Prajurit SMA

Prajurit SMA
63. Chapter spesial: Pemilik TNI


__ADS_3

Apa yang mereka lakukan terhadap para babi-babi itu, tidak akan pernah dianggap sebagai perbuatan yang kejam dan tidak manusiawi. Di dunia ini, membunuh babi bukanlah tindak kejahatan.


(Olog)


**


Ini adalah sebuah negara yang berada di kepulauan tenggara Benua Asia.


Negara ini dilahirkan dari darah para kesatria pemberani jaman dulu, dan bunga-bunga yang mekar dari langit. Atau mungkin bunga-bunga itu tumbuh dari sungai darah yang disebabkan para kesatria yang gugur sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.


Para kesatria yang berjuang untuk melahirkan negara ini rela terbantai demi melawan para orang bar-bar yang datang dari barat. Orang-orang barat itu suka memanggil para kesatria pemberani kita sebagai ‘babi’.


Sebuah ironi pedas yang tidak akan pernah dilupakan rakyat masa itu. Rasa jijik dan kebencian menusuk hati dengan dalam. Tetapi ada sesuatu yang melampaui kebencian dan amarah terhadap para penindas mereka.


Ada sebuah hal yang jauh lebih pantas diperjuangkan.


Warna merah untuk keberanian, dan putih sebagai lambang kesucian mereka lukis di sebuah kain. Namun kain itulah yang akan mereka lindungi dengan darah dan daging agar tetap dapat berkibar hingga sekarang.


Warna langit yang berubah menjadi merah, terlihat sejauh mata memandang. Diterangi sinar matahari berwarna jingga, membakar semuanya dan menciptakan ketidak ada apa-apaan, kecuali kegilaan perang.


Secara umum, tidak ada prajurit yang dianggap manusia atau dihitung diantara orang mati di medan perang. Namun, itu berarti tidak ada yang mati.


Prajurit yang gugur tidak akan mati, mereka akan bereinkarnasi ketubuh prajurit yang akan meneruskan perjuangan.


Dalam situasi mereka dikepung dan diserbu oleh musuh, mereka membutuhkan seseorang untuk menghilangkan rasa frustasi. Pembenaran ini menyebar luas di antara rakyat.


Hingga pada akhirnya, para pendiri negeri ini bersatu untuk melawan para orang-orang barat itu. Meski mereka berjuang dengan cara yang tidak sama, namun tujuan mereka sama. Yakni memerdekakan negeri ini dari para ‘babi buatan barat’ itu.


Cara pandang para pejuang negeri ini ada dua, ‘perang dengan senjata’ dan ‘perang dengan pena’. Kedua cara perang tersebut sama-sama kuat, hanya cara kerjanya saja yang berbeda.


Perjuangan yang tidak sebentar, korban yang tidak sedikit, dan perang yang berkobar di seluruh kepulauan ini, akan terus berlanjut hingga ratusan tahun kedepan.


Perang selama ratusan tahun itu baru berhenti setelah momen paling bersejarah negeri ini akhirnya dilaksanakan.


**


Penyiar berita memuji taktik manusiawi TNI, yang mengharuskan musuh dari dunia lain kalah dengan cepat dan begitu seterusnya. Para rakyat pasti bertanya-tanya mengenai berita yang terus disiarkan berulang kali. Sayangnya saluran berita yang disiarkan adalah milik pemerintah.


Suara-suara warga sipil terdengar di penjuru kota besar di negeri ini. Mereka menuntut pemerintah untuk mengurangi anggaran militer demi kesejahteraan umum yang semakin sulit untuk diabaikan.

__ADS_1


Padahal perang ada ditengah mereka, namun perang itu tak terlihat karena letaknya yang jauh.


Sekelompok warga sipil menganggap jika perang ini tidak lebih dari bagian produksi sebuah film fiksi fantasi, tidak ada realitas dan mereka tidak akan terlibat.


Tetapi mereka sama sekali tidak mengerti bahwa musuh sedang melakukan kekejaman yang jauh lebih parah daripada yang dilakukan ‘babi barat’ itu.


Dan jika para prajurit bertanya pada mereka, mereka hanya akan melihat dengan iba dan berkata, “Apa kalian tidak bisa membedakan babi dan orang-orang?”


Mereka hanya tidak pernah menjadi seorang TNI, dan merasakan menjadi ‘babi’ itu sendiri. Mereka hanya belum pernah melihat babi yang tertusuk panah, ditebas pedang dan melihat peyiksaan serta perampasan kehormatan. Namun mereka bisa-bisanya memerintahkan para kesatria itu untuk berkorban demi mereka.


Pada suatu negara, pasti ada sekelompok rakyat yang bermasalah.


