
16 November 2321, pukul 13.09 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, siang hari.
**
Pertempuran pertama setelah deklarasi perang yang dilakukan Bogat, tidak bisa disebut dengan pertempuran. Alasan terbesar untuk kekalahan ini adalah kurangnya informasi mengenai musuh mereka.
Itu sebabnya, ibukota Kekaisaran mengalami serangan pada tengah malam. Unit artileri TNI terkenal dengan keterampilan menembak mereka. Unit ini menghujani musuh dengan peluru, yang menyebabkan ledakan besar dan menghancurkan fasilitas penting negara.
Para korban adalah pasukan Kekaisaran, dan beberapa warga sipil mengalami luka ringan.
Serangan itu tidak ditunjukan untuk menguasai ibukota, tetapi hanya untuk memberi peringatan dan mengalihkan perhatian agar Grup Tempur dapat mencari warga Indonesia yang diculik.
**
Si panglima memejamkan mata dan gemetar saat mengingat kejadian itu. Rasa sakit di sekujur tubuh akibat dihajar oleh seorang prajurit dari pasukan hijau, masih pria jangkung ini rasakan. Giginya yang patah, tentu saja tidak bisa tumbuh lagi. Wajahnya kini masih dihiasi dengan bekas lebam berwarna kebiruan.
Ada sebuah menara yang digunakan unit pemanah untuk menghalau pasukan yang akan menuju ibukota. Namun, tida ada satupun pemanah di bangunan ini, dan telah beralih fungsi untuk tempat merawat si panglima. Jadi, hanya ada si panglima dan beberapa pelayan serta 20 prajurit saja yang berada di bangunan ini.
Dari kamarnya yang berada di tempat paling atas bangunan ini, si panglima melihat sisa-sisa pasukan yang pulang dengan tertatih-tatih. Mereka adalah ratusan orang yang berhasil melarikan diri dari pertempuran yang tidak adil itu. Mereka beruntung jika musuh tidak mengejar mereka, itulah mengapa mereka bisa selamat. Dalam kondisi ini, perjalanan pulang akan lebih menyakitkan daripada pertempuran itu sendiri.
Ribuan mayat pasukan yang gugur dikuburkan oleh warga desa di seluruh negeri.
Saat mendengar kabar jika si panglima sudah semakin membaik, Sheyn bergegas menuju menara tempat pria itu sekarang tinggal.
Berita buruk mengenai kekalahan Kekaisaran telah sampai ditelinga si panglima. Beruntung dia tidak memimpin pasukan saat itu. Dan beberapa pesan dari wilayah-wilayah ‘persemakmuran’ Kekaisaran Luan diterima si panglima, seharusnya pesan itu diterima langsung oleh Sheyn.
Kualitas pengobatan dan makanan buruk, namun itu bisa membuat kekuatan pria ini sedikit demi sedikit bertambah.
“Panglima Ragh, saya akan meminta Kekaisaran untuk mengirimkan tabib dan obat-obatan.”
Meskipun Sheyn adalah sang putri Kekaisaran, namun dalam beberapa hal Ragh lebih unggul.
Tapi, Ragh menggelengkan kepalanya.
“Aku menyesal sudah mendukung rencana ayah anda. Selain itu, Kekaisaran sebentar lagi akan terbelah menjadi dua.”
“Kenapa? Apa yang membuat anda berpikir demikian?”
“Beberapa utusan dari wilayah, mereka menyatakan ingin lepas dari kekuasaan Kekaisaran. Saya mendengar anda sangat menentang perang dengan pasukan hijau, dan keputusan itu didukung bangsawan fraksi perdamaian. Dengan kata lain, negeri baru yang akan terbentuk, anda yang akan memimpinnya.”
Sheyn telah mencoba yang terbaik untuk menghentikan perang ini, namun perjanjian perdamaian yang akan terjadi, itu sudah tidak berlaku lagi untuk saat ini. Dia berpikir jika mendirikan kekuatan baru adalah cara terbaik untuk mengubah jalannya perang. Dia juga merasa jika Kekaisaran tidak memahami kekuatan musuh, jika itu terus terjadi negara ini akan runtuh.
