
26 April 2321, pukul 13.39 WIB.
**
Hal yang terakhir dilakukan biasanya akan terasa sulit dan lama jika perasaan tidak stabil. Lelah fisik dan mental dirasakan seluruh peserta tes terakhir, termasuk Regu 3. Sementara untuk menjadi bagian dari pasukan khusus harus dapat berpikir jernih dibawah tekanan tersulit dan memiliki fisik yang lebih baik dari prajurit reguler.
Hingga hari ini, sebanyak 15 anggota Regu 3 tidak lulus tes survival dengan berbagai alasan dan menyisakan 17 anggota. Salah satu anggota Regu yang dipulangkan adalah Arista. Kebanyakan penyebabnya adalah masalah fisik, sisanya tidak sanggup melakukan perintah pelatih yang hampir mendekati batas kemampuan.
Jika ditotal dengan seluruh Regu, sebanyak 45 peserta tes dinyatakan tidak lulus dan dipulanglan ke Kesatuan awal dan menyisakan 85 peserta.
Namun jangan dikira jika peserta yang tidak lulus pulang hanya membawa rasa lelah dan sakit saja. Mereka akan mendapatkan piagam untuk menyatakan jika pernah mengikuti pelatihan PPK dan sebuah lencana berbentuk kapas dan sayap berwarna perunggu sebagai fungsi yang sama dengan piagam.
Selain piagam dan lencana, peserta tes yang tidak lulus juga akan membawa pengalaman dan kebanggaan saat kembali ke Kesatuan awal. Mereka bisa menceritakan hal yang dialami saat mengikuti latihan dan tes yang keras kepada rekan-rekan mereka di Kesatuan awal. Setidaknya peserta tes yang tidak lulus kembali dengan kepala tegak dan rasa bangga.
Sangat tidak keren jika perjuangan yang keras tidak dibayar dengan hal yang sepadan.
**
Anggota Regu 3 yang tersisa berusaha untuk tiba di titik pertemuan terakhir yang berada di Cemorosewu.
Mereka harus berusaha keras melangkah di jalur yang curam dengan tenaga yang tersisa. Sementara itu perbekalan hanya tersisa satu buah ransum dan satu bungkus mi instan.
Selama mendaki, mereka belum menemukan bahan makanan yang dapat dimakan. Kecuali rumput yang tumbuh subur di sekitar jalur.
Meski jalur yang dilalui berupa batu yang ditata, namun jalur yang curam membuat anggota Regu 3 mengeluarkan tenaga lebih.
Titik pertemuan terakhir merupakan bekas pos 1 pendakian Gunung Lawu jalur Cemorosewu. Sebelum perang dengan pasukan dunia lain dan berita perang dunia ke-3 mulai tersebar, dulunya Gunung Lawu adalah gunung yang terkelan di kalangan pendaki.
Semenjak terjadinya perang melawan pasukan dunia lain, seluruh warga lebih mementingkan keselamatan diri dan negara.
Meski beberapa masih merasa tidak peduli dan bergantung dengan TNI, tidak sedikit kelompok warga dengan senjata seadaanya ikut melakukan perlawanan dan menjadi pasukan sukarela yang sangat mudah mati.
Mari kembali ke kelompok yang terlihat seperti pasukan ‘mudah mati’. Karena anggota Regu 3 yang tersisa berjalan cukup lambat dan dengan wajah yang pucat.
“Berhenti!, kita istirahat dulu…,” ucap Nio dengan lemas dan menggunakan tenaga yang tersisa.
__ADS_1
Seluruh anggotanya kemudian berhenti dan duduk di sekitar jalur. Sementara itu jauh dibelakang mereka ada Regu 1 yang terlihat tidak segera mendahului Regu 3.
Mereka mengeluarkan wadah air dan meminum isinya yang tersisa beberapa teguk saja. Bahkan beberapa justru kehabisan persediaan air dan membuat anggota saling berbagi meski dengan perasaan ‘terpaksa’.
Nio memberikan sisa airnya pada anggotanya yang membutuhkan dan mulai berbaring diatas rumput yang masih berembun.
Selama hampir seminggu ini, seluruh anggota Regu 3 tidak mandi dan hanya berendam sejenak saat diperintahkan menyebrang sungai ketika berada di titik pertemuan sebelumnya.
Itu sebabnya ada beberapa anggota yang perempuan lebih mementingkan penampilan daripada lelah yang mereka rasakan.
Para anggota perempuan juga membuat obrolan semacam, “Setelah ini, bagaimana caraku untuk membersihkan rambutku yang kusut ini?”
Namun hal yang dikhawatirkan anggota yang laki-laki adalah kekasih mereka yang ditinggal untuk mengikuti pelatihan ini.
Para anggota yang laki-laki juga merasa fisik mereka berubah saat mengikuti pelatihan, kulit yang menggelap misalnya.
