
“Di sini Letnan Satu Nio Candranala. Saya ingin bertanya mengenai anggota baru dan perubahan unit saya menjadi peleton.”
Nio menghubungi markas pusat untuk mengkonfirmasi ulang perintah yang Tim Ke-12 dapatkan.
Dari percakapan telepon, Nio diminta kembali ke markas pusat untuk mendapatkan penjelasan dari Jenderal Angga dan sejumlah perwira berpengaruh dalam Pasukan Perdamaian.
Garis depan belum juga mengajari para perwira di markas pusat tentang realita yang jauh lebih buruk dari kata-kata propaganda penuh kebohongan. Namun, tampaknya Tim Ke-12 menyetujui perubahan bentuk mereka dari regu menjadi peleton.
Setelah telepon berakhir, Nio mempersiapkan diri kembali ke markas pusat sendirian.
**
“Aku ingin mendengar pendapatmu tentang peningkatan kemampuan tempur lapangan,” Angga dan Nio duduk di salah satu ruang Staf Perencanaan Strategi Umum dan Khusus, yang menghalangi mereka berdua hanya meja panjang dengan ribuan kertas yang menumpuk. Di depan Nio adalah data tentang pasukan gelombang kedua setelah kepulangan sejumlah kontingen Indonesia dan Rusia. Apa yang Nio dapatkan dari data hanyalah jumlah tentara yang dikirimkan jauh meningkat. Bisa dibilang, TNI benar-benar hanya mengirim tentara dan pasokan, tanpa senjata tambahan untuk Garis Barat yang baru dibuka beberapa minggu lalu.
Sebagai salah satu komandan di garis depan, Nio meletakkan data kembali ke atas meja lalu menghela napas melalui setengah wajahnya yang ditutupi masker buff. TNI akan membayar mahal dengan keputusan mereka yang mengirimkan pasukan tanpa cukup pelatihan dan pengalaman, begitu gumam Nio.
Nio kemudian berkata, “Saya akan berkata apa adanya. Pasukan baru yang akan tiba satu bulan lagi tidak memiliki pengalaman dan pelatihan yang cukup. Mereka mungkin siswa baru dari Komando Pasukan Utama yang hanya diajari baris-berbaris dalam formasi dan membidik sasaran tembak imajiner. Jujur saja, mereka perlu dilatih untuk meningkatkan kemampuan menembak sesungguhnya dan pertempuran terbuka. Selain itu, Garis Barat adalah daerah pertempuran parit, sehingga akan sangat sulit melatih mereka untuk beradaptasi dengan pertempuran parit alih-alih pertempuran kota atau hutan.”
“Mereka tentu memiliki cara untuk menjadi berguna. Tapi, mereka tidak bisa bertempur menghadapi artileri medan musuh hanya berbekal senapan serbu,” jawab Jenderal Angga sambil memijit keningnya.
Nio melihat betapa pening Angga bertahan dengan segala keterbatasan pasukan yang bertempur di luar dunia asal. Mereka berdua menyesap kopi hitam di hadapan masing-masing, dan sama-sama meringis karena lupa memasukkan gula ke minuman masing-masing. Nio sengaja memunggungi Angga ketika meminum kopinya, agar sang Jenderal tidak melihat kondisi wajahnya. Dia hanya tak ingin Angga merasa ngeri atau tidak nyaman atas kondisinya, dan Angga sendiri memahaminya.
Bahkan kopi yang seharusnya memberi kenikmatan yang menenangkan pikiran tidak memberikan apa yang diharapkan. Tetapi, mungkin persediaan gula tidak cukup atau dihabiskan untuk memasak bagi ribuan prajurit yang kembali dari medan perang. Kopi instan berkualitas buruk benar-benar memiliki rasa seperti air tercemar jika tidak dicampur gula.
“Anda bisa membayangkannya, Pak?” Nio bertanya kepada Angga apakah jenderal tersebut merasakan seperti apa garis depan yang ternyata tidak ada bedanya dengan kopi yang mereka berdua minum. Pahit dan ‘hitam’.
Angga menanggapi dengan, “Aku tidak bermaksud berbicara tentang garis depan, aku tahu di sana mengerikan. Pertempuran di sini lebih parah dan berat dibanding perang yang sebelumnya.”
