Prajurit SMA

Prajurit SMA
Perang batin: uji iman


__ADS_3

Pintu masuk Kota Bawah Tanah Garnisun Karanganyar yang baru masih dalam tahap pembangunan untuk mendapatkan peningkatan. Benteng yang melindungi gerbang masuk ke markas Kompi 406-32 berada di tengah kota – dengan status medan perang potensial belum dicabut – berwarna abu-abu. Dengan kemampuan perlindungan dari serangan senjata biologi, nuklir, dan kimia, kota bawah tanah di Kota Karanganyar juga berfungsi sebagai tempat penampungan warga sipil jika sewaktu-waktu kota itu mendapatkan serangan.


Setelah menunjukkan kartu identitasnya kepada penjaga gerbang, Nio memacu sepeda motornya pelan ke dalam kota bawah tanah. Cahaya remang-remang yang menerangi seluruh kota bawah tanah bukan lagi pemandangan asing bagi Nio, walau ada beberapa fasilitas baru yang baru dibuat seperti lumbung dan sejumlah pertahanan dibuat untuk menghadapi peristiwa jika agresor berhasil memasuki area kota bawah tanah.


Dalam pemandangan baru kota bawah tanah, Nio menyadari bahwa ancaman perang di Indonesia belum diabaikan. Bahkan tempat parkir kendaraan dibuat dengan fungsi ganda, yakni tempat beristirahat kendaraan dan benteng darurat bagi unit utama yang berjuang langsung di garis depan. Dia memarkirkan sepeda motornya di tempat yang telah disediakan, dan membalas sapaan bawahannya yang masih berlatih setelah melepas helm-nya.


Nio mendapatkan pesan dari komandan Kompi 406-32 untuk mengkonfirmasi suatu rumor, dan banyak hal lain yang akan ditanyakan perempuan berpangkat mayor tersebut. Walau rekan Nio di kota bawah tanah menatapnya seolah-olah dia telah banyak berubah, dia tetaplah wakil komandan kompi yang dapat gelisah ketika menghadap atasannya.


Tidak mungkin mereka bisa mengobrol santai di kafe, sementara anggota kompi lelah berpatroli yang berpotensi menimbulkan gesekan antar anggota.


Sepatu bot Nio menimbulkan suara bergema ketika dia melangkah ke ruang pertemuan yang ditetapkan komandan kompi. Selain itu, penampilan ‘baru’ nya membuat sejumlah staf bertanya-tanya, namun tidak berani mempertanyakannya langsung pada Nio setelah menyadari dia adalah pejuang garis terdepan yang menghadapi banyak hal tak terduga di medan perang.


Para tamtama dan bintara hanya memberi hormat dan senyum, sambil berkata, “Senang bertemu dengan Anda lagi, Lettu Nio!”. Mereka tidak ingin bertanya keadaan medan perang, atau Nio akan memberikan balasan yang tidak diharapkan jika keadaan mental pria itu sedang tidak baik.


Semua anggota kompi yang menemui Nio paham jika pertempuran yang berlangsung di dunia lain jauh berbeda dengan ketika perang berkobar di dunia ini.


**


“Jadi, benar kalau Mayor Darsono akan menikahi kakakmu?” tanya seorang perempuan berpakaian seragam lapangan.


Kemudian, seorang perempuan yang mengendakan jas laboratorium berwarna putih bersih menyambung, “Lalu, kamu melihat mereka berdua berciuman dan itu membuatmu cemburu dan melarikan diri dengan alasan pesan dari Mayor Herlina tidak bisa diabaikan?”


Mayor Herlina, komandan Kompi 406-32 Garnisun Karanganyar yang tak tergantikan, serta Dina sang kepala rumah sakit dan laboratorium Garnisun Karanganyar bertanya dan menatap Nio dengan ekspresi sedih.


“Tidak… aku tidak kabur atau apa pun…” Nio menjawabnya dengan sedikit gelisah.


“Jawabanmu sama sekali tidak meyakinkan, jadi membuktikan kalau kau benar-benar kabur dari hal yang membuatmu sakit hati,” tanggapan Dina mengakibatkan Nio tersentak, dan menundukkan kepala.


Nio sadar dia tidak bisa berbicara dengan nada keras di ruang pertemuan di hadapan atasan dan dokter kompi ini. Dia dengan malu-malu memperbaiki sikap duduknya, dan menatap lampu neon berwarna putih yang menerangi ruang pertemuan.


