
“Aku mengerti perasaanmu, tapi kau terlalu memikirkan kematian temanmu. Kau terlalu berlebihan dalam meratapi kematian Chandra.”
Itu adalah kata-kata dari Jendral untuk Nio yang hari ini menghabiskan dua puntung rokok yang dia nikmati di menara pengawas. Hari ini adalah kegiatan bebas bagi Regu penjelajah 1 setelah gugurnya Sersan Chandra.
“Ya, saya mengerti,” hanya itu jawaban yang diberikan setelah Jendral tersebut sudah tidak ada dihadapannya.
Nio menatap lemah ke arah luar benteng, tepatnya Tanah Suci yang terdapat puluhan ekor kambing dilepaskan untuk memakan rumput yang tumbuh di situ. Jari tengah dan telunjuknya mengapit puntung rokok ke tiga untuk hari ini. Dia sebelumnya belum pernah merasa sedepresi ini hingga melanggar aturan yang dia buat sendiri, yakni merokok satu minggu sekali.
Dia tahu, mengatakan semua yang ada di pikirannya dengan cara sekeras mungkin tidak akan membuatnya merasa lebih baik. Mungkin saja orang yang dia bicarakan tidak menyadari kesalahan yang mereka perbuat, orang yang dimaksud disini adalah ketiga jurnalis yang Regu penjelajah 1 lindungi dengan mengorbankan satu prajurit.
Jika ada sesuatu yang bisa membuat rasa frustasi ini menghilang dari hati, jika itu ada itu hanya membuatnya kesal dan semakin gelisah. Nio tidak memiliki jalan keluar untuk frustasinya, dan dia merasa seperti temannya yang gugur akan membentaknya karena perilakunya hari ini. Tapi tetap saja, alasan dia merasa marah karena sudah kehilangan satu bawahan, sekaligus teman. Nio merasa jika ini adalah kegagalan terbesarnya dalam memimpin sebuah unit.
Chandra itu prajurit berusia 20 tahun ketika ditugaskan ke dunia lain, dia berasal dari Garnisun Pontianak. Pemuda itu periang dan tidak bisa diam, dan semua gadis di Regu membencinya karena sering menggoda mereka setelah mendengar Liben berpacaran dengan Ivy.
Nio tidak bisa memaafkan pihak yang melukai dan membuatnya kehilangan satu teman, biarpun pihak tersebut warga Indonesia. Tapi, sebagai prajurit dia terikat dengan aturan bahwa dia tidak bisa melukai warga sipil meski hanya sekedar memukul bokong mereka. Hal itulah yang membuat hati Nio terasa ada yang mengganjal sebelum menghajar pihak yang membuat Chandra harus pulang dengan dibawa didalam peti mati yang dilapisi dengan bendera merah putih.
Nio menunduk, dari atas dia melihat beberapa Regu sedang melakukan lari sore atau melakukan patroli. Dia sudah terbiasa dengan pemandangan ini, namun suasana duka merubah segalanya. Nio merasa kecewa karena tidak bisa mengantar Chandra hingga ke liang kubur. Dia hanya menerima kehormatan ketika mendapatkan tempat untuk membawa peti mati yang dilapisi dengan bendera merah putih, dan berisi tubuh kaku Chandra.
“Chandra, bahkan semua yang sudah kau lalui, tidak pernah sekalipun kau menaruh dendam, bahkan kau sendiri tidak sempat mengatakan kata-kata terakhirmu….”
Jiwa Chandra sudah terbang ke surga yang dipenuhi para pejuang, meninggalkan teman-temannya yang masih harus mempertahankan Republik dari pasukan dunia lain yang barbar.
**
Setelah malam ke-3 setelah kematian Chandra, semua orang di Regu mengisolasi diri atau melakukan kegiatan dengan suatu harapan, yakni agar bisa cepat melupakan duka di hati dan menerima Chandra meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Masing-masing dari anggota Regu penjelajah 1 berduka dengan cara mereka sendiri. Jadi, malam ini tidak ada orang yang berkeliaran di sekitar kamar Nio.
Dua buah bulan yang menghiasi langit malam Negara Yekirnovo, dan bintang bersinar terang membuat ratusan lampu neon di benteng ini masih kalah terang dengan benda langit tersebut.
Saat seluruh ruangan tempat tinggal prajurit gelap, hanya kamar Pembantu Letnan Satu Nio yang terang. Karena dia menghidupkan lampu kecil di kamarnya, dan masih berkutat dengan keyboard dan ratusan lembar kertas. Software pengolah kata di PC nya sudah menerima 519.321 kata dari sebuah laporan yang Nio buat untuk suatu tujuan. Meskipun ini sudah masuk waktu tidur, tapi masih banyak prajurit yang berbincang-bincang, dan bagi yang ketahuan harus berhadapan dengan perwira patroli. Nio adalah satu diantara ribuan orang tersebut, namun dia harus menyelesaikan laporan ini sebelum misi selanjutnya.
