
“Pasukan Aliansi terus melancarkan serangan kotor!”
Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela yang terus menerima segala taktik musuh, yang tampaknya menjijikkan menurut mereka (mungkin memang seperti itu), jelas mulai kehilangan kesabaran sedikit demi sedikit.
Seiring berjalannya alur pertempuran, perlahan-lahan rasa lelah yang dirasakan prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela semakin parah. Di sisi lain, Pasukan Aliansi memanfaatkan kondisi tentara yang kelelahan untuk mengirimkan sejumlah besar pasukannya, dan melanjutkan taktik penyerangan tiga kali seharinya, hampir dua puluh empat jam berturut-turut.
Saat memiliki jumlah pasukan yang besar, taktik tersebut memang pilihan terbaik.
Prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela sudah mulai mencapai batas fisik dan mentalnya, bahkan mungkin ada yang tidak tidur sama sekali sejak peperangan dimulai. Kondisi tubuh yang kelelahan perlahan-lahan membuat tubuh seperti dipukul terus menerus saat prajurit harus mempertahankan benteng ketika penyerangan.
Tidak ada pasukan cadangan yang dimiliki Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela, bahkan hampir seluruh pengungsi laki-laki ikut bertempur dengan pengalaman sangat minim.
Ada ungkapan dimana prajurit tidak akan bertarung jika mereka lapar, tapi kondisi Pasukan Ekspedisi dan sukarela sekarang sangat kelelahan, kelaparan, dan kurang tidur. Tidak heran jika para perwira tidak tahan mendengar keluhan para prajurit.
**
Aliansi merasa jika Pasukan Ekspedisi dan sukarela kurang responsif dalam beberapa penyerangan, dan mereka akan memanfaatkan keuntungan tersebut.
“Satu serangan lagi, Tanah Suci akan kita genggam lagi…!!!”
Yang berteriak tadi adalah Maslac, dia yakin dengan keunggulan pasukannya yang besar akan mengakhiri pertempuran ini.
Pertama-tama, dia akan membuat moral musuh turun. Maslac akan memberitahu TNI dan Indonesia bahwa di mana pun mereka bersembunyi, mereka tidak dapat melarikan diri dari pedang Pasukan Aliansi.
“Kemenangan yang di tunggu-tunggu!”
Pahlawan Iri Hati Theodore yang memimpin salah satu korps sangat senang dengan situasi sekarang. Dimana jika Aliansi memenangkan pertempuran terakhir ini maka para pahlawan akan dikembalikan ke dunia asal mereka.
**
Malam ini menjadi saat tersibuk bagi pangkalan angkatan udara Aliansi.
Di tempat yang terpisah, tali yang menahan wyvern dan naga perang dilepas, dan angkatan udara Aliansi memasang pelana pada seluruh kadal terbang mereka. Pelana terpasang kuat di tubuh naga dan wyvern, dan beberapa orang memeriksa kesiapan para kadal terbang ini.
Sekarang, Pasukan Aliansi akan melihat efek senjata baru yang diciptakan pengembang senjata dengan bantuan pengetahuan para pahlawan.
Penunggang naga menaiki tunggangan mereka, sambil membawa beberapa guci tanah liat di punggung mereka. Di dalam guci tanah liat itulah senjata baru Aliansi.
Komandan penerbang bertanya pada seluruh penerbang, “Apa semua sudah siap!?”
Seluruh penunggang naga angkatan udara Aliansi memeriksa sekeliling untuk memantau keamanan dan kesiapan rekan mereka, dan sepertinya tidak ada masalah. Komandan penerbang mengangkat tangan tinggi-tinggi sebagai perintah terbang.
“Kita akan merebut kembali langit dunia ini dari orang-orang dunia lain!”
Sang komandan penerbang menarik tali kekang dengan kuat, dan naga angin tunggangannya meraung dan melebarkan sayapnya yang besar. Naga menendang tanah dengan kuat sambil mengepakan sayap beberapa kali, lalu terbang ke atas tanah. Cara itu diikuti seluruh penerbang angkatan udara Aliansi lainnya.
Seluruh penerbang menunduk hingga tubuhnya bersentuhan dengan punggung naga untuk mengurangi hambatan udara. Naga dan wyvern butuh ratusan kali kepakan sayap sebelum mencapai ketinggian yang diinginkan.
Sejumlah penerbang naga dan wyvern terbang membubung ke langit. Para penerbang berkumpul dari seluruh negara anggota Pasukan Aliansi… dengan total hampir 900 kadal terbang yang lepas landas satu persatu. Ratusan kadal terbang merupakan sebuah pemandangan yang sangat langka, dan mungkin tidak akan terjadi lagi selain di perang besar ini.
Faktanya, jumlah kadal terbang yang dikerahkan berjumlah hampir 3% populasi naga dan wyvern di negara-negara anggota Aliansi. Sebagian besar kadal terbang yang dikerahkan hari ini adalah naga dan wyvern tua, dan menghindari penggunaan kadal terbang muda demi mencegah kepunahan.
Hanya cahaya dua bulan yang diandalkan penerbang sebagai penerangan, tapi gelapnya malam tidak membuat penerbang dengan mudah tersesat. Untungnya, benteng Pasukan Ekspedisi merupakan tempat yang cukup terang.
