Prajurit SMA

Prajurit SMA
Pekerjaan ekstra


__ADS_3

Setelah mengalahkan komandan musuh, Nio menatapnya dengan datar. Tubuhnya berhenti menggelinding setelah membentur batang pohon. Nio melihat sekilas tubuh lawan yang baru saja ia kalahkan menggunakan senjata – pemberian Pahlawan asal Jepang, Sakuya – kemudian bergumam, “Apa yang akan mereka lakukan setelah kehilangan komandan?”


Ya, Nio benar-benar menusuk punggung hingga menembus dada komandan lawan, kemudian menendang tubuhnya dari jalan Nio. Yang tersisa adalah sisa pasukan musuh yang mulai melemah, menembak ke segala arah tanpa tujuan yang jelas, kemudian terbunuh oleh peluru anggota Tim Ke-12 maupun tebasan mematikan Pembunuh Senyap.


Perang adalah cara terbaik untuk bertahan hidup di mana seseorang harus melakukan hal pertama yang dibenci lawannya. Dan sebagai prajurit beradab – walau tidak lulus pendidikan SMA – dia membunuh musuh dengan metode tercepat dan meminimalisir rasa sakit, walau setelah itu ia akan menendang bo*kong lawannya.


Komandan yang dikalahkan Nio mengurangi moral pasukan Aliansi yang menghalangi orang-orang Nio.


Jadi, apa cara terbaik untuk membuat lawan menyerah atau memaksa mereka mundur?


Nio telah memikirkan cara termudahnya. Sebagian kapal armada TNI AL terlah berangkat untuk menghambat pasukan kapal perang Aliansi, walau sudah dipastikan kapal-kapal perang TNI AL akan menghancurkan kapal perang Aliansi. Hal itu membuat musuh tidak mendapatkan tembakan dukungan, begitu juga pasukan Nio. Jika seluruh anggota menembakkan sisa peluru dan melemparkan seluruh peledak yang dimiliki sebagai bagian dari serangan terakhir, moral musuh akan dengan mudah runtuh.


Seluruh granat yang dimiliki Tim Ke-12 mampu menghancurkan sebuah tank medium, masing-masing orang memiliki 3 buah peledak. Jika digunakan untuk melawan pasukan darat, mampu menimbulkan dampak serius, namun dampak yang Nio harapkan adalah runtuhnya semangat juang lawan. Jika seluruh anggota mampu melancarkan serangan memusat, ada kemungkinan kerugian di pihak lawan akan cukup besar. Dan jika dilakukan disertai dengan serangan granat, lawan tidak mendapatkan kesempatan melakukan serangan balik.


Pasukan Nio sama sekali tidak kesulitan bertempur di hutan dengan kabut dan hujan lebat saat langit mulai gelap.


“Tidak ada larangan bagi infanteri untuk mengawal armada laut. Kita akan mencegah lawan mendekati area pantai. Musuh sudah dalam kondisi bingung, kepung dan tembak mereka!”


Hanya satu hal yang Nio khawatirkan, para penyihir telah menjauhi area pertarungan. Hal itu membuat para penyihir berada di tempat lebih tinggi dari medan tempur, memudahkan mereka melepaskan sihir pertempuran. Sekarang, Nio dan pasukannya harus menghujani sisa pasukan lawan dengan amunisi yang dimiliki. Mudahnya, Nio akan mempermainkan lawan sebagai bentuk serangan terakhir.


“Jaga jarak dengan lawan hingga lawan tidak mampu memperkirakan tempat kalian!” teriak Nio, dan didengar oleh seluruh orang yang mengenakan handsfree komunikasi.


“Siap!”


Hal yang harus dilakukan saat ini adalah memberi lawan satu pukulan besar, walau melakukan operasi pembersihan tidak ada dalam daftar tujuan.


Seluruh orang menempati posisi serang masing-masing untuk melancarkan serangan. Tidak seperti saat komandan lawan masih hidup, serangan yang akan dilakukan terasa begitu mudah.


Jika lawan ternyata masih memiliki senjata rahasia, pasukan Nio akan dalam kesulitan. Nio tidak ingin mengorbankan bawahannya, walau menggunakan bawahan sebagai umpan untuk bertahan hidup dan naik pangkat adalah hal biasa di lingkungan militer. Alasannya? Dia pernah mengalami situasi mengerikan seperti itu.


