Prajurit SMA

Prajurit SMA
Jenderal Tamu


__ADS_3


Ijinkan aku mempromosikan cerita baruku. Aku sama sekali tidak memaksa para pembaca setia Prajurit SMA untuk membaca cerita baru ini. Tapi aku berharap kalian setidaknya memberikan like pada cerita baru itu. Terimakasih dan maaf sudah menganggu kalian karena promosi ini.


**


Satu hari setelah pertempuran di salah bukit di dekat Kota Tohora dan beberapa jam setela kepulangan Batalyon Infanteri Ke-1 Pasukan Perdamaian, markas pusat pasukan Pembasmi Pemberontak.


Karena berada di dataran tinggi, udara di Kota Tohora cenderung sejuk dan agak dingin. Kota ini berada di salah satu kaki pegunungan yang memiliki titik tertinggi diperkirakan mencapai 11 kilometer diatas permukaan laut. Itu kenapa Nio menganggap kota ini memiliki benteng alami yang berbahaya, karena medan untuk mencapai tempat ini tidak mudah. Bahkan, Batalyon Infanteri kemarin harus dipindahkan oleh Gerbang tak sempurna demi menghindari keterlambatan dan korban jiwa di pihak Arevelk dan Yekirnovo.


Berada di ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut, menyebabkan mulut Nio mengeluarkan asap ketika dia menguap sambil berjalan ke tempat pertemuan. Puluhan penerangan yang berupa obor dan ratusan lilin dapat berfungsi sekaligus sebagai penghangat yang diperlukan bagi orang yang tinggal di iklim tropis dan tidak terbiasa dengan udara dingin, seperti Nio.


“Selamat datang di Kota Tohora, saya harap Anda dapat terbiasa di kota dingin ini. Kami senang dengan bantuan Anda, Jenderal Tamu Nio Candranala.”


“Ya, saya juga senang dapat berjuang bersama Anda, Tuan Soh.”


Ada sesuatu yang membuat Nio – satu-satunya tentara Pasukan Perdamaian yang menjadi bantuan dan bukannya pasukan sebesar satu kompi atau bahkan batalyon – merasa aneh. Para komandan pasukan Arevelk dan bantuan dari Yekirnovo di ruangan itu berekspresi dengan serius ketika menyambut Jenderal Tamu. Sebagai komandan pasukan Arevelk di kota ini, Soh merasa harus sering berbicara empat mata bersama Nio agar cepat akrab, seperti atasannya yang tampak sangat dekat dengan Nio, Luhe (Lux).


Gadis itu berdiri dari kursinya, lalu berjalan ke arah Nio yang masih berbincang-bincang sesuatu bersama Soh di depan pintu. Sebagian komandan sudah tahu jika tidak aman jika seorang pria berada di dekat ‘Si Pedang Gila’, seperti peristiwa lima tahun lalu ketika Lux masih seorang siswa di akademi militer. Komandan-komandan yang menjadi bawahan Lux hanya bisa berharap jika Nio tidak terluka jika bekerjasama dalam suatu pertarungan bersama Lux.


Di sisi lain, Lux tetap seorang komandan yang sangat diperlukan Arevelk, meski sebagian komandan bawahan agak tidak menyukainya. Alasan sebagian para komandan tidak meyukai Lux sudah jelas, karena gadis itu sangat sering mendampingi sang ratu setelah lahirnya Persekutuan bahkan hingga menginjakkan kaki ke ‘dunia lain’. Terlebih lagi wajah dinginnya ketika berbicara kepada mereka tidak ditunjukkan saat dia berbicara dengan Jenderal Tamu itu.


Namun, beberapa komandan lain juga menyesali bantuan yang mereka terima hanya seorang tentara saja, yang pastinya tidak akan merubah alur perang secara drastis.


“Sepertinya kau menambah bekas luka lagi ya, Nio?” ucap Lux sambil menunjuk bekas luka yang di dahi yang memanjang hingga ke alisnya.


Berbicara mengenai bekas luka, Nio merasakan sesuatu saat dirinya tidak sengaja melihat bekas luka mengerikan di punggung Luhe (Lux). Meski dia berhasil menyembunyikan fakta jika dirinya juga memiliki bekas luka dipunggung, jujur saja Nio menganggap bekas luka itu tidak sebanding dengan milik Luhe yang seperti luka yang disengaja.


“Ini bukan apa-apa, hanya luka yang bisa sembuh kalau dikasih ludah.”