“Terangi malam dan hancurkan benteng lemah itu!”
Komandan penerbang mengambil peluit di kantongnya dan meniupnya sekeras mungkin hingga seluruh penerbang bisa mendengarnya. Sejumlah naga meraung sebagai tanggapan bunyi peluit tersebut, dan jeritan dari para kadal terbang memenuhi langit malam dengan suara yang menakutkan.
Komandan penerbang menarik tali kekang dan memerintahkan naga anginnya untuk terbang turun. Para penerbang lainnya yang mendengar bunyi peluit mengikuti manuver komandan mereka, dan terbang mengarah ke benteng Pasukan Ekspedisi.
“Target terlihat!”
Prajurit operator artileri anti-pesawat menyiapkan amunisi, dan mengarahkan laras meriam ke atas. Sayangnya, senjata inilah yang menjadi target penyerangan para penunggang naga. Selain senjata pertahanan udara, meriam dan artileri self-propelled merupakan target penyerangan.
Pasukan angkatan udara Aliansi terbang dengan ketinggan yang aman, dan terbang mendekati target mereka.
Saat akan mencapai target, seluruh penerbang menjatuhkan guci tanah liat di punggung mereka. Masing-masing penerbang menjatuhkan tiga guci tanah liat ke atas target penyerangan.
Guci yang dijatuhkan seluruh penerbang jatuh ke tanah dekat target. Ketika guci-gici tanah liat menghantam tanah, benda itu langsung menyebabkan kobaran api besar.
Ini adalah senjata baru Pasukan Aliansi yang diusulkan Pahlawan Amarah Rio. Senjata ini lebih akrab dengan sebutan ‘bom molotov’.
Material senjata baru ini sangat sederhana, hanya menggunakan zat yang mudah terbakar seperti anggur dengan kadar alkohol sangat tinggi dan minyak yang dicampur. Material semacam fosfor putih juga dicampur, dan zat ini akan menyala ketika membentur tanah, dan akan membakar campuran yang mudah terbakar tersebut.
Meskipun senjata ini tidak menyebabkan kerusakan pada senjata-senjata Pasukan Ekspedisi yang menjadi target penyerangan, beberapa penerbang justru menjatuhkan bom molotov ke rumah-rumah pengungsi dan tenda-tenda darurat yang didirikan untuk merawat prajurit dan pengungsi yang terluka.
**
Ketika Edera terkejut oleh suara yang sangat bising, dia memanjat menara barat, dan dia melihat asap hitam tebal mengepul di sekitar sisi barat hingga selatan benteng. Tak hanya di area tersebut, api juga berkobar di barak, tenda-tenda darurat, pemukiman pengungsi, dan bahkan rumah sakit yang merawat banyak prajurit yang terluka juga dikelilingi oleh api merah menyala.
Pemukiman pengungsi dan benteng Pasukan Ekspedisi sebelumnya adalah tempat yang damai. Karena melihat kedamaian tersebut direnggut, Edera mengepalkan tangannya erat-erat. Ada banyak orang di dalam bangunan yang terbakar, apakah mereka semua selamat?
Tiba-tiba Edera berjongkok di menara pengawas sambil melindungi kepalanya begitu dia mendengar suara benturan yang keras. Setelah itu, ketika dia sudah memastikan tidak ada suara benturan kedua, Edera berdiri dan membalikkan badan ke sumber suara benturan tadi.
Edera melihat ke arah benturan, dan yang dia lihat adalah sebagian dinding benteng telah runtuh.
“Serangan ketapel raksasa!?”
Terlihat ada ratusan bongkahan batu besar yang dilempar terus menerus dari ketapel raksasa Pasukan Aliansi, sepertinya mereka membawa sangat banyak artileri berupa batu tersebut. Pasukan Ekspedisi juga melakukan serangan balik dengan menembakkan beberapa mortir dan artileri medan yang tersisa. Tetapi asap yang cukup tebal menutup bidang penglihatan, dan pembidik senjata tidak bisa melihat dengan baik.
Memiliki banyak ketapel tidak termasuk masalah meski ada banyak batu yang dilempar meleset, anda dapat mengenai target yang mencolok seperti dinding benteng.
Edera berpikir bahwa Aliansi adalah lawan yang sangat keras kepala.
Pasukan Aliansi mengabaikan berkurangnya 40.000 pasukan selama perang ini, dan terus menyerang tanpa henti. Sebuah kekalahan kecil hanya akan menyebabkan kerugian minim, lalu agresivitas menyerang dalam pertempuran memberikan Pasukan Ekspedisi pukulan tak terduga.
Di hadapan Pasukan Aliansi yang tidak menghentikan serangan batu dari ketapel raksasa, hanya ada pemukiman pengungsi dan benteng yang sudah dalam keadaan menyedihkan. Sejauh mata memandang, setelah hujan batu yang diberikan Pasukan Aliansi, yang terlihat adalah tumpukan puing-puing dan mayat pengungsi dan prajurit. Suara api yang membakar kayu kering dan rumah terdengar, dan suara rintihan dari orang-orang yang terluka. Asap dipenuhi dengan aroma darah, disertai dengan suara keputusasaan.
