
“Pre… Presiden Matias, bagaimana Anda bisa mendapatkan data-data ini?”
“Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Pak Handoko, pertanyaannya bukan bagaimana aku bisa mendapatkannya, tapi apa yang akan aku lakukan dengan semua itu. Apa aku salah?”
“Ti-tidak, Anda benar sekali.”
Menteri Pertahanan Republik Indonesia, pria berusia 46 tahun yang bernama Handoko meratapi setumpuk dokumen faks dari Amerika Serikat di depannya. Malam hari di kantor Menteri Pertahanan tidak terlalu panas, tapi butir-butir keringat dingin memenuhi dahi Handoko. Dokumen-dokumen tersebut berisi rincian sumbangan rahasia, korupsi, dan penyuapan yang diterima anggota kabinet Suroso. Meskipun data ini dikirim dari Amerika, isinya memperlihatkan jika itu ditulis oleh orang-orang Indonesia sendiri.
Anggota dewan telah mengajukan banyak pertanyaan sulit sejak pengiriman Pasukan Ekspedisi hingga kepulangan dan pembubaran mereka, dan alasan paling penting dari keputusan tersebut. Lalu, setelah tiga tahun masa jabatan presiden Suroso, telah ada berita buruk seperti korupsi anggota kabinet, ketidakadilan yang mereka lakukan, dan rencana pembunuhan Radit di dunia lain yang sekarang pria itu diangkat menjadi staf khusus presiden untuk menangani segala hal mengenai rencana Indonesia di dunia lain. Semua itu mampu membuat rakyat yang jika mengetahuinya merinding, dan Handoko data yang telah Handoko baca berisi mengenai hal-hal rahasia negara tersebut.
Jika data-data seperti ini disebarkan luaskan ketika situasi seperti ini, masa kerja Handoko akan berakhir sekarang.
“Untungnya, agen investigasi kami berhasil mendapatkan data-data itu sebelum disiarkan melalui berita pagi.”
“Terimakasih, Presiden Matias.”
“Oh, jangan dipikirkan, kita adalah teman bukan? Itu, buktinya ada di sana.”
“Yah… bagaimanapun aku harus berterimakasih atas kerja samanya.”
“Tentang itu… sebenarnya… aku, Matias, atas nama rakyat Amerika Serikat punya permintaan untukmu, Handoko.”
“Apa itu?”
“Aku dengar beberapa tamu dari dunia lain adalah ratu, bukan? Saya berharap bisa mengundang mereka, beserta Presiden Suroso untuk mengunjungi Amerika Serikat. Tentu saja kami akan menanggung semuanya.”
“Bagaimana Anda bisa tahu tentang hal itu?”
“Bagaimana menurutmu data-data itu ada di mejamu, Handoko?”
Yang dirasakan Handoko hanyalah keputusasaan yang timbul dari kesedihan karena rahasia negara telah begitu mudah bocor. Situasi ini sama saja dengan menyerahkan diri kepada musuh dalam sebuah pertarungan.
“Pemerintah Amerika Serikat berencana untuk mengundang dan menjemput langsung ratu-ratu dan panglima dari dunia lain itu. Lalu, jika bisa kami akan mengundang juga beberapa tamu dari dunia lain lainnya.”
“Begitu ya… tapi, mereka akan pulang ke dunia mereka tiga hari lagi. Apa kau belum tahu hal itu?”
“Itu adalah kesalahan presidenmu sendiri, Handoko. Aku yakin para tamu dari dunia lain pasti masih ingin menikmati dunia kita yang indah ini. Lalu, bukankah mereka akan setuju jika masa tinggal mereka di dunia ini sedikit diperpanjang?”
“Tapi, Presiden Matias, sekarang Indonesia sudah tengah malam. Para tamu harus beristirahat.”
“Tidak,tidak,tidak, kabar baik ini harus disampaikan segera, bahkan jika kamu harus bangun untuk melakukannya. Aku percaya para tamu akan dengan senang hati menerima undangan kami, tentu saja dengan bantuan dari pihakmu.”
