Prajurit SMA

Prajurit SMA
Es serut


__ADS_3

Dua bulan setelah upacara Pergantian Tahun yang ‘kacau’ dengan berbagai hal tak terduga, penyerangan tiba-tiba Aliansi misalnya. Setelah seluruh wilayah Yekirnovo dan Arevelk mendengar kabar tersebut, ditambah perkelahian antara seorang prajurit 'biasa' Indonesia dengan Pahlawan Amarah, semua orang menyadari jika Aliansi benar-benar ingin berperang dengan ‘dunia lain’. Semua warga Arevelk dan Yekirnovo menyadari jika bekerja sama dengan kontingen ‘dunia lain’ untuk menghadapi kekuatan Aliansi adalah keputusan yang sangat tepat, dan beberapa orang melihatnya sebagai awal dari peristiwa besar yang diramalkan. Dunia ini secara resmi telah berganti dari tahun 1914 menjadi 1915, dan itu yang membuat Nio menaruh curiga untuk beberapa hal.


Satu tahun sudah sejak Kekaisaran Luan menyatakan perang dengan Indonesia, dan mereka terus menghimpun kekuatan besar yang bernama Aliansi. Ada orang yang mengatakan jika dunia lain adalah tempat yang damai – seperti yang terdapat pada novel atau komik fantasi Jepang yang kebanyakan memiliki alur cerita ringan dan ‘cerah’. Namun, bagi Nio sendiri dirinya menilai jika alur ceritanya selama bertugas di dunia lain sangat berat dan terkesan ‘gelap’. Meski begitu, Nio merasa jika perang terus berlanjut, kemungkinan besar akan ada hal-hal besar yang terus terjadi. Selain itu, rahasia mengenai dirinya yang menjadi ‘orang yang diramalkan’ bagi dunia ini masih berupa tanda tanya. Saat dia hampir mendapatkan jawaban mengenai rahasia tersebut pasti akan selalu ada gangguan kecil atau besar.


Setelah pergantian tahun, dua bulan kemudian Benua Andzrev biasanya akan mengalami musim dingin. Musim dingin berarti turun salju - biasanya, dan itu adalah hal yang diimpikan orang-orang Indonesia yang setiap tahun hanya merasakan panas di musim kemarau dan dingin saat musim penghujan. Pemanas menyala di beberapa titik pada benteng kura-kura, kehangatannya membuat prajurit kontingen Indonesia nyaman. Pemanas adalah perangkat yang paling penting jika para prajurit TNI itu ingin terus hidup di musim dingin seperti ini.


Suhu paling dingin yang pernah Nio rasakan selama dua puluh tahun dia hidup adalah enam belas derajat celcius, saat peristiwa ketika bumi berada pada titik terjauhnya dari matahari, atau bisa disebut dengan peristiwa aphelion. Ketika terbangun dari tidur ketika suhu udara jauh lebih dingin dari biasanya, Nio merasa jika dia telah dibuang ke kutub selatan. Meski musim dingin di negara-negara sub-tropis tampak menyenangkan, tapi sekarang Nio – seorang manusia yang hidup di negara beriklim tropis telah merasakan betapa menderitanya hidup ditengah musim dingin.


Suhu di Tanah Suci hari ini mencapai minus dua puluh derajat celcius, dan menjadi rekor bagi prajurit TNI yang bertugas di dunia ini. Sebagian dari mereka merasa bangga dengan diri masing-masing karena dapat bertahan di suhu terdingin yang pernah mereka rasakan, namun sebagian lagi mengutuk para prajurit Rusia yang masih bisa beraktivitas seperti biasa hanya dengan telanjang dada dan mengenakan celana olahraga pendek (bagi laki-laki), dan bagi para perempuan terlihat bersenang-senang bersama anak-anak pengungsi dan membuat boneka salju. Bagi anak-anak pengungsi, boneka salju yang para prajurit perempuan Rusia buat adalah hal baru bagi mereka.