“Tapi, perang sebelumnya lebih menguntungkan, karena tidak ada kopi tanpa gula. Pada dasarnya, dunia ini adalah garis depan bagi garis belakang yang damai,” ucap Nio sambil menatap sedih kopinya yang telah mendingin, dia berekspresi seperti prajurit yang rindu keluarga. Pasukan terpilih TNI harus berjuang di dunia lain, disingkirkan dari kehidupan sipil yang tenang. Bukanlah hal mudah untuk memasukkan personel baru dengan pelatihan kilat yang membuat mereka berkualitas rendah untuk bisa bergabung bersama Pasukan Perdamaian dan Persekutuan.
“Kamu berniat ingin memberikan para pemula itu pengalaman di garis depan langsung?” tanya Angga.
“Jika memungkinkan, mereka harus bisa bertahan di parit terlebih dahulu. Jika mereka bisa tidur di medan terbuka yang dingin dan gelap, seharusnya secara perlahan bisa menghancurkan bayangan mereka tentang kehidupan dunia lain yang indah seperti di novel dan komik fantasi. Para pemula pasti ingin bersikap heroik, dan menjadi pahlawan setelah kepulangan. Tapi sebelum itu, mereka harus bisa membunuh paling tidak satu Goblin kecil, itu juga kalau mereka mampu.”
Makna dari ucapan Nio adalah ‘siswa Komando Pasukan Utama yang dikirimkan ke dunia ini lebih pemula dari anggota TRIP’, sehingga ujian pertama yang cocok untuk mereka menurut Nio adalah duel melawan Goblin. Jika salah satu dari mereka memiliki adrenalin lemah dan menyerah, atau melakukan tindakan sembrono, melakukan serangan sia-sia, setidaknya mereka tahu caranya menahan diri. Namun, tidak sedikit prajurit yang rela mengorbankan rekan seperjuangan demi keselamatan diri sendiri.
Selain itu, meskipun tidak ada yang bisa menyalahkan kelemahan milik prajurit pemula, Nio tidak ingin mencemari parit yang dipertahankan oleh Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap dikotori oleh penyakit medan perang dan anggota yang tidak bisa menjaga kebersihan.
“Itu sebabnya, aku ingin anak-anak ini…” Nio menghentikan kalimatnya, kemudian mencengkram kepala.
Dia melihat Angga menatap dirinya, namun tidak menemukan arti dari tatapan atasannya tersebut sehingga dia memutuskan bertanya, “Maaf, ada apa, Pak?”
“Oh,” Angga sedikit terkejut. Dia teringat cucunya yang berusia sama dengan Nio, namun dapat hidup tenang sebagai mahasiswa. Dia kemudian berkata, “Aku berpikir betapa mudanya dirimu, Letnan Nio.”
“Ada banyak orang muda seperti saya memiliki karir lebih bagus. Jika berbicara tentang pasukan baru, saya akan menerima mereka jika mampu bertahan satu bulan dalam pertempuran parit di Garis Barat.”
“Kenapa pembicaraan kita melebar sampai itu? Lupakan. Mari kembali ke topik utama.”
Nio tidak terlalu mengerti tentang Angga, jenderal kontingen Indonesia dan salah satu perwira terkemuka Persekutuan dan Pasukan Perdamaian. Setahu Nio, para atasan sering memiliki perintah dan keinginan yang tidak masuk akal.
Nio dengan sopan menuruti apa yang diminta Angga dan beralih ke topik utama tanpa mengeluarkan satupun pertanyaan.
Umur Nio mungkin tidak terlalu umum di kalangan perwira, tetapi yang bisa Nio pikirkan hanyalah masa bakti, layaknya seorang pegawai perusahaan yang memikirkan kontrak kerja atau masa pensiun yang terus mendekat.
“Ijinkan saya berbicara terlebih dulu, Pak. Saat ini, kita tidak bisa berharap Markas Besar mengirimkan pasokan dalam jumlah besar untuk pertempuran seluler seperti sekarang. Yang bisa kita lakukan hanyalah menyerang atau diserang, tentu saja sambil menghemat amunisi dan senjata.”
Bagaimanapun, Nio berbicara tentang terbatasnya daya tembak yang dimiliki Pasukan Perdamaian, baik kontingen Indonesia dan Rusia. Kehilangan senjata atau terbunuhnya tentara di medan perang adalah hal yang sangat realistis. Begitulah yang terjadi dalam perang panjang, dimana kedua pasukan berada dalam kompetisi untuk konsumsi sumber daya terbanyak.
