
“Perang sialan!!!”
Dirinya meledak-ledak, sementara di depannya ada ribuan prajurit manusia musuh yang diperkuat monster dan Wyvern perlu untuk dihadapi dan dikalahkan.
Dibalik asap hitam tebal yang mengepung medan tempur berupa sebuah kota hancur hingga rata dengan tanah, musuh mulai menyerbu sambil mengeluarkan teriakkan peperangan. Menatap lawan yang memakai zirah logam kokoh, Prajurit Dua Nio menatap mereka dengan wajah gelisah, namun beberapa perwira malah tersenyum.
Beberapa binatang tempur fantasi milik musuh dengan ukuran empat kali tank tempur utama melemparkan sejumlah kendaraan tempur ke udara, hingga menyebabkan serpihan logam berhamburan ke udara, dilanjutkan ledakan.
Nio dan kawan-kawannya mengikuti suara tembakan para senior, lalu disambut oleh pemandangan yang tak diharapkan. Ini adalah sekian kalinya Nio melihat TNI dihancurkan, baja-baja tua yang disebut senjata seharusnya pantas dimuseumkan atau sebagai monumen akhirnya dijadikan besi rongsokan oleh monster-monster dunia lain.
Naluri Nio dan seluruh pejuang untuk mempertahankan diri – yang seharusnya mereka sekarang sedang belajar matematika yang membuat otak mendidih atau melaksanakan Praktek Kerja Lapangan – berkata jika mereka tidak dapat mengalahkan makhluk-makhluk fantasi para penjajah tersebut. Di sisi lain, akal sehat Nio memerintahkannya terus berjuang demi orang yang masih menunggunya.
Berdiri diam di balik tembok sebuah rumah yang hancur, Nio berlari seolah-olah senapan tua miliknya mendorong dirinya ke depan. Dia menyerbu melalui logam-logam hidup – alias tentara musuh – dan melindungi rekan-rekan di sekitarnya.
Dicekam oleh suara teriakkan binatang tempur, tembakan, ledakan, jeritan prajurit yang terbunuh, Nio terus mengarahkan senapannya ke semua musuh di hadapannya. Rasanya sulit bernapas di medan perang yang sesak, dan hidungnya hanya mencium aroma bubuk mesiu dan darah. Hanya darah, potongan logam dan tubuh manusia di sepanjang mata memandang.
Ini bukan pertama kali Nio bertempur, dia telah melakukan pertempuran melawan musuh-musuh berupa hologram ketika latihan. Jika dia ingin tetap hidup di pertempuran ini, dia harus melakukan sesuatu, setidaknya terus berjuang melindungi semua hal yang berharga hingga peluru dan tenaga habis.
Dia bisa mendengar suara jeritan kawan-kawan yang telah mati, dan lawan yang meregang nyawa dengan tubuh berlubang akibat lesatan peluru senapan mesin berat. Sebagian diri Nio menganggap pertarungan yang ia hadiri bodoh, tetapi Nio tidak bisa mengejek lawan yang terbunuh, karena dia tidak ada bedanya dengan musuh. Sekarang, dia hanya perlu melakukan yang harus dilakukan, karena dia telah berada dalam situasi ini.
Perjuangan bodoh yang tidak berarti – seperti perang ini – membuat semua prajurit hanya memikirkan cara kematian paling mulia. Namun, jika Nio sadar untuk apa dia bertarung, dia tidak ingin mati di sini.
Apa yang didapatkan setelah berjuang?
Dan jika dia gugur, apa yang akan didapatkan Arunika?
Tidak ada satupun wajah yang terlintas di pikirannya kecuali satu-satunya keluarganya yang tersisa, setidaknya untuk sementara itu yang dia yakini. Dia dilatih tidak menyesal terjun ke pertempuran.
Rekan-rekan yang gelisah meneriakkan ketakutan mereka. Lalu, kedua mata Nio melihat puluhan banteng raksasa fantasi dengan empat tanduk di kepala menyeruduk semua prajurit TNI dan TRIP di hadapannya, beserta kendaraan tempur yang ditabrak hingga terbalik.
Barisan tank ringan menembakkan peluru berdaya ledak tinggi, dan menghancurkan sasaran berupa banteng-banteng fantasi menjadi potongan kecil daging yang masih hangat.
