Prajurit SMA

Prajurit SMA
Perang batin: ditusuk dari belakang


__ADS_3

Pekerjaan utamanya tertunda, namun dia juga tidak mungkin menolak permintaan sungguh-sungguh yang datang dari seorang presiden. Lagipula, bukan kewajibannya mengungkap kasus besar seperti yang diminta tim jurnalis itu.


Nio kembali pulang setelah ikut mengawal Suroso keluar dari Garnisun Karanganyar bersama Kompi 32. Dia memacu sepeda motor dalam kecepatan 80 kilometer perjam, hanya memiliki satu mata dan tangan membuatnya tidak dapat melebihinya. Bulan bersinar di langit, dan lampu-lampu jalan serta kendaraan merupakan pemandangan malam kota ini.


Saat berhenti ketika lampu lalu lintas berubah merah, Nio melihat dari balik kaca helm sejumlah remaja sedang nongkrong dan bercanda tanpa beban, menurutnya. Lalu, di samping Nio adalah sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak yang menaiki sebuah sepeda motor bebek, dan bercerita sambil sedikit bercanda untuk menghabiskan waktu menunggu lampu berubah warna ke hijau. Sejumlah pekerja paruh waktu turun ke jalan, membagikan brosur ke pengendara. Lalu, sepasang kucing yang sedang ‘bercocok tanam’ di pinggir jalan tanpa masalah.


Nio tidak pernah menemukan pemandangan semacam ini di dunia lain. Biasanya, dia tidak akan memperhatikan pemandangan semacam itu. Tapi, malam ini dia menatap setiap adegan dengan sedikit gelisah. Masyarakat tampak tidak sadar jika kota ini mungkin akan menjadi sasaran penyerangan pasukan besar Aliansi. Nio bertanya-tanya apakah Suroso menipunya, jika berita yang dikirimkan Pasukan Perdamaian tentang penumpukan pasukan Aliansi sebagai lelucon yang sama sekali tidak ada unsur humor.


Mencegah kepanikan nasional adalah tugas pemerintahan yang masuk akal. Tidak bisa disangkal Karanganyar dalam ancaman kehancuran. Nio menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran semacam itu. Seorang pemimpin tidak mungkin berdusta tentang informasi sepenting itu.


Bahkan Nio menganggap dirinya menyedihkan jika tidak menghargai usaha Suroso yang sengaja mendatangi dirinya untuk meminta tolong.


Dalam waktu dekat, ancaman musuh benar-benar terjadi. Bahkan dia sendiri tidak bisa memprediksi waktu yang sebenarnya musuh melakukan aksinya.


Nio menyadari dirinya terlalu gelisah, hingga tak sadar sejumlah pengendara membunyikan klakson ketika lampu berubah ke warna hijau. Dia memacu motor lurus ke arah rumahnya.


Fakta bahwa Suroso mendatanginya secara langsung mungkin berarti pria tersebut memiliki harapan khusus padanya. Karena Nio merupakan salah satu prajurit yang memilik pengalaman tinggi di dunia lain. Meski begitu, Nio belum memberikan jawaban langsung kepada Suroso tentang pekerjaan yang mengharuskannya bekerja sama dengan Pasukan Utama. Bukan karena dia tidak terbiasa memimpin orang-orang dari TNI, namun pertempuran yang mempertaruhkan sebuah kota terlalu berbahaya.


Selain itu, bagaimana cara Nio menangani orang-orang dari Pasukan Utama yang terkenal suka pamer kekuatan tempur dan prestasi mereka? Nio tidak bisa menyangkal fasilitas yang diterima TRIP tidak dapat dibandingkan dengan milik Pasukan Utama TNI. Jika tidak dalam situasi yang membuat kampung halamannya terancam, Nio dengan sungguh-sungguh akan menolak permintaan Suroso. Dia tidak terlalu berharap akan mendapatkan rekan yang kooperatif. Bahkan jika dia berada di bawah pimpinan seseorang, yang bisa dilakukan adalah TRIP bertarung secara terpisah dari Pasukan Utama.


