Prajurit SMA

Prajurit SMA
Penjemputan 1


__ADS_3

Sebuah lingkaran putih muncul di tengah Labirin yang berada di Kekaisaran Duiwel, kemudian dua orang keluar dari dalam benda sihir tersebut. Keduanya melirik ke sekeliling tempat mereka berada saat ini, lalu mulai berjalan.


Menggunakan rambut milik Nio, Hevaz dapat mencapai pemuda itu berada menggunakan sihir teleportasi miliknya. Hanya dengan suatu benda yang mengandung bagian tubuh Nio, seperti sendok yang pernah digunakannya, sebenarnya Hevaz dengan mudah berteleportasi ke tempat yang menjadi tujuannya. Sehingga rambut hanya mempermudah dirinya untuk mencapai tempat Nio berada, meski dirinya tetap harus mencari keberadaan pria itu.


Karena Hevaz hanyalah seorang Utusan, dia tidak dapat dengan mudah berpindah tempat hanya dengan kedipan mata. Berbeda dengan para Dewata, Utusan merupakan makhluk seperti manusia dengan kekuatan jauh di atas pahlawan. Seperti Rasul yang terakhir kali diutus dua ribu tahun yang lalu, Utusan juga bertugas menyampaikan kabar dari Dewata untuk umat manusia. Tetapi, Utusan diberkati kekuatan tak masuk akal – hampir mendekati para Dewata itu sendiri. Tapi, Sang Pencipta memberikan wewenang pada seluruh Dewata untuk melenyapkan Utusan yang mencoba merebut posisi mereka.


Meski dengan perasaan terpaksa, namun Hevaz dapat mencapai tempat ini dengan bantuan Indah. Dia tetap seperti penyihir manusia biasa, dan dapat kekurangan energi magis. Fisik Utusan memang dapat menampung energi magis jauh lebih besar dari manusia dan hanya terpaut sedikit dari pahlawan. Dia akan berterimakasih dengan Indah setelah berhasil menemukan Nio… meski dengan perasaan terpaksa… lagi.


Selain itu, Hevaz melakukan pencarian Nio dengan seorang pendamping yang menurutnya ‘sangat loyal terhadap atasan’. Hassan terus memaksa Hevaz untuk membawa dirinya juga dalam pencarian Nio, meski resiko yang dihadapi cukup membahayakan prajurit manusia biasa tersebut. Pria itu berasal dari dunia lain, sehingga resiko ketika melintasi gerbang teleportsasi jauh lebih besar dan membahayakan keselamatan Hassan. Hevaz terpaksa menggunakan energi magis tembahan untuk melindungi keselamatan Hassan, hingga mereka berdua dapat mencapai Labirin dengan selamat.


Sementara itu, Hassan menatap Labirin – yang mirip dengan hutan tropis. Setelah keluar dari gerbang teleportasi, mata Hassan selalu terlihat kagum dengan ribuan pohon raksasa dan flora lainnya yang abru dia lihat sejak ditugaskan di dunia ini. Sebagai ‘orang baru’, wakil kapten Tim Ke-12 tersebut penasaran dengan apa yang telah Nio lalui. Karena pandangannya terhadap Nio adalah seseorang yang nampak mengetahui setengah isi dari Dunia Baru ini.


“Nona Hevaz, rasanya kita sedang berjalan di goa raksasa.”


Hevaz berjalan di depan Hassan kemudian menoleh sedikit setelah mendengar perkataan pria itu.


“Karena kita berada di Labirin. Dan tempat itu bisa dikatakan tempat yang sangat luas yang berada di bawah tanah.”


“Labirin…?” wajah Hassan terlihat sedang memikirkan sesuatu setelah mendengar perkataan Hevaz.


Di pikirannya, labirin adalah tempat yang dapat membuat orang-orang tersesat sampai gila. Wajah Hassan menunjukkan ekspresi gelisah, dan khawatir jika mereka berdua akan tersesat di ‘Labirin’ ini. Adanya Utusan menurutnya tidak menjamin mereka dapat keluar dari tempat ini dengan mudah, dan menemukan Nio adalah hal yang sulit jika mereka harus mencari pemuda itu di tempat seluas ini.


