
25 September 2321, pukul 17.43 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, sore hari.
**
Grup Tempur 1 telah mundur setelah menyelesaikan tugas mereka, meski pertempuran yang mereka lakukan terlalu mendominasi. Pasukan ini telah mengurangi 60 persen kekuatan Kekaisaran, dan sisanya akan dihadapi oleh pasukan Sigiz.
Jeritan pertempuran terdengar dari kedua pasukan. Pasukan mengacungkan pedang dan tombak mereka dan berlari kencang untuk menerjang musuh.
Dalam pertempuran, memiliki barisan pemanah yang menghujani musuh saat mendekati pasukan untuk melakukan pertempuran jarak dekat adalah hal normal bagi pasukan dunia ini.
Meskipun berhasil menembak musuh dari jarak jauh, senjata utama dalam pertempuran adalah senjata pertarungan jarak dekat, seperti pedang dan kapak perang serta bintang fajar. Busur dan anak panah tidak dikenali sebagai bagian dari kekuatan utama.
Sementara para prajurit menahan musuh, Sigiz dan para jendralnya dengan lihai memainkan senjata andalan masing-masing. Dengan tombaknya dan kombinasi sihir, tidak ada serangan musuh yang mengenai Sigiz. Mata tombak Sigiz terlihat bersinar berwarna merah, dan menambah ketajaman mata tombaknya.
Saat musuh melepaskan tebasan ke arah tubuhnya, secara otomatis Sigiz melindungi dirinya dengan sihir perisai. Hanya segelintir prajurit yang mengusai sihir militer di pasukannya, dan Sigiz adalah yang terkuat.
Para pemanah Kerajaan membidik para jendral dan komandan musuh yang mulai kelelahan. Dengan melakukan ini, bahkan terhadap puluhan ribu pasukan, para pemanah bisa membuat musuh mereka berantakan. Para pemanah menyerang melalui celah-celah diantara pembawa perisai.
Perisai disatukan dan cukup kuat untuk menutupi seluruh tubuh para pemanah. Meski berat, mereka bisa melindungi diri sendiri saat bertarung.
Tapi tidak dengan pasukan Sigiz, para prajurit Kerajaan Arevelk telah berhasil membuat pasukan Kekaisaran tanpa komandan. Pasukan Kekaisaran akan segera runtuh dengan sedikit kekuatan.
Pasukan kavaleri Kerajaan Arevelk adalah mimpi buruk, dimana mereka dengan mudahnya menghancurkan pasukan meriam dan peralatan tempur. Meskipun beberapa peralatan tempur telah dihancurkan oleh Grup Tempur 1.
Pawang naga dari pasukan penunggang naga memerintahkan tunggangan mereka untuk memanggang pasukan Kekaisaran. Semburan api dengan temperatur tinggi, membuat medan perang dipenuhi dengan aroma gosong. Beberapa tubuh terlihat hampir matang dengan zirah besi yang berwarna merah membara karena semburan api naga dan wyvern.
Meskipun semburan api dari wyvern tidak sepanas dari naga, namun api mereka cukup untuk membakar tubuh manusia.
Naga dengan sisik berwarna keperakan milik Sigiz, dengan ganas menyemburkan api bertemperatur sangat tinggi hingga membuat pasukan Kekaisaran menjadi arang. Naga itu sudah sangat jinak, dan dapat membedakan siapa prajurit Kekaisaran dan prajurit Kerajaan.
Tidak ada senjata yang pasukan Kekaisaran miliki yang dapat menembus kulit keras naga dan wyvern. Hanya persenjataan milik TNI saja yang bisa membunuh kadal terbang tersebut. Itulah mengapa serangan panah yang diarahkan ke para pasukan penunggang naga, hanyalah menjadi hal yang sia-sia.
Si Pedang Gila dengan cepat membelah tubuh musuh di depannya. Tidak ada kesempatan bagi musuh yang akan berhadapan dengan Lux menyerang, gadis itu dengan mudahnya membelah kepala prajurit seperti semangka.
Lux menggunakan beberapa gerakan, seperti tendangan memutar yang hampir sama dengan gerakan bela diri Nio saat melawannya. Dengan begitu, tidak ada musuh yang berani menghadapi Lux dan memilih untuk kabur atau bunuh diri.
Prajurit Kekaisaran memilih untuk membuat pertimbangan jika mereka melawan para jendral yang memiliki kemampuan unik dalam menggunakan senjata mereka. Membunuh para jendral memang menjanjikan sebuah kehormatan, namun jika terlalu terpaku dengan tujuan tersebut, hanya kematian yang menghampiri.