Bahkan jika pertempuran parit di Medan Barat terjadi pada malam hari, senapan mesin dan tank medium, serta sistem armor robot tempur tak mampu membuat musuh menyerah. Akan sangat mudah jika pasukan di sana dipasok senjata anti-tank, maupun helikopter serbaguna. Penyihir yang dikirimkan Arevelk, Yekirnovo, dan Hayvan adalah aset berharga, dimana mereka mendapatkan perlindungan dari pejuang di sana. Nio berpikir para komandan lapangan yang bertugas bersamanya harus bisa berpikir praktis dan mengharapkan tidak adanya korban di pihak Persekutuan dan Pasukan Perdamaian selama pertempuran di Medan Barat. Jika para pasukan baru melihat prajurit Indonesia atau Rusia terbunuh, bisa-bisa mereka akan segera menyusul sebelum menginjakkan kaki di tanah pertempuran.
Lagipula, Nio bukan lagi pejuang amatir. Nio tidak ingin aset-aset berharga mati begitu saja karena kesalahan pemegang komando tertinggi.
__ADS_1
Angga berbicara, “Memang sulit membayangkan adanya pertempuran seluler di Garis Barat. Kamu mungkin benar, kita harus memfokuskan pada pasokan dan pelatihan, tapi…”
Angga tidak mengatakan apapun yang bisa menjawab pernyataan Nio.
Apa yang muncul di wajah Angga adalah ekspresi menyedihkan, emosi menyalahkan diri, dan benci karena Markas Besar mengirimkan begitu banyak siswa untuk bertempur tanpa bekal.
“Mereka bisa berjuang dengan semangat tanpa pasokan yang memadai, dan itulah masalahnya. Kita tidak bisa mengabaikan kerugian kecil yang mempengaruhi kekuatan Persekutuan dan Pasukan Perdamaian.”
“Pak, seharusnya hingga hari ini kita tidak mengalami kerugian apapun.”
Tampaknya, Nio berpikir bahwa pasukan mengalami kerugian dalam kisaran wajar. Dibandingkan dengan perang di Indonesia dan Pengepungan Besar Aliansi Pertama, jumlah korban dalam perang sekarang tidak sebanding. Tetapi, kebanyakan orang tidak hanya menggunakan kematian manusia dalam perang sebagai tolak ukur parahnya suatu peperangan. Tapi, ‘angka’ yang sebenarnya akan membuat orang-orang menggigil ketakutan atas sebuah perang, contohnya Perang Dunia 2 yang memiliki jumlah melebihi angka yang tersebar.
Dampak serangan yang dihasilkan senjata-senjata Indonesia dan sekutunya menghasilkan korban terlalu tinggi di pihak pasukan musuh. Untuk menekan jumlah korban tak wajar di pihak musuh, negara memutuskan membatasi pengiriman senjata bagi TNI di dunia ini atas nama ‘Hak Asasi Manusia’. Kebanyakan senjata yang dikirim adalah senapan serbu dan kendaraan tempur infanteri beserta bahan bakar dan amunisi. Jika kekuatan yang dimiliki pasukan Indonesia hanya itu, wajar jika Nio dan Angga menderita sakit kepala.
Tentu saja jumlah senjata dengan prajurit sangat berbanding terbalik. Dengan membayangkan pikiran orang-orang di pemerintahan, Nio menghabiskan kopi miliknya dengan ekspresi pahit, kemudian mengunyah permen karet nikotin sebagai pengganti rokok.
Bagi orang awam, kesenjangan besar dalam pengalaman antara veteran dan rekrutan baru hanya terlihat oleh seberapa banyak pertempuran yang mereka lalui. Walau Nio pernah kehilangan beberapa bawahan, tetapi korban hanya menyumbang sebagian kecil dari total. Lalu, para prajurit baru yang akan dikirim ke dunia ini pasti memiliki rasa semangat menghadapi pertarungan pertama sejak pelantikan.
Sebelum musuh menggunakan senjata api dan bantuan Pahlawan, Nio merasa dirinya beruntung. Walau senjata yang digunakan musuh mayoritas berasal dari abad ke-20 dan 21, perlu waktu lama untuk beradaptasi.
“Lettu Nio, bukankah kamu memiliki rancangan untuk melatih pasukan baru dan meminimalisir kerugian di pihak kita selama perang di sini?”
“Saya tidak memiliki pangkat yang cukup untuk melakukan wewenang tersebut. Tapi, jika saya yang melakukannya, saya akan melakukan yang terbaik. Satu-satunya pilihan kita untuk para prajurit baru dan mengurangi kerugian adalah bertahan dan mengajari mereka berjuang selangkah demi selangkah.”
