
“Baiklah, para prajurit muda itu terkesan seperti senjata sekali pakai.”
Tidak ada penghinaan atau ejekan dalam perkataan seseorang itu, kalimat tersebut tidak lebih dari sebuah pengamatan beberapa pihak yang teliti mengenai kemiliteran.
Senjata dalam bentuk manusia, itu adalah hal yang ‘menakjubkan’ pada masa ini, meski kata ‘menakjubkan’ tersebut merujuk pada hal yang mengharuskan prajurit tersebut untuk melakukan pertempuran tanpa istirahat. Tidak ada rasa sakit, tidak ada rasa takut, tidak ada kata lelah, semua itu akan dirasakan oleh ‘prajurit super’ yang sebentar lagi akan tercipta.
Fakta bahwa manusia semakin kuat jika mereka merasa terancam adalah hal mutlak, meski beberapa dari mereka membutuhkan sekelompok orang untuk menyingkirkan ancaman tersebut.
Tapi, tidak ada orang yang tidak menginginkan kekuatan. Hal itu akan dimanfaatkan para peneliti untuk menjadikan beberapa prajurit untuk dijadikan prajurit super yang dimaksud. Masa ini, fungsi robot belum terlalu berkembang pesat, tak terkecuali pada bidang militer.
Robot-robot mendominasi industri dan menggantikan tenaga manusia yang memiliki batas, tapi teknologi tersebut bukan berarti memiliki batas juga. Sumber daya yang terbatas adalah hal yang dikhawatirkan jika permintaan terhadap robot meningkat.
Termasuk material untuk membuat anggota tubuh bionik yang untuk saat ini masih dikhususkan bagi kalangan militer. Tidak semua negara memiliki pengetahuan tentang teknologi ini, jadi beberapa negara memutuskan untuk melakukan pertukaran teknologi dan bentuk kerja sama lainnya untuk mengembangkan teknologi anggota tubuh bionik.
Para peneliti beberapa negara berhasil menciptakan anggota tubuh bionik yang bisa dikendalikan oleh pikiran pemakainya. Beberapa bagian tubuh manusia dapat diganti dengan perangkan robot, termasuk bagian tubuh yang terpotong atau diamputasi.
Itu membuat bagian tubuh yang telah diganti memiliki kemampuan melebihi bagian tubuh sebelumnya, seperti lengan yang terpotong akan digantikan dengan lengan buatan yang memiliki perangkat-perangkat pendukung, seperti senjata tersembunyi dan memberikan fleksibilitas tak terbatas pada penggunanya. Beberapa peneliti mencoba mengembangkan teknologi ini agar bisa berfungsi selayaknya tangan asli atau beberapa anggota tubuh lainnya sebelum digantikan dengan teknologi bionik.
Dampak negatif pada teknologi ini telah dicoba untuk dihilangkan, karena dampak negatifnya akan menghambat sebagian jaringan pada tubuh.
**
Karena rumah sakit ini adalah instalasi militer, warga tidak akan diijinkan masuk kecuali ada keadaan darurat. Tapi keluarga anggota militer tetap diijinkan masuk untuk urusan menjenguk atau semacamnya. Termasuk Arunika yang sudah satu minggu lebih menemani Nio menjalani perawatan.
Para gadis dunia lain tidak bisa setiap hari berada di sini, mereka juga punya pekerjaan yang perlu diselesaikan. Namun, bagi Sigiz, Nio adalah motivasi baginya untuk menyelesaikan tugas negara dengan cepat dan teliti. Lux berlatih keras bersama prajuritnya agar lebih kuat dari pasukan hijau, dan melindungi mereka yang lemah.
Sesekali, anggota Regu penjelajah 1 menjenguk Nio setelah mendapatkan ijin dan sudah menyelesaikan misi yang didapatkan. Menurut mereka, Nio tidak akan lemah meski kehilangan tangan kanannya, karena Nio bukan orang yang terlalu sering menggunakan tangan kanan atau sebaliknya, dia bisa menggunakan kedua tangannya sama baiknya.
Nio sedang mengunyah roti yang dijadikannya makan siang, dengan terpaksa dia menggunakan tangan kiri untuk makan dan melakukan kegiatan lain. Meski begitu, hal itu bisa dimaklumi setelah melihat keadaan Nio saat ini.
