Prajurit SMA

Prajurit SMA
33. Terlihat sangat kegirangan


__ADS_3

17 April 2321, pukul 11.18 WIB.


**


Kota bawah tanah Kota Karanganyar telah mendapatkan kabar dari tempat pelatihan calon PPK. Herlina secara pribadi dihubungi melalui panggilan telepon Mayor Sugeng sebagai penanggung jawab pelatihan.


Sugeng memberikan kabar jika Nio memimpin salah satu Regu di pelatihan saat melakukan tes pendekatan masyarakat. Serta Regunya memperoleh nilai sempurna dan seluruh anggota akan mendapatkan penghargaan.


Hal yang membuat Regu yang dipimpin Nio mendapatkan nilai sempurna karena berhasil memperoleh kepercayaan seluruh warga Desa Kwangsan dan warga merasa jika Rregu ini sangat membantu dan melindungi.


Serta hal yang membuat seluruh anggota Regu 3 akan memperoleh penghargaan karena berhasil melumpuhkan 3 prajurit musuh yang kabur.


Namun penghargaan yang akan diperoleh seluruh anggota tidak sama. Karena Nio membagi Regu 3 menjadi 2 kelompok yakni; kelompok penjaga dan kelompok pencari.


Belum diketahui penghargaan apa yang akan diperoleh seluruh anggota Regu 3. Mereka akan mengetahuinya setelah pelatihan ini selesai dan akan diberikan saat seluruh anggota Regu 3 kembali pada Satuan masing-masing.


Itu artinya penyerahaan penghargaan dilakukan oleh Komandan Kompi masing-masing anggota Regu 3.


**


Di ruangan kerja, Herlina terlihat sangat senang setelah mendapatkan kabar itu. Apalagi Nio yang dalam keadaan selamat dan hanya menderita luka ringan akibat serangan musuh.


“Aku harus memberi tahu dia…,” ucap Herlina yang berlari cepat keluar dari ruang kerjanya.


Dia berlari kearah asrama yang Nio huni dan hanya ada hanya ada kakak Nio di sana. Ya, karena memang Arunika tujuan Herlina.


Dia terus berlari bahkan sampai mengganggu prajurit lain yang sedang berlatih.


Jo yang melihat Herlina berlari cepat dengan wajah senang berkata dalam hatinya, “Nio tidak menyatakan perasaannya pada Kapten kan?”


Setelah tiba di depan pintu asrama, Herlina mengetuk pintu dengan cepat dan keras sambil berkata, “Permisi, ini saya Herlina….”


Arunika yang ditinggal Lisa untuk melakukan pekerjaannya segera melangkah kearah suara sambil berkata, “Ya, sebentar….”


Sesaat setelah Arunika membuka pintu, Herlina segera memasuki ruangan tanpa ijin dari penghuninya dan berkata, “Aku punya berita untukmu….”


Dengan wajah heran karena Herlina yang kelewat bahagia dia menjawab, “me-memangnya ada apa?.”


Herlina menarik nafas dan menjelaskan kabar yang ia terima tentang Nio dan Regu yang dia pimpin akan memperoleh penghargaan setelah pelatihan yang mereka lakukan selesai.


“Itu artinya dia bertarung dengan musuh kan!?” tanya Arunika dengan wajah yang sangat cemas terhadap Nio.


Karena Herlina menyebutkan jika Nio terluka saat melawan prajurit musuh, namun Herlina juga menambahkan jika Nio dalam keadaan baik-baik saja.


“Tenang saja, dia hanya menerima beberapa luka gores dan masih hidup.”


Arunika dapat bernafas lega meski sebelumnya dia sempat hampir tidak kuat lagi saat berdiri.


“Lalu, kapan dia akan pulang?” tanya Arunika.


“Mungkin setelah menyelesaikan tes terakhir dia akan pulang, dan aku yakin dia akan membawa hasil memuaskan,” jawab Herlina dengan wajah yakin dan mengepalkan tangan di depan dadanya.