“Itu tidak mungkin!”
“Indonesia, sebagai tuan rumah yang diharapkan bisa menghibur para tamu, kalian menyediakan terlalu sedikit hiburan untuk mereka, dan mereka pasti kesal karena hal itu. Itulah jika mereka menerima undangan kami, mereka pasti akan sangat senang di sini.”
“Saya berterimakasih untuk ilmu anda mengenai menghibur seseorang, tapi saya khawatir caramu tidak sesuai dengan pandangan nasional kami.”
“Begitukah? Namun aku telah mengirim personelku untuk secara langsung menyampaikan undanganku kepada tamu dari dunia lain. Namun, pengawal yang kalian kirim terlalu sesuatu. Sejauh ini, kami belum melakukan kontak dengan para tamu. Apa yang harus kita lakukan, Handoko? Aku yakin kami masih ingat bukti persahabatan kita.”
‘Bukti’ itu jelas mengarah pada tumpukan kertas di depan Handoko yang membuat pikirannya berat. Orang-orang Amerika sepertinya telah bekerja sama dengan beberapa pihak di Indonesia untuk mendapatkan data secara akurat, dan itu membuat Handoko harus menyerah dengan itu. Meski begitu, dia harus meminimalkan dampak yang diakibatkan data-data yang dikirim pihak Amerika tersebut, itu adalah tugasnya sebagai Menteri Pertahanan. Karena itu, Handoko berpikir sekeras yang dia bisa tentang keadaannya saat ini. Dia memikirkan kondisinya, kartu apa yang harus dia mainkan, dan trik apa yang bisa dia lakukan sebelum memberikan jawaban terakhirnya.
“Baiklah, tapi yang bisa kujanjikan padamu adalah penurunan tingkat keamanan. Jika sesuatu terjadi pada tamu, atau mereka menghilang, itu adalah salah pihak Amerika.”
__ADS_1
“Tentu saja. Personel kami sangat hebat dan terlatih. Mereka akan menjaga tamu kita dengan baik.”
Itu bagus jika presiden Amerika Serikat, alias Matias menepati janjinya.
Ketika Handoko memikirkan Matias, yang bertindak seolah-olah dia telah memenangkan ronde ini, dia memikirkan perlunya balas dendam terhadap orang itu. Dia telah mengambil langkah beresiko sangat tinggi ini untuk menghidari konflik fatal antara Indonesia-Amerika Serikat. Tetapi itu juga berarti dia memiliki kesempatan untuk mengagalkan rencana presiden AS dan membalikan situasi. Tetapi sekali lagi, ketika melihat dari sudut pandang tertentu, kabinet ini penuh dengan kelemahan, dan tetap dipenuhi oleh kebusukan para anggotanya.
“Kalau begitu, Presiden Matias, aku harap kamu membawa mereka dengan aman. Presiden Matias, silahkan beristirahat.”
“Tentu saja, Handoko. Aku senang kamu mengatakan itu. Selamat beristirahat. Oh, di sini masih siang.”
Presiden AS menutup telepon, dia nampaknya dalam suasana hati yang baik.
**
“Akhiri?! Apa maksud Anda untuk menghentikan operasi keamanan untuk para tamu?!”
Radit berteriak pada orang yang sebagai lawan bicaranya di telepon. Bahkan jika dia berteriak pada Menteri Pertahanan sendiri, Radit terdengar seperti tidak peduli dengan siapa lawan bicaranya dan orang-orang di sekitarnya. Perintah yang baru saja dia terima membuat semua yang telah dia rencanakan bersama unit pengaman tamu berantakan.
Lawan bicara Radit, Handoko… menyampaikan niat Presiden Amerika Serikat. Jika mereka menerima perintah Handoko, itu berarti mereka akan membiarkan personel bersenjata musuh mengambil para tamu dari dunia lain. Saat dia melihat Radit mencengkram ponselnya dengan sangat kuat, Mayor Catur menoleh ke bawahannya untuk memerintahkan personel lapangan untuk menghentikan pertempuran dengan musuh, dan memilih mematuhi perintah Menteri Pertahanan.