Nio tidak tahu apakah Aliansi memiliki penembak jitu, namun Pahlawan dan Penyihir adalah senjata yang merepotkan untuk dihadapi tanpa persiapan dan pengalaman. Walau Persekutuan dan Pasukan Perdamaian memiliki kualitas lebih dari Aliansi, namun musuh memiliki kuantitas yang mampu mengimbanginya.
Parit yang digunakan sebagai perlindungan dan pertahanan selama pertempuran di Garis Barat hanya mengurangi anggaran pembangunan. Parit tidak mampu menahan artileri medan kaliber besar, walau bunker dibangun dalam jumlah banyak. Bahkan bagi Nio sangat sulit mengatur Batalyon Campuran dalam pertempuran parit. “Jangan berkumpul di tempat sama! Berpencar!” sepertinya sangat sulit bagi para ‘senior’ Nio untuk memahami makna perintah tersebut di tengah pertempuran. Walau setelah pertempuran hanya ada korban luka, namun itu adalah hasil tidak mau belajar dari anggota Komando Pasukan Utama tentang cara bertempur kuno, seperti pertempuran parit. Nio tidak ingin semakin banyak korban luka, atau kotak obat akan memenuhi parit.
Pertempuran parit tentu saja akan merubah doktrin pertempuran TNI. Pasukan akan mewajibkan pasukan baru yang tidak terbiasa beradaptasi tentang cara bertempur di parit. Walau tampak nyaman dan aman, parit yang dipertahankan Pasukan Perdamaian dan Persekutuan di Garis Barat tetaplah medan prang. Prajurit baru dan veteran sama-sama harus berurusan dengan serbuan mendadak pasukan manusia, monster, dan penyihir musuh. Parahnya, marinir dan kendaraan tempur tidak memiliki banyak kesempatan berperan.
“Jenderal Angga, sepertinya Anda juga setuju bahwa kita harus meningkatkan pasukan dengan pasokan terbatas seperti sekarang,” kata Nio sambil membenarkan buff-nya hingga menutupi sebagian wajahnya yang terluka parah.
Dengan kata lain, baik pasukan baru yang akan berjuang di laut, darat, dan udara dunia ini perlu dididik untuk terbiasa dengan perubahan lingkungan.
Nio mengangguk atas tanggapan Angga. Para penyihir Arevelk, Yekirnovo, dan Hayvan dilatih oleh negara masing-masing dengan doktrin mereka akan mengerahkan sihir pertempuran dan pelindung bagi sekutu dari dunia lain, sehingga mereka payah dalam pertempuran gerilya maupun operasi rahasia. Namun, mereka tidak bisa melindungi ribuan sekutu sekaligus, dan kemudian menjadi sasaran musuh yang menyebalkan.
“Seperti perang di Indonesia. Bahkan di pasukan kita, ada banyak pasukan pemula yang tidak mematuhi perintah atasan, dan berakhir dibantai musuh,” ucap Angga.
Nio meringis sebagai tanggapan ucapan Angga, walau mulutnya ditutupi buff. Dia pernah menjadi salah satu pemula yang tidak mematuhi perintah komandan, sehingga membahayakan rekan-rekannya. Pernah dia berada di unit yang dipimpin komandan dengan sifat seperti psikopat, dan berhasil menawan 20 prajurit musuh. Nio dan rekan-rekannya diperintahkan untuk mengeksekusi mati tawanan yang telah menyatakan diri menyerah, dan tentu saja Nio menolaknya karena tidak ada perintah dari komando untuk melakukan hal tersebut. Yang membahayakan memang bukan musuh yang telah menyerah, namun komandan yang haus darah dan senang membunuh musuh yang telah menyerah.
Ketika satu orang melakukan masalah, akan banyak masalah yang lebih menghampiri. Sudah ada penyelidikan, namun belum ditemukan perwira yang selalu memerintah bawahannya untuk membunuh prajurit musuh yang menyerah. Ketika Nio membayangkan masa lalunya, dia berpikir bahwa dia perlu untuk menjadi komandan yang baik. Dia tidak perlu lagi khawatir akan sosok tersebut akan menjadi komandannya.
Bahkan jika Pasukan Perdamaian dan Persekutuan memutuskan membunuh sekitar 50.000 tawanan, hal tersebut berpotensi memunculkan pertempuran skala besar. Pembantaian masal tersebut mungkin saja mengurangi musuh potensial, tetapi tindakan tersebut tetap salah.
