Prajurit SMA

Prajurit SMA
Akhir pembantaian gadis cantik itu


__ADS_3

Meskipun para personel luar negeri telah diperingatkan bahwa mereka tidak boleh mengarahkan tembakan ke rumah-rumah penduduk, meski itu hanya rumah tanpa penghuni, di tengah-tengah pertempuran yang kacau ini beberapa peluru mengenai dinding rumah, meninggalkan lubang peluru di tembok dan pohon, dan menghancurkan kaca rumah dan lampu penerangan jalan maupun halaman.


Saling bertukar tembakan, berusaha menyelamatkan diri dengan mencari tempat perlindungan, lalu menembak lagi. Orang-orang dari organisasi intel dan pasukan khusus terbaik di dunia dan teknik mereka yang luar biasa, terbunuh satu per satu.


Pemimpin tim Amerika, Jason, mendapatkan banyak tembakan dari tim Cina dan Inggris, dan terpaksa berpindah perlindungan, tetapi rasa patriotisme dan tanggung jawabnya tidak akan membiarkannya mati sebelum dia melakukan suatu hal terakhir untuk negaranya. Ketika dia melihat satu per satu anggota timnya terbunuh, dia meraih headphone komunikasinya dan dengan megap-megap memberi sebuah laporan.


“Operasi… gagal. Kami menemui perlawanan tak terduga… dan dihancurkan.”


“Apa yang terjadi di sana? Apa mereka orang Indonesia?”


“Tidak… dia… terlalu kuat… dia adalah… gadis dari… dunia lain… ….”


“Apa yang terjadi, Jason? Jawab kami!”


Jason tidak mendengar teriakan yang terus diberikan untuknya, dan nyawanya perlahan meninggalkan raganya.


**


Karl terkena tembakan di paha kirinya.


Dia bersembunyi di balik pohon rambutan dan menarik perban elastis dari kantung rompinya. Ketika dia memeriksa sisa amunisinya, Brown ikut bersembunyi bersamanya di sini, berusaha menarik perhatian agar musuh mendekat. Namun, setelah mereka berbalik untuk melihat musuh, dia melihatnya…


Perasaan yang campur aduk di dalam hati keduanya ketika dia melihat pembantaian tanpa ampun oleh seorang gadis dari dunia lain.


“Kau monster…!!!”


Brown melihat kepala Karl terbelah, dan menembaki Hevaz tanpa henti hingga ujung laras senapannya berasap.


“Kau monster! ….kau monster!”


Tapi gadis itu memblokir setiap peluru yang mengarah padanya dengan mata sabit yang berlumur darah. Setelah Brown menembak hingga magasinnya kosong, sabit besar itu memotong pohon tempat dia berlindung.


Brown nyaris terkena serangan yang bisa saja memenggal kepalanya kalau terkena, tapi dia masih merasa seperti telah terkena serangan di suatu tempat. Brown sekarang berbaring di balik pos ronda, dan agen Inggris dan Cina lain terlihat seperti akan memburu dan menembaknya.


Dia mengangkat sub machine gun-nya untuk menembak balik, tetapi musuh berhasil menghancurkan magasin dan peluru tumpah ke tanah. Pada saat yang sama, seorang agen Cina mengambil senjatanya dan mengarahkan moncong senjatanya pada Brown. Pria itu menggunakan kaki kiri dan mengeluarkan semua tenaganya untuk menghindari tembakan musuhnya, lalu agen Cina juga melakukan hal yang sama.


Namun, peluru yang entah dari mana datangnya menembus bahu kanan Brown.


“Sialan!”


Ketika peluru melesat di antara dirinya, Brown mengisi ulang senjatanya dengan satu tangan, setiap peluru di magasin berisi niat membunuh darinya. Dia mengangkat senjatanya ke udara, dia tidak peduli dengan apapun selain menembak. Kemudian, panas yang berapi-api membakar dadanya, wajah dan pinggangnya, dan dia jatuh ke tanah. Dia ingin mengganti magasinnya, tetapi tangannya seperti tidak mau mendengarkannya. Kekuatan Brown secara perlahan habis, dan dia pikir telah mencium aroma kematian di udara.


“Dasar bajingan…”


Setelah penglihatannya menghilang seperti TV yang dimatikan, dia akhirnya berhenti bernapas.


