
Sirene, bunyi lonceng, dan teriakkan tentara pengawas Arevelk yang dikerahkan di seluruh penjuru benteng menandakan adanya keberadaan Aliansi.
Aliansi, bagaimanapun mereka tidak untuk saat ini tidak bisa menandingi kekuatan Persekutuan. Para Pahlawan yang memberikan ilmu serta kekuatan mereka, belum memperlihatkan rumor bahwa kekuatan yang mereka miliki luar biasa. Aliansi belum gagal dalam perang ini, dan terus berkembang berkat pengetahuan yang dibawa para Pahlawan mereka.
Berjuang untuk membela negara dan keluarga adalah tugas prajurit dan rakyat, dan negara anggota Persekutuan tidak akan membiarkan Aliansi bergerak lebih jauh dan leluasa. Begitu juga dengan negara-negara anggota Aliansi, mereka tidak menginginkan mesin-mesin dunia lain mengambil hak mereka. Kekuatan mematikan mesin-mesin tiga negara dunia lain terpaksa membuat Aliansi mengambil langkah pertama dalam penyerangan.
Kim Baek-Ki menghampiri Nio, berbicara sesuatu dengannya yang tidak bisa didengar Arga karena suasana tegang di kantin yang dipenuhi kebingungan dan waspada.
“Mereka itu bajingan bodoh yang sudah berhenti berpikir. Mereka semakin sering melakukan penyerangan mendadak. Kapan mereka akan kehabisan kekuatan, sialan,” Baek-Ki menambah ketegangan Arga, tapi tidak dengan Nio. Karena Nio tahu Baek-Ki hanya melontarkan kata-kata humor.
“Mereka sangat bodoh, begitu juga dengan para Pahlawannya. Mereka sangat berani, hingga membuatku ingin menangis.”
Setelah Baek-Ki dan Nio saling melontarkan humor gelap mereka yang mengejek Aliansi, mereka berdua meninggalkan kantin bersama Arga dan seluruh tentara. Mereka nantinya akan berpisah begitu keluar dari pintu kantin, karena mereka berasal dari unit yang berbeda.
Ketika Nio melewati pintu kantin, para gadis seketika mengerumuninya, seolah-olah melindungi Nio dari kerumunan orang-orang. Tubuh Nio yang masih terluka membuat mereka membuat barikade hidup, dan melindungi Nio untuk tidak menambah penderitaannya.
Hal itu membuat para prajurit yang melihat mengutuk Nio di dalam hati, dan terang-terangan memasang wajah benci. Apa yang didapatkan Nio tidak membuat orang lain senang, dan malah mengharapkan kesialan menimpa pria itu.
**
Tidak salah menyebut medan hutan lebat dengan pepohonan raksasa di sekitar Benteng Girinhi sebagai rintangan. Wilayah seluas dua puluh kilometer persegi yang berupa garis yang meliputi Benteng Girinhi dan desa-desa sekitarnya merupakan zona aman, dan sepuluh kilometer di luarnya merupakan zona konflik potensial.
Daerah pertempuran yang tergolong cukup dekat dengan pemukiman penduduk menyulitkan para anggota unit kavaleri, dengan senjata berat mereka yang menganggu ketenangan warga. Walau perang mengharuskan penduduk di dekat daerah konflik terbiasa, namun kendaraan tempur dunia lain mereka anggap seperti hewan buas yang mengancam meski dikendalikan dengan baik.
Para penduduk di sekitar benteng yang melihat satu persatu kendaraan besar dari dunia lain keluar dari Benteng Girinhi merasa gentar. Dengan ukuran tank dan howitzer yang sangat besar, mereka beranggapan senjata-senjata tersebut mampu menghancurkan sebuah gunung.
(olog note: bayangin tuh, tank ama meriam railgun bisa menghancurkan gunung. Kira-kira, nama yang cocok buat senjata penghancur gunung, apa ya? Silahkan tulis di kolom komentar)
Lima tank tempur utama yang dilengkapi meriam RCL 155mm biasa dan satu tank dengan meriam railgun akan dijadikan penghancur garis utama musuh, ditambah senjata-senjata berat Kompi Bantuan 002 yang juga memiliki howitzer 230mm.
(olog note: RCL merupakan akronim dari Recoiless, yang berarti tanpa recoil atau minim recoil. Recoil sendiri adalah tolak balik alias hentakan senjata api ketika menembak)
Namun, keputusan tersebut tidak selalu memberikan keuntungan dan kebebasan ketika unit pendukung berusaha menghancurkan unit utama Aliansi. Ukuran tank yang besar, medan berhutan menyulitkan para operator untuk bermanuver. Dan jika mereka terpisah dengan Kompi Bantuan 002, medan hutan lebat dengan pepohonan raksasa mengakibatkan efek fatal jika dipojokkan oleh pasukan modern Aliansi.