Dengan melihat fakta penyerangan Area Terlarang, tidak diragukan lagi Aliansi telah terlatih melakukan misi pengalihan secara terorganisir. Walau setiap individu memiliki kemampuan spesial, dalam menjalani pertempuran sebagai tim hal itu bukan masalah. Namun, jika anggota tim sulit bekerja sama, itulah masalah utamanya.


Tanpa sadar, Nio hampir melewati rumahnya sendiri. Setelah memasukkan sepeda motor ke garasi, Nio berjalan ke ruang keluarga dengan ekspresi lelah.


Tiba-tiba, dia disapa oleh para gadis. Mereka yang belum tidur dan menggunakan banyak barang elektronik membuat Nio membayangkan jumlah tagihan pajak listrik di awal bulan nanti.


Dengan energi magis yang terbatas, Zariv tidak dapat meringankan pekerjaan robot pembantu dengan sihir penggerak objek-nya. Lalu, para gadis dari dunia lain hanya bisa melakukan pekerjaan ringan akibat dari kecilnya rumah Pahlawan Harapan. Jika dia berasal dari dunia lain, Nio akan mendapatkan sebuah mansion dan tanah seluas kota. Zefanya membantu Nio menyusun materi bagi anggota baru yang akan Tim Ke-12 latih setelah masa liburan mereka selesai. Tania bertugas menyiapkan makanan dengan bantuan kecil dari para gadis.


Lalu, Nio mendengar pintu kamar tamu yang terbuka, dan dua orang keluar dari dalamnya.


Lebih tepatnya, ada dua gadis yang selesai merias diri, sehingga mereka tampak lebih dewasa dari sebelumnya.


Tepatnya, ada dua gadis yang memakai seragam SMA yang Nio tidak tahu didapatkan dari mana. Melihat dari dekat, dia bisa melihat kancing pada dada baju tidak bisa menahan tekanan dada mereka berdua.


“Kenapa kalian benar-benar memakai seragamku dan Kak Tania?” Nike bertanya dengan ekspresi gelisah pada Hevaz dan Zariv yang berpakaian sebagai anak SMA.


Hevaz yang berpakaian seperti pelajar ‘nakal’ membusungkan dadanya yang luar biasa, sehingga dikhawatirkan kancing akan melesat seperti peluru, “Kenapa? Bukannya pakaian seperti ini akan membuat pria menjadi milikmu dalam sedetik? Zariv, ayo kita lakukan itu!”


“Apa? Apa yang akan kalian berdua lakukan?” Nio berjalan satu langkah ke belakang dengan ekspresi gelisah.


Dengan persiapan penuh, kedua gadis itu dengan genit mengatakannya dengan serempak, “Kami akan bermain denganmu malam ini!”


Yang dikatakan Hevaz dan Zariv seperti pemain film dewasa yang sedang menggoda tokoh laki-laki. Yang Nio lihat saat ini seperti imajinasi virtual yang menjadi nyata, namun dia akan merasa sangat bodoh jika menanggapi godaan kedua gadis dunia lain itu.


Nio meregangkan tubuh sebelum duduk di sofa di ruang keluarga. Melihat jam analog di meja, dia melihat waktu telah menunjukkan pukul 7 lebih. Dia menyalakan TV, tetapi terlalu khawatir tentang rumahnya yang dipenuhi para perempuan. Di dapur, dia melihat para gadis dari dunia lain berebut untuk mencoba pakaian pelajar setingkat SMA itu, namun Tania dan Nike tidak memiliki kekuatan untuk menenangkan mereka.


“Maaf Nio, makan malam mungkin akan sedikit terlambat!” Nio tahu alasan Tania mengatakan hal itu.


