
Nio bertanya-tanya kenapa dia menyelinap di tempat seperti ini, tetapi dia mempercayai firasatnya. Dia melalui gedung-gedung rusak untuk menuju mobil polisi. Kota mati seperti latar film horor, dan tidak ada tanda-tanda adanya orang setelah kedatangan polisi di sini.
Berjongkok saat dia telah mencapai mobil polisi, Nio mengintip ke dalam. Tapi saat dia curiga, bocah laki-laki dan kedua polisi tidak ada di dalam mobil. Dia tetap tidak dapat merasa lega, dan mengalihkan perhatian ke menara radio kemudian bergerak ke sana. Melewati pagar besi bangunan yang rusak, dia mendengar suara seperti orang buru-buru.
Nio mengintip perlahan-lahan dari sudut banginan, dia melihat punggung dua polisi. Tak jauh dari mereka adalah bocah yang dipaksa bersandar di dinding dan tidak bisa melakukan apa-apa. Dia pasti sudah tahu apa yang akan terjadi padanya, dan wajahnya pucat dan gemetar gelisah.
Tapi, kedua polisi dengan tenang menatap anak laki-laki di depan mereka, dan Nio menelan ludah dengan suasana tidak nyaman. Ketika dia bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya, keheningan tiba-tiba pecah oleh suara tembakan.
Darah mengalir dari bahu kanan bocah itu, dan dia tidak bergerak beberapa saat. Dia perlahan menggerakkan kepalanya, dan melihat darah mengalir dari bahunya. Bocah itu tampaknya berusaha memahami apa yang baru saja terjadi, namun dia hanya bisa menangis dan meminta tolong. Kemudian, seperti tembakan peperangan yang brutal, datanglah tembakan berikutnya ke perut, dada, lengan, dan kaki bocah itu. Tubuhnya berkedut, dan terkapar ke tanah setelah menerima rentetan tembakan.
“Dia sudah mati. Sial, cepet banget!” seorang polisi mendekati bocah itu, lalu menendang tubuh anak yang sudah dia tembak. Dia benar-benar tidak bergerak.
Nio menyipitkan mata kirinya, dengan mulut terbuka setelah melihat pemandangan memilukan di depannya.
Kedua polisi tampak puas melakukan pekerjaannya, lalu memantau ke sekitar, dan dengan dengan cepat melarikan diri dari tempak kejadian.
“Kita kembali ke Desa Bacem?”
“Tentu.”
Dengan langkah pelan, Nio berjalan mendekati bocah laki-laki itu, kemudian berlutut di depannya. Sialan, Nio mengutuk di dalam hati. Mengangkat tubuh anak itu, Nio memeluknya dan tidak mempedulikan pakaiannya kotor. Dia merasakan tubuh anak tersebut dingin karena kehilangan darah, dan tubuh Nio bergetar dengan amarah yang meluap dalam dirinya.
“Bukankah melindungi rakyat tak bersalah adalah tugas tentara? Dengan begitu, gelar pahlawan akan didapatkan. Sialan, kenapa aku hanya bisa menonton?! Aku tidak melakukan apa-apa saat seorang anak dibunuh di depan mataku! Siapa yang benar?! Siapa yang salah?! Siapa musuh yang harus ku kalahkan?!”
Nio mempertanyakan apakah dia masih waras, apakah pikirannya masih berfungsi, dan lainnya. Saat Nio menyerah bahwa dia tidak lagi memiliki hati nurani, bocah di pelukannya tersedak, dan batuk darah. Nio merasa mendapatkan sedikit harapan. Anak itu dengan ajaib masih hidup. Dia masih bisa diselamatkan. Nio segera berlari, membawa ke tempat di mana anak itu akan kembali mendapatkan hidupnya.
Di malam yang dingin, Nio berjalan menuntun sepeda motornya pulang dengan langkah pelan. Dia tidak tahu apakah itu karena kelelahan atau yang lain, tapi dia merasakan haus yang tak tertanahkan dan sakit kepala hebat. Banyak hal terjadi yang menyebabkan dia memasang ekspresi seperti mayat hidup.