Nio senang mengunjungi kota bawah tanah, namun tidak menyukai jika dua orang yang diharapkan memberikan saran atau jalan keluar justru membuatnya murung. Itu adalah harapannya setelah mendapatkan pesan dari Herlina, namun mengharapkan bantuan dari dua gadis yang sudah agak ‘gila’ sejak penugasannya ke luar negeri dalam waktu lama membuat Nio semakin sedih. Dua orang yang lebih tua dan lebih berpengalaman menjadi semacam harta berharga untuk mendapatkan sekadar nasihat tentang kehidupan romantis.


Nio semalaman tidak tidur, bukan karena rumahnya tiba-tiba dihuni banyak gadis yang membuat Nio menghadapi situasi ‘uji iman’. Darsono berperan besar terhadap kurangnya waktu Nio beristirahat seperi manusia normal yang menikmati kehidupan damai. Tetapi, sejujurnya dia masih merasa sedih atas pernikahan yang akan dijalani Arunika.


Dia memutuskan menceritakan semuanya kepada Herlina dan Dina, karena dia yakin selain memberikan ejekan mereka berdua akan memberikan saran yang tepat dalam menghadapi krisis perasaan ini. Saat ini, rasa sakit hati dan patah hati menguasai hati Nio, membuatnya memiliki keinginan balas dendam terhadap beberapa orang.


“Yah, intinya kamu jangan terlalu sakit hati. Arunika yang belum benar-benar menjalani pernikahan adalah keuntunganmu. Tapi, aku ragu kamu bisa mendapatkan hati Arunika dari Mayor Darsono yang berasal dari keluarga berkuasa,” ucap Herlina, dengan wajah mengejek yang sangat jelas dan didukung oleh Dina.


“Ya ampun, Mayor… kupikir kamu akan mendukung aku mendapatkan kembali Arunika,” Nio mengeluh.


“Untuk apa kami mendukung saingan kami…” Dina menghentikan ucapannya. Penyebabnya jelas perempuan di sampingnya yang sedang memaksa mulutnya menutup dengan cara mencubitnya.


“Saingan apa?” tentu saja Nio penasaran terhadap ucapan Dina.

__ADS_1


Herlina menanggapi pertanyaan Nio setelah membebaskan mulut Dina, “Lupakan. Tentu saja kamu tidak memiliki kesempatan besar untuk merebut kembali saingan… ehem! Maksudku Arunika. Tapi, tidak mungkin kamu tidak memiliki kesempatan walau sekecil butiran pasir. Meski cara satu-satunya menghadapi keluarga berkuasa adalah kau harus memiliki derajat yang setara dengan mereka, jadi Jenderal Besar misalnya.”


“Tidak. Tidak mungkin aku bisa jadi Jenderal Besar. Tapi, aku tidak bisa membiarkan situasinya semakin mengerikan,” ucap Nio dengan wajah resah.


“Meskipun sebenarnya aku berharap kamu menghadapi kenyataan jika Arunika adalah keluargamu, dan tidak mungkin bisa menjalin hubungan romantis, kamu tetap harus berjuang. Bayangkan saja polisi mengepungmu setelah mendapatkan kembali Arunika ke sisimu.”


“Dokter Dina, kenapa ada polisi juga?”


“Bukannya ada pepatah ‘menang jadi arang, kalah jadi abu’ kalau ada perwira bawahan menantang perwira atasan? Aku tahu, pernikahan Mayor Darsono dan Arunika ada hubungannya dengan politik dan bisnis keluarga keduanya. Bahkan jika kamu melawan keluarga Arunika, tetap ada kemungkinan kamu dianggap kalah walau sebenarnya meraih kemenangan,” kata Herlina.


“Oh, aku baru tahu kalau kalian masih punya keluarga,” sambung Dina.


“Ya... keluarga…” Nio terdengar akan mengatakan sesuatu dengan ragu-ragu.


Nio menghela napas panjang tanda muak setelah mendengar keluarga Arunika dilibatkan dalam percakapan ini.


Herlina dan Dina mungkin menganggap Nio sedang tidak dimiliki oleh siapapun saat ini, namun mereka berdua sebenarnya memiliki kompetisi sehat tanpa adanya usaha menjatuhkan pihak lain. Seluruh penduduk kota bawah tanah Garnisun Karanganyar sadar bahwa Nio merupakan sosok yang mereka kagumi, dan salah satu anggota TRIP yang dikabarkan akan mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa langsung dari Presiden. Dengan begitu, kesempatannya menjadi perwira TNI terbuka lebar berkat prestasinya. Daripada ‘menyukai’, para tentara perempuan memilih ‘mengagumi’ Nio dibanding patah hati jika sewaktu-waktu pria itu telah menentukan pasangannya.


