebuah tindakan, Nio akan memikirkan terlebih dahulu dampak dari tindakannya. Dia bisa saja menghajar wajah tua Bogat dengan tangan logamnya, begitulah Nio saat marah. Liben dan yang lain juga sangat marah, para penyihir juga begitu meski mereka bukan warga Indonesia. Karena membahayakan warga Indonesia, bisa saja Liben menembak mati Bogat, tapi Nio memberikan dia kode agar menahan tembakan.


“Saya harap anda menjelaskan hal ini…!”


“Kenapa anda masih menanyakannya? Dia salah satu tawanan yang tersisa, dan tawanan yang kalian selamatkan hanya bagian kecilnya saja.”


Wajah Nio dikuasai oleh ekspresi amarah, melihat Sonia yang dijadikan tawanan dan pekerja paksa, alias budak Kekaisaran. Di dunia lain, terutama Kekaisaran Luan dan teman-temannya, memperlakukan tawanan sebagai hewan pekerja adalah hal biasa. Bahkan para tawanan merupakan komoditas utama sebuah bangsa sebagai salah satu sumber kekayaan bangsa tersebut.


Sejujurnya, Nio sangat ingin memerintahkan Liben dan Fariz untuk menembak dan membunuh Kaisar segera. Kata “tawanan yang kalian selamatkan hanya bagian kecilnya saja” hampir mematahkan semangat Nio dan rekan-rekannya.


Akhirnya, Nio merasa bahwa dia tahu mengapa Kaisar Bogat repot-repot untuk menemuinya.


Di dalam hati Nio berkata, “Kaisar akan mengancam pemerintah Indonesia menggunakan kartu as yang disebut tawanan.”


Alasannya dikeluarkannya salah satu tawanan, Sonia, adalah untuk memberikan bukti jika masih ada tawanan perang lainnya yang berasal dari Indonesia. Selama tawanan perang masih berada di tangan musuh, maka pergerakan TNI yang kuat akan terbatas.


Mengingat rasionalitas militer, Kaisar Bogat harus ditembak mati di tempat sekarang juga. Itu adalah kemungkinan terbaiknya. Namun kemungkinan yang lain juga mengatakan “Apa yang terjadi jika penculik dibunuh tanpa diadakan negosiasi?”


Masalahnya bukan terletak pada hal itu. Sebagai bagian dari alat negara, tentara tidak bisa membunuh orang-orang Indonesia yang tak bersalah. Jika melakukan hal itu, tentara tersebut tidak ada bedanya dengan musuh.


“Haruskan kita menyelamatkan nyawa orang-orang untuk melindungi mereka, atau mengambil nyawa musuh agar mereka kalah?” Nio bergumam di dalam hatinya, dia terpaksa membuat pilihan yang sulit.


Dia merasa tidak bisa memutuskannya sendiri.


Kaisar Bogat dengan singkat berkata, seolah-olah dia bisa melihat kata batin Nio.

__ADS_1


“Aku memberitahumu untuk segera memutuskan. Kembalilah ke benteng mu dan beri tahu pemimpin mu.”


Mungkin Kaisar Bogat mengharapkan hal ini sejak awal. Dia dengan tenang mengucapkan dengan nada yang sepertinya sesuai rencananya.


“Kau punya waktu tiga hari untuk memberitahu pemimpin mu untuk mundur dari Tanah Suci, demi menyelamatkan seluruh tawanan perang.”


Masa tenggang adalah tiga hari. Jika tidak… (petunjuk ada di judul episode ini)


**


Nio bukanlah satu-satunya orang yang muak dengan cara musuh melakukan sesuatu demi kemenangan.


“Anjing…!”


Suara marah yang bergema terdengar di penjara bawah tanah. Namun ucapan itu bukan Nio yang mengatakannya.


“Fariz!?”


Fariz memegang senapan serbu dan mengarahkan moncongnya ke pria tua di depannya, yaitu Kaisar Bogat.


“Yang Mulia!”


Melihat lawan mengarahkan senjatanya, seorang prajurit berdiri untuk melindungi Kaisar. Beberapa dari mereka menutup wajahnya, dan Nio serta rekan-rekannya mengira jika mereka adalah penyihir.