Dia memikirkan apakah bocah itu benar-benar akan diselamatkan.
Setelah dia tiba di rumah sakit, dokter bedah membawanya dan menghilang ke ruang operasi. Ketika operasi berlangsung, Nio duduk di kursi di lorong dan ditanyai oleh dokter lain. Dokter memperlihatkan ekspresi tidak menyenangkan saat dia mendengar bahwa bocah itu berasal dari pinggiran kota dan tidak memiliki orang tua. Terkadang, jika pihak rumah sakit melayani anak yatim piatu dari pinggiran kota yang tidak memiliki keluarga, apalagi asuransi, rumah sakit dan dokter tidak akan memperoleh biaya operasi dari siapapun, dan rumah sakit harus menanggung biayanya. Jika dia tidak mengatakan dia akan menanggung semua biaya, dia kemungkinan besar akan menerima kebohongan bahwa rumah sakit tidak memiliki ahli bedah yang tersedia.
Setelah 6 jam operasi, bocah laki-laki itu lolos dari maut. Fakta yang diterima Nio adalah proyektil yang tertanam berkaliber kecil, sekitar 4mm. Polisi biasa membawa senjata selain pistol sebagai alat pertahanan diri utama dengan proyektil kaliber kecil, dengan efek melumpuhkan target. Harga pistol asli yang tidak terjangkau membuat banyak orang beralih pada pistol kecil yang tersebar luas bagi sipil saat situasi keamanan tidak stabil pasca perang. Namun, proyektil 4mm mampu memberikan efek kematian jika mengenai area vital, anehnya bocah itu selamat meski paru-parunya terluka terkena serpihan proyektil.
Nio benar-benar senang bahwa bocah itu telah diselamatkan, tetapi dia tidak bisa sepenuhnya bersukacita ketika dia memikirkan orang-orang yang ingin merebut harta milik anak-anak pinggiran kota. Di jalan raya pada tengah malam, Nio dengan hati-hati berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah, tentu saja tidak banyak pejalan kaki atau pengendara saat jam 1 dini hari.
Setelah setengah jam berkendara, dia akhirnya melihat rumahnya dengan lampu ruang tamu menyala. Tentu saja Arunika tidak akan bangun sebelum pukul 6 pagi, tapi dia berharap bertemu kakaknya sebelum berpisah dengannya.
“Kau sepertinya lelah, adik ipar.”
Nio menarik pistol secara refleks dan mengarahkannya ke sumber suara. Melihat perlahan ke belakang tubuhnya, ada pistol yang mengarah ke dahinya juga.
“Kupikir kau bagian orang-orang Desa Bacem yang melakukan ter*or, Mayor Darsono. Omong-omong, kau punya pistol yang bagus,” kata Nio dengan ekspresi tidak senang.
Darsono tertawa dan berkata, “Ini pistol tercinta milikku. Untuk perkataanmu yang menyinggung Desa Bacem, apa kau tahu tentang rumor itu?”
__ADS_1
“Apa yang kau inginkan?” Nio bertanya dengan dingin.
“Sebenarnya, aku datang untuk berbicara denganmu. Bisakah kau menurunkan pistolmu?”
“Emoh (tidak).”
“Hei,” Darsono terdengar memanggil seseorang. Dia lalu melanjutkan, “Edelweis, buat anjing gembel itu tidak punya tangan.”
“Baik.”
Saat Nio melompat secara refleks ke belakang, suara tebasan dengan kecepatan suara membelah tempat Nio berdiri sebelumnya. Nio membayangkan tubuhnya terbelah akibat tebasan super cepat dari sosok misterius. Saat dia menyadarinya, seorang gadis mengenakan setelan olahraga ketat berdiri di samping Darsono. Gadis dengan nama panggilan ‘Edelweis’ menatap Nio penuh kebencian, dan sepertinya dia akan melakukan sesuatu pada pria itu.
“Jangan menghindar. Tuan Darsono telah memanggil malaikat mautnya.”
Bulu kuduk Nio naik, tapi bukan karena dinginnya angin malam.