“Panci telah berlubang. Ulangi, panci telah berlubang. Semua personel hentikan operasi tempur dan kembali ke titik yang ditentukan.”
Tidak seorangpun akan senang diperintahkan untuk menghentikan pekerjaan yang telah berjalan sangat lancar dan baik. Tetapi, prajurit TNI telah dididik dan dilatih untuk menjalankan perintah pada saat penerimaan.
Tidak peduli apa yang mereka pikirkan, meski mereka tetap ingin melindungi para tamu dan melanjutkan pertempuran, didikan mereka sudah mengambil alih tubuh mereka. Personel lapangan telah mundur dengan cepat, melindungi satu sama lain ketika meninggalkan misi mereka.
Maka, para personel lapangan yang disimbolkan dengan titik-titik pada monitor bergerak dari pertahanan semula mereka dan bergerak ke titik berkumpul.
Radit belum menutup telepon, dan dia mengajukan pertanyaan itu dengan nada marah. Karena itu, Handoko menjawabnya, “Maaf, Pak Radit. Aku juga tidak senang dengan hal ini. Tapi, orang-orang Amerika mengirim informasi buruk tentang anggota kabinet. Jika mereka menyebarkan informasi ini, kabinet akan bubar total.”
“Jadi, untuk memastikan dirimu tetap menjabat sebagai Menteri Pertahanan, kau akan menyerahkan semuanya?”
“Aku tidak pernah mengatakan itu, sama sekali itu bukan masalahnya. Untungnya, aku tidak pernah menjanjikan hal itu pada Amerika. Aku hanya mengatakan akan menarik personel lapangan kita. Aku tidak pernah menjamin kalau aku akan menyerahkan tamu kita kepada AS. Lalu, aku akan mengundurkan diri dari jabatan ini. Lagipula, aku telah terjebak dalam situasi yang buruk, dan begitu aku mengundurkan diri, menurutmu apakah rahasia yang mereka pegang apa tetap berharga?”
“Kamu… mengundurkan diri?. Pak Handoko, apa kau tahu apa yang kau lakukan? Karir mu sebagai politisi akan berakhir.”
“Tidak apa-apa. Selain itu, nama ku akan ditulis di buku-buku sejarah sebagai ‘Menteri Pertahanan pada masa Indonesia membuat hubungan dengan bangsa dari dunia lain’. Jadi, aku senang bisa bertugas hingga sejauh ini. Aku juga akan segera menghubungi Presiden Suroso tentang pengunduran diriku.”
Kata-kata terakhir Handoko terdengar seperti dia sedang menangis, dan gertakan gigi dari Radit menunjukkan jika dia sama sekali tidak bahagia karena harus berakhir seperti ini.
Perang tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga di ruang rapat anggota dewan, dan di Istana Negara. Perang hanyalah hal yang bisa berubah tergantung pada panggung pertempuran itu sendiri. Dengan cara ini, Handoko telah mengakhiri perangnya. Namun, bahkan dalam kekalahannya, perkataannya memperlihatkan jika dia masih punya nyali untuk tidak menerima kekalahan total seperti ini.
“Dia memang Menteri Pertahanan yang pengecut, tapi dia masih berusaha terlihat keren sampai akhir.”
Radit menggigit bibirnya, dan menutup telepon. Menurutnya, situasi ini jauh lebih mengerikan daripada melihat dengan matanya sendiri tangan Nio putus ketika berusaha melindunginya dari percobaan pembunuhan.
**
Nio menghentikan mobilnya di parkiran minimarket yang berjarak beberapa ratus meter dari Waduk Lalung, dan turun dari mobil meninggalkan Arunika tanpa memberi tahu tujuannya ke minimarket. Sementara itu, Arunika cemas dengan perilaku Nio saat ini, dan terlihat tadi turun dari mobil tanpa melihat wajahnya sama sekali.
