
11 November 2321, pukul 00.06 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, dini hari.
**
Ribuan tawanan yang didapatkan, bisa menjadi teman ratusan tawanan yang didapatkan sebelumnya. Setidaknya mereka di kamp tawanan diperlakukan seperti warga biasa.
Seluruh pasukan dalam keadaan tanpa luka, dan siap untuk melanjutkan operasi untuk menerima tantangan perang Kekaisaran Luan. Bahkan jika mereka terluka pun, dengan teknologi medis saat ini akan dengan mudah menyembuhkan yang terluka.
Terget selanjutnya adalah, ibukota Kekaisaran Luan.
Di sana Grup Tempur 3 telah menanti, karena pinggiran ibukota telah direbut dan diubah menjadi pertahanan garis depan di sana.
Setiap prajurit menerima perintah tanpa pertanyaan, percaya bahwa jika ada rintangan di depan, mereka bisa melaluinya.
Pasukan sebanyak 5.200 prajurit berhasil menginjak-injak pasukan dengan jumlah 90.000. Penyihir pasukan ini hanya menjadi beban, dan berakhir menjadi tawanan perang bersama yang lain. Setelah mencetak kemenangan, pasukan diperintahkan untuk menyerang ibukota Kekaisaran. Seluruh Komandan Regu begitu memiliki percaya diri, sehingga mendekati arogansi.
“Siapa yang tidak bisa mengalahkan mereka?”
**
Malam yang tenang tiba di ibukota Kekaisaran Luan, setenang sebelum terjadinya perang.
Ini bisa disebut dengan malam yang tenang dan menyenangkan bagi warga ibukota. Mereka tidak peduli dengan warga pinggiran yang membelot ke pasukan hijau, mereka hanyalah budak-budak.
Orang-orang ibukota dibangkitkan dengan semangat setelah dimulainya perang dengan pasukan hijau, mereka begitu percaya bisa mendapatkan kemenangan dengan jumlah besar mereka. Dengan anggur beralkohol ditangan, semua pria dan wanita bersemangat, sebagian kecil telah pergi pulang untuk tidur.
Angin sepoi-sepoi yang sejuk, membuat api dari obor-obor bergoyang kecil.
Satu-satunya noda kecil yang tersembunyi di malam hari adalah Grup Tempur 1 dan 2 yang akan membantu Grup Tempur 3.
Ini adalah serangan malam pertama di sebuah kota di dunia ini. Karena itu, seharusnya misi ini tidak terlalu sulit.
Nio memimpin di depan 2 Regu penjelajah, dengan mengenakan night vision dia memimpin tim kecil memasuki salah satu sisi ibukota.
Jika ada wartawan yang merekam Nio memimpin pasukan dengan ekspresi tenang dan elegan, pemuda ini akan menjadi sangat percaya diri, bahkan mungkin mendekati sombong. Tim yang diisi 64 orang mengendap-endap di gang kecil yang tersebar dengan dihiasi hamparan bintang yang indah. Tetapi, di dalam langit malam berbintang ini, serangan akan datang. Akan sangat menyenangkan untuk membakar terget penyerangan.
Penyusupan pada malam hari di ibukota musuh, ini akan semudah menyusup di wilayah kosong. Seperti yang diharapkan, penjagaan tidak terlalu ketat, tim ini melihat ratusan prajurit bersenang-senang dengan puluhan tong anggur.
Jika pasukan yang menjaga ibukota membuat persiapan yang hati-hati, mengapa mereka membiarkan ratusan tentara musuh masuk ke ibukota? Pada akhirnya, jika pasukan Kekaisaran melakukan pertempuran udara, mereka akan dilibas dengan mudah oleh capung besi.
Di medan perang, ketidakseimbangan itu adalah hal yang biasa. Ketika pasukan Kekaisaran memiliki konsep evakuasi, pertempuran akan memakan korban sedikit.