Kendaraan tempur dan operasional lainnya tertutup salju tebal hingga hampir menutupi seluruh tubuh kendaraan. Bahkan, ‘Dewa Baja’ dan tank-tank milik kontingen ‘dunia lain’ diistirahatkan untuk sementara hingga musim dingin di Tanah Suci mulai bersahabat, sehingga operator kendaraan tempur tersebut dapat bekerja dengan maksimal.


Kendaraan pengeruk salju milik kontingen Rusia melakukan tugasnya menyingkirkan penghalang yang berupa salju yang mirip dengan es serut.


Ya… itu adalah hal yang mungkin agak konyol, tetapi ada beberapa prajurit kontingen Indonesia – termasuk anggota pria Tim Ke-12 – yang mengambil beberapa sendok salju ke mangkok lalu menuangkan sirup sebagai perasa. Meski agak kekanak-kanakan, mereka nampak sangat menikmatinya meski cuaca sangat tidak bersahabat bagi orang-orang yang tinggal di negara dengan iklim tropis. Ketika angin yang membawa udara dingin yang membekukan berhembus melewati mereka, para pria langsung menggigil hingga merasa diri mereka dapat membeku karena cuaca yang menyiksa ini.


Bahkan, anak-anak pengungsi tidak membutuhkan jaket atau penghangat untuk bermain di luar dengan udara dingin seperti sekarang. Beberapa anak laki-laki mengejek beberapa prajurit pria yang menghangatkan diri di perangkat penghangat dengan tubuh menggigil. Mereka tidak bisa melawan ejekan para anak-anak tersebut, dan terpaksa rela menjadi bahan tertawaan.


Para anak-anak dapat bertahan di udara dingin yang menusuk tulang hanya dengan mengenakan pakaian sehari-hari mereka. Itu mungkin karena mereka sering dipaksa bekerja di tengah musim dingin yang mematikan ketika masih menjadi budak.


Di lain tempat, para prajurit Korea Utara terlihat berlatih bersama para kontingen Arevelk dan Yekirnovo. Mereka semua nampak hanya mengenakan pakaian biasa, tanpa jaket tebal atau penghangat tubuh dari dinginnya suhu yang membekukan jiwa. Beberapa prajurit Korea Utara mengajari beberapa prajurit Arevelk dan Yekirnovo beladiri wajib mereka, sedangkan beberapa prajurit Arevelk dan Yekirnovo melatih beberapa prajurit Korea Utara dan Rusia bertarung menggunakan senjata jarak dekat seperti tombak dan pedang.


“Sialan, apa mereka punya kulit setebal armor tank?” Sigit menggerutu dan terlihat menggigil hebat meski dia dan seluruh anggota Tim Ke-12 berada di dekat perangkat penghangat setelah menikmati ‘es serut’ gratis yang melimpah di Tanah Suci.


“Sebenarnya mereka sudah berevolusi seberapa jauh, sih? Seakan-akan prajurit negara empat musim itu bisa bertahan dengan telanjang di musim dingin.”


“Letnan, apa kau ingin mencobanya?”


Nio menatap tajam Zefanya – yang mengenakan pakaian olahraga lengkap tanpa jaket tebal seperti yang dikenakan seluruh prajurit kontingen Indonesia. Gadis itu nampak sangat santai mengejek rekan-rekan Indonesianya yang tersiksa dengan musim dingin dunia lain ini. Sedangkan Ro Ga-Eun dan Nam Ae-Ri tetap mengenakan jaket namun jauh lebih tipis dari yang dikenakan rekan-rekannya, dan mereka berdua sama-sama santai bersama Zefanya ketika orang-orang Indonesia merasa bisa mati membeku di sini.


