
13 Juni 2321, pukul 00.01 WIB.
**
Drone berkamera mengirim rekaman on time dari kondisi perarian ZEE Republik Indonesia di Samudera Hindia. Meski cukup dekat dengan wilayah Australia, namun wilayah negara itu tidak memiliki wewenang apapun. Termasuk memberi TNI AL bantuan serangan dari armada kapal perang mereka.
Omong-omong, Australia adalah satu-satunya negara di dunia ini yang wilayah daratan dan udaranya tidak diserang oleh pasukan dunia lain. Karena pertempuran lebih banyak dilakukan di laut, maka wilayah udara dan daratan Australia dapat aman dari pasukan dunia lain.
Namun bukan berarti pertempuran di laut yang dilakukan AL Australia berjalan cepat dan mudah. Karena gerbang yang muncul di Samudera Hindia mengeluarkan ratusan kapal perang yang terasa seperti tidak ada habisnya.
Hal itu membuat ratusan kapal perang mereka terus memberikan serangan terhadap kapal perang musuh, hingga logistik mereka menipis.
Namun Australia tidak menjalankan operasi militer seperti Indonesia, yang bertujuan membebaskan wilayah dari pasukan musuh. Hal itu membuat Australia tidak dapat menurunkan kekuatan penuh mereka.
Hingga saat ini, pertempuran laut Australia terus berlanjut. Hingga TNI AL melakukan serangan terhadap pasukan laut musuh yang memasuki ZEE Indonesia.
Angkatan Laut Indonesia dan Autralia terus bekerja sama untuk bertukar informasi yang didapat dari pertempuran laut kedua negara itu.
**
Puluhan drone yang diterbangkan dari puluhan KRI disebar. Beberapa dari drone telah dipasangi roket jika musuh memperlihatkan tanda-tanda menyerang.
Dari ruang kendali drone yang berada di salah satu KRI, salah satu monitor menunjukkan ratusan kapal perang yang bergerak dengan mengandalkan angin.
Sedangkan monitor yang lain menunjukkan rekaman dari drone yang memantau keadaan armada laut TNI AL yang berisi puluhan kapal kelas Fregat dan KCR. Dua kapal selam juga dipersiapkan untuk menjadi penambah kekuatan ‘pembersih’ angkatan laut musuh.
Ratusan kapal perang yang terlihat seperti terbuat dari kayu yang kuat tersebut keluar. Kapal perang milik musuh merupakan jenis kapal layar yang bertiang tinggi, dengan puluhan meriam di sisi kapal. Seperti kapal perang saat zaman kerajaan, namun dengan model yang menunjukkan jika mereka berasal dari dunia lain.
Selain puluhan meriam yang dipasang pada sisi kapal, puluhan tongkat panjang juga terlihat keluar dari sisi kapal, dan itu terus bergerak.
Puluhan orang yang bertelanjang dada dan berotot terus menggerakkan tongkat kayu itu, dengan gerakan seperti mendayung namun lebih kuat. Dari dayungan mereka, kapal terlihat bergerak lebih cepat dengan layar yang dihembus angin.
(Ilustrasi kapal perang pasukan dunia lain, sumber gambar pinterest.)
Namun, armada musuh juga memiliki satu kapal sejenis ‘kapal induknya dunia lain’. Namun yang berada di dek hangar bukanlah jet tempur atau sejenisnya, melainkan puluhan hewan terbang dengan jenis wyvern.
Bahkan kapal tersebut tidak dilengkapi dengan dek penerbangan, karena kadal-kadal terbang itu tidak memerlukannya. Mereka bisa langsung terbang tanpa landasan pacu, seperti helikopter.
Suar ditembakkan dari atas seluruh KRI, suar itu jenis yang dapat bercahaya dengan sangat terang dan berukuran besar. Sehingga saat ditembakkan keatas akan sangat terang, seperti saat awal pagi.
Suar tersebut terlempar cukup tinggi, dan mendarat dengan lambat agar dapat menerangi lebih lama. Agar dapat terbang lebih lama, saat suar meledak untuk melepaskan zat yang dapat menyala, parasut kecil akan keluar.
Seluruh pasukan musuh yang berada di atas kapal terlihat cemas, karena mereka mengira jika musuh mereka yang merupakan TNI AL menggunakan sihir agar pagi datang labih cepat dari seharusnya.