Ketika keheningan kembali ke medan pertarungan, tidak ada seorangpun yang masih hidup yang melihat gadis itu bertarung.


Rambut Hevaz berayun lembut mengikuti angin malam yang sejuk, dengan senyum dan pakaian yang berlumuran darah. Siapapun yang melihatnya, pasti akan menganggap gadis ini sebagai malaikat kematian meski dia berkata, “Aku adalah gadis yang baik tahu…”

__ADS_1


Musuh-musuh yang sekarat perlahan-lahan menghembuskan napas terakhir mereka.


Ketika petarungan itu terjadi, seluruh orang di Ruang Pengawasan bawah tanah Karanganyar hanya bisa menonton dengan wajah bodoh ketika pertempuran tak terduga itu berlangsung di depan mata mereka.


“Apa itu pertikaian antar agen?”


“Apa yang baru saja terjadi?!”


Drone udara dengan kemampuan kamuflase, dan dipasangi dengan perangkat penglihatan malam keluaran terbaru dari perusahaan dalam negeri, dan kamera berteknologi tinggi untuk militer dan mikrofon mentransmisikan data dengan on time. Tentu saja data itu termasuk bagaimana ketiga kelompok agen luar negeri saling menembak.


“Ya Tuhan… apa yang baru saja terjadi? Bisakah seseorang menjelaskannya?”


Radit mencoba mencari jawaban, tapi tidak ada jawaban untuknya. Lagipula, tidak ada seorangpun yang bisa memahami apa yang baru saja terjadi.


Selain itu, pemandangan seorang gadis dengan pakaian terbuka dan menenteng sabit besar di pundaknya hanya menambah kebingungan. Bagaimanapun juga, pemandangan yang diciptakan gadis itu terlalu tidak nyata untuk diterima oleh siapapun.


“Gadis itu… bukan termasuk tamu dari dunia lain kan? Atau mungkin dia utusan Dewa Perang?”


Kata-kata itu cocok dengan Radit yang pernah pergi ke dunia lain dan pernah membaca komik atau novel fantasi. Pengalamannya di dunia lain setidaknya bisa merasionalisasi kemampuan dalam berpikirnya.


Lalu, pertempuran berakhir dengan kematian hampir seluruh agen luar negeri, kecuali gadis itu.


Seiring berjalannya waktu, mayat-mayat yang tersebar di seluruh pemukiman mulai mendingin. Ketika sisa panas tubuh telah habis, tanda kehidupan mereka dalam spektrum inframerah perlahan-lahan menghilang dari perangkat penglihatan malam.


“Bagaimanapun, kita harus menyerahkan sisanya pada grup khusus. Kita akan menangani kasus ini dengan prosedur nomor 3.”


Seorang petugas ruangan ini, alias Catur tersentak setelah melamun dengan wajah bodoh ketika dia mendengar Radit mulai memberi perintah. Prosedur nomor 3 adalah kode nama untuk menangani kasus yang serupa dengan hal ini, dan melibatkan anggota polisi khusus yang akan membersihkan tempat kejadian. Karena mereka bekerja sesaat setelah Radit berbicara, mereka memulai tugas tanpa penundaan. Para polisi khusus memasukkan mayat-mayat itu ke dalam kantong mayat dan mengambil sisa senjata dan amunisi, untuk beberapa alasan mereka tidak bisa mengumpulkan semuanya. Mereka juga menghilangkan jejak-jejak baku tembak dan membawa satu orang yang masih hidup meski mendekati kondisi sekarat, dan akan mengembalikannya ke unit asal. Selain itu, para polisi khusus ini juga meminta saksi (jika ada) untuk diam dan sebagainya.


Tentu saja tidak ada tidak ada negara yang dengan jujur menjawab pertanyaan itu. Baik mereka Cina, Korea Selatan, Jepang, Inggris, dan Israel. Kedutaan mereka di Indonesia hanya menjawab, “Kami tidak tahu. Itu tidak ada hubungannya dengan kami. Memikirkan tragedi seperti ini terjadi, sungguh memalukan.” Dan jawaban serupa lainnya. Kali ini, ‘mereka’ mungkin juga akan menyangkal keterlibatan mereka juga.