Sebagai anggota salah satu pasukan elit TNI, Pasukan Pelajar Khusus tidak dilatih di ‘medan beku’ seperti yang dilakukan pasukan-pasukan khusus dan elit TNI lainnya. Seluruh personel pasukan tersebut memang dapat bertahan pada suhu minus satu derajat celcius, tapi berbeda cerita jika mereka ditugaskan ke ‘medan beku’ yang sesungguhnya. Kontingen Indonesia mengirimkan sekitar lima puluh anggota Kopassus, seratus anggota Denjaka, dua ratus anggota Yontaifib, lima puluh anggota Kopaska, lima puluh anggota Paskhas, satu Yonif Raider (Batalyon Raider), dan lima ratus anggota Pasukan Pelajar Khusus. Orang-orang Indonesia tahu jika seluruh prajurit pasukan elit dan khusus TNI terlihat tidak memiliki kelemahan sama sekali. Namun, mereka sekarang terlihat menggigil dan hanya dapat melakukan kegiatan dalam radius dua puluh meter dari perangkat penghangat.


Meski begitu, agenda hari ini hanyalah berlatih bersama dan Patroli Perbatasan Gabungan bersama kontingen Yekirnovo dan Arevelk. Sehingga, secara khusus para prajurit mendapatkan sangat banyak kelonggaran kegiatan pada hari ini. Sehingga, kebanyakan dari mereka berlatih di sekitar perangkat penghangat yang bisa menghangatkan orang sebesar satu kompi dengan seratus lima puluh anggota. Untungnya, senjata-senjata yang diproduksi oleh kerjasama perusahaan BUMN dengan swasta sengaja dirancang untuk bertahan pada cuaca kemarau yang berdebu, hujan yang sangat basah, dingin yang membekukan, dan panas yang membakar. Sehingga, senjata-senjata yang dimiliki kontingen Indonesia memiliki kualitas yang sama dengan pasukan negara beriklim empat musim.


Ini adalah komedi tragis yang diderita oleh negara yang memiliki pasukan elit yang terkenal ‘tanpa’ kelemahan sama sekali. Bahkan, Rusia dan Korea Utara saat ini mengakui jika satu-satunya kelemahan pasukan elit TNI adalah mengirim mereka ke negara yang bersuhu minus sepuluh hingga dua puluh derajat celcius. Tetapi, para prajurit dari negara dua musim masih memiliki lusinan trik agar tetap beraktivitas meski cuaca dingin sangat menyiksa jiwa dan raga.


Prajurit kontingen Indonesia mulai membuka gudang senjata, dan mengambil lusinan kotak yang berisi jaket yang sangat tebal. Lalu, seluruh prajurit mulai masing-masing mengenakan antara dua hingga tiga lapis jaket untuk mencegah udara dingin yang menusuk tulang menyiksa mereka. Meski hal itu menyulitkan mereka untuk bergerak, tapi setidaknya lapisan tebal jaket dapat menghalau udara dingin yang seakan-akan dapat membekukan segalanya. Namun, ketika angin berhembus dan membawa udara yang jauh lebih dingin, mereka kembali menggigil... lagi.


Sementara itu, Nio harus menghadiri sebuah pertemuan dengan beberapa perwira pertama hingga tinggi. Alasan kenapa hanya Nio satu-satunya perwira Korps Pengintaian dan Pertempuran – selain Lee Baek-Ho – adalah karena dia terlibat dalam pertempuran melawan Aliansi di ibukota Kerajaan Arevelk. Dia memasuki sebuah bangunan yang bernama ‘Ruang Komando dan Rapat Serbaguna’ dalam bahasa Indonesia, Korea Utara, Rusia, dan dunia ini. Saat ini, dia benar-benar masih mengenakan dua lapis jaket tebal ketika dia melihat para staf asal Rusia dan Korea Utara telah mengenakan seragam kamuflase musim dingin dengan perpaduan warna putih dan abu-abunya yang khas. Sementara itu, kontingen Indonesia tidak akan mendapatkan seragam kamuflase salju seperti itu sebelum mereka dapat beradaptasi dengan cuaca ekstrem Tanah Suci saat ini.