Anggota Regu 3 memanfaatkan waktu istirahat yang sangat terbats ini dengan berbagai cara. Menggosip, berbagi cerita dan tidur dengan menggunakan ransel sebagai bantalnya.
Nio kemudian membuka helm yang menutup wajahnya dan memeriksa jam tangannya dan setelah itu berkata, “Mari lanjutkan perjalanan kalau semuanya sudah siap.”
Nio kemudian kembali memimpin anggota Regu 3 yang tersisa ke titik pertemuan terakhir.
**
Titik pertemuan terakhir ternyata berada di sebuah sendang yang bernama Panguripan. Lokasi ini berada sebelum pos 1 pendakian.
Di tempat ini sudah ada 5 orang pelatih yang menunggu dan terdapat 3 buah tenda sebagai tempat beristirahat para pelatih di tempat ini.
Hal pertama yang didapatkan Regu 3 sesaat setelah tiba di sendang adalah mereka disiram dengan air yang dingin dan diambil dari sendang.
Tidak ada yang mengeluh saat disiram dengan air yang dinginnya melebihi air saat di pagi hari. Karena memang itu yang mereka perlukan karena badan yang kotor dan keringat yang belum menghilang.
Selain itu sudah disiapkan alat latihan merayap yang ada kawat berdurinya seperti alat latihan saat di tempat pelatihan.
Namun benda itu sedikit lebih panjang tanpa adanya kubangan lumpur seperti biasanya.
__ADS_1
Satu per satu anggota Regu 3 merayap dibawah kawat berduri dan disiram lagi dengan air oleh pelatih. Jika ransel mereka menyentuh kawat berduri, mereka tentu saja harus mengulanginya dari awal. Itu juga berlaku jika ransel mereka berkali-kali menyentuh kawat berduri.
Meski hal itu membuat para peserta memberi ‘gelar’ para pelatih dengan ‘menyebalkan’.
“Selamat, kalian tiba pada urutan pertama. Silahkan istirahat sebelum kembali ke pusat pelatihan,” ucap salah satu pelatih.
“Siap, terimakasih!” jawab seluruh anggota Regu 3 secara bersamaan.
Kemudian mereka mencari tempat terbaik untuk beristirahat. Beberapa prajurit laki-laki langsung merebahkan diri diatas rumput. Sementara prajurit perempuan memilih untuk membasuh kepala di sendang.
Rio dan Sima berbaring di samping Nio yang sudah menutup wajahnya dengan helm yang entah seperti apa baunya karena berhari-hari dipakai di kepala yang belum dibersihkan. Mereka bertiga menggunakan ransel sebagai bantal.
Kelima orang pelatih membiarkan seluruh anggota Regu 3 yang tersisa untuk beristirahat. Kelima orang pelatih merupakan bagian dari komando pasukan khusus Pasukan utama. Atau warga Indonesia lebih mengenal komando itu sebagai Kopassus.
Tentu saja mereka telah mengalami pelatihan yang lebih berat dari pada prajurit yang akan menjadi Pasukan Pelajar Khusus ini.
Tetap saja hanya 24 orang yang akan menjadi Pasukan Pelajar Khusus. Meski tahu tidak akan lulus, beberapa peserta lebih memilih untuk tetap berjuang agar usaha yang dilakukan tidak sia-sia.
Tidak lulus pelatihan bukan berarti lemah, hal itu merupakan tanda jika mereka hanya kurang keras untuk berusaha.
Beberapa dari peserta bahkan sudah bisa menebak ke-24 orang yang akan lulus dan menjadi dari Satuan PPK.
**
Seluruh Regu dengan anggota yang tidak lagi lengkap telah tiba di titik pertemuan terakhir dengan urutan terakhir adalah Regu 2.
“Setelah ini kita akan kembali ke tempat pelatihan bersama-sama. Besok adalah hari pengumuman prajurit yang lulus dan pemberian penghargaan bagi kalian yang sudah mengikuti pelatihan ini. Setelah tiba di tempat pelatihan kalian harus memuaskan diri untuk beristirahat, dengan artian setelah ini kalian bebas. Sekian!” ucap salah satu pelatih dihadapan seluruh Regu yang berbaris rapi dengan berbagai keadaan.
Keadaan mereka sebenarnya hampir sama, yaitu pakaian yang kotor dan wajah yang masih memperlihatkan rasa lelah.
“Akhirnya bisa istirahat juga…,” ucap Nio sambil meregangkan badannya.
“Meski aku sudah tahu hasilnya sih…,” sambung Sima yang membuat Nio heran.
“Ya, aku juga…,” ucap Rio yang membuat Nio semakin kebingungan.
__ADS_1
Namun intinya, pelatihan yang berat hampir berakhir....