Saat pikiran-pikiran itu tertanam di kepalanya, Sheyn menatap lurus ke arah Ragh.
“Kekaisaran sangat kuat, sebelum memutuskan membuka Gerbang dan berperang dengan dunia lain. Apapun untuk menghentikan Kekaisaran, akan saya lakukan.”
Berita tentang pendirian negara baru yang terbentuk dari wilayah-wilayan Kekaisaran yang melepaskan diri, tentu saja pihak pasukan hijau harus mengetahuinya. Karena Tanah Suci tempat Gerbang berada di salah satu wilayah yang akan melepaskan diri.
Ragh tidak ada kata-kata untuk diucapkan, sulit untuk berbicara saat lidahnya terluka cukup parah. Namun, dia sudah menyampaikan berita yang sangat penting kepada Sheyn, lalu dia bisa merasa tenang setelahnya.
“Panglima Ragh, lalu anda akan berada di pihak siapa?”
Kebencian terhadap Bogat dan Kerajaan Hrabro karena menyatakan perang dengan negara misterius sudah memuncak. Karena tidak ada lagi yang akan diperoleh dari Kekaisaran, maka Ragh sudah membuat keputusan yang sangat mantap.
“Tentu saja saya akan memihak negara baru yang akan terbentuk, Ratu ku.”
Sheyn tersenyum kecil setelah Ragh mengatakan hal itu, itu menunjukkan jika rencana mendirikan negara baru memang tidak main-main. Dengan bantuan Ragh, dia yakin jika kekuatan negara baru ini bisa menyaingi kekuatan Kekaisaran.
Matanya menatap keluar jendela ruangan Ragh dirawat, dari sini sebuah Benteng yang mengelilingi Gerbang terlihat sangat kecil, dengan beberapa makhluk besi melayang di atas tempat itu. Hatinya tidak ada keraguan sedikitpun dengan keputusan ini, karena Ragh dan Sheyn sama-sama percaya dengan negara masa depan ini.
**
Apa yang dilakukan TNI di sisi lain Gerbang? Melawan musuh … benar?
Mereka berhenti sejenak untuk berpikir, atau lebih tepatnya dituntun untuk berhenti dan berpikir.
Secara alami orang akan bersimpati dengan yang lemah. Mereka menggunakan simpati ini untuk mempengaruhi orang.
Pesannya adalah bagaimana budaya modern menghancurkan dan mengalahkan yang lemah. Pesan ini terus diulang hingga meninggalkan kesan mendalam pada pendengar mereka.
Pertempuran di dunia di balik Gerbang mendapat perhatian yang lebih, namun mereka tidak bisa menguraikan dalam kata-kata yang benar. Orang-orang hanya diyakinkan jika TNI telah mengalahkan musuh dengan mudah. Karena sedikit atau tidak ada korban di pihak TNI, tentu saja orang-orang akan bertanya-tanya bagaimana nasib pihak yang dilawan.
Adanya korban dalam perang adalah hal yang wajar, jika pihak TNI menang, maka akan ada banyak korban di pihak lawan. Kemarahan warga Indonesia, khususnya Karanganyar saat insiden penyerangan hari ulang tahun kemerdekaan bisa dimengerti. Namun, ada beberapa kelompok yang menginginkan Pasukan Ekspedisi ‘memperlakukan’ musuh dengan belas kasih.
Topik yang jauh lebih penting adalah jumlah korban hilang dan tewas yang ternyata jauh lebih banyak dari perkiraan sebelumnya. Ini mengarah pada kepalsuan jawaban yang diberikan anggota dewan.
Karena beberapa anggota dewan yang akan bertanggung jawab atas jumlah korban dari insiden tersebut dicurigai melakukan korupsi. Sebagai pihak yang bertanggung jawab, tentu saja mereka menyatakan jika jawaban yang diberikan sangat serius.
__ADS_1
Jika pemerintah tidak menyembunyikan apapun, mereka seharusnya tidak menolak memberitahu sebenarnya. Dan anggota dewan terus berusaha melindungi nama baik mereka.