Dengan nada selirih mungkin, Nio berkata ke seluruh orang, “Pembunuh Senyap, ambil jarak bunuh paling efektif menurut kalian! Tim Ke-12, lakukan tembakan pendukung secara menyebar!”


Komunikasi ke seluruh orang sangat lancar, tidak ada yang terpotong. Mengingat jumlah sisa tentara lawan sekitar 700 orang, mungkin membunuh hingga 500 orang adalah kebetulan yang luar biasa mengingat pasukan Nio memiliki Utusan Dewi Kematian dan Dewa Perang.


Seluruh Pembunuh Senyap dengan teriakkan penuh keberanian menebas kepala, menyayat dada, dan menusuk jantung prajurit Aliansi hingga mereka kebingungan. Tim Ke-12 secara efisien memanfaatkan sisa amunisi mereka. Serangan menyebar menumbangkan satu demi satu tentara lawan, mengurangi jumlah mereka.


“Edera memiliki laporan kepada Tuan Nio. Penyihir lawan sepertinya tidak terdampak.”


Walau sebagian infanteri senapan lawan sangat terdampak atas serangan menyebar pasukannya, tapi penyihir tempur lawan justru berlari ke arah tubuh komandan mereka berada setelah dikalahkan oleh Nio. Saat berusaha mengejar mereka, seluruh penyihir mengeluarkan Sihir Tameng untuk melindungi diri sendiri dan komandan, dan mereka benar-benar acuh terhadap kawan yang berjuang menghadapi serbuan tanpa henti pasukan Nio.


“Sepertinya sudah cukup!” ucap Bamlag yang melihat beberapa prajurit Aliansi membuang senjata lalu berlari menyelamatkan diri dengan wajah ketakutan.


“Kita telah mengacaukan musuh! Kita mundur dari sini bukan, Letnan Nio?” sambung Hassan.


Beberapa Pembunuh Seyap mundur, disusul Hevaz yang telah membuat gunungan mayat. Hanya orang-orang tolol yang memiliki keberanian lebih untuk memutuskan menantang seorang Utusan. Usaha Hevaz mampu membuat beberapa orang hanya menjadi pengamat pembantaian yang dilakukan pelayan pribadi Mayat Hidup tersebut.


Ketika pasukan perlahan menjauhi pertempuran dan membiarkan sisa pasukan Aliansi mundur dengan ketakutan, Nio tetap di dekat salah satu sisi tebing tempat para penyihir yang menjaga komandan mereka berada. Dia masih mengamati para penyihir tempur jika sewaktu-waktu mereka melancarkan sihir pertempuran kepada pasukannya.


Pasukan telah keluar dari pertempuran, membuat Nio memutuskan melakukan hal yang sama.


“Tetap pertahankan formasi! Kita kembali ke pantai secepat mungkin!” teriak Nio melalui handsfree komunikasinya.

__ADS_1


Walau gagal mengurangi kekuatan penyihir tempur lawan, namun Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap telah mendapatkan kemenangan. Pada dasarnya, pertempuran yang berlarut-larut hanya akan melelahkan fisik dan moral prajurit tanpa mendapatkan keuntungan apapun.


“Para komandan Kelomok konfirmasi keadaan anggota masing-masing!” perintah Nio kepada Bamlag dan Hassan.


Hassan kemudian menjawab, “Tidak ada anggota Tim Ke-12 yang terluka. Tapi, senapan milik Kasir (Sigit) rusak berat terkena peluru lawan.”


“Pembunuh Senyap memiliki tujuh orang menderita luka sedang, dan seluruh anggota hanya mendapatkan luka gores akibat ranting pohon,” sambung Bamlag.


Bagaimanapun, tidak ada yang mati adalah sebuah keajaiban dalam pertempuran ini. Jika mereka sedang bertempur melawan pasukan Amerika, mungkin seluruh orang dapat kembali sebagai mayat.


Kerugian yang dialami pasukan Nio tidak seburuk yang dibayangkan, hanya sebuah senapan rusak dan beberapa anggota Pembunuh Senyap terluka. Beberapa penyihir tempur lawan berhasil dibunuh, membuat lawan mungkin kekurangan tenaga penyihir tempur. Jika beruntung, penyihir yang berusaha menyelamatkan komandan mereka di lereng bukit tadi tidak melepaskan sihir pertempuran.