“Sekarang, ayo kita berbicara bersama para komandan mengenai pekerjaan ini, Operasi Pembasmian Pemberontak.”


“Baiklah, aku akan melakukan semua yang aku bisa, meskipun mungkin tidak banyak.”


Nio yang sebelumnya percaya diri dapat membantu banyak untuk pasukan yang bertugas akan menangani pemberontak, namun dengan tiba-tiba kepercayaan diri itu berubah menjadi kegelisahan dan gugup yang besar. Saat melihat tatapan para komandan yang sepertinya berbicara di dalam hati mengnai dirinya, Nio menggenggam kedua tangan untuk menekan rasa gugupnya.


“Yah, kau harus merasa yakin bisa membantu kami, karena cara berperang kami yang berbeda dengan dunia mu. Aku tahu kau ke sini atas keinginanmu sendiri adalah langkah yang tepat.”


Hubungan antara prajurit terkenal ini dalam kerjasama dalam pasukan spesial untuk membasmi pemberontak memang sesuatu. Entah itu hubungan dalam bentuk apapun, yang dapat para komandan andalkan adalah 15.000 pasukan yang dipimpin Donem dan 200 tentara berkuda dan 1.800 infanteri yang dipimpin Lux dan 200 ksatria elit Kerajaan Yekirnovo, dan satu tentara Indonesia. Mereka harus yakin setelah kepulangan batalyon infanteri Pasukan Perdamaian, Pasukan Pembasmi Pemberontak dapat menekan kelompok yang berpotensi membahayakan Kerajaan dan Persekutuan.


Nio dan Lux duduk bersebelahan, dengan gadis itu yang tampak selalu tersenyum sejak kedatangan Jenderal Tamu itu di sini. Senyuman Lux adalah pemandangan yang langka, sehingga hampir seluruh komandan yang seluruhnya berjumlah 15 orang merasakan sesuatu.


“Apa akan ada hal buruk yang akan menimpa kami?”

__ADS_1


“Kenapa dia tersenyum sendiri tanpa penyebab, apa dia benar-benar sudah gila?”


Beberapa komandan mungkin mengatakan hal sejenis itu di dalam hati, dan merasa akan terjadi suatu peristiwa setelah Lux tersenyum.


“Kami ingin kamu mengatakan rencanamu di sini juga. Sebelumnya, apa kau memiliki pengalaman bertempur di medan terbuka seperti kami?” tanya Donem.


“Penyerang besar pertama Aliansi terhadap TNI membuat saya menambah sedikit pengalaman tentang pertarungan terbuka dan jarak dekat. Saya juga lebih suka bertarung menggunakan senjata pertempuran jarak dekat, meski saya tetap membutuhkan senapan.”


“Apa kau takut ketika bertarung melawan tentara Aliansi?” pertanyaan yang dilontarkan salah satu komandan disertai dengan wajah dan nada mengejek yang terselubung.


“Sama sekali tidak, TNI tidak memiliki rasa takut terhadap apapun, kecuali Tuhan dan pengkhianatan kawan. Lebih tepatnya, pengkhianatan adalah hal yang tidak bisa dimaafkan dan akan mengotori nama baik TNI, sehingga itu adalah salah satu hal yang kami takuti. Musuh yang memiliki jumlah besar bukanlah masalah, karena kami hanya perlu maju untuk menghadapi mereka. Mengenai kalah atau menang, kami akan menyerahkannya pada Tuhan.”


Nio menyadari jika ada beberapa komandan yang meragukan bahwa dirinya merupakan salah satu tentara yang berhasil dari medan perang maut lebih dari satu tahun lalu. Dia menjawab pertanyaan dengan jawaban seperti itu dengan harapan dapat membuat komandan yang memberikan pertanyaan padanya dapat diam. Dan itu berhasil, serta mampu membuat komandan itu menunduk dengan keringat dingin muncul di dahinya.


“Jadi, lebih kurang seperti yang kurasakan… kau setidaknya mengerti cara bertempur di medan terbuka secara teori, kan?” Donem bertanya sekali lagi.


“Ya, Pak Donem. Saya belajar strategi tempur seperti yang kalian gunakan, ada banyak buku yang berisi tentang strategi pertempuran konvensional hingga menghadapi perang nuklir.”


“Apa itu perang nuklir?”


Yang bertanya bukanlah Donem, tetapi Lux dan gadis itu tampak sangat penasaran dengan ‘perang nuklir’ yang Nio katakan.