Bukan hanya mengapa bukan Arunika yang berada di dapur sehingga membuatnya tidak tenang. Ada apa dengan para gadis yang berusaha menarik perhatiannya? Meskipun Nio berusaha menonton kartun di TV, matanya tetap tidak dapat melepaskan pandangan pada kancing yang berjuang keras menahan tekanan kedua semangka Hevaz dan Zariv, bahkan masih memperlihatkan belahannya.

__ADS_1


Nio tidak paham mengapa para gadis dari dunia lain tertarik pada seragam perempuan SMA dengan model tak tergantikan sejak ratusan tahun lalu sehingga terkesan kuno. Tapi, mungkin karena mereka hanya tertarik pada gaya berpakaian perempuan muda dengan cara apapun, dan memaksa Nio tidak bisa menyalahkan cara mereka. Para cabe-cabean akan kehilangan harga diri jika bertemu mereka.


Nio meletakkan tangannya di dagunya, dan tanpa sadar dia sedang menatap para gadis. Hanya dia satu-satunya pria di rumah ini. Lux dan Zefanya menggantikan Nike dan Tania, dan dengan penuh energi mengaduk sesuatu di panci dan wajan besar. Karena di dunia lain pertempuran kerap terjadi seharian penuh, para gadis dari dunia lain cukup aktif di malam hari. Siapa sangka Nio akan membawa para pejuang yang menawan ke rumahnya? Nio melihat Zefanya yang dapat membunuh target dari jarak dua kilometer jauhnya memasak dengan tenang seperti istri.


Beruntung ketua RT dan kepala desa tidak menggerebek Nio, atau berita tentang seorang pemuda tinggal bersama banyak perempuan berpotensi merusak karirnya.


Di tengah hiruk pikuk para gadis, aroma harum memasuki lubang hidung Nio, dan segera Huvu memanggilnya untuk bergabung di meja makan. Melihat beberapa piring besar berisi berbagai masakan di atas meja, Nio mengeluarkan ekspresi kagum yang tidak disengaja.


“Ayo Nio, kami membuat semua ini sesuai selera mu. Silakan dinikmati,” kata Nike.


Melihat ke arah Nike yang memakai celemek kotor, Nio memasukkan sesuap masakan ke mulutnya. Gadis yang bertugas memasak tidak bergerak saat mereka menatap Nio. Mereka berharap Nio memberikan reaksi positif.


“Ya, ini enak,” ucap Nio.


“Benarkah?” mata Nike dan Tania memejam saat mereka tersenyum lega.


Nio berkata dengan tatapan mata malas, “Yah, aku dan Zefanya sering makan jatah yang hampir kedaluwarsa dan tanpa micin.”


“Jangan samakan makanan prajurit dengan jajanan Indonesia yang dijual di pinggir jalan yang enak karena ditambah MSG, Letnan!” Zefanya berusaha mengingatkan Nio bahwa makanan enak belum tentu sehat.


“Eh, kalian setiap hari diberi makan semacam itu?” Tania berkata dengan nada prihatin, lalu menghela napas sedih.


Nio menanggapi ucapan Tania, “Tidak, bukan karena rasanya. Sebagian makanan terbuat dari bahan sintetis produksi pabrik, walau ada beberapa bahan organik. Makanan ‘asli’ cukup berharga di sana, jadi untuk mencukupi pasokan makanan organik dan demi menjaga kesehatan prajurit, pasukan memelihara binatang ternak atau menanam sayur dan palawija.”


Zefanya tersenyum lembut untuk menambahkan kalimat, “Yah, ransum yang hampir kedaluwarsa seperti makanan wajib ketika pasokan makanan terlambat dikirim.”


“Kak Tania, apa makanan kita cukup untuk semua, termasuk Kak Arunika?”


“Tidak masalah, kita akan buat masakan lain.”


“Tapi, apa ini semua makan malam kita. Makanan panjang aneh apa ini?” pertanyaan datang dari Ebal yang mengambil sehelai mie yang ditumis.


