Prajurit SMA

Prajurit SMA
Tim Ke-12 Korps Pengintaian dan Pertempuran


__ADS_3

Ada sebuah bangunan yang biasanya hanya bisa dimasuki dan digunakan prajurit setingkat perwira saja, mereka bisa mendiskusikan apa saja tanpa diketahui prajurit tingkat tamtama atau bintara di sini. Sementara beberapa prajurit sedang menebak-nebak misi pertama yang akan diterima, percakapan yang serupa juga terjadi di sini, dan Nio terlibat di dalamnya.


Tidak ada yang peduli dengan para perwira yang memiliki ruang makan sendiri, para prajurit tetap menanggapnya dengan 'ruang makan di tengah medan perang', dan penuh dengan ketidaknyamanan. Seseorang mungkin akan berkomentar melihat ruang makan khusus untuk para perwira Pasukan Perdamaian di sini, “Pasukan itu benar-benar tahu caranya menghabiskan anggaran, bahkan digunakan untuk membangun ruang makan.”


Korps Laut dan Air Pasukan Perdamaian bisa tertawa melihat ini, namun orang-orang tetap tidak bisa memahami mereka yang bertempur di ‘hotel terapung’.


Kabar bahwa tempat makan khusus itu akan digunakan untuk pertemuan para perwira sampai ke telinga Nio. Dia terbiasa dikelilingi oleh perwira yang memiliki pengalaman dan usia yang lebih tinggi darinya, tapi topik pembicaraan adalah hal yang mengganggunya.


“Yah… saya memang tidak bisa menentang itu.”


Nio hampir tidak memasukkan apapun untuk mengisi perutnya di hari terakhir penyerbuan Pasukan Aliansi di hari itu, namun dia tidak bisa mengeluh tentang hal itu di depan para perwira yang lain. Dia adalah satu-satunya perwira Pasukan Perdamaian yang pernah menjalani perang ketika Pasukan Ekspedisi masih ada, dan perwira-perwira Indonesia, Rusia, dan Korea Utara seluruhnya baru pertama kali menginjakkan kaki di dunia lain ini.


“Lettu Nio, saya tahu jika kamu mungkin masih takut untuk pergi lagi ke garis depan. Tapi, saya juga berharap kamu memiliki pandangan jauh ke depan.”


Sayangnya, atasannya dan komandan tertinggi Pasukan Perdamaian, Jendral Angga Mandala Sudarmono, tidak mendukung perspektifnya. Lagipula, ini adalah bagian dari perbaikan agar peristiwa di perang sebelumnya tak terjadi lagi. Dia berharap Nio mau menerima posisi itu begitu saja. Tetapi, bagi Nio yang telah melihat dengan matanya sendiri medan perang ketika 300.000 prajurit manusia dan monster Pasukan Aliansi menyerbu Pasukan Ekspedisi dengan jumlah 14.809 prajurit, rencana itu menurutnya terlalu berbahaya.


Nio Candranala telah berpangkat Letnan Satu setelah pulang dari medan perang yang mematikan bersama sisa prajurit Pasukan Ekspedisi. Dia masih takut akan hal itu, tetapi masih ada waktu untuk mengubah keadaan. Dia mengira jika rencana pembentukan Korps Pengintaian dan Pertempuran tidak akan terjadi, dan dirinya akan menjadi staf atau unit strategi. Dia tidak mengira jika perkataan si Panglima TNI itu benar-benar menjadi kenyataan, dan dirinya benar-benar terseret.


“Itu mimpi buruk! Rencana itu benar-benar berbahaya! ” Nio bergumam seperti itu di dalam hatinya. Meski hatinya merasakan perasaan gugup dan takut, namun Nio tetap menunjukkan ekspresi tenang demi menjaga formalitas.


“Kami telah mendengar jika Anda mendapatkan banyak pujian dari Presiden Suroso, dan melihat prestasi Anda selama menjadi prajurit.”


Yang berkata itu tadi adalah salah satu perwira Pasukan Perdamaian dari kontingen Rusia yang bernama Deska. Memang benar ada beberapa catatan yang mendukung pandangan Deska, namun Nio menganggap dirinya sangat membenci perkelahian.


