Prajurit SMA

Prajurit SMA
136. Mungkin dia pakai pelet


__ADS_3

“Kerusakan..?”


Maslac menatap dengan ekspresi pahit pada keadaan pasukannya yang hampir dihancurkan oleh tembakan timah panas yang tak terhitung jumlahnya, dan dengan terpaksa mundur dari pertempuran, namun ini menjadi perintah mundur yang buruk.


“Sekitar 6.000 orang tewas, dan puluhan ribu mengalami luka berat. Satu-satunya yang kami dapatkan adalah informasi bahwa musuh masih memiliki daya tempur yang sangat kuat.”


Saat salah satu perwira korps ke-8 Pasukan Aliansi menjawab, Maslac menghela napas dengan sangat panjang. Mengernyitkan wajah dengan kelam karena kelelahan, dan merasakan detak jantung meningkat.


Setelah bertempur di Kota Aibu, Maslac adalah salah satu orang di Pasukan Aliansi yang sudah merasa paling paham tentang cara melawan Pasukan Ekspedisi.


Menurutnya, Pasukan Ekspedisi adalah pasukan dengan daya tempur seperti ‘mesin’, dan kemampuan teknis mereka tidak tebayangkan. Itu adalah kemampuan yang seperti dimiliki Pahlawan Amarah, yang dia ketahui berasal dari negara yang sama dengan Pasukan Ekspedisi. Mengingat dia pernah melihat Rio berlatih menembak dengan ‘senapan sihirnya’, Maslac merasa jika senjata semacam itu memiliki kelemahan. Namun tetap saja, meski dia berpikir hingga hari pertempuran tiba jawaban tetap tidak ditemukan.


Pasukan Ekspedisi memiliki mobilitas yang luar biasa, dan kapasitas angkut yang bahkan melebihi kuda terbaik di dunia. Serta, daya serang yang sangat besar, dan setelah melakukan serangan secara terpusat, itu tidak bisa dihentikan menggunakan perisai terkuat yang dimiliki Pasukan Aliansi.


Dan Maslac mendapatkan pelajaran baru pada pertempuran ini. Meskipun daya serang Pasukan Ekspedisi telah menurun meski hanya sedikit, dia masih bisa berpikir memiliki kekuatan yang cukup untuk mengalahkan Pasukan Ekspedisi tergantung bagaimana menggunakan pasukannya.


Maslac telah mempelajari beberapa istilah dari Rio dan para pahlawan yang mengetahui sesuatu mengenai pasukan Indonesia. Dia telah mendapatkan beberapa istilah yang berhubungan tentang persenjataan dan militer dari dunia lain, contohnya: peluru, rudal, brigade, kompi, peleton, kendaraan taktis.


“Selama menjadi panglima, aku tidak pernah kehilangan banyak prajurit dalam hari pertama pertempuran. Untuk menghadapi kekuatan musuh yang luar biasa, kami tidak punya pilihan selain menghadapi peluru dengan tubuh prajurit, lalu mengerahkan Pahlawan Amarah, Pahlawan Kesedihan, dan Pahlawan Iri Hati… sungguh cerita yang menyedihkan!”


Dibandingkan dengan pertempuran yang dilakukan selama Pasukan Ekspedisi tiba di dunia ini, Kekaisaran kehilangan sebanyak lebih dari 30.000 prajurit. Dan pada hari ini lebih dari 6.000 prajurit Pasukan Aliansi tebunuh dalam hari pertama pertempuran. Tentunya jika pada pertempuran pasukan dapat meraih kemenangan, kehilangan banyak pasukan bukanlah masalah, namun akan berbeda cerita jika kehilangan banyak prajurit dalam keadaan kalah.


Namun tetap saja, para prajurit pasti memiliki keluarga, meskipun mereka adalah prajurit yang tidak berguna.


Maslac tidak bisa menghilangkan tujuan perang dari pikirannya hanya untuk meminta maaf didepan keluarga prajurit. Pertarungan ini tidak bisa dihentikan meski kehilangan puluhan ribu prajurit.


Satu-satunya cara untuk memberi hadiah kepada teman yang mati adalah menang, bahkan jika pasukan tebunuh lebih banyak.


Maslac kemudian memerintahkan para perwira Korps ke-8 Pasukan Aliansi untuk mengumpulkan prajurit yang masih hidup dan memberi mereka perawatan.


