
Markas Pusat Pasukan Ekspedisi di Tanah Suci dengan buru-buru menanggapi permintaan mendesak dari Regu penjelajah 1. Saat mereka menyebutkan jika Nio tertangkap, hampir seluruh perwira Markas Pusat tercengang.
Beberapa helikopter serang dan pengangkut rudal bersiap lepas landas di landasan pacu, beserta beberapa prajurit Grup Tempur 5 dan 6. Jendral Sucipto mengangkat suaranya ke arah bawahan yang berpangkat antara Letnan Satu hingga Mayor yang berbaris di depannya.
Para perwira Markas Pusat kebanyakan dari mereka adalah perwira lapangan, dan mereka sedang berdebat sengit. Jika perdebatan ini berjalan buruk, perkelahian mungkin bisa terjadi.
Sucipto memandangi bawahannya, dan berpikir jika dia terlalu lama menahan mereka bergerak ke Kota Aibu.
Di Indonesia, di mana kehidupan berjalan dengan damai setelah perang melawan dunia lain, dan tidak ada ancaman yang berarti yang membahayakan wilayah negara. Namun, dunia lain adalah medan perang, dan AD dan AU bisa membanggakan diri di depan personel AL yang belum mendapatkan banyak tugas. Tentu saja hal itu membuat prajurit AL merasa cemburu, dan terus menerus mengurus kapal perang mereka.
Beberapa prajurit yang mendapatkan misi mendapatkan kejayaan, namun bagaimana dengan prajurit yang tidak mendapatkan banyak tugas? Tentu saja hati mereka terpelintir dan terinfeksi oleh kegelisahan bahwa Pembantu Letnan Satu Nio yang tertangkap selama empat hari terakhir.
Dan kemudian, seperti anugerah dari surga, permintaan dari Regu penjelajah 1 untuk mengirimkan bantuan masuk. Dengan kata lain, ini adalah kesempatan yang sempurna untuk menyelamatkan prajurit muda yang ‘terlalu’ banyak mendapatkan misi penting, dan mendapatkan pengalaman tempur tambahan.
“Semua orang dengarkan! Regu penjelajah 1 mendapatkan masalah yang besar. Dimana Komandan mereka telah berhasil ditangkap oleh musuh. Jika musuh sedikit berbaik hati, Peltu Nio hanya akan menjadi tawanan perang.”
Lalu, salah satu perwira Grup Tempur 2 mengangkat tangan dan bertanya mengenai kata-kata Jendral Sucipto.
“Apa penyebab Peltu Nio tertangkap?”
“Pertanyaan yang bagus. Misi yang dilaksanakan Regu penjelajah 1 adalah misi penyusupan untuk mengumpulkan informasi mengenai kota yang dijadikan target perebutan, yakni Kota Aibu. Nampaknya jumlah musuh yang berada di kota tersebut sangat banyak, sehingga menyebabkan dua prajurit kembali gugur…”
Sebelum Sucipto melanjutkan kata-katanya, seluruh perwira bergumam mengenai anggota Regu penjelajah 1 yang kembali berkurang. Mereka mengatakan “Apa yang terjadi dengan Regu itu?”, “Apa musuh semakin kuat?”
“Tenanglah! Kita di sini memang untuk berperang dengan musuh Indonesia! Peltu Nio hanya tidak ingin membahayakan kita! Dia mungkin memang bodoh, tapi dia tahu apa yang dilakukan saat tertawan.”
“Meskipun dia bodoh, dia adalah salah satu prajurit andalan kita. Kita harus menyelamatkan dia sebelum hal buruk menimpanya!”
Kata-kata itu berasal dari Komandan Grup Tempur 1, dimana Regu penjelajah 1 merupakan unit pasukan itu. Yang lain menyetujui kata-kata itu dengan mengangguk dan berkata, “Ya!”
Jelas, mereka adalah perwira yang sangat bisa diandalkan. Komandan Grup Tempur 1 mengangguk puas dan membuka mulutnya untuk mengatakan, “Jangan biarkan prajurit muda itu mati!”
**
Grup Tempur pertama yang akan berangkat adalah Grup Tempur 6, dimana mereka memiliki helikopter yang dapat mempercepat pergerakan daripada kendaraan darat.
