Prajurit SMA

Prajurit SMA
146. Apa ini lelucon?


__ADS_3

Hari ini, pada pukul 12.30 pasukan bantuan resmi mendapatkan perintah untuk kembali. Hari ini juga adalah hari upacara kenaikan pangkat dan pemberian penghargaan bagi prajurit Pasukan Ekspedisi dan sukarelawan.


Beberapa penyihir milik Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo berbaris memanjang sambil melantunkan serangkaian mantra untuk membuka Gerbang tak sempurna. Mereka melakukan pekerjaan ini dengan senang hati, karena mereka diberikan bayaran yang setimpal oleh pemerintah Indonesia, dengan sesuatu yang nilainya sama dengan 30 koin emas murni. Tentunya mereka tidak dibayar menggunakan rupiah mengingat penggunaan uang kertas yang belum dilakukan di dunia ini, setidaknya para penyihir diberi barang yang nilainya sama dengan 30 koin emas murni.


1 koin emas murni sama nilainya dengan 200 koin perak murni, dan 1000 perunggu. Lalu, nilai 30 koin emas murni bisa untuk membeli sebuah kendaraan taktis beserta perlengkapannya. Setidaknya para penyihir juga dibayar oleh negara asal mereka dengan nilai yang hampir sama. Karena mereka melakukan pekerjaan yang ada hubungannya dengan perdamaian dunia ini.


Cuaca di garis depan Indonesia di dunia lain hari ini sangat cerah, dengan langit biru yang dihiasi sedikit awan dan sekawanan burung yang terbang, serta beberapa wyvern muda liar. Lalu, seluruh kendaraan tempur pasukan bantuan berbaris untuk bersiap memasuki Gerbang tak sempurna yang beberapa saat lagi akan terbuka.


Karena membuka Gerbang tak sempurna dengan ukuran cukup besar membutuhkan waktu sekitar 10 menit dengan energi sihir melimpah seperti yang ada di Tanah Suci. Tapi, jika membuka Gerbang tak sempurna dengan energi sihir terbatas, itu akan membutuhkan waktu hingga 1 jam, hal itu juga tergantung energi sihir yang disimpan penyihir yang bertugas membuka Gerbang. Para penyihir juga tak bisa menggunakan seluruh energi sihir yang mereka simpan, atau akan berakhir fatal.


Tapi, para penyihir yang bertugas membuka Gerbang di Tanah Suci tidak perlu khawatir soal kehabisan energi sihir atau energi fisik. Mereka bisa sepuasnya menyerap energi sihir yang ada di Tanah Suci, dan mereka berpikir bisa membuka Gerbang terbesar sepanjang sejarah dunia ini dengan energi sihir melimpah tersebut.


Bagaimanapun, semua hal yang ada di dunia memiliki batas, bahkan penyihir terkuat pun memiliki kelemahan. Meski para penyihir berpikir mereka bisa membuka Gerbang yang sangat besar dengan energi sihir yang melimpah, fisik mereka juga memiliki batas untuk menyerap energi sihir tersebut. Kecuali mereka memiliki kemampuan yang sangat langka, dimana kemampuan tersebut menyebabkan seorang penyihir bisa menyimpan energi sihir yang sangat besar dengan kekuatan fisik yang sangat lemah. Penyihir yang memiliki kemampuan tersebut hanya ada 1 di Kerajaan Arevelk, yakni Penyihir Agung.


Prajurit sukarela yang telah mengikuti pertempuran bersama Pasukan Ekspedisi memiliki kehormatan khusus untuk pergi ke Indonesia, dan menghadiri upacara kenaikan pangkat dan pemberian penghargaan. Hal itu di dasari atas pernyataan Presiden yang menyatakan “Setiap orang yang membantu prajurit TNI berjuang, baik itu WNI atau warga dunia lain, akan diberi penghargaan sesuai bentuk perjuangan mereka”, dan Panglima TNI sendiri yang menyampaiakan hal tersebut di depan para sukarelawan.


Tentu saja hal tersebut membuat hampir seluruh prajurit Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo iri dengan para sukarelawan. Bahkan beberapa tentara bayaran yang tergabung ke dalam pasukan sukarela mengatakan beberapa kata yang bertujuan membuat panas kepala para prajurit Arevelk dan Yekirnovo. Perilaku kekanak-kanakan para tentara bayaran ternyata mampu menimbulkan beberapa pertengkaan kecil yang bisa dengan mudah dilerai kawan ketiga pihak.