Karena itu, mereka memutuskan untuk memanggil beberapa prajurit TNI di dunia lain dan beberapa perwakilan penduduk setempat untuk menerima panggilan dari pemerintah pusat.
Ini bertepatan dengan keberangkatan perwakilan Kemenhan dan Kemenlu ke dunia lain untuk menemui pihak yang berdamai dengan Indonesia, Kerajaan Arevelk. Mereka juga bertugas untuk melakukan diplomasi dengan pihak yang berperang dengan TNI agar perdamaian tiba lebih cepat.
**
Kadang-kadang saat tidak bertugas, Nio hanya membaca e-book gratis atau web novel. Pertempuran yang akhir-akhir ini sering terjadi membuat prajurit lelah dan membutuhkan hiburan. Meski jaringan internet telah dibangun, namun kejenuhan pasukan sudah mencapai batasnya.
“Komandan, apa kau mendengarkan?”
Itu suara perempuan yang lembut, namun Nio memutuskan untuk menambah volume musik yang ia dengarkan dengan headfree. Pemuda ini sedang istirahat sekarang, dan tidak akan mendengarkan siapapun jika itu tidak ada kaitannya dengan pekerjaan.
“Peltu, apa kamu sedang ngebokep?”
“Hah!? Kamu itu perempuan! Omongan mu harus dijaga…!”
Saat Nio berbalik untuk menjawab perkataan seorang perempuan, Dinda dan Triana. Triana adalah anggota Regu pimpinan Nio yang mekhususkan diri pada posisi tentara medis, dia dulunya adalah mahasiswa keperawatan dan bergabung dengan Tentara Pelajar saat pasukan dunia lain mulai menginjakkan kaki di pulau Jawa.
Nio melihat mereka berdua dengan mata penuh tatapan curiga. Jika Nio harus menggambarkan tatapan mereka dengan kata-kata, mereka mungkin mengatakan, “Dasar tukang bokep.”
Tentu saja hati Nio masih sakit setelah Dinda mengatakan itu padanya, meski dia benar-benar tidak sedang melihat AV. Nio hanya membuka website yang berisi model gravure.
“Ada hal yang perlu kita bicarakan.”
“Eh, aku?”
Nio meletakkan smartphonenya di laci, dan berdiri kemudian berjalan di belakang kedua gadis ini.
“Apa masalahnya?”
“Ini tentang salah satu pengungsi.”
Karena mereka berdua juga bertugas mengurus para pengungsi, jadi mereka sering berkomunikasi dengan para pengungsi. Yang mereka bicarakan adalah salah satu pengungsi yang sering bersama Nio, seorang Demihuman bertelinga kucing, Edera.
Sekelompok psikiater telah didatangkan di dunia ini dengan tujuan memeriksa psikologis para pengungsi yang telah melihat kekejaman pertempuran. Ada beberapa perilaku manusia ras Demihuman yang membuat mereka kebingungan untuk membuat hipotesis. Beberapa perilaku ras Demihuman sangat berbeda dengan manusia biasa.
“Bukankah diantara mereka ada penyihir? Mereka mungkin tahu lebih banyak.”
“Kita sudah berbicara dengan para penyihir, tapi kami tidak mengerti dengan maksud perkataan mereka.”
‘tidak bisa dimengerti’, ‘informasi tidak cukup’ dan ‘tidak meyakinkan’, semua istilah ini hanya diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai ‘tidak tahu’ dan ‘tidak paham’. Mereka perlu menghabiskan banyak waktu untuk belajar bahasa dunia ini.
Beberapa prajurit anggota Regu penjelajah 1 hanyalah sekumpulan orang dengan otak penuh dengan otot dan mengharapkan pertempuran terus terjadi. Mereka bahkan tidak mau repot-repot untuk belajar bahasa setempat, karena pastinya ada beberapa prajurit yang fasih berbahasa dunia ini.
“Menurut saya, salah satu gadis kucing itu terdengar terus memanggil nama mu, Komandan.”
“Ya, aku tahu siapa yang kamu maksud.”
Saat Nio ingin melanjutkan perkataannya, Sersan Dua Liben datang dengan perintah yang dia dapatkan untuk Regu penjelajah 1.