Masalahnya adalah pihak Amerika menjawab pertanyaan dengan, “Presiden kami sudah mendiskusikan banyak hal dengan presiden kalian. Apa yang harus kami lakukan lagi?”Lalu karena pihak Indonesia belum tahu dengan jelas tentang apa yang sedang terjadi, maka mereka menjawab, “Tolong kirim orang-orang kalian untuk mengambil mayat-mayat orang-orang kalian”. Tidak ada alasan untuk menolak, jadi pemerintah Indonesia yakin permintaan itu akan diterima.


Setelah memeriksa dan membedah tubuh personel Amerika, orang-orang Amerika akan mengatakan “2/3 dari luka pada tubuh disebabkan oleh peluru Inggris dan Cina”. Pihak Indonesia juga setuju. Mereka kemudian akan mengklasifikasikan insiden ini sebagai ‘pertemuan tak sengaja yang menjadi baku tembak’, tapi itu akan menjadi masalah nantinya.


**


Di tempat lain, grup khusus sedang bergerak tanpa mengetahui jika terjadi insiden yang menyebabkan banyak potongan tubuh di sana-sini.


Ketika melihat ada cukup banyak mobil polisi di tempat kejadian, Nio melihat lagi seorang gadis yang pernah lihat sedang duduk di kabel listrik. Gadis itu tersenyum ke arahnya, dan Nio merasakan aura dewasa yang besar dari gadis itu.


Setelah berjalan kaki ke tempat kejadian, grup khusus tidak mendapatkan bagian untuk bertarung. Mereka melihat puluhan kantong mayat, dan bercak darah di gang sempit tempat terjadinya pertarungan.


Nio bergumam, “Sepertinya aku terlalu sering melihat hal seperti ini.”


Dia mengingat pertempuran besar di Tanah Suci, ketika 300.000 Pasukan Aliansi menyerang secara sekaligus benteng Pasukan Ekspedisi. Dia melihat banyak potongan tubuh, atau kepala prajurit Pasukan Ekspedisi yang terpisah dari tubuhnya.


Setelah berdiri tanpa melakukan sesuatu selama beberapa saat, Nio mendengar ada sesuatu berwarna hitam yang menyelinap di antara kerumunan orang-orang. Sangat aneh jika masih ada musuh yang dapat bergerak meski tempat ini telah terkepung, kecuali musuh itu anggota pasukan khusus. Biasanya, anggota pasukan khusus akan dilatih untuk melarikan diri tanpa diketahui musuh dengan cara apapun. Lalu, sosok yang Nio lihat nampak memakai pakaian serba hitam, dengan penutup wajah mirip yang dikenakan oleh maling. Menyadari tidak ada gunanya terlalu banyak berpikir, Nio bergerak untuk mengikuti sosok hitam tersebut. Dia mengenakan kacamata penglihatan malam, dan mulai melacak keberadaan sosok hitam tersebut.


Jika dia adalah musuh yang berhasil melarikan diri, Nio akan menembaknya. Tapi dia memiliki rencana untuk menembak dengan tujuan melumpuhkan, bukan untuk membunuh. Pada saat yang sama, Nio melihat ada pancaran panas tubuh, dan orang yang memancarkannya terlihat berlari dengan tertatih-tatih. Sesaat kemudian, orang itu terlihat tidak bergerak lagi, alias tersungkur ke tanah dan terlihat sesuatu.

__ADS_1


Nio tidak memiliki masalah ketika harus dihadapi dengan pertempuran malam, kecuali jika dia melawan ribuan musuh sendirian. Dia telah di dekat seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam, dengan tangan kanan menggenggam pistol dalam mode siap tembak. Dia berjongkok untuk membuka penutup wajah orang itu, dan bertanya-tanya kenapa orang ini bisa tak sadarkan diri padahal tidak mendapatkan luka yang serius.


“Orang bermata sipit? Orang Cina atau Jepang? Mungkin Korea Selatan, atau dia perkawinan silang orang Asia dengan Amerika?” Nio berdebat dengan dirinya sendiri mengenai asal seorang pria yang tidak diketahui asalnya.


Dia mencoba mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk mengenai asal pria ini, seperti senjata, peluru, maupun pakaian dalam yang dikenakan pria ini. Dia akhirnya melihat c*lana da*am milik pria ini bertuliskan ‘MADE IN CHINA’, namun dia masih belum yakin meski telah melihat asal pembuat ce*ana da*am pria tersebut. Senjata milik pria itu juga merupakan modifikasi, dengan berbagai komponen tambahan buatan perusahaan berbagai negara.