Wajar saja jika ada prajurit Arevelk dan Yekirnovo iri dengan pasukan sukarela yang mayoritas diisi mantan budak yang dipekerjan Pasukan Ekspedisi dan beberapa tentara bayaran milik pedagang. Karena mereka pasti juga ingin melihat seperti apa negeri asal pasukan yang mengenakan seragam hijau loreng tersebut.


Para sukarelawan mengenakan kemeja dan celana hitam panjang yang dibeli murah, setelah melalui proses tawar menawar yang panjang, dan dibeli dengan mengambil sedikit uang anggaran pertahanan TNI tahun ini. Tidak mungkin membawa mereka ke pertemuan resmi yang dihadiri pemimpin negara-negara sekutu Indonesia dan disaksikan jutaan rakyat Indonesia dengan kondisi masih mengenaiakan pakaian lusuh dan nampak usang.


Para mantan budak Demihuman dan tentara bayaran nampak heran dengan pakaian putih yang mereka kenakan.


“Kenapa kita diberi pakaian berwarna putih seperti ini?”


“Benar. Apa mereka tidak tahu jika warna putih itu sangat mahal dan berharga?”


“Apa kita pantas mengenakan pakaian mewah seperti ini?”


Seperti itulah percakapan antar Demihuman dan tentara bayaran yang kebingungan dengan kemeja putih yang mereka kenakan. Beberapa dari mereka bahkan mengira jika seluruh rakyat Indonesia adalah bangsawan karena memiliki banyak pakaian berwarna putih.


Warna putih merupakan warna yang sangat langka di dunia ini, itu sebabnya para Demihuman dan tentara bayaran yang mengenakan kemeja berwarna putih sempat ragu untuk mengenakan pakaian tersebut. Karena hanya orang setingkat raja dan kaisar saja yang mampu membeli bahan pewarna untuk warna putih. Bahkan bangsawan dengan kedudukan tinggi sangat jarang memiliki pakaian dengan warna putih.


Karena menurut orang-orang dunia ini, warna putih melambangkan kesucian dan kehormatan tertinggi. Sejarah beberapa negara di dunia ini mencatat jika bahan untuk membuat warna putih sangat diperebutkan, hingga menimbulkan perang-perang dalam skala kecil hingga sedang.


Meski seluruh orang yang tinggal di sebuah kota patungan dengan seluruh harta mereka untuk membeli sebuah kain berwarna putih dengan panjang 1 meter dan lebar 1 meter, itu belum tentu cukup untuk membelinya, bahkan para raja dan kaisar sekalipun hanya mampu membeli kain berwarna putih tak lebih dari ukuran panjang 20 centimeter dan lebar 5 centimeter. Itu mengapa pewarna putih hanya digunakan untuk hiasan mahkota, bahkan mahkota yang dihiasi kain berwarna putih tersebut sangat jarang keluar dari ruang harta yang dijaga 100 prajurit elit. Dengan kata lain, warna putih di dunia ini nilainya jauh lebih tinggi dari permata super langka, dan pemiliknya akan menjaganya dengan taruhan nyawa.


Kemeja berwarna putih yang dikenakan sukarelawan juga salah satu pemicu rasa iri dari prajurit Arevelk dan Yekirnovo. Karena mereka juga ingin merasakan mengenakan pakaian berwarna putih yang konon sangat diperebutkan di dunia ini.


Nio dan seluruh prajurit TNI, Rusia, dan Korea Utara tidak mengenakan pakaian seperti para sukarelawan. Tapi, mereka mengenakan PDL yang digunakan ketika menghadiri upacara resmi, seperti upacara kenaikan pangkat yang akan dilakukan setelah mereka tiba di Indonesia.


“Bos Nio, apa warna putih di duniamu sangat murah?”


Seorang tentara bayaran yang cukup mengenal Nio bertanya seperti itu dengan wajah khawatir. Demihuman setengah kelinci tersebut bahkan merasa takut setelah melihat tatapan iri beberapa prajurit Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo. Dia mengatakan kepada Nio jika dirinya tidak ingin pergi ke Indonesia untuk mendapatkan penghargaan daripada mengenakan kemeja putih dengan resiko kematian yang sangat tinggi karena mungkin saja ada pembunuh bayaran yang mengincar pakaiannya.