Di balik rasa kasihan prajurit pasukan hijau, mereka merasa jika pasukan Kekaisaran perlu untuk diberi pelajaran setelah tidak belajar dari pengalaman sebelumnya. Jika pelajaran malam ini tidak berhasil, artileri dan misil akan menendang bokong mereka.
__ADS_1
Membawa cahaya peradaban kepada kaum barbar jelas sebuah kemuliaan pasukan hijau ini. Nio memahami sesuatu, yakni Gerbang adalah pengacau budaya dan menyebabkan kesenjangan teknologi yang sangat lebar. Namun, Gerbang hanyalah benda mati yang merupakan ciptaan manusia, jadi dia tidak berhak untuk disalahkan.
Tim Nio mencapai sebuah tembok yang mengelilingi wilayah utara ibukota, dia selanjutnya membuat kode senter untuk berkomunikasi dengan tim terdekat.
Istana Kekaisaran bersinar begitu terang saat wilayah pinggiran gelap gulita. Tidak mengherankan jika warga pinggiran memilih untuk menjadi pengungsi dan pembelot.
Istana adalah target utama, selain pangkalan utama pasukan Kekaisaran.
“Aku tidak percaya istana tidak dijaga dengan ketat.”
“Cara berpikir mereka macet, mereka sepertinya meremehkan jumlah kecil kita.”
Anggota tim hanya mendengar Nio dan Chandra yang sedang berbisik-bisik. Mungkin mereka sedang tertawa atas kebodohan musuh.
Mengabaikan puluhan artileri dan misil yang akan segera membakar ibukota, Kekaisaran hanya tahu perang dari yang pernah mereka jalani. Bahkan mereka tidak ingin repot-repot untuk memperkirakan kekuatan musuh. TNI bebas untuk membiarkan kecerdasan mereka berhenti.
Pasukan Grup Tempur harus benar-benar bahagia tentang kebodohan musuh mereka sambil memanfaatkan keadaan yang menguntungkan.
“Ini kesempatan yang bagus untuk menyerang, tapi kenapa kita belum melakukannya?”
“Jangan tanya aku, kita hanya diperintahkan untuk memeriksa keadaan istana saja.”
Chandra mengatakan kekhawatirannya, meski dia terdengar tidak sabar karena peluang terbuka lebar. Namun, Nio masih menunggu panggilan dari komando Grup Tempur.
Itu adalah peraturan yang tidak boleh diubah dan dilanggar. Tentara tidak boleh menyerang fasilitas penting, dilarang menyerang warga sipil tak bersenjata, pemboman tanpa pandang bulu adalah tindak tidak manusiawi, dan sebagainya. Betapa hebatnya hukum yang mengatur medan perang yang gila. Pencipta hukum ini layak mendapatkan penghargaan, jika pasukan sempat melakukannya.
Nio akhirnya mendapatkan panggilan dari komando Grup Tempur, dia diperintahkan untuk menyiarkan pemberitahuan evakuasi terhadap warga ibukota, karena hanya dia satu-satunya orang di ketiga Grup Tempur yang benar-benar fasih dengan bahasa dunia ini.
Istana Kekaisaran merupakan fasilitas negara, begitu pula dengan pangkalan utama pasukan musuh di tempat ini. Menyerang dengan menghancurkan fasilitas penting adalah kesalahan, namun ada beberapa hal yang mengharuskan hal itu dilakukan. Itu merupakan bagian dari strategi menurunkan moral musuh.
Jika dunia ini memiliki hukum perang internasional, mungkin pertempuran sudah terjadi sejak tadi, dan tidak ada warga ibukota yang bersenang-senang di penjuru kota.
“Chandra, berikan mereka peringatan, pesan evakuasi sesuai peraturan.”
“Kau ingin aku melakukan itu?”
Ya, perintah atasan terhadap bawahan hanyalah formalitas, jadi bisa dikatakan Nio sedang bercanda. Tapi itu cukup untuk membuat waktu perintah evakuasi sedikit terlambat.