Namun, karena ini dunia ‘fantasi’, dan Hassan telah membaca banyak novel ringan produksi penulis Jepang, mungkin ada jalan keluar yang dapat langsung menghubungkan mereka ke Kota Tanoe atau markas pusat. Lagipula, itu hanyalah bayangan yang ada di pikiran wakil kapten Tim Ke-12, dan Hevaz dapat membuka teleportasi dengan mudah jika pria itu terus menggerutu.


“Kelihatannya, tempat ini sangat berbahaya. Aku pernah membaca cerita tentang labirin yang berisi berbagai jenis monster. Apa ini tempat yang sama, Nona Hevaz?”


Hevaz sudah tahu budaya apa yang dikatakan Hassan, yakni tentang adanya buku cerita dengan banyak gambar atau ilustrasi yang menarik. Dia pernah membaca satu buku milik Nio, sayangnya itu sama sekali tidak membuatnya tertarik meski menceritakan dunia dimana manusia hidup berdampingan bersama para Dewata. Menurutnya, karya yang dibuat manusia dunia asal pasukan Indonesia dan sekutunya yang disebut dengan ‘novel ringan’ adalah karya yang terlalu fiksi, namun bisa saja terjadi di dunia ini.


“Ya, ini adalah lantai sepuluh. Bisa dikatakan ini adalah tingkat paling berbahaya dari seluruh lantai di Labirin ini. Aku harap kau selalu waspada, karena lantai sepuluh diisi monster kuat dan pintar.”


“Ku kira monster hanyalah makhluk kuat dan berperilaku seperti hewan.”


“Itu tidak sepenuhnya salah, tapi dunia ini jauh lebih luas dari yang kau bayangkan, Wakil Kapten (Hassan). Aku tahu, di duniamu tidak memiliki kehidupan bawah tanah seperti ini. Sayangnya, kita sekarang berada jauh di bawah permukaan tanah. Dan ini adalah tempat para raja monster yang kuat dan pintar berada.”


Mata Hassan membulat – yang tidak pantas dengan usianya yang telah dewasa. Reaksinya setelah mendengar penjelasan Hevaz seperti anak kecil, dan otaknya berpikir sedikit lebih keras untuk menerima apa yang dia terima belum lama ini.


Dia pernah membaca tentang budaya beberapa suku Yekirnovo dan Arevelk yang didapat dari catatan Pasukan Ekspedisi, termasuk tentang suku Demihuman dan manusia setengah monster yang memiliki akal setara manusia. Kemudian, Hassan tahu kenapa hampir seluruh persenjataan Pasukan Ekspedisi hancur dan tidak dapat dibawa kembali ke Indonesia. Melihat tank tempur utama dan helikopter serang tua yang digunakan Pasukan Ekspedisi hancur dan digunakan untuk membangun monumen, Hassan bisa membayangkan dunia ini penuh dengan hal menakjubkan dan sangat berbahaya.


Kaca belum ada di dunia ini, jenis logam yang hampir sama dengan besi di dunia asalnya hanya digunakan untuk memproduksi pedang dan meriam. Namun, dengan bukti gugurnya ribuan prajurit TNI setelah penyerangan pertama Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi menjadi bukti jika dunia ini tidak dapat dipandang sebagai peradaban abad pertengahan.


Semakin dalam Hassan memikirkan hal itu, dia hanya merasa semakin takut dengan apa yang terjadi di masa depan. Dia menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk menyingkirkan kemungkinan buruk yang dia bayangkan selama bertugas di dunia ini.

__ADS_1


“Sepertinya dunia ini salah memilih dunia untuk dihubungkan,” gumam Hassan di dalam hati.