“Yah, menurutku dia gadis kecil yang cukup pemberani. Sekarang aku tidak bisa melihat seseorang dari penampilannya saja---.”


Kaisar Bogat mencoba melanjutkan kata-katanya, tetapi Fariz nampak sudah mencapai batas kesabarannya. Lalu, jari lembut Fariz menarik pelatuk, dan mengeluarkan sebutir timah panas dengan suara tembakan yang memekakkan telinga.


Namun, saat potongan timah tersebut berjarak 5 centimeter dari kepala Bogat, suara dentingan logam yang beradu bergema.


“Apa…!?”


Fariz bukanlah satu-satunya yang mengeluarkan suara bernada terkejut. Nio, Liben dan para penyihir membuka lebar mata mereka.


Di depan mereka, tepatnya di depan Kaisar Bogat, seorang gadis yang tampak aneh berdiri. Seorang gadis naga dengan pakaian yang mewah.


Tepat sebelum peluru menembus kepala Kaisar Bogat, salah satu wanita bertudung tiba-tiba datang dan menangkisnya menggunakan sabit besar miliknya. Orang itu adalah gadis naga, yang nampaknya budak milik Maslac.


“Zelev….”


Seorang penyihir perempuan nampak mengenal budak naga itu, beberapa penyihir memasang wajah getir saat perempuan itu berdiri untuk melindungi Bogat.


Zelev menjawab pertanyaan salah satu penyihir dengan nada enteng.


Namun, sebelum perempuan budak Maslac itu membuka mulut, sebuah Gerbang tidak sempurna muncul di ruangan ini, dan memunculkan beberapa orang.


Salah satu orang yang keluar dari Gerbang tidak sempurna itu adalah Sigiz. Di belakangnya keluar Zariv dan Sheyn. Gadis itu, tepatnya Sheyn sudah tahu resiko yang akan menimpanya jika memasuki negara yang dia ambil ‘sedikit’ wilayahnya untuk membentuk negara yang kini dia pimpin bersama Panglima Maslac.


“Penghianat, untuk apa kau datang kemari?”


Pertanyaan Bogat atas dirinya memang membuat hati Sheyn terkoyak. Demi kedamaian dan segera menyelesaikan perang ini, Sheyn rela menjadi musuh Kekaisaran. Itu artinya, Sheyn juga menjadi musuh ayahnya, Kaisar Bogat.


Sheyn tidak bisa berkata-kata lagi, karena alasannya kemari bersama Sigiz sudah jelas, yakni menjadi batuan untuk menyelamatkan Nio.


Kedua pihak yang secara umum masih bermusuhan saling berhadapan dengan suasana yang tidak bersahabat.


Lima Gerbang tidak sempurna yang dibuka oleh penyihir Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo mengeluarkan sekitar 20.000 prajurit kedua negara. Pemimpin mereka, yakni Sigiz dan Sheyn secara sukarela manjadi bantuan untuk misi penyelamatan Nio. Tujuan penggunaan Gerbang tidak sempurna ini adalah demi menghemat waktu, karena waktu yang dibutuhkan untuk pergerakan pasukan jalan kaki untuk mencapai kota ini sekitar setengah bulan. Dan waktu yang dibutuhkan untuk membuka Gerbang tidak sempurna hanya sekitar setengah hari.


Berbicara soal kemampuan Sigiz dan Zelev, mereka memiliki kemampuan yang setara. Sementara Sheyn hanya setara dengan 50 prajurit elit, jadi dia tidak mungkin bisa mengalahkan penyihir dan Demihuman yang jauh lebih kuat darinya.


Alasan Zelev berpihak pada Kekaisaran dan Pasukan Aliansi sudah jelas, karena pemiliknya, yakni Maslac merupakan panglima Kekaisaran yang sangat loyal dengan atasannya.


“Yang Mulia Kaisar, mengapa anda tidak membunuh prajurit bertangan logam itu?”


Prajurit bertangan logam yang Zelev maksud adalah Nio, itu membuat pemuda tersebut memendam kesal ke perempuan naga itu.