Para bawahannya mengerutkan kening setelah mendengar ucapan Maslac. Ketika pasukan hanya membawa sedikit korps medis, itu tidak bisa membantu jika prajurit yang terluka berjumlah puluhan ribu orang.


“Jangan seperti itu, lakukan segera supaya kita bisa cepat mengalahkan pasukan dunia lain itu. Perang ini adalah ujung tombak kita. Paling tidak, pertempuran selanjutnya kita bisa mempermalukan mereka dengan bantuan para pahlawan.”


Kenyataannya, Maslac mengatakan itu dengan sangat terpaksa. Sejujurnya, dia tidak terlalu menyukai kekuatan luar biasa yang dimiliki para pahlawan, terutama Pahlawan Nafsu yang bisa menciptakan sesuatu yang pernah dia lihat dengan sihir kuno buminya.


Bahkan jika Pahlawan Nafsu menciptakan senjata semacam senapan, itu tidak menjamin kemenangan. Karena pastinya Pasukan Ekspedisi memiliki cara untuk menghadapi peluru dari senapan dan senjata api lainnya. Meski ide untuk mengalahkan teknologi dengan teknologi adalah pilihan yang sangat bagus.


Namun, yang menyebabkan para prajurit yang terluka tidak terlihat kesakitan adalah penyebab dari ‘narkotika’ yang diciptakan oleh Pahlawan Iri Hati. Karena pahlawan itu memiliki ilmu untuk membuat narkotika yang menyebabkan seorang prajurit tak takut dengan kematian. Mirip yang dilakukan para petinggi pasukan Jerman pada para prajuritnya ketika Perang Dunia II.


Namun, prajurit dunia ini yang tidak mengenal obat tablet atau bubuk cukup menyulitkan.


“…Dan mereka hanya bisa menelan narkotika yang diencerkan.” Pahlawan Iri Hati yang menangani masalah narkotika menggumamkan hal ini. Dia mengaku berasal dari Amerika Serikat, dan mantan apoteker yang paham mengenai obat-obatan terlarang.


Jika Pasukan Ekspedisi mendengar jika prajurit Pasukan Aliansi mengkonsumsi narkotika pada pertempuran, harapan pencipta narkotika ini adalah membuat mereka resah. Tetapi, Maslac dan Pahlawan Iri Hati adalah bagian dari militer, bukan pengedar narkoba. Dan karena tidak ada hukum mengenai pembatasan penciptaan dan penggunaan obat, maka narkotika jenis ini diperlakukan seperti obat biasa.


Sebelum terciptanya narkotika jenis ini, moral Pasukan Aliansi, dimana kebanyakan adalah rekrutan yang memiliki daya tempur lemah sangat rendah. Terlebih lagi luka tembak yang diciptakan peluru Pasukan Ekspedisi sangat sulit disembuhkan, bahkan pahlawan juga sangat kesulitan. Luka seperti itu konon lebih menyakitkan dari tebasan tombak dan pedang, dan membuat moral menurun.


Itulah mengapa sangat penting untuk memelihara rasa persatuan militer dan memperkuat komando agar para prajurit tidak saling meninggalkan teman yang terluka.


Akibatnya, pasukan yang akan melakukan pertempuran selanjutnya memerlukan narkotika serupa dengan dosis yang mampu mereka melakukan pertarungan tanpa takut mati.

__ADS_1


(Note: kandungan dalam narkotika yang diciptakan Pahlawan Iri Hati yang berasal dari Amerika Serikat mirip dengan Pervitin yang digunakan pasukan Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Dan menggunakan bahan yang sudah diteliti sebelunya yang bisa menghasilkan efek yang sama dengan narkotika tersebut.)


“Tuan Maslac, ada efek samping yang berbahaya jika prajurit mengkonsumsinya berlebihan,” Pahlawan Iri Hati mencoba menghentikan rencana Maslac secara refleks.


“Jangan khawatir. Ada satu hal lagi yang kupelajari dalam pertempuran ini. Musuh menarik pasukan kita sampai batasnya kemudian menembak hanya pada jarak tertentu. Dalam mencapai jarak tersebut, prajurit pasti akan terkena serangan dari musuh terlebih dulu. Karena itu, mereka perlu sesuatu yang dapat membuat mereka bertempur dengan daya yang luar biasa. Lagipula, musuh pasti sudah kehilangan sebagian amunisi mereka.”


Keberanian untuk mengambil resiko, bagaimanapun Pasukan Aliansi membutuhkan orang lebih banyak seperti Maslac, dan membawa tradisi Kekaisaran yang tak pernah kalah perang.


