
Nio hanya bisa melihat cahaya putih tanpa ujung.
“Jangan menyusulku sebelum waktunya, Nio.”
Suara pria yang khas – sangat Nio kenali – membuat mata kirinya terbuka lebar. Ayahnya, berbicara dengan wajah samar-sama saat matanya hampir terpejam lagi karena lelah dan sakit yang diterimanya.
Semua orang terdengar berteriak tanpa sebab yang jelas, bahkan seluruh pasukan tempur yang berjuang berteriak juga.
“Tolong jangan mati, Pahlawan Harapan. Bangkit dan kalahkan musuh-musuhmu. Ada banyak alasan untuk mu melakukan semua ini. Semua orang akan tahu perjuanganmu adalah yang tersulit. Aku akan terus memperhatikanmu. Jadi, teruslah hidup dan lakukan pertarungan dengan kedua tanganmu sendiri.”
Sosok berjenis kelamin perempuan dan tidak dikenal, dengan wajah sangat cantik, mungkin yang paling cantik dari semua perempuan yang pernah Nio lihat selama hidupnya, berbicara seperti itu. Permohonan perempuan itu terdengar sangat tulus, dan terasa akan menusuk hati Nio jika dia tidak melaksanakannya. Tapi, Nio benar-benar sadar batas kekuatannya jika harus berhadapan dengan musuh kuat.
Samar-samar, Nio bisa melihat Pahlawan Amarah meraung setelah serangan sebelumnya. Seperti dugaannya, Rio sama sekali tidak mendapatkan luka serius, tapi entah bagaimana dengan dirinya.
Kaki belakang Rio dihentakkan ke tanah, lalu Gerbang tak sempurna muncul sebagai jalan mundur dirinya seorang, alias meninggalkan bawahannya yang masih berjuang.
Rio tidak bisa menahan proyektil 7,62mm dari SS20 yang ditembakkan Nio menembus lengan kanannya, rasa sakit yang dia terima sangat membuat Rio menderita. Luka yang disebabkan Nio sekarang adalah yang paling menyakitkan dari semua luka pertempuran yang Rio dapatkan. Dan kemudian, dia melihat Nio tak lagi bergerak.
Dia berhasil kabur, dan Nio masih tak bergerak dalam kondisi berdiri tegap, dengan wajah tersenyum mengerikan walau satu-satunya mata Nio terpejam.
Kemudian, Pahlawan Amarah dan Gerbang tak sempurna yang dimunculkan olehnya lenyap, kembali ke tempat aman di markas pusat Aliansi.
**
Semua orang menyaksikan kejadian yang Nio hadapi dengan mata kepala masing-masing, dan rekaman drone kupu-kupu yang dilepaskan ke seluruh medan tempur. Nio berdiri, tanpa bergerak sedikitpun, dengan lengan kanan bionik terbelah menjadi dua. Lengan bawah tangan robot Nio terjatuh ke tanah, lalu menggeliat sebentar dan akhirnya berakhir menjadi logam rongsokan.
Walau mata Nio terpejam dan mulutnya tersenyum tipis, namun seluruh orang bisa merasakan bahwa Nio sekarang memasang ekspresi seseorang yang meraih kemenangan terbaik sepanjang hidupnya. Senyum Nio dipenuhi kekuatan, kemauan, dan tekad.
Ah benar juga…
Inilah akhir yang membuat prajurit bahagia untuk berjuang.
“Nio…”
Suara seseorang yang begitu lirih, membuat Nio melihat pemandangan indah yang tidak ada di Indonesia. Mungkin sekarang dia ada di surga para pejuang.
Nio dan Pahlawan Amarah sebelumnya menarik pelatuk bersamaan, namun Nio lebih tepat dan cepat sepersekian detik melepaskan tembakan. Lesatan proyektil dari jarak 5 meter jauh lebih cepat, dan Rio gagal mengantisipasinya padahal telah siap mengeluarkan Sihir Tameng untuk menghentikan laju proyektil.
Rio membeku ketakutan, walau Peluru Abadinya berhasil merusak lengan kanan robot Nio, memaksanya mundur meninggalkan para prajurit setianya.
Dalam waktu kurang dari sedetik, keduanya terkena tembakan di lengan kanan masing-masing.
“Maafkan aku, tapi sepertinya perjuangan ini akan sedikit lebih lama dari harapan…”
Tepat setelah dia mengatakan hal itu, gadis di depannya lenyap, dan mata kiri Nio terbuka lebar. Waktu mulai berjalan normal lagi.