Dia sesekali membuka sebuah buku catatan yang cukup untuk dimasukkan kedalam saku seragam lapangan. Buku kecil ini sangat penting bagi Regu pimpinan pemuda berusia 19 tahun itu, Nio sendiri yang menulis seluruh tulisan yang memenuhi buku kecil ini. Buku ini adalah sumber referensi bagi Nio untuk membuat laporan yang akan dia berikan pada Sucipto secepatnya.
Di depan meja kerja Nio, tergantung sebuah kalung dengan liontin berbentuk segi enam dan berlogo lambang Tentara Pelajar. Liontin itu sendiri memuat berbagai data tentang prajurit yang mengenakan, tidak termasuk cara dia mati. Kalung itu milik Chandra, dan akan Nio serahkan bersamaan dengan laporan yang masih dalam proses pembuatan. Nio sendiri juga memiliki kalung dengan bentuk serupa, dan seluruh informasi mengenai dirinya akan diperlihatkan setelah Nio mati.
__ADS_1
Setelah menatap liontin kalung yang berukirkan nama Chandra, Nio berharap ini terakhir kalinya dia melihat teman-temannya melewati dirinya dengan dibungkus kantong mayat.
“Sayang sekali kawan, kau tidak bisa melihat perdamaian yang akan Tuan Nio ini buat.”
**
Nio melemparkan ratusan kertas yang ditumpuk rapi, dan sebuah kalung milik salah satu anggota Regu penjelajah 1 yang gugur. Orang yang dihadapkan dengan pemandangan ini adalah Sucipto, dan hanya ada dia di ruangan khusus Jendral ini. Sebagai pemimpin tertinggi Pasukan Ekspedisi, Sucipto mendapatkan tempat tinggal dan tempat kerja terbesar dibandingkan para prajurit lainnya.
Sucipto memandang serius prajurit yang memberikannya tumpukan kertas ini, dan Nio juga memandang jendralnya tak kalah serius. Nio berhasil menyelesaikan laporan ini limabelas menit sebelum waktu subuh, dan membuatnya tidak tidur sama sekali. Sucipto cukup prihatin melihat prajurit di depannya berdiri dengan mata memerah dan daerah sekitar mata yang menghitam karena tidak tidur.
“Laporan apa ini? Bukankah misi mu baru akan dilaksanakan besok?”
Nio menghela napas, dan sudah bisa menebak jika reaksi pertama yang Sucipto berikan setelah menerima tumpukan kertas seperti itu.
Sucipto mengambil satu lembar teratas dari ratusan lembar laporan ini. Laporan pengajuan ini adalah laporan paling tebal yang pernah Nio buat.
Nio bisa merasakan jika suasana tiba-tiba berubah, tetapi itu berubah setelah Sucipto selesai membaca satu halaman laporan. Memang benar kata-kata perwira yang pernah berbicara dengan Nio, bahwa ruangan Jendral sangat menekan daripada medan perang.
“Pengajuan Kenaikan Pangkat Luar Biasa Sersan Dua Chandra, ya?”
“Kenapa kau bisa menulis sebanyak ini? Apa kau memiliki informan sendiri?”
“Siap, saya tidak memiliki semacam informan pribadi. Sebenarnya saya menulis seluruh kinerja anggota Regu saya di buku ini, termasuk hal yang termasuk prestasi di medan perang. Termasuk Chandra, selain gugur karena melindungi para kelompok orang itu (ketiga jurnalis), dia dan beberapa anggota lainnya berhasil menyelamatkan informan yang memiliki informasi penting. Jadi, selain Chandra, saya harap anggota saya yang menemukan dan menyelamatkan informan tersebut juga diberikan pujian atau semacamnya.”
Nio memberikan buku kecilnya kepada Sucipto, sampul buku ini nampak tidak meyakinkan karena dipenuhi dengan noda lumpur dan kertasnya sudah jelek.
Namun, setelah Sucipto membaca beberapa halaman buku, seluruh yang dikatakan Nio tidaklah bohong. Nio benar-benar menulis seluruh kinerja anggotanya selama menjalani misi ke Kekaisaran Luan, maupun menjaga perbatasan Negara Yekirnovo dan Kekaisaran Luan. Tidak banyak komandan unit yang melakukan hal semacam ini, bahkan mungkin Nio satu-satunya prajurit yang mencatat setiap pekerjaan yang dilakukan bawahannya.
Nio menulis pekerjaan setiap anggotanya pada setiap misi yang dilakukan secara urut dan sesuai urutan waktu. Namun, hanya satu nama yang tidak tertulis pada setiap misi pada buku catatan kecil ini.
“Kenapa kau tidak menulis kinerjamu sendiri?”
“Siap, saya tidak peduli dengan itu. Tugas komandan memastikan jika seluruh bawahannya melaksanakan misi dengan lancar, benar dan selamat. Lalu, jika ada anggota yang membuat prestasi di medan perang, maka saya akan mengajukan dan memohon agar dia mendapatkan balasan yang sesuai.”