“Bu! Di mana kamu? Bu!” seorang gadis kecil yang terpisah dari orang tuanya berdiri lemah sambil menangis, dan menatap tempat tinggal pemberian Pasukan Ekspedisi bagi keluarganya. Dan rumah yang terbakar yang gadis kecil itu ratapi memanggang kedua orang tuanya.
“Cepat bawa barang berharga kalian! Lari dari sini!” beberapa prajurit Pasukan Ekspedisi yang dibantu beberapa tentara bayaran berteriak seperti itu.
“Oh… kakiku!” seorang pengungsi tua bersandar di tiang listrik dengan kaki terluka parah.
Edera dan para prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela ingin menjawab setiap orang yang meminta bantuan sekarang, tetapi hal pertama yang harus dilakukan adalah menghentikan serangan musuh. Pasukan harus melawan secepat mungkin dan menghentikan pergerakan musuh yang semakin leluasa. Sambil mendengar teriakan menyedihkan dari orang-orang, Edera bergegas bergabung dengan pasukan sukarela.
**
Situasi perang jelas sudah didominasi oleh Pasukan Aliansi.
Sejumlah menara pengepungan untuk penyerangan benteng dipasang di dinding benteng, dan prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela bisa melihat pasukan besar Pasukan Aliansi dengan mantap melintasi tembok.
Pertempuran sengit terjadi di dalam benteng, dan para komandan korps Pasukan Aliansi mengangkat pedang mereka untuk memerintahkan menyerang. Para jendral Pasukan Aliansi sepertinya tidak takut berada di tengah perlawanan yang diberikan Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela.
Tapi, pasukan sukarela bersama prajurit Pasukan Ekspedisi tidak bisa membiarkan penyerangan musuh.
Sambil menaiki tangga yang disediakan Pasukan Ekspedisi, prajurit sukarela menunggu tentara Aliansi di atas dinding benteng. Mereka membawa senjata buatan sendiri yang disimpan pada ember plastik. Tentara musuh yang memanjat dinding disiram dengan semacam minyak dan bahan mudah terbakar lainnya, dan beberapa tentara menyalakan obor dan menjatuhkannya di antara tentara musuh yang disiram minyak tersebut.
Selain membakar musuh menggunakan minyak, senjata pelontar api yang masih memiliki sedikit bahan bakar juga menyemburkan api sebagai penambah daya bunuh.
Meski melihat pemandangan puluhan teman yang terpanggang hidup-hidup, para prajurit Aliansi yang berani menaiki tangga dan melihat rekan-rekan mereka jatuh demi satu dari atas dinding sebagai jasad yang terbakar.
Dikelilingi oleh api dan panas yang luar biasa, medan perang dengan cepat berubah menjadi neraka yang mematikan.
Sialnya, Pasukan Aliansi menyerang dari segala arah pada saat yang sama, dan tidak mungkin untuk menghadapi mereka sekaligus. Ratusan prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela menutup lubang yang diciptakan musuh.
Benteng Pasukan Ekspedisi hampir jatuh…
Hal itu disebabkan oleh serangan korps ke-9 Pasukan Aliansi yang dipimpin Pahlawan Amarah, dan akhirnya berhasil membuka jalan dengan menjebol salah satu sisi benteng. Demi menghancurkan salah satu sisi benteng, serangan itu menyebabkan ribuan prajurit korps ke-9 Pasukan Aliansi terbunuh.
Namun ini bukan masalah semangat juang, tetapi jumlah pasukan di pihak Aliansi sudah sangat menurun. Meski begitu, tidak ada kesalahan dalam komando, dan kerusakan yang dialami Aliansi dalam kisaran jumlah yang wajar. Kekuatan untuk menghancurkan Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela lebih dari cukup.
Tentu saja strategi untuk menutup Gerbang sempurna yang sempat dikuasai Pasukan Ekspedisi adalah pilihan yang sangat bagus. Strategi ini dirancang untuk mengalahkan Pasukan Ekspedisi.
Saat Gerbang sempurna yang dikuasai Pasukan Ekspedisi di tutup, maka tidak ada bala bantuan dari Indonesia yang akan datang.
Maka tidak ada halangan untuk mengubah strategi. Tujuan Pasukan Aliansi adalah merebut kembali Tanah Suci, menyatukan kembali Negara Yekirnovo ke pangkuan Kekaisaran Luan, dan hancurkan pasukan dunia lain demi kedamaian dunia ini.
“Perintahkan seluruh pasukan untuk melakukan serangan total. Pertempuran yang menentukan, waktunya sudah tiba!”
Para petinggi Aliansi memerintahkan serangan total tanpa ragu-ragu, mereka juga tidak ragu memasukan pasukan cadangan dan monster dalam pertempuran tersebut.
Pasukan utama yang dipimpin kesembilan pahlawan melewati sisi benteng yang di hancurkan, dan pasukan besar akhirnya masuk dari luar benteng.
**
__ADS_1
Regu penjelajah 1 adalah salah satu dari sedikit bagian Pasukan Ekspedisi yang memiliki sisa peluru di magasin. Meski seluruh tembakan anggota Regu mengenai sasaran dan membunuh prajurit musuh, tembakan itu tidak memiliki dampak yang besar. Musuh yang memasuki benteng terlalu banyak untuk dilawan dengan sisa amunisi.