“Ya, itu benar. Bahkan ce*ana dal*m yang dijual di negaraku kebanyakan berwarna putih.”


(olog note: kalau nggak disensor kena marah nanti ane…)


“Hah…!!!???”

__ADS_1


“Bahkan kaos kaki para pelajar di negaraku berwarna putih.”


“EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHHHHHHHHHHHHHHHHH…..!!!!!?????”


Orang-orang yang mendengar perkataan Nio hampir semuanya memasang wajah pucat, bahkan beberapa Demihuman perempuan hampir pingsan sebelum prajurit perempuan TNI menolong mereka.


“Nio, apa yang kamu katakan pada mereka!?”


Yang bertanya tadi adalah Herlina yang berusaha membuat salah satu Demihuman perempuan sadar dari pingsannya. Dia hanya khawatir jika Nio mengatakan suatu hal hingga membuat beberapa Demihuman perempuan hampir pingsan. Karena Herlina dan beberapa prajurit belum terlalu menguasai bahasa dunia lain, gadis ini sangat khawatir jika Nio mengucapkan hal-hal romantis kepada Demihuman perempuan hingga membuat mereka pingsan.


“Apapun yang kukatakan, tolong jangan pukul aku. Aku cuma bilang kalau semp*k sama kaos kaki yang dijual di Indonesia kebanyakan warnanya putih.”


Herlina dan beberapa prajurit perempuan yang mendengar perkataan Nio memasang wajah dan tatapan dingin kepada Nio. Lalu beberapa prajurit laki-laki tertawa keras setelah mendengar perkataan Nio, dan memuji kalau lawakan Nio boleh juga untuk setingkat prajurit kaku seperti Nio.


“Memangnya kenapa? Apa warna putih di dunia ini sangat langka?”


Gadis-gadis dunia lain kemudian berjalan mendekati Nio setelah mendengar pernyataan mengejutkan Nio mengenai penggunaan warna putih di Indonesia.


“Tu-Tuan Nio, apa warna putih di duniamu tidak ada harganya?”


Sigiz bertanya seperti orang yang kebingungan membayar ganti rugi setelah membuat mobil mahal milik orang lain lecet. Sheyn dan Lux hanya menelan ludah secara kasar setelah mendengarkan pernyataan beberapa Demihuman yang mendengar perkataan Nio mengenai penggunaan warna putih untuk ce*ana dal*m dan kaos kaki.


Zariv dan Edera berdiri mematung seolah-olah melihat hal yang sangat menakjubkan, dan membayangkan jika rakyat Indonesia sangat kaya sehingga membuat warna putih seperti tidak ada harganya.


“Eh? Kenapa tiba-tiba bahas warna putih sih?”


“Kenapa!? Ini menyangkut harga diri, Tuan Nio. Warna putih bagi kami adalah hal yang sama harganya dengan nyawa! Bahkan warna putih adalah penyebab perang di masa lalu! Kau lihat, meski aku dan Sheyn adalah ratu, kami bahkan tidak mengenakan pakaian berwarna putih.”


Sesaat kemudian, Nio memaklumi hal tersebut karena ini adalah dunia lain, dimana ada banyak hal yang tidak masuk akal.


Edera kemudian mendekati Nio untuk berbicara, “Tuan Nio, kau tahu, ce*ana dal*m warna putihmu bisa ditukarkan dengan posisi raja atau kaisar.”


Kemudian, Nio benar-benar berdiri mematung dengan mata yang tidak bisa berkedip. Pemuda ini lalu bergerak saat mendengar suara sorakan dari beberapa prajurit.


Nio dan beberapa orang di sekitarnya menoleh ke sumber suara, dan melihat Gerbang tak sempurna berdiameter 30 meter terbuka. Sesaat kemudian, perintah untuk menaiki kendaraan terdengar, dan Nio berlari cepat meninggalkan sukarelawan dan gadis-gadis dunia lain sambil membawa ransel besar di punggungnya.


Namun, Nio tidak tahu jika gadis-gadis dunia lain akan pergi ke Indonesia juga dan melihatnya menerima pangkat barunya.


Seluruh mesin kendaraan tempur dinyalakan, dan yang memasuki Gerbang tak sempurna terlebih dulu adalah helikopter serang, diikuti kendaraan pengangkut dan kendaraan tempur.