Arunika menahan diri setelah Nio menolak untuk disuapi, dan Nio memilih untuk memasukan makanan ke mulutnya menggunakan tangan kirinya.
Nio sudah mendengar jika dirinya akan mendapatkan anggota tubuh pengganti tangan kanannya yang terpotong, tapi jawaban yang Nio berikan membuat beberapa pihak merasa kerja keras mereka sia-sia.
“Kenapa kau menolak tangan bionik itu? Apa kau bisa melindungiku dengan satu tangan?”
“Tentu saja, aku tidak mau berhutang lebih banyak.”
Arunika menghela napas setelah mendengar perkataan Nio tersebut, yang terkesan mementingkan harga diri dibanding hal yang lebih penting dari itu. Tanpa mempertimbangkan apapun, Nio langsung menolak pemberian tangan bionik yang hampir selesai dibuat oleh peneliti Indonesia dan Rusia dengan bantuan teknologi dari Korea Utara.
Dan Nio tahu jika uang tabungan yang dia dan kakaknya miliki tidak akan mampu untuk membeli tangan bionik ini, tapi tawaran itu memang menggiurkan dan orang yang bisa berpikir waras tidak akan menolaknya.
Meski begitu, Nio merasa jika dirinya masih bisa menarik pelatuk dengan tangan kirinya, dan membawa senapan dengan teknologi ‘lengan ketiga’.
“Lebih baik kau singkirkan sejenak harga dirimu. Memberi tangan bionik padamu, bukan berarti negara memberimu hutang untuk dilunasi. Tapi sebaliknya, negara ingin memberimu hadiah setelah melindungi duta besar kita.”
Yang bicara tadi bukanlah Arunika maupun perawat yang sedang mengganti tabung infusnya. Terlihat di luar ruang perawatan puluhan orang berpakaian rapi, dilengkapi dengan kacamata hitam dan pangkasan rambut cepak, membuat sekelompok orang ini semakin mirip dengan pasukan pengawal Presiden.
__ADS_1
Di lorong tempat Nio dirawat, sekitar 12 anggota pengawal presiden berdiri dengan badan tegap dan tatapan tajam dari balik kacamata hitam mereka. Sementara di luar rumah sakit, 25 anggota pengawal presiden berjaga di halaman dan area parkir.
Suroso adalah sebagian kecil pihak yang diijikan memasuki fasilitas militer, seperti rumah sakit tempat Nio dirawat ini. Dia berjalan memasuki ruang perawatan sambil membawa keranjang buah, serta sebuah amplop cokelat yang isinya bukanlah uang.
Selama Nio mendapatkan rekomendasi penerima tangan bionik, sudah ada 20 orang yang membujuk Nio untuk menerima hadiah ini, namun semua berakhir penolakan dari Nio.
Pemuda itu dengan santainya menjawab, “Tidak mau,” saat orang-orang pemerintahan yang menemuinya meminta Nio menandatangani berkas agar dia menerima teknologi ini.
Tentu saja mereka sudan menyerah, dan tidak ingin lagi kembali menemui Nio.
Arunika sendiri tidak bisa melakukan sesuatu agar Nio menerima hadiah setelah melindungi duta besar dari ancaman pembunuhan, meski dengan hasil akhir dia kehilangan tangan kanannya.
Radit masih melakukan terapi agar mentalnya tidak runtuh setelah melihat tangan kanan Nio yang terpotong, tapi terapi itu tidak sesederhana yang dipikirkan.
Nio menatap wajah Suroso dengan tatapan yang mengatakan “Kenapa kau kesini hah!?” Tapi keberadaan puluhan pasukan pengawal di luar membuatnya tidak bisa mengatakan hal itu, atau dia akan ditembak ditempat oleh mereka jika benar-benar mengatakannya.
Tapi, Arunika terlihat gugup saat Suroso memasuki ruangan ini dengan santainya. Suroso meminta Arunika agar tidak gugup, karena dia juga warga negara sama seperti Arunika.
“Tapi, saya bingung untuk membayarnya.”
Suroso sekarang ikut menghela napas setelah mendengar jawaban Nio, lalu dia tersenyum sambil duduk di kursi yang disediakan.