Terhadap hal tertentu, orang-orang Aliansi terlihat dapat belajar dengan sangat cepat untuk menghadapi kekuatan besar militer ‘dunia lain’. Itu adalah hal yang menakjubkan dan mengesankan , meski itu menunjukkan dan menjadi bukti jika perang akan berlangsung semakin lama. Itu bukanlah hal yang diharapkan para prajurit yang ditugaskan di dunia ini, meski di dunia asal yang mereka lakukan hanya menangani hal kecil yang bukan operasi perang, rebahan dan mencari gadis untuk digoda misalnya.


Menjelajahi Dunia Baru memang mampu membuat teman-teman mereka yang tidak ditugaskan ke dunia ini iri. Sayangnya, bayangan itu hanya sekedar khayalan dan berjuang di dunia ini tidak semudah menangani kelompok pemberontak atau mencegah pasukan negara lain memasuki wilayah negara yang mereka layani.


“Aku mendengar sesuatu, sepertinya sesuatu yang berjumlah banyak bergerak mendekati kita.”


Ucapan Hassan disetujui oleh Hevaz, dan sabit raksasanya telah digenggam dengan kuat di kedua tangannya. ‘Barista’, alias Hassan menyiapkan senapannya ke mode semi otomatis setelah memuat magasin. Kemudian, suara yang mencurigakan semakin jelas terdengar dan membuat mereka berdua semakin waspada. Setelah menyadari jika dia sedang dikepung oleh bahaya, bulir-bulir keringat dingin mengalir di kedua pipi Hassan.


Dia tidak memiliki kemampuan menembak sehebat Zefanya yang merupakan salah satu penembak jitu Tim Ke-12, namun dia berada satu tingkat di atas Nio. Meski begitu, dia tidak memiliki ketenangan tinggi seperti komandannya, dan merasa itu adalah kelemahan terbesarnya.


“Apa yang kau lakukan, Wakil Kapten?!”


“Hah?”


Gertakan Hevaz membuat Hassan terkejut dan menghancurkan lamunannya. Dia sama sekali tidak tahu kenapa Hevaz berteriak sekeras itu. Lalu, setelah melihat sebuah potongan tangan berbulu lebat dan kotor menghantam kepalanya, Hassan akhirnya tahu apa yang sedang terjadi pada mereka berdua.


Seekor monster berkepala kambing tergeletak tanpa nyawa didekatnya dengan tangan kanan terpotong, dan potongan itu mengenai kepalanya. Monster itu sebelumnya melompat untuk menyerang Hassan dengan kapaknya, namun pengamatan Hevaz lebih hebat dari pria itu dan menebas lengan monster tersebut dengan kecepatan suara.


Setelah melihat satu teman mereka terbunuh, monster-monster berkepala kambing itu terus bermunculan hingga jumlah mereka sekitar kurang dari lima puluh ekor. Senjata mereka seperti kapak logam yang dibuat dengan buruk dan kapak batu, beberapa menggenggam pentungan dari batang kayu yang dapat ditemukan di sembarang tempat. Kemunculan mereka yang terus menerus membuat Hassan hanya dapat berdiri dengan keringat dingin mengucur dari dahinya. Jelas-jelas di dalam hati Hassan merasa sangat gelisah dengan kemunculan puluhan monster kambing yang dapat berdiri dengan dua kaki tersebut, dan membuat Hevaz cukup kesal.


“Jika kau adalah wakil Tuan Nio, tunjukkan semua yang kau miliki di pertarungan ini. Mereka hanyalah monster yang dapat terus berkembiang biak, jangan ragu-ragu. Kalau kau menunjukkan sikap seorang pengecut, aku benar-benar akan memenggal mu.”


“Kau mungkin belum tahu, tapi Tuan Nio pernah mengalami hal yang lebih buruk dari sekedari dikepung monster bekepala kambing ini. Jadi, kau lebih beruntung dari Beliau. Jangan berkata seakan-akan kau akan mati di sini! Jangan buat aku menyesal sudah membawamu ke sini!”


