
10 September 2321, pukul 15.12 WIB/ tahun 1914 kerajaan Arevelk, siang hari.
**
Zarif terlihat berjalan dengan cepat mengarah ke ruangan Penyihir agung berada. Namun langkahnya yang terpincang-pincang cukup menyulitkan dirinya untuk berjalan cepat. Kakinya tidak mengalami suatu masalah, namun sebuah penyakit yang dia derita sejak lahir membuat kaki kanannya lebih panjang dari kaki kiri, itulah yang membuat jalannya terlihat seperti orang pincang.
Tidak ada seorang pun yang tinggal di lingkungan yang sama dengan Penyihir agung curiga terhadap Zariv yang berpakaian serba hitam. Orang-orang yang serupa dengan Zariv memang sering melintas di lingkungan ini. Orang-orang yang berpakaian serba hitam biasanya adalah prajurit bayaran, yang tugasnya adalah membunuh, atau hanya sekedar mencari berita bagi orang yang membayar mereka.
Namun lingkungan tempat tinggal Penyihir agung adalah daerah yang sangat aman, karena keberadaan Penyihir agung itu sendiri.
Para orang-orang yang bekerja menjadi prajurit bayaran biasanya dibayar oleh pemerintah yang hendak berperang. Tentu saja prajurit bayaran yang dibayar adalah yang berasal dari organisasi-organisasi yang memang menyediakan jasa prajurit bayaran.
Sebagian prajurit bayaran memang bekerja perseorangan, namun ada juga organisasi prajurit bayaran yang memiliki ratusan anggota. Zariv termasuk prajurit bayaran yang bekerja sendiri.
Zariv mengetuk pintu sebuah rumah di sepetak kecil tanah yang terletak agak jauh dari pemukiman warga. Rumah itu kira-kira berukuran 4x6 meter, dengan ukuran tersebut seharusnya hanya bisa satu orang yang menghuninya.
Ada dua jendela berukuran besar yang difungsikan sebagai tempat masuknya cahaya dang angin ke dalam rumah, karena keberadaan kaca yang kecil di dunia ini.
Rumah tersebut terlihat sudah sangat lama berdiri, dan tidak dirawat. Karena dinding rumah yang terbuat dari batu bata berwarna merah tertutupi tanaman merambat.
Terdengar suara seseorang dari dalam rumah, suaranya seperti anak kecil, tapi siapa yang tahu.
“Ivy, apa Tuan ada? Ada berita yang sangat penting ingin kuberitahu padanya,” tanpa membuka penutup wajahnya, Zariv bisa melihat gadis dengan fisik ‘serba putih’ itu.
Ivy tiba-tiba berwajah dingin setelah mendengar ucapan Zariv yang seperti sangat darurat. Namun dia sudah tahu jika dia adalah prajurit bayaran yang dibayar Penyihir agung untuk mencari berita mengenai tindakan negara tetangga di perang ini.
“Masuklah,” Zariv langsung masuk kedalam rumah dan mencari-cari keberadaan Penyihir agung.
“Apa berita yang kau bawakan untukku, Zariv?” Penyihir agung tiba-tiba berbicara di tempat duduk yang ditempatkan di dekat perapian.
Zariv kemudian membuka penutup wajahnya, dan menunjukkan wajah seorang gadis yang bekerja sebagai prajurit bayaran.
Zariv berpikir cepat untuk menjawab pertanyaan Penyihir agung. Jawaban yang dia katakan nanti mungkin bisa saja akan mengejutkan semua orang di rumah ini, meski yang menghuni tempat ini hanya dua orang. Ilhiya tidak termasuk, karena dia merupakan pelatih penyihir militer di Kerajaan Arevelk.
Zariv berjalan beberapa langkah mendekati Penyihir agung, setelah itu dia duduk dengan cara berlutut. Dia kemudian mengambil beberapa tarikan napas untuk menyiapkan diri menjawab pertanyaan Penyihir agung.
“Pasukan gabungan lima negara menyatakan perang dengan Kerajaan Arevelk,” Ivy seketika mematung dan berhenti menulis salinan buku yang merupakan pekerjaannya.
