
Liben membagi Regu menjadi 3 tim, dan dia memimpin tim 2 yang berada di tempat terpisah dengan tim 1 yang hampir berhadapan dengan musuh.
Prajurit sedikit membungkuk dan memantau sekitar dengan bidikan optik mereka, sementara beberapa orang melihat ke arah tembakan, yang lain menoleh ke arah lain untuk mencegah siapapun melewati jangkauan pandangan mereka.
“Di sana… mereka melarikan diri ke arah selatan desa!”
Peringatan itu disertai dengan suara tembakan beruntun pendek.
Saluran komunikasi tim melaporkan jumlah dan arah pelarian musuh. Setelah menerima perintah komandan Regu, pemimpin tim membawa anggotanya ke selatan, tempat musuh nampak melarikan diri.
Waspada! Menyebar!
Mengindahkan isyarat tangan dari pemimpin mereka, anggota Regu yang membentuk tim menyebar dan siap menyambut datangnya musuh.
Musuh yang menyerang wilayah sekitar tidak terlihat seperti pasukan Kekaisaran dan Kerajaan Hrabro. Karena mereka melakukan serangan dengan pakaian yang mirip dengan petani. Tidak ada cara untuk mengetahui apakah mereka tentara musuh atau petani yang ketakutan dan menggunakan alat pertanian mereka sebagai senjata karena takut pada tentara TNI. Jika seperti itu, anggota tim 1 tidak punya pilihan selain memperlakukan siapapun yang mengarahkan senjata ke mereka sebagai musuh potensial, bahkan jika mereka tidak bersenjata mereka masih harus dianggap sebagai musuh potensial.
“Siapapun yang lari adalah musuh! Siapapun yang berdiri diam sambil membawa pisau adalah musuh yang dilatih dengan baik!” kalimat itu sering digunakan dalam film perang untuk mengejek segala ketidakmungkinan di medan perang, tapi pada kenyataannya seorang prajurit yang mampu mempertahankan inderanya dalam kegilaan perang itu tidak normal.
Ketika benar-benar memikirkannya, bagaimana bisa prajurit memaklumi pembunuhan orang? Siapapun yang bisa dengan tenang dan logis mengakhiri hidup seseorang mungkin lebih menakutkan daripada orang gila. Tapi, wajar saja seorang prajurit bisa membunuh dengan tenang, karena mereka didorong oleh kegilaan medan perang.
Selain itu, sudah menjadi hal umum di militer bahwa orang-orang yang tidak mengidentifikasi diri mereka sebagai musuh atau kawan, serta memperlihatkan diri sebagai kombatan, tidak akan diberikan hak-hak warga sipil.
Tetap saja, ada hati yang berdarah bagi siapapun yang memihak mereka yang melanggar hukum perang, dan bersimpati terhadap warga sipil yang dijadikan tameng hidup. Pasukan yang menggunakan warga sipil sebagai tameng, akan dihancurkan. Tetapi, hati yang berdarah malah mengarahkan jari mereka ke tentara yang memburu pasukan yang menjadikan warga sipil sebagai tameng, dan menyebut mereka ‘pembunuh’ dan ‘hewan berdarah dingin’ (hal ini mengarah pada pemegang moral yang ingin menjaga tangan mereka tetap bersih dari kesalahan).
Memang, pasukan TNI yang dikirimkan di sini bukan untuk mengusir musuh, tetapi untuk membinasakan mereka. Siapapun yang menggunakan orang tak bersalah sebagai tameng hidup tidak pantas menerima apapun kecuali pemusnahan, seperti hama dan parasit. ******* menyebarkan kebencian dan penderitaan, mengancam kedamaian dengan alasan ‘perjuangan’. Mereka mengaburkan garis antara masa damai dengan masa perang, dan itu adalah tindakan tercela. Biasanya, orang akan menyalahkan pasukan yang bersembunyi di belakang warga sipil karena melibatkan mereka dalam peperangan.
Katanya, tentara bersenjata lengkap dipaksa memainkan peran mereka sesempurna mungkin.