Penghangat di ruang pertemuan jauh lebih hangat, meski udara dingin dapat mengalahkan ventilasi yang telah ditutup untuk mencegah masuknya hawa yang menusuk tulang tersebut. Itu adalah perangkat penting jika pertemuan dapat berjalan lancar dan menghasilkan ide, gagasan, atau strategi yang hebat.


Para staf kontingen Rusia dan Korea Utara yang melihat Nio melepaskan lapisan jaket tebalnya terlihat menahan tawa. Sedangkan staf kontingen Indonesia tampak melihatnya dengan tatapan miris setelah melihat Nio hampir membeku, dan membuat mereka takut untuk keluar dari bangunan ini.


Selain perwira kontingen Indonesia, Korea Utara, dan Rusia, beberapa jendral kontingen Arevelk dan Yekirnovo juga diminta untuk menghadiri pertemuan di siang yang ‘cerah’ dan dingin ini. Namun, setelah Nio membuka pintu ruang pertemuan, dia melihat seluruh hadirin telah duduk di tempat masing-masing, dan terlihat sudah melakukan pembicaraan sebelum dia tiba. Dia tidak bisa menggunakan alasan, “Saya adalah orang Indonesia biasa yang belum pernah merasakan suhu mencapai minus dua puluh derajat!”


Namun, kemudian perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak setelah melihat seluruh orang di ruangan tersenyum hangat kepadanya. Itu benar-benar sikap yang mencurigakan bagi perwira yang telat menghadiri pertemuan yang kemungkinan besar sangat penting.


“Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat kepada Nio. Saya, panglima kontingen Arevelk, Kiliz, merasa sangat senang Anda mendapatkan gelar Lariq Sodur.”


“Terima rasa senang saya terhadap pencapaian Anda, Letnan Nio. Saya salah satu jendral kontingen Yekirnovo, Tohora, merasa sangat senang juga setelah mendengar Anda mendapatkan gelar tersebut.”


Tentu saja apa yang dikatakan dua orang perwira penting kontingen Arevelk dan Yekirnovo sangat membuat Nio bingung. Bahkan dia semakin bingung ketika perwira Regu Penjelajah dan satuan lainnya tersenyum ke arahnya. Dia yakin jika tugasnya di pertemuan ini bukanlah sebagai penerjemah, mengingat suasana ‘mencurigakan’ di tempat pertemuan yang seharusnya membuat kesan serius baginya.


“Terimakasih, Tuan Kiliz dan Tuan Tohora. Jujur saja, saya belum tahu gelar yang saya dapatkan dari Kerajaan Arevelk tersebut.”


“Bahkan Yang Mulia Sigiz memberikan langsung gelar tersebut kepada Anda. Itu adalah kehormatan tertinggi bagi ksatria yang sangat pemberani, bahkan perwira seperti saya merasa sangat sulit untuk mendapatkan gelar Lariq Sadur,” ucap Kiliz yang membuat Nio duduk sambil memasang wajah kebingungan hingga dia merasa dirinya paling bodoh di antara orang-orang di ruangan ini.

__ADS_1


Ada sesuatu yang aneh dengan sikap dan ekspresi seluruh orang di ruangan ini menurut Nio, dan membuat suasana di sini cukup ‘menakutkan’. Tentu saja, sebagai perwira muda yang duduk di antara perwira senior adalah hal yang menegangkan. Namun, suasana ruang rapat hari ini benar-benar telah berubah menurutnya.


“Yah, kamu benar-benar sesuatu, Nio,” ucap Jendral Angga yang membuat Nio semakin takut.


**


Satu bulan sebelum musim dingin yang menusuk tulang dan membuat kontingen Indonesia tersiksa…


Jendral Angga duduk di meja kerjanya, sambil menatap layar monitor. Dia sedang berkomunikasi dengan Presiden Suroso melalui sambungan panggilan video. Dia merasa jika Presiden hanya akan menanyakan kabar pasukan dan keadaan seluruh kontingen setelah beberapa bulan di dunia ini. Menurutnya, meski beberapa hal dunia ini terlihat sama dengan Indonesia, namun belum seluruh penjuru dunia dijelajahi. Pasukan hanya mengandalkan kendaraan udara seperti helikopter dan pesawat serbaguna untuk memetakan seluruh pelosok Benua Andzrev dan benua terdekat.