Pada saat ini, Nio memutuskan memerintahkan pasukannya kembali ke perkemahan. Musuh yang kabur terkonfirmasi tidak terlihat lagi, walau masih terdapat kemungkinan mereka masih berada di area hutan pesisir untuk mengintai. Lagipula, keinginan utama Nio adalah menghadapi para penyihir, mengukur kekuatan mereka, lalu membuat taktik untuk menghadapi penyihir tempur.


Berpikir dia telah melumpuhkan puluhan penyihir tempur Aliansi membuat Nio tersenyum. Tentu saja, dia memiliki banyak pengalaman mengendalikan diri dan menghadapi unit tertentu musuh. Ketika memikirkan pasukannya harus bertempur pada saat yang tidak menguntungkan, membuat Nio jatuh.


“Kita akan menyerahkan sisanya pada helikopter pengintai. Kembali ke kemah-”


Nio yakin seluruh anggotanya mendengar perkataannya, tetapi wajah Nio tiba-tiba menunjukkan ekspresi terkejut yang luar biasa, diikuti beberapa suara tembakan dari belakang. Beberapa saat kemudian, pakaian kamuflase hutan yang seharusnya berwarna hijau, perlahan teraliri warna merah darah pada bagian punggungnya.


Di belakang pasukan Nio, seorang penyihir tempur Aliansi mengambil SP-1 milik prajurit yang kabur dan membuang senjatanya, menembakan seluruh amunisi pada magasin senapan. Wajah ‘target’ yang tidak tertutup memudahkannya menentukan sasaran. Pahlawan Harapan harus didapatkan bagaimanapun kondisinya, walau tubuhnya hancur menjadi potongan daging.


Penyihir itu berhasil menyarangkan enam peluru ke punggung Pahlawan Harapan. Usaha balas dendam atas dikalahkannya Pahlawan Penyesalan oleh Pahlawan Harapan sukses, namun dia segera mendapatkan balasan setimpal dari bawahan Pahlawan Harapan.


Setelah berhasil melumpuhkan Pahlawan Harapan dan membuatnya tersungkur ke tanah yang basah akibat hujan, sebenarnya penyihir tempur tersebut sempat tersenyum puas saat melihat Pahlawan Harapan tumbang.


“Pahlawan Penyesalan tidak pantas dikalahkan prajurit lemah seperti dia,” ucap penyihir tempur tersebut sebelum seluruh anggota Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap melancarkan bogem matang ke tubuhnya.


Tapi, Hevaz yang tidak bergabung dalam pengeroyokan buas para bawahan Nio malah mendekati si Pahlawan Harapan dan mengatakan, “Cepat bangun, Tuan Nio. Saya tahu Anda tidak mati, apalagi tak sadarkan diri hanya karena peluru kecil yang menembus tubuh Anda.”


“Nona Hevaz, apa maksudmu berbicara seperti itu?! Mana mungkin Komandan masih sadar saat enam peluru melubangi tubuhnya?! Dia tidak memakai rompi anti-peluru, jadi kemungkinan dia tetap hidup sangat kecil, sialan!” Gita berteriak, berusaha mempertanyakan akal sehat Hevaz.


“Benarkah dia tidak memakai pelindung yang kau maksud. Apa kau sudah melepas pakaiannya?” jawab Hevaz dengan wajah santai.


Ekspresi tidak suka ditunjukkan Gita terhadap wajah santai Hevaz saat mengatakan kalimat tersebut. Wajah santai Hevaz tidak bisa diartikan sebagai tindakan masa bodoh atas kemalangan yang menimpa Nio, tatapan khawatir dan takut Hevaz terhadap kondisi tuannya tetap terlihat walau samar-samar.


Apa yang memulai semua ini? Apa sumber penderitaan Nio dalam usaha melindungi bawahan tercintanya? Berapa banyak Nio mengorbankan diri hingga terluka parah dan sekarat demi menjaga bawahannya yang entah peduli atau tidak pada perjuangannya?


Berbagai pertanyaan seperti itu memenuhi pikiran ‘beberapa’ bawahan Nio, sisanya hanya peduli pembalasan dan menghabisi pihak yang melukai Nio.