“Akan memakan waktu lama jika Grup Tempur yang berangkat duluan adalah Grup Tempur 1 hingga 4. Bagaimanapun Grup Tempur 6 yang akan berangkat terlebih dulu.” ucap Komandan Grup Tempur 6 yang membuat perwira-perwira Grup Tempur lainnya berdecak kesal.
Grup Tempur 6 akan mengirimkan 4 helikopter serang dan 1 helikopter pengangkut rudal. Sementara Grup Tempur 3 yang memiliki komponen kavaleri mengirimkan sebagian prajurit dan persenjataan berat mereka. Grup Tempur 1 dan 2 hanya mengirimkan masing-masing 140 dan 300 prajurit kompi penembak mereka. Sedangkan ribuan prajurit yang tidak diikutsertakan dalam keberangkatan, harus rela menahan kesal.
“Sempurna, ini akan menjadi misi penyelamatan terbesar abad ini!” ucap Pembantu Letnan Satu Gio yang melihat persiapan seluruh personel yang diberangkatkan.
“Apa mereka sangat menginginkan pertempuran?” batin Sucipto sambil mengusap wajahnya.
Bagaimanapun, semangat tempur yang tinggi bukanlah hal yang buruk.
“Baiklah, serahkan garis depan ke Grup Tempur 6! Selesaikan misi ini segera!”
“Siap…!!!”
Seluruh personel menaiki kendaraan pengangkut, antara lain truk lapis baja dan helikopter pengangkut besar setelah mendapatkan lampu hijau dari Sucipto.
“Aku bisa menebak apa yang terjadi jika ‘bahaya’ yang dikatakan Nio benar-benar terjadi.”
Helikopter serang, pengangkut rudal, dan pengangkut besar lepas landas satu persatu, sementara kendaraan darat melaju dengan kecepatan sedang ke arah Kota Aibu. Sementara itu, Sucipto dan Gio serta yang lainnya melepas keberangkatan mereka.
**
Grup Tempur 6 yang lepas landas dari Markas Pusat Pasukan Ekspedisi, terbang ke arah Kota Aibu. Waktunya masih pagi pukul 02.04, waktu yang tepat untuk melancarkan serangan mendadak.
“Dari Dewa Terbang 1 ke seluruh penerbang! Kita bergegas membelakangi matahari!”
Atas petunjuk perwira Grup Tempur 6, seluruh helikopter mengarah ke arah jam 10 saat itu juga, dan meningkatkan kecepatan sambil membelakangi matahari.
“Grup Tempur yang berada di darat akan tiba lebih lambat dari kita. Kita akan menyelesaikannya saat mereka datang!”
“Siap! Diterima…!!!”
Musuh adalah pasukan barbar yang tidak memiliki capung besi maupun tank, bahkan gerobak lapis baja sekalipun. Tidak diragukan lagi, seluruh personel merasa yakin kemenangan bisa diraih. Tetapi, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan operasi adalah hal yang sangat penting.
“Perjalanan akan membosankan! Putar musiknya!”
Instruksi untuk memutar musik diterima seluruh helikopter. Dari pengeras suara yang dipasang kesemua helikopter, dan lagu yang diputar terdengar melambangkan patah hati para prajurit saat bertugas jauh dari keluarga dan kekasih. Salah satu lagu yang diputar adalah ‘Tanpa Kekasihku Dimalam Minggu’.
Lalu, lagu yang berisi ancaman terhadap musuh-musuh TNI juga diputar.
Pasukan pembawa kematian masih dalam perjalanan, tentara musuh akan segera tahu siapa yang dimaksud…
__ADS_1
**
Unit helikopter dari Grup Tempur 6, yang tiba di Aibu, menyerang sekaligus dari gerbang utama. Jika anda adalah salah satu perwira pasukan ini, anda tidak perlu menahan diri untuk memerintahkan bawahan anda untuk menghancurkan gerbang utama. Itu adalah pemahaman yang umum, dan itu adalah fakta yang tak tergoyahkan.
“Beri tahu setiap ke setiap helikopter! Bersiaplah untuk serangan musuh! Tapi jangan menembak sampai ada musuh yang memperlihatkan tanda-tanda menyerang.
“Siap! Diterima!”