Sigiz dan Sheyn telah memerintahkan pasukan terbaik mereka untuk menetap beberapa waktu hingga mereka kembali dari Indonesia. Setengah kekuatan dari Barisan para Mawar juga telah diperintahkan oleh Sheyn untuk membantu pasukan Arevelk menjaga Tanah Suci dari serangan musuh.


Sementara itu, pada salah satu truk pengangkut, Nio masih tidak percaya jika warna putih sebegitu berharganya di dunia ini, disaat warna putih sering digunakan untuk hal-hal sepele.


**


Seluruh pahlawan berjalan di lorong kastil yang digunakan sebagai markas pusat Aliansi. Ada ratusan pelayan dan staf yang berada di tempat ini ketika para kesembilan pahlawan memenuhi panggilan petinggi Aliansi. Seluruh staf dan pembantu menatap para pahlawan tanpa menghentikan pekerjaan mereka.


Tapi, tatapan merekalah yang membuat para pahlawan tidak nyaman, seolah-olah mereka melakukan kesalahan yang sangat memalukan. Para pelayan dan staf yang menjumpai para pahlawan hanya memberikan mereka hormat sesuai protokol, dan menatap mereka dengan tatapan benci setelah para pahlawan melewati mereka.


Yah… memang tidak ada peraturan untuk menghormati para pahlawan sama seperti menghormati pemimpin negara, karena para pemanggilan para pahlawan adalah hal yang kedua kali dilakukan setelah ribuan tahun yang lalu, jadi peraturan untuk terlalu menghormati para pahlawan belum tercipta. Tatapan kebencian yang diterima para pahlawan adalah hasil kinerja mereka di pertarungan yang jauh lebih rendah dari pasukan monster yang berhasil menjebol tembok benteng pasukan Indonesia.

__ADS_1


Menurut catatan sejarah yang memuat pertempuran besar di masa lalu, para pahlawan terdahulu yang terpanggil bahkan mampu mengakhiri pertempuran dalam waktu beberapa tahun saja. Lalu, melihat pekerjaan para pahlawan di medan perang sebelumnya, membuat para petinggi Aliansi yakin jika pertempuran dengan Indonesia dan sekutunya akan berlangsung lebih lama dari waktu yang telah diperkirakan.


“Setelah Aliansi dikalahkan, apa kita tidak bisa kembali ke negara kita?” tanya Sakuya yang merasakan perasaan tidak nyaman jauh lebih besar dari pahlawan-pahlawan lainnya. Dia menggenggam sendiri tangannya untuk menekan rasa gugup.


Sementara itu, Indah hanya berjalan dengan wajah tertunduk dan cemas dengan masa depan para pahlawan setelah Aliansi kalah pada perang sebelumnya.


“Apa? Apa mereka pantas memberi kita tatapan seperti itu setelah bantuan yang kita berikan? Apa mereka pikir TNI itu lemah? Setidaknya beri kami ucapan terimakasih daripada tatapan menjijikan seperti itu!”


Theodore mengutuk pelayan dan staf tempat ini yang memberi mereka tatapan benci seperti itu. Pahlawan Kebencian yang berasal dari Kerajaan Thailand, alias Anurak mendukung pernyataan Pahlawan Iri Hati yang berasal dari AS tersebut.


Rio memelototi dalam diam staf dan pelayan yang memberi mereka tatapan benci seperti itu. Dan segera setelah para pelayan dan staf melihat tatapan Rio, mereka melanjutkan pekerjaan dan menyingkirkan tatapan benci mereka.


Meski wajah Rio terlihat biasa-biasa saja, namun dia mungkin juga merasa takut jika para pahlawan dipanggil untuk dihukum. Lalu, dia menyingkirkan pemikiran seperti itu setelah teringat kekuatan besar mereka. Ya, Rio berpikir jika pihak Aliansi memutuskan memberi mereka hukuman setelah ‘kabur’ dari medan perang, dia akan menggunakan kekuatannya untuk melawan.


“Kita sudah dipanggil kedunia ini, dan dipaksa untuk menghadapi kekuatan gila TNI dan sekutunya. Apa ini lelucon jika yang kita dapatkan hanya panggilan buruk. Apa salahnya menyelamatkan diri dari bahaya?” Pahlawan Kesepian yang berasal dari Rusia bergumam seperti itu. Pria yang bernama Bogdan tersebut sepertinya juga memiliki pemikiran yang sama dengan Rio, yakni melawan Aliansi jika yang mereka dapatkan setelah bertarung dengan keras adalah hukuman.


