Prajurit SMA

Prajurit SMA
57. Sebuah rencana


__ADS_3

Tahun 1914 Kekaisaran Luan, siang hari.


**


Dua fraksi yang membelah pemerintahan kekaisaran ini berkumpul di bangunan yang menjadi pusat parlemen Kekaisaran Luan, atau jika di Indonesia bisa disebut dengan Gedung DPR/MPR. Tentu saja anggota dua fraksi ini duduk di tempat yang terpisah, tetapi berhadap-hadapan dengan memperlihatkan tatapan membenci satu sama lain.


Kaisar Bogat duduk di satu tempat yang terpisah dengan para anggota fraksi, wajahnya menunjukkan kecemasan atau semacam itu. Bahkan beberapa kali dia menghela napas karena harus membuat pertemuan ini.


Pertemuan ini tentu saja membahas kelanjutan perang, terutama salah satu tempat pasukan mereka dikirimkan. Pasukan negara itu telah mengurangi 80% kekuatan militer kekasiaran Luan, bahkan hampir memusnahkan kekuatan udara mereka yang berupa wyvern dan naga.


Pada peperangan yang belum lama terjadi, militer kekasiaran Luan kehilangan 70% kekuatan armada laut mereka yang keluar dari Gerbang di Samudera Hindia. Di lokasi tersebut-lah kekuatan laut terbesar kekaisaran ini keluar. Itu artinya, mereka berperang dengan dua negara yang berada didekat Samudera Hindia.


Meski jumlah armada laut musuh yang melawan pasukan mereka jauh lebih sedikit, tetapi persenjataan yang dimilki sangat jauh berbeda.


Saat melawan salah satu negara yang berada di dekat Samudera Hindia, armada laut Kekaisaran Luan tidak terlalu merugi. Namun saat melawan negara yang satunya, armada laut mereka seperti diserang tanpa ampun hingga hancur.


“Sebenarnya negara macam apa yang berani menghancurkan armada laut terkuat di Benua Andzrev ini, Kaisar?” tanya salah satu anggota fraksi militer yang merupakan salah satu jendral angkatan darat negara ini.


“Ya…, mereka bahkan dapat memiliki sihir yang dapat membuat tengah malam menjadi seterang siang hari,” ucap salah satu anggota fraksi militer yang selamat dari pertempuran melawan armada laut Indonesia.


Jumlah selamat dari pertempuran melawan Indonesia di pihak Kekaisaran Luan dapat dihitung dengan seluruh jari yang dimiliki manusia.


Komandan salah satu kapal perang Kekaisaran Luan yang mendapatkan tugas menyerang wilayah Indonesia dari Samudera Hindia memiliki firasat buruk tentang pertempuran yang akan mereka hadapi. Sehingga dia lebih memilih untuk menempatkan kapalnya di barisan paling belakang.


Pilihan si komandan sangat tepat, saat hampir seluruh armada laut negaranya yang berjumlah ratusan dihancurkan oleh lawan mereka yang berjumlah puluhan kapal, hanya kapal beserta sebagian pasukannya yang berhasil mundur dan memasuki Gerbang lagi.


Bogat hanya mengusap wajahnya dengan tangannya, dia sekarang sudah merasa sangat pusing dengan peperangan ini.


Dia tidak hanya lelah pikiran, tetapi juga mengelami lelah fisik. Apalagi dia setelah pertemuan ini harus menghadiri pertemuan 6 pemimpin negara yang berada di Benua Andzrev.


“Aku belum pernah melihat kapal yang terbuat dari besi dan dapat mengambang, serta dapat melaju tanpa bantuan angin dan dayungan. Apa militer negara itu hanya berisi penyihir?” ucap salah satu anggota fraksi militer.


Fraksi perdamaian terus mendebat fraksi militer yang membuat militer negara ini hampir hancur. Namun berbagai argumen dilontarkan anggota fraksi militer untuk membela diri. Tapi tetap saja anggota fraksi perdamaian tidak dapat menerima berbagai alasan yang diberikan fraksi militer.