“Dia orang yang akan melukai dirimu, Tuanku.”


Nio langsung mengarahkan moncong senapan serbunya ke belakang, ke arah sumber suara yang dia dengar. Lalu, dia melihat seorang gadis yang terlihat seumuran dengannya, dan dadanya yang besar. Nio berdiri dengan senapan masih mengarah ke gadis tersebut, dan mundur beberapa langkah tanpa melepas pandangan ke gadis itu.


Dia juga merasa jika pakaian yang dikenakan gadis ini bukanlah kostum film, dan pernah melihat gadis ini memiliki sayap besar di punggungnya. Nio berpikir jika gadis itu bukanlah bagian dari para tamu, dan baru pertama kali bertatap muka sedekat ini dengannya.


“Siapa kau, kalau kau bukan musuh perkenalkan diri dan beritahu asalmu.”


“Mohon maaf atas ketidaksopanan saya…”


Nio berpikir jika kata-kata gadis di depannya terlalu merendah, dan membuatnya tidak nyaman.


“… saya adalah pelayan pribadi anda yang dikirim Dewi-.”


“Eh? Hilang?”


Sebelum gadis itu menyelesaikan perkataannya, dalam sekejap dia menghilang tanpa menyisakan jejak apapun kecuali beberapa helai bulu berwarna putih yang terbang dan perlahan-lahan terjatuh ke tanah.


“Letnan Nio…”


“Oh, ternyata kamu berhasil menemukan musuh yang masih hidup ya?”


Dua orang dari grup khusus tiba-tiba datang, dan Nio menebak jika merekalah penyebab gadis tadi menghilang begitu saja.


Nio melihat dari kacamata penglihatan malam jika pria yang dia temukan masih memancarkan panas tubuh, yang berarti orang ini tidak mati dan masih hidup dengan keadaan yang belum diketahui. Bahkan Nio tidak perlu melepaskan satu tembakan atau pertarungan yang sengit untuk melumpuhkan pria ini, yang membuatnya semakinn bertanya-tanya.


Setelah diperiksa, tidak ada peluru bius di tubuh pria ini, yang mengarah jika pria tersebut hanya tak sadarkan diri secara tiba-tiba.


“Aku tidak mendengar suara tembakan darimu, Letnan.”


“Aku sendiri juga tidak tahu kenapa orang ini tiba-tiba pingsan begitu saja. Padahal aku pernah kehilangan cukup banyak darah, dan baru tak sadarkan diri beberapa menit kemudian.”


“Aku juga tidak menemukan peluru bius. Jadi benar kata Letnan, kalau dia cuma pingsan.”


Dua orang di dekat Nio melihat tangan kanan Nio yang berupa tangan bionik, dan dengan begitu langsung paham penyebab Nio kehilangan banyak darah.


Mereka bertiga kemudian membawa pria itu, dan berniat menyerahkannya ke polisi khusus untuk diperiksa, atau menunggu hingga dia sadar untuk diinterogasi dan mendapatkan informasi darinya.


Nio bergumam di dalam hati tentang kejadian ini, “Ada apa dengan pembuat keputusan negara ini? Apa ada orang yang tidak suka kalau berhubungan dengan bangsa di dunia lain? Apa negara-negara besar itu sangat suka berperang?”


Meski Nio tidak tahu tentang asal sebenarnya para penyerang malam ini, dia memikirkan negara AS, Uni Eropa, Israel, Cina, India, Jepang, dan negara-nengara kuat lainnya yang menyebabkan insiden malam ini, dan membuatnya tidak beristirahat dengan benar.


Saat ini sudah jam 1 dini hari, dan kebanyakan orang masih tidur atau baru mulai tidur. Namun, orang-orang di Area Terlarang terlihat sama sekali tidak beristirahat sama sekali setelah kabar ada pihak yang melakukan serangan dan saling serang.

__ADS_1


Sebisa mungkin, kabar tentang adanya personel luar negeri yang saling tembak tidak tersebar luas.


Lalu, ketika orang-orang Area Terlarang masih terjaga, tayangan berita dini hari menayangkan siaran ulang pengumuman pengunduran diri Menteri Pertahanan yang dilakukan pada kemarin malam.


__ADS_2