
Setelah melakukan pertemuan rahasia dengan agen ganda Persekutuan, Tam.
“Komandan datang.”
Orang pertama yang menyadari kedatangan Nio adalah wakil komandan Tim Ke-12, Sersan Mayor Hassan. Nio kembali ke markas regu-nya untuk memberi tahu bawahannya tentang penugasan, dan Hassan langsung menyiapkan kopi hitam hangat untuknya. Benar-benar rekan yang perhatian.
Bagian terbaiknya adalah tidak ada anggota yang tidak membenci rokok. Nio akan merokok setelah bertahan dari tekanan berat, atau terlalu lama memikirkan suatu hal yang memberatkan otaknya. Tidak akan ada yang melarang siapapun merokok di medan perang, tapi telah disediakan tempat khusus untuk merokok. Hal itu demi menghindari seseorang yang marah akan sebuah serangan asap rokok yang menyebabkan mata pedih dan hidung gatal.
Membatasi hak-hak suatu individu jelas perbuatan pelanggaran HAM, dan karena hal itu sulit mengatur seseorang. Tetapi, jika seseorang melakukan suatu hal secara berlebihan, seperti merokok sepuluh bungkus sehari (satu bungkus biasa berisi 12 hingga 20 batang rokok), maka seharusnya baik-baik saja menghukumnya dengan sangat berat. Tentu saja hal itu dilakukan demi kesehatan paru-paru tersangka.
Yang seharusnya dipertanyakan adalah perwira markas yang jarang melakukan pekerjaan berat di lapangan, tetapi rokok, kopi, dan alkohol (bagi kontingen Rusia dan Korea Utara) selalu tersedia dengan pembelian menggunakan ‘sedikit’ uang anggaran dari masing-masing negara.
“Kita bisa saja akan melakukan serbuan pertama, yang pastinya hanya perang palsu di antara perang asli. Tapi, mereka seperti ingin segera bertarung.”
Nio merenung di sudut markas Tim Ke-12, mengembuskan asap rokok dengan santai.
Dia kemudian berdiri, membuang puntung rokok yang diapit jari telunjuk dan tengah dari satu-satunya tangan yang Nio miliki ke asbak portabel. Dia lalu meletakkan sebuah papan klip yang berisi sejumlah lembar kertas HVS ukuran A4, dan mulai menulis catatan tentang kemungkinan di medan perang.
Nio sadar jika dia secara tak langsung mendukung serbuan pertama TNI terhadap Aliansi, tepatnya dia tidak bisa mencegahnya. Unit yang selalu bertahan tetap memiliki rencana untuk membalas, dengan tetap memikirkan kondisi pasokan.
Bukan hanya itu, taktik yang Nio sarankan melibatkan puluhan kapal perang TNI AL yang dipindahkan ke dunia ini, membuatnya mampu mencium aroma kematian. Sementara itu, komandan salah unit misi khusus, yakni Tim Ke-12 sedang merencanakan operasi pendaratan rahasian di garis belakang musuh.
“Secara tak langsung aku juga terlalu sering berperang,” kata Nio, menyaksikan para bawahannya memoles senjata masing-masing saat ia sedang berpikir.
Perlu berpikir dua kali jika seseorang ingin berjuang bersama sekelompok orang yang terlalu menyukai pertarungan. Nio pernah bertempur hampir tanpa senjata, dan sedikit orang yang bisa mengikutinya.
Nio mencurigai jika perwira-perwira Pasukan Perdamaian di dunia ini terlalu tenggelam dalam keinginan untuk meraih prestasi dalam perang. Buktinya; Jenderal Angga menyetujui saran Nio melakukan operasi amfibi dan menyerbu garis belakang lawan. Mereka tampak jauh lebih tertarik pada taktik tempur dari apapun yang Nio kira.
“Perang memang sulit dimengerti,” batin Nio lagi.