**


Ribuan prajurit Pasukan Ekspedisi yang terdiri dari Pasukan Utama dan Tentara Pelajar berbaring dan bersandar di parit pertahanan, dan berusaha senyaman mungkin seperti di surga. Wajah mereka ditutupi dengan debu dan noda yang menyebabkan wajah sedikit menghitam. Wajah mereka menunjukkan kelegaan dan kelelahan setelah pertempuran yang melelahkan. Kabar baiknya, hanya puluhan korban luka ringan, dan tidak ada prajurit yang gugur.


Mereka adalah Prajurit Ekspedisi yang bertempur sangat jauh dari rumah. Berjuang dan mencoba memberikan yang terbaik hingga bantuan yang diharapkan tiba, meski kemungkinan untuk bantuan datang sangat kecil menurut sebagian besar prajurit. Nio menggigit bibir bawahnya, seakan-akan bisa merasakan rasa darah dan daging orang lain dimulutnya.


“Bahkan jika yang kita nantikan hanyalah kematian, apa gunanya kita berjuang jika tidak bisa pulang?”


Suara salah satu anggota Regu penjelajah 1, Kopral Dua Roni, terdengar sangat menyedihkan. Nio tersenyum sedih setelah mendengar perkataan anggotanya, dan memukul keras helm Roni.


“Kalau begitu, berjuanglah mati-matian hingga tiba-tiba pertempuran selesai dan kemenangan kita raih saat kau tidak menyadarinya. Itu adalah pilihan, dan sebagai prajurit kita akan terus hidup dengan terus berjuang.”


Dan justru karena mereka terus berjuang inilah para prajurit mampu menatap, menantang, dan menghadapi kematian yang menunggu mereka.


Saat ini seluruh prajurit masih berada di posisi masing-masing, meski hari sudah malam. Beberapa kelompok pasukan pengungsi membawa keranjang yang bersisi makanan dan minuman untuk dibagikan ke seluruh prajurit tanpa melewatkan satu orangpun. Terutama bagi Nio, dia dan seluruh anggota Regu penjelah 1 masih harus berada di dalam parit terdepan dengan kedalaman 1 meter, beberapa prajurit nampak tertidur dengan bersandar di dalam parit.


Nio menatap seseorang yang berdiri di atasnya, karena posisi Nio yang berada di dalam parit. Cahaya bulan biru dan kemerahan tidak bisa menembus keanggunan milik Lux dan Zariv yang membantu membagikan konsumsi ke seluruh prajurit yang sudah berjuang hingga kelelahan. Bintang yang nampak dari dunia ini berkilauan, sama seperti kedua gadis di atasnya yang menglurkan tangan untuk memberikan beberapa bungkus nasi dan air putih.


Lalu, seketika Lux menarik tangan Nio dan membuatnya berdiri untuk bisa melihat keluar parit yang Regu penjelajah 1 pertahankan. Hal pertama yang Nio lihat adalah ribuan prajurit yang sangat sibuk meski kelelahan, dan nampak bersenang-senang meski baru beberapa jam beristirahat dari pertempuran. Ribuan obor menerangi benteng, dan para prajurit mengelilinginya sambil memamerkan jumlah korban yang mereka peroleh.


Fakta bahwa Pasukan Ekspedisi mampu bertahan dalam pertempuran pertama adalah hal menakjubkan, karena mereka bertempur dengan amunisi yang sangat terbatas. Jadi, ketika mendengar pasukan bajingan mundur, Nio bisa menghembuskan napas lega, dan berhasil melakukan tugas tanpa mengorbankan satu pun anggotanya.


Tak jauh dari tampat Nio berada, seluruh anggota laki-laki menatap tajam ke arah Fariz yang sedang membersihkan wajah Sidik dari noda hitam. Terutama Nio, dia mendekati mereka dengan tatapan tajam, lalu berjongkok yang menyebabkan pasangan tersebut gugup.


“Apa kalian berpacaran?” Nio bertanya dengan nada datar.


“Apa salahnya kalau mereka berpacaran, Nio…?”


Sebuah suara seorang perempuan yang mengejutkannya membuat Nio seketika berdiri untuk melihat keluar parit supaya bisa melihat sumber suara.


“Herlina… tidak, bukan begitu. Aku hanya iri dengan yang punya pacar.”