Di langit medan perang, howitzer 230mm dari Kompi Bantuan 002 mulai menembakkan peluru berdaya ledak tinggi, menghasilkan ledakan kuat yang menghempaskan puluhan kavaleri berat dan senapan Aliansi ke segala arah sejauh puluhan meter. Serangan tersebut merupakan pembuka dari tawuran berdarah dan mematikan ini.
Kurang dari sepuluh peluru kendali anti personel melesat dari peluncur portabel di pundak para tentara yang berdiri di rampart benteng. Sebuah peleton monster lapis baja seperti Orc, Ogre, dan Minotaur hancur akibat daya ledak rudal yang dirancang untuk menghancurkan tank tempur utama.
Sementara itu, unit-unit kavaleri yang dipimpin Arga berada di hutan, dikejar sejumlah kavaleri senapan Aliansi yang menembakkan SP-1 mereka. Sejumlah prajurit Aliansi melemparkan granat MK2, dan meledak beberapa detik kemudian, namun tidak memberikan dampak serius pada lapisan baja paduan tank tempur utama.
(olog note: MK2 adalah granat yang digunakan angkatan darat Amerika Serikat ketika masa Perang Dunia 1, pengembangan dari MK1 yang memiliki kualitas cukup buruk)
Operator senapan mesin seluruh tank menembakkan senapan mesin berat 14,5mm, menyapu barisan depan kavaleri senapan Aliansi yang menggunakan senjata modern. Mereka terpesona dengan senjata kuno yang digunakan Aliansi di perang ini, yang kini merupakan barang museum. Tetap saja, walau musuh semakin berkembang, senjata pasukan dunia lain ini lebih mematikan.
__ADS_1
Pengemudi tank berusaha keras melewati medan hutan lebat ini, mendorong gajah besi mereka ke depan, hingga mesin mengerang kepanasan, hingga asap hitam mengepul dari tempat pembuangan. Walaupun di sisi lain asap hitam tebal yang keluar menutupi penembak senapan mesin, dan membuat mereka bisa menyapu barisan depan dan seterusnya kavaleri senapan Aliansi yang masih mengejar dan menembaki tank dengan proyektil 7,62mm dari senapan masing-masing.
Dalam kemampuan individu, kavaleri senapan Aliansi bukanlah tandingan infanteri bersenjata berat Pasukan Perdamaian, yang berarti mengharuskan mereka menggunakan taktik gelombang manusia lagi untuk usaha mengalahkan senjata-senjata baja dunia lain tersebut. Tetapi, Aliansi yang berjuang secara bergerombol dan keras memiliki keunggulan jumlah yang luar biasa untuk menutupi kelemahan.
Kadang-kadang, seluruh tentara Rusia, Indonesia, dan Korea Utara berpikir pasukan sebesar itu bisa mengalahkan mereka. Namun, mereka juga berpikir apakah perang ini tidak jauh berbeda dengan pembantaian prajurit musuh.
Di sisi lain, Aliansi – yang menyatakan diri sebagai pasukan umat manusia dunia ini – bisa kalah dari mesin pembunuh milik musuh dari dunia lain? Apa tujuan sebenarnya perang ini? Akankah pada akhirnya Periode Perang Besar akan mengakhiri segalanya?
Ketika Arga berpikir jika perang ini berakhir dengan terbunuhnya banyak tentara musuh, sebuah peleton kavaleri senapan Aliansi menghadang tank railgun-nya. Pengemudi tank tiba-tiba menghentikan kendaraannya secara mendadak, mengejutkan empat tank di sekitarnya.
SP-1 peleton tersebut melesatkan proyektil 7,62mm ke tubuh baja paduan kelima tank tempur utama, tanpa menggores catnya. Meski seluruh operator tank utama – masing-masing tank terdapat enam operator – dengan tenang menerima serangan musuh, di hati mereka juga merasa iba terhadap tentara-tentara Aliansi.
Layar holo pada setiap tank memproyeksikan informasi mengenai status seluruh medan tempur. Hologram menampilkan titik-titik berjumlah ratusan ribu yang menutupi area hutan di sekitar Benteng Girinhi.
Kompi Bantuan 002 ditandai dengan persegi berwarna hijau, dan sedang melindungi dua desa dari serbuan infateri berat Aliansi dan monster-monsternya. Pekerjaan unit ini tidak hanya melindungi desa-desa sekitar benteng, memberikan tembakan dukungan dan pasukan cadangan adalah fungsi mereka.
Tetapi, pertempuran berjalan agak buruk. Di mana unit lapis baja, yang befungsi sebagai pertahanan berjalan terus mendesak kavaleri senapan musuh di hutan, semakin maju mendekati perbatasan antara Arevelk dan Kekaisaran Luan.