“Semoga saja….”


**

__ADS_1


18 April 2321, pukul 06.01 WIB.


**


Di barak tempat pelatihan calon Pasukan Pelajar Khusus….


Nio menjadi orang yang terbangun paling awal daripada penghuni barak yang lain.


Karena teringat belum melakukan yang wajib dia lakukan, Nio mengambil sebuah buku kecil yang merupakan buku catatan pribadinya.


“Dua…,” ucap Nio sambil menuliskan angka 2 di samping angka 1 yang dia tulis sebelumnya.


Di atas halaman buku yang dia tuliskan kedua angka tersebut tertulis ‘Jumlah musuh yang kubunuh’.


Setelah itu dia memasukkan lagi bukunya kedalam ranselnya.


Beberapa saat kemudian terdengar suara dobrakan pintu dari luar barak


“Apa kita tidak bisa istirahat 2 hari saja?” gumam Nio saat dua orang pelatih sudah berdiri di depan barak dengan tangan dilipat di depan dada serta wajah yang tegas seperti biasanya.


Seluruh penghuni barak prajurit laki-laki berbaris di depan tempat tidur masing-masing dengan mata yang masih mengantuk, terutama bagi anggota Regu 3 yang belum bisa beristirahat dengan tenang.


Seorang prajurit pasti memiliki trauma perang, termasuk seluruh anggota Regu 3 yang kemarin berhadapan dengan 3 orang prajurit musuh.


Namun sebagai prajurit calon pasukan khusus mereka harus siap berhadapan dengan hal paling buruk di medan perang. Termasuk melihat bagian tubuh yang berceceran dimana-mana seperti yang mereka lihat kemarin.


“Komandan Regu 3, silahkan ke ruangan Mayor!” ucap salah satu pelatih yang membuat Nio terlihat sangat terkejut.


“Si-siap, saya akan segera mempersiapkan diri,” jawab Nio dengan keringat keluar dari tubuhnya yang belum pulih dri luka.


Kedua pelatih itu kemudian meninggalkan barak setelah menyuruh prjurit yang lain untuk segera bersiap untuk menjalani tes.


“Yang sabar ya gan…,” ucap Rio yang sama sekali tidak membuat tenang Nio.


Justru Nio semakin menghela nafas berat dan berkata, “Tenang, aku yang akan tanggung jawab.”


Nio merasa panggilan Mayor saat ini adalah akibat dari aksinya yang membunuh prajurit musuh dan bukannya menangkap musuh.


Tentu saja sebagai pusat komando Regu Nio harus bertanggung jawab, baik perbuatannya sendiri maupun yang dibuat anggotanya.


Meski yang dilakukan anggotanya hal yang memalukan sekalipun, seorang pimpinan Regu harus tetap bertanggung jawab meski dirinya tidak terlibat kejadian itu.


Nio mengenakan seragamnya saat beberapa bagian tubuhnya masih tertutup perban. Beberapa prajurit dari bagian Regu 3 juga dengan keadaan seperti Nio dan mereka bergantian memberi semangat padanya.


**


Nio sudah terlanjur berada di depan pintu ruangan Sugeng berada, namun dia tidak segera mengetuk dan masih berdiri mematung di depan pintu.


“Sersan Nio, kenapa kamu masih disini!?” kata salah satu pelatih yang tiba-tiba muncul dan membuat Nio sangat terkejut hingga sedikit melompat.


“Siap, sa-saya sebenarnya sangat gugup,” jawab Nio dengan wajah yang tertunduk.


“Mau diberi penghargaan kok gugup.”


Pelatih itu kemudian mengetuk pintu dan memberi hormat saat menghadap Mayor Sugeng.

__ADS_1


Sementara itu Nio tidak langsung masuk kedalam ruangan, dia masih memikirkan apa yang dikatakan pelatihnya.


“Penghargaan, apa maksudnya?” batin Nio sambil memegang dagunya.


“Sersan Nio, cepat masuk…!” gertak pelatih yang tadi berbicara dengan Nio.