“Kalau begitu, lain kali kita akan membuat pizza mie,” jawab Tania.


“Apa? Tidak, apa kamu bisa membuat makanan lain, Nike?” Nio bertanya dengan ekspresi agak tercengang.


“Kalau begitu, aku akan membuat mie saus pasta.”


“Perhatikan pertanyaanku, apa kamu bisa membuat yang lain?” Nio semakin kesal.


“Mie setan.”


“Kenapa semuanya mie?”


“Bukannya kamu sangat suka mie?”


“Aku masih manusia biasa yang perlu makan makanan layak selain mie, tahu.”


“Bukannya dulu kamu hanya istirahat makan mi sehari dalam seminggu?”

__ADS_1


“Jangan katakan rahasia masa lalu!”


Nio adalah mesin pelahap mie terbaik di dunia, begitu pandangan Nike terhadapnya. Namun, Nio menghela napas walau di depannya adalah makanan favoritnya.


Nio tidak bisa menahan senyum kecut memikirkan nasib pencernaannya setelah memakan semua hidangan serba mie yang tersaji di atas meja. Di sisi lain, dia telah mengisi tenaga untuk bertarung dengan makanan buatan pabrik penuh bahan kimia yang merusak tubuhnya perlahan. Dikatakan bahwa makanan dapat mempengaruhi mental tentara, sehingga layak atau tidaknya makanan dapat dengan begitu mudah mengubah pikiran.


“Hevaz, Zariv, sampai kapan kalian akan memakai pakaian seperti itu?” Nio bertanya.


“Kenapa? Walau sangat sempit di bagian dada, tapi pakaian ini cukup nyaman dan tidak panas,” ucap Zariv yang memegangi bagian dadanya yang sangat ketat.


Hevaz menambahkan dengan wajah percaya diri, “Bukannya kami semakin imut memakai pakaian pelajar negara Anda, Tuan Nio?”


“Kalian pikir seragam seperti itu sangat bagus?” ucap Tania, membandingkan seragam pelajar SMA Indonesia dengan pelajar luar negeri yang tampak modis seperti seragam pelaut dari Jepang dan pelajar SMA Korea Selatan.


Zariv berjalan ke arah Nio dengan langkah ‘tidak seimbang’ dan tiba-tiba meraih tangannya, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Nio. kepala gadis itu tidak berat, dengan rambut hitam yang halus mengeluarkan aroma harum. Tentu saja gadis-gadis lain yang terlambat menunjukkan reaksi terkejut yang sama.


“Aku berterimakasih padamu, Nio. Kamu menunjukkan keseharian yang damai gadis normal negara ini.”


“Ya. Kami menjalani kehidupan gadis biasa seperti mimpi yang tidak akan bisa kami alami jika setiap hari harus berhadapan pada pertempuran. Kami selalu menginginkan keseharian damai seperti ini, Nio. Bisakah kami tinggal di Indonesia selamanya setelah perang berakhir?” sambung Lux. Ekspresi berharap dikeluarkan seluruh gadis dunia lain, menyebabkan Nio tidak tega.


Nio menatap cemas pada gadis dunia lain yang mengharapkan tanggapan baik darinya. Walau Indonesia tidak kekurangan wanita-wanita cantik, dan tidak sedikit yang sesuai dengan tipe Nio, dia tidak yakin keseharian para gadis dunia lain akan langsung berubah setelah tinggal di Indonesia.


“Tu-tunggu dulu!” Nike berusaha mengatakan sesuatu, namun segera terhenti dan terlihat ragu-ragu.


Tania berdiri dengan tatapan gelisah, lalu menjauhkan Zariv yang memeluk tangan Nio seolah penyihir tempur tersebut akan menggigit Nio jika terlalu lama di dekatnya. Dia lalu berkata, “Kalian perlu ijin dari banyak pihak untuk dapat tinggal di Indonesia, dan membutuhkan waktu tidak sebentar! Jadi, pikirkan kembali rencana kalian itu! kamu juga, Nio! Kamu sangat mudah dicintai wanita lain, tapi kamu tidak memperhatikan perempuan-perempuan di dekatmu!”