Secara umum, dia memiliki gagasan untuk meminta Rusia, Indonesia, dan Korea Utara bekerja sama membuat satelit untuk Pasukan Perdamaian. Meskipun itu bukan hal yang terlalu sulit bagi Rusia yang memiliki teknologi tinggi hanya untuk membuat satelit pemetaan, Angga merasa jika permintaan itu terlalu ‘mahal’, dan berpikir jika anggaran lebih baik digunakan untuk memperkuat pertahanan jika sewaktu-waktu Aliansi menyerang dengan jumlah besar mereka – sama seperti ketika penyerangan besar Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi.


Dia tidak ingin pasukannya bernasib sama dengan Pasukan Ekspedisi, dan akan berusaha untuk menjauhkan hal tersebut dari seluruh prajuritnya. Angga merasa tugas Pasukan Perdamaian bukan hanya untuk mencari dalang yang memulai perang dan meminta ganti rugi secara paksa terhadap seluruh pihak yang berperang dengan Indonesia. Pria itu berpikir jika tugas Pasukan Perdamaian jauh lebih luas daripada hal tersebut, dan tugas yang paling penting dari pasukannya adalah menjaga dunia asal, khususnya Indonesia dan sekutunya, dengan berjuang dari dunia ini.


Angga tidak ingin TNI kembali kehilangan banyak prajurit terbaik, dan tidak akan membiarkan Rusia dan Korea Utara kehilangan prajurit mereka di dunia ini.


“Jendral, sebenarnya aku baru saja mendapatkan informasi yang sangat mengejutkan.”


“Mohon maaf, Pak. Informasi mengenai hal apa yang Anda dapatkan?”


Pada saat dia ditunjuk oleh pemimpin Indonesia, Korea Utara, dan Rusia untuk memimpin pasukan ini, Angga merasa senang jika ada beberapa ‘veteran’ yang pernah berjuang di dunia ini. Salah satu veteran yang membuatnya tertarik adalah Letnan Satu Nio, yang telah melalui berbagai hal di dunia ini sebelum dirinya. Informasi mengenai Nio telah dia dapatkan meski tidak terlalu lengkap, salah satunya kedua orang tua kandungnya.


“Apa Anda serius tentang itu, Pak?”


Wajah Angga terlihat sangat terkejut dan tidak bisa merangkai kata-kata dengan benar setelah Suroso mengatakan informasi penting yang dimaksud. Angga ingin apa yang dia dengar barusan merupakan fakta, tetapi dia tetap ingin informasi itu memiliki dasar dan benar-benar merupakan fakta.


“Tentu saja. Aku baru menemukan informasi ini bersama panglima.”


“Jadi dia benar-benar anak beliau ya…”


Antara kagum atau merasakan sesuatu yang lain, Angga dan Suroso benar-benar percaya dengan fakta tersebut meski di hati mereka berdua masih terdapat perasaan tidak percaya akan fakta mengenai Nio itu.


**


Setelah mendapatkan sebuah kemenangan, maka orang-orang akan mulai berusaha mendapatkan kemenangan yang lain. Itu bukanlah kata-kata keren dari seorang tokoh sejarah, tetapi sebuah fakta.


Kemenangan dari sebuah pertarungan akan membawa kejayaan yang cemerlang dan indah bagi suatu bangsa, dan mereka akan kecanduan untuk mendapatkannya lagi – berapa kali pun itu. karena itu, ketika orang telah mabuk kemenangan, mereka hanya berpikir untuk mendapatkan lebih banyak kemenangan. Tidak ada yang diijinkan untuk bertanya demi apakah kemenangan itu. Tetapi, ada juga kemenangan yang berbahaya dan berpotensi melukai negara.