Dengan sedikit usaha, Gita merobek bagian punggung seragam lapangan Nio menggunakan pisau tarungnya. Setelah menyingkirkan potongan kain, terlihat rompi anti peluru terpasang di dalam pakaian lapangannya. Hal itu membuat Nio tampak tidak menggunakan pelindung sama sekali. Namun, proyektil 7,62mm yang ditembakkan dari jarak 20 meter tetap menimbulkan efek pada punggung Nio. Rompi anti-peluru yang digunakan Nio dirancang untuk pasukan garis belakang yang tidak bertempur secara langsung, seperti Komando Pasukan Cadangan atau Penjaga Perbatasan Laut. Intinya, rompi anti-peluru yang dipakai Nio lebih lemah dari yang dipakai pasukan reguler atau pasukannya sendiri kecuali Pembunuh Senyap.


Punggung Nio tetap terluka, ujung proyektil yang berhenti di salah satu lapisan rompi seolah-olah ingin terus melesat hingga menembus tubuh sasarannya dan membunuhnya. Namun, lelucon yang dibuat Nio justru menyelamatkan jiwanya walau melukai raganya.


“Lihat, walau Tuan Nio gemar membuat tipuan, tapi dia tetap memperhatikan keselamatannya. Kau hanya perlu membersihkan luka Tuan Nio, dan mengobatinya sesuai prosedurmu, Gita,” ucap Hevaz.


Ditengah kelegaan yang melanda Gita, penyihir tempur telah selesai menerima pengeroyokan mengerikan dari bawahan Nio. Saat semua orang menyingkir, sekujur tubuhnya dipenuhi luka dan memar yang sangat parah hingga kecil kemungkinan dia dapat hidup normal. Tapi, jika para pembersih medan tempur menemukan tubuh penyihir tempur yang dikeroyok anggota Nio, itu mampu menjadi efek gentar dan intimidasi tanpa senjata.


Panggilan Gita pada rekan-rekannya untuk tetap tenang dan memberitahu jika nyawa Nio tetap terselamatkan meredam keliaran para anggota Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap.


“Tah*i, liat-liat kalau mau cari lawan.”

__ADS_1


“Kalau Gita nggak nyuruh kita buat berhenti, dia mungkin sudah mati.”


“Janc*uk, kita hampir kelewat batas gara-gara si bang*sat ini.”


“Kenapa Letnan Nio bisa bertahan dan sabar menghadapi Aliansi gobl*ok itu?”


“Tidak. Jika Letnan Nio mendapati salah satu bawahannya terluka akibat musuh, mungkin dia akan malakukan hal yang sama seperti kita terhadap lubang pan*tat ini,” ucap Zefanya.


Perkataan Zefanya didasari pada berita sebelum Pasukan Ekspedisi TNI belum dibubarkan, yakni seorang komandan yang memaki-maki sekelompok wartawan yang mementingkan keuntungan pribadi, hingga membuat seorang bawahan Nio mati dan membuatnya menjadi orang pertama yang mati di dunia lain.


Mulut penyihir tempur tersebut memperlihatkan senyuman, walau untuk bernapas dia sangat kesulitan. Dia kemudian mengucapkan beberapa kata yang ditujukan pada Zefanya;


“Hei. Ja*lang jelek sepertimu tidak pantas mengatakan hal itu!”


Walau wajahnya tertutupi oleh darah, penyihir tempur tersebut tampak sangat puas mengatakan kalimat yang menyalakan propelan kemarahan pada diri Zefanya, membuat gadis itu melangkah dengan murka.


(olog note: propelan merupakan pendorong proyektil, atau intinya memang pendorong. Yah, simpelnya gitu sih, aku malas menjelaskannya. Kalau penasaran, kalian bisa mencari makna istilah itu di Google)


Kemudian…


“Cyka! Khuyova! Durak! Tupa! Gavno! Pizda! Yob! Zayibat! Zhopa! Dibil! Mudak!”


(olog note: kalau kalian mengartikan kata-kata di atas di Google Translate, makna yang didapat jauh berbeda. Lebih baik kalian mencari makna kata itu di situs dengan menulis kata kunci ‘macam-macam umpatan Rusia’)


Zefanya melayangkan tendangan keras ke wajah penyihir tempur itu sejumlah umpatan yang ia keluarkan, hingga darah kembali menutupi wajahnya namun lebih banyak. Kata-kata yang Zefanya keluarkan sangat kasar, hingga orang yang paham bahasa Rusia mungkin akan sangat terkejut dan tidak pantas didengar anak dibawah umur.


Tendangan terakhir yang Zefanya layangkan ke wajah korbannya menciptakan bunyi seperti kayu yang patah, membuat penyihir tempur tersebut berhenti bergerak dengan kedua mata tetap memelotot dan rekan-rekan gadis Rusia tersebut merinding.