Karena argumen pihak yang kalah akan sangat jarang diterima, kecuali jika terdapat beberapa fakta di argumen tersebut.


Militer dunia lain, khususnya Indonesia tidak ada yang memiliki sebuah teknologi fantasi yang oleh mereka disebut dengan ‘sihir’. Itulah opini yang belum tentu kebenarannya, kecuali orang yang sudah pernah pergi ke dunia lain.


Namun orang yang sudah pernah pergi ke dunia lain, juga belum tentu dapat memberikan pendapatnya. Karena pengetahuan tentang dunia lain mereka yang sangat terbatas hanya akan menjadi fantasi masyarakat di dunia ini.


Sementara Bogat hanya menyangga pipinya dengan tangan kanannya, suasana panas di tempat ini hanya membuatnya semakin pusing.


Pertemuan parlemen kedua fraksi semakin memanas saat seseorang datang tanpa permisi dan tiba-tiba muncul di tengah ruangan parlemen.


“Apa kau memanggilku, ayah…?” ucap seorang prajurit perempuan dengan sebuah luka gores diwajahnya yang merupakan anak dari Bogat.


Jika dilihat dari bekas lukanya, goresan tersebut berasal dari benda tajam seperti pedang atau semacamnya.


Seluruh orang di tempat ini seketika diam dan hanya bernafas sambil memikirkan kata-kata yang akan mereka katakan nanti jika diperlukan.


“Ya. Sebelumnya aku ingin bertanya padamu, Sheyn”


“Apa itu ayah?”


“Apa kau ingin pergi kedunia lain bersama pasukanmu?”

__ADS_1


Mata Sheyn seketika melebar saat mendengar perkataan ayahnya itu. Seluruh orang di tempat ini juga terlihat sangat terkejut dengan perkataan kaisar mereka.


Sheyn hanya menunduk, seperti memikirkan jawaban paling tepat menurutnya.


“Untuk apa ayah memerlukan pasukan ku?” tanya Sheyn dengan wajah yang masih ragu-ragu.


“Tentu saja pasukanmu telah diperlukan, tentu saja kalau pasukan milikmu bukan hanya pajangan saja,” jawab Bogat dengan wajah seperti meremehkan.


Alis Sheyn menurun tajam setelah mendengar jawaban dari ayahnya. Didalam hatinya, tentu saja dia merasa kesal karena pasukan yang ia bentuk sendiri diremehkan dengan sebutan ‘pajangan’.


**


Sheyn memasuki militer saat masih berusia 10 tahun, setahun setelah kematian ibunya karena sakit keras. Tujannya untuk bergabung dengan militer adalah agar dapat keluar dari kesedihannya setelah kematian sang ibu.


Bersama seorang pengawal pribadinya, Sheyn berlatih dasar-dasar kemiliteran, intinya hal yang ia pelajari adalah teorinya terlebih dulu sebelum memasuki materi bertarung.


Sheyn meminta pelatihnya agar tidak segan dalam melatih dirinya, tentu saja pelatihnya hanya menganggap jika Sheyn kecil hanya bercanda.


Namun dia segera menyingkirkan kata ‘anak kecil’ dari diri Sheyn. Beberapa bulan saat melakukan pelatihan, Sheyn membawa lima orang anak yang seumurannya yang berasal dari pemukiman sekitar istana.


“Tuan putri, kenapa anda membawa mereka? Bukankah anda akan terganggu pelatihannya?” tanya pelatihnya dengan wajah kebingungan.


“Untuk membentuk sebuah pasukan, anggota diperlukan kan? Merekalah anggota pertama pasukan ku,” jawab Sheyn dengan wajah bangga seakan dia sudah menjadi seorang komandan pasukan.


Lima orang yang dibawa Sheyn tentu saja sudah terlihat sangat siap untuk mengikuti pelatihan, seperti yang dilakukan Sheyn.


“Jadi, latihlah mereka juga ya?” pinta Sheyn.