“Sudahlah, daripada tekanan batinmu semakin parah, kita singkirkan topik tentang pernikahan Arunika, oke? Aku tahu kamu berpikir ‘harus’ bahagia terhadap pernikahan Arunika dan Mayor Darsono, tapi apa kamu pikir pernikahan adalah akhir yang membahagiakan? Mungkin dokter gadungan ini punya beberapa ceramah tentang hal itu,” Herlina tiba-tiba menyerahkan tugasnya sebagai pemimpin bawahan pada Dina yang hanya dokter bagi penduduk kota bawah tanah.


“Siapa yang kau panggil dokter gadungan?! Ah, aku hampir melupakan apa yang akan kukatakan karena si jelek ini. Aku akan memberitahumu sedikit tentang cara kerja pria dan wanita. Pria, mereka harus tahan dengan wanita yang akan terus-menerus memarahi mereka sampai membuat mereka hampir gila. Setelah menikah, pria harus menunda kesenangan mereka, dan harus menahan keinginan untuk membahagiakan diri sendiri karena harus mementingkan kebahagiaan istri dan anak di rumah. Dan, wanita juga harus berurusan dengan keinginan pria yang terkadang ‘gila’. Tak jarang pria memiliki fetish tak masuk akal, seperti melakukan hubungan ba*dan dengan tubuh si wanita diikat sehingga terkesan si pria sangat mendominasi, atau bahkan sebaliknya. Intinya, wanita berpikir harus menyerahkan tubuh mereka bagi pria. Yah, kita bisa menganggapnya sebagai pengorbanan dalam kehidupan setelah menikah. Intinya, pria dan wanita sangat berlawanan.”


(olog note: fetish adalah gairah *****ual seseorang yang memiliki ketertarikan khusus terhadap suatu objek *****ual maupun tidak. Kalau masih penasaran, kamu bisa menggunakan Google)


Yang menjawab adalah Dina, “Tentu saja untuk melanjutkan keturunan.”


“Aku tahu, tapi apa ada penjelasan tentang hal itu?”


“Oh, menurutku, manusia kuno menggunakan otak mereka untuk membuat keturunan yang banyak karena di masa lalu sering terjadi konflik. Tetapi, kamu bisa menggunakan otak lebih dari itu, kan? Bahkan usaha melanjutkan keturunan bisa menimbulkan tragedi,” jawaban Nio membuat Dina menunjukkan ekspresi heran.


Dina lalu berkata, “Nio, kupikir kau termasuk golongan nihilis.”


“Dokter Dina, siapa yang peduli aku seorang nihils atau absolutisme. Itu semua tergantung pandangan orang tentang makna hidup, namun aku tetap hidup menurut agama dan norma sehingga terhindar dari sikap pesimis terhadap kehidupan.”


“Lalu, apa yang kau pahami?” tanya Dina.


“Intinya, pria tetap membutuhkan wanita, dan wanita membutuhkan pria. Bahkan dalam suatu hubungan tidak bisa dilakukan hanya oleh satu orang, atau dua orang namun berjenis kelamin sama.”


Dini tersenyum karena Nio belum kehilangan akal sehat meski ditengah sakit hati dan pikiran dipenuhi dendam, sehingga bisa memikirkan hal semacam itu, dan dia berkata, “Namun, ada beberapa kasus satu pria memiliki istri lebih dari sepuluh, dan wanita memiliki suami empat atau lebih.”


Herlina terdiam seolah tersihir oleh obrolan ‘berat’ Dina dan Nio, seolah-olah itulah pembicaraan sebenarnya alih-alih membahas apakah Nio sakit hati melihat Arunika dicium pria lain atau semacamnya. Dia berdiri sambil berusaha memahami perkataan Herlina dan Nio. Herlina menuangkan kopi ke gelas kertas mereka bertiga, dan mulai menanyakan topik lain yang ada di pikirannya.


“Nio, apa kau pernah mendengar sesuatu yang disebut teori ‘Black Swan’?”

__ADS_1


“Tidak, belum,” jawab Nio sambil menyesap kopi hitam instan dengan rasa jauh lebih baik dibanding kopi garis depan yang memiliki rasa hampir sama seperti lumpur. Dia lalu melanjutkan, “Teori Black Swan yang kamu katakan mungkin ada hubungannya dengan teori Angsa Hitam.”


“Yah, mungkin itu maksudku,” ucap Herlina dengan wajah menahan pahit karena lupa menambahkan gula pada kopinya.


“Teori apa itu, yang penting bukan teori aliran sesat, kan?” tanya Dina.


