Prajurit SMA

Prajurit SMA
124. Pelarian 1


__ADS_3

Hari ini adalah peringatan 2 bulan gugurnya Sersan Mayor Tentara Pelajar.Inf. Anumerta Chandra, dan hanya Regu penjelajah 1 yang melakukan peringatan ini. Tidak ada Regu yang melakukan peringatan kematian ini, sebagian besar Regu penjelajah telah dikerahkan ke perbatasan Negara Yekirnovo dan Kekaisaran Luan, setelah kedua pasukan menyetujui perjanjian penjagaan perbatasan. Karena Gerbang berada di dalam wilayah negara muda ini, tepatnya wilayah Tanah Suci, maka kedua negara menyepakati perjanjian militer ini. Dengan kata lain, kedua pasukan sama-sama diuntungkan berkat perjanjian ini, yakni sama-sama mendapatkan keamanan.


Peringatan kematian ini berlangsung sangat sederhana, yakni dengan berdoa bersama yang dilakukan Regu penjelajah 1.


Dengan terbentuknya Negara Yekirnovo, pastinya Kekaisaran Luan tidak akan melepaskan wilayah penting ini begitu saja. Tidak pasti waktunya, tetapi mereka pasti akan melakukan pertempuran dengan Pasukan Aliansi yang terbentuk, bersama salah satu negara tetangga.


Chandra yang mendapatkan Kenaikan Pangkat Luar Biasa karena dia bersama anggota unit berhasil menyelamatkan wanita informan yang memiliki informasi sangat penting, terutama bagi jalannya perang. Selain pemuda itu, seluruh anggota Regu kecuali Nio mendapatkan penghargaan dan pujian dari Presiden karena menyelamatkan informan dan informasi penting yang dia bawa.


Ya, informasi itu berisi tentang Kaisar yang telah kembali dari keliling dunia untuk mencari bantuan perang, dan membawa pasukan yang sangat besar yang berada di utara Kekaisaran. Selain itu, sang informan juga mendengar dari percakapan para bangsawan militer mengenai rencana Pasukan Aliansi untuk memanggil Pahlawan.


Indonesia, khususnya TNI memang tidak mengerti mengenai Pahlawan yang akan dipanggil Pasukan Aliansi. Tetapi, bagi negara sekutu, yakni Kerajaan Arevelk dan Negara Yekirnovo dan negara-negara lain di Benua Andzrev, Pahlawan adalah sekelompok manusia dari ‘dunia lain’ yang mendapatkan sedikit kekuatan dewa. Namun, ‘sedikit’ kekuatan tersebut mampu untuk menghapus sebuah benua dari dunia. Itu sebabnya setelah mendengar kabar mengenai hal ini, negara sekutu seketika berusaha memperkuat pasukan dan menyusun rencana bersama Pasukan Ekspedisi.


Mau percaya maupun tidak percaya dengan sosok yang disebut Pahlawan ini, Pasukan Ekspedisi juga berusaha menyusun rencana mengenai perang yang kemungkinan besar semakin ‘parah’. Memang, AL telah mengirimkan 2.000 tentara mereka, serta beberapa alutsista laut, salah satunya sebuah kapal kelas penghancur dan puluhan kapal perang sedang lainnya. Namun, tetap saja pasukan ini belum mengetahui kekuatan sebenarnya Pasukan Aliansi.


Pengiriman puluhan kapal perang memang terasa berlebihan menurut beberapa kelompok rakyat, dan terlalu beresiko jika perang terjadi semakin besar. Jika musuh berhasil merusak, bahkan menenggelamkan salah satu kapal perang, maka TNI dan negara akan mengalami kerugian cukup besar.


Namun, Presiden Suroso berkata, “Alutsista ini dibeli menggunakan pajak yang didapatkan dari rakyat, dan rakyat ingin mereka aman dari ancaman pasukan dunia lain yang barbar. Jadi, sudah sepatutnya Pasukan Ekspedisi mendapatkan persenjataan tambahan untuk menjaga rakyat. Karena ini adalah pemberian sekaligus amanat dari rakyat.”


Tetapi, beberapa golongan rakyat sedikit tidak setuju dengan pengiriman puluhan kapal perang ke dunia lain. Meski militer tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk membongkar, mengangkut, dan merakit kapal-kapal ini bila sudah tiba di tujuan, dan kapal perang di Indonesia masih terdapat ratusan unit, beberapa kelompok masyarakat merasa jika mengirimkan enam kapal perang sudah lebih dari cukup.