“Si-siap!” jawab Nio.


Dengan perlahan dia melangkah dan melewati garis pintu. Hanya ada 3 orang di ruangan ini, termasuk pelatih yang tadi berbicara dengan Nio.


Pelatih itu kemudian menutup pintu dengan rapat yang membuat Nio semakin tertekan dengan keadaan saat ini.


Sugeng memandang Nio dengan tatapan tajam yang menyebabkan keringat keluar semakin banyak dari dahi Nio.


“Apa kau sudah mendengar kabar itu?” tanya Sugeng pada Nio dan dia sangat menyadari prajurit dihadapannya terlihat sangat gugup.


“Siap!. Maaf saya tidak tahu kabar apa yang anda maksud!” jawab Nio dengan tegas dengan masih mempedulikan kegugupannya.


Sementara itu pelatih yang berdiri tegak di samping Sugeng berkata, “Apa mungkin kau belum mendengar kabar itu?”


“Letnan, jangan kau membuat Sersan Nio bertambah gugup!” ucap Sugeng sambil sedikit tersenyum yang membuat Nio terliaht heran.


“Siap!, mohon maafkan saya,” jawab Pelatih sambil sedikit tersenyum juga.


“Setelah masa pelatihan ini selesai, kau dan seluruh anggota Regu 3 akan menerima penghargaan atas keberhasilan kalian melumpuhkan 3 orang musuh yang kabur. Penghargaan yang akan kalian terima masih rahasia. Setelah pelatihan ini selesai, aku berharap hasil yang memuaskan darimu.”


Mendengar kabar itu, mata Nio terlihat berbinar hingga terlihat basah.


Kedua atasan yang ada dihadapan Nio bertepuk tangan dan senang dengan pencapaian prajurit muda itu.


“Sampaikan pada anggota Regumu juga,” ucap Sugeng. Dengan semangat Nio menjawab, “Siap!”


**


Pertemuan Nio dengan Mayor Sugeng sudah selesai, dan saat tiba di barak seluruh prajurit laki-laki yang sudah siap berlatih menatap Nio yang terlihat tertunduk.


“Anggota Regu 3, segera keluar dan ikut aku!” perintah Nio yang membuat prajurit laki-laki anggota Regu 3 segera menyelesaikan persiapan berlarih mereka.


Tentu saja anggota Regu 3 yang laki-laki tidak tahu kenapa Nio memerintahkan mereka untuk mengikutinya.


Nio sebelumnya juga sudah memberi tahu anggota Regu 3 yang perempuan untuk berkumpul di tempat yang sudah dia tentukan.


Beberapa saat kemudian seluruh anggota Regu 3 berkumpul dihadapan Nio yang terlihat tersenyum.


Mereka semua bertanya-tanya tentang kenapa Nio dapat tersenyum setelah menghadap Mayor Sugeng.


“Langsung saja, setelah pelatihan ini selesai kita semua akan mendapatkan penghargaan karena berhasil melumpuhkan musuh,” ucap Nio yang disambung dengan sorakan seluruh anggota Regu 3.


Namun salah satu dari 10 orang yang ditugaskan Nio menjaga desa kemarin mengangkat tangan dan berkata, “Mohon ijin untuk bicara.”


“Ya, silahkan,” jawab Nio.


“Yang kami lakukan hanya menjaga desa, kenapa kami juga bisa mendapatkan penghargaan?”


“Ya, karena menjaga warga dari bahaya bukankah juga perlu dihargai?. Kalian yang menjaga desa kemarin juga akan mendapatkan penghargaan, namun berbeda dengan yang kelompok pencari dapatkan.”

__ADS_1


Setelah perkataan Nio tersebut seluruh anggota Regu 3 bersorank hingga melompat-lompat saking senangnya.


Beberapa prajurit dari Regu lain yang menyaksikan hanya dapat bertanya-tanya apa yang terjadi hingga seluruh anggota Regu 3 terlihat sangat kegirangan.


__ADS_2