Seluruh prajurit menggumakan hal semacam, “Bukankah sihir yang membuat pagi datang lebih cepat tidak ada…!”
Sedangkan di seluruh KRI, alarm dan lonceng berbunyi saling beradu. Seperti ingin tahu suara milik siapa yang paling keras.
Komandan kapal masing-masing kapal meneriakan melalui intercom agar seluruh awak kapal mengambil peran tempur. Perintah melalui intercom didengar sangat baik dari seluruh awak yang memiliki tugas masing-masing, perwira radar, juru mudi dan perwira senjata.
Dalam sekejap, awak kapal yang berjumlah 70-85 prajurit pada masing-masing KRI menuju loker penyimpanan perlengkapan, kemudian mengenakan perlengkapan sesuai tugas masing-masing saat kapal dalam kondisi siap tempur.
Para komandan kapal meneriakkan hal itu berkali-kali hingga seluruh awak kapal benar-benar sudah berada di posisi masing-masing, tentunya sesuai pangkat mereka.
Sebagian awak mengenakan helm tempur dan naik ke geladak untuk mengendalikan senapan-senapan mesin dan meriam terpasang di sisi-sisi kapal. Hampir seluruh awak mengenakan jaket pelampung dan dengan rapi menuju posisi tugas masing-masing.
__ADS_1
Pada salah satu kapal kelas Fregat, ada komandan armada laut yang bertugas untuk melawan pasukan musuh di ZEE RI.
Di menara kapal, dia mengawasi seluruh armada laut yang dipimpinnya. Meski tidak semua kapal berada dalam jangkauan penglihatannya, tapi dia tahu jika seluruh awak dan kapal telah siap tempur.
Dia berkomunikasi pada bagian pengendali drone berkamera dan bertanya melalui intercom, “Bagaimana situasinya?”
“Musuh bergerak dengan kecepatan lambat dari arah barat daya, perkiraan jumlah ada 200 kapal,” jawab salah satu pengendali drone berkamera.
“Perkiraan jarak dan waktu mereka mendekat di dalam jarak efektif tembak meriam?” tanyanya kembali kepada divisi artileri
“Sekitar 45 menit sampai 1 jam baru mereka tiba di dalam jarak efektif tembak meriam.” Jawab perwira divisi artileri salah satu KRI yang berada di posisi terdekat dengan armada musuh.
Bagian pengendali drone terlihat terkejut dengan rekaman yang dikirimkan drone yang mereka kendalikan.
“Naga-naga itu sudah terbang dari kapal induknya, cepat laporkan…!” ucap salah satu pengendali drone berkamera.
Salah satu rekannya kemudian dengan cepat meraih kembali alat komunikasi yang berbentuk mirip dengan telepon gagang dan berbicara, “Naga musuh sudah mulai terbang…!”
Sang komandan tertinggi armada ini masih terlihat santai. Ya… itu sudah jelas karena persenjataan yang terpasang di seluruh KRI dapat menembus armor tank dengan mudah. Kecuali torpedo yang hanya dapat berfungsi di perairan saja. Sementara peluncur rudal dan roket yang terpasang, itu justru dapat menghancurkan tank daripada hanya sekedar menembus armor nya.
Kemudian, komandan tertingi armada ini memerintahkan seluruh kapal untuk menambah kecepatan dengan arah masih menuju armada laut musuh. Hal itu karena batas waktu yang diberikan armada ini untuk menyelesaikan operasi. Mereka harus menyelesaikan operasi pada pukul 4 subuh, dan saat waktu itu tiba seluruh serangan harus dihentikan apapun hasilnya.
Seluruh awak kapal yang berada di seluruh KRI merasakan hentakan ringan ketika baling-baling kapal berputar lebih cepat dan menambah kecepatan kapal. Hal itu juga membuat seluruh awak puluhan KRI tersebut terlihat semakin tegang.
Beberapa menit berlalu setelah kecepatan kapal ditambah, ketika kapal perang musuh sudah semakin terlihat jelas. Suar yang bercahaya masih belum mendarat, dan masih beberapa puluh meter diatas permukaan laut.