Setelah kedua perwira saling menunjukkan kekhawatiran masing-masing, di mana kesalahan satu prajurit pemula bisa menyebabkan kerugian parah. Nio khawatir bahwa prajurit pemula yang tidak bisa memahami perintah tidak bisa menjadi komponen utama dalam pertempuran berisiko tinggi.
“Kamu di dunia ini sudah satu tahu lebih kan? Aku membayangkan kamu memiliki begitu banyak pengalaman melebihi diriku.”
“Jika digabungkan dengan masa tugas bersama Pasukan Ekspedisi, saya sudah di dunia ini selama 2 tahun. Saya tidak pernah memikirkan pengalaman atau apalah itu, tapi saya bisa menggunakan pengalaman sebagai bahan saat mengajar.”
Nio bisa menggunakan pengalamannya untuk mencegah kematian para tentara di bawah pimpinannya saat ini, kesalahan lama tidak ingin dia ulangi. Dalam kehidupan sipil sehari-hari, masalah dalam suatu perusahaan dapat diselesaikan dengan memecat orang yang melakukan kesalahan. Namun, di medan perang bersenjata, kesalahan satu orang berarti kematian semua orang. Apa yang dikenal sebagai ‘jiwa korsa’ benar-benar berlaku, mungkin termasuk ‘satu mati, semua mati’. Jika satu orang gagal, semua mati. Jika satu orang mengacau, pertempuran sengit tidak akan dimenangkan walau mengorbankan semua rekan.
“Masalah sebenarnya bukan daya juang pasukan baru, tapi pengalaman tempur nyata yang menyulitkan semua instruktur di sini,” gumam Angga. Dia kemudian melanjutkan, “Untuk Nio, dia sudah terlalu lama di sini, dan bawahannya sudah terlalu sering melakukan operasi tempur.”
Tanpa disadari oleh Nio, Angga telah merencanakan sesuatu bagi Tim Ke-12 dan unit dibawah tanggung jawab Nio yang bernama Pembunuh Senyap.
“Tentang masa tugasmu…”
“Ada apa tentang itu, Pak?”
“Kamu pasti akan memberikan para anggota muda pengalaman, tapi sebelum itu, persiapkan semuanya dalam satu bulan ini.”
__ADS_1
Apa yang pasukan baru butuhkan bukan hanya pengalaman seorang instruktur, itulah yang dipikirkan Nio. Jadi, meskipun dia enggan, Nio menerima perintah menjadi instruktur untuk calon anggota baru peleton-nya.
“Siap, laksanakan.”
Tidak ada gunanya melatih sekelompok prajurit yang telah bersumpah ‘rela bertaruh nyawa demi negara, agama, dan keluarga’, atau mudahnya mereka hanyalah calon mayat. Medan perang adalah tempat berbagai hal tidak masuk akal bisa terjadi. Tidak ada kejelasan di medan tempur tentang kapan pertempuran terjadi, atau serangan ofensif untuk menekan Aliansi. Selama itu pusat masalah, pasukan harus terus dilatih untuk dapat menanggapi perintah kapan saja.
“Jika ada kesempatan untuk melatih calon anggota di perang parit, aku ingin mereka bertempur bersama unitmu,” kata Angga.
Memang benar regu Nio akan naik tingkat menjadi peleton, dengan beberapa personel baru sebagai anggotanya dan Tim Ke-12 sebagai instruktur. Inilah mengapa perang itu adalah peristiwa yang buruk, pikir Nio. perang mematikan rasa kemanusiaan, dan akan membuat pejuang gila karena desakan malas para warga sipil dan orang-orang pemerintahan yang hanya mengharapkan perlindungan dan keamanan dari mereka.
“Tapi, sebelum Tim Ke-12 melaksanakan tugas itu, aku ingin kalian berkumpul bersama orang-orang kesayangan selama satu bulan.”
“Maaf, Pak. Apa itu artinya kami mendapatkan waktu libur?”
Nio benar-benar berharap mendapatkan barang langka yang bernama ‘liburan’, dia memasang wajah seperti murid yang mendengar pengumuman bahwa sekolah libur selama dua minggu, namun aslinya libur selama dua tahun akibat sebuah pandemi.
Angga lalu menjawab, “Benar. Kamu pasti perlu waktu untuk mempersiapkan materi. Aku ingin kamu dan unitmu melakukan yang terbaik demi memberikan pasukan muda pengalaman.”