Itu adalah hal terakhir yang Nio lihat sebelum dirinya terhempas, terkena dampak ledakan peluru tank, lalu kehilangan kesadaran.
Monster-monster menyebalkan musuh sebagian besar dinetralkan.
Prajurit-prajurit komunikasi mengirimkan laporan ke markas pusat batalyon, mereka juga mengirimkan beberapa permintaan tembakan dukungan ulangan. Meskipun tembakan pendukung dari artileri berat berulang-kali diberikan, serangan selanjutkan ditujukan dengan maksud menghancurkan dan memusnahkan unit-unit tertentu musuh yang berpotensi menimbulkan korban lebih banyak di pihan TNI.
Prajurit TRIP yang berfungsi melakukan tugas pertempuran pendukung tidak memiliki sarana untuk mengalahkan unit-unit tertentu musuh, sehingga mengandalkan Komando Pasukan Utama TNI untuk memberikan serbuan terbaik untuk membawa musuh pada kematian adalah pilihan terbaik.
Dan kemudian, hal itu terjadi. Beberapa peluru meriam 155mm berdaya ledak tinggi, di tambah drone pengangkut puluhan mortir 81mm bergabung dalam pertempuran.
Lalu, rentetan ledakan besar menyelimuti medan perang.
Beberapa monster fantasi yang dilapisi zirah logam yang mampu menahan lesatan peluru senapan serbu dan mesin berat, tanpa ampun dihancurkan oleh kurang dari seratus mortir dan peluru meriam berdaya ledak tinggi.
Mesin perang hidup tanpa rasa takut milik penjajah akhirnya hampir tak bersisa. Ribuan tentara lawan hampir putus asa, namun para komandannya meneriakkan ancaman yang membuat semangat juang mereka kembali bangkit.
Kemudian, terjadi rentetan serangan dari meriam tank dan kendaraan tempur.
Hujan peluru kaliber sedang hingga besar merobek-robek zirah logam pasukan musuh, dan merubahnya menjadi serpihan. Tembakan beruntun tanpa henti selama beberapa menit itu dilakukan agar pasukan kawan terhindari dari bahaya, dan dapat melakukan serangan pendukung lainnya.
Musuh yang telah kehabisan senjata andalannya tidak memiliki cara lain untuk menghadapi serbuan sihir api TNI.
Lalu, Nio bermimpi ketika seorang sahabat menyeret tubuhnya ke lokasi aman, dengan pasukan medis siap.
Nio hanyalah anak kecil berusia 6 tahun, dan seorang pria 30 tahun-an sedang menggandeng tangannya. Hanya mereka berdua, tanpa seorang wanita yang bisa membuat keluarga ini kembali utuh. Ibunya meninggalkan mereka berdua satu minggu lalu.
Nio dan ayahnya sedang berjalan melalui jalan desa rusak dan berlubang banyak, tidak diketahui tujuannya.
“Bapak…?” Nio mendongak, hanya untuk melihat ayahnya.
Ayahnya tersenyum. Itu adalah pemandangan yang ingin Nio lihat sekali lagi, dan membuatnya nostalgia.
__ADS_1
Di bawah pohon asam yang cukup besar, ayah Nio berlutut dengan tatapan sedih. Dia melihat anak laki-lakinya berdiri tegap, berbeda dengan anak seusianya yang sulit berdiri tegak. Hal itu juga membuatnya mengingat masa lalu.
Nio dengan cepat mampu menenangkan diri, dan menatap ayahnya dengan ceria walau suasana masih diselimuti duka.
“Jangan merasa kamu terus sendiri, bapak akan melakukan semua yang aku mampu lakukan hingga kamu menemukan kebahagiaan. Lagipula, di masa depan, kamu akan punya kisah perjuangan menakjubkan bersama teman-teman yang hebat.”
Masih berlutut, hingga wajahnya sejajar dengan mata Nio kecil, pria 30 tahun-an itu melanjutkan:
“Kamu akan tumbuh melebihi bapakmu ini, Nio.”
Terkejut dengan perkataan ayahnya, Nio melihat kedua telapak tangan mungilnya, yang bahkan belum mampu memegang pensil dengan benar.
Lalu, Nio ingin memanggil nama ayahnya sekali lagi, namun suaranya tak ingin keluar.