Beberapa golongan pemuda berkata, “Daripada untuk membeli persenjataan yang sudah berjumlah sangat banyak, mending uangnya beli ind*mie buat stok tujuh turunan.”


Yassalam.


**


Lalu, pada pagi hari ini pukul 10.12 , Nio kembali memimpin Regu penjelajah 1 untuk menjalankan misi ke salah satu kota Kekaisaran Luan. Misi ini hampir sama dengan yang dilakukan saat Nio tidak berada di unit ini, yakni melakukan pengintaian dan penyusupan di kota tujuan, meski jika dalam keadaan terdesak mereka diijinkan melakukan pertempuran.


Berkat perjuangan Regu penjelajah 1 yang saat itu tidak dipimpin oleh Nio dan sedikit bantuan dari Grup Tempur 5 dan 6, salah satu kota penting berhasil dikuasai meski harus mengorbankan satu prajurit.


Perkiraan perjalanan memakan waktu satu hari berkendara tanpa henti.


**


Kota ini merupakan salah satu kota perdagangan penting Kekaisaran, yang diapit jalur perdagangan strategis Benua Andzrev. Kota ini bernama Aibu, dan merupakan sasaran pengintaian dan penyusupan Regu penjelajah 1.


Wilayah ini dipasrahkan oleh Kaisar pengganti yang sudah kembali ke posisi awalnya, yakni Maslac. Dia kembali menjalani posisi sebagai panglima Kekaisaran, dan mengatur kota ini sejak ayah dan ibunya yang meninggal secara mendadak.


Saat ini, ada 5.000 tentara Kekaisaran sedang menjaga kota ini, dan mengelilingi tembok setinggi 4 meter yang melindungi kota ini. Melindungi sebuah wilayah dengan tembok pada dunia ini hampir sama kuatnya dengan menggunakan turret yang mengelilingi benteng di Tanah Suci. Alasan resmi pasukan sebesar ini ditempatkan di Kota Aibu untuk menjaga keamanan kota atas permintaan Maslac.


Itu seolah-olah Kekaisaran memiliki pendapat lain mengenai perang ini sejak mendapatkan bantuan perang yang sangat besar.


Kekaisaran memerintahkan Kota Aibu membangun pangkalan militer baru dengan imbalan dukungan dana Maslac. Sejak maslac mendapatkan bantuan ini, pangkalan militer Kekaisaran dibangun dengan cepat dengan memperluas area di dekat gerbang tembok utara Aibu.


Alasan Maslac berada di tengah-tengah pekerja ‘paksa’ adalah mengawasi pembangunan pangkalan militer dan menjaga kota dari tentara dunia lain yang berhasil menguasai kota yang berada di dekat kota Aibu.


“Tapi, mengapa Kaisar mencoba membangun pangkalan baru saat ini? Memang keamanan kota sedang terancam sejak kota sebelah dikuasai tentara hijau. Tapi, bukankah kita bisa mendapatkan pasukan yang besar setelah Pasukan Aliansi mendarat di Kekaisaran?”


Jawaban dari gumaman Maslac terletak pada pasukan manusia dan pasukan monster yang dikalahkan di kota sebelah. Kekalahan itu membuat para perwira ragu untuk menempatkan Pasukan Aliansi yang belum mengetahui kekuatan sebenarnya dari pasukan hijau.


Selain itu, kemungkinan jika pasukan hijau akan menyerang Kota Aibu sangat besar.


Lalu, Zelev mendatangi tuannya yang sedang mengawasi budak Demihuman yang sedang membangun pangkalan militer baru. Dia mendarat dengan perlahan setelah terbang secepat yang dia bisa. Karena dia setengah naga, Zelev bisa dengan mudah terbang seperti jenis reptil tersebut.


“Tuan, silahkan pergi ke gerbang utama!”


“Ada apa!? Serangan musuh!?”


“Sebelumnya saya mohon maaf, tapi mereka hampir sama dengan pasukan hijau yang menyerang kota sebelah!”


Maslac melaju dengan kudanya, dan bergegas mengikuti Zelev yang terbang di atasnya. Mereka berdua menuju menara gerbang utama. Dari sini, dia melihat sekelompok gerobak besi dan kelompok kecil pasukan hijau mendekat.

__ADS_1


“Kereta itu sangat aneh,” Maslac dan sebagian besar pasukan Kekaisaran yang belum mengetahui tentang kendaraan bertenaga bensin dan listrik, berhak menyebutnya dengan ‘kendaraan aneh’.


“Tuan, sepertinya mereka memang pasukan hijau.”