Ivy sama seperti Zariv, menelan ludah dengan ekspresi yang tidak jelas, entah itu kebingungan atau marah.
“Itu sudah jelas, karena Sigiz memutuskan untuk membantu orang yang diramalkan. Ayo kita beritahu Sigiz tentang berita ini juga,” meski Penyihir agung sudah tahu apa reaksi yang diperlihatkan Sigiz setelah mendengar berita ini.
Zariv dan Ivy mengikuti langkah Penyihir agung yang mengarah keluar rumah, sebelum mencapai depan pintu, Zariv sudah kembali mengenakan penutup wajahnya. Menutupi identitas adalah kode etik seorang prajurit bayaran, selain kemampuan untuk membunuh dengan cepat.
Tidak ada sinyal untuk mengundang pasukan penunggang naga yang menjemput Penyihir agung dan Zariv, namun sudah ada dua pawang yang menunggang dua naga angin dengan sisik berwarna kemerahan.
__ADS_1
Itu cukup mengejutkan bagi Zariv yang tidak melihat dua ekor naga di depan rumah Penyihir agung. Dia tidak menghiraukan rasa penasarannya. Zariv, Penyihir agung dan Ivy menunggangi naga yang sudah terparkir di depan rumah.
**
Orang-orang yang bekerja di Istana Awan melakukan tugas mereka sesuai dengan tugas masing-masing. Sebagian besar tugas para pekerja adalah menjaga kerapihan dan keindahan istana, meski hanya ada dua orang yang memiliki peran sangat penting di negara ini yang menghuni istana melayang ini.
Ukuran taman istana disesuaikan dengan luas tanah yang melayang ini, sebagian besar luas tanah berfungsi sebagai tempat berdirinya istana. Sehingga taman yang berdiri bisa dibilang sangat kecil. Namun, Sigiz yang sangat menyukai berbagai jenis bunga hias akan melakukan apapun untuk bunga-bunga koleksinya.
Salah satunya adalah meletakkan ratusan pot yang berisi dengan bunga-bunga berbagai jenis dan warna di seluruh sudut istana. Bahkan kamar ayahnya sendiri menjadi tempat tumbuhnya bunga-bunga milik Sigiz. Hin sama sekali tidak keberatan dengan perilaku Sigiz yang satu ini, karena jika dia justru menyinggung mengenai pernikahan dengan Sigiz, nyawanya sendiri dan negara ini yang terancam.
Sigiz paling suka mengoleksi bunga-bunga langka yang tumbuh di pelosok dunia ini. Ada ratusan jenis bunga langka yang sudah dia kumpulkan selama 60 tahun hidupnya. Dia tidak melewatkan satu tahun-pun untuk memburu bunga incarannya, apalagi dia akan mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk sebuah bunga. Tentu saja dia memakai uangnya sendiri untuk hobinya ini.
Tetapi wajah Sigiz tiba-tiba menjadi datar, meski yang dibilang oleh Zariv adalah hal yang telah ia duga karena membantu pasukan dunia lain. Hal ini tidak seperti saat dirinya berkeliling di taman istana yang selalu menunjukkan wajah bahagia dan tenang.
Itu karena Zariv telah memberitahunya sebuah berita yang berisi mengenai pasukan gabungan lima negara yang menyatakan perang dengan Kerajaan Arevelk.
Wajah datar yang Sigiz perlihatkan tidak menunjukkan rasa marah atau kesal, tetapi rasa lain yang membuat jantungnya terpacu dengan cepat. Seperti perasaan saat pertama kali melihat wajah Nio.
“Syukurlah, aku sudah menyiapkan pasukan yang siap tempur,” ucapan Sigiz tidak diduga oleh ketiga orang yang menghadap padanya.
Bahkan Penyihir agung yang telah menjadi guru Sigiz sejak lama tetap tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan tentang salah satu muridnya ini.
“Kenapa kamu sudah tahu kalau mereka akan berperang pada negara ini?” Penyihir agung ingin alasan yang logis dari ucapan Sigiz tersebut.
“Karena aku sudah membantu pasukan Tuan Nio, jadi mungkin saja mereka jadi marah kepada ku,” setelah itu Sigiz berjalan menuju ruang ganti khusus pakaian tempurnya.