Para prajurit kedua pasukan sudah terlanjur terjun ke medan tempur, dan pilihannya mati atau bertarung hingga pedang atau tombak mereka hancur, pilihan lainnya adalah bertarung hingga tubuh hancur.
Rantz dengan brutal menebas prajurit Kerajaan Arevelk dengan pedang sihirnya yang telah dilapisi dengan sihir. Sesekali dia mengeluarkan sihir yang membuat tubuh manusia hancur dan hanya menyisakan bercak darah.
Dia belum terbiasa dengan pertempuran yang mengharuskan dirinya menghadapi para kadal terbang. Jantung Rantz terpacu melihat satu persatu prajuritnya dipenggal oleh musuh atau dibakar oleh naga dan wyvern.
__ADS_1
“Pasukan, teruslah berjuang. Karena perdamaian dengan TNI telah didepan mata…!!!”
Meskipun suara Sigiz terdengar tenang, itu mengerikan dan menakutkan bagi musuh yang mendengar.
Lux telah terbiasa menghadapi lawan yang kuat, dan dia bisa merasakan arti yang dalam dari perkataan Sigiz yang telah membuat daya tempur pasukan menjadi lebih besar.
“Berisik…!!!”
Mendengar suara yang mengganggu, Sigiz menghentikan pertarungannya setelah memenggal kepala seorang prajurit Kekaisaran.
Rantz dengan brutal mengeluarkan sihir yang dapat menghancurkan tubuh manusia, dengan cara membuat bola angin dan menjebak seseorang didalamnya, maka pusaran di dalam bola angin akan menghancurkan tubuh orang itu. Dia sudah membunuh ratusan prajurit Kerajaan Arevelk dengan sihir ini.
Namun, energi sihirnya belum menandakan hampir habis setelah mengeluarkan sihir berkali-kali. Itu karena Tanah Suci yang memiliki aliran energi sangat besar, dan dapat diserap oleh para penyihir sebagai tambahan energi sihir.
Meskipun tubuh Rantz menjadi sasaran para pemanah, namun sihir tamengnya bisa mementalkan anak panah dengan mudah. Kemudian dia membunuh para pemanah dengan sihir brutalnya tersebut.
Rantz merasa jika ayahnya akan merasa bangga padanya jika berhasil mendapatkan kepala Sigiz. Rantz memikirkan hal seperti ini dengan riang saat dirinya hanya berjarak beberapa puluh meter dengan Sigiz.
Luan penuh dengan orang-orang bodoh yang membual tentang kekuatan mereka, Rantz salah satunya.
Memang benar Sigiz takut, tetapi dia dikelilingi para prajurit pemberani yang membuatnya tenang. Alih-alih cemas, dia merasa keberanian mengalir deras di dalam tubuhnya.
Rantz menghunus pedangnya tinggi-tinggi, dia mengatakan beberapa kata mantra dan membuat pedangnya bercahaya berwarna keemasan.
Langit diatas Sigiz ditutupi dengan panah yang tak terhitung jumlahnya, dia merapalkan sebuah mantra dengan cepat.
Angin tenang berputar di sekitar mata tombak Sigiz. Kemudian pusaran angin yang lebih besar berputar dan membuat semua anak panah jatuh ke tanah.
Menanggapi perasaannya, Sigiz menerobos pasukan yang membawa bendera dan membawa bendera.
Sigiz mengincar pembawa bendera musuh dan menebas dada mereka, pasukannya kemudian menerobos formasi ini dan mengacaukannya.
Meskipun mereka bertempur dengan kekuatan yang tersisa, Sigiz tidak goyah satu langkah pun. Dia menangkis pedang, membelah kepala dan menerbangkan tubuh lawan.
Meskipun Sigiz mahir dalam memainkan tombak, tidak masuk akal jika dia bisa memotong tubuh manusia dengan lengan rampingnya.
Pasukan Kekaisaran di dorong mundur, namun tidak bagi Rantz. Dia menatap dengan tajam dan memperlihatkan senyum miring kepada Sigiz yang hanya berjarak 5 meter di depannya.
“Memalukan, bertatapan dengan Ratu jalang di depanku adalah hal yang memalukan.”
Rantz berbicara dengan nada tajam dan menatap Sigiz dengan jijik. Dia melepaskan udara dingin yang membuat pasukan gentar.