__ADS_1
“Jadi, kau sendiri tidak peduli kalau kau mendapatkan penghargaan atas prestasimu?”
“Siap, soal itu saya serahkan pada para atasan. Yang terpenting adalah anggota saya bisa mendapatkan balasan yang sesuai dengan kinerja mereka.”
Nio berpikir bahwa laporan pengajuan yang dia buat akan ditolak karena tidak cukup lengkap, dan dia sudah mempersiapkan diri jika kemungkinan ini benar-benar terjadi.
“Sebenarnya, menyelamatkan informan sudah cukup sebagai alasan untuk bawahanmu mendapatkan penghargaan.
Menurut berita, seorang wanita informan yang ditemukan anggota Regu penjelajah 1 ternyata memiliki informasi yang sangat penting, termasuk pembentukan Pasukan Aliansi. Pembentukan pasukan itu bisa saja mengubah jalannya perang, namun TNI di sini tidak akan mundur begitu saja. Ada ratusan juta jiwa penghuni Indonesia yang perlu 15.200 prajurit Pasukan Ekspedisi lindungi.
“Aku akan menghubungi Panglima soal ini, kau hanya perlu menunggu kabar baiknya saja.”
Setelah menjawab perkataan Sucipto, Nio memberi hormat sebelum keluar dari ruangan ini. Sucipto melihat punggung pemuda itu, dan merasa cukup kagum dengan Nio. Dia menatap dengan senyum kecut tumpukkan kertas di depannya, sebenarnya dia bisa memerintahkan beberapa prajurit staf markas pusat untuk membantunya pekerjaan ini.
Tapi, ini hanyalah pengajuan kenaikan pangkat satu orang prajurit, dan hanya satu orang yang membuat laporan pengajuan setebal ini. Sucipto akan merasa malu dengan Nio yang sudah semalaman membuat laporan pengajuan ini sendirian jika dirinya masih memerlukan bantuan bawahannya.
Sucipto baru membaca beberapa lembar laporan pengajuan, tapi hampir seluruhnya berisi syarat-syarat yang sudah dipenuhi jika prajurit itu akan naik pangkat.
“Kalau begini terus, bisa-bisa Nio naik pangkat dalam waktu beberapa bulan. Tapi, kenapa dia tidak bergabung dengan Pasukan Utama saja? Prestasinya sebagai prajurit Tentara Pelajar melebihi beberapa perwira.”
**
Nio berjalan keluar dari bangunan yang dijadikan Markas Besar Pasukan Ekspedisi. Tepat di depan bangunan ini berdiri sebuah tiang bendera, sebenarnya tidak hanya di sini saja terdapat tiang bendera. Ada puluhan tiang bendera di setiap sudut benteng. Biasanya bendera akan dikibarkan satu tiang penuh, namun setelah gugurnya Chandra bendera dikibarkan setengah tiang. Itu menunjukkan jika nyawa satu prajurit sangat berharga, namun masih ada beberapa pihak yang tidak menyadarinya dan menganggap jika prajurit kehilangan nyawa akibat melindungi warga sipil adalah hal yang wajar.
Intinya, pihak tersebut tidak terlalu suka jika berita kematian prajurit yang gugur terlalu dilebih-lebihkan.
Fakta bahwa Nio tidak bisa melupakan momen saat dia melihat wajah Chandra untuk terakhir kalinya ternyata mampu membuat hati Nio sesak. Pemuda itu hampir tidak bisa membendung air matanya saat melihat wajah pucat Chandra yang tersenyum, seakan-akan sudah mencapai akhir tujuannya menjadi prajurit.
Nio sempat menyaksikan bawahannya mencaci ketiga jurnalis yang masih dikurung di penjara Pasukan Ekspedisi. Tetap saja, ketiga jurnalis itu berusaha mengatakan hal yang bisa membuat mereka menang, dan nampak tidak bersalah atas kematian Chandra.
Prajurit periang itu, merupakan penembak terhebat di Regu penjelajah 1. Namun, dia masih satu tingkat dibawah Nio soal prestasi ini. Kecuali jika membandingkan nilai matematikan di antar mereka berdua, tentu saja Nio kalah jauh dengan mahasiswa Teknik Sipil tersebut. Mengingat itu membuat Nio tersenyum sendiri.
Namun, senyum Nio menjadi sangat kesepian ketika mengingat itu. Meski mereka berdua bekerja sama dalam waktu singkat, yakni 6 bulan, tapi pengalaman yang mereka dapatkan di dunia lain lebih banyak dan menegangkan.
__ADS_1
Bisa dikatakan, seluruh prajurit remaja di Regu penjelajah 1 menganggap satu sama lain sebagai saudara.
Nio memilih tidak bergabung dengan latihan yang unitnya lakukan, dan berjalan pelan ke barak untuk mempersiapkan diri melaksanakan misi esok hari.