“Komandan, ini saatnya untuk pergi. Dinda, Triana segera bersiap.”
Mereka masuk ke gudang senjata dan meminta amunisi senjata masing-masing.
Para anggota Regu penjelajah 1 menempatkan senapan mereka di gendongan dan mengamankan pedang mereka di punggung rompi mereka. Pisau sudah diasah untuk persiapan pertempuran. Senjata tajam diasah dengan gerinda, tapi bisa cukup tajam untuk menembus tubuh manusia.
Anggota Regu duduk bersama untuk memasukan peluru kedalam magasin. Masing-masing prajurit mendapatkan jatah delapan magasin, dengan 25 peluru pada setiap magasin, itu akan menjadi 200 tembakan. Tentu saja granat juga dibagikan.
Penembak senapan mesin dengan hati-hati menempatkan sabuk amunisi 12,7mm kedalam kotak pelurunya. Beberapa peluncur roket disposable juga dibagikan, masing-masing Regu mendapatkan jatah 5 buah.
Setelah antek-antek Nio menyelesaikan persiapan mereka, seluruh anggota memasang magasin ke senapan mereka dan menyiapkan senapan ke mode aman.
“Kita akan menuju medan perang potensial, jadi semua harap waspada!”
Dengan begitu, mereka meninggalkan benteng dan berangkat ke kamp pengungsian yang mirip dengan perumahan.
Ada ratusan pengungsi dan pembelot di kamp pengungsi sekarang, kebanyakan dari mereka berasal dari kalangan budak dan pencuri. Beberapa tawanan perang yang tidak ingin kembali ke Kekaisaran, juga bergabung bersama para pembelot. Mereka bisa dipekerjakan menjadi mata-mata, karena keahlian mereka pada medan Kekaisaran.
Masing-masing bangunan yang dibangun dari bahan semi permanen bisa menampung sebuah keluarga berjumlah empat orang. Orang-orang yang tinggal bukan keluarga atau kerabat, jadi mereka harus membaur, yang remaja bisa merawat yang tua dan yang lebih kecil.
Tidak ada listrik, gas atau pipa air, tetapi hal-hal seperti itu tidak ada di dunia ini sejak awal, jadi para aktivitas pengungsi tidak terganggu meski tidak ada hal tersebut. Anak-anak bisa mengambil air dengan ember atau botol plastik dari mata air terdekat. Adapun pembuangan kotoran, mereka bisa membuangnya dengan menggali lubang di sudut kamp.
Tentang makan tiga kali sehari, makan siang dan malam disediakan pihak Pasukan Ekspedisi bagian konsumsi. Sedangkan untuk sarapan, mereka bisa memakan makanan sisa semalam yang masih bisa dimakan, atau memasak bahan makanan yang disediakan Pasukan Ekspedisi. Makanan yang disediakan lebih dari cukup, jadi para pengungsi tidak perlu mencari tumbuhan liar untuk dimakan.
Untuk makan malam, anggota kelompok Nio yang dulunya siswa SMK jurusan tata boga maupun mahasiswa ilmu gizi yang bertugas menyiapkan bersama anggota tim yang lainnya, beberapa anak-anak terlihat mengobrol dengan tentara yang memasak untuk mereka.
__ADS_1
Pasukan Ekspedisi ingin mendukung mereka untuk menyediakan makanan bagi kelompok mereka sendiri, itulah mengapa untuk beberapa waktu mereka tidak memasak bagi para pengungsi. Itulah prinsip pasukan perdamaian ketika mereka ditempatkan di Timur Tengah.
Jika para pengungsi bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri secara memadai, selanjutnya mereka bisa menyediakan makanan untuk diri mereka sendiri. Jika mereka mendapatkan pekerjaan, mereka mungkin bisa mampu membayar untuk makanan mereka.
Itu rencananya, namun Pasukan Ekspedisi tidak akan mendorong mereka terlalu keras. Bagaimanapun, pengungsi berasal dari berbagai kalangan, dan tidak mungkin mereka akan bekerja seperti pekerjaan mereka sebelumnya.