Unit perbekalan dikerahkan ke tempat tank-tank berada. Kendaraan bantuan tembakan dan pengangkut lapis baja dikejar dan diserbu kavaleri senapan Aliansi yang seperti gelombang tanpa henti, menghambat para pembawa amunisi bagi para tank. Meriam otomatis ringan dan senapan mesin pada keenam kendaraan lapis baja beroda rantai tersebut berusaha membuat para penunggang kuda dengan senjata senapan tersebut mundur, tanpa adanya pembantaian sepihak. Komandan unit perbekalan merasa khawatir pada posisi kelima tank, yang berada sangat dekat dengan perbatasan.
Unit lapis baja belum mendapatkan kesempatan untuk membalas serangan, dan berusaha memancing kavaleri senapan Aliansi ke tempat terbuka. Pertempuran di hutan terlalu berbahaya bagi diri sendiri, dan makhluk hidup di hutan. Itulah mengapa mereka berkoordinasi bersama pasukan Arevelk untuk memetakan daerah sekitar benteng, dan menuju ke area terbuka terdekat.
Unit yang dipimpin Nio belum terlihat, namun mereka akan muncul di medan perang yang paling membutuhkannya, yang juga pertarungan paling berbahaya. Ketika mayat-mayat kuda, manusia, monster, dan potongan senjata pasukan Aliansi berserakan, pasukan Arevelk dan Yekirnovo mulai menderita korban jiwa.
Tumpukan Goblin keci serta besar, monster berkepala bab alias Orc, dan Kobold menumpuk, menciptakan bukit mayat. Di sebelahnya, mayat-mayat puluhan infanteri senapan Aliansi yang tersebar, berjumlah kurang dari 100 korban. Selain itu, puluhan kuda dan manusia, serta senapan yang hancur menambah jumlah mayat di hampir seluruh jalan tanah di desa tersebut, totalnya lebih dari 50 mayat kavaleri senapan Aliansi. Yang menciptakannya adalah Tim Ke-12, yang berjuang melindungi desa di sisi utara benteng, mencegah monster yang memiliki kemampuan bertarung beragam merusak desa.
Dan, ketika Nio dan bawahannya, Pembunuh Senyap, peleton Sigiz, dan Hevaz hendak menyusul unit lapis baja, dua puluh Wyvern besar melintas di atas mereka. Seluruh pawang pada kadal-kadal terbang tersebut menjatuhkan masing-masing dua guci tanah liat ke seluruh penjuru desa.
Melihat sesuatu menghujani dari atas, seluruh unit yang dipimpin Nio di desa ini berteriak, meminta seluruh orang untuk menyelamatkan diri sesegera mungkin, walau harus meningalkan harta benda. Ledakan api menyebar ke seluruh penjuru desa, menciptakan kobaran api raksasa yang melahap sebagian besar bangunan desa yang terbuat dari kayu. Bom molotov Aliansi pernah menjadi ancaman serius ketika penyerbuan besar pertama mereka terhadap Pasukan Ekspedisi TNI, dan serangan itu terulang lagi di pertempuran ini.
Kobaran api memaksa seluruh orang di desa untuk menyelamatkan diri, mengakibatkan moral penunggang Wyvern Aliansi bersorak gembira.
Penunggang Wyvern Aliansi melanjutkan pemboman, dengan merasa kemenangan bisa diraih dengan menghancurkan desa ini. Tidak adanya senjata pertahanan udara milik musuh membuat mereka dapat kembali menjatuhkan guci-guci berisi bahan mudah terbakar begitu menghantam tanah.
Beberapa bom molotov menghantam dua kendaraan taktis milik Tim Ke-12, menyelimutinya dengan kobaran api. Sayangnya, serangan itu tidak menghasilkan dampak fatal pada kendaraan, dan hanya meninggalkan noda gosong dan suhu di dalam mobil meningkat.
Tim Ke-12, Pembunuh Senyap, peleton Sigiz, dan Hevaz melawan sisa infanteri lapis baja Aliansi sambil menunggu api padam sepenuhnya.
Nio agak terganggu dengan api di sekitarnya, membuat ingatan buruk diputar kembali di pikirannya. Mata kirinya seperti seseorang yang sehabis mengalami mimpi buruk, dan dia merasa sakit di tubuhnya kambuh.
Nio berusaha mengendalikan diri, seolah-olah lautan api di sekitarnya tidak ada. Sayangnya, usaha itu tidak semudah yang diharapkan, dan trauma Nio kembali menguasai dirinya.
Beberapa tentara infanteri musuh berlari ke arah Nio dengan pedang diangkat di atas kepala. Proyektil ditembakkan tanpa dibidik oleh Nio, membuat sebagian besar serangan meleset, dan membunuh sedikit prajurit lawan. Layar holo pada helm-nya mengingatkan bahwa ada masalah pada perasaan Nio, dan mengingatkannya untuk tetap mengendalikan diri apapun keadaan di medan perang.