“Ya… yah, intinya perang nuklir adalah hal yang tidak kaian harapkan kehadirannya. Itu adalah perang yang sangat mematikan, dan menghasilkan korban jiwa sangat banyak dalam hitungan jam. Tenang saja, perang itu tidak ada hubungannya dengan perang Persekutuan melawan Aliansi.”


Di sisi lain, Nio merasa Perang Dunia 3 bisa saja akan terjadi, tapi dia berharap tidak dalam waktu dekat. Adanya dunia ini, serta Indonesia dan sekutunya yang berhubungan dengan negara dunia ini, bisa saja memicu perang besar yang mengancam sebagian besar kehidupan di bumi. Namun, itu hanya pikiran Nio, dan pria itu menganggap Perang Dunia 3 tidak akan terjadi selama dia hidup. Itu adalah harapan yang besar… dan mustahil.


“Maksudmu, militer di negara-negara di dunia mu mampu mengobarkan perang yang jauh lebih mematikan daripada penyerangan pertama Aliansi terhadap pasukan Indonesia?”


“Saya takut jika jawaban saya akan membuat tuan-tuan tidak mempercayai Indonesia, Rusia, dan Korea Utara lagi. Jadi… maaf. Satu lagi, perang nuklir tidak akan terjadi jika negara-negara kuat dalam bidang militer di dunia asal saya tidak memulainya.”


Lux yakin jika ‘perang nuklir’ yang Nio katakan membuat suasana hati para komandan tidak menyenangkan, meski dia yakin beberapa dari mereka sudah tidak senang sebelumnya karena kedatangan Nio di sini.


“Aku yakin mereka menganggap kedatangan Nio di sini hanya untuk ikut campur saja. Sialan, mereka benar-benar tidak tahu kemampuan Lariq Sadur.”


Meski dia mengucapkan hal itu di dalam hati, namun ekspresi kesal Lux terlalu jelas. Nio yang duduk di sampingnya merasa suasana hati gadis itu sedang tidak bahagia, meski dia tahu jika ekspresi datar yang terkesan galak itu adalah ciri khas dari Lux.


“Aku harap segala taktik yang kau berikan untuk kami bisa menghabisi para pengkhianat itu.”


“Sebelumnya, kenapa Anda bisa mengatakan jika para pemberontak adalah pengkhianat?”


“Mereka jelas-jelas bekerja sama dengan Aliansi untuk menyerang Kota Tohora. Sialan, mereka bahkan merubah bendera hijau ‘Kedamaian’ kami dengan warna hitam.”


“Biar saya tebak, warna hitam bagi kalian melambangkan duka, kan?”

__ADS_1


Beberapa komandan hanya menjawab dengan anggukan dan wajah lesu sambil menunduk. Nio hanya menjawab dengan tebakan yang asal-asalan, namun ternyata jawaban itu justru tepat. Dia hanya menyamakan arti warna hitam di negara ini dengan pakaian hitam yang dipakai oleh pelayat yang menghadiri pemakaman.


“Saya akan siap dengan apa yang kalian minta pada saya, termasuk membantu dalam pertempuran.”


“Tapi, Nio, sebagian besar dari kami enggan untuk menghadapi para pemberontak,” ucap Donem yang membuat Nio agak tersentak.


Selama Lux menjadi prajurit, dia belum pernah merasa semarah ini dengan sesama komandan atas. Donem dan dia sama-sama komandan atas, sehingga dia tidak menyangka jika pria itu akan mengatakan hal yang menyatakan dirinya seolah-olah adalah seorang pengecut yang tidak berani menghadapi kawan sendiri yang sudah mengotori negeri ini.


Meski benar jika sesama tentara Arevelk berperang maka kedua belah pihak, atau salah satunya, akan merasakan sesuatu. Moral yang runtuh akibat berhadapan dengan kawan sendiri adalah kemungkinan terbesar jika hal itu terulang kembali. Lux mengangkat kepalanya dengan ekspresi kesal, lalu menggebrak meja hingga minuman yang Nio teguk tersembur.


Dia menatap dengan wajah pucat gadis yang duduk di sampingnya, begitu pula dengan seluruh komandan atas dan bawah yang tampak sangat terkejut.


“Pertama-tama, Nio, apa kau bersedia membantuku menumpas pemberontak? Aku tahu aku belum mengatakan hal ini pada Jenderal Angga, tapi ini hal yang sangat mendesak dan mempertaruhkan masa depan Arevelk dan Persekutuan. Jika pemberontak berhasil mengumpulkan kekuatan dan berperang bersama Aliansi melawan kami, tentu saja kami akan kalah dalam waktu singkat. Aku berjanji akan memberimu bayaran jika kau mau membantuku.”