“Kamu cukup membayarnya dengan terus berjuang, hingga perang ini cepat berakhir.”
Ketika kata-kata itu keluar, Nio hanya bisa menunjukkan senyum kaku dan kebingungan untuk menjawab perkataan Suroso.
**
Ruangan Edera dirawat hanya berjarak 2 lantai dari tempat Nio berada, ini adalah rawat jalan biasa seperti yang dihuni Nio.
Pemuda itu mengenakan jaket abu-abu dengan lengan pakaian yang berkibar terkena hembusan angin dari kipas angin. Arunika dan beberapa pihak berwajib tidak menginjikan Nio untuk menemui Edera, tapi pemuda itu mengatakan alasan yang membuat penjaga mengijinkannya menemui gadis kucing itu.
Nio menatap Edera yang masih tertidur dengan tatapan datar, seakan-akan dia tidak tahu harus berbuat apa dengan orang yang mencelakainya.
Ketika seseorang dihadapkan dengan hal yang membingungkan, sebagian besar dari mereka akan mengalihkan hal itu dan berpikir yang lain. Bagi Nio, Edera hanyalah korban dari orang yang memanfaatkannya untuk membunuh Nio dan Radit. Pelaku sebenarnya adalah pihak yang memerintahkan Edera untuk melakukan hal itu.
Tapi, menemukan pelaku sebenarnya tidak semudah menangkap Edera. Tidak ada yang tahu lokasi persembunyian kepala suku yang dimaksud gadis kucing itu.
Di beberapa bagian tubuh Edera terdapat bekas luka, itu adalah bagian yang terkena peluru yang ditembakkan Nio, jadi mereka berdua sama-sama terluka. Masuk akal jika Nio menginginkan Edera untuk dihukum sesuai hukum yang berlaku di Indonesia, tapi pemuda itu ingin membebaskan gadis ini dan mencoba tidak memendam dendam.
Meski terkesan naif, tapi menurut Nio Edera adalah gadis yang sudah membuat kemudahan dalam tugasnya, dan sudah berperan dalam perdamaian dengan negara baru yang kini bernama Yekirnovo, atau dalam bahasa Indonesia berarti ‘negara baru’.
“Kurasa tidak adil jika gadis ini memikul penderitaan lagi.”
Pikiran Nio menjadi kacau saat memikirkan nasib gadis ini kedepannya, jika dia benar-benar akan dihukum dengan tuduhan percobaan pembunuhan, dan target pembunuhannya adalah seorang prajurit dan duta besar.
Nio menghela napas, mengakui jika dia ingin gadis ini dibebaskan adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Jika Nio menggunakan pandangan realistis, dia akan membiarkan Edera kembali menderita di kurungan, seperti saat dia masih menjadi budak dulu.
__ADS_1
Ada beberapa ras seperti Edera yang menjadi tawanan perang di Indonesia.
Pemerintah telah menangkap 3.000 prajurit dunia lain yang menyerang Karanganyar. Jumlah mereka yang besar, sangat merepotkan untuk merawat mereka, dan awalnya di mana tempat untuk menahan para tawanan adalah masalah tambahan. Pemerintah memutuskan untuk membangun kamp tawanan perang di sebuah pulau kosong di Provinsi Kepulauan Riau, dan memasukan para tawanan di sana.
Di antara 3.000 tawanan ini adalah ras Demihuman dan pasukan monster, yang warga Indonesia lebih suka menyebut mereka sebagai monster. Pemerintah tidak yakin harus menganggap para monster itu sebagai manusia atau bukan, karena mereka bisa berbicara. Lalu, baik monster, Demihuman, dan prajurit manusia biasa diperlakukan dengan sama rata untuk menghindari masalah hak asasi manusia.
Kemungkinan Edera untuk di masukan ke dalam kamp tawanan sangat besar, tapi tidak ada jaminan untuk Edera aman di sana. Tidak ada kuasa hukum yang siap membela Edera, dan tidak ada pembela dari dunia lain yang siap melindungi gadis ini dari hukuman yang menanti.
**
Untuk menghindari hal merepotkan, seperti proses mendapatkan tangan pengganti, Nio memutuskan berjalan-jalan sendiri di luar rumah sakit, atau dengan kata lain dia ‘kabur’. Tidak ada penjaga yang melarang Nio keluar dari zona terlarang bagi warga sipil, karena mereka tidak tahu rute kaburnya orang ini. Dan dia terus berjalan dengan bekal uang 120.000 rupiah dan ponselnya.