“Kita beruntung hingga hari ini kita belum kehilangan satu pun prajurit,” ucap Nio yang kembali teringat kenangan ketika tiga bawahannya saat dia masih memimpin Regu penjelajah 1 gugur, dan salah satunya menjadi prajurit TNI pertama yang gugur di medan perjuangan dunia lain.


Layar monitor seluas enam meter menampilkan peta Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru dan pembagian zona-zona. Zona aman diwarnai dengan warna hijau, dan itu adalah tempat berdirinya benteng kura-kura. Lalu ada zona cukup berbahaya diwarnai dengan warna oranye, zona ini ditarik sejauh lima puluh kilometer dari wilayah benteng kura-kura dan sekitarnya. Lalu zona berbahaya diwarnai dengan warna merah, yang menandakan musuh sesekali melanggar perbatasan dan membahayakan prajurit. Yang terakhir adalah zona perang potensial yang diwarnai dengan warna gelap, di sinilah kemungkinan besar pertempuran terjadi, yakni di zona perbatasan dengan Kekaisaran Luan.


Setelah memenangkan penyerangan yang terjadi sebelum upacara Pergantian Tahun, salah satu benteng milik Kekaisaran Luan dapat diambil alih. Fasilitas militer tersebut akan menjadi basis garis depan dan akan ditempatkan sebanyak dua batalyon infanteri dan satu batalyon kavaleri dengan berbagai senjata beratnya. Dua helikopter serang akan segera dikirimkan ke sana jika cuaca sudah mulai bersahabat, dan akan berfungsi sebagai kendaraan misi lintas udara pasukan di sana.


Cara bertarung kontingen ‘dunia lain’ memang tidak seperti pasukan pada abad pertengahan, ketika pedang dan panah masih mendominasi sebuah peperangan. Tetapi, fungsi benteng sebagai pertahanan dan simbol kekuatan tidak akan menghilang ditelan waktu. Jika pasukan dapat memanfaatkan benteng tersebut sebaik mungkin, maka musuh yang mencoba melintasi perbatasan dapat dimusnahkan dalam hitungan jam.


Selain itu, Nio mencoret sebuah kertas yang dia dapatkan, dan kertas tersebut merupakan salinan peta seluruh wilayah Tanah Suci yang seluas sama dengan provinsi Bali. Dia menandai beberapa titik yang merupakan tempat penempatan beberapa batalyon di garis depan, tentu saja dia memprediksi segala kemungkinan di sana, termasuk kemungkinan musuh kembali menyerang dengan kekuatan besar mereka lagi. Itu benar-benar merepotkan, sehingga Nio membuat jalur mundur bagi unit-unit di garis depan jika kemungkinan itu terjadi agar tidak menyusahkan staf strategi. Jika seorang perwira menyarankan proposal mengenai masalah jalur mundur – disaat tidak ada pertempuran – dia harus siap menghadapi serangkaian panggilan yang lebih buruk dari ‘pengecut’.


Setelah insiden penyerangan ibukota Kerajaan Arevelk satu setengah bulan yang lalu, Nio mengatakan di hadapan seluruh perwira yang hadir jika musuh kemungkinan besar akan menyiapkan pasukan untuk melakukan serangan balasan.


Ruang rapat memang membeku untuk sesaat setelah Nio mengatakan hal itu. Jendral Angga duduk di kursinya dengan kepala yang seakan-akan dapat meledak kapan saja ketika dia memikirkan perkataan Nio yang bisa saja benar-benar terjadi. Sedangkan atasan Nio, Kapten Lee Baek-Ho duduk dengan tenang, tapi hatinya terganggu. Tetapi, saat ini suasana benar-benar tegang dan dingin, sehingga beberapa perwira menggosok kedua telapak tangan dan menutup wajah karena pusing dengan musuh yang selalu membuat pekerjaan mereka terus bertambah.