“Memang, ini pertama kalinya aku melihat mereka dengan mata kepalaku sendiri. Mereka sangat mirip dengan karakteristik kesaksian yang aku dengar dari para bawahan ku. Tidak diragukan lagi, mereka tentara hijau.”


Yang dilihat Maslac sekarang adalah bagian kecil dari pasukan yang mengalahkan gerilyawan dan ribuan monster di kota sebelah. Musuh perkasa yang menghancurkan monster-monster ganas dalam waktu sehari, sekarang ada di depan mata.


Maslac kemudian memerintahkan Zelev untuk menemui bawahannya yang sedang mengatur dan memperkuat pasukan.


**


Sebuah rombongan kendaraan lapis baja melaju dengan kecepatan sedang, disaksikan oleh penjaga tangguh Kekaisaran. Tanah tak beraspal, tepatnya jalanan yang berupa tanah yang dipadatkan menciptakan badai debu mini yang menutupi rombongan ini.


Dalam rombongan, salah satu kendaraan ditumpangi beberapa pengungsi yang menguasai sihir. Mereka berusaha melemaskan tubuh setelah seharian duduk di kursi lembut kendaraan tempur ini.


Pasukan Ekspedisi ingin melihat sihir yang biasa di lepaskan saat berperang. Sebagian pengungsi adalah penyihir militer yang membelot, dan mendapatkan panggilan dari Maslac yang memohon kepada penyihir militer yang membelot agar kembali ke Kekaisaran.


“Kita berhenti di sini…!”


Setelah berkata seperti itu, Nio kemudian memerintahkan beberapa bawahannya untuk mencari tempat yang aman dan cocok untuk mendirikan kemah. Perlindungan terhadap pengungsi adalah prioritas meski bukan tugas utama.


**


Seperti sudah sangat lama tidak bertugas, Nio nampak sangat bertenaga saat membantu bawahannya mendirikan tenda di tengah hutan kecil.


Namun, Nio dan anggotanya melihat jika 12 penyihir yang mereka bawa menunjukkan perilaku aneh, namun tidak memperlihatkan ancaman.


Nio mendekati seorang perempuan penyihir militer yang terlihat cemas sambil memegang sebuah kertas yang terbuat dari kulit pohon.


Perempuan itu mengenal Edera, dan mengatakan semua yang dia tahu mengenai gadis kucing kepada Nio. Meski itu hanya basa-basi, Nio tetap sabar mendengar setiap kata yang perempuan itu katakan mengenai Edera yang telah menyakiti Nio.


Lalu, perempuan itu mulai menceritakan tujuan militer Kekaisaran sebenarnya, sebelum menggalang bantuan dari negara tetangga.


Nio mengatakan hal itu dengan nada cukup keras, lalu anggotanya memerintahkan Nio untuk tetap tenang karena musuh mungkin bisa menemukan mereka karena ucapan Nio yang terlalu keras.


Ya, strategi bumihangus adalah hal yang ditakuti tidak rakyat negara manapun dia dunia ini, dimana tingkatan kerusakan yang dihasilkan sama tingkatannya dengan kejahatan genosida.


“Aku belum melapor ke markas pusat. Liben, apa kau sudah terhubung ke markas?”


“Maaf, aku sudah mencoba berkali-kali, tapi aku belum bisa berkomunikasi sejak beberapa waktu lalu.”


Liben dan anggota bagian komunikasi terlihat dalam masalah, Nio juga mencoba menyalakan radionya,tetapi sinyal yang terlalu buruk membuat suara yang tidak jelas.


“Mungkin sinyal tidak sampai ke tempat ini. Aku mau pergi ke tempat yang sinyalnya bagus.”


“Komandan, kau mungkin akan diserang musuh.”


Kata-kata Fariz ada benarnya juga. Lalu, setelah beberapa saat kemudian, terlihat helm pasukan Kekaisaran melintasi semak-semak. Seluruh orang berusaha bersembunyi dan tidak berbicara sepelan mungkin.


“Jika ada bahaya, aku akan kabur dan bersembunyi.”


“Memangnya kau mau kemana?”


“Menyusup ke dalam kota.”


Lalu, anggota Regu mengangguk, “Oke.”


“Terutama para penyihir, aku mengandalkan pendengaran dan penglihatan kalian yang tajam untuk mendengar pergerakan musuh.”


Para penyihir mengangguk, dan merasa bangga bisa mendapatkan tugas penting ini.

__ADS_1


“Oke, ayo pergi.”


Nio mengambil langkah panjang setelah mengatakan itu. Dia dan anggotanya kabur sambil bersembunyi dalam gelapnya malam agar tidak ditemukan musuh.