Nio yang kini mengenakan kacamata dan menutup kepalanya dengan tudung jaket, hampir tidak satu pun orang yang dulunya mengenalnya menjadi tidak mengenali Nio. Mereka melewati Nio, dan mengomentari penampilannya yang kini hampir mirip dengan gembel.
Wilayah ini kini ramai dengan suara kendaraan dan peralatan proyek yang sedang membangun bangunan yang hancur saat bencana Gerbang beberapa tahun yang lalu. SMA tempat Nio mencari ilmu dulu juga mulai dibangun kembali, dengan banyak perubahan.
Dia berkeliling banyak tempat yang mengingatkannya dengan kesehariannya sebelum perang terjadi, mulai dari sekolah, warung tempatnya nongkrong, dan tempat yang membuat Nio dulu menjadi ‘pahlawan dadakan’.
Sekarang, Nio berada di wilayah yang dikenal dengan ‘pinggiran kota’.
Karena suasana saat ini mendung, tempat ini terasa sangat suram dan berbahaya. Dulunya, gang ini adalah jalur tercepat untuk mencapai kost tempat tinggal Nio dan kakaknya. Hampir tidak ada orang yang berani melintas di jalan kecil ini, setelah kejadian yang menimpa Nio dulu. Hanya beberapa ekor kucing dan tikus liar saja yang berani berjalan di jalan kecil dan gelap ini.
Lalu, orang yang dulu menjadi kenangan buruk Nio dan kakaknya, kembali muncul di tempat yang sama. Orang itulah yang membuat bekas luka besar di pipi kanan Nio, dan hampir merebut Arunika darinya.
Namun, sekarang Nio bisa lebih tenang saat bertemu orang itu dan anggota geng nya. Beberapa tahun setelah kejadian itu, anggota geng pria itu bertambah beberapa belas orang, yang semuanya terlihat berusia antara 15-29 tahun.
“Kebetulan, aku tidak harus repot-repot berkeliling demi menemukanmu, Nio.”
Orang itu terlihat seumuran dengan Nio, dengan tinggi badan yang lebih tinggi dari Nio. Tapi, pria itu dan anggota geng nya terlihat tidak memiliki pengalaman tempur sama sekali, dan hanya berpengalaman dalam hal tawuran dan hal kenakalan remaja lainnya.
Anggota geng pria itu bergidik dan kehilangan percaya diri saat Nio melepas tudung jaket, dan memperlihatkan wajah yang terdapat beberapa bekas luka, termasuk luka yang disebebkan oleh pria pemimpin geng tersebut. Sekarang, Nio terlihat seperti orang yang jauh berbeda dibandingkan saat kelas 1 SMA dulu.
“Apa kau masih menginginkan kakakku, Baron?”
“Oh, jadi kau sudah menyerah dan merelakan kakakmu menjadi salah satu istriku?”
Setelah mendengar jawaban Baron, Nio tersenyum kecut dan berkata di dalam hatinya, “Enak banget nih orang, aku aja dapet satu cewek susahnya minta ampun.”
Ini adalah kesekian kalinya Nio berjumpa dengan Baron dan geng nya, yang merupakan kelompok remaja yang meresahkan. Meski sudah ada puluhan anggota geng ini yang tertangkap karena berbagai kasus, termasuk narkoba dan kenakalan remaja lainnya, anggota geng ini nampak tidak berkurang sama sekali dan selalu berjumlah sama.
Angin sepoi-sepoi bertiup, dan mengibarkan lengan jaket kanan yang tidak ada bagian tubuh yang dilindungi.
“Kau sekarang sudah buntung, apa masih punya nyali untuk melawan kami?”
Nio menyeringai dan menghela napas untuk meratapi nasibnya yang harus berhadapan dengan mereka ‘lagi’, apalagi hanya dengan satu tangan yang tersisa. Tapi, sekarang dia memiliki percaya diri untuk membalas perbuatan Baron dan anggota geng nya.
“Kami? Heh, ternyata kau masih suka main keroyokan ya?”
__ADS_1