Dari jarak yang semakin dekat, suara orang-orang yang berteriak bersemangat terdengar dari kapal-kapal perang musuh. Sesaat kemudian terdengar suara ledakan… sepertinya dari meriam.
Hal itu oleh komandan tertinggi armada ini memerintahkan seluruh komandan kapal untuk menggunakan sandi lampu, yang isinya untuk bersiap untuk serangan dan menyiapkan serangan balasan terhadap musuh.
Beberapa menit kemudian, seluruh awak yang berada di seluruh KRI mengoperasikan sandi lampu dan saling membalas sandi.
Sebuah artileri meriam yang ditembakkan musuh memiliki diameter 40 cm, dan terlihat berat dan seperti terbuat dari logam.
Namun sayangnya, tidak ada ada satupun bola besi yang ditembakkan musuh mengenai KRI. Bola-bola besi itupun seketika tenggelam ke dalam samudera.
Komandan tertinggi memerintahkan untuk seluruh KRI agar menurunkan sedikit kecepatan. Seluruh juru mudi KRI melaksanakan perintah.
Kecepatan kapal menurun sesaat kemudian. Para operator lampu sandi masih mengirimkan sinyal untuk membalas serangan musuh, mereka melakukannya berulang kali hingga KRI terakhir melihat sinyak tersebut.
Sementara pada bagian artileri, mereka masih mengawasi status senjata di kapal mereka. Mereka melihat tidak ada tembakkan lagi dari kapal musuh, kemudian melaporkannya kepada komandan tertinggi.
Beberapa saat kemudian masih belum ada tanda-tanda tembakkan lagi dari musuh. Namun ada satu masalah lagi yang datang, yaitu gerombolan kadal terbang.
Jumlah wyvern yang terbang kearah puluhan KRI itu terlihat sekitar puluhan, dengan jumlah yang belum pasti sekitar 50-70 ekor. Itu jumlah yang banyak untuk diangkut oleh sebuah kapal perang yang mayoritas meterialnya terbuat dari kayu.
Komandan tertinggi mendapatkan kabar dari beberapa awak KRI yang melihat kadal-kadal terbang tersebut mendekat.
Komandan tertinggi berteriak di alat komunikasinya, “Seluruh KRI, isi meriam dan rudal…!!!”
Perintah itu dengan serentak diterima seluruh bagian artileri yang berada di seluruh KRI.
Komandan masing-masing KRI mendapatkan perintah dari komandan tertinggi untuk memerintahkan seluruh awak kapal mereka untuk menembak.
Mereka dengan serentak memerintahkan seluruh awak artileri untuk menahan tembakan sebelum musuh sedikit mendekat.
Musuh masih belum terlalu terlihat jelas, itu sebabnya seluruh komandan kapal memerintahkan untuk menahan tembakkan. Mereka harus dapat menembak dengan akurat demi menghemat amunisi.
__ADS_1
“Kunci target…!!!” perintah seluruh komandan KRI.
“Terget terkunci…!!!” jawab seluruh operator artileri.
Belum ada perintah untuk menembak yang didapatkan orperator senjata. Meski baru menunggu beberapa detik, namun detik-detik itu terasa seperti dalam hitungan jam.
Sesaat kemudian CWIS seluruh KRI mengeluarkan amunisinya. Ada ratusan peluru yang ditembakkan dalam tempo sedetik, itu mampu untuk membunuh 10 kadal terbang hingga beberapa bagian tubuhnya terlepas dan mendarat di air laut.
Ancaman tidak hanya datang dari kawanan kadal terbang yang dikendalikan pawangnya. Kapal-kapal perang musuh kembali menembakkan meriam.
Bola logam yang keluar dari meriam lagi-lagi tidak ada yang mengenai target mereka yang berupa kapal-kapal perang milik RI. Bola-bola logam hanya menghantam air dan menciptakan gelombang kecil yang mengombang-ambingkan kapal.
Seluruh awak kapal masih berusaha untuk tenang dan melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Peluncur roket kemudian disiapkan dan diarahkan ke armada laut musuh. Sesaat kemudian roket-roket tersebut dengan cepat keluar dari peluncurnya dan melesat cepat menuju sasaran.
Pasukan musuh yang ada di kapal perang mereka terlihat panik saat musuh mereka melakukan serangan balasan. Pasukan yang bertugas untuk mengisi dan mengoperasikan meriam kembali melakukan tugasnya.