Medan perang adalah tempat dimana kesalahpahaman kecil dan kegagalan kecil berubah menjadi situasi yang sangat rumit. Untuk melindungi rekan dan bertahan hidup, ada satu aturan ketat “Jika terlihat seperti musuh, tembaklah!”. Namun, tentara diharuskan memiliki pengamatan sempurna terhadap target mereka, seolah-olah mereka adalah mesin pembunuh. Jika mereka tidak sanggup melakukan ini, mereka akan dicap sebagai ‘cacat’.
Tetapi, mental pasukan musuh sudah dikalahkan bahkan sebelum mereka menghadapi peluru dan roket pasukan pemburu mereka.
Anggota tim 1 melihat apa yang tampak seperti kelompok pedagang dan gerobaknya, dan mereka mengarahkan laras senapan pada kelompok ini. Total ada delapan orang pedagang, dan semuanya warga Kekaisaran.
“Berhenti!”
Anggota tim 1 memanggil dengan bahasa yang mereka pelajari dari Nio, dan pendidikan bahasa di markas. Mereka mengepung gerobak ini dan menodongkan senapan ke arah orang-orangnya.
Mungkin kelompok pedagang itu tidak mendengar, karena mereka mengabaikan anggota tim dan berusaha menerobos. Pemimpin tim melepaskan tembakan peringatan di dekat kaki kuda untuk menakut-nakuti mereka, kuda yang terkejut itu berdiri dengan dua kaki belakangnya.
Pengemudi yang panik menarik tali kekang dengan kuat untuk menenangkan kudanya. Setelah kudanya tenang, dia dengan patuh mengangkat tangan.
Gerobak barang perlahan berhenti.
Para prajurit membentuk setengah lingkaran di sekitar gerobak. Hal ini agar mereka tidak menghalangi garis tembakan rekan-rekan mereka. Kemudian dengan hati-hati, mereka mengarahkan senjata masing-masing pada orang-orang itu dan memerintahkan mereka turun dari kereta.
“Bolehkah saya tahu apa yang anda inginkan? Kami adalah pedagang keliling, apakah ada barang yang anda butuhkan?”
Suara rendah hati dan santun ini datang dari pria berkumis berantakan di kursi pengemudi gerobak pedagang.
Anggota tim 1 membidik tubuh bagian bawah mereka.
Prajurit dunia ini, khususnya pasukan Kekaisaran mahir dalam menggunakan pedang dan tombak, dan teknik beladiri mereka setara dengan seorang atlet MMA kelas ringan. Jadi, mereka dilatih untuk merespon dengan cepat serangan yang ditujukan ke kepala dan dada mereka. namun, perut dan tubuh bagian bawah tidak bisa bergerak tanpa gerakan tubuh bagian bawah. Dengan demikian, mereka memiliki kelincahan yang lebih rendah, dan menjadi target yang mudah bahkan dalam sengitnya pertempuran.
“Kenapa kalian berusaha melarikan diri?”
Pemimpin tim mulai menginterogasinya sambil mempertahankan jarak beberapa langkah dari gerobak itu.
Pria berkumis berantakan itu sepertinya perwakilan dari kelompok ini. Dia mengangkat tangan dan menjawab:
“Bukankah itu sudah jelas? Kami akan melewati desa ini, dan melihat kepulan asap dari kejauhan. Kami ingin melihat apa yang terjadi, tetapi kami melihat bahwa desa itu dalam keadaan terbakar seperti ini. Jadi, menyelamatkan diri hal yang masuk akal bukan?”
Singkatnya, pria itu bergumam tentang bagaimana desa ini sudah seperti ini ketika mereka belum tiba di sini.
Itu alasan yang cukup masuk akal. Tetapi jika mereka melepaskan kelompok ini begitu saja, tidak ada gunanya menghentikan kelompok ini. pemimpin tim melapor pada komandan Regu, dan kemudian dia bertanya pada pria berkumis berantakan, “Bolehkah kami memeriksa gerobak anda?”
“Ah… yah… itu…”
“Apa ada hal yang kamu tidak ingin kami lihat?”
Para pedagang saling menatap, dan dengan enggan menarik kain penutup barang bawaan mereka.
Ada tumpukan furnitur, persediaan konsumsi, dan barang berharga lainnya di dalam gerobak. Dan sulit untuk memastikan apakah barang-barang ini masih baru atau sudah lama. Pemimpin tim memeriksa barang-barang ini sekali lagi sambil bergumam, “Sepertinya barang-barang ini diambil dari rumah-rumah sekitar.”