Sementara itu, Pahlawan Penyesalan, alias mantan tentara Israel yang bernama Gurion tersebut hanya berjalan mengikuti para pahlawan yang lain dengan wajah tertunduk. Dia hanya tidak ingin melihat lagi kekuatan pasukan Indonesia dan sekutunya, atau dia akan menyesal telah memihak Aliansi.


Yah… para pahlawan ini bukanlah kelompok petualang di novel fantasi yang blak-blakan meminta hadiah setelah bekerja. Mereka berada di kelompok yang kalah dalam perang sebelumnya, dan itu bukan keinginan mereka meski bertarung bersama sebuah bangsa yang bukan asal mereka. Para pahlawan tetap sadar terhadap posisi mereka yang setara dengan jendral pasukan, dan tidak bisa meminta hadiah begitu saja setelah pihak yang mereka bela kalah dalam perang besar.


“Masa bodo.”


“Ya, aku juga tidak peduli dengan apa yang aku terima setelah membantu mereka.”


Sakuya menimpali perkataan Rio, dan keduanya tersenyum tipis bersamaan. Remaja perempuan tersebut juga memiliki pemikiran tentang melawan Aliansi jika yang dia terima adalah hal yang buruk.


Setelah beberapa menit berjalan di lorong panjang yang berliku ini, kesembilan pahlawan tiba di sebuah pintu besar. Pintu ini dijaga oleh empat orang berjubah, dan dua dari keempat penjaga membuka pintu yang tampaknya sangat berat.


Para pahlawan kemudian keluar dari lorong yang cukup gelap, dan memasuki ruangan yang cukup terang meski hanya diterangi oleh ratusan lilin dan cahaya yang masuk dari beberapa jendela besar ruangan tersebut.


“Hah, jadi anak-anak ini adalah para pahlawan yang terpanggil?”


Seorang lelaki tua yang merupakan Kaisar Kekaisaran Duiwel duduk di salah satu tempat duduk yang khusus digunakan untuk petinggi Aliansi. Indah tidak tahan dengan perkataan Kaisar Kekaisaran Duiwel yang terkesan merendahkan para pahlawan.


“Namaku Otsoa, Kaisar Kekaisaran Duiwel, negara anggota Aliansi.”


Beberapa pahlawan yang muak melihat wajah Otsoa hampir berteriak padanya untuk tutup mulut, tapi mereka mengurungkan niat karena status kedua pihak yang terpaut jauh.


“Yah langsung saja, aku akan memberi penjelasan mengenai kalian dipanggil ke mari.”


Pada awalnya Otsoa mengatakan hal-hal yang mengejek para pahlawan, para petinggi Aliansi lainnya tidak bisa mencegah pria tua tersebut untuk menghentikan penghinannya, dan para pahlawan memaksakan diri untuk menahan diri.


Otsoa mengkaitkan kekalahan Aliansi yang hampir menyentuh level ‘hampir hancur’ dengan kaburnya para pahlawan dari medan perang. Intinya, Otsoa hanya seorang perwakilan untuk mengatakan ketidakpuasan petinggi Aliansi terhadap pekerjaan para pahlawan di perang sebelumnya.


“Baiklah, sampai perang selanjutnya dilaksanakan, kalian harus melakukan perjalanan untuk meningkatkan dan menemukan kekuatan asli kalian.”


“Meningkatkan dan menemukan kekuatan asli kami? Jadi maksudmu kami tidak kuat dari awal?”


“Mungkin itulah salah satu kesalahan kami. Benar, para pahlawan harus bisa mengeluarkan kekuatan aslinya dengan melakukan banyak pertarungan atau semacamnya. Seperti pahlawan terdahulu yang menghentikan perang besar di masa lalu dengan kekuatan asli mereka, kalian harus bisa melakukan hal yang sama.”


Rio dan seluruh pahlawan hanya mendengarkan perkataan Otsoa seperti nasehat yang masuk telinga kiri keluar telinga kanan, dan Rio hanya bisa marah di dalam hati dengan wajah yang tertunduk, “Baiklah, kami hanya perlu memperkuat diri untuk mengalahkan musuh, kan? Semakin cepat kami mengalahkan TNI, semakin cepat aku mendapatkan Indah dari Nio.”

__ADS_1


__ADS_2