Menjadi pelayan pribadi ‘orang yang diramalkan’ membuat Hevaz dengan mudah berbicara bahasa Indonesia dan daerah-daerahnya. Meski Nio jarang berbicara menggunakan bahasa Jawa ketika bertugas, setidaknya dia mendapatkan sedikit ilmu dari salah satu bahasa daerah Indonesia tersebut. Sehingga, ucapannya saat memarahi Hassan sangat lancar tanpa kesalahan sedikit pun.


Hassan menarik pelatuknya tanpa pikir panjang, lalu mengarahkannya ke arah Hevaz. Gadis itu tidak tahu apa yang terjadi dengan Hassan setelah dia mengucapkan hal tadi. Jika pria itu benar-benar menembaknya, itu adalah serangan tak berguna. Peluru 7,62mm yang dapat melesat secepat 900 hingga 1.500 meter per detik hanya membuat Hevaz merasakan seperti tubuhnya tertusuk tusuk gigi.


Tiga proyektil dilepaskan, dan semuanya hampir mengenai rambut keperakan indah milik Hevaz. Gadis itu sama sekali tidak terkejut, dan sangat lega setelah ketiga proyektil menembus kepala seekor monster di belakangnya. Darah mengalir dengan jumlah banyak dari daerah yang terkena lesatan proyektil, dan membuat monster-monster berkepala kambing lainnya berdiri mematung setelah mendengar suara ledakan yang dihasilkan tongkat baja hitam panjang milik Hassan.


“Aku menembaknya dengan tidak terburu-buru. Tenang saja, aku akan membantu mu semampu ku.”


Hevaz tersenyum kecil, lalu membelah tubuh seekor monster berkepala kambing yang melompat di belakangnya sambil mengangkat kapak batunya. Dia memotong, membelah tubuh, dan membuat monster berkepala kambing kehilangan nyawa dengan berbagai keadaan. Organ dan bagian tubuh dari monster-monster tersebut berserakan, dan darah menciptakan genangan berwarna merah agak kental. Dengan mudah, Hevaz telah menyembelih puluhan monster berkepala kambing dalam hitungan menit.


Sayap besar milik gadis itu kemudian keluar, lalu terbang tiga meter di atas mereka. Ketika terbang, Hevaz dapat dengan mudah membelah kepala dan memotong lengan monster berkepala kambing tersebut. Yang dilakukan Hevaz terhadap monster-monster itu adalah pembantaian sepihak, namun Utusan tersebut tidak mempedulikannya. Dia menghabisi setiap musuh tanpa membiarkan mereka meneriakkan penderitaan yang diakibatkannya.


Secara naluriah, monster akan menerjang siapapun yang ada di depan, kecuali rekan mereka sendiri. Tapi, bukan berarti mereka tidak memiliki cara untuk melawan musuh yang dapat terbang di atas mereka. Beberapa monster berkepala kambing melemparkan senjata mereka ke arah Hevaz dengan harapan menjatuhkan gadis itu. Sayangnya, gadis itu dengan mudah menghindari serangan itu dengan manuvernya. Kemudian, dia membelah kepala setiap monster berkepala kambing yang menyerangnya.


Wajah tenang Hevaz ketika membantai satu per satu monster berkepala kambing merupakan hal baru bagi Hassan. Dia merubah mode tembakan ke putaran tunggal, dan melesatkan satu per satu proyektil ke kepala monster berkepala kambing yang berlari ke arahnya sambil mengangkat kapak batu di atas kepala. Dia tidak membiarkan satu ekor pun monster tersebut mendekatinya dalam radius sepuluh meter, dan menembaki semua musuh yang mencoba menyerangnya. Sesekali dia memperhatikan Hevaz yang membunuh setiap monster dengan mudah menggunakan sabit raksasanya.

__ADS_1


“Dia benar-benar cocok dengan Letnan Nio. Aku penasaran, siapa diantara gadis-gadis di dekatnya yang menjadi pilihannya?”


Hassan membayangkan setiap gadis yang dekat dengan Nio dan menebak-nebak siapa yang akan dipilih pemuda itu saat dia menembaki setiap musuh yang akan melemparkan senjata mereka ke arahnya. Dia menembaki setiap musuh sambil tersenyum, yang memperlihatkan ***** membunuh. Namun sebenarnya dia membayangkan komandannya tersebut bersanding dengan salah satu gadis yang dekat dengannya. Ketika magasin pertamanya dalam pertarungan melawan monster berkepala kambing kosong, dengan tenang Hassan memuat magasin baru.