Ada sebuah kotak berukuran cukup besar di dalam gerobak, dan itu menarik perhatian pemimpin tim. Dia baru saja akan memerintahkan bawahannya untuk membuka kotak ini, tapi pria berkumis itu mencoba menghentikan mereka.
“Ayo dilihat-lihat dulu, itu semua barang dagangan yang bagus.”
Pria itu kemudian mendesah panjang dan dalam.
Lalu pria berkumis itu melanjutkan perkataannya, “Ya, sebagian barang (barang curian) kami temukan di pinggir jalan. Tapi kami tidak bisa berbisnis jika kami dihalangi seperti ini.”
“Di mana anda berencana menjualnya?”
“Dimana pun. Di masa perang, anda bisa menjual apapun di mana saja.”
“Maksudmu?”
__ADS_1
“Apapun, anda bisa menjual apa saja. Makanan, peralatan, kebutuhan sehari-hari, juga alkohol. Kami juga menjual budak, ya, budak perempuan. Apakah anda menginginkan budak perempuan? Kami menyediakan semua jenis budak. Pasti ada yang sesuai dengan selera anda dan bawahan anda. Intinya, kami dapat menjual apapun yang anda inginkan.”
Pria berkumis itu tersenyum cabul saat mengatakan tentang budak perempuan.
“Dan, tujuan kalian?”
“Tanah Suci, saya mendengar jika tempat itu kini menjadi sebuah kota kecil. Dan menurut beberapa informan, di sana juga berdiri sebuah benteng yang sangat besar.”
Pria berkumis itu sepertinya merasakan perubahan suasana, dan mulai bertanya apakah perkataannya salah. Namun, anggota pria itu tidak bisa menahan diri. Sebagai satu kesatuan, mereka menarik senjata tersembunyi dan bersiap untuk menghadapi prajurit TNI dalam pertarungan hidup atau mati.
Anggota tim sudah mengantisipasi situasi seperti ini. Anggota tim mundur beberapa langkah, dan mereka tidak mengalami kesulitan menghadapi situasi ini.
Anggota tim 1 menembak orang-orang bersenjata pedang di perut dan kepala. Lalu, pria berkumis itu dikepung dengan tiga laras senapan di kepalanya sebelum dia menghunus pedangnya.
“Mereka pasti orang-orang yang menyerang desa!” salah satu anggota tim meneriaki orang-orang yang tewas sambil menunjuk senjata yang mereka bawa.
Pedang yang mereka pegang masih berlumuran darah, darah yang mungkin miliki penduduk desa. Pangkal pedang memiliki lambang bendera perang pasukan Kekaisaran Luan.
“Apa yang kalian lakukan sebelumnya!? Membantai warga sipil?”
Tim 2 yang dipimpin Liben dan ketiga jurnalis berlari mendekati tim 1. Wajah Liben hampir saja pucat setelah melihat anggotanya menghabisi beberapa orang.
“Tidak, mereka adalah gerilyawan Kekaisaran Luan.”
Namun, jurnalis senior itu berkata seperti meragukan fakta yang dikatakan ketua tim 2 dengan mengucapkan, “Apa kau mencoba mencegah kami mengungkap kebenaran tentang bagaimana pasukan ini membunuh warga sipil?”
Liben hampir menghajar jurnalis itu, namun sepuluh bawahannya bersusah payah menahan Liben yang hampir kehilangan kesabarannya.
Jurnalis senior itu memanggil juru kamera yang sedang merekam mayat-mayat yang tergeletak.
“Aku ingin foto mayat yang bagus, pastikan kau memperlihatkan wajahnya. Dan pastikan kau tidak memasukkan atribut TNI atau sejenisnya di dalam foto!”
Sesuai dengan arahan jurnalis senior, juru kamera dan asistennya mulai merekam mayat tentara Kekaisaran yang menyamar sebagai pedagang.
Liben merasa bahwa ini akan menjadi berita utama selama satu minggu berturut-turut, jadi dia menjelaskan beberapa orang yang sudah dihabisi dan lambang tentara Kekaisaran pada pedang. Liben memerintahkan pria berkumis yang tertawan untuk membuka kotak dan beberapa barang bawaan di gerobak.