“Jika musuh benar-benar menyerang kita di musim dingin yang menyiksa ini, kita bisa memindahkan unit ke zona oranye. Dengan begitu, pasukan tidak akan terbebani dan bantuan dapat dikirimkan dengan cepat, lalu mereka dapat merencanakan serangan untuk menahan musuh.”


Nio sengaja mengabaikan atmosfer ruang rapat yang dingin dan mengatakan apa yang ada dipikirannya tentang masalah ini, lalu duduk dengan sopan. Ekspresi Nio terlalu sulit untuk dibaca, sehingga para perwira tidak tahu kenapa dia bisa memprediksi jika musuh akan melakukan serangan balasan setelah kekalahan mereka di Kota Iztok.


Nio benar-benar mengabaikan tatapan para perwira.

__ADS_1


Sebenarnya, dia juga baru menyadari hal ini beberapa saat lalu, ketika Angga mulai berbicara tentang menambah unit di zona hitam. Lalu, ketika Nio mulai mengatakan usulannya tentang jalur mundur bagi unit di zona hitam, tanpa dia sadari suasana di ruang rapat semakin dingin. Dia hanya mengatakan semua kemungkinan yang belum tentu kebenarannya, dan semua keputusan ada pada perwira tinggi. Dia hanya memanfaatkan kesempatannya untuk memberikan usulan, dan dia hanya hadir karena Lee Baek-Ho memerintahkannya untuk hadir jika dia punya waktu.


Lagipula, Nio tidak berada dalam rantai komando infanteri maupun kavaleri, dia menerima perintah dari Korps Pengintaian dan Pertempuran yang bertugas langsung di bawah staf khusus untuk unit pasukan elit. Nio hanya menggunakan haknya untuk berbicara ketika waktu untuk memberikan saran diberikan.


Sungguh, pada awalnya Nio tida bermaksud akan ikut campur. Unit-unit yang ada di zona hitam berada dalam komando staf strategi, dan Nio merasa membebani perwira dari staf tersebut.


Intinya, semua yang Nio katakan hanyalah kemungkinan, dan dia berkata jika semua yang dikatakannya bisa saja tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Selain itu, dia berbicara ketika beberapa perwira menengah memintanya – sebagai perwira lapangan – untuk berkomentar mengenai pertahanan di garis depan. Dia berpikir jika usulannya tentang jalur mundur dari zona hitam ke zona oranye tidak memuaskan mereka.


Tetapi, Nio sendiri merasa tidak memiliki informasi yang cukup ketika berbicara mengenai jalur mundur, sehingga dia menggunakan kata ‘kemungkinan’ di perkataannya. Tetapi, menurutnya tidak ada salahnya untuk menyiapkan yang terbaik untuk masa depan, sehingga segala kemungkinan buruk dapat dihindari.


“Tapi, musuh mungkin tidak akan melakukan penyerangan saat cuaca sangat tidak bersahabat seperti ini,” salah satu perwira pertama dari staf operasional berbicara seperti itu.


“Itu benar, jadi semua yang saya katakan masih sebuah kemungkinan, dan belum tentu terjadi dalam waktu dekat. Ini hanya sebatas usulan dari saya yang telah berada di dunia ini sejak satu tahun lalu, sehingga saya bisa memprediksi jalur mundur yang tepat jika musuh menyerang unit di zona hitam dengan jumlah besar. “


Lalu seorang perwira lapangan lainnya berbicara, “Bukannya kita bisa menunggu musuh jika mereka menyerang, lalu lakukan serangan pertahanan daripada mundur?”


“Tetapi, itu akan menyebabkan logistik menipis. Musuh kemungkinan akan terus menyerang hingga berhari-hari sebelum melemahkan kita,” ucap Lee Baek-Ho berdasarkan informasi tentang penyerbuan pertama Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi.