Ransel dengan berat enam kilogram membuat Hassan tidak dapat bergerak dengan leluasa meski dia telah melepas mantelnya. Seragam kamuflase saljunya tidak cocok di medan pertarungan yang berupa hutan dan semak ini. Selain itu, kabut tipis sedikit mengurangi jarak pandangnya dan hanya dapat menembak saat musuh berjarak tujuh meter darinya.


Di sisi lain, seekor monster berkepala kambing melemparkan kapat batunya setelah membidik sasaran yang berupa Hassan yang menembaki temannya. Dia mengeluarkan suara mirip tawa, namun tak lama kemudian berakhir setelah kepalanya terpisah dari tubuhnya. Seseorang yang mengenakan mantel – seperti milik Hassan – adalah orang yang memenggal kepala monster tersebut.


Hevaz dengan tenang menangkis sebuah kapak yang menyasar kepala Hassan, lalu tersenyum bahagia setelah melihat seseorang.


“Akhirnya saya menemukan Anda, Tuan Nio.”


Nio melepaskan mantel dan meletakkannya di tanah bersama ranselnya, kemudian menatap Hassan dan Hevaz dengan tatapan tenang.


**


Manusia sering kali mampu menunjukkan kekuatan yang sebelumnya tidak terpikirkan saat mereka terdesak. Nio berhasil bertahan hingga hari ini dengan menghabiskan tiga magasin dan mematahkan pedang miliknya, sedangkan karambit miliknya masih utuh dan baik-baik saja. Nio hanya memiliki dua magasin, dan dia tidak tahu hingga kapan berada di wilayah musuh. Namun, suara tembakan yang familiar membuat ekspresi Nio berubah menjadi penuh harapan.


Keempat gadis Penjelajah dan Sakuya belum kembali, dan Nio tidak tahu apa yang mereka lakukan hingga melakukan pencarian beberapa barang selama ini. Selain mencari barang berharga yang dapat ditemukan di sekitar bekas sarang monster, Nio berharap mereka menemukan tumbuhan yang dia inginkan. Duri tumbuhan yang sekeras logam sudah Nio rubah hingga berbentuk seperti lajak (penyebutan anak sumpit Dayak Iban), atau anak sumpit.


“Nio, apa ini tumbuhan yang kau perlukan?”


Sakuya datang bersama keempat gadis Penjelajah dengan membawa tumbuhan berbatang lurus seperti bambu. Nio menginginkan tumbuhan yang memiliki ruas tabung seperti bambu dengan diameter kecil, setidaknya sedikit lebih besar dari diameter anak sumpit buatannya. Batang tumbuhan yang ditemukan keempat gadis Penjelajah memiliki panjang enam puluh centimeter, dan itu melebihi ekspetasi Nio.


“Nio, apa yang akan kau lakukan dengan itu?” tanya Nefe setelah melihat Nio memasukkan anak sumpit ke salah satu sisi lubang sumpit.


“Membuat senjata,” jawab Nio singkat, lalu meniup dengan kuat untuk menguji apakah sumpit buatannya berfungsi atau gagal.


Anak sumpit melesat dengan kecepatan tinggi dan menancap pada salah satu batang pohon. Dengan begitu Nio sudah cukup puas dengan senjata buatannya.


“Aku mendengar ada suara tembakan, aku akan ke sana.”


“Kami akan ikut,” ucap Kardas.


“Nio, kau sudah mematahkan pedangmu saat melawan minotaur kemarin, dan kau harus menghemat peluru, kan?” ucapan Sakuya hanya membuat Nio harus memutuskan jawaban dengan cepat.


“Baiklah, kalian boleh ikut.”


**


__ADS_1


(ilustrasi monster berkepala kambing, sumber gambar pinterest)


__ADS_2