Prajurit SMA

Prajurit SMA
45. Serangan untuk menyelamatkan kehormatan


__ADS_3

5 Juni 2321, pukul 12.21 WIB


**


Sekarang adalah hari ketiga pelaksanaan misi, sudah enam desa yang telah dipetakan oleh Regu Satuan Topografi ini. Kecamatan Mojogedang sendiri memiliki 13 desa dengan pusat Desa Mojogedang.


Hingga detik ini, Regu Satuan Topografi berhasil tidak ditemukan oleh musuh, atau mungkin tepatnya belum ditemukan oleh musuh yang perkemahan utamanya belum diketahui.


Untuk mengantisipasi jika musuh menemukan tempat Regu Satuan Topografi berada, seluruh prajurit disebar di lokasi yang strategis dan tempat yang sudah diperkirakan menjadi jalur musuh melakukan patroli. Meski hingga hari ini belum terlihat pergerakan musuh, namun para prajurit tidak mengendurkan pengawasan.


Para prajurit hanya menemui beberapa warga yang sedang mencari rumput bagi hewan ternak mereka. Para warga sangat berterimakasih dengan kedatangan Regu Satuan Topografi ini.


Kondisi mereka saat menemui para prajurit terlihat menyedihkan, seperti hanya tinggal tulang dan kulit dan diisi dengan nyawa. Itu sebabnya Nio memerintahkan untuk membagi sedikit logistik makanan bagi beberapa warga yang ditemui.


Tania sendiri berada di atas atap mobil komando yang didalamnya ada komandannya, tak lain adalah Nio. Meski seharian dia hanya berbaring dan sesekali memeriksa senapan runduk nya, Tania juga melakukan kejahilan seperti berpura-pura melihat musuh dan membuat semua prajurit panik.



(Ilustrasi senapan penembak runduk/sniper yang digunakan Tania dan penembak jitu yang ikut dalam misi ini. Sumber gambar dari pinterest)


Yang dilakukan Tania membuat Nio harus memberinya sesuatu, seperti hukuman menyiapkan dapur lapangan sendirian. Meski harus menggerutu lebih dulu, Tania tetap melaksanakan perintah Nio untuk membayar perbuatannya.


Ruangan didalam truk komando terpasang banyak barang elektronik dan kendali drone berkamera dan drone serbu/serang. Didalamnya ada 8 yang memiliki tugas berbeda.


Ada empat orang yang mengendalikan 2 drone berkamera dan sebuah drone serbu/serang. Kemudian seorang pengemudi kendaraan, 2 orang untuk memeriksa gambar yang dikirim dari drone berkamera sebelum dicetak menjadi peta. Kemudian satu orang yang menjadi komandan, yaitu Peltu Nio.


Omong-omong, Nio kemarin sedang berulang tahun ke-19 tahun. Namun perayaan ulang tahun Nio harus ditunda karena masih dalam pelaksanaan misi.


Lalu sebagai hadiah ulang tahun, Nio mendapatkan banyak perintah dari Herlina yang membuatnya harus meminum banyak cangkir kopi hitam. Arunika juga sempat memberikan ucapan selamat ulang tahun untuk Nio melalui sambungan komunikasi radio.


Para prajurit yang ada dibawah pimpinan Nio memberi ucapan selamat dari luar melalui jendela yang menjadi tempat masuknya udara bagi manusia didalam kendaraan ini. Mereka mengetahui jika Nio berulang tahun dari Tania tanpa sepengetahuan Nio itu sendiri.


**


Meski kemarin dia baru merayakan bertambahnya usianya, Nio tidak merasa senang sama sekali. Sebaliknya, Nio harus berkutat dengan puluhan lembar kertas yang ada didepannya.


Terlihat didepan meja kerja Nio ada puluhan lembar kertas yang berisi kondisi topografi keempat desa yang sudah dipotret dan dicetak.


Nio berencana ingin membuat jalur masuk teraman bagi pasukan yang setelah misi ini selesai akan melaksanakan operasi perebutan kembali Kecamatan Mojogedang dari kuasa musuh. Itu sebabnya dia dengan fokusnya menelusuri setiap jengkal tanah desa melalui peta medan yang ada dihadapannya.