“Apa kalian tidak mendengarkan? Itu semua masih sebuah kemungkinan. Tapi, menurutku daripada kebingungan menyiapkan rencana seperti ini ketika musuh menyerang dengan tiba-tiba, kita bisa menggunakan usulan Lettu Nio mengenai jalur mundur yang dia buat,” ucap salah satu perwira staf strategi.


Jumlah besar musuh adalah sebuah masalah besar jika mereka menyerang dengan tiba-tiba lagi. Bahkan jika semua itu hanyalah kemungkinan, tidak ada salahnya untuk mempersiapkan semuanya dari sekarang sehingga mereka bisa menghadapi serangan musuh dalam kondis siap.


“Lalu, musuh memiliki senjata api.”


Nio memberikan foto yang menunjukkan gambar SP-1 yang berhasil dia rampas dari seorang musuh yang terbunuh. Seluruh perwira di ruangan yang melihat gambar tersebut langsung mengerutkan alis mereka.


“Jadi, keberadaan pahlawan yang dapat menciptakan sesuatu memang benar-benar ada,” ucap Kiliz.


“Oh… bukannya ini BM59 dari Italia?”


“Tunggu, ini SP-1 Pindad bukan? Apa pahlawan yang bisa menciptakan sesuatu itu berasal dari masa Orde Baru?”


“Dengan begitu, pertempuran akan semakin sulit dan panjang,” sambung Angga.


Lalu Nio menjawab perkataan Angga, “Musuh bisa melakukan perlawanan dengan sangat keras hanya dengan pedang dan tombak. Saya merasa senjata ini akan membuat pertempuran benar-benar berjalan panjang dan melelahkan.”


Beberapa perwira meringis dengan perasaan kesal setelah mengetahui fakta jika musuh mulai menggunakan senapan pada perang ini. Sebagai pasukan bertahan, yang bisa mereka lakukan tetaplah terus melawan dan membalas setiap perbuatan musuh.


“Kamu benar, Letnan Nio. Jumlah musuh terlalu banyak bagi kita, apalagi informan belum kembali dari misi mereka. Sehingga jumlah musuh tidak bisa diprediksi.”


“Mengingat jumlah negara anggota Aliansi dan kekuatan masing-masing negara, kemungkinan Aliansi memiliki kekuatan antara dua juta lima ratus hingga tiga juta prajurit,” sambung Nio.


“Sementara kita hanya memiliki delapan ratus ribu prajurit,” ucap Tohora dengan wajah muram.


Jika digabung, seluruh penyihir militer milik Arevelk dan Yekirnovo akan membentuk 10 brigade dengan masing-masing brigade berjumlah lima ribu penyihir militer. Lalu, penyihir militer cukup jarang dikirimkan ketika pertempuran langsung, dan berfungsi sebagai pasukan cadangan. Tetapi setelah mengetahui perkiraan jumlah kekuatan musuh, ada kemungkinan seluruh penyihir militer akan menjadi prajurit siap tempur.


Selain itu, menurut pengamatan Nio musuh hanya melakukan serangan sporadis dan terus mengandalkan jumlah besar mereka.


“Lagipula, kita menang atas kekuatan dan kualitas pasukan. Jika kemungkinan itu benar, kita harus mempersiapkan semuanya dari sekarang daripada menunggu musuh menyerang.”


“Di musim dingin seperti ini, musuh mungkin masih dalam proses mengumpulkan kekuatan, dan menyerang setelah musim dingin usai,” ucap Kiliz.


Ketika musuh telah memiliki senapan dan mereka memiliki jumlah pasukan dan penyihir jauh lebih banyak dari Persekutuan, satu-satunya cara untuk melawan kekuatan seperti itu hanya menggunakan kualitas senjata milik kontingen ‘dunia lain’ dan cara bertarung prajurit elit mereka.


Melihat Nio yang menurutnya seorang perwira dengan tipe yang selalu memiliki pandangan jauh kedepan, Angga benar-benar menyadari sesuatu...


“Dia benar-benar mirip dengan beliau.”

__ADS_1


__ADS_2