Warna putih pada bet bendera merah putih di lengan kanan seragam hariannya melambangkan kesucian. Itu artinya, dia tidak ingin menjadi munafik dan tidak mungkin bagi dirinya menarik keyakinannya yang sudah menyatakan diri akan membatu Arevelk menumpas pemberontak meski hanya dia prajurit Pasukan Perdamaian yang membantu.


Dia juga yakin jika markas pusat akan memberikannya hukuman karena meninggalkan tugas meski dia meninggalkan bawahannya untuk membantu sekutu Indonesia yang terancam. Nio bahkan sudah membayangkan dirinya yang duduk di kursi pengadilan, dan hakim pengadilan militer yang sedang membacakan kesalahannya yang berupa lalai pada tugas utama dan meninggalkan bawahannya begitu saja meski alasannya sudah jelas.


Nio menggigil, karena yang dia kenakan hanya pakaian harian biasa yang tidak dilengkapi penghangat tubuh portabel, juga dia merinding jika gajinya akan dipotong atau tidak dibayarkan selama beberapa bulan hingga masa hukumannya usai. Tentu saja dia sangat membutuhkan gaji tersebut, karena demi menabung untuk masa depannya dan hidup bersama dengan bahagia dengan perempuan yang dia cintai.


Tapi, dia sudah terlanjur duduk di kursi bersama para komandan pasukan militer Kerajaan Arevelk dan bantuan dari Yekirnovo. Sehingga sangat sulit baginya untuk mundur dari keputusan yang sudah dia buat secara mantap. Terlebih lagi karena dia tidak tahu jalan pulang.


“Tentu saja aku akan membantumu menghadapinya dengan segala kemungkinan yang ada. Lalu, bagaimana dengan para tuan-tuan?”


Tentu saja Nio berharap jika para komandan yang ada di ruangan ini akan mengatakan hal yang serupa. Sebagai tentara dari negara ‘dunia lain’ yang pertama kali membangun hubungan dengan Kerajaan Arevelk, tentu saja Nio berharap jika tentara negeri ini juga akan melakukan hal yang sama dengan dirinya.


“O-oy, ini tidak mungkin kan?” Nio bergumam di dalam hati dengan wajah terkejut yang terlihat jelas oleh Lux.


“Kenapa kalian malah diam?” tanya Lux karena Nio juga tampak terkejut.


Nio merasa dirinya terlalu bersemangat membantu Kerajaan Arevelk menangani pergerakan pemberontak yang meresahkan, sehingga dia berharap terlalu tinggi dan akhirnya mendapatkan kekecewaan karena hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan bayangannya.


Seluruh komandan atas dan bawah pria menunduk dengan wajah gelisah, dan tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Mereka mungkin tidak dapat membuat para prajurit bawahannya menghadapi risiko buruk berperang bersama pemberontak, sehingga memilih diam sebagai jawaban ‘tidak’ atas pertanyaan Nio.


“Ini terlalu berisiko, Nio. Kau tidak tahu apa yang kami hadapi ketika pemberontak sialan itu tiba-tiba maju menyerang kami! Lebih baik kau jangan terlalu percaya diri dapat mengalahkan mereka dengan mudah meski Nona Lux berada di pihakmu!” salah satu komandan bawahan Donem berbicara seperti itu, dan tentu saja membuat Donem sendiri gemetar mendengar pekataan bawahannya sendiri.


Nio merasa jika langkahnya untuk membantu Arevelk benar-benar buruk, dan tidak sesuai dengan perkiraannya sebelumnya.


“Ja-jadi, kedatangan saya tidak diharapkan?” ucap Nio dengan nada gemetar dan wajah yang tegas.


“Tidak!”


Nio sangat terkejut dengan jawaban itu, dan gadis di sampingnya berbicara seperti itu dengan nada marah yang luar biasa.

__ADS_1


“Kau berada di sini untuk membantuku memerangi pemberontak yang menyebalkan. Kau tidak perlu melibatkan para komandan pemberani yang pengecut ini dalam perjuangan kita. Aku sangat senang dapat berjuang di sisimu, Nio,” ucapan Lux agak membuat Nio salah paham pada bagian akhir kalimatnya. Namun dia segera menganggap jika perkataan Lux hanyalah ungkapan agar dia dan gadis itu dapat bekerja sama dengan baik.


__ADS_2