Dari parkiran minimarket, Arunika bisa melihat hanya ada beberapa mobil berhenti di perempatan, dan menunggu lampu lalu lintas menjadi hijau. Lalu, dia juga bisa melihat Nio hanya membeli beberapa barang, dan membayarnya ke meja kasir. Sebenarnya, dia cukup bersalah berbuat berlebihan setelah memergoki Nio merokok. Bagaimanapun, dia tetap tidak setuju Nio merokok meski itu untuk meringankan pikirannya dari pekerjaan yang melelahkan.
Ketika Nio baru membuka pintu minimarket, sebuah jip berhenti di samping mobilnya, dan turun dua orang prajurit TNI anggota garnisun Karanganyar dengan perlengkapan dan bersenjata lengkap. Nio mencurigai mereka, karena menggunakan pakaian tempur lengkap, padahal situasi menurutnya tetap aman. Kedua prajurit berjalan mendekati Nio, dengan salah satu dari keduanya membawa sebuah kotak cukup besar. Kemudian kedua prajurit itu memberi hormat kepada Nio sesuai protokol, dan berbicara mengenai sesuatu.
__ADS_1
Arunika tidak bisa mendengar apa yang Nio bicarakan dengan kedua prajurit tersebut, karena Nio mengaktifkan mode kedap suara. Tapi, yang mereka bertiga lakukan, dimata Arunika sama mencurigakannya dengan pelaku yang sedang bertransaksi narkoba. Sebenarnya, dia tidak ingin mencurigai mereka, tapi inilah yang terlihat.
Mereka bertiga terlihat berbicara di tempat paling sepi di area minimarket, dan itu yang membuat Arunika menyamakan mereka dengan pelaku yang sedang bertransaksi narkoba. Selain berbicara dengan pelan, hampir mendekati berbisik, mereka bertiga sesekali juga menggunakan kode tangan untuk berkomunikasi. Tentu saja Arunika tidak tahu dan peham dengan semua yang mereka bertiga lakukan.
Dia bahkan tidak sempat untuk membuka pintu, dan mendekati mereka. Karena Nio terlihat sangat serius mendengarkan perkataan kedua prajurit tersebut. Lagipula, sebagai warga sipil yang selalu mentaati peraturan, Arunika tidak bisa sembarangan mendekati Nio yang terlihat semakin serius di penghujung pembicaraan.
Biasanya, Arunika tidak akan terjaga hingga hampir pukul 23.56, kecuali bekerja keras membuat soal untuk ujian sekolah ketika masih menjadi guru. Sebenarnya dia ingin segera tiba di kost tempatnya bersama Lisa tinggal, dan mempersiapkan sesuatu untuk Nio.
Dia kemudian mendengar suara langkah berat seseorang, lalu pintu pengemudi terbuka. Seseorang yang bernama Nio duduk di bangku pengemudi, dan meletakkan dengan pelan kotak besar yang dia terima dari kedua prajurit tadi. Lalu, mereka berdua melihat jip yang ditumpangi kedua prajurti tadi meninggalkan parkiran, dan kembali ke asalnya.
“Ha~”
Itu adalah helaan napas yang malas, disertai ekspresi serius dari Nio.
Lalu, Nio mengeluarkan pistol dari saku belakang celananya, memasang magasin dengan peluru 9mm, dan membuatnya ke mode semi otomatis. Nio yang sedang menyiapkan pistolnya terlihat berbeda ketika akan melaksanakan misi atau semacamnya.
Arunika terlihat terkejut dengan yang dilakukan Nio, lalu pemuda itu meraih lagi kotak besar yang sebelumnya dia letakkan di bangku penumpang di belakangnya. Namun, wajah terkejut Arunika berubah menjadi pucat setelah Nio mengeluarkan isi kotak yang berupa sebuah Senapas Serbu 20 generasi pertama, lengkap dengan 4 magasin yang memuat peluru 7,62mm. Selain itu, isi kotak yang lain adalah granat cahaya dan granat asap, sebuah pedang dengan panjang standar, dan 2 peredam suara.
Nio memasang semua perlengkapan pada senapan serbunya, setelah selesai, dia memuat magasin dan membuat senapan pada mode aman. Selain pada senapan serbu, Nio juga memasang peredam suara pada pistolnya.