“Jingan! Kenapa kepala ini rasanya sangat sakit!”
Tubuh Nio sudah mencapai batasnya karena stres menjalani pertempuran setiap hari, kurang tidur, terluka karena bertarung secara langsung, dan kekurangan nutrisi. Tubuh, otak, dan pikiran Nio berteriak, “Istirahatlah brengsek!”
Tapi, yang menderita bukan hanya Nio, hampir seluruh prajurit mengalami masalah yang kurang lebih sama dengannya.
Ketika terompet perintah penyerangan dibunyikan oleh pihak musuh, ratusan ribu tentara Aliansi memasuki sisi benteng yang dihancurkan, dan membuat seluruh prajurit yang melawan terpaksa mundur menuju menara pengawas, dimana pemanah ditempatkan di situ.
“Jangan buat musuh mendekat! Lawan mereka!”
Seluruh prajurit menggunakan senjata mereka dengan sebaik mungkin, dan para pemanah merespon dengan menghujani musuh dengan panah, namun itu tidak terlalu membantu.
Pasukan Aliansi membawa masuk senjata pengepungan semacam balista dan crossbow ke dalam benteng, dan membunuh prajurit yang mencoba menyelamatkan diri.
Selain prajurit yang memiliki senapan atau senjata jarak jauh, pasukan relawan tidak bisa menghadapi musuh.
Sementara itu, sepasang kekasih Regu penjelajah 1, Sidik dan Fariz menembaki musuh dengan peluru pistol yang hanya tersisa beberapa butir saja. Wakil komandan Regu penjelajah 1, Liben juga melakukan perlawanan yang serupa, sambil memeriksa keberadaan Nio.
Namun, Liben tidak menemukan sosok Nio di antara prajurit yang bertarung dengan musuh. Perasaan resah karena tidak menemukan Nio membuat Liben tidak bisa membidik dengan benar.
“Mundur ke sisi timur!”
Liben mengerti itu merupakan perintah, dan memungkinkan pasukan untuk menyusun kembali posisi.
“Mundur! Mundur!”
Ketika Liben memanjat dinding benteng, dia melihat medan perang di bawah. Kondisi sangat mengerikan, prajurit Pasukan Ekspedisi terpaksa bertempur dengan pedang dan pisau melawan musuh. Di antara mereka, Nio berjuang dengan pedang dan perisai yang dia rebut dari perwira musuh yang dia bunuh.
Kondisi Nio sama menyedihkannya, sebagian tubuhnya telah tertutupi oleh darah kawan dan lawan. Seragam lapangannya menyerap banyak darah, dan membuat pemuda tersebut sangat kesal.
Nio sudah cukup lama terpisah dari Regunya, dan berjuang di medan perang terbuka bersama prajurit yang sudah kehabisan amunisi dan prajurit pasukan sukarela.
Dia tiba-tiba sadar, hampir tiga tahun dia sudah bergabung dengan Tentara Pelajar, salah satu komando TNI. Lalu, tanpa diduga Nio terjebak di dalam pertempuran mengerikan ini, dengan imbalan yang kurang jelas selain uang.
Tetapi, dia tidak peduli masih ada Indonesia atau tidak dibelakangnya. Nio hanya bisa terus maju menebas musuh yang mengenakan zirah tebal, karena dia sudah ‘terlanjur’ berjuang sejauh ini.
Bagaimana bisa aku bisa berjuang meski negara yang aku lindungi tidak jelas keberadaannya karena Gerbang yang sudah tertutup? Memikirkan hal itu membuat perut Nio mual.
Dari sudut pandang orang awam, Nio dan prajurit Tentara Pelajar lainnya adalah pahlawan. Sejak perang dengan dunia lain dimulai, mereka telah bertahan hidup di medan perang. Jika mereka masih hidup, mereka cukup pintar untuk menghindari kematian. Mereka mungkin hanya tidak ingin mati sia-sia tanpa perlawanan, sehingga memutuskan menjadi prajurit Tentara Pelajar.
Mereka sudah lelah dan bosan marah terhadap pemerintah yang seenaknya mengatur tentang militer Indonesia. Tentang persenjataan, personel, dan logistiknya semua diatur oleh sekelompok orang yang ingin disebut dengan ‘wakil rakyat’. Tapi, berkat para elit politik yang terlalu ikut campur pada urusan pengiriman pasukan ke dunia lain, inilah yang terjadi.
Tapi, Pasukan Ekspedisi untungnya diisi oleh laki-laki dan perempuan Indonesia pemberani yang dilatih untuk menekan rasa takut mereka ketika bertarung dengan musuh. Beberapa prajurit mungkin memilih tempat ini menjadi perisitirahatan terakhir, dan kematian mereka bukan cara mati yang buruk, tapi mulia.
Ini adalah tempat pembuangan akhir…
Mereka dibuang di sini dan dipaksa untuk bertarung sampai mereka mati…
Bala bantuan tidak akan pernah datang…
Ini adalah garis akhir untuk mereka, para pemuda itu akan mati di sini…
Prajurit Pasukan Ekspedisi bahkan tidak memiliki pemikiran seperti itu, tetapi sukarelawan yang ‘kasihan’ terhadap mereka yang berpikir seperti itu.