Tetapi, pengakuan dari bawahan Nio di Regu penjelajah 1 mengatakan jika dia benar-benar bekerja keras untuk menjaga mereka selama penyerbuan besar Aliansi, dan hasilnya tidak ada satupun dari mereka yang gugur dan berhasil pulang. Mereka tidak mempedulikan gugurnya Chadra, karena pada saat itu Nio tidak memegang komando.


Kesimpulannya, Nio adalah satu-satunya perwira yang masih ragu-ragu untuk memimpin salah satu tim dari Korps Pengintaian dan Pertempuran. Desakan dari perwira yang lebih tinggi dan setara dengannya membuat beban dipikiran Nio menumpuk, namun meringankan beban bagi pasukan jika Nio setuju untuk memimpin salah satu tim.


“Dia masih memiliki keinginan untuk bertarung, tapi dia masih mempertahankan pikirannya yang benar demi menghindari kerugian,” sambung Mayor Teguh.


“Pada akhirnya saya dianggap telah matang melalui peperangan. Padahal saya belum pernah melalui pendidikan perwira.”


Jika itu adalah hal yang membuat Nio ragu untuk menerima posisi ketua tim, pandangan orang-orang di tempat ini mungkin berubah. Tapi, orang-orang justru menganggap jika menjadi perwira melalui jalur peperangan, lalu mendapatkan pujian dari banyak pihak, dan terpilih menjadi kstaria adalah hal yang sempurna.


“Kamu seharusnya tidak keberatan untuk memimpin sebuah tim dengan 12 orang termasuk dirimu, Letnan Nio,” ucap Kapten Lee Baek Ho.


“Pasukan tidak bisa membiarkan potensi prajurit yang cakap tersia-siakan. Kau harus tahu itu.”


Para rekan-rekan perwira membuat Nio harus membuat jawaban yang mantap yang tidak membuatnya menyesal di kemudian hari. Bahkan, dia tidak pernah berpikir jika harus berada satu ruangan yang penuh dengan perwira berpengalaman.


“Kalau begitu… saya tidak keberatan…” namun rasa gelisahnya masih ada.


“Baiklah, Letnan Satu Candranala menjadi kapten tim ke-12. Dan akan bertugas secepatnya.”


“Apa aku akan baik-baik saja? ”


Pembicaraan beralih ke topik selanjutnya.


Nio tidak tahu nama makanan yang ada di depannya, karena itu adalah hadiah Arevelk untuk pasukan ini. Dia menyukai rasa daging yang mirip dengan rasa daging ayam, dan itu adalah hidangan yang sulit didapatkan di medan perang. Di garis depan, akan sangat sulit mendapatkan makanan seperti ini lagi, kecuali ada sekelompok orang yang baik hati membagi makananya. Hanya prajurit di garis belakang yang biasanya mendapatkan makanan seperti itu.


Ruang makan ini rencananya juga akan digunakan untuk mereka yang kembali dari garis depan, dan akan mendapatkan menu eksklusif yang hanya bisa didapatkan di sini, seperti nasi padang yang hangat, bukan nasi padang yang didapatkan pada ransum yang hampir kedaluwarsa.


Namun, Nio berpikiran jika mi instan yang diseduh dalam gelas jauh lebih enak daripada makanan mewah yang dia konsumsi sekarang. Apakah pasukan ini ingin mengalahkan Aliansi untuk kontes ruang makan perwira terbaik dengan makanan terenak di dunia? Bahkan warteg pinggir jalan masih jauh lebih nyaman menurut Nio.

__ADS_1


Namun, jika pertemuan ini tidak ada maka Nio akan langsung diangkat menjadi ketua salah satu tim Korps Pengintaian dan Pertempuran tanpa melalui serangkaian masalah seperti tadi.


“Bagaimana menurutmu, Letnan Nio? Ini adalah ruang makan spesial untuk prajurit garis depan seperti kita?”


Nio tidak akan datang ke sini jika tidak menerima perintah dari Jendral Angga sendiri, dan itu adalah perintah yang tidak bisa ditolak meski dia harus dipaksa menghabiskan puluhan piring nasi padang.


“Siap, terus terang saya tidak terlalu terkesan---karena kita sedang dikelilingi oleh musuh, Pak.”


“Jawaban yang bagus, bukan begitu Kapten Baek Ho?”


Nio harus berhati-hati untuk tetap sopan untuk menanggapi pertanyaan jendralnya di pasukan ini, namun jawaban yang dia berikan justru memberitahukan isi hatinya yang sebenarnya. Dia tahu tentara dilatih untuk tetap menerima makanan apa yang mereka dapatkan, meski itu keasinan atau tidak ada rasanya sama sekali.