Dengan secangkir minuman sereal yang dibagikan kepada seluruh prajurit, Nio membuat itu menjadi penambah fokusnya. Meski dia dan prajurit yang lain hanya mendapatkan jatah tidur rata-rata selama 4 jam sejak dimulainya misi ini, namun semuanya yang menjalani misi ini terlihat masih segar. Kantung mata adalah hal yang biasa bagi prajurit.


Kondisi semua desa yang sudah dipetakan kebanyakan adalah pemukiman penduduk dan perkebunan. Dari semua gambar yang dikirim dari drone berkamera, masih belum ditemukan perkemahan utama musuh.


Drone berkamera masih terbang di atas desa Mojogedang sejak pagi tadi untuk mengambil gambar pusat kecamatan Mojogedang tersebut. Drone berkamera yang satunya juga terbang ditempat lain yang masih satu wilayah dengan desa Mojogedang. Sementara drone serbu/serang terbang untuk mencari keberadaan perkemahan musuh.


Pusat kecamatan Mojogedang ini kebanyakan adalah bangunan berlantai dua yang berfungsi Sebagai tempat tinggal para penduduknya. Kebanyakan bangunan itu tidak layak guna karena hampir roboh. Sementara di wilayah lainnya adalah pedesaan yang pemukiman penduduknya tidak sepadat desa Mojogedang dengan kondisi bangunan yang jauh lebih parah.


Itu sebabnya kebanyakan warga memilih untuk membuat pengungsian di tempat yang jauh dari keberadaan perkemahan musuh. Bangunan yang ditinggal pemiliknya hanya menjadi rumah kosong dan terbengkalai.


"Tempat yang pas untuk penempatan penembak jitu," gumam Nio saat memantau rekaman drone dari layar monitor yang terhubung langsung dengan sumbernya.


Setelah itu, Nio memerintahkan untuk mencetak area itu dan memberikan catatan menggunakan pulpen bertinta merah.


"Komandan...!" ucap salah satu prajurit pengendali drone serbu/serang dengan wajah yang sangat terkejut.


"Ada apa, apa perkemahan musuh sudah ditemukan?" Tanya Nio sambil menatap monitor yang ada didepan salah satu bawahannya itu.


Rekaman semula tidak terlihat jelas, kemudian Nio memerintahkan bawahannya untuk menurunkan sedikit ketinggian drone yang ia kendalikan.


Ekspresi Nio seketika sama seperti bawahannya saat melihat rekaman yang dikirim drone.


Nio tiba-tiba teringat dengan arahan Herlina saat memerintahkannya untuk melaksanakan misi ini, yaitu Regu Satuan Topografi diijinkan bertempur jika diperlukan.


"Panggil Sima kemari...!" ucap Nio dengan wajah murka.


**


Di kantor kecamatan Mojogedang ada ratusan prajurit dunia lain sedang bersantai di pusat tempat yang mereka kuasai. Tepatnya, pasukan ini menjadi kantor kecamatan Mojogedang menjadi perkemahan mereka. Tentunya ada beberapa kemah untuk tempat istirahat 600 prajurit, serta ada tempat bagi kuda-kuda mereka.


Bagian dalam kantor sudah dikeluarkan semuanya oleh pasukan musuh dan dibuang dihalaman kantor untuk dijadikan bahan api unggun. Mereka hanya mengambil beberapa benda yang dibutuhkan seperti peta wilayah yang mereka kuasai.


Ada enam ekor kadal terbang yang ditunggangi seorang pawangnya.


Tiang bendera yang seharusnya dikibarkan bendera merah putih, sekarang diganti dengan bendera kerajaan tempat pasukan ini berasal. Bendera merah putih yang sudah mereka turunkan entah sekarang ada dimana.


Namun di tengah halaman kantor, ada tumpukan kayu yang sudah dibakar dan masih menyala padahal sudah dinyalakan sejak pasukan ini menguasai kecamatan Mojogedang.


Seorang prajurit musuh terlihat sedang memegang sebuah kain yang berwarna merah dan putih kemudian melemparkannya kedalam kobaran api yang menyala tidak terlalu besar, setidaknya cukup untuk menghangatkan puluhan orang.