Namun sebelum mereka mengangkat sebuah bola logam, beberapa benda meledak dengan kekuatan besar dan menghancurkan puluhan kapal perang. Kobaran api menyala di tengah laut, itu membuat penerangan tambahan selain suar yang menyala.
Rentetan tembakkan kembali terdengar, itu berasal dari artileri penangkis rudal yang menembaki pasukan kadal terbang. Artileri yang melesat kearah musuh membuat jalur cahaya berwarna kuning.
Tidak lupa meriam dan senapan mesin berat juga memuntahkan pelurunya.
Diikuti puluhan rudal yang seharusnya untuk menghancurkan kapal perang sejenis. Namun dengan mudahnya menghancurkan puluhan kapal perang musuh lagi.
Ratusan tubuh manusia yang tidak bergerak terlihat bergoyang karena ombak kecil. Beberapa prajurit musuh mencoba menaiki pecahan kapal perang mereka yang mengambang.
Sambil mengumpati musuh mereka, para prajurit musuh mencoba menaiki pecahan tubuh kapal perang mereka.
Puluhan potongan tubuh yang berkulit kasar dan berukuran besar juga terlihat mengambang di lautan. Itu adalah bagian tubuh dari pasukan kadal terbang yang sudah dibersihkan. Saat diperiksa kembali, sudah tidak ada armada udara musuh yang berupa wyvern terlihat.
Para pawang wyvern tersebut juga mati seketika saat mengahtam air laut dengan keras. Dengan ketinggian sekitar 20 meter, terjatuh ke atas air dari ketinggiat tersebut sama saja dengan menghantam beton.
Armada laut pasukan dunia lain terlihat berusaha untuk berbalik arah, termasuk kapal induknya.
Komandan kedua kapal selam memerintahkan operator senjata untuk menyiapkan torpedo.
Sesaat setalah perintah peluncuran, empat buah torpedo meluncur dengan kecepatan sedang dan dikendalikan kearah kapal induk musuh dan beberapa kapal perang yang berusaha mundur lainnya.
Ledakan yang cukup keras terjadi dan membuat kapal induk beserta kapal perang musuh yang lain hanya menjadi pecahan kayu yang mengotori laut saja.
Pasukan yang berada di sisa kapal perang dunia lain terlihat cemas dan ketakutan saat awak kapal mereka berusaha untuk menambah kecepatan. Namun itu hanya membuat prajurit yang bertugas mendayung kelelahan, beberapa bahkan terlihat tak sudah tak sadarkan diri.
Mereka saling mengumpati TNI AL yang memang bertugas untuk menghancurkan mereka.
Rudal dan roket kembali meluncur dari senjata peluncurnya dan bergerak kearah sisa kapal perang musuh yang mulai bergerak tak beraturan.
Ledakan dari peluru kendal dan roket membuat malam hari yang dingin di Samudera Hindia menjadi terang.
Hal itu juga terlihat di drone yang dikirimkan militer Australia, mereka dengan bahasa setempat merasa kagum dengan pertempuran yang dilakukan TNI AL.
Mereka bahkan tidak menginginkan perang dengan Indonesia, bahkan jika hal itu benar-benar terjadi. Bahkan jika negara persemakmuran Inggris itu mendapatkan bantuan dari Inggris, hasilnya bisa diperkirakan.
Itulah sebabnya ada banyak negara di dunia ini yang lebih memilih untuk menawarkan diri menjadi sekutu Indonesia.
Puluhan KRI bergerak menuju armada musuh yang sudah hancur, tentu saja untuk melakukan pembersihan jika masih ada pasukan musuh yang tersisa. Memang terlihat puluhan hingga ratusan manusia berenang di area puing-puing kapal perang dunia lain.
__ADS_1
Pertempuran memang terlihat berat sebelah, namun pasukan dunia lain-lah yang memilih untuk berperang dengan TNI, lebih luasnya melawan dunia ini.
Bahkan armada laut yang dikerahkan oleh AL hanya sebagian kecilnya saja, dan formasi yang diterapkan bukan untuk melawan armada dalam jumlah besar. Jika TNI AL mengerahkan 10% armadanya, dapat dipastikan pertempuran laut hanya berlangusung selama lima belas menit saja.