Sekarang, dia melihat telapak tangannya lagi, yang sekarang hanya tersisa tangan kiri. Di depannya, ayah yang dulu cukup tinggi, sekarang hanya setinggi pundaknya. Pria dewasa di hadapannya memasang wajah bahagia, hingga kedua matanya berkaca-kaca. Namun, tidak ada komunikasi di antara mereka berdua.
Satu-satunya tangan Nio terulur, mencoba menggapai ayahnya yang kini dalam kondisi cahaya menyelimuti seluruh tubuhnya.
Nio sadar, di hadapannya hanyalah hantu ayahnya, sehingga tidak ada pembicaraan yang terdengar.
Namun…
“Bagaimana perjuanganmu, Nio? Pasti sakit, kan? Dan kekuatanmu sekarang membuatku bisa melihatmu lagi. Maaf.”
Nio ingin bahwa ucapan ‘maaf’ ayahnya adalah salah, namun yang keluar hanyalah kepalanya yang menggeleng. Dia memang ingin mengatakan jika perjuangannya hingga sekarang sangat menyakitkan, dan itu bukanlah kebohongan. Sungguh menyakitkan melihat ayahnya yang pernah menderita demi dirinya, kini kembali hampir menangis.
Sungguh menyakitkan untuk melihat ayah yang seharusnya beristirahat dengan tenang, namun kembali bangkit hanya untuk mengatakan ‘maaf’. Nio tidak akan memaafkan ayahnya, karena tidak pernah melihat perjuangannya yang hebat. Rasanya sakit selanjutnya adalah bahwa dia tidak pernah bertemu ayahnya yang nyata.
Tapi tetap saja, dia bisa melihat kembali hantu ayahnya karena berhasil berjuang sejauh ini. Dia bisa menahan hari-hari yang dihabiskannya untuk melawan musuh dari dunia fantasi dalam perjuangan tanpa hasil, pertempuran tanpa henti, dan malam-malam yang menyakitkan karena dia harus melihat musuh dan kawan yang terus terbunuh yang menjadi kepahitannya setiap hari. Namun, dia berjuang untuk tujuan melindungi semua orang yang membutuhkan tenaganya, dan meneruskan kata-kata ayahnya.
Jika dia tidak memegang janji miliknya, dia telah lama mati di medan perang. Karena di sana kematian terus menunggu, namun dia adalah si ‘Mayat Hidup’. Ada banyak kata-kaya yang ingin didengar ayahnya.
Tapi, tidak ada suara yang terdengar darinya.
Ayah Nio tertawa, suaranya tegas dan mampu membuat Nio agak gentar.
“Sekali-kali kunjungi makamku dan kedua ibumu. Kamu masih memiliki umur panjang … jaga dirimu dan Arunika baik-baik … kau adalah pahlawan … berbahagialah, jangan terus memasang wajah kaku.”
Tubuh Nio akhirnya bisa bergerak, dan dirinya maju ke depan untuk memeluk ayahnya.
Dia merasakan lega yang luar biasa setelah melakukan pelukan hangat, meski dengan hantu ayahnya. Ayahnya tampak memasang wajah bahagia, hingga matanya memejam erat agar tidak mengeluarkan air mata.
Lalu, setelah melepaskan pelukan, Nio melihat sosok kedua ibunya, dan kawan-kawan yang telah gugur tak terhitung jumlahnya berbaris di belakang ayahnya. Dia tak akan bertemu mereka lagi.
Kemudian, sesuatu membuat cahaya yang menyelimuti tubuh seluruh hantu di depannya memudar. Nio ingin meraih tangan ayahnya sebelum berpisah, namun yang dia pegang hanyalah hantu, hal yang memisahkan orang hidup dan orang mati menghalangi tujuan Nio.
Semua hantu orang-orang yang dia kenal dan mengenalnya tersenyum ketika mereka perlahan menghilang. Nio tahu dia tidak akan berhasil meraih semua orang, tetapi dia masih berusaha dengan wajah sedih.
“Sadarkan dia!”
Sebuah suara, dilanjutkan tamparan sangat kuat membangunkan Nio dari tidurnya.
Satu-satunya mata Nio menatap langit-langit Pusat Kesehatan dan Medis Militer Pasukan Perdamaian dan Persekutuan yang kusam. Nio mengedipkan mata kirinya beberapa kali, hingga penglihatannya kembali normal. Beberapa perangkat penunjang kehidupan dan moniter ada di sampingnya, mengeluarkan bunyi ‘bip’ yang senada dengan detak jantungnya. Lalu, hidungnya mencium aroma desinfektan yang menyebalkan.