Pasukan Ekspedisi tidak berjuang untuk melindungi apapun. Prajurit yang gugur memiliki keinginan, yakni meminta rekan-rekan mereka yang masih hidup untuk berjuang. Meski mereka memiliki kesempatan sebesar 1% untuk mendapatkan bantuan.
Ada banyak prajurit Pasukan Ekspedisi yang tidak tahu cara untuk menyerah.
Jika bantuan dari Indonesia datang, mereka akan kembali memiliki tujuan untuk berjuang. Yakni melindungi rakyat negara tersebut, dan juga babi elit politik yang memerintahkan para pemuda untuk melindungi mereka.
Menjadi prajurit pasti berarti diperintahkan ke medan perang kematian, dengan tujuan melindungi orang lain tanpa tahu apa yang terjadi kedepannya. Bahkan jika para prajurit berhasil bertahan, mereka akan kembali ke medan perang kematian selanjutnya. Mereka secara praktis diperintahkan untuk mati.
Seberapa besar negeri yang bernama Indonesia itu? Seberapa kaya bangsa itu? Apa yang bisa diberikan para babi elit politik yang korup tersebut terhadap prajurit yang sedang berjuang di sini?
Apa yang para babi ‘wakil rakyat’ bisa lakukan tanpa Presiden Suroso?
Ada banyak pemuda yang mempertahankan masa depan dengan berjuang di sini. Dari awal mereka memang tidak ingin dikirimkan ke dunia lain ini. Yang mereka miliki hanyalah perintah untuk berjuang mati-matian hingga tubuh hancur dicincang musuh atau diinjak monster raksasa musuh.
Meski mereka dijanjikan kehormatan sekalipun bila berhasil bertahan dari perang ini, para babi buncit tersebut tidak pernah menepati janji mereka… semua prajurit juga tahu itu.
Jika semua prajurit Pasukan Ekspedisi di sini habis, jika prajurit yang masih berjuang gugur, mereka berharap jika ada bantuan yang datang keluarga mereka bisa diberi keselamatan dan keamanan, dan hidup layak daripada melihat tubuh anak, suami, istri, kekasih mereka hancur di sini.
“Hentikan, kau sudah terlalu keras berjuang. Anakku…”
Suara yang tidak jelas apakah yang mengatakannya seorang perempuan atau laki-laki tersebut tiba-tiba terdengat di pikiran Nio. Tentu saja Nio hanya menganggap jika itu bagian dari halusinasinya karena kurang tidur.
Nio tetap menebas leher orc di depannya dengan brutal, meski perkataan itu masih-terngiang-ngiang. Seakan-akan suara itu akan selamanya menghantui Nio meski dia mati sekalipun.
“Hentikan, Nio. Kamu sudah boleh istirahat sekarang…”
Ada pertempuran yang tak berujung di depannya, jadi Nio tidak punya waktu untuk menangapi kata-kata yang terdengar di kepalanya.
“Tutup gerbangnya! Jangan biarkan musuh masuk!”
Ketapel raksasa dan balista musuh terus menghujani artileri mereka. Saat seluruh prajurit yang bertarung di medan terbuka mendengar perintah mundur, seluruh prajurit bergerak cepat ke arah gerbang benteng timur sebelum pintu gerbang tertutup.
Namun, segera setelah itu sebuah batu yang terbakar terbang dengan pola parabola dan menghantam prajurit yang dikenainya, baik itu prajurit Pasukan ekspedisi, pasukan sukarela, dan Pasukan Aliansi.
Anggota tubuh prajurit yang terkena hantaman batu langsung terlempar, dan sebuah kepala prajurit lain menghantam belakang kepala Nio yang membuatnya tersungkur ke depan. Bau aneh daging pangang menyebar, dan para prajurit sukarela kehilangan semangat juang mereka dan berdiri terpaku.
“Cepat masuk!”
Suara marah Zariv bergema, ketika memerintahkan para sukarelawan untuk segera masuk ke dalam benteng. Dia belum pernah mengalami pertempuran seburuk dan sebrutal ini.
Nio berhasil masuk ke dalam benteng setelah diseret dua prajurit Pasukan Ekspedisi. Ketika gerbang timur benteng hendak ditutup, kedua prajurit penjaga gerbang ambruk setelah terkena anak panah sepanjang 1 meter yang dilepaskan seorang prajurit yang bersenjatakan crossbow.
Pasukan Aliansi, baik prajurit manusia dan monster masuk ke dalam benteng dengan deras. Prajurit terpaksa melakukan pertempuran pertahanan dengan bertarung jarak dekat menggunakan pedang dan pisau.
Edera mati-matian menghadapi pasukan besar musuh, tetapi gerbang benteng semakin terbuka lebar. Bahkan beberapa monster berusaha menghancurkan dinding benteng dengan pentungan besar mereka untuk memperlebar pintu masuk pasukan.
Satu-satunya mata Nio, mata kirinya menatap tajam ke arah musuh yang semakin leluasa memasuki benteng.
“Apa yang kalian lakukan, terus bertarung!”
Lux berteriak keras setelah menebas kepala seorang prajurit manusia musuh, dan berlari untuk membantu rekan-rekannya.