Grup Tempur 6, yang membentuk satu Kompi menunjukkan keagungan nya seolah sedang mengintimidasi pasukan musuh di bawahnya. Dari bawah, seluruh personel melihat pasukan Kekaisaran dan beberapa pasukan dengan seragam asing bergegas membentuk formasi. Ya, mereka benar-benar bukan berasal dari pasukan negara di Benua Andzrev.
“Apa mungkin mereka berasal dari Pasukan Aliansi yang dimaksud?”
Namun, selama pasukan itu mengancam, seluruh Grup Tempur berwenang untuk melawan mereka.
“Belum, jangan tembak dulu.”
Pasukan Aliansi mengatur pemanah di dinding kota, dan seluruh helikopter menahan tembakan. Musuh yang berada di dekat gerbang utama juga nampak gelisah saat gerbang ini dapat dihancurkan.
Musuh berjumlah lebih banyak dari data sebelumnya, sekitar 11.000 tentara.
Pasukan Aliansi menahan tembakan anak panah mereka, dan itu hanya masalah waktu sebelum mereka ditembaki jika mereka terus menunggu.
Tapi, itulah yang diinginkan Komandan Grup Tempur 6.
Jika pihak lain menembak lebih dulu, dia bisa memerintahkan bawahannya untuk melawan tanpa tanggung jawab apapun.
**
“Pemanah bersiap…!!!”
Seorang perwira pemanah Pasukan Aliansi dengan tergesa-gesa memerintahkan pasukannya untuk menyiapkan tembakan, dengan lawan benda terbang yang dia lihat untuk pertama kalinya. Mereka menyiapkan anak panah dengan bersamaan, seperti latihan harian.
Gerakan yang teratur melalui latihan berulang-ulang menjamin Pasukan Aliansi memiliki kemampuan tempur tertentu, tidak peduli siapa lawan mereka.
“Lepaskan…!!!”
Perintah untuk menembak diberikan, tentara pemanah melepaskan senar yang ditarik hingga batas maksimal, dan melesatkan anak panah. Ratusan anak panah terbang ke helikopter seperti hujan jarum.
“Jangan istirahat! Siapkan tembakan kedua!”
Namun, lawan mereka adalah pasukan yang pernah membantai pasukan gabungan lima negara di Tanah Suci.
Meski mereka melakukan pelatihan yang berdarah, memiliki semangat, patriotisme dan kesetiaan yang tinggi, tapi kekuatan teknologi canggih di depan mereka tidak bisa dilawan.
“Serangan musuh terkonfirmasi! Kita sedang diserang!” seluruh orang di helikopter tidak terlalu panik dengan ratusan anak panah yang mengenai tubuh helikopter yang mereka tumpangi.
“Lakukan tembakan perlindungan sekarang! Tembak sebanyak yang kalian mau!”
Meriam tipe-gatling 40mm di hidung helikopter memuntahkan 1.000 peluru perdetik. Saat terkena hantaman peluru dan roket, pasukan musuh berterbangan seperti sampah daun kering yang lemah.
Mereka yang cukup beruntung untuk lolos dari serangan meriam berjongkok dan mencoba berlindung di balik tembok, tetapi helikopter menembakkan roket seolah-olah hanya untuk mengejek mereka. Dinding batu yang mengelilingi kota menawarkan pertahanan luar biasa terhadap anak panah, tetapi seperti kertas di depan peluru kendali dan amunisi meriam.
Pasukan Aliansi yang menghadapi capung besi dari balik tembok menggertakkan gigi menahan kepedihan, sementara para prajurit TNI mengejek mereka dengan kekuatan senjata mereka. Musuh mengejek mereka sebagai pengecut yang bertarung dengan senjata iblis, dan bermain dengan mayat seolah-olah itu adalah boneka.
Bagaimanapun, mereka juga sekumpulan prajurit yang diharuskan menjaga kedaulatan negara, sama dengan TNI yang dikirim ke dunia ini.
Tanah dipenuhi dengan bekas lubang ledakan rudal dan amunisi meriam, mayat, genangan darah merah cerah yang baru saja tumpah dari teman, dan anggota tubuh yang berserakan.
**
Istana kota, tempat Bogat dan Maslac berada, mereka tidak terlalu berputus asa.
“Kenapa musuh bisa terbang?” pertanyaan itu pantas untuk Maslac yang belum mengetahui kekuatan sebenarnya dari pasukan hijau.