“Terserah apa katamu, Pangeran Rantz.”
__ADS_1
“Jika anda menyerah sekarang, saya akan menjanjikan kepuasan jika anda menjadi milik saya.”
“Tidak ada pria yang pantas memiliki saya, selain satu orang.”
Sigiz sebenarnya tidak ingin termakan provokasi Rantz, dia dengan tenang menjawab satu persatu peryataan yang di lontarkan pria itu dengan hati yang panas.
Rantz tertawa dan mengangkat pedang, dia mengeluarkan hawa permusuhan dengan perempuan di depannya. Sementara Sigiz tersenyum dengan penuh keyakinan, karena dia yakin Nio melihat dirinya dari benteng.
“Meski anda menjadi milik saya, saya tidak yakin dengan kesucian tubuh anda.”
Kata-kata Rantz akhirnya membuat darah Sigiz mendidih, bersamaan dengan itu mata tombaknya diselimuti dengan cahaya berwaran merah darah.
Pasukan Sigiz menjadi merinding saat tombak ratu mereka diselimuti dengan cahaya berwarna merah darah, itu adalah pertanda yang buruk.
“Tidak seperti anda, saya mengerti tempat dan waktu untuk menyambut kematian!”
Dengan amarah yang hebat, Sigiz berlari sangat cepat tanpa bisa dilihat oleh penglihatan tajam Rantz. Tidak perlu basa-basi lagi, Sigiz memegang erat tombaknya dan melakukan serangan yang bertujuan menusuk perut Rantz.
Meski hanya dengan kata-kata, Rantz telah menginjak ranjau yang menyebabkan perempuan terkuat di Kerajaan Arevelk mengeluarkan kekuatan sebenarnya.
“Jika saya punya benang dan jarum, mulut busukmu itu sudah kujahit rapat-rapat!”
Sigiz tak henti-hentinya menusukkan tombaknya di tubuh Rantz yang diselimuti sihir tameng. Dia ingin pangeran ingusan ini tidak bisa mengatakan apapun lagi.
Rantz harus mengeluarkan energi yang besar hanya demi terus mengaktifkan sihir tameng agar tubuhnya terlindungi dari serangan Sigiz. Jika dia mengeluarkan sihir tameng yang lemah, dia sudah mati sejak serangan pertama yang dilancarkan Sigiz.
Pedang sihir Rantz terus mengeluarkan sihir angin yang bisa menghancurkan tubuh manusia, namun dengan mudahnya dibelah oleh Sigiz yang sudah terlanjur mengamuk menggunakan tombaknya. Meski zirah besi Sigiz terkena sihir Rantz, namun dia tidak mempedulikannya dan fokus untuk menyerang Rantz.
Sigiz terus menerus menyerap energi sihir yang berada di Tanah Suci, dan membuat serangannya semakin kuat. Namun, penerimaan energi sihir Rantz mulai tidak teratur, dan melemahkan sihir tameng miliknya.
Rantz berteriak dengan keras, seolah-olah dengan begini dia akan bertambah kuat. Sinar keemasan yang menyelimuti tubuhnya sedikit demi sedikit memudar.
“Sialan…!!! Jalang tetaplah jal-…”
“Berisik, sialan.”
Sigiz menatap datar ke arah Rantz setelah berhasil melukainya. Sigiz menusukkan tombaknya ke mulut Rantz saat dia berteriak dengan keras tadi.
Tombak milik Sigiz menusuk hingga menembus belakang kepala Rantz, ujung tombaknya yang masih menancap meneteskan darah milik Rantz. Sedangkan Rantz, matanya menatap kearah Sigiz dengan tatapan menyedihkan dan kosong, karena nyawanya telah berada di ujung tengorokan.
Dewa Perang yang Rantz sembah, bahkan tidak bisa menolongnya meski dia sudah banyak melakukan pengorbanan. Justru, malaikat maut utusan Dewa Kematian yang menjemput nyawa Rantz.
Pandangan Sigiz tetap kuat dan teguh, meski sudah membunuh manusia dengan cara yang kejam. Tetapi, Sigiz menilai jika orang yang dia bunuh memang pantas mati dengan cara seperti ini.
__ADS_1
Sigiz mencabut tombaknya dari kepala Rantz dengan kasar , kemudian mengankat tinggi-tinggi. Itu menandakan jika Kerajaan Arevelk memenangkan perang ini, dengan bantuan TNI.