**
“Ratu Sigiz, aku tidak tahu kau juga ada disini.”
Sigiz secara pribadi ingin menemui para pengungsi yang berasal pinggiran ibukota Kekaisaran, dan ingin melihat bagaimana kondisi warga Kekaisaran yang tinggal di pinggiran. Dia merasa sedih dengan kondisi para wanita yang harus melakukan pekerjaan kotor demi makanan dan uang, dia juga merasa geram dengan pemerintahan Kaisar yang bernama Bogat itu yang sepertinya tidak terlalu memperhatikan keadaan rakyatnya.
Saat penyerangan ibukota, Grup tempur 1, 2 dan 3 tidak berhasil menemukan sang Kaisar dan bangsawan anggota fraksi militer. Setidaknya sejak penyerang itu, perang belum terjadi lagi dan para prajurit bisa meningkatkan kemampuan tempur mereka sebelum perang terjadi lagi.
Ketika Nio dan Sigiz berjalan-jalan di kamp pengungsian, anak-anak berlari untuk menggoda mereka berdua. Tentu saja Nio tidak terpengaruh dengan godaan para anak-anak dan tetap memasang ekspresi datar, namun Sigiz berperilaku sebaliknya.
Rasanya sudah cukup lama Sigiz tidak melihat Nio, dan dia mencari berbagai alasan untuk melewati perbatasan agar bisa mencapai markas Pasukan Ekspedisi. Pada akhirnya Kerajaan Arevelk mendengar jika ada banyak warga Kekaisaran yang membelot ke pasukan hijau, dan Sigiz memanfaatkan hal itu sebagai alasannya untuk menuju Tanah Suci.
Para anggota menurunkan air minum, bahan makanan, persediaan medis, ransum dan persediaan sehari-hari. Beberapa anggota laki-laki terlihat ‘iri’ dengan Nio yang bisa berjalan-jalan dengan seorang ratu cantik. Sementara para anggota perempuan, mereka menginginkan kecantikan dan ukuran dada setara dengan milik Sigiz.
Para pria dan anak laki-laki yang membawa barang bawaan kembali ke kamp pengungsian. Ratusan bangkai naga dan wyvern berserakan di Tanah Suci, beberapa pengungsi mengatakan jika cakar dan kulit mereka jika dijual akan berharga sangat mahal.
TNI tidak membutuhkan material semacam kulit naga yang keras, jadi para pengungsi terkejut atas peryataan itu. Lagipula, di dunia asal TNI, ada sangat banyak jenis logam yang jauh lebih kuat dari sisik dan kulit naga.
“Ada apa Edera?”
Mereka berdua berpapasan dengan Edera yang selesai membantu para wanita menyiapkan bahan makan malam. Mata sayu Edera membuat ekspresi gadis ini terkesan ‘kasihan’, namun itu ekspresi khas gadis ini sejak lahir.
“Ratu, apa di negeri anda para ras setengah bintang diperlakukan dengan baik? Dan mereka tidak dijadikan budak seperti saya?”
Hati Sigiz seketika terasa tertusuk panah dan begitu menyesakkan. Beberapa pengungsi dari ras Demihuman terlihat baik-baik saja, meski sebelumnya kehidupan mereka begitu menyedihkan. Dan mereka merasakan penyiksaan ini sejak berdirinya Kekaisaran Luan 700 tahun yang lalu, beberapa suku Demihuman dikatakan punah karena invasi yang dilakukan pasukan Kekaisaran untuk memperluas wilayah.
Sejarah seperti itu juga terjadi di dunia asal, seperti kasus dimana penduduk asli Australia dan Tasmania dibantai dan dihancurkan oleh koloni Inggris di sana.
Atau mungkin Kekaisaran bersikap sama seperti orang-orang Spanyol menghancurkan suku Inca.
Atau seperti peradaban Kartago, dihancurkan oleh bangsa Romawi.
Untuk menunjukkan kekuatan mereka, Kekaisaran melakukan hal seperti pembersihan etnis dengan korban suku ras Demihuman.
Tatapan anak-anak pengungsi hampir sama dengan gambaran anak-anak Afrika yang kelaparan di padang pasir.