Sebuah sensasi di dalam hatinya mendorongnya menyembunyikan wajahnya, takut seseorang melihat ekspresinya. Emosi yang berlarut-larut adalah campuran perasaan rindu, sedih, dan kehilangan tingkat tinggi. Potongan-potongan kenangan indah pada masa damai mengisi pikirannya.
Saat mata kirinya melihat sekeliling, dia dikerumuni banyak orang. Lalu, saat dia mendongak untuk melihat wajah semua orang, yang dia dapati adalah seluruh gadis mengelilinginya. Mereka semua tersenyum ke arahnya sangat manis, hingga Nio hanya bisa membalasnya dengan senyuman canggung.
Lalu, penglihatannya beralih ke jendela besar ruangannya dirawat. Dia melihat sejumlah pria memandang dirinya penuh iri dan kebencian yang sangat kuat.
“Akhirnya kamu sadar…”
Itu bukan suara gadis!
__ADS_1
Seorang pria yang dikenal seluruh orang di Indonesia muncul diantara para gadis.
Pria itu berbicara dengan lembut yang mengingatkan Nio pada seseorang yang bisa dilupakan setelah masa jabatannya berakhir.
“Pak. Dia baru saja mengalami tidur panjang karena efek samping operasi. Tolong jangan…”
“Aku paham. Aku hanya ingin bertukar kata dengan Nio.”
Perawat yang memperingati pria itu bisa dipastikan salah satu prajurit medis Persekutuan.
“Selamat siang, salah satu prajurit andalanku. Apa kau ingat siapa aku?”
Biasanya, menjawab pertanyaan mudah seperti itu hanya membutuhkan waktu kurang dari sedetik, tetapi butuh beberapa detik bagi Nio untuk memproses semua memorinya. Pikirannya campur aduk, mungkin karena efek obat bius yang kuat.
“Surya Roso Asmoro! Pak Suroso?! Maaf, saya tidak bisa mengingat Anda sementara waktu. Pasti itu sangat menyinggung Anda. Sekali lagi, mohon maaf yang sebesar-besarnya dari saya!”
Setelah pertempuran yang hampir menghancurkan salah satu benteng terbesar Kerajaan Arevelk, markas pusat Pasukan Perdamaian mengirimkan laporan ke TNI dan pemerintah mengenai hasil dan siapa saja yang terlibat dalam pertempuran yang menghasilkan kemenangan bagi Persekutuan. Banyak nama prajurit muda yang tertulis dalam laporan.
Pasukan garis depan Indonesia, Korea Utara, dan Rusia di dunia ini telah mengalahkan pasukan Aliansi yang berjumlah seratus ribu. Berdasarkan pengakuan beberapa saksi mata dan rekaman drone kupu-kupu yang dikerahkan sebagai mata tambahan bagi Gandiwa milik TNI, Nio berhasil membuat pengkhianat TNI yang menjadi prajurit terkuat Aliansi mundur dengan kesakitan.
TNI dan seluruh angkatan bersenjata negara sekutu Indonesia dipenuhi kegembiraan. Akhirnya, mereka memiliki cara bahwa tetap ada cara untuk mengalahkan senjata terkuat milik Aliansi yang disebut ‘Pahlawan’ tanpa perlu mengerahkan senjata rahasia. Pada saat yang bersamaan, banyak pihak yang mengkhawatirkan keselamatan para prajurit di dunia ini. Ada ungkapan dari negara-negara kuat bahwa TNI telah putus asa, sehingga banyak prajurit muda tanpa pengalaman memadai dikirimkan ke medan perang dunia lain.
Hal itu berubah menjadi kemarahan saat negara-negara kuat yang mengejek keputusan Indonesia, Rusia, dan Korea Utara membentuk Pasukan Perdamaian versi ketiga negara tersebut, dan meragukan perjuangan Persekutuan. Ketika hampir setiap hari mendapatkan tekanan dari musuh, apa yang bisa dilakukan selain melawan?
Musuh sangat sulit di ajak berdialog, sehingga pilihan selain menerima tantangan mereka dengan terpaksa dilakukan.