Perwira yang lain nampak sedikit menyukai respon Nio terhadap ruangan ini, bahkan Angga tersenyum geli, “Jawabanmu memang menunjukkan siapa diri mu, Letnan Nio. Tolong jangan menahan diri.”


“Saya memang menghargai setiap makanan yang didapatkan, tapi saya memiliki perut kecil,” komentar Nio.


Lalu, seluruh perwira selesai makan dan meminum habis minuman mereka dan keluar satu persatu meninggalkan Nio bersama Lee Baek Ho.


“Selamat atas kenaikan pangkat yang kamu terima, Letnan Satu Nio Candranala. Jujur saja, meski aku fasih dalam berbahasa Indonesia, tapi aku cukup kesulitan menyebut namamu.”


“Terimakasih, Kapten.”


Nio terpaksa tinggal di tempat ini sedikit lebih lama bersama Lee Baek Ho, meski begitu dia berterimaksih dengan ikhlas yang memang seharusnya begitu.


Dia sudah tahu, tanpa ucapan selamat dari Baek Ho, akan ada hal penting yang akan mereka diskusikan bersama atasan langsungnya itu.


“Sekarang, hanya tinggal kamu yang belum mendapatkan penjelasan tentang tugasmu.”


“Tapi, aku seorang prajurit, kemanapun aku diperintahkan untuk bergerak, aku akan menerimanya.”


“Ini untukmu. Ada beberapa prajurit yang bisa kamu pilih sendiri untuk kamu jadikan bawahan.”


Baek Ho dengan hati-hati mengeluarkan setumpuk kertas yang berisi pengajuan beberapa prajurit yang tertarik menjadi anggota Korps Pengintaian dan Pertempuran. Hampir semuanya berasal dari kontingen Indonesia, dan hanya segelintir kontingen Rusia dan Korea Utara yang tertarik dengan korps itu. Nio merasa jika para prajurit yang mengajukan diri adalah orang yang cakap, dan akan membuatnya berpikir keras untuk memilih 12 orang dari ratusan pendaftar yang belum mendapatkan panggilan.


Lalu, ada sebuah surat yang berisi jika Nio bebas memilih lokasi penempatannya.


“Mengingat pencapaianmu, pasukan tidak memaksakan apapun padamu. Pilih mana yang kamu suka.”


“Jadi semuanya bisa kupilih? Itu keputusan yang sulit.”


Baek Ho dengan serius memberi Nio beberapa masukan dari pemikirannya. Ini semua adalah formalitas mereka berdua, tetapi Baek Ho terlihat seperti perwira berpengalaman yang memberikan saran kepada prajurit muda yang bersemangat untuk memutuskan karir masa depannya. Yah… dia sudah tahu jika Nio memiliki pengalaman lebih tinggi darinya di medan perang, namun sekali lagi ini demi formalitas.


Kepala Nio telah berisi beberapa bayangan mengenai hal yang terjadi setelah dia memimpin tim ini. Biasanya itu akan mengganggunya, tapi dia terlihat menerimanya dengan senang hati. Dan, tidak biasa melihat kemampuan luar biasa dari seseorang yang begitu muda, bahkan Baek Ho yang berusia 35 tahun memiliki perasaan kagum terhadap Nio.


“Setelah memilih, kami sesegera mungkin akan membentuknya, dan kamu bisa segera bertugas.”


Menurut kabar, korps ini berisi prajurit yang memiliki kemampuan umum yang berada di tingkat lebih tinggi. Misalnya, mereka memiliki kemampuan menembak di atas rata-rata, terbiasa mengurus berbagai jenis racun, dan kemampuan bertempur jarak dekat yang hebat. Banyak orang yang mengatakan bahwa Nio cocok untuk berjuang di garis depan, dan dia melihat sendiri jika perkataan mereka benar. Mereka mengatakan bahwa Nio sangat menjaga bawahannya, gaya bertarungnya yang agresif adalah nilai tambah pada diri pemuda itu.


Intinya, dia adalah perwira lapangan yang santai, baik, dan ambisius. Tentunya dia bersedia memilih beberapa prajurit untuk dijadikan anggota dan melakukan tugasnya di garis paling depan, yang tidak akan mudah.