Puluhan perempuan muda terlihat dikelilingi oleh puluhan prajurit yang tidak mengenakkan zirah mereka, tepatnya para pria itu hanya mengenakan celana pendek. Jumlah mereka lebih banyak dari para perempuan itu.

__ADS_1


Mereka menatap para perempuan muda yang terlihat menangis dengan ekspresi menjijikkan. Beberapa dari mereka bahkan sampai mengeluarkan air liur dan dijilat kembali sebelum menetes ke tanah.


Dengan badan yang besar dan otot yang kekar membuat para perempuan muda itu menambah ketakutan yang mereka alami, jumlah mereka terlalu sedikit dibandingkan pria yang mengelilingi.


Kondisi puluhan perempuan muda itu juga cukup menyedihkan. Pakaian yang dikenakan sangat kotor dan banyak sobekan, tangan mereka diikat dengan tali yang juga tersambung langsung dengan ikatan di leher. Mereka terlihat diikat sudah cukup lama dan kuat hingga kulit disekitar ikatan berwarna biru gelap.


"Sayang sekali, kukira gadis dunia ini cantik-cantik. Tapi ternyata sangat biasa!" ucap salah satu pria sambil menekan kasar pipi salah satu perempuan muda kemudian mendorongnya kebelakang dengan kasar.


Perempuan muda itu hanya merintis dan mengalirkan air mata yang sudah ia keluarkan sejak dibawa ketempat ini.


Mereka tentu saja tidak mengerti apa yang diucapkan para prajurit musuh itu, yang hanya mereka pikirkan adalah kehilangan kehormatan di tangan musuh.


"Untuk apa memikirkan itu? Yang penting kita dapat terhibur dengan tubuh-tubuh mungil mereka."


"Mereka harus dapat memuaskan kita!"


Selain perkataan semacam itu, para prajurit musuh juga mengeluarkan perkataan yang berhubungan dengan hubungan seksual dengan ekspresi yang semakin menjijikkan.


Hanya dari ekspresi mereka, puluhan perempuan muda seperti dapat mengetahui tujuan mereka.


Seorang pria memeluk salah satu perempuan muda itu dari belakang kemudian meremas-remas dadanya, dia juga menjilati pipi perempuan muda itu.


Itu membuatnya semakin memberontak dan berteriak meminta tolong sangat keras. Perempuan muda yang lain semakin ketakutan saat melihat perbuatan pria itu.


Sekeras apapun para perempuan muda itu berteriak, tidak ada orang yang mendengar karena tidak ada lagi warga yang tinggal disekitar kantor.


"Sial, teriakan mereka membuatku semakin terangsang," ucap salah satu pria dan pria lain dengan kalimat yang serupa.


Dengan hampir bersamaan, puluhan pria itu menurunkan celananya dan memperlihatkan pemandangan yang mengerikan bagi para perempuan muda itu.


"!!!"


Puluhan pria memegangi perempuan yang mereka pilih.


Sebelum salah satu pria menyentuh perempuan yang ia pilih, dia tiba-tiba tersungkur dan tak bergerak lagi dengan punggung yang berlubang dan mengeluarkan banyak darah.


Matanya masih terbuka dan menunjukkan senyum menjijikkan saat dirinya sudah tidak bernyawa.


Penyebabnya adalah suara ledakan dari arah atas. Itu adalah drone serang yang menembakkan 6 peluru dengan kaliber 12,7x55 mm. Namun peluru sebesar itu seharusnya dapat menembus tubuh pria itu, entah tubuhnya sekeras apa namun peluru itu hanya melubangi bagian punggungnya saja.


Senapan serbu yang dipasang pada drone serang adalah senapan mesin dengan 6 laras atau disebut dengan 'gatling gun'. Senapan serbu jenis ringan tersebut dapat menembakkan seluruh amunisi yang terpasang dalam waktu 2 menit saja, padahal jumlah peluru yang disediakan sebanyak 600 butir.


Puluhan pria yang hendak merenggut kehormatan para perempuan muda itu seketika kabur tanpa mengenakan celananya lebih dulu.


Pasukan yang tidak ikut kegiatan bejat para pria itu berlari dengan tujuan melindungi mereka. Namun sebelum pasukan itu membentuk pertahanan, ratusan peluru menghujani 30 pria telanjang itu hingga sekujur tubuh mereka penuh lubang dan darah.