Jika peristiwa ini tidak ingin terjadi, penyihir tempur tersebut seharusnya tidak melakukan tindakan yang menyulut bawahan Nio. Mereka telah memberkannya mimpi buruk yang tak tertandingi, mungkin membuat jiwanya terancam. Kamu bisa mengatakan apa yang dilakukan para bawahan Nio adalah pelanggaran, tetapi mereka dengan cepat meredam amarah.


Mereka mengakhiri ‘pekerjaan ekstra’, meninggalkan tubuh sekarat penyihir tempur Aliansi tersebut tanpa wajah bersalah sedikitpun. Karena mereka digunakan untuk berperang dan melindungi atasan yang penting, tidak ada cara untuk menghentikan para orang-orang liar milik Nio kecuali pria itu sendiri. Tetap saja, gila namanya kalau tidak membalas perbuatan lawan terhadap orang ‘istimewa’ di Pasukan Perdamaian, TNI, dan TRIP, itu menurut mereka.


Mata si penyihir tempur tetap terbuka, tapi tidak diketahui apakah dia masih hidup atau tidak. Namun, setelah Pahlawan Harapan dan pasukannya menjauh, sisa pasukan penyihir tempur yang sebelumnya melindungi Pahlawan Penyesalan mendekati tubuh penyihir yang menjadi bulan-bulanan pasukan lawan.


“Yang Mulia, mengapa Anda tidak melawan saat pasukan Pahlawan Harapan menyerang Anda?”


Salah satu penyihir bertanya seperti itu ke penyihir tempur yang tampak sekarat, namun kenyataannya dia tetap mampu duduk dan menatap tajam ke arah pasukan Pahlawan Harapan yang berjalan semakin jauh.


“Aku Utusan Dewa Surga bukanlah tandingan budak-budak itu. Semua yang mereka lakukan sama sekali tidak ada rasanya.”


Reaksi para penyihir tempur hanya terkejut dan terpana. Utusan Dewa Surga membiarkan dirinya yang menyamar menjadi salah satu penyihir dihajar habis-habisan oleh pasukan Pahlawan Harapan. Selain itu, tujuannya menyerang Nio tidak terlalu memuaskannya, target Aliansi tersebut masih hidup meski sejumlah proyektil ditembakkan.


“Pahlawan Harapan hanya prajurit biasa, dia bukan penyihir,” ucap Utusan Dewa Surga.


“Mohon maaf jika lancang, Yang Mulia. Namun, Pahlawan Harapan telah membunuh puluhan dari kita,” salah satu penyihir tempur menjawab dengan wajah gugup.


Para prajurit dari dunia lain itu rapuh, mereka hanya mengandalkan baja-baja mematikan yang disebut ‘senjata’ untuk menghabisi setiap pasukan Aliansi. Bahkan, mereka mungkin terlalu percaya diri mampu meraih kemenangan dalam perang ini dengan teknologi yang dibanggakan tersebut.


Di sisi lain, Dewa Surga dikatakan ‘keberadaan’ tertinggi, paling kuat, dan sangat berkuasa yang dipercayai dunia ini. Dewa Perang dan Dewi Kematian hanyalah sosok ‘pesuruh’ yang memiliki kekuatan di bawah Dewa Surga, walau kekuatan kedua Dewata tersebut telah mampu mengulang peradaban dunia ini.


“Utusan Dewa Perang dan Dewi Kematian yang membantu musuh untuk menghadapi Aliansi hanya sekuat para Pahlawan. Aku lebih kuat dari kedua dewa bawahan tersebut, dan akan membuat dunia ini memerintah dunia asal pasukan lemah itu. Pahlawan Harapan mungkin sangat sulit ditangkap, tapi dia tetaplah manusia biasa tanpa kekuatan suci seperti milik para Pahlawan Aliansi.”

__ADS_1


Di sisi lain, dengan bantuan Pahlawan Naf*su, Aliansi berupaya melatih pasukannya menggunakan senjata modern dari dunia asal para pahlawan. Kekuatan suci Pahlawan Na*fsu yang mampu menciptakan sesuatu hanya berbekal ingatan adalah keuntungan terbesar Aliansi. Hal itu tidak menyulitkannya menciptakan senjata yang dibutuhkan Aliansi untuk menghadapi supremasi Persekutuan dalam berbagai hal yang mengancam dunia ini.


__ADS_2