Dia harus mengatur mereka dan membangun otoritasnya atas mereka, seperti sewaktu memimpin Regu penjelajah 1. Tanpa bantuan tangan-tangan berpengalaman, tugas-tugas itu akan sulit, namun Nio merasa jika tim ini hampir sama dengan para bawahannya dulu.


Sejak awal rencana pembentukan, Korps Pengintaian dan Pertempuran akan berisi prajurit khusus, dengan peralatan yang paling baik dari pasukan reguler. Jika perlu, unit logistik siap untuk mendukungnya, dan para informan lokal juga telah disiapkan untuk memandu.

__ADS_1


Adapun di mana tim-tim dari Korps Pengintaian dan Pertempuran akan ditempatkan, utara dan barat merupakan tempat yang paling berbahaya. Tanah Suci adalah dataran tidak subur yang kini membentang di tiga negara, yakni Kerajaan Yekirnovo, Kekaisaran Luan, dan Kerajaan Arevelk. Perbatasan utara dikatakan cukup dekat dengan sebuah benteng yang dipertahankan puluhan ribu Pasukan Aliansi, sementara sisi barat dijaga sangat bangak prajurit Aliansi. Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru adalah wilayah yang berbahaya di sisi utara dan barat, karena berbatasan dengan Tanah Suci yang dikuasai Kekaisaran Luan. Namun, sisi timur dan selatan adalah perbatasan yang paling aman, karena berbatasan dengan negara sekutu, alias dengan Yekirnovo dan Arevelk.


Sebisa mungkin pasukan penjaga perbatasan dikirim di zona aman, alias area yang ditarik 3 kilometer ke dalam wilayah Daerah Istimewa dari garis perbatasan yang telah ditetapkan. Pasukan hanya perlu menerima dan memanfaatkan yang terbaik, termasuk bentuan pasukan dari Arevelk dan Yekirnovo.


Nio mendapatkan semua ini melalui usahanya sendiri, dan dia harus merasa bangga dengan semua pencapaiannya.


Yang paling penting, pemuda itu tidak membiarkan posisi perwira dan hak khusus sebagai personel pasukan khusus membuatnya besar kepala. Dia adalah orang yang santai dan selalu terbuka dengan bantuan yang dia terima, namun hal itu semakin membuatnya bekerja lebih keras. Bagi kebanyakan perwira yang lebih tinggi darinya, Nio adalah perwira yang langka.


**


Nio adalah salah satu perwira penghuni kantor staf ini, bersama puluhan prajurit lainnya yang sedang mempersiapkan sesuatu. Namun berbeda dengan orang-orang yang dengan sepuluh jari mengetik tombol pada keyboard dan mata yang seperti tidak bisa lepas dari layar monitor, Nio dihadapkan dengan tumpukkan kertas yang berisi formulir calon personel tim ke-12 Korps Pengintaian dan Pertempuran.


Dia harus memilih 12 orang dari 300 orang yang berniat menjadi bagian dari korps khusus ini, dan itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebagian tim telah melaksanakan tugas pertama, dan hanya tim ke-12 yang belum terbentuk dan belum mendapatkan tugas pertama. Kabar baiknya itu bukanlah masalah, karena mereka memiliki waktu yang masih lama di dunia lain ini.


Akal sehat akan memerintahkan pemiliknya untuk tidak menuju ke garis depan yang penuh dengan hal tak terduga. Namun, para prajurit yang berminat menjadi personel korps ini seakan-akan mengatakan, “Tolong ajak kami menuju garis depan, sepertinya di sana adalah tempat yang indah. Terimakasih”, dan gaji yang mereka terima meski telah berjuang keras masih sama saja, dan tidak akan naik selama anggaran pertahanan tidak naik juga.


Nio berpikir jika dia setidaknya membutuhkan waktu dua hingga tiga hari untuk menentukan siapa yang akan menjadi anggota tim dan bawahannya. Tapi, dia ingin melaksanakan tugas secepatnya daripada terus terkurung di benteng setengah jadi ini. Dia bisa membayangkan wajah antusias prajurit yang berminat untuk menjadi personel korps ini, dia bahkan bisa membayangkan wajah kecewa mereka yang tidak terpilih.