Tatapan tajam beralih ke Nio, dan kali ini orang yang memberinya tatapan tajam jauh lebih banyak. Bahkan orang yang berjalan dan mendengar ucapan Nio berhenti untuk memberinya tatapan tajam yang penuh arti. Tatapan mereka membuat medan perang ini semakin mencekam.


“Kalau begitu dengan aku saja…” Herlina menyela dengan wajah kemerahan karena mengucapkan perkataan itu.


Nio menghela napas, dia tidak mengerti mengapa seorang Kapten bisa berbicara seperti itu kepada seorang Pembantu Letnan Satu. Jadi, tidak mungkin menjawab perasaan Herlina sekarang karena pangkat mereka yang terpaut cukup jauh.


Napas Herlina tersangkut di tenggorokan. Melihat wajah tampan Nio yang tersenyum kecut ketika menjawab pernyataan perasaanya.


Namun, bukan berarti Nio menolaknya, karena Nio hanya berbicara tidak mungkin untuk sekarang membuat hubungan dengan orang yang berpangkat lebih tinggi darinya. Jadi, jika Nio sudah mencapai minimal satu pangkat lebih tinggi darinya, Herlina masih memiliki kesempatan untuk memiliki hati Nio.


Lalu, ada dua gadis yang mendekati Herlina ketika dia berbicara dengan Nio, kemudian bertambah satu gadis lagi. Lux, Zariv, dan Edera duduk bersebelahan dengan Herlina untuk bergabung dengan pembicaraan ini.

__ADS_1


Itulah hal yang membuat Herlina ragu jika pilihan Nio jatuh kepadanya, karena dia mendengar ada cukup banyak perempuan yang tertarik pada Nio, bahkan para perwira selain dirinya.


Herlina membuang bungkus plastiknya dengan sembarangan, dan bersandar di karung yang bersisi tanah dengan wajah kesal karena ada tiga gadis yang berbicara dengan Nio sementara dirinya seakan diabaikan.


“Apa dia tidak sadar ada banyak perempuan yang tertarik dengannya?”


“Apa aku boleh menghajar dia sekarang?”


“Sialan, kenapa komandan bisa didekati banyak cewek?”


“Mungkin dia pakai pelet…”


**


“Jadi kita hanya bisa mengumpulkan 22.000 prajurit ya…?”


Suroso berdiri di atap salah satu bangunan yang menjadi Markas Besar Pasukan Ekspedisi. Bangunan 10 lantai ini menjadi salah satu bangunan yang dibeli dari warga sipil Kota Karanganyar untuk mempermudah berhubungan dengan dunia lain. Dan pada hari ini, suasana kota hampir mirip dengan keberangkatan pertama Pasukan Ekspedisi ke dunia lain.


Ada puluhan ribu prajurit laki-laki dan perempuan yang berbaris di depan tugu peringatan, yang dulunya berdiri Gerbang sempurna. Selain prajurit, berbaris juga ratusan kendaraan dan peralatan tempur yang siap dikirimkan ke dunia lain sebagai bantuan.


Suroso menatap ke bawah, ke arah ribuan prajurit dari beberapa garnisun di Indonesia untuk dikirimkan ke dunia lain sebagai bala bantuan Pasukan Ekspedisi yang sedang berjuang di sana. Di dalam pasukan terdapat 500 prajurit yang berasal dari dua negara sekutu Indonesia. Tentu saja mereka juga membawa persenjataan terbaik yang dimiliki untuk diuji coba dengan pasukan musuh.


Duta besar Korea Utara dan Presiden Rusia berdiri di samping Suroso setelah menaiki ratusan anak tangga untuk mencapai atap bangunan ini. Dibelakang mereka terdapat 6 prajurit Tentara Pelajar yang melakukan tugas pengawalan.


Keberangkatan 250 prajurit Rusia dan 250 prajurit Korea Utara akan dicatat di sejarah. Karena mereka akan menjadi negara kedua dan ketiga setelah Indonesia sebagai negara yang akan menginjakkan kaki di dunia lain. Lagipula, permintaan Indonesia yang membutuhkan bantuan tidak bisa diabaikan oleh kedua negara terkuat di dunia saat ini dalam hal militer.


Kedua negara tersebut tidak bisa mengabaikan Indonesia yang telah bertukar teknologi kapal perang, dan teknologi militer lainnya. Dalam waktu 200 tahun, Indonesia telah menjadi negara dengan kekuatan laut terkuat di Asia, beberapa pihak mengatakan jika TNI AL adalah penjaga Semenanjung Asia Tenggara. Karena itu, ada beberapa negara yang tertarik bersekutu dengan Indonesia, dan Rusia serta Korea Utara adalah negara terkuat di daftar negara sekutu.