Jika pertempuran ini dapat dimenangkan, maka Nio akan dengan senang hati bekerja keras demi kemajuan operasi. Mempertimbangkan betapa uniknya cara bertempur para prajurit elit dan reguler ‘Tentara Pelajar’, Nio memperkirakan risiko terendah jika mereka melancarkan serangan garis belakang, dan menyerahkan operasi pendaratan kepada pasukan amfibi yang berpengalaman.
Penyerbuan atas permintaan Presiden ini akan menjadi pertama kalinya Nio bertarung dan bekerja sama dengan perwira tinggi seperti Jenderal Angga. Ketika Nio melakukan pembicaraan bersamanya, Jenderal Angga ternyata cukup mudah diajak bekerja sama.
“Kuharap pertempuran ini akan berjalan dengan baik,” batin Nio, wajahnya menunjukkan dia benar-benar menantikannya.
Tapi, itu tidak berarti tanpa masalah.
“Ada yang bisa mencarikanku peta Benua Andzrev?”
__ADS_1
“Ini, Komandan.”
Nio mengambil peta Benua Andzrev yang dibawakan Hendra, dan melingkari suatu titik yang menjadi target penyerbuan.
Nio memegang dahinya dengan satu-satunya tangannya, dan memeras otaknya.
Medan perang terpusat di sepanjang perbatasan barat Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo, dengan seluruh penyerangan dimulai terlebih dulu oleh Aliansi. Tapi, Teluk Tanduk di Kerajaan Salodki benar-benar memenuhi syarat sebagai pertahanan pesisir, sesuai informasi yang Nio terima dari Tam. Kerajaan Salodki adalah garis belakang Aliansi di Benua Andzrev, dengan perkiraan jumlah pasukan di sana tidak mencapai 300.000 tentara. Kapal-kapal dapat membombardir teluk sesuka hati setelah meriam dan penyihir tempur ditumpas dan dihancurkan. Tam memperkirakan jumlah meriam di Teluk Tanduk sekitar 300 buah, diperkuat oleh 60.000 tentara termasuk 100 penyihir temput elit. Itu artinya, Teluk Tanduk cukup sulit ditembus.
TNI bisa saja menggunakan meriam laser atau peluru kendali berdaya ledak tinggi untuk menghancurkan pasukan Aliansi di Teluk Tanduk, tentu saja jika mereka ingin Indonesia dan angkatan bersenjatanya dijuluki sebagai ‘pembantai’.
Layaknya Singapura yang membangun benteng laut-nya selama konflikantara FPDA dan Indonesia, pasukan darat TNI tetap akan mudah melakukan pendaratan melalui jalur laut. Dengan kata lain, benteng laut yang lemah milik Aliansi mudah diterobos oleh kapal-kapal perang Indonesia. Bahkan jika Aliansi mengirimkan kapal dengan 100 meriam.
Setelah memikirkan hal itu, Nio mulai menggambar skenario pertempuran sesuai dengan alur yang dia bayangkan di atas peta.
Penyihir tempur dan ratusan meriam tentu saja merupakan ancaman bagi perahu-perahu pendarat tank dan personel. Setidaknya itulah batasan ancaman yang dihasilkan senjata-senjata andalan musuh. Meriam dan penyihir mungkin bisa dilawan dari belakang dengan peledak dan senjata apapun yang prajurit miliki. Biasanya, senjata pertahanan pesisir diposisikan menghadap pintu masuk teluk, sehingga tidak mampu menahan gempuran dari belakang.
“Dengan segala keunggulan kita, bisakah kita menang?” ucap Nio di dalam hati.
Bagi Nio, senjata terkuat Aliansi bukanlah penyihir elit. Tam memberi informasi kepada Nio bahwa dua orang Pahlawan menjadi kekuatan tambahan bagi pertahanan di Teluk Tanduk. Faktor penentu jika TNI ingin menang adalah menghancurkan kekuatan utama lawan.