Dengan ilmu pedang yang luar biasa, Lux dengan mudah menebas dan memenggal prajurit musuh.
Nio meringis, dicekam oleh rasa takut yang terlalu menusuk dan menembus perasaan. Kegilaan yang teramat dalam telah terukir di wajah Nio.
Pemuda itu, Nio, berdiri dengan bantuan pedangnya, dan menebas kaki goblin yang
akan menyasar kepalanya. Dia kemudian memasang penglihatannya tajam-tajam, dengan harapan menemukan salah satu orang dari pasukan musuh.
“Sudah kubilang, istirahatlah tolol!”
Suara itu lagi… Nio sudah mulai muak dengan suara seseorang yang terus terlintas di otaknya.
Nio bertarung melawan musuh yang memutuskan menjadikannya target, dan menebas dan menusuk dada siapa saja yang menghalanginya untuk mencari Rio.
**
Perasaan jika ‘kemenangan’ akhirnya akan datang, diubah menjadi ‘keyakinan jika kemenangan sudah datang’ oleh korps ke-9 yang saat ini dipimpin Rio. Pada saat ini, Rio juga memiliki sedikit keresahan jika kebetulan harus bertemu dengan Nio.
“Theodore, apa reaksi musuh?”
“Yah, mereka sepertinya sudah kehilangan momentum di pertempuran ini. Rio, inilah saatnya!”
Semua bawahannya melaporkan bahwa moral musuh turun, dan prajurit sudah sangat bersemangat untuk bertempur. Kata-kata bawahannya membuat Rio tersenyum tipis.
“Baiklah, pasukan dan seluruh pahlawan akan melakukan serangan total!”
Akhirnya tiba saatnya untuk melakukan pertempuran yang telah lama ditunggu-tunggu. Rio meminta seluruh prajuritnya untuk jangan ragu, dan yakin dengan kemenangan atas musuh.
“Kekuatan Pasukan Ekspedisi sudah habis, bongkahan baja yang mereka sebut senjata sudah menjadi busuk! Waktunya serangan habis-habisan!”
Prajurit menanggapi perkataan Rio dengan sorak sorai, itu adalah sorakan kegembiraan.
“Seluruh pasukan maju, dan serang benteng busuk mereka! Raih kemuliaan dengan tanganmu! Kehormatan dan kemuliaan sudah menunggu kalian!”
Dengan sorakan yang menggelegar, Rio memimpin dan mulai berlari dengan penuh semangat bersama para pahlawan yang lain. Pasukan Aliansi menyerang Pasukan Ekspedisi dengan amarah, seolah-olah untuk menghilangkan rasa frustasi sejak kedatangan pasukan tersebut.
Pasukan pimpinan Rio berteriak seperti raungan binatang buas, dan membuat prajurit yang mempertahankan sisi utara gemetar.
__ADS_1
Pasukan sukarela dan prajurit Pasukan Ekspedisi yang mempertahankan sisi utara terkejut dengan serangan mendadak, dan menyadari jika sisi utara telah menjadi medan perang yang sengit dan mematikan.
Prajurit Pasukan Ekspedisi menatap bendera Sang Merah Putih yang berkibar di sisi utara benteng ini, dan berharap mereka diberi keberanian seperti para pahlawan terdahulu dalam mempertahankan bendera tersebut.
“Jangan ragu! Bunuh semuanya!”
“Tebas seluruh musuh di depanmu! Jangan sisakan satupun!”
Moral pasukan pimpinan Rio meningkat drastis setelah teriakan dari Pahlawan Nafsu dan Pahlawan Iri Hati.
Dengan jumlah yang terpaut sangat jauh, pasukan yang mempertahankan sisi utara benteng tidak bisa melawan dengan efektif.
Serangan bergelombang tiga kali sehari melelahkan prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela. Pasukan sukarela tak lebih dari para kadet muda yang lemah fisik maupun mental. Serangan musuh yang terus menerus menguras konsentrasi, emosi, dan kecepatan reaksi.
Kemampuan bertarung para pahlawan melampaui para tentara elit Pasukan Aliansi. Mereka dengan mudahnya menghempaskan, dan menerbangkan prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela dengan sihir mereka.
Gelombang serangan pasukan yang mengenakan zirah kuat, bersenjata lengkap menerobos sisi utara benteng. Mereka menyerang sambil mengayunkan pedangnya, dan membuat prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela kuwalahan. Prajurit juga takut dengan pasukan kavaleri yang menyerbu dengan kecepatan tinggi dan tombak panjang mereka yang mematikan.
**
“Tanah Suci menjadi milik kita lagi!”
Semua prajurit bersatu untuk menghancurkan dan memasuki benteng Pasukan Ekspedisi.
Benteng diserang dari seluruh arah, dan musuh tidak bisa dibendung lagi.
Pada penyerangan ini, pertahanan akhirnya kalah. Prajurit Pasukan Aliansi menusuk sukarelawan dan prajurit Pasukan Ekspedisi yang menyelamatkan diri.
Delapan bendera Sang Merah Putih yang berkibar di beberapa titik benteng diturunkan secara paksa oleh prajurit Aliansi dengan disertai sorakan.