“Apa ini memang tugas perwira?” dia mengerang dan mengeluh pada dirinya sendiri, dan meremas-remas kepalanya sambil sedikit menarik rambutnya. Tidak mudah mendapatkan bantuan sekarang, karena pastinya orang-orang yang ingin dia mintai tolong sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Daripada bekerja di dalam ruangan dan terus menatap tumpukan kertas dan layar monitor dengan jari yang menekan tombol keyboard, dan melihat pemandangan yang sama setiap hari, kapten Tim ke-12 Korps Pengintaian dan Pertempuran, Letnan Satu Nio Candranala, lebih suka melakukan tugas lapangan yang mengharuskannya berkeliling dunia ini.


Nio hampir kehabisan akal, merenung dengan cemas pada tumpukan ratusan kertas di hadapannya. Ketika dia melihat salah satu staf sedang berbicara dengan ajudannya, dia teringat dengan seseorang yang direkomendasikan untuk menjadi anggota pertama dalam timnya, dan itulah yang membuatnya berharap memiliki bawahan pertama juga.


“Prajurit Satu Anggita Nugroho Arumsari, melapor untuk bertugas.”


Kepala Nio benar-benar sibuk memikirkan betapa dia membutuhkan banyak orang untuk membantu menyelesaikan pekerjaannya. Dan, di depannya berdiri seorang prajurit perempuan memberinya hormat sesuai protokol. Dia adalah salah satu orang yang direkomendasikan untuk dijadikan anggota dalam timnya. Lalu, Nio sudah beberapa kali bertatap muka dengannya… karena gadis di depannya adalah anak dari mantan atasannya di Pasukan Ekspedisi.


Laporan gadis yang bisa disapa dengan panggilan ’Gita’ membuat Nio berhenti sejenak, dan dia hanya bisa menanggapi laporan gadis itu dengan biasa. Gadis itu melapor pada Nio untuk pertama kalinya, sekaligus kali pertama mereka berdua berbicara. Nio mengangkat kepalanya ke arah wajah yang familiar, dan dia menyadari jika wajahnya hampir kram setelah membalas laporan anak dari Sucipto tersebut.


“Terimakasih, syukurlah kau datang tepat waktu,” Nio mencoba menjadi atasan yang perhatian. Namun Nio tidak berpikir jika memiliki bawahan pertama seorang perempuan akan mempermudah pekerjaannya.


“Ijin bertanya, apa saya diterima menjadi anggota Tim ke-12?”


Nio telah membaca setiap syarat yang dibutuhkan untuk menjadi personel korps tersebut, dan dia sudah memeriksa formulir milik Gita yang membuat gadis itu benar-benar berpotensi menjadi bawahan pertama Nio. Lalu, pertanyaan gadis itu yang langsung ke intinya membuat Nio cukup mengetahui karakter Gita.


Bagaimanapun, Nio hanya berharap memiliki bawahan yang kompeten dan membuat pekerjaannya lancar. Tapi, dia sama sekali tidak berharap jika bawahan pertamanya di Pasukan Perdamaian adalah anak dari mantan atasannya sendiri.


“Oke, Pratu Gita. Maaf sebelumnya, tapi aku ingin kamu memanggil orang-orang ini.”


Nio menyerahkan sebuah kertas yang berisi 25 daftar orang beserta fotonya kepada Gita. Nio tidak tahu kegiatan apa yang telah dilakukan Gita, namun gadis itu terlihat siap melakukan tugas darinya.


“Siap. Saya akan segera mencari dan meminta mereka untuk bertemu dengan Anda.”


“Tunggu… apa boleh aku minta tolong satu lagi?”


“Siap. Silahkan.”


“Kita kan sama-sama dari Tentara Pelajar, aku ingin kau berbicara biasa dengan ku.”


Permintaan Nio diterima dengan senang hati oleh Gita, meski hal itu sedikit membuat gadis itu sedikit tidak nyaman dengan mantan bawahan ayahnya. Dia kemudian memberi hormat kepada Nio sesuai protokol, dan berjalan keluar ruang staf untuk melaksanakan tugas pertamanya dari atasannya.


“Kenapa mereka ada di sini?”

__ADS_1


Nio melihat beberapa pendaftar, dan mereka adalah orang-orang yang dikenalnya selain Gita dan Liben. Tentu saja Nio merasa jika mereka adalah anggota yang potensial karena pernah menjalani pendidikan pasukan khusus bersama.


__ADS_2