Dia belum mati, tangan bionik yang rusak tidak akan membunuhnya. Lagipula, Rio tidak tahu apa yang dibalik lengan seragam tempur Nio adalah lengan bionik yang dapat digerakkan dengan pikiran penggunanya. Nio lupa menggulung lengan pakaiannya.
Rio melarikan diri, dan serangan terakhir dalam pertempuran ini adalah ledakan besar peluru meriam berdaya ledak tinggi yang menerbangkan puluhan prajurit Aliansi malang. Ledakan api merah panas membumbung tinggi, serpihan cangkang peluru menyebar ke segala arah dalam kecepatan tinggi, menelan pasukan Aliansi yang telah putus asa dalam kobaran api.
__ADS_1
Nio kembali bergerak, dia hanya bisa melihat hutan gelap yang kini diterangi api pertempuran mematikan, hampir menyerupai neraka. Sementara itu, matahari hampir menunjukkan diri dari tempatnya terbit.
“Ah…”
Air mata beberapa orang yang sangat dikenalnya menetes tanpa henti.
Seluruh gadis, anggota pria Tim Ke-12, dan para Pembunuh Senyap memperlihatkan tangisan kebahagiaan. Lalu, sebuah tetesan embun mengenai dahi Nio, namun Nio tetap tidak bisa menangis.
“Sekarang… sekarang musuh terbesar kita sudah kalah, kan?”
“Komandan, kamu baik-baik saja?!”
“Komandan, kau bodoh!!!”
“Letnan Nio, kerja bagus!”
“Maaf, tidak bisa melindungi Anda, Tuanku…” perkataan ini berasal dari Edera, diikuti seluruh gadis dengan mengangguk bersamaan.
Ada seorang gadis di antara orang-orang yang bersorak dan pria berumur sekitar 40 tahun-an di sampingnya, seluruh tubuhnya tampak memancarkan cahaya. Mereka berdua tersenyum, lalu pria tersebut mengacungkan jempol kanannya pada Nio, membuat pemuda itu tersenyum sedih.
“Terimakasih, Bapak…”
Nio meraih bola cahaya kecil – wujud ayahnya setelah kembali ke surga – tetapi kedua tangannya hanya menangkap udara. Dia hanya bisa melihat senyuman ayahnya saat kembali ke tempat seharusnya dia berada, dan bertekad terus berjuang demi semua orang yang membutuhkannya walau neraka yang disebut perang ini sangat menyiksanya.
“Kau baik-baik saja, Komandan?”
Hendra dan Hassan membantu Nio berjalan dengan cara memegangi lengannya, atas nama seluruh anggota Tim Ke-12.
“Aku oke,” balas Nio sambil melirik sisa lengan kanan bioniknya yang terpotong.
Duo ‘H’ Tim Ke-12 tersebut memandang suram Nio yang kini kembali hanya memiliki satu lengan. Lalu, ‘H’ yang lain, alias Herman duduk di sebuah dahan pohon, mengawasi seluruh orang dari sana bersama beberapa anggota Pembunuh Senyap.
“Sekarang, tolong libatkan kami di setiap pertarunganmu.”
Nio tersenyum samar-samar untuk menanggapi perkataan wakil-nya.
“Mungkin aku bisa memegang janjimu, Hassan.”
Dan kemudian, Hassan dan Hendra sama-sama tersenyum atas jawaban Nio di atas, dan Herman yang tidak sengaja mendengarnya mengangkat kepalan tangannya ke atas, di balas seluruh anggota Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap.
“… Komandan.”
Zefanya merasa tugasnya tidak seperti anggota tim lainnya, khususnya Nio.
“Aku masih bisa berdiri di depanmu, Zefanya. Tentu saja aku tetap akan berdiri di depan seluruh anggotaku. Aku adalah komandan Tim Ke-12.”
Nio memiliki tugas memimpin dan melindungi semuanya sampai akhir, bahkan jika seseorang hingga dirinya tidak menyukai apapun yang dilakukannya, itu masih tugasnya.
“…”
__ADS_1
“!!!”
Seluruh orang terdiam, dan memasang wajah sangat terkejut saat Zefanya memeluk Nio seperti seorang gadis yang menyambut kepulangan kekasihnya dari pertempuran mematikan.
“Kau, Komandan. Kumohon, jaga dirimu, jangan biarkan kau mati sia-sia!”
“Tapi… lihat sisi positifnya. Kita mungkin lebih beruntung daripada jutaan prajurit Aliansi di luar sana.”
Sigiz belum pernah melakukan hal itu dengan Nio, namun dia bangga telah mencuri salah satu pengalaman pertama Nio. namun, para gadis-gadis lainnya belum mendapatkan kesempatan seperti Sigiz dan Zefanya.