Sebagian anggota Regu membantu menurunkan barang bawaan dan kotak-kotak. Setelah itu, anggota tim membuka sebuah kotak yang cukup besar.
Mereka menemukan pakaian seperti seragam loreng TNI!
“Anjing! Pasukan Kekaisaran ini melakukan penjarahan dengan pakaian ini ya.”
Juru kamera merekam barang bukti yang sudah dikeluarkan dari dalam kotak.
Tumpukan pakaian ini tidak terlihat seperti seragam loreng TNI yang asli, tetapi hal itu cukup bagi korban untuk menyebarkan rumor tentang ‘pasukan hijau yang menjarah desa’.
“Kalau mereka tidak membunuh musuh, siapa yang akan melindungi orang tolol seperti mu?” gerutu anggota Regu, dan tampaknya seluruh orang di Regu menyetujui gerutuan itu.
Liben kemudian memerintahkan pria berkumis untuk membuka kotak yang paling besar daripada kotak-kotak kayu yang lain, kotak besar itu sudah menarik perhatiannya dari tadi.
Ada seorang gadis di dalam kotak, dia meringkuk dan berlumuran darah dan lumpur. Dia gemetar ketakutan setelah tutup kotak terbuka. Gadis ini berasal dari Demihuman spesies kucing. Rambutnya berwarna kecoklatan dan tangan serta kakinya memiliki cakar yang tajam, dan dilehernya terpasang kalung budak.
Liben menepuk kepalanya untuk menghiburnya, dan bertanya, “Siapa namamu?”
“Kuchez.”
Liben kemudian menoleh kembali ke pria berkumis yang kedua tangannya sudah terangkat tinggi, dan dengan keras bertanya.
“Kalau begitu, dimana markas mu!? Di mana wilayah operasi mu!? Berapa kekuatan utama pasukan Kekaisaran!? Aku akan memastikan kau mengatakan semuanya!”
Perlu ditekankan, jika ada pihak luar yang menyaksikan adegan ini, mereka akan keras menuntut orang-orang seperti pria berkumis ini layak diperlakukan seperti tawanan perang.
Regu penjelajah 1 akan menyerahkan pria berkumis itu ke basis pertahanan garis depan, di pinggiran ibukota Kekaisaran.
Ekspresi pria berkumis itu ketakutan dan gemetar saat kamera merekam dirinya.
Liben menghentikan interogasinya, dan berkata dengan nada tegang, “Apa? Kau melihat sekawanan monster di dekat desa?”
Seluruh anggota Regu menjadi tegang ketika mereka mendengar kata-kata Liben.
Chandra, yang berdiri di samping jurnalis senior menjelaskan untuknya.
“Monster adalah sejenis humanoid yang memiliki akal setara balita berusia 2-5 tahun. Namun mereka memiliki tubuh dan kekuatan yang besar, meski sebagian monster memiliki tubuh kecil dan bertarung secara berkelompok. Akhir-akhir ini, musuh menggunakan monster sebagai senjata.”
Sebenarnya, Chandra menjelaskan hal itu dengan terpaksa, namun jurnalis senior itu terus mendesaknya untuk menjelaskan semua yang dia tahu. Beberapa anggota Regu melindungi dari segala sisi warga sipil tersebut.
“Daerah ini menjadi sangat berbahaya, ayo pergi. Aku akan memanggil penerbang helikopter pengangkut untuk menjemput kita.”
“Jangan bodoh! Jika ada makhluk berbahaya di sini, apa kami tidak bisa merekamnya?”
Jurnalis senior itu mengatakannya sambil menunjuk ke arah para prajurit, yang bersiap untuk menuju titik penjemputan.
“Bukankah kalian semua ikut? Kami pasti akan aman bersama kalian kan?” si jurnalis senior merengek.
“Chandra, apa kau punya susu formula?”
“Eh, bukannya gadis Demihuman yang kita temukan itu sudah remaja?”
__ADS_1
“Bukan untuk gadis ini, tapi untuk dia,” Liben mengatakan itu sambil menunjuk jurnalis senior yang mengoceh tidak jelas.
Komandan Grup Tempur 6 sudah memutuskan untuk menghadapi monster yang muncul.