Gila! Libur satu bulan?! Apa aku baru saja dikaruniai mukjizat?! Tiba-tiba semangat Nio meledak-ledak di dalam hati, walau wajahnya tetap menunjukkan ekspresi serius. Dia tahu jika melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa dan berpandangan pendak akan menyebabkan kegagalan, dan dia merasakan betapa mudahnya jatuh ke dalam perangkap tersebut.
“Siap, paham! Saya akan segera memberi tahu unit bahwa mereka akan berlibur selama satu bulan.”
“Bagus, aku akan segera menyiapkan surat pernyataannya. Tapi sebelumnya, maaf atas berbagai tugas tidak masuk akal untuk Tim Ke-12, aku benar-benar mengandalkanmu dan unitmu, Lettnu Nio.”
“Siap! Terimakasih, Pak! Saya akan segera mengumpulkan materi selama libur!”
Meluangkan waktu untuk keluarga dan teman-teman di unit asal adalah hal yang diinginakn Nio sejak ia dipaksa bertugas di dunia ini hingga batas waktu yang belum ditetapkan.
“Aku ingin kamu dan bawahanmu meluangkan waktu dengan orang-orang tersayang. Atau mungkin kamu sudah punya pacar, Nio? Kalau punya, lebih baik kamu segera menemui dia. Dia pasti mencarimu jika tahu kamu pulang,” ucap Angga dengan wajah dan nada seperti pakar cinta.
“Mencari? Cari yang baru mungkin,” ucap Nio dengan wajah santai yang membuat mereka berdua tertawa.
“Kalau dia beneran cari yang baru, jangan sampai tugasmu terlantar karena terus-terusan galau. Aku tidak ingin salah satu bawahan andalan lemah akibat cinta.”
Itulah pentingnya hubungan antara komando dan perwira lapangan yang erat, sehingga Nio dan Angga bisa bercanda layaknya ayah dan anak.
“Kamu mungkin akan membawa beberapa gadis selama liburan.”
Angga menyerahkan sejumlah lembar kertas yang berisi surat ijin dari Hevaz, Zariv, Edera, Ebal, dan Huvu untuk ikut Nio pulang ke dunia asalnya.
**
Ketika Ebal, Huvu, Edera, Hevaz, dan Zariv mendapatkan ijin untuk ikut bersama Nio pulang ke dunia asal, ada dua gadis yang merenung di ruang kerja masing-masing.
Asisten Sigiz dan Sheyn berusaha keras menyemangati kedua pemimpin negara tersebut untuk tetap bekerja, walau tidak mendapatkan jatah libur dan bersenang-senang bersama Nio di Indonesia.
“”Kenapa aku harus jadi ratu?!”” mereka berdua berteriak seperti itu bersamaan, walau ibukta kedua negara berjarak ratusan kilometer.
**
Akhirnya, kita sampai pada arc ‘Perang Batin’.
Tapi sebelumnya, aku minta maaf tidak update cukup lama. Aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu menunggu lama.
Untuk arc Perang Batin akan diisi berbagai sisi kelam dan gelap di pihak Indonesia ketika masa perang, kisah romantis penuh drama, dan tidak lupa aksi. Alasan aku membuat arc ini, karena kamu pasti bosan membaca kisah perang yang tidak ada habisnya, tanpa kisah romantis. Aku yakin kamu penasaran tentang berbagai rahasia yang belum terkuak di cerita ini.
Aku ingin menceritakan sisi gelap dan kelam pihak Indonesia selama perang, agar kamu tahu bahwa Indonesia tidak hanya sebagai pihak yang diperangi. Seperti yang diketahui, perang tidak ada tokoh baik dan jahat, yang ada pihak yang harus bisa meraih kemenangan bagaimanapun caranya walau itu harus mengorbankan berbagai hal. Seperti itu juga terjadi di pihak Indonesia selama perang.
Untuk kisah romantis, aku rasa kamu ingin ada bumbu adegan panas dan bergairah selain drama. Tapi menurutku, pasangan yang cocok untuk cerita romantis selain adegan panas adalah aksi.
Kisah si tokoh utama menyelamatkan atau memperjuangkan hati sang pujaan hati dengan berbagai aksi tak terduga kupikir sangat bagus kalau dijadikan cerita dalam arc ini.
__ADS_1
Jadi, tunggu saja pada episode selanjutnya.