**
“Edera, apa kau senang hidup disini?”
Nio mengajak Edera untuk duduk di kursi panjang yang disediakan agar para pengungsi bisa bersantai sambil melihat pemandangan Gerbang yang dikelilingi benteng kura-kura. Meski saat mereka bersantai, Grup Tempur sering mengganggu mereka dengan melintas dengan tank-tank dan jet tempur yang menyebabkan suara keras.
Semua itu membuat para pengungsi merasa diintimidasi, dan masih diperlakukan seperti orang Kekaisaran. Beberapa orang hanya menganggap Grup Tempur yang sedang berlatih bagian dari tugas mereka untuk melindungi para pengungsi.
“Aku tidak paham dengan pertanyaan mu, Tuan Nio. Aku disini mendapatkan perlakuan yang layak, makanan dan tempat tinggal yang layak, dan bertemu prajurit baik seperti mu. Prajurit Kekaisaran sering memungut pajak pada kami, para budak. Uang yang kami miliki sangat sedikit, dan mereka mengambil semuanya hanya karena kami setengah binatang.”
Menyedihkan, dan membuat orang-orang tidak bisa menjawab ungkapan dari gadis ini. Edera mengatakan sebuah realitas yang tidak dilihat Nio, namun bisa pemuda ini rasakan dan bayangkan. Yang dilakukan Kekaisaran terhadap orang-orang ras Demihuman seperti ingin membuat mereka punah secara perlahan-lahan.
Mencoba melarikan diri ke Kerajaan Arevelk yang menghargai ras Demihuman, adalah sebuah kejahatan menurut para orang-orang yang memiliki budak dari ras setengah hewan. Pemilik budak diijinkan untuk membunuh mereka jika tidak mematuhi perintah, itu adalah hukum tertulis dan sangat membuat ras Demihuman menderita. Untuk beberapa hal, seperti situasi perang, ada banyak budak pria yang dipaksa untuk bertempur.
Jika di Kerajaan Arevelk masih banyak suku-suku Demihuman yang tersebar, bahkan di negara ini ada beberapa bangsawan dari kalangan Demihuman. Namun di Kekaisaran, mereka diperlakukan seperti kelompok buangan.
“Tuan Nio, apa di dunia mu ada ras seperti ku?”
“Tidak ada, manusia yang hidup di dunia asal ku semuanya manusia biasa. Ras Demihuman adalah fantasi para penulis di dunia ku. Tapi sekarang, di depanku ada salah satu dari fantasi itu. Sejujurnya, ras seperti mu itu sangat menakjubkan.”
“Itu mengapa ada banyak orang-orang berjubah putih? Para perempuan yang berasal dari bagian mereka memerintahkan kami untuk membuka baju!”
“Itu hanyalah bagian dari pemeriksaan, mereka tidak akan berbuat jahat kepada kalian.”
Nio dan Edera berbincang-bincang banyak hal hingga waktu makan malam sudah tiba, dan Nio diajak untuk makan bersama para pengungsi. Di sekitar kamp pengungsi, Nio tidak melihat anggota Regunya. Itu berarti mereka sudah kembali ke barak dan melakukan tugas malam.
Saat berjalan menuju tempat para pengungsi sering makan bersama, Sigiz terlihat berjalan dengan terburu-buru dengan menggenggam sebuah kertas di tangannya.
“Tuan Nio, sepertinya akan ada negara baru.”
“Heh? Apa maksudmu?”
Untuk menanggapi hal itu, mungkin munculnya negara baru yang melepaskan diri dari Kekaisaran adalah hal baik, karena pastinya negara itu akan lemah karena kehilangan sebagian kekuatannya. Ditambah, salah satu anggota keluarga Kaisar yang akan memimpin negara baru itu, pastinya Kekaisaran akan semakin lemah.
Sheyn adalah komandan dari pasukan terkuat Kekaisaran, Barisan para Mawar. Itu artinya, mau tidak mau kelompok itu harus bergabung dengan negara baru yang akan berdiri tersebut.
__ADS_1
“Kalau begitu, bagaimana kelanjutan perang ini?”