Kesejahteraan para prajurit muda adalah kekhawatiran utama publik. Para pejuang remaja harus mendapatkan kehidupan yang damai, di tanah air dengan bersama orang-orang tersayang.
Selain ingatan pertempuran masa lalunya yang tanpa penyesalan, Nio tidak merasakan apapun setelah kehilangan tangan kanannya ‘lagi’.
“Itu bukti jika kamu dan prajurit SMA di sini berjuang dengan keras,” kata Suroso, kedua matanya melirik ke lengan kemeja sebelah kanan yang berkibar akibat hembusan kipas angin.
“Mohon maaf. Saya tidak bisa menjaga amanat dari Anda untuk merawat tangan bionik yang sangat berharga itu.”
Suroso terkejut mendengar penyataan Nio yang seolah-olah bisa membaca pikirannya, sementara wajah Nio masih tertunduk lesu dengan tatapan mata kiri masih lemah.
“Apa menurutmu aku akan marah? Lagipula tangan bionik itu cuma protitipe, dengan desain asli sedang dalam tahap produksi. Menurut orang-orang yang mengembangkan tangan bionik untukmu, masih ada banyak kelemahan pada semua teknologinya. Apa kamu mau menggunakan tangan bionik lagi? Yang bukan model prototipe?”
“Jadi saya hanya tikus percobaan, ya?”
Menggunakan senjata uji coba dalam pertempuran sesungguhnya bisa dikatakan sebagai tindakan bunuh diri, namun Nio masih hidup hingga sekarang meski prototipe tangan bioniknya memiliki banyak kekurangan yang tak terhitung, namun dia tidak berani mengadukannya.
“Kami semua dipilih olehmu sebagai anggota Tim Ke-12. Dan itulah mengapa kami tidak bisa menerima apa yang kau laukan, Komandan. Kau sendiri mungkin sudah cukup untuk mengalahkan musuh kuat, tetapi itu bukan berarti kau bisa membuat keputusan untuk melakukan pertarungan sendirian. Jangan lakukan itu lagi.”
“Semua orang sangat khawatir denganmu.”
Di saat Barista dan Pak Guru mengatakan itu, ekspresi seluruh anggota Tim Ke-12 tampak sangat mengkhawatirkan Nio.
Melihat Nio yang tersenyum sebagai tanggapan perkataan anggotanya, Suroso tersenyum.
“Mungkin langkah yang kami tetapkan terlalu berbahaya. Yakinlah, kami tidak bermaksud memperlakukan pasukan di sini dengan buruk. Bagaimanapun, para prajurit TRIP di sini adalah penerus perjuangan.”
Nio menjawab, “Yah, saya percaya dengan perkataan Anda. Saya yakin, banyak orang-orang di pemerintahan, angkatan bersenjata Indonesia, Rusia, dan Korea Utara menyusun rencana yang menyulitkan kami di sini karena mereka tidak tahu yang terjadi di sini.”
Tapi, itu bukan berarti Nio telah mempercayai semua orang.
Mendapatkan perintah itu berarti harus melaksanakannya secara total, walau apa yang dilakukan tidak ada dalam standar operasional prosedur. Setidaknya, masih ada beberapa pihak yang ‘kasihan’ terhadap perjuangan seluruh prajurit yang dikirimkan ke dunia antah-berantah ini. Bahkan Nio yang dalam kondisi cukup parah hingga harus mendapatkan operasi untuk melepas sisa tangan bioniknya kembali mendapatkan tawaran untuk menggunakan tangan bionik yang sesungguhnya.
Tapi, begitu dia selesai melaksanakan tugasnya sebagai prajurit, dan begitu semua musuh telah dikalahkan, akankah dia dan seluruh pejuang akan dilupakan?
Itu akan menjadi akhir yang sangat buruk untuk dibayangkan, melebihi apapun.
Para remaja yang menjadi prajurit memiliki hak-hak khusus dalam undang-undang, walau di sisi lain mereka tetap sama seperti prajurit biasa di mata hukum. Pemerintah tetap bertanggung jawab atas kesejahteraan para prajurit SMA dan keluarganya, namun tidak bisa memutuskan hanya berdasarkan simpati.
__ADS_1
Setelah semua orang meninggalkannya untuk beristirahat dengan tenang di kamar perawatan, Nio menatap langit-langit transparan yang membuatnya bisa melihat dua bulan dunia ini. Dia menghela napas, merindukan kekasihnya.