Amunisi pada senapan serbu drone serbu masih tersisa beberapa ratus butir.


Beberapa saat kemudian, beberapa kendaraan lapis baja dan kendaraan taktis tiba dengan ujung senjata mengarah ke barisan pertahanan pasukan musuh.


"Tembak mereka sampai peluru yang kalian punya habis...!!!" teriak seseorang dengan tiba-tiba dan mengejutkan seluruh orang yang ada dilingkungan kantor kecamatan Mojogedang.


Prajurit yang menembakkan peluru dari senapan mesin berat dan ringan dari atas kendaraan lapis baja dan kendaraan taktis. Sementara yang lain menyerang dengan menggunakan tembok pembatas antara kantor dengan trotoar sebagai pertahanan.


Beberapa prajurit juga menggunakan selokan sebagai parit pertahanan saat menyerang pasukan musuh.


Suara tembakan menghiasi hujan peluru yang menyasar ratusan prajurit yang masih menyusun pertahanan.


Puluhan prajurit berpakaian hijau loreng dan bersenjata senapan serbu mengelilingi puluhan perempuan muda yang terlihat ketakutan. Beberapa dari mereka melakukan tembakkan perlindungan saat rekan mereka yang lain melepaskan ikatan dari tangan dan leher para perempuan muda itu.


Pasukan musuh melihat para perempuan yang diselamatkan oleh pasukan dari Regu Satuan Topografi yang diperintahkan Nio untuk melakukan penyelamatan para perempuan muda itu.


Pasukan penyelamat sudah melindungi para perempuan muda itu dengan tembakan dari pasukan musuh yang berlari kearah mereka.


Namun peluru pada senapan serbu standar hanya membuat zirah pasukan musuh penyok. Hingga mereka dengan serentak melemparkan puluhan granat tepat di tengah-tengah pasukan musuh.


5 detik kemudian terdengar suara ledakan yang sangat keras dan beruntun. Ratusan potong bagian dari zirah yang dikenakan prajurit musuh terlempar ke udara beserta potongan tubuh yang dilindungi. Selain itu kaca-kaca yang terpasang di kantor pecah akibat ledakan puluhan granat.


Sebuah granat yang mereka gunakan cukup untuk menghancurkan satu Regu dengan jumlah prajurit sebanyak 32 orang.


Sementara granat yang mereka lemparan berjumlah sekitar 20 buah dengan jumlah prajurit musuh yang disasar sebanyak 100 orang. Dengan jumlah sebanyak itu cukup untuk membuat pasukan musuh yang tersisa menjadi gentar.


Puluhan perempuan muda berhasil diamankan didalam mobil pengangkut personil.


Sementara pertempuran masih berlanjut saat tim medis mengobati luka yang diderita puluhan perempuan muda itu.


"Sial, kenapa mereka punya naga sih!?" gumam Sima sambil berdecak lidah.


Enam kadal terbang yang Sima sebut sebagai naga terbang mendekati pasukan yang masih melawan pasukan musuh yang mulai berantakan karena ledakan granat tadi.


"Siapkan peluncur roket...!!!" teriak Sima dan sesaat kemudian seluruh peluncur roket yang dibawa sudah disiapkan oleh prajurit yang akan menembak.

__ADS_1


Ada 8 peluncur roket yang ditembakkan dengan menggunakan peluncur dengan satu prajurit sebagai penembak. Peluncur roket ditahan dengan pundak masing-masing prajurit yang bertugas menembak dan mulai membidik sasaran.


Amunisi pada roket bukanlah peluru kendali, jadi prajurit harus dapat membidik sasaran dengan tepat.


"Tembak...!!!" perintah Sima.


Sesaat kemudian delapan buah benda terbang dengan kecepatan tinggi kearah enam ekor naga yang terbang mendekat.


"Mereka sepertinya bukan pasukan naga yang dulu kami hadapi," batin Sima.


Berbekal pengalaman saat menghadapi pasukan penunggang naga dulu, mereka menjadi tahu cara untuk menghadapi hewan itu


Tania dan dua penembak jitu lainnya melakukan aksi dari atas bangunan berlantai dua yang sudah tidak terpakai. Jarak mereka dengan target sejauh 100 meter, itu jarak yang terbilang dekat bagi penembak jitu. Apalagi jarak efektif tembak senapan runduk yang mereka gunakan adalah 1 km, jadi dari jarak sedekat itu sangat mudah untuk membunuh prajurit musuh.