Nio memasang ekspresi pura-pura tidak tahu lalu berkata, “Eh, kupikir aku sangat tidak populer.”


“Hentikan omong kosongmu itu! Kamu cuma suka wanita dewasa dan berdada besar seperti yang ada di file ‘Materi Biologi Asli’ di komputer-mu, kan?!”


Kenapa Kak Tania tahu barang haram berhargaku? Nio bergumam di dalam hati dengan ekspresi cemas.


Saat itu juga, Nike menghapus rasa ragunya dan dengan cepat meraih tangan kiri Nio lalu memeluk tubuh pria itu, lalu menatap para gadis dengan jantung berdetak cepat dan ekspresi cemas, “Ka-kalian, aku tidak ingin menahan semuanya, jadi aku akan memberitahu dengan jelas sekarang. Aku ingin Nio. aku tidak akan membiarkan kalian merebut dia dengan tubuh sempurna kalian!”


“Hei! Kami tidak seperti wanita murahan yang bisa mendapatkan pria dengan modal tubuh!”


“Apa kamu pikir Tuan Nio mudah digoda? Dia hanya tertarik dengan wanita penghibur virtual!”


Hevaz dan Lux menyuarakan kegelisahan mereka, yakni Nio yang lebih sering melihat rekaman wanita yang memamerkan tubuh yang tidak ditutupi apapun dibanding gadis suci di dekatnya.


Tapi, Tania merasa seperti ditusuk dari belakang oleh seorang kawan saat dia lengah, “Ni-Nike…? Kenapa? Kamu bilang kita akan bersaing sehat untuk mendapatkan Nio, dan menyingkirkan perempuan-perempuan dunia lain berdada besar itu…”


Tania menggelengkan kepalanya pelan, lalu dengan ekspresi takut dan masih memeluk tangan kiri Nio dia berkata, “Itu memang benar, dada luar biasa perempuan dunia lain adalah ancaman. Tapi, Kak Tania juga memiliki senjata itu, jadi kamu salah satu saingan beratku. Hanya ada satu Nio. Bahkan setelah kita berhasil menyingkirkan perempuan-perempuan dunia lain, setelah itu ada persaingan ketat antara kita berdua. Kalau aku menyadari kemungkinan itu, aku lebih memilih bertempur sendirian memperebutkan Nio.”


Seluruh gadis, bahkan Nio membelalakkan mata mereka karena terkejut akan kesungguhan kata-kata yang keluar dari mulut Nike. Namun, Zefanya dengan cepat kembali tenang dan berkata, “Kenapa kalian menganggap tubuh saingan adalah senjata berat yang sulit dilawan? Oh, apa kalian pernah mencium dan menyatakan perasaan pada Letnan Nio?”


Semua gadis menatap Zefanya tajam, dan suasana dingin yang mengancam dirasakan Nio hingga dia merasa akan ada pertumpahan darah di rumahnya. Di sisi lain, dia tidak menyangka Zefanya akan mengatakan apa yang pernah mereka berdua lakukan ketika pertempuran di ibukota Kerajaan Arevelk.


Zefanya tetap tenang, dan terlihat sudah bersiap dengan segala kemungkinan yang akan menimpanya setelah mengatakan hal itu. Dia memasang senyum penuh keyakinan, dan menatap puas ‘lawannya’ yang tidak bisa membalas pernyataannya.

__ADS_1


Sulit dipercaya bahwa dia sangat berharga di mata beberapa orang. Nio hanya berharap tidak terjadi pertempuran berdarah di rumahnya, dan adu mulut yang terjadi membuktikan para gadis dunia lain bergaul dengan baik dengan Tania dan Nike.


__ADS_2