“Menurut kabar, dia adalah orang yang diramalkan. Jadi aku ingin melihat apa benar-benar dia sangat kuat.”


Mata coklat gelap Sigiz menatap tajam dan dalam Zelev. Ini memang kali pertama mereka saling bertatapan, namun keduanya yakin jika mereka seimbang dalam hal kekuatan dan sihir.


Zelev memiliki cara sendiri untuk menghadapi ratu di depannya.


**


Delapan helikopter serang melaju di atas Kota Aibu. Dalam beberapa menit lagi, mereka akan tepat mencapai di atas Pasukan Aliansi yang mundur. Untuk menghindari kerusakan, helikopter serang diintruksikan untuk menyerang dari ketinggian yang tidak dapat dicapai anak panah musuh.


Dibawah, nampak sekitar 1 Kompi pasukan, tepatnya 200 Pasukan Aliansi yang mencoba mundur secepat yang mereka bisa. Namun, helikopter serang telah mengunci target, dan memberondong musuh dengan artileri meriam 40mm.


“Dewa Terbang 4 ke Dewa Terbang 1, ada sesuatu yang mendekat dari arah jam 10! Tidak ada respon terhadap radar!”


Komandan unit helikopter menganggap, “Tidak ada tanggapan terhadap radar? Apa mereka pasukan penunggang naga?”

__ADS_1


Perlengkapan radar yang dimiliki TNI pada dasarnya untuk mendeteksi serangan dari misil, tank, dan pesawat tempur, dan pada dasarnya tidak dilengkapi dengan radar gelombang yang dapat mendeteksi makhluk hidup seperti manusia.


Langit yang merupakan asal suara gemuruh dari baling-baling helikopter. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari capung-capung besi tersebut, dan sosok itu sedang terbang mendekat.


Dikatakan jika makhluk itu memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat dari raja naga api, dan sekarang mimpi terburuk yang nyata itu terbang di atas kepala.


“Itu--- raja naga angin…!!!”


**


Target pertama raja naga angin adalah unit helikopter yang sedang terbang membentuk formasi serang.


“Kapten! Sesuatu yang seperti raja naga api berada di arah 40 derajat ke kiri!”


Sebelum perwira yang mendampingi Komandan unit helikopter selesai berbicara, suara menderu yang jauh lebih keras dari bunyi mesin jet tempur terdengar. Sesaat kemudian, semburan api dengan temperatur yang jauh lebih tinggi dari api raja naga api membakar 3 unit helikopter tempur, dan menyalakan amunisi dan bahan bakar di dalam helikopter serang dan pengangkut rudal.


“Dia membakar helikopter…!”


“Brengsek…! Tembak! Tembak!”


Dengan perintah Komandan unit helikopter, setiap helikopter mengarahkan meriam, roket, dan rudal mereka ke raja naga angin dan mulai menembak secara terkonsentrasi.


Namun, sisik raja naga angin 5 kali lipat lebih keras dari armor baja MBT, dan rudal serta roket tidak menimbulkan kerusakan fatal pada tubuh raja naga angin tersebut.


Komandan unit helikopter menggigit bibir dan mulai berkeringat dingin saat naga dengan tinggi setara dengan bangunan 8 lantai dan bersisik berwarna keperakan tidak bergeming saat dihantam dengan senjata yang dapat menghancurkan sebuah batalyon dengan mudah.


“Komandan, semburan api akan datang lagi!”


“Sebarkan! Lakukan output maksimum! Cepat!”


Unit helikopter mencoba mengubah arah untuk melarikan diri dari raja naga angin.


Segera setelah itu, serangan kejutan yang kuat menghantam unit helikopter. Serangan langsung dapat dihindari, tetapi itu membuat helikopter terbang tak terkendali. Meskipun penerbang mencoba untuk mendapatkan kendali atas helikopternya, tetapi salah satu helikopter kehilangan kendali dan menabrak helikopter yang ada di dekatnya.


“Jika tidak menguasai hal ini, kita akan musnah!”