Dekapan Zefanya terasa begitu lama, walau sangat biasa, namun membuat orang tidak bisa segera mengerti apa yang terjadi. pertempuran baru saja berakhir, dan sisa-sisa pasukan Aliansi masih melakukan perlawanan putus asa.
Lalu, setelah Zefanya melepas semua emosi yang terpendam, seluruh pejuang berjalan keluar hutan. Langkah Nio goyah karena pertarungan.
Semua orang mengobrol seperti teman-teman sekolah menengah di hari-hari penuh kedamaian.
“Kamu yakin Nona Hevaz, melepaskan pengkhianat begitu saja saat kondisinya sangat menguntungkan kita?” tanya Gita.
Hevaz menjawab, “Tidak, aku sebenarnya sangat takut saat berhadapan dengan Pahlawan Harapan. Membunuh lawan tidak akan berguna, Aliansi pasti akan melakukan berbagai cara untuk memanggil Pahlawah Harapan yang lain setelah kita membunuh Rio.”
Seluruh pejuang yang bertarung di hutan berjalan kembali ke benteng, dengan wajah tenang setelah menghindari kematian.
“Tapi, apa kalian tahu. Tidak ada kata-kata yang lebih enak dari mendengarkan kata-kata brengsek di pemerintahan jika sambil menangis mengatakan “Jangan mati, teruslah berjuang demi negara kita!” atau “Kami mohon, teruslah berjuang demi rakyat”. Untuk pertama kalinya, aku sangat ingin mendengar para brengsek pemerintahan memohon demi rakyat, dan tidak demi kepentingan pribadi mereka.”
Nio menyeringai, membuatnya tampak penuh kekuatan dan kebuasaan pejuang pertempuran yang hanya mengandalkan kekuatannya sendiri dan bantuan sekutunya.
“Betul!!!”
Semua prajurit Indonesia yang mendengar ucapan Nio serentak menjawab seperti itu.
Fokus semua prajurit Korea Utara, Rusia, Arevelk, dan Yekirnovo bergeser ke Nio. Hati mereka sekali lagi terpaku pada negara asal TNI tersebut.
Tidak ada ketenangan yang seluruh orang rasakan. Jika harus menggambarkannya, itulah perasaan seseorang yang harus berjuang demi orang-orang kotor di negara. Tidak ada pihak yang dapat menghentikan para pejuang muda tersebut, tidak ada kata-kata atau ancaman untuk merantai binatang buas seperti Nio.
Karena menurut pejuang terdahulu yang mereka yakini hingga sekarang, kebanggan sebenarnya berarti bisa mati demi negara dan orang-orang tersayang, dan rela memilih menempuh jalan itu. Mereka tahu betapa berharganya suatu momen dan betapa sulitnya untuk mencapainya.
Begitu orang-orang keluar hutan, hal yang pertama kali terlihat adalah Benteng Girinhi dan desa-desa sekitar yang hancur dan termakan kobaran api. Semua orang terdiam, tidak ada kata-kata yang diucapkan.
Sebuah kain berukuran puluhan meter, berwarna merah dan putih, dikibarkan pada tongkat panjang oleh seluruh operator Gandiwa TNI yang berjuang pada pertempuran ini. Warna bendera ‘suci’ itu mungkin sudah pudar, namun tetap membuat hati semua prajurit Indonesia gentar, lebih tepatnya membangkitkan suatu perasaan khusus yang membuat mereka merasa harus melindungi kain-kain yang bisa dibeli di pinggir jalan saat perayaan hari nasional tersebut.
Begitulah para petarung Indonesia melihat negeri mereka. Selama Indonesia belum mati, semua pejuang akan bertarung penuh kebanggaan, walau itu berarti mereka diperintahkan untuk terbunuh oleh musuh yang kejam.
“Lihat di atas benteng!”
Dan kemudian, semua prajurit yang telah menyelesaikan pertarungan masing-masing mendongak ke arah yang ditunjuk seorang prajurit TNI.
Selain langit indah pagi hari saat matahari terbit, seluruh orang melihat bendera negara-negara anggota Persekutuan terpasang di lima tiang salah satu sisi Benteng Girinhi yang hancur pada beberapa sisinya.
Sekali lagi, tidak ada kata-kata yang terdengar, kecuali bunyi kicau burung dan suasana hangat setelah kemenangan di awal pagi ini yang menjadi latar belakang berkibarnya bendera-bendera nasional Indonesia, Rusia, Korea Utara, Kerajaan Arevelk, dan Yekirnovo.
__ADS_1