Monster dunia lain adalah ancaman, dan beberapa jauh lebih berbahaya dari hewan paling berbahaya di dunia asal. Tapi, para monster bukanlah makhluk yang bisa dikendalikan dari kejauhan. Mengalahkan para monster mungkin bisa mengalahkan pasukan gerilya Kekaisaran.
Liben menyerahkan gadis itu ke Dinda, dan berkata, “Jaga dia baik-baik”
“Oi… apa yang kau ingin aku lakukan dengan dia?”
“Beri dia susu… dadamu pasti menyimpan banyak susu kan?”
“Jangan bercanda, aku tidak bisa mengeluarkan susu sebelum punya bayi!”
Beberapa saat kemudian, suara gemuruh di udara terdengar dan menyamarkan teriakan Dinda. Serangkaian ledakan terdengar dari sisi barat desa.
Dukungan tembakan sudah dimulai.
Anggota Grup Tempur 5 dan 6 turun dari helikopter pengangkut menggunakan tali kawat.
Helikopter penyerang melepaskan roket mereka, sementara pasukan di darat juga melepaskan tembakan. Suara ledakan terdengar di mana-mana, dan Seluruh anggota Regu penjelajah 1 menoleh ke sumber suara.
**
Nio dengan cepat menuju pemandian, dan melepaskan seragam lapangannya. Kemudian mengoleskan sabun di bagian wajahnya yang sudah di tutupi oleh rambut, dan mulai mencukurnya dengan cukuran kumis sekali pakai.
Dia sebenarnya jarang melakukan perawatan wajah seperti itu, dan membiarkan wajahnya dihiasi dengan kumis dan jenggot tipis.
Tapi, Nio lupa jika setelah menyambut Pasukan Eskpedisi gelombang kedua, dia harus menghadiri pertemuan bersama petinggi militer Negara Yekirnovo dan Kerajaan Arevelk. Dalam pertemuan itu, dia bertugas sebagai penerjemah, dan perwakilan Pasukan Ekspedisi dari kalangan Tentara Pelajar.
Namun, dia masih belum tahu tujuan dari pertemuan ini, karena dia diberitahu untuk menghadiri pertemuan ini beberapa menit setelah melakukan pekerjaan penyambutan.
**
Sucipto telah mendapatkan e-mail dari Panglima TNI, yang pesannya berisi jika Kementerian Pertahanan melalui Presiden mengijinkan pengiriman beberapa kapal perang, dan pesawat militer tambahan.
Itu adalah hal yang menakjubkan, karena pemerintah memberikan ijin dalam waktu dua hari setelah Sucipto mengirimkan pesan.
Alasan Jendral Pasukan Ekspedisi tersebut meminta pengiriman kapal perang dan pesawat militer tambahan, karena kabar Kekaisaran dan beberapa negara lainnya telah membentuk Pasukan Aliansi untuk memerangi mereka.
Tanpa ada kata ragu, Suroso menyetujui pesan itu dan memerintahkan beberapa perwira tinggi Angkatan Udara dan Angakatan Laut untuk dikirimkan ke dunia lain.
**
Pembantu Letnan Satu Nio sudah tiba di depan pintu pertemuan. Beberapa perwira perempuan memperhatikan dengan sungguh-sungguh tubuh tegap Nio saat pemuda itu sedang memeriksa kelengkapan pakaiannya.
Pemuda itu tidak merasa sedang diperhatikan, dan lebih berfokus pada pertemuan penting ini.
Setelah mengetuk pintu dan melangkah ke dalam ruang pertemuan, dia sudah disambut seluruh tamu yang sudah tiba lebih dulu dari dia. Beruntungnya Nio, dia tiba di pertemuan 30 detik sebelum pertemuan resmi dibuka.
Nio duduk di tempat yang khusus disediakan untuknya, dan terlihat beberapa kertas tertumpuk di tempatnya. Nio berada di barisan bersama para perwira Angkatan Darat. Melalui gumaman seluruh orang di ruangan ini, Nio merasa jika pertemuan ini berada di tingkatan lebih tinggi dari sekedar kata ‘sangat penting’. Karena bisa saja pertemuan ini membahas perang dengan Pasukan Aliansi.