“Serangan dari belakang, memang kurasa memberi kami peluang menang yang cukup, tentu saja setelah menangani dua Pahlawan.”
Nio kemudian mengeluarkan buku saku yang berisi laporan Staf Markas, Staf Perencanaan Strategi Umum dan Khusus, dan menggabungkannya dengan peta Kerajaan Salodki dan memfokuskan diri pada wilayah Teluk Tanduk.
Staf Markas dan perencanaan strategi sedang menyusun operasi skala besar pertama sejak terbentuknya Pasukan Perdamaian. Dengan sedikit bantuan dari Korea Utara dan Rusia, operasi bisa dipastikan akan benar-benar berjalan.
Jika operasi pertempuran ofensif pertama berhasil dengan memanfaatkan rencana darurat, keajaiban semacam itu tentu saja sangat dinantikan.
Tapi, intinya keajaiban adalah hal langka dalam perang. Setelah menyadari hal tersebut, Nio menghela napas. Nio berpikir jika mungkin pertarungan kecil pasukan amfibi gagal, dan pertempuran ofensif pertama TNI akan berakhir dimanfaatkan oleh militer untuk tidak mengikuti Rusia dan Korea menarik pasukannya dari dunia ini, dengan kata lain ‘melarikan diri’ dari perang. Namun, jika rencana berhasil, akan ada banyak pihak yang diuntungkan, dan ada kemungkinan Staf Markas akan memimpin perang.
Saat ini, Aliansi yang terus berkembang menggunakan senjata modern mereka dapat merepotkan Pasukan Perdamaian dan Persekutuan, tetapi Aliansi tidak memiliki kekuatan cukup untuk melakukan pertempuran total.
Setidaknya Nio memiliki banyak pengalaman, dia tidak ingin membuat kesalahan yang mengakibatkan kerugian besar bagi negara.
Kadang pemikiran Nio tidak umum.
“Sersan Hassan, apa kau ingin terus bertarung?”
“Kenapa kau menanyakan itu tiba-tiba, Komandan?” Hassan menjawab pertanyaan Nio untuk mengetahui niat komandannya. Dilihat dari reaksi Nio yang biasa saja, Hassan merasa lega dan berpikir tidak perlu mengkhawatirkan apapun.
__ADS_1
Begitu juga dengan Nio, seluruh bawahannya yang mendengar perkataan ‘bertarung’ darinya mengeluarkan ekspresi yang sama. Mereka sama sekali tidak terkejut maupun tertekan.
Nio kemudian menyesap kopi hitam hangatnya, lalu berkata, “Sepertinya negara mengeluarkan anggaran pertahanan lebih besar dari biasanya. Sulit dipercaya, sehingga pemerintah berani merencanakan pertempuran ofensif pertama.”
Nio mengatakan perintahnya yang tertahan di mulutnya kepada wakil komandannya yang terpercaya, Sersan Mayor Hassan. Nio tidak bisa membiarkan informasi apapun bocor.
“Singkatnya, lima bulan sebelum penarikan total kontingen Rusia dan Korea Utara akan ada pertempuran, “ hanya dengan pernyataan Nio tersebut, Hassan bisa menyadari bahwa kontingen Indonesia di dunia ini menyusun rencana penyerbuan pertama secara terburu-buru. Sebenarnya Hassan tidak ingin perang melelahkan seperti di Benteng Girinhi terjadi lagi.
Hal itu seperti menciptakan pertaruhan besar ketika pasukan sebenarnya memiliki banyak anggaran dalam bentuk uang tunai, karena harga yang di bayar dalam perang adalah nyawa para prajurit. Keprihatinan tersebut bertambah ketika prajurit tidak mendapatkan bayaran insentif yang layak.