Pelatih Sheyn hanya menerima permintaannya dengan senyuman miring, dan juga merasa gemas dengan wajah imut milik Sheyn.


Setiap hari anggota yang ikut berlatih bersama Sheyn terus bertambah, dan mereka berlatih seperti pasukan asli yang berisi laki-laki.


Para bangsawan yang melihat anak-anak tersebut berlatih baris-berbaris hanya tertawa kecil. Dengan penuh kesalahan, para anak-anak itu tetap melanjutkan latihan baris-berbaris meski selalu digertak oleh pelatih mereka.


Seperti tidak ingin kalah dengan para anak perempuan, anak dari para bangsawan militer Kekaisaran Luan ingin mendapatkan pelatihan militer juga.


Perkembangan pasukan yang dibentuk oleh anak-anak para bangsawan militer jauh lebih cepat, bahkan mendapatkan pengakuan lebih dulu oleh kaisar.


Pasukan yang dibentuk oleh Sheyn berkembang hingga memiliki ratusan anggota yang seluruhnya adalah perempuan. Sheyn menamai pasukan ini dengan ‘Barisan para Mawar’, dia sendiri juga yang membuat bendera pasukan ini.


Namun, pasukan yang dibentuk Sheyn tidak berfungsi di peperangan. Pasukan ini hanya difungiskan seperti pengawal, penjaga pada acara-acara seremonial kekaisaran.


Hingga pada akhirnya Shyen dipanggil oleh ayahnya, dan diberitahu jika pasukannya telah diperlukan dalam peperangan.


**


“Kapan kami akan berangkat ayah?” tanya Sheyn dengan sungguh-sungguh.


Bogat terlihat senang saat anaknya menyetujui perintahnya untuk dikirim ke dunia lain.


“Masih ada waktu, tunggu saja hingga waktunya diumumkan,” jawab Bogat sambil kembali menyangga kepalanya dengan tangan kiri.


Tanpa berkata apapun lagi, Sheyn keluar dari ruangan dengan wajah puas. Karena pada akhirnya pasukan yang ia bentuk telah mendapatkan tugas yang semestinya didapatkan oleh sebuah pasukan yang memang tujuannya untuk berperang.


**

__ADS_1


Bogat telah mengakhiri pertemuan yang hasil akhirnya tidak jelas tersebut. Agenda yang ia lakukan kemudian adalah pertemuan seluruh pemimpin negara Benua Andzrev.


Di halaman istana telah terparkir seekor naga angin dan empat wyvern milik angkatan udara Kekaisaran Luan. Karena tempat pertemuan bukan di negara ini, tetapi di negara Hrabro yang terletak tak terlalu jauh dengan pusat Kekasiaran Luan. Setengah hari penerbangan adalah waktu yang diperlukan.


Bogat sebenarnya bisa berangkat sendiri ke negara tetangganya, tapi pengawalan adalah hal wajub bagi orang penting di kekaisaran. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di sepanjang perjalanan.


Paling tidak, bandit tidak ada yang memiliki kekuatan udara. Namun bukan itu bahaya sebenarnya. Wyvern dan naga liar, serta hewan terbang besar lainnya yang bisa memakan manusia adalah hal yang berbahaya di udara.


Setengah hari penerbangan sudah dilalui Bogat beserta pengawalnya. Mereka telah melalui wilayah udara Kerajaan Hrabro.


Ada kerajaan ini, masih banyak pasukan udara yang berlalu-lalang. Karena kerajaan Hrabro lebih memilih untuk mengirimkan sebagian kecil angkatan udaranya. Tidak seperti Kekaisaran Luan yang langsung mengerahkan sebagian besar pasukannya untuk berperang dengan dunia lain.


Terlihat sebuah istana di pusat pemerintahan kerajaan Hrabro. Bogat dan pengawalnya kemudian turun di halaman belakang istana untuk memakirkan tunggangannya disitu.


Puluhan prajurit diperintahkan untuk menjaga tempat parkir para pemimpin yang berupa naga dan wyvern.