Lalu, ketika melihat Arunika yang tidak bisa berkedip ketika melihatnya mempersiapkan senjatanya, Nio teringat dengan teh gelas dalam kemasan botol yang dia beli untuk gadis itu.
(olog note: nggak berani nyebutin mereknya, takut kena copyright)
Selain untuk Arunika, Nio juga membeli minuman khusus untuk menghilangkan aroma rokok pada mulutnya, dan beberapa permen stik. Dia tahu jika Arunika tidak nyaman dengan aroma rokok pada tubuhnya.
“Ah…!”
Arunika terkejut dengan Nio yang tiba-tiba menempelkan teh botol dingin ke dahinya. Sementara itu, Nio mencoba melakukan adegan pada komik yang pernah dia baca, pada adegan seorang prontaginis menempelkan minuman kaleng dingin ke pipi si tokoh perempuan.
Kulit Arunika yang terlihat bersih dan terawat, berbeda dengan dirinya yang jarang merawat tubuh dan mandi kalau ingat saja. Ketika Nio memperhatikan gadis di depannya, dia membayangkan melakukan sesuatu dengannya. Karena dia adalah remaja dan perjaka tulen, bayangan itu membuatnya bersemangat. Lalu, Arunika tetap menatap mata Nio, dan tidak pernah melepasnya. Tatapan kosong Nio melayang ke udara. Lalu, Arunika tersenyum manis dan pipinya perlahan memerah, dan dengan tatapan dewasa menatap mata Nio.
Arunika tampaknya tidak takut dengan cara Nio menatapnya, dia tersenyum dewasa dan lembut. Dan gadis itu mengulurkan jari ramping di tangan kanannya dan berkata, “Ayo”. Itu seperti isyarat, tapi sayangnya hal itu mengarah ke hal yang menggairahkan.
Lalu, ketika jam menunjukkan waktu 00.03, dan tanggal berubah menjadi 4 Juni, Arunika berkata, “Selamat ulang tahun, Nio…”
Arunika menggigit bibirnya, dan menatap Nio. Namun, perkataan Nio selanjutnya mengacaukan segala rencana yang telah Arunika susun untuk ulang tahunnya.
“Terimakasih. Tapi, ada pertarungan di sekitar ini.”
“Hah?!”
Sekarang, Nio sudah berusia 20 tahun, dan dia bisa bebas melakukan apa saja selama tidak melanggar hukum. Nio tahu jika Arunika hampir saja ‘menyerangnya’ jika dia tidak mengatakan ada pertempuran di sekitar sini.
Tatapan dewasa yang Arunika tunjukkan mampu menusuk jiwa Nio. Lalu, dagunya yang ditumbuhi jenggot tipis ketika dibelai lembut oleh jari telunjuk Arunika bisa membuat Nio merinding. Nio tak lebih dari orang yang lebih muda dari Arunika, dan terlihat tahu betul cara memanipulasi hati seorang pria. Tapi, semua itu Arunika lakukan atas saran dari sebuah situs di internet, karena gadis itu mencari cara untuk membuat laki-laki senang, dan mempererat hubungan mereka berdua.
Pada saat ini, Arunika ingin memberikan sebuah ciuman kepada Nio, atau melakukan hal yang mengarah pada ‘kenikmatan’. Namun, semua itu berakhir setelah ada bahaya yang mengancam di sekitar daerah ini, dan itulah sebabnya Nio menyiapkan senjatanya, dan membuat semua usaha Arunika sia-sia.
“Dasar, musuh brengsek yang mengganggu waktu kami.”
Arunika yang kesal, dan semakin kesal ketika ponsel Nio berdering yang mengganggunya.
Namun, Nio berkata, “Kesucianku akhirnya bisa diselamatkan”. Setelah itu, dia mengambil ponsel yang dia bawa di saku kemeja. Dia memandang si pengirim pesan di kolom nama ada dua kata, yakni “Presiden Suroso”.
__ADS_1