“Sial, aku tidak bisa melihat tebasannya. Ke mana arah dia menyerang…”
Sekali lagi, Edelweis tidak membiarkan Nio membaca arah serangannya. Perempuan itu menghilang dari pandangan tanpa waktu lama. Nio tidak bisa mengikuti pergerakannya. Mengira waktunya sudah tiba, Nio menutup mata kirinya.
Saat Nio menerima jika Edelweis adalah malaikat maut yang akan memenggal kepalanya, terdengar suara dentingan seperti dua pedang beradu. Keterkejutan datang dari kedua belah pihak.
“Aku hanya bisa menahannya?” kata salah satu suara.
“Aku tidak bisa memotong pedang itu?” kata Edelweis.
“Nio, siapa mereka?” Zefanya bertanya.
“…Musuh,” Nio menjawab tanpa ragu-ragu.
Edelweis berdiri dengan kedua tangan menggenggam pedangnya, tugasnya adalah pelindung Darsono.
“Tuan, hati-hati dengan perempuan itu… dia cukup kuat. Dia mungkin prajurit, sama seperti Nio.”
“Oh,” Darsono menanggapi.
“Kau seharusnya memilih pengawal dari militer, bukan atlit seperti dia,” Zefanya menyindir gaya berpakaian Edelweis yang seharusnya dikenakan saat hari bebas kendaraan atau event olahraga umum semacamnya, bukanya dini hari yang dingin.
“Diamlah, jelek!”
Beruntung bagi Edelweis saat dia mengatakan ejekan seperti itu, karena senjata yang dibawa Zefanya bukanlah senapan penembak jitu. Nio bisa memastikan kekasihnya sedang menahan kesal, dan dia memberi kode padanya untuk tetap tenang. Tetangga mungkin ada yang terbangun, dan mengawasi mereka berempat sehingga Nio memilih berusaha melakukan tindakan yang tidak terlalu mengganggu kenyamanan umum.
“Tuan, bisakah aku membunuh si jelek? Aku akan menyisakan kepalanya, jadi bolehkan aku melakukannya?” ucap Edelweis dengan nada memohon.
“Berapa kali aku harus memberitahumu, jangan melakukan itu sekarang. Pedangmu akan segera mendapatkan korban.”
__ADS_1
“Aku benci terus-terusan menunggu, Tuan.”
Ketika Darsono dan Edelweis tengah melakukan perdebatan, Nio angkat suara setelah tidak tahan, “Sepertinya situasinya akan menjadi rumut. Apa kalian ingin bertarung dengan kami?”
Nio mengawasi Darsono tanpa membiarkan penglihatannya menurun dan memantau sekeliling. Mereka berada di lingkungan perumahan, dan jika ada pertarungan antara kedua belah pihak, ada kemungkinan korban peluru nyasar. Nio menurunkan pistolnya dan berkata, “Cepat katakan apa mau mu. Aku sangat lelah dan ngantuk, dan masih harus melakukan pekerjaan.”
Darsono terkekeh dan memasukkan kembali pistolnya ke dalam sarungnya. Dengan latar lampu jalan yang remang-remang, Darsono mengatakan keinginannya, “Langsung ke intinya saja. Nio, maukah kau bekerja denganku?”
“Maksudmu?!” jelas mengapa Nio menanggapi permintaan Darsono dengan nada kesal. Selain salah satu orang yang paling dia benci, Arunika akan menjadi miliknya.
“Kupikir sia-sia jika kau depresi setelah Arunika menikah denganku. Aku ingin kekuatanmu. Lagipula, kau tahu sedikit tentang Desa Bacem, kan?”
“Aku tidak tahu apa-apa tentang itu, dan aku tidak ingin menjadi bawahanmu lagi.”
“Alasan macam apa itu? Sayangnya, setiap orang yang tahu Desa Bacem harus lenyap. Tapi, entah kenapa aku tertarik padamu. Saat ini aku punya pekerjaan besar. Kalau kau bekerja denganku, kau akan mendapatkan banyak uang, wanita, kekuasaan… aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan.”