“Kita menempatkan 3.000 tentara di gerbang utama, dan mereka hampir dihancurkan dalam beberapa jam saja…” gumaman itu justru bernada kagum terhadap pasukan hijau yang terlalu kuat untuk dilawan pasukan manusia.
Ketika musuh terus menghancurkan, terlihat beberapa pasukan sekutu masih bertempur, tetapi bagaimanapun juga, mereka melawan senjata logam dari dunia lain.
“Yang Mulia Kaisar… Pasukan kita akan dihancurkan sekarang. Mohon beri perintah untuk mundur!”
Maslac memohon, tapi Bogat masih melihat lurus ke arah gerbang utama. Namun yang dilakukan oleh Bogat adalah, “Bakar kota-kota!”
“Eh?”
Maslac sejenak mendengarkan dan mencerna apa yang dikatakan Bogat barusan.
“Aku menyuruhmu untuk membakar kota! Itu akan menyebabkan kekacauan dan membatalkan niat musuh.”
__ADS_1
Bogat berbicara dengan begitu tenangnya, karena hasil pertempuran tidak ditentukan oleh jumlah kerusakan, tetapi apakah tujuan tercapai atau tidak. Dan dalam hal ini, tujuan Pasukan Ekspedisi adalah penyelamatan Komandan Regu penjelajah 1, Pembantu Letnan Satu Nio.
“Beri tahu pasukan yang tersisa. Buat pertahanan di kota, dan melarikan diri saat kekacauan terjadi.”
Kesimpulannya, taktik Bogat dibenarkan dalam militer. Melakukan pembakaran kota terlalu berbahaya. Akibatnya, penyelamatan Nio akan terpaksa ditunda, dan pasukan penyelamat tidak dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Menyikapi situasi ini, Komandan Grup Tempur 6 memutuskan bahwa dukungan dari pasukan darat diperlukan. Sambil menunggu Grup Tempur 1-3, mereka tetap memantau pergerakan musuh dengan cermat.
**
Setelah kedatangan Grup Tempur 6, para anggota Regu penjelajah yang masih bersembunyi di wilayah musuh akhirnya dilindungi dan bergerak mendekati gerbang utama yang sudah dalam kondisi aman setelah pertempuran.
Tapi kota telah terbakar, ya, Kota Aibu telah terbakar.
Suara ledakan terdengar di seluruh penjuru kota, tetapi area di sekitar penjara sepi. Karena area ini terletak jauh dari gerbang utama, sekitar 10 kilometer.
Di salah satu ruangan di kompleks penjara bawah tanah, Nio bersama Kaisar Bogat. Ruangan ini dulunya difungsikan sebagai brankas penyimpanan harta kota, dan tepat di sebelahnya adalah lorong bawah tanah rahasia untuk melarikan diri.
“Ya, laporan apa yang akan kau katakan?”
Seorang prajurit Kekaisaran membisikkan sesuatu, lalu setelah menerima laporan dari prajuritnya, Kaisar Bogat bergumam dengan cara yang lucu dan menyebalkan.
Pada awalnya, TNI tidak tertandingi, tetapi dikatakan jika operasi tersebut ditunda secara tiba-tiba karena kebakaran yang terjadi di kota. Dan kebakaran itu adalah pembakaran buatan yang dilakukan Pasukan Aliansi setelah menerima perintah ini dari Kaisar.
Bogat tersenyum dengan senyuman tak kenal takut, dengan ekspresi campuran wajah seorang pemimpin yang senang dengan kemenangan yang akan dia raih.
Nio menjadi marah atas penampilan Kaisar seperti itu.
“Kalian…! Begitukah cara kalian melibatkan warga biasa dalam peperangan!?”
“Itu benar! Itu salahmu sendiri karena membunuh prajurit ku dengan pasukan mu dan membakar kota-kota dengan senjata biadab kalian!”
Itu bukanlah cerita yang mendasar, karena senjata yang digunakan TNI memang sering menghasilkan energi panas, pelontar api contohnya.
Pertaman-tama, itu adalah pembohongan karena tidak ada misfire dalam pertempuran.
Mungkin beberapa warga sipil terkena peluru nyasar, yang disebut sebagai kerusakan tambahan. Itu adalah pengorbanan yang tak terhindarkan untuk tujuan militer.