Komandan unit helikopter bersiap untuk kematiannya sendiri. Tapi cobaan yang diberikan raja naga angin jauh lebih parah.


“Komandan, raja naga menuju ke kota!”


“Aku melihatnya!”


Di bawah unit helikopter yang tersisa dan mencoba mengejar raja naga angin, pasukan darat tengah membagi unit. Pasukan darat dibagi menjadi Regu untuk operasi pembersihan, evakuasi warga, pemadam kebakaran, dan pemantauan tawanan perang. Meskipun aktivitas di unit darat yang kecil ini dapat melakukan banyak tugas sekaligus, tapi sebenarnya sulit untuk melakukan penyerangan yang aktif.


Tentu saja, tidak masalah jika yang dilawan adalah pasukan manusia musuh yang mudah dikalahkan, tetapi ceritanya berbeda jika lawan yang dihadapi bertambah, yakni raja naga angin.


Raja naga angin terbang di atas unit artileri yang sedang menyiapkan serangan untuknya, jelas apa yang dilakukan jika terjebak dalam situasi macam ini.


“Kadal busuk itu datang!”


“Selamatkan diri…!!!”


Raja naga angin itu menghembuskan semburan api dengan suhu 900 derajat celcius, temperatur tidak masuk akal yang dikeluarkan oleh makhluk hidup. Serangan ini bertujuan untuk melawan yang mengganggu raja naga angin.


Unit artileri anti-pesawat yang berjumlah 6 meriam anti-pesawat merupakan sasaran pertama.


Pajak senilai triliunan rupiah meledak dalam sekejap setelah terkena semburan napas panas raja naga angin. Peralatan yang termasuk senjata terbaru TNI meledak dengan nyawa prajurit yang mengoperasikannya, seperti kembang api yang berukuran raksasa meledak. Ledakan beruntun yang menggetarkan hati berlangsung selama 2 menit, dan membuat prajurit yang melihatnya patah hati.


Namun, serangan raja naga angin tidak berhenti di situ, dia juga membakar warga kota yang hendak mengungsi. Dia membakar manusia yang berlari dan membakar bangunan Kota Aibu. Raja naga angin mengibaskan ekor sepanjang 8 meter miliknya, dan mengenai sebuah menara.


Sekelompok warga yang berlindung di balik sebuah menara, dihancurkan oleh menara yang runtuh akibat kibasan ekor kadal terbang raksasa tersebut. Darah dan organ dalam berceceran, menciptakan kubangan lumpur darah di tanah.


Kemudian, raja naga angin menyemburkan apinya ke kendaraan pengangkut amunisi. Amunisi di dalam kendaraan meledak setelah terkena semburan api panas, dan ledakannya terus berulang hingga tidak ada amunisi yang tersisa. Sayangnya, beberapa kendaraan lapis baja terguling dan bahan bakar yang bocor tersulut api, dan nyala api menyebar dalam sekejap.


Ditengah kobaran api dan jeritan, raja naga angin berencana tidak menghentikan aksinya. Dia membungkus seluruh area disekitarnya dengan api dan menghancurkan yang mencoba melarikan diri satu demi satu.


Ini hanyalah gambaran tentang neraka.


Tapi, ini hanyalah permainan musuh, raja naga angin merupakan sosok yang dikendalikan oleh Zelev.


**


Funfact#7: perbedaan Gerbang yang sempurna dan Gerbang tidak semburan hanya terletak pada proses pembukaannya saja.


Untuk membuka Gerbang sempurna, seperti yang terbuka di Tanah Suci dan sedang dalam penguasaan Pasukan Ekspedisi, diperlukan ritual yang memerlukan banyak ‘tumbal manusia’, serta logam mulia yang dapat meleleh, contohnya emas atau logam mulia lainnya.


Untuk membuka Gerbang tidak sempurna, seperti yang digunakan pasukan dunia lain untuk menyerang bumi dan yang digunakan Sigiz untuk menyelamatkan Nio, hanya diperlukan energi sihir yang besar, dan sejumlah penyihir hebat.



(ilustrasi raja naga angin, sumber gambar pinterest)

__ADS_1


__ADS_2