Nio tidak menanggapi dengan sepatah kata pun.
Ingatan tentang bocah laki-laki yang tidak dikenalnya kembali muncul. Darah anak itu menetes perlahan, dan diserap oleh tanah. Mata anak itu menunjukkan bahwa dia menolak untuk menyerah pada kehidupan, namun dia tidak memiliki kekuatan melawan. Dua polisi yang Nio yakini ‘gadungan’ menarik pelatuk pistol kecil dengan ekspresi senang, seolah-olah anak itu adalah terpidana mati. Tapi, seorang ‘pahlawan’ ternyata terlalu pengecut untuk menyelamatkan bocah itu, karena dia takut tidak mendapatkan informasi tentang Desa Bacem.
Melihat keraguan Nio, Darsono mengeluarkan sebuah koper yang entah muncul dari mana. Mungkin dia melakukan trik sulap. Ketika Nio dan Zefanya terkejut dengan koper hitam yang tiba-tiba muncul, Darsono membuka tutupnya, “Ini hanya hadiah kecil untuk calon adik ipar.”
“Kudengar kau berencana melakukan penyelidikan terhadap Desa Bacem? Kenapa kau mau melakukan itu? Kau tahu jika setiap orang yang tahu rahasia Desa Bacem akan musnah, kan? Tapi, kau kuanggap tidak tahu apa-apa kalau bergabung denganku, Nio.”
Darsono meletakkan koper di depan Nio, lalu berjalan muncur lima langkah. Nio menatap tumpukan uang kertas tanpa bergerak sedikit pun. Jika digabungkan dengan kekayaannya setelah mendapatkan keuntungan dari penjualan salah satu Valiki-nya, uang yang dijanjikan Darsono bernilai 8 persen dari total hartanya sekarang.
Nio tetap memandang uang pecahan 100 ribu dengan jumlah ribuan dingin, dan menembaknya tiga kali menggunakan pistolnya. Uang di dalam koper berhamburan dan berlubang-lubang.
Darsono dan Edelweis memandangi koper yang penuh lubang beberapa detik, kemudian berkata, “Kau sudah melakukan kesalahan besar, Nio.”
“Kesalahan? Jika aku melakukan kesalahan, itu jika aku menerima uang tutup mulut yang kau berikan. Untuk apa aku menikmati pemberianmu yang kau dapatkan dari merampas hak orang lain secara tidak adil?!”
“Tidak peduli seberapa keras kau bekerja, mereka hanya akan terus memanfaatkan tenagamu seperti budak. Apa kau ingin menyelesaikan pekerjaanmu sampai akhir dengan risiko kehilangan semua yang kau miliki?”
Nio menatap Darsono. Darsono membalas tatapan Nio. Nio tidak yakin berapa lama hal ini akan berlangsung. Tapi, setelah beberapa saat, mereka dapat mendengar suara mesin kendaraan taktis Kompi 406-32 yang datang untuk menyelidiki sumber tembakan.
Darsono menghela napas, dan berkata, “Kita akan membicarakan ini lagi nanti, Nio. Aku tidak suka ada pengganggu disaat-saat penting. Kuberi satu nasihat; kau harus melihat kenyataan.” Setelah itu, Darsono dan Edelweis melebur ke dalam kegelapan.
Menatap ke arah Darsono dan Edelweis menghilang, Nio bertanya pada Zefanya, “Perempuan yang melindungi Darsono sepertinya subjek ‘Proyek Tentara Super’. Bagaimana menurutmu?”
“Dia kuat, aku bisa merasakan ‘Tentara Super’ itu memiliki kekuatan misterius.”
“Apa kita bisa mengalahkannya tanpa bantuan kekuatan besar Hevaz?”
“Aku tidak tahu,” jawab Zefanya dengan ekspresi gelisah.
__ADS_1
Dengan perasaan yang sama, Nio menanggapi, “Begitu…”
Kata-kata “Kau harus melihat kenyataan” Darsono untuknya membebani pikiran Nio. Ada kemungkinan orang-orang yang dikenalnya akan terlibat dalam masalah ini.