Rio dan pasukannya merangsek sisi utara benteng, dan menurunkan bendera Sang Merah Putih yang berkibar di sana, dan menggantinya dengan bendera Aliansi. Pasukan yang mempertahankan sisi ini kehilangan semangat ketika melihat hal tersebut.
Tapi, masih ada satu bendera lagi yang belum diturunkan oleh mereka. Sebuah tiang bendera berdiri di depan Markas Komando Pasukan Ekspedisi, dan ribuan prajurit bertahan di sini untuk mempertahankan kain berwarna merah dan putih tersebut.
Nio bersama prajurit lainnya bertarung dengan pedang dan senjata jarak dekat lainnya dengan bela diri yang dikuasai. Hanya bendera tersebut yang pantas dipertahankan ketika delapan bendera Sang Merah Putih lainnya sudah diganti dengan bendera Aliansi.
Lalu, tanpa sadar puluhan prajurit yang mempertahankan tiang bendera di belakang mereka terbunuh. Hal itu mengejutkan Nio dan prajurit yang bertarung untuk mempertahankan bendera di belakang mereka.
Satu-satunya Sang Merah Putih berkibar, menyaksikan para pemuda mempertahankannya. Meski melawan pasukan yang sangat besar, seharusnya Sang Merah Putih bangga dengan pemuda dengan bantuan sukarelawan bertarung demi dia.
Penyebab puluhan prajurit mati dengan tiba-tiba tak lain adalah Pahlawan Amarah, dengan senjata senapan dan sihir Peluru Abadinya.
Nio maju bersama prajurit yang tersisa lainnya untuk melawan ribuan prajurit Aliansi bersama para pahlawan tersebut. Perasaan Nio berantakan dan menunjukkan ekspresi rumit ketika para pahlawan berdiri di depannya, dan dia menatap tajam ke arah Rio yang berdiri paling depan.
Pertarungan dilanjutkan, namun dengan mudahnya prajurit yang membela Sang Merah Putih dipukul dan banyak yang terbunuh.
Sementara itu, Nio bernapas dengan berat ketika Rio berjalan perlahan ke arahnya sambil menenteng senapan sihirnya. Wajah mereka berdua menunjukkan keseriusan untuk saling bertarung.
“Kekuatan kita tidak setara sekarang. Jika aku menggunakan kekuatan sihirku, kau pasti sudah kalah. Jadi, aku menantangmu untuk beradu pedang, Nio!”
Pertempuran terhenti sementara saat Rio berteriak seperti itu. Di saat pertempuran dimulai dengan duel, maka pasukan harus menunggu hingga salah satu pihak yang berduel mati sebelum melakukan pertempuran. Namun, pertempuran masih berlanjut ketika kedua pemuda tersebut memutuskan untuk bertarung.
Kondisi Rio masih terlihat baik-baik saja ketika menantang Nio untuk bertarung. Di sisi lain, Nio dalam kondisi yang tidak terlalu menguntungkan, sekujur tubuhnya dipenuhi dengan luka sabetan senjata tajam.
Tapi, demi mempertahankan selembar kain berwarna merah dan putih di belakangnya, Nio harus menghadapi pertarungan ini.
“Kau sekarang jadi sombong ya, Rio. Apa kau benar-benar akan bertarung denganku tanpa menggunakan sihir mu?”
Nio sebenarnya takut untuk berbicara seperti itu, tapi dia hanya ingin memastikan apa Rio benar-benar akan bertarung dengannya tanpa kekuatan sihir.
“Kalau aku menggunakan sihirku, pertarungan akan sangat cepat, dan kau akan segera mati.”
Nio menelan ludah hingga jakunnya bergerak naik turun. Keringat mengalir di pipi Nio yang ditutupi dengan debu dan noda hitam.
Di belakangnya, Nio merasa jika pertarungan masih berlanjut dengan sangat sengit.
Lux dan Zariv saling bekerja sama untuk menghabisi seluruh monster raksasa milik Aliansi. Edera dengan lincah melompat seperti kucing untuk menebas leher prajurit musuh dengan cakar tajam dan kuat miliknya.
Setelah menerima tantangan Rio, Pembantu Letnan Satu Nio sudah siap untuk segala resikonya.
“Sudah ku bilang, kau seharusnya istirahat saja!”
Lagi-lagi suara seseorang yang mengatakan hal itu terdengar di otak Nio lagi, dan tentu saja dia mengabaikannya lagi.
Rio menatap Nio yang kelelahan dengan wajah santai, namun Nio menganggap jika tatapan itu meremehkan dirinya yang sudah sangat lelah.
Nio menatap Rio dengan pasrah, sambil menggenggam pedang dengan kedua tangannya. Selain akan bertarung dengan ‘mantan’ sahabatnya, Nio masih bertempur dengan nasib dan menunggu takdir yang akan menghampirinya saat pertarungan nanti.
Walau Rio terlihat jauh lebih kuat dari sebelumnya, tapi Nio masih melihat banyak celah ketika Rio berlari cepat ke arahnya sambil membawa pedang di tangan kanannya.
Nio menarik napas dengan berat, dan berlari cepat untuk beradu dengan Rio. Nio benar-benar merasa dirinya sangat menyedihkan saat harus bertarung dengan Rio, kesempatannya untuk hidup mungkin hanya sebesar 5% ketika bertarung dengan sang Pahlawan Amarah.