Hingga akhirnya mereka tiba di dalam kota.


Beberapa tentara melewatkan penjagaan di tempat-tempat tidak penting, seperti gang tempat rombongan ‘penyusup’ ini berada. Saat berita kedatangan mereka diketahui, kota ini diperlakukan jam malam, dan para tentara menghukum tanpa ampun para pelanggar.


Salah satu prajurit menoleh ke arah gang, kemudian berkata yang membuat rekannya berhenti juga, “Bukannya itu penduduk pinggiran ibukota? Ada beberapa orang aneh lainnya juga…”


Total ada sepuluh tentara musuh yang berjalan sambil mencabut pedang mereka dari sarungnya. Liben kemudian berkata dengan cukup keras ke salah satu penyihir.


“Bukankah kalian punya pendengaran yang sangat tajam?”


Nio yang terkejut langsung memasukkan kepalan tangannya ke dalam mulut Liben, “Apa kau sudah gila berkata sekeras itu?”


“Kalian berhenti…!!!” beberapa prajuit musuh berteriak, prajurit yang lain nampak mengambil sesuatu dari saku, yakni peluit yang terbuat dari tulang binatang.


Suara bergema yang dihasilkan peluit tersebut menggema, dan sejumlah prajurit berlari ke sumber suara.


“Bahaya, kabur!”


Nio dan yang lainnya berlari dari gang ini.


Sebuah firasat tak menyenangkan terlintas di pikiran Nio. Jika mereka tidak bisa melarikan diri dari kejaran musuh dari segala arah, berarti mereka jatuh ke perangkap yang mereka buat sendiri.


Memikirkan hal buruk itu, Nio berbalik dan bergegas ke gang tempat prajurit Kekaisaran tadi berada. Lawan yang terkejut dengan situasi tak terduga karena keberadaan Nio memegang senjata dengan tergesa-gesa.


“Apa kamu mau menyerahkan di---…”


Sebelum prajurit musuh selesai berkata, Nio tanpa ampun menembakkan peluru di dalam magasin senapan serbu nya. Suara yang sangat keras menggema, itu karena Nio lupa memasang peredam suara. Lalu, prajurit musuh jatuh ke tanah dengan darah yang menggenang.


Kekuatan peluru 7,62 sangat luar biasa jika diadu dengan zirah logam berat tentara musuh. Hanya masalah magasin cadangan yang terbatas, dan kapasitas yang terbatas juga.


Musuh yang datang semakin banyak setelah mendengar suara tembakan yang sangat keras. Mereka menyusun barisan dengan rapat, dan terdapat puluhan pemanah yang mengepung Regu penjelajah 1 dari atas bangunan, “Apa mereka ninja?”


“Oke, ini menjadi masalah serius.”


Nio bergumam, dan berharap bisa melarikan diri. Lalu terdengar derap langkah kaki yang dilindungi sepatu bot militer.


“Komandan, kami datang!”


Dinda berteriak dibelakang Nio, pemuda itu merasa lega saat anggota dan penyihir yang berlari di belakang Dinda dalam keadaan selamat setelah dia tinggal.


Anggota laki-laki telah menggulung lengan seragam mereka agar tidak menghambat pergerakan. Tapi, puluhan anak panah melesat dengan kecepatan 100 meter per jam, dan menancap ke lengan kiri salah satu anggota.


“Liben, bertahan!”


Hati Nio melonjak karena teriakan anggotanya, dan dia melihat anak panah menancap di lengan kiri Liben. Wajah Nio seketika pucat dan tubuhnya gemetar.


“Sial! Mereka menembak dari segala arah!”


Busur dan anak panah memang tidak sekuat pistol, tapi bisa menyerang dari atas dengan lintasan melengkung seperti parabola. Tentara musuh menggunakan senjata ini, dan menembakkan anak panah dari atap bangunan yang aman.


Lalu, hujan puluhan panah yang kedua.


Bagian wajah yang tidak terlindungi apapun adalah daerah rawan dan fital, memang helm yang melindungi kepala bisa menahan laju peluru yang ditembakkan dari jarak 400 meter. Namun, wajah yang tidak terlindungi apapun menjadi area rawan.


Nio tengkurap di tanah, dan helmnya beberapa kali dihantam dengan anak panah. Untuk sesaat, Nio merasa jika hujan panah berlangsung lama. Lalu, saat membuka matanya, dia melihat dua anggota dan dua penyihir tergeletak di tanah.


“Sari! Tomi!”

__ADS_1


Liben yang terluka berteriak, tapi anggota dan penyihir yang terkena panah di wajah tidak bergerak.


__ADS_2