‘Kami adalah warga Indonesia. Kami lahir dan besar disini. Dan itulah mengapa kita harus….’


**


Para kesatria muda telah lahir, mereka adalah para muda-mudi yang bersedia melawan musuh dari dunia lain.


Kelahiran sekelompok pemberani tidak lepas dari rasa ragu orang-orang, meremehkan dan merendahkan. Bahkan para kesatria muda ini mereka anggap akan cepat mati sebelum mencapai medan perang.


Para prajurit muda ini masih percaya dengan yang namanya ‘keberuntungan’. Didalam perasaan para pemuda, hasrat untuk kebebasan adalah yang paling besar.


Tetapi di medan perang tidak ada yang namanya belas kasihan, apalagi keberadaan keberuntungan sangat kacil di medan perang.


Sesuatu hal yang dipikirkan buruk terlebih dahulu akan berakhir sempurna, baik dan bahagia. Meski tidak semua hal akan berakhir seperti itu.


Para prajurit muda ini tidak dapat beraksi dengan bebas dan ‘elegan’


“Biarkan aku tampil dengan keren…!!!” begitulah teriak mereka jika medan aksi terpampang di depan mata.


Namun mereka terikat dengan peraturan dan sumpah prajurit yang telah diucapkan saat menjadi prajurit muda. Aksi yang bebas akan mereka dapatkan jika perang itu milik mereka sendiri.


**


Setelah peperangan yang sangat menghancurkan, melelahkan dan hampir membuat kolam darah, para prajurit dapat kembali beraksi dengan percaya diri.


“Apa mereka sangat gila perang?”


Tentu saja!, karena itulah tugas para prajurit. Jadi, jangan harap saat ada medan aksi yang baru diangkat dari pemanggang akan mereka diamkan saja.

__ADS_1


Namun, bagaimana jika medan aksi itu hanya ada satu saja? Jawabannya, tentu saja para prajurit akan menjadi sangat cemburu.


Jika yang cemburu hanya satu orang, itu bukan masalah. Namun jika yang cemburu adalah ratusan batalyon? Pembangkan pasukan mungkin bisa terjadi.


Mereka akan iri, depresi, kesal dan marah saat terdapat sebuah pasukan yang mendapatkan lebih banyak porsi di medan aksi. Mereka ingin menunjukkan potensi yang dimiliki di medan aksi.


Sedangkan jika yang mereka lakukan hanya diam, sama saja dengan mati.


Dengan senjata yang jauh lebih brutal, mereka bisa membuat ketakutan dan keputus-asaan yang sebenarnya untuk musuh dari dunia lain.


TNI tidak pernah lelah.


TNI tidak pernah melanggar peraturan.


TNI tidak mengenal siapa itu ketakutan.


TNI tidak peduli berapa banyak pasukan musuh yang akan dihancurkan.


Unit-unit keluar dari hutan dan kota untuk menghabisi setiap musuh yang keluar dari Gerbang.


Berlawanan dengan apa yang dikatakan sekelompok rakyat yang bermasalah, Tentara Pelajar jauh lebih mematikan daripada sekelompok penunggang naga yang musuh gunakan.


Masyarakat lebih suka memanggil mereka dengan julukan 'Prajurit SMA'.


Gagasan untuk bertempur dengan kerugian besar tidak pernah terpikirkan. Para kesatria muda itu akan tetap kembali dengan jumlah yang sama.


Tanpa merelakan cita-cita yang harus didapatkan dimasa depan, prajurit muda menyingkirkan sedikit demi sedikit halangan yang berupa keparat dunia lain. Cita-cita yang berharga akan sangat sulit dijangkau.


Musuh yang berani menghancurkan wajah cantik ibu pertiwi, akan segera dimusnahkan para kesatria negeri ini.


Melindungi Tanah Air adalah tugas dan kebanggaan warga negara Indonesia. Tidak ada dasar bagi mereka untuk mengorbankan jiwa demi perang bodoh ini.


Hingga masalah ini tidak terbawa di hati lagi.


Ini hanyalah bentuk pelarian yang memungkinkan mereka menipu diri sendiri, daripada menghadapi masalah tersebut.


Menjadi toleran terhadap musuh atas nama ‘kemanusiaan’, sama saja dengan mendukung musuh.


Setelah menghadapi penekanan, hinaan dan hampir terperangkap dalam rasa frustasi, para TNI kembali menjadi diri mereka sendiri. Yakni sebuah pasukan berani mati yang tidak boleh siapapun mengusik Republik Indonesia.

__ADS_1


TNI adalah milik rakyat Indonesia yang ingin dilindungi oleh mereka.


Pertahankan Republik dengan hidupmu…!!!


__ADS_2