Mereka menembakkan peluru kearah pasukan yang mencoba kabur hingga seluruh amunisi yang mereka miliki habis.


Prajurit musuh yang kabur juga diburu menggunakan drone serbu.


Kebanyakan tembakkan mereka tepat sasaran dengan beberapa tembakan meleset dan mengenai bangunan kantor kecamatan Mojogedang. Tentu saja tembakkan yang Tania lepaskan tidak ada yang meleset.


Pertempuran terjadi hingga langit yang cerah ini berubah warna menjadi jingga.


Pasukan yang dipimpin oleh Sima tidak melihat lagi pasukan musuh.


Sima memerintahkan pasukan untuk masuk ke dalam kantor kecamatan Mojogedang jika masih ada musuh yang tersisa didalam bangunan itu.


Sima membuka pintu mobil pengangkut personil yang ditutup agar orang didalamnya tetap aman.


"Semuanya baik-baik saja, pasukan musuh sudah tidak terlihat lagi," ucap Sima yang membuat tim medis yang merawat puluhan perempuan muda itu terlihat lega.


"Teman-teman kami, me-mereka ada didalam kantor," ucap salah satu perempuan muda dengan perban di pipinya.


"Apa yang membawa mereka musuh?"


"Ya..., mungkin mereka sudah...."


Perempuan muda itu tidak melanjutkan perkataannya, dia menangis dan diikuti perempuan muda yang lain.


Sima yang berfirasat buruk kemudian segera bergabung dengan pasukan yang melakukan penyisiran di dalam kantor.


Pasukan masih melakukan pencarian di seluruh ruangan yang ada di bangunan ini.


Saat membuka pintu ruangan kerja camat, pasukan menemukan lima orang perempuan muda dan beberapa pria dengan kondisi sama-sama telanjang.


Namun para perempuan muda itu terlihat penuh dengan luka di sekujur tubuhnya.


"Si-sialan, kenapa kalian bisa masuk kesini...!?"


"Mana pasukan yang lain, apa mereka sudah dikalahkan?"


Seluruh pria di ruangan itu terlihat panik dan ketakutan.


"To-tolong kami," ucap salah satu perempuan muda dengan merintih.


Tiba-tiba kepala perempuan muda yang berbicara itu diinjak dengan kaki salah satu pria.


Melihat hal itu, tanpa dikomando lima prajurit yang melihat kejadian ini langsung menembakkan seluruh peluru yang tersisa di masing-masing magasin yang dimiliki.


"Mati saja kalian para bajingan...!!!"


Sima yang masih memeriksa ruangan lain terkejut dengan suara tembakan dan segera berlari kearah suara.


Para prajurit menembak seluruh pria itu hingga tidak ada yang bernyawa lagi, bahkan beberapa bagian tubuh terlepas karena banyaknya peluru yang menembus tubuh mereka.


Sementara para perempuan muda itu terlihat masih ketakutan dengan suara tembakan sambil melindungi tubuh telanjang mereka.


Sima yang tiba tepat setelah peluru yang ditembakkan seluruh prajurit itu habis dan menghentikan tembakkan.


"Apa apaan kalian ini!" kata Sima dengan wajah marah.


Prajurit yang melakukan tembakkan hanya melihat kedalam ruangan sebagai kode agar Sima juga melihat apa yang terjadi.


Mata Sima melebar dengan gigi menggeram karena ada puluhan pria musuh didalam ruangan dengan beberapa perempuan muda yang sudah kehilangan kehormatan.


Sima kemudian memanggil tim medis yang perempuan untuk ketempat mereka berada.


**


"Ini tidak pantas menjadi hadiah ulang tahunku," ucap Nio saat melihat rekaman pertempuran di kantor kecamatan Mojogedang.


Seluruh orang di kendaraan komando terlihat lega saat rekan-rekan mereka berhasil mengalahkan pasukan musuh.

__ADS_1


"Setidaknya kita bisa mengurangi jumlah musuh yang ada di wilayah ini...."


__ADS_2