Tapi, Nio bisa mengajukan proposal pada komandan Tim Misi Istimewa untuk mendapatkan dana dalam rangka pesta kecil sebelum bertempur. Nio sadar regu-nya telah bekerja keras dalam medan perang keras dunia fantasi ini. daripada mengembangkan reputasi diri yang dingin, akan lebih baik jika dirinya sebenarnya sangat bersahabat, meski dalam pertempuran menjadi agak liar.
“Mari bersenang-senang dulu sebelum berjuang. Semuanya bisa makan enak dan kopi sepuasnya.”
Tapi, Zefanya kemudian menyela dengan wajah bahagia.
“Tapi Letnan, Rusia memiliki banyak alkohol gratis. Saking banyaknya, seluruh alkohol bisa dijadikan kolam renang.”
Tapi, seluruh pria dan perempuan TNI Tim Ke-12 menolak ajakan tak langsung Zefanya tersebut.
Dengan ekspresi kemenangan di wajahnya, Kaikoa berkata, “Kalau aku lebih memilih pesta cola dan daging panggang.”
Usulan pria Papua tersebut langsung disetujui seluruh pria dan perempuan Tim Ke-12.
“Tapi, bukankah kita bisa mengambil daging dari peternakan jika meminta ijin Staf Keamanan Pangan?” tanya Ratna.
Nio menjawab, “Oh, jangan khawatir. Aku bisa mengajukan pengambilan dana operasional dari Kapten Baek-ho. Dana itu akan kita gunakan untuk bersenang-senang bersama Kompi Bantuan 002 dan Pembunuh Senyap.”
“Ya, kita perlu berterimakasih pada mereka,” sambung Gita.
Mereka, unit independen di bawah komando Nio, ‘Pembunuh Senyap’, tidak dibayar oleh Pasukan Perdamaian dan Persekutuan. Mereka merupakan pengungsi dari Kekaisaran Luan di bawah tanggung jawab Tim Ke-12, dengan penanggung jawab utama Letnan Satu ‘TRIP’ Nio Candranala. Dia dengan senang hati mengeluarkan dana dari kantong sendiri untuk memberi makan 40 orang Demihuman tersebut. Sebagai imbalan, 24 orang dari kelompok pengungsi tersebut dengan rela menyatakan setia terhadap Nio, dan siap berjuang bersamanya selama perang. Tabungan Nio cukup untuk membangun rumah bagi Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap, tapi dia tidak akan melakukan hal tersebut sebelum dua puluh Valiki miliknya terjual.
“Memang ini peluang bagus untuk meningkatkan moral mereka. Kirim mereka undangan ke pesta kita,” perintah Nio diterima baik oleh para bawahannya.
Tidak ada yang dapat menghentikan keputusan Nio. Sangat menguntungkan memiliki banyak rekan yang bisa melemahkan mangsa dalam perjuangan bersama. Lebih dari segalanya, Nio ingin membangkitkan moral pasukan Kompi Bantuan 002 yang sempat terjun bebas, dia berniat membuat Pembunuh Senyap tetap membuktikan sumpah setia padanya.
Setidaknya dia ingin namanya dikenal banyak orang bukan sebagai ‘Mayat Hidup’ yang bertempur dengan gila hingga berhasil mengalahkan salah satu Pahlawan terkuat milik Aliansi, tetapi tentara remaja biasa bernama Nio Candranala.
**
__ADS_1
(funfact#25: Valiki merupakan campuran dari berbagai logam mulia yang hanya ada di dunia fantasi, sehingga dinyatakan jauh lebih berharga dari berlian dari dunia asal. Dibutuhkan sihir tertentu dan perjuangan bertaruh nyawa untuk menemukan jenis-jenis logam mulia sebagai bahan pembuatan uang Valiki. Perkiraan harga 1 Valiki sekitar 5 triliun rupiah. Ada seorang pengusaha luar negeri yang memasang harga 5,3 triliun rupiah untuk 1 Valiki milik Nio, tapi dia masih mencari harga tawaran tertinggi.)