Tentu saja keberangkatan pasukan kedua negara tersebut membuat negara-negara lain merasa iri, dan mendesak Indonesia untuk mengajak mereka juga, terutama Amerika dan Uni Eropa yang ingin mengirimkan pasukan mereka meski tidak diminta. Tentu saja penolakan adalah jawaban bagi desakan mereka.


“Presiden Suroso, apa menurut anda jumlah pasukan yang kami kirimkan tidak terlalu sedikit?”


“Benar apa yang dikatakan Duta Besar Kim, Rusia bersedia mengirimkan 2.000 tentara lagi jika diperlukan.”


Suroso menatap kedua orang penting dari masing-masing negara sekutu Indonesia dengan tatapan haru. Harapan mereka untuk mengirimkan pasukan yang lebih besar adalah menyelamatkan Pasukan Ekspedisi di dunia lain.


Kedua pria tersebut hanya ragu jika hanya mengirimkan 250 tentara dari masing-masing negara dan persenjataan terbaik mereka sebagai bantuan, dan bisa meraih kemenangan. Karena batas waktu operasi ini hanya satu bulan, mau menang atau tidak dengan terpaksa Rusia dan Korea Utara menarik pasukannya dari dunia lain.


Ada puluhan kamera milik wartawan dari ketiga negara untuk merekam sejarah ini, dimana beberapa jam lagi pasukan bantuan akan memasuki Gerbang yang akan dibukakan penyihir elit Kerajaan Arevelk. Setelah pidato dari ketiga politikus tersebut, pasukan akan diberangkatkan ke dunia lain.


Beberapa tentara Rusia dan Korea Utara berbincang-bincang bersama teman mereka, dan penasaran seberapa kuat pasukan dunia lain. Tentu saja beberapa dari mereka hanya tertarik dengan perempuan dunia lain yang dikatakan cukup menawan. Beberapa tentara dari kedua negara adalah orang yang pernah menghadapi pasukan dunia lain dalam perang sebelumnya, dan kini mereka akan berhadapan dengan pasukan dunia lain lagi.


10 helikopter serang dari Garnisun Magetan baru saja tiba, dan puluhan peluncur roket besar diangkut di kendaraan khusus sebagai persenjataan tambahan. Jumlah besar, baik dalam hal prajurit dan persenjataan diharapkan mempercepat berakhirnya perang, dan pernyataan damai dari negara-negara yang berperang dengan Indonesia.


Meski begitu, para warga sipil yang menyaksikan dari langsung maupun dari siaran TV tetap melihat dengan bangga para prajurit yang tengah berbaris dan mempersiapkan diri untuk berperang. Ada beberapa perempuan dan anak-anak di tengah barisan yang mengucapkan selamat tinggal pada mereka. Memikirkan orang-orang yang ditinggal, hanya doa yang bisa para keluarga prajurit bisa berikan untuk keselamatan.


“Presiden Provolfsky dan Tuan Kim Sun An, terimakasih sudah mengkhawatirkan. Namun kita masih tidak tahu kekuatan sebenarnya dari musuh kami. Jadi, menurut kami untuk meminta kalian mengirimkan bantuan kecil saja sudah terlalu berlebihan.”


Pasukan Ekspedisi di sana seharusnya melindungi tanah air mereka, tetapi mereka sekarang sudah terpojok, dan masih berharap. Ini akan menjadi pertarungan yang sangat sulit, tapi ini bukan akhir karena harapan sebentar lagi akan terwujud.


Pasukan bantuan ini harus membantu sebanyak mungkin Pasukan Ekspedisi untuk bertahan. Itu adalah salah satu kebanggaan prajurit yang melindungi tanah airnya. Setidaknya, jika tidak bisa memenangkan pertempuran, pasukan bantuan bisa membantu mereka untuk menyelamatkan diri, ini semua demi teman.

__ADS_1


Menurut Provolfsky dan Kim Sun An, mereka harus membantu sebanyak mungkin sekutunya untuk memenangkan perang. Pasukan Ekspedisi seharusnya menikmati masa damai ini juga, dan mereka akan membawakan hal itu sesegera mungkin. Tentu saja untuk membawa perdamaian adalah kehormatan bagi seorang prajurit.


__ADS_2