Target penyerangan Pasukan Aliansi adalah Tanah Suci, itu berarti mereka harus melewati Negara Yekirnovo jika ingin menyerang Pasukan Ekspedisi. Jadi, Nio mengira jika pertemuan ini akan membahas mengenai militer Negara Yekirnovo yang membutuhkan bantuan Pasukan Ekspedisi untuk menghadapi Pasukan Aliansi musuh.
“Jendral Indonesia, apa yang anda inginkan dari pertemuan ini?”
Yang pertama berbicara adalah panglima Kerajaan Arevelk, dia nampak jauh lebih tua dari Sucipto. Namun, dibanding Sucipto yang berperut buncit, pria paruh baya tersebut jauh lebih berotot.
Nio menerjemahkan kata-kata dari panglima Kerajaan Arevelk, dan beberapa perwira mencatat apa yang Nio katakan, sementara Sucipto hanya mengangguk sebagai tanda jika dia mengerti maksud pertanyaan itu.
“Kami, Tentara Nasional Indonesia, memohon ijin untuk mengirimkan armada laut kami yang kecil.”
Menurut orang-orang dunia lain yang berada di pertemuan ini, arti kata ‘kecil’ yang Sucipto nampak tidak seperti yang diucapkan pria itu.
Karena, meriam berjalan, atau tank yang mereka lihat memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari meriam yang dimiliki negara-negara di benua ini. Lalu, artileri yang dimiliki Pasukan Ekspedisi jauh lebih menghancurkan daripada balista atau ketapel raksasa milik militer Kerajaan Arevelk yang menembakkan artileri berupa batu dan tombak besar. Dan pesawat tempur yang sering terbang di langit Negara Yekirnovo dan Kerajaan Arevelk, jauh lebih kuat dari naga dan wyvern milik angkatan udara kedua negara.
Meski begitu, semua persenjataan yang ada di tempat ini adalah sebagian kecil dari yang dimiliki militer negara asal pasukan hijau.
“Jangan merendah seperti itu, Jendral Indonesia. Saya tahu jika kapal perang milik anda jauh lebih kuat dari raja naga laut.”
“Ya, saya yakin jika armada laut ‘kecil’ anda dapat dengan mudah ******* angkatan laut musuh.”
Kerajaan Arevelk sudah memutuskan jika Kekaisaran Luan dan Aliansinya sebagai musuh, setelah mempertimbangkan beberapa hal, termasuk mereka yang sudah menculik beberapa rakyat Kerajaan untuk dijadikan tumbal membuka Gerbang dengan sempurna.
Lalu, yang menjadi masalah utama adalah “Kapan pasukan musuh tiba di Benua Andzrev dan bergerak ke Tanah Suci?”
Tidak mungkin kapal sekelas KCR diangkut memasuki Gerbang tanpa dibongkar terlebih dahulu. Dan perakitan sebuah kapal membutuhkan waktu cukup lama bila tanpa dikerjakan tenaga ahli yang memadai. Pemimpin negara yang ada di pertemuan ini belum tentu memberikan ijin Pasukan Ekspedisi mendirikan galangan kapal untuk perakitan kapal-kapal perang yang sudah dikirimkan.
Jika perakitan dilakukan di darat, maka pengangkutan kapal ke pesisir juga membutuhkan waktu dan tenaga. 10 helikopter pengangkut besar bisa saja membawa sebuah kapal kelas Fregat melalui jalur udara, namun jika itu benar-benar dilakukan, maka dana yang dibutuhkan juga lebih besar.
“Jika pasukan ini perlu membangun galangan kapal, kami memiliki tempat yang cocok.”
Sheyn memberikan pendapatnya, dan itu membuat Sucipto tersenyum setelah kata-katanya diterjemahkan oleh Nio.
“Tapi, yang menjadi masalah adalah pengangkutannya. Pasukan kami mungkin tidak memiliki dana yang cukup untuk melakukannya.”
“Kalau itu jangan khawatir, penyihir Kerajaan Arevelk bisa membuka Gerbang yang tidak sempurna. Tapi kami juga harus melihat seberapa besar kapal perang yang akan anda bawa.”
__ADS_1
Kalau begitu, jika pasukan penyihir Sigiz benar-benar akan membuka Gerbang yang tidak sempurna, maka galangan kapal tidak diperlukan. Dan yang dibutuhkan tinggal pelabuhan sebagai tempat bersandar kapal-kapal perang.