Hanya Nio yang sangat fasih menggunakan bahasa setempat, jadi tidak mungkin Nio menyerahkan tugas itu kepada orang yang tidak menguasai hal itu.
Seorang anggota tim menyerahkan pengeras suara agar Nio bisa melakukan perintah evakuasi terhadap warga ibukota. Dia menarik napas panjang dan berteriak di pengeras suara, “Ini adalah peringatan…!!!”
Dan peringatan itu menggema di seluruh penjuru ibukota Kekaisaran. Suara yang sangat keras mengejutkan seluruh orang di wilayah ini, mereka mengira jika suara ini berasal dari dewa mereka.
__ADS_1
“Kami, pasukan infanteri Indonesia, akan memulai serangan terhadap fasilitas Kekaisaran!”
Warga benar-benar tidak tahu mengapa suara yang sangat keras ini muncul, bahkan orang yang berbicara tidak terlihat. Tidak diragukan lagi, sebagian besar warga mengira jika ini benar-benar perbuatan dewa.
Yang paling penting, apakah ada yang akan menerima perintah dari pasukan musuh? Banyak warga ibukota yang menganggap peringatan itu sebagai lelucon yang membuat orang berpikir tentang kebenarannya. Sebagian orang memutuskan untuk pergi tidur setelah beberapa menit suara itu tidak terdengar lagi.
“Kami benar-benar berjanji, akan bertempur dengan adil dan jujur, menurut hukum perang internasional!”
Di sisi lain, pasukan yang menjaga ibukota bertanya-tanya, “Apa itu hukum perang internasional?”
Bagi pasukan Kekaisaran, suara ini hanyalah perbuatan iseng dewa. Di sisi Nio, dia cukup kesal karena peringatannya tidak diindahkan oleh satu orang pun.
Nio telah selesai memberikan peringatan evakuasi kepada warga ibukota, dia tidak peduli apakah peringatan ini akan di jalankan atau tidak, setidaknya Nio sudah mematuhi hukum perang internasional. Suasana hatinya sedang tidak terlalu gembira, jadi Nio dengan sengaja berteriak saat memberi peringatan tadi.
“Aku berharap istana itu hancur saat gempa. Tapi aku senang kita bisa menghancurkan bangunan itu. Mungkin di dalam sana ada benda yang mudah terbakar.”
Nada Nio penuh dengan tekad untuk menghancurkan target penyerangan malam ini. Itu membuat anggota tim nya termotivasi, dan bersiap untuk kembali ke Grup Tempur di pinggiran kota.
Karena sebentar lagi pertunjukan kembang api akan di mulai.
“Amunisi siap!?”
“Amunisi siap!”
“Kunci target!”
“Target terkunci!”
“Tembak…!!!”
Biasanya, serangan artileri dan misil akan ditembakkan jika tidak ada warga sipil di sekitar target. Namun, istana berada cukup jauh dengan pemukiman, jadi mungkin akan menimbulkan sedikit korban luka dari pihak sipil.
Namun, jika kota ini dipenuhi dengan pasukan Kekaisaran, maka itu akan menjadi cerita yang berbeda.
Artileri menghujani sasaran dengan mudah sehingga penembak hampir kecewa, dan ledakan menghasilkan dampak yang besar terhadap target. Padahal artileri ditembakkan dari jarak 10 km dari target, dan itu berada di pinggiran kota yang sudah kosong.
Istana Kekaisaran meledak, benar-benar seperti kembang api yang dijanjikan Nio. Bangunan yang terbakar, menerangi malam yang berbintang dengan sesekali disertai dengan ledakan sedang.
Seluruh orang tersentak dengan kejadian ini, dan cahaya dapat dilihat dari jarak sejauh bermil-mil.
Kemudian, sorakan tenang dan puas seluruh pasukan Grup Tempur terdengar.
Ledakan seperti matahari saat malam terasa seperti pertunjukan kembang api untuk menghibur pasukan Grup Tempur.
__ADS_1
“Kita sudah menyelesaikan tugas terakhir, saatnya mencari warga kita yang diculik!”