Tentu saja, para penyerang juga berupaya untuk mengurangi kerusakan. Namun sulit untuk mengatakan bahwa upaya tersebut bisa membuahkan hasil.
“Selain itu, aku tidak menyalahkan anda untuk itu, tetapi saya tidak meminta maaf. Negara anda dan Pasukan Aliansi hanya melakukan hal yang benar menurut pandangan masing-masing. Bukan kehidupan manusia yang harus ditekankan di militer. Meraih kemenangan, itulah perang.”
“Lalu, kenapa anda terus mencoba menyerang kami dan menyebabkan lebih banyak korban?”
“Apa anda ingin kami menyerah? Nak, tentara bukanlah tontonan, mereka ada untuk berperang. Tujuan Pasukan Aliansi adalah untuk mengalahkan penjajah seperti kalian, dan mengembalikan kejayaan Kekaisaran Luan.”
Menang atau mati, dan tidak ada pilihan damai di pikiran Kaisar Bogat. Ini adalah jalan pikirannya seolah-olah ini adalah masa Republik Roma selama Perang Punisia Kedua. Nio berpikir apakah semua manusia dunia ini berpikir seperti itu. Dia tidak dapat memahami tujuan pihak lain, yang didasarkan pada premis peperangan.
“Pemerintah Indonesia menginginkan dialog… kebanyakan orang ingin membangun hubungan dan bersahabat jika mereka tidak menyerang.”
Ketika Nio berbicara seperti itu, Bogat tertawa dengan keras hingga mengejutkan tikus dan kecoak di ruang bawah tanah.
“Hubungan yang baik? Apa itu?”
Mata Kaisar Bogat berkilau, dan menatap tajam Nio seperti pisau.
“Semua bangsa ada dengan tujuan tunggal untuk bertahan hidup dan makmur. Hidup berdampingan hanyalah perjuangan bersama yang sifatnya sementara. Jika salah satu mengalahkan musuh bersama atau salah satu dari mereka kehilangan dominasinya, mereka akan kembali menjadi musuh.”
Sebagai tanggapan pertanyaan Nio, Kaisar hanya berbicara tentang pemikirannya.
Apa yang dimaksud dengan ‘realisme’ dalam politik, adalah menganggap segalanya kecuali negaranya sendiri sebagai musuh potensial.
“Ada banyak negara bawahan dan sekutu di Kekaisaran, kami selalu waspada jika terjadi penghianatan, pemisahan diri, atau pemberontakan. Namun, kami kehilangan wilayah yang cukup besar. Secara perlahan, negara bawahan kami juga mencoba melemahkan Kekaisaran jika ada kesempatan. Aku mengincar kesempatan tersebut.”
Kaisar Bogat setelah mengatakan itu menyeringai lebar. Meski Nio baru pertama melihatnya, itu adalah senyuman yang membuat tulang belakang Nio menjadi dingin.
“Jika seperti itu, keberadaan pasukan anda, yang memiliki teknologi dan kekuatan militer yang jauh lebih unggul dari kami, bagi Kekaisaran merupakan ancaman. Aku hanya berharap angin masa depan merubah segalanya.”
“Kami tidak berpikir seperti itu…!”
“Pada saat ini, anda mungkin tidak memiliki kekuatan untuk menyakiti Kekaisaran Luan, tetapi itu bukan masalahnya. Masalahnya adalah negara anda memiliki kekuatan yang benar-benar dapat menghancurkan Kekaisaranku, itulah artinya.”
Kapan, di mana, dan bagaimana menggunakan ‘kekuatan itu, semua pilihan ada di Indonesia, bukan di Kekaisaran Luan dan Pasukan Aliansi.
Mungkin akan baik-baik saja jika Indonesia bermurah hati, tetapi tidak ada yang tahu arah masa depan. Bahkan, Nio berpikir jika Indonesia sedang terancam, maka mengorbankan musuh-musuh bukanlah hal yang terlarang.
Bagaimanapun, Kaisar Bogat adalah penguasa yang sangat berakal sehat. Dia tidak terlalu suka berperang jika perang itu memperebutkan hal yang tidak penting. Tapi ini adalah cerita yang berbeda, karena perang ini untuk memperebutkan Gerbang dari Indonesia.
__ADS_1