“Aku juga merasakan kalau dia sedang di tengah bahaya, karena Tuan Nio dan pasukannya tidak tahu apa-apa tentang sihir dunia ini.”
“Kenapa kau tahu kalau dia sedang mengalami hal yang berbahaya?”
“Aku sudah menandai aura miliknya dengan milikku, aura miliknya kadang terasa dingin. Tetapi yang kusukai darinya adalah aura hangatnya yang menenangkan.”
“Jangan katakan kau akan bergerak untuk menyelamatkannya,” ucapan Penyihir agung yang seakan-akan membatasi pergerakan Sigiz untuk menemui lagi Nio hanya dibalas dengan senyuman oleh Sigiz.
“Sayang sekali, aku sudah menyiapkan pasukan untuk menyelamatkan Tuan Nio, dan sekaligus menerima tantangan perang lima raja bodoh itu.”
Sigiz kemudian menuju tempat khusus mengganti pakaian perangnya, sebelum memimpin ratusan kompi pasukan penunggang naga dan puluhan ribuan pasukan kavaleri berat.
**
Suara dentuman yang keras terdengar, itu berasal dari rentetan sambaran petir yang dikeluarkan para penyihir yang terus mengejar Regu 1.
Petir adalah sebuah peristiwa alam yang sering terjadi dalam situasi tertentu, namun kali ini yang pasukan Regu 1 lihat adalah sebuah fenomena fantasi yang disebut dengan ‘sihir’. Sambaran petir tentu saja tidak bisa muncul dengan mendadak atau disengaja.
Bagaimana pun juga, petir adalah sebuah fenomena yang menakutkan. Apalagi jika fenomena itu dipadukan dengan sihir, mungkin bisa sangat berbahaya bila yang menggunakannya satu Regu penyihir militer dengan jumlah 25 orang.
__ADS_1
“Tapi ini dunia lain, bisa saja hal yang tidak mungkin terjadi di dunia kita, terjadi di dunia ini!” Nio berbicara dengan panik saat kendaraan melaju dengan cepat di jalanan yang tidak rata.
“Hei! Kenapa mereka menaiki tongkat yang bisa terbang?”
Semua pasukan menembaki pasukan penunggang kuda dan penunggan tongkat dari celah kendaraan yang memang difungsikan sebagai celah untuk menembak. Celah-celah itu juga menjadi perlindungan bagi prajurit, karena mereka menembak dari dalam kendaraan yang dilapisi pelindung baja.
Namun karena kendaraan bergerak di bidang yang tidak rata, membuat semua tembakan yang mereka lepaskan tidak ada yang satupun mengenai prajurit yang semuanya perempuan. Bahkan mereka menganggap jika bertempur di tengah kota jauh lebih mudah daripada bertempur di medan terbuka seperti ini.
Jarak antara kedua pasukan terpaut beberapa ratus meter, dan Regu 1 melaju jauh di depan pasukan penunggan kuda dan penyihir yang mengejar dengan menaiki tongkat mereka.
Prajurit berpangkat Sersan satu dari Pasukan Utama dengan nama panggilan Chandra justru sibuk dengan cetakan peta yang dia bawa, bahkan guncangan keras karena roda kendaraan menghantam batu tidak membuatnya melepaskan pandangan dari gambar medan yang diambil drone.
Namun yang menjadi masalah adalah, Chandra menemukan sebuah masalah setelah dia menemukan perkiraan lokasi pasukan ini di peta.
“Komandan, kita sebentar lagi memasuki wilayah negara lain!” ucapan Chandra justru membuat Nio semakin tidak tenang dan semakin lama menahan napas karena pada situasi seperti ini dia harus menemukan solusi yang tepat.
Liben menoleh kearah Nio yang hanya berdiam diri, namun tidak ada ketenangan sama sekali pada Nio. Bahkan suara rentetan tembakkan tidak membuat Nio melepaskan konsentrasinya.
“Komandan!? Apa kau lupa bernapas?” Liben menghancurkan konsetrasi Nio, namun itu membuatnya untuk bernapas kembali setelah beberapa menit menahan napas.