Nio tahu tidak ada tempat untuk lari, bahkan jika dia melarikan diri dia tidak tahu harus ke mana. Nio yang memaksakan diri untuk tetap tenang menerima takdir yang membuatnya pasrah pada hasil pertarungan ini.
Untuk beberapa saat, ingatan Nio ketika berlatih dengan Rio diputar lagi. Sebagian besar ingatan berisi ketika Nio berkali-kali mengalahkan Rio saat bertanding bela diri maupun berlatih pedang.
Tapi…
“Sudah ku duga, kau masih banyak celah meski kau sudah menjadi pahlawan, Rio…”
Rio bahkan tidak menyadari dengan serangan yang Nio arahkan pada lehernya, beruntung dia masih sempat menghindari serangan kilat Nio. Sisi kiri leher Rio tersayat oleh mata pedang Nio, dan mengalirkan darah.
Dada Rio semakin membara ketika Nio tanpa diduga berhasil melukainya dalam sekali serangan. Dia kemudian berdiri dan menatap pasukannya yang masih bertarung dengan prajurit pembela Sang Merah Putih.
Nio kemudian membalikkan badannya, dan yang dia lihat selain Rio yang tersungkur adalah Sang Merah Putih yang sudah turun setengah tiang. Tapi prajurit musuh yang berhasil menurunkan bendera sudah dipenggal oleh Edera, dan membuat semangat juang prajurit semakin meningkat dan menaikkan lagi bendera satu tiang penuh.
Pasukan yang masuk terus-menerus dari benteng sangat merepotkan, dan membuat kehancuran yang jauh lebih besar di dalam benteng. Prajurit yang sudah kelelahan hampir putus asa.
Nio mendekati lagi Rio yang sudah berdiri untuk melanjutkan pertarungannya. Dia merasa lega setelah berhasil melukai Rio, meski itu tidak cukup untuk menghentikan pertarungan mereka berdua.
“Aku kalah dengan mu, Nio…”
Nio berhenti mendekati Rio ketika dia mengatakan hal itu, namun itu membuat Nio semakin waspada.
“Tapi dia yang akan mengalahkan mu!”
Rio tersenyum lebar ketika Nio tidak menyadari ada seseorang di belakangnya. Nio tersentak ketika Rio mengatakan hal itu, dan menoleh ke belakang dengan cepat.
Tapi dia kalah cepat dengan serangan orang di belakangnya.
Indah sudah ada di belakang Nio saat dia berjalan mendekati Rio untuk mengakhiri pertarungan mereka. Dia berencana untuk membuat Nio menghentikan pertarungan mereka, dengan cara menyerang Nio menggunakan panah sihirnya.
Nio yang terkena panah cahaya milik Indah berlutut di tanah, dan menatap Indah dengan tatapan kabur. Dia sudah terlalu kelelahan, dan semakin menderita dengan luka di bahu kanannya.
Nio mencengkram kuat bahu kanannya yang berlubang akibat panah cahaya dari Indah. Darah tak berhenti keluar meski Nio sudah mencengkram bahu kanannya dengan sangat kuat.
“Maaf harus melukaimu, Nio.”
Hanya itu yang dia dapatkan dari Indah setelah melukainya, dan melihat gadis itu melewati dirinya. Dia melihat dari bahu kiri, dan mendapati Indah yang membantu Rio berdiri.
“Saatnya sudah tiba, kau boleh istirahat sekarang, Nak...”
Suara yang melintas di pikiran Nio mulai jelas jenis kelamin yang mengatakan hal itu. Suara yang tidak asing lagi menurut Nio.
“Bapak…!?”
Lalu, sesaat kemudian terdengar tiga suara ledakan yang menerbangkan prajurit Pasukan Aliansi. Ledakan besar tersebut mengejutkan Rio dan Indah, dan pasukan yang membela Sang Merah Putih.
Setelah ledakan besar tersebut, di langit terlihat 30 benda terbang yang mengeluarkan ekor asap di belakangnya.
Itu adalah rudal yang seharusnya diluncurkan dengan kendaraan peluncur roket. Tetapi Pasukan Ekspedisi sudah tidak memiliki kendaraan tersebut karena dihancurkan musuh.
Lalu, suara gemuruh mesin kendaraan perang terdengar sangat jelas. Nio mengenali suara salah satu suara kendaraan tempur tersebut.
Sesaat kemudian, suara teriakan yang menggelegar terdengar dari luar benteng, dan suara gemuruh khas pasukan kavaleri terdengar.
“Bantuan…! Bantuan musuh datang!”
Seorang prajurit Pasukan Aliansi berteriak seperti itu, dan mengejutkan seluruh prajurit yang berada di dalam benteng.
Prajurit Aliansi mencoba melarikan diri ketika mendengar kabar jika Pasukan Ekspedisi mendapatkan bantuan, dan para prajurit hanya menatap mereka dengan kebingungan.
Beberapa prajurit berpikir mereka hanya salah dengar karena efek kurang tidur tentang bantuan yang mereka dapatkan.
Tapi, 40 helikopter serang melintas di atas mereka, sambil melepaskan puluhan roket ke arah pasukan musuh yang melarikan diri.
__ADS_1