Nio meletakkan gelas kertas berisi kopi di atas meja dan berkata, “Angsa, bukannya kebanyakan memiliki warna bulu putih? Tetapi, kemudian ditemukan populasi angsa hitam di Australia. Tentu saja, sejak hari itu penemuan tersebut merubah dunia ornitologi. Awalnya, seluruh dunia menganggap hanya ada angsa putih, jadi tidak ada yang bisa membayangkan adanya angsa hitam. Jadi, teori Angsa Hitam adalah ketika kamu membuat prediksi menurut pengetahuanmu, tetapi ternyata prediksi itu gagal memperhitungkan suatu kejadian. Hal itu dapat menimbulkan berbagai kekacauan. Kecuali Tuhan yang maha kekal, tidak ada yang absolut di dunia ini. Kehidupan dipenuhi ketidakpastian. Membuat prediksi seolah-olah suatu ketidakpastian merupakan fakta pasti akan membebani diri kita.”


Nio melanjutkan, “Kita bisa menilai bahwa teori Angsa Hitam sebagai peringatan bagi manusia, dan bagaimana pikiran manusia bekerja. Contoh mudah, suatu peradaban diberkahi tanah subur dan panen melimpah selama puluhan tahun, namun tidak pernah membayangkan ada kekeringan parah selama berbulan-bulan yang mengurangi kesuburan tanah dan menurunkan tingkat panen. Atau mungkin…”


Herlina tiba-tiba menyela, “Atau kemunculan dunia lain dan adanya bangsa dari dunia lain yang mengobarkan perang dengan Indonesia, dan merubah sejarah dunia ini?”


“Betul” jawab Nio.


Kedua perempuan itu tersenyum, ketika sebelumnya mereka melihat Nio begitu murung. Mungkin obrolan yang tiba-tiba melebar hingga membahas suatu teori yang jarang didengar membuat mereka menemukan cara untuk mencegah Nio mendekati jurang depresi. Mungkin seharusnya sejak awal mereka memulai obrolan tentang konspirasi atau teori sesat.


“Ada hal lain yang membuatku penasaran, tentang proyek ‘tentara super’.”


Nio tersedak ketika meminum kopinya, dan memasang ekpsresi terkejut ketika dia menatap Herlina yang mengatakan hal itu.


Di lihat dari reaksinya, Nio mungkin mengetahui sesuatu tentang rencana militer memiliki tentara super berupa manusia, bukan senjata tanpa awak logam milik negara maju. Ingatan proyek ‘Obat Kuat’ yang gagal, namun telah merenggut nyawa banyak prajurit kembali muncul di benak Nio.


“Dari mana kamu mendengar nama itu?” yang bertanya justru Dina, yang berarti dia berpotensi memiliki sejumlah informasi mengenai proyek tersebut.


Herlina menjawabnya dengan ekspresi sedikit gelisah, “Dari rumor yang tersebar di kompi 406-32.”


“Mayor Herlina, berapa banyak yang kau ketahui tentang proyek itu?” yang bertanya adalah Nio.


“Sangat sedikit, dan kudengar ada salah satu tentara yang menjadi kelinci percobaan untuk menguji prototipe tangan bionik.”


Nio terlalu takut untuk mengatakan “Kelinci percobaan itu aku, tahu” atau obrolan akan semakin melebar dari topik utama.


Di sisi lain, Dina terlalu gelisah terhadap kelanjutan proyek tentara super yang dikatakan Herlina. Dia pikir terdapat alat penyadap yang masih merekam obrolan mereka bertiga. Dia memiliki peran pada proyek tentara super yang ditugaskan pada perusahaan pertahanan swasta terbesar di Indonesia. Dan, proyek itu adalah sesuatu yang membuat Dina memiliki rasa takut besar terhadap Tuhan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Salah satu peran Dina adalah membantu operasi medis pemasangan tangan kanan bionik untuk Nio satu tahun lalu. Dia mempertimbangkan untuk mengatakan informasi yang dia miliki tentang proyek tersebut.


“Kurasa Nio sudah tahu tentang proyek tentara super selanjutnya,” ucap Dini.


Jawaban Nio hanyalah anggukan pelan sebanyak tiga kali. Tentu saja Herlina sangat penasaran, namun terlalu bingung menentukan pertanyaan yang akan diajukan.


**


olog note: Nihilism atau nihilisme adalah sebuah keyakinan bahwa semua nilai-nilai (value) itu tidak berarti. Lebih jelasnya, bahwa sejatinya tidak ada makna/nilai-nilai dalam hidup ini yang berlaku bagi semua manusia, jadi ya, gak berarti. Nihilism sering dikaitkan dengan skeptis radikal atau pesimisme ekstrim. Sumber Google. Absolutisme adalah pandangan bahwa kebenaran nilai atau realitas secara obyektif nyata, final dan abadi.

__ADS_1


__ADS_2