Bahkan dalam pertempuran melawan penyihir sekalipun, tidak ada cara untuk menghadapinya selain dengan bertempur secara langsung lagi. Meski tidak ada yang tahu sihir apa saja yang akan dilepaskan para penyihir, Nio sudah terlanjur untuk memerintahkan pasukannya untuk turun dari kendaraan dan bertempur secara langsung.
Seluruh prajurit menempati tempat yang menurut mereka paling aman, kebanyakan berlindung di balik pilar batu dan di belakang kendaraan. Namun operator senapan serbu yang terpasang di atap kendaraan adalah hal yang harus dilindungi, itulah mengapa ada beberapa prajurit yang menyerang sambil tengkurap di tanah dan bawah kendaraan setelah memasang bipod pada senapan masing-masing.
Nio menyerang dengan posisi tengkurap setelah memasang bipod pada senapannya, dia berada di di depan bawah kendaraan dan sekaligus melindungi operator senapan mesin di atas kendaraan.
Meski bipod bukanlah perlengkapan wajib, namun setiap prajurit yang memegang senapan pasti akan mendapatkan sebuah bipod sebagai perelengkapan tambahan. Tentu saja prajurit tidak diwajibkan untuk memakai bipod pada senapannya, karena setiap prajurit pasti memiliki posisi menembak yang paling disukai.
Bahkan tidak ada yang melarang seorang prajurit yang memiliki posisi menembak favorit berupa tidur terlentang, selama itu mampu mengenai target walau tidak akurat.
Serangan pertama dan yang paling mematikan dilepaskan Regu 1 adalah sebuah roket yang ditembakkan dari peluncur roket disposable. Sebuah roket yang dapat menghancurkan sebuah kendaraan lapis baja melesat cepat ke arah ratusan orang yang mengejar mereka.
Regu penyihir melepaskan sihir yang mereka kuasai untuk menghancurkan roket yang melaku ke arah pasukan yang berada di barisan depan. Regu penyihir berhasil meledakan roket, namun ledakan itu justru membuat 15 prajurit tewas karena terkena ledakan yang memang sangat kuat. Bahkan gelombang kejutnya sampai menghempaskan para penyihir, dan membuat mereka terjatuh dari tongkat masing-masing.
Namun Regu 1 tidak akan menghentikan serangan mereka terhadap pasukan yang terus mengejar mereka. Tetapi, mereka tidak tahu jika pasukan yang mereka lawan seluruh personelnya adalah perempuan. Namun, selama mereka adalah prajurit atau kombatan negara musuh, dan terlihat kemungkinan kontak senjata, pasukan penjelajah yang disebar mendapatkan ijin untuk memerangi mereka.
Pasukan penyihir terus melepaskan sihir mereka kepada Regu 1, dan itu dapat diartikan seperti sebuah serangan. Pasukan penunggang kuda mengejar sambil memegang pedang yang sudah dilepaskan dari sarungnya.
Sesekali peluru mengenai dada para kuda yang dilindungi lempengan besi yang dibentuk seperti zirah besi khusus kuda. Kuda-kuda yang terkena peluru langsung tersungkur ketanah, dan membuat penunggang mereka terjatuh dan terseret di tanah.
Sekarang hari sudah mulai petang, namun kontak senjata belum berhenti hingga terlihat bayangan burung besar dari arah perbatasan Kekaisaran Luan dengan Kerajaan Arevelk.
Tidak ada serangan yang kedua pasukan berikan pada lawan masing-masing, mereka lebih terfokus pada suara gemuruh yang sangat menggetarkan hati. Seperti akan ada ratusan ribu pasukan yang mendekat kearah mereka.
“Sial, yang ini saja belum selesai!” Nio mengumpat di dalam hati karena harus dihadapi dengan pasukan musuh lagi.
__ADS_1
Namun, Sheyn merasa jika pasukan yang berani melewati perbatasan adalah pasukan dari Ratu Sigiz. Dia juga sudah mendengar kabar jika pasukan gabungan lima negara menyatakan perang terhadap Kerajaan pimpinan Ratu Sigiz itu.
Namun dia tidak menyangka, jika pasukan yang berada di pihak yang ditantang akan melakukan serangan terlebih dahulu dibanding pasukan yang menantang mereka.