Istana kerajaan Hrabro memang tidak sebesar milik kerajaan lainnya, tetapi untuk urusan keamanan disini bisa dibilang seketat istana awan di kerajaan Arevelk.


Untuk ke ruang pertemuan, Bogat dibimbing seorang prajurit. Sedangkan keempat pengawalnya berjalan dari samping kanan dan kiri, serta belakangnya.


Di dalam ruang pertemuan, telah hadir seluruh pemimpin seluruh negara yang berada di Benua Andzrev. Kecuali Sigiz, namun perwakilannya yang menghadiri pertemuan ini.


Bogat menduduki tempat yang masih kosong, didepannya ada meja yang berbentuk segi enam.


Perwakilan dari Sigiz adalah jendral besar militer Kerajaan Arevelk, sekaligus pengawal pribadi Sigiz. Namun Sigiz tak bisa menghadiri pertemuan ini, karena masih berada di dunia lain.


“Untuk apa Ratu Sigiz kedunia lain?” tanya raja Kerajaan Hrabro, Lukav.


“Saya juga tidak tahu, tapi dia hanya membawa pasukan kecil. Jadi tidak mungkin dia kesana untuk berperang,” jawab perwakilan Sigiz.


“Ya, dia juga meminta ijin padaku untuk memasuki Gerbang yang dimunculkan di negaraku. Dia memang tidak mengatakan tujuannya untuk ke dunia lain,” sambung Bogat sambil meminum anggur yang baru saja dituangkan pelayan.


Pertemuan ini tentu saja untuk membahas jalannya perang, tapi tidak hadirnya Sigiz dipertemuan ini seperti ada yang berbeda.


“Lalu, apa Ratumu masih menentang peperangan?” tanya raja kerajaan Biez, Ban Mamaki.


“Ya, saya pikir dia sudah terlalu lemah hingga menentang adanya perang ini,” jawab Perwakilan dengan wajah yang meremehkan Sigiz.


Jawaban perwakilan itu cukup untuk membuat pemimpin lainnya terkejut dengan senyum disunggingkan. Ya, kapan lagi mereka dapat membicarakan Sigiz saat dia tidak ada di dunia ini.


Bogat menaruh kembali gelasnya dengan wajah pucat. Pemimpin lainnya juga menyadari hal tidak beres pada Bogat.


“Apa rencanamu sudah berjalan?” tanya Bogat kepada perwakilan.


“Persiapan kami sudah selesai, tetapi sebagian besar bangsawan kami adalah penentang perang. Jadi untuk menjalankan rencana, mungkin kami harus menangkapi mereka satu persatu,” jawab perwakilan.


Rencana yang dimaksud adalah rencana agar kerajaan Arevelk ikut beragabung di perang ini. Karena pastinya akan sangat sulit melawan pasukan yang kuat tanpa pasukan yang kuat pula.


Militer kerajaan Arevelk adalah yang terkuat di benua ini, namun pemimpin mereka lebih memilih untuk mengambil jalur damai dengan tidak ikut berperang melawan pasukan dunia lain.


Mayoritas bangsawan militer di kerajaan Arevelk tidak setuju dengan keputusan Sgiz yang menurut mereka seperti pengecut.


Tetapi saat militer negara di Benua Andzrev hampir hancur, hanya militer kerajaan Arevelk saja yang masih kuat seperti biasanya. Itu semua berkat keputusan Sigiz yang menolak untuk berperang dengan dunia lain.


Tetapi bangsawan militer merencanakan semua hal agar kerajaan Arevelk terlibat dalam perang, tentunya dengan tidak sepengetahuan Sigiz.

__ADS_1


Jika Sigiz mendengar rencana mereka, hukuman mati akan menimpa para penggila perang di kerajaan Arevelk.


Tetapi perginya Sigiz ke dunia lain justru dimanfaatkan untuk menyusun rencana tersebut. Dan rencana itu hampir berjalan setelah semua persiapan selesai.


__ADS_2