__ADS_1
Setelah api yang menutupi kendaraan padam, seluruh anggota tim berpindah ke titik lain setelah duduk secara tidak tenang di dalam mobil. Peleton Sigiz menunggang kuda masing-masing, dengan para Pembunuh Senyap menyusul dengan berlari dan melompat setelah menghabisi sejumlah prajurit musuh.
“Komandan, dia tidak ketinggalan, kan?” tanya pengemudi salah satu kendaraan taktis, Ardi.
Seluruh penumpang di kendaraan yang dikemudikan olehnya melihat sekeliling, lalu memasang ekspresi campuran terkejut, tegang, dan gelisah.
“Dia ketinggalan!” jawab Zefanya dengan panik.
“Musuh masih berkeliaran di sini. Aku khawatir trauma Komandan membuatnya kesulitan,” sambung ‘Perawat’ alias Gita.
“Apa yang kalian lakukan sampai meninggalkan Komandan?!” perkataan dengan nada marah yang keras datang dari wakil komandan, Hassan, setelah mendengar laporan Ardi tentang kondisi di kendaraan yang dia kemudikan.
Kedua tangan gadis Rusia itu langsung menggenggam gagang pintu, dan hampir menariknya. Dia berencana melompat keluar untuk menyusul Nio, namun tangan Hendra menahannya. Wajah laki-laki itu tenang, dan dengan mudah menahan usaha Zefanya untuk membuka pintu lalu keluar ketika kondisi pertarungan membuat mereka terdesak.
“Yakin pada Komandan. Dia tidak akan kalah dengan mudah,” ucap Hendra tenang, meski otaknya memerintahkannya untuk melakukan hal yang sama dengan Zefanya.
Dengan terpaksa, Zefanya duduk kembali di tempatnya, perasaannya campur aduk. Namun dia tidak sendiri, seluruh anggota Tim Ke-12 merasakan takut dan gelisah yang sama.
**
“Apa Anda tidak terluka, Tuan?”
“Ya.”
“Syukurlah.”
Nio dan Edera menatap dua kendaraan taktis Tim Ke-12 menjauhi mereka, meninggalkan si komandan tanpa alasan. Nio melepas helm tempur-nya, melihat kebakaran dengan lebih jelas. Hal itu membuat perasaannya terhadap api semakin buruk, dan berusaha keras menahan tubuhnya untuk tidak gemetar.
Setelah percakapan Nio dan Edera berakhir, Hevaz – yang terbang dan berusaha mengusir penunggang Wyvern Aliansi – mengatakan sesuatu dengan nada seperti seseorang membenci sesuatu.
“Namun, Tuan … saya memiliki kabar buruk.”
Melihat ke bawah pada kobaran api yang melahap seluruh bangunan desa, tumpukan mayat manusia, kuda, serta monster, Nio membalas laporan Hevaz.
“Kalau kau tidak menyukainya, lebih baik turun. Aku tidak memaksamu, tapi itu untuk menjaga dirimu tetap waras.”
Hevaz adalah Utusan Dewi Kematian dan Dewa Perang, yang berarti telah melihat berbagai peperangan dan kematian sejak dia ditugaskan. Kegilaan medan perang dan sakit dari kematian yang tak bisa dibayangkan, dia cukup terbiasa dengan berbagai sisi buruk dunia ini.
“Tuan Nio, pasukan yang dipimpin Lux dan penyihir militer Zariv mungkin akan tiba setengah hari lagi,” lapor Sigiz.
Tatapan tidak tenteram mata mata kiri Nio membuat Sigiz tidak nyaman. Di sisi lain, Nio dalam kondisi tenang, dan tidak menyadari jika orang-orang di sekitarnya gelisah. Para Pembunuh Senyap dan yang lainnya gugup dengan tatapan Nio, dan merasa jika ketua mereka tidak akan goyah. Jika Dewa Perang benar-benar ada, tatapan matanya pasti akan seperti milik Nio.
Nio telah menelan seluruh obat penahan rasa sakitnya yang berharga agar dirinya dapat terus bertarung, dengan imbalan tidak jelas.
__ADS_1
Dia berdiri di tengah kobaran api, lalu berjalan ke tempat pertarungan lain diikuti orang-orang yang menyatakan diri sebagai pengikutnya.
Melayani seorang pejuang muda bukanlah hal buruk, dan mereka dengan tatapan penuh keberanian mengikuti pemuda di depan untuk mengikuti pertarungan selanjutnya. Tidak ada yang tahu dengan berbagai hal di medan perang berbahaya, karena tidak tahu dengan kejutan yang dimiliki Aliansi.