Prajurit SMA

Prajurit SMA
139. Singkong rebus, apakah bantuan akan datang?


__ADS_3

Dalam sejarah dunia yang membahas sebuah pengepungan benteng, menerobos benteng ada kaitannya dengan kekalahan pertahanan. Begitu musuh berada di dalam benteng, pasukan musuh yang berhasil menerobos masuk ke dalam benteng akan menghabisi seluruh pasukan bertahan.


Strategi yang paling efektif adalah menambah kedalaman parit pertahanan, seperti yang terjadi pada parit masa Perang Dunia I. Alih-alih memperkuat pertahanan, Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela kekurangan tiga hal, yakni: personel, logistik, dan waktu, itu semua tidak bisa dihindari untuk menghadapi serangan beruntun Pasukan Aliansi selanjutnya.


Pasukan Ekspedisi hanya diberi sedikit waktu istirahat, namun mereka tetap berjuang dengan berani. Pasukan memusatkan unit mekanis yang tersisa untuk melakukan serangan memukul. Sebuah manuver serangan dengan mengapit musuh dan memusatkan tembakan ke arah korps ke-9 Pasukan Aliansi yang dipimpin Pahlawan Kebahagiaan benar-benar mengejutkan mereka. Serangan terarah membuat Pahlawan Kebahagiaan yang berasal dari Republik Finlandia menatap kosong pasukannya yang terkejut dan mulai kacau.


Tapi, orang Finlandia bernama Kalle ini melihat harapan setelah hampir mengalami kekalahan.


Mengikuti Rio dan Pahlawan Iri Hati, pasukan yang bergerak dari sebuah Gerbang tak sempurna yang terbuka di sisi timur benteng dan bertugas sebagai pasukan bantuan korps ke-9, tiba.


Pahlawan Iri Hati, alias Theodore, memimpin pasukan bersama Rio dengan jumlah tentara 80.000. Selain pasukan yang dimpimpin para pahlawan, pasukan yang berasal dari negara Benua Andzrev yang memihak Aliansi seperti Kerajaan Hrabro, Kerajaan Biez, Kekaisaran Sirds, Kerajaan Salodki turut menjadi pasukan bantuan. Dengan begitu, jumlah total pasukan bantuan sekitar 120.000.


Mereka bergabung dengan korps ke-9 pimpinan Kalle yang terisa sekitar 49.000 tentara di sisi timur benteng, dan akan melakukan serangan besar-besaran setelah ini.


“Jika jumlah besar pasukan kita kalah dalam penyerangan ini, kita tidak akan bisa pulang ke asal kita.”


Harapan untuk kembali ke dunia asal para pahlawan (dunia yang sama dengan asal Pasukan Ekspedisi) harus membuat para pahlawan berjuang dengan keras. Meski kebanyakan dari mereka memiliki keterpaksaan saat melawan Pasukan Ekspedisi, meski mereka memiliki sedikit kekuatan Dewa Perang, tetap saja para pahlawan ini pihak yang bisa dikatakan ‘dipaksa’ untuk melawan Pasukan Ekspedisi. Meski begitu, Pahlawan Amarah, Pahlawan Nafsu, dan Pahlawan Kebencian tetap melawan dengan perasaan yang ringan. Karena mereka bertiga memiliki kekuatan yang simbang dengan dua batalyon infanteri Tentara Pelajar.


Para pahlawan juga sama dengan para prajurit Pasukan Ekspedisi, yakni sama-sama takut menghadapi kematian ketika melakukan perlawanan. Meski Rio memiliki senapan dengan sihir Peluru Abadi yang tak akan pernah habis, dan dirinya tak perlu khawatir senapannya akan rusak jika digunakan untuk menembak terus-menerus, dia tetap takut jika harus bertemu dengan Nio dan unit pemuda tersebut. Entah apa alasan Rio hingga takut jika harus bertemu dengan Nio dengan kekuatannya yang sekarang.


Para pahlawan sejak bertarung melawan Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela, tidak bisa mundur dan menolak perintah yang mereka dapatkan. Para pahlawan yang berjumlah 9 orang ini benar-benar dipaksa bertarung melawan senjata Pasukan Ekspedisi, dengan imbalan akan dikembalikan ke dunia asal jika mereka gugur di peperangan ini.


Jika para pahlawan tetap bertahan hingga pertempuran berakhir, entah apa yang akan mereka dapatkan, hanya para petinggi Aliansi dan Dewa Perang yang tahu.


**


Taktik yang digunakan Pasukan Aliansi meski diperkuat pahlawan tetap monoton.


Para jendral Aliansi tetap menggunakan konsep pertarungan jarak dekat dengan jumlah besar pasukan mereka. Tapi Pasukan Aliansi yang didominasi tentara rekrutan baru, tidak memiliki kemampuan bertarung setingkat veteran tua. Di sisi lain, Pasukan Ekspedisi yang masih mempertahankan benteng mereka masih memiliki keunggulan dalam daya tembak, dan jika amunisi mereka habis, perbedaan jumlah antara Pasukan Ekspedisi dan Pasukan Aliansi akan sangat mencolok.


Kemudian, jika daya tembak Pasukan Ekspedisi dan daya tempur pasukan sukarela dapat dikurangi, Pasukan Aliansi akan mudah untuk menyelesaikan pertempuran. Itulah harapan mereka, dan harapan itu dibebankan pada pundak para jendral dan pasukannya, serta para pahlawan.


Tapi, para pahlawan yang kuat juga memiliki masalah yang lebih besar lagi. Diantara para pahlawan, hanya Rio dan Gurion yang merupakan seorang prajurit yang memiliki pengalaman perang, dan sama-sama pernah memimpin sebuah Regu dan Kompi. Tapi, mereka berdua dan para pahlawan lainnya belum pernah memimpin dan mengontrol pasukan dalam jumlah besar seperti ini. Itulah mengapa mereka sangat kesulitan dan belum berhasil menerobos barisan parit pertahanan dan perlawanan pasukan sukarela. Meski begitu, mereka berhasil menghancurkan seluruh turret pertahanan milik Pasukan Ekspedisi, dan membunuh ratusan prajuritnya.


Di lain sisi, Pasukan Aliansi sangat senang dengan berpihaknya keempat negara Benua Andzrev lainnya yang mengerahkan sebagian besar kekuatan mereka. Keempat pemimpin keempat negara tersebut memutuskan untuk membuang rencana tentang berdamai dengan Indonesia, dan bergabung dengan Aliansi untuk menyerang Pasukan Ekspedisi.


Pasukan Kekaisaran Sirds yang tiba paling terakhir, para jendralnya membagi pasukannya menjadi empat korps dan membiarkan mereka bergabung dengan pasukan pimpinan pahlawan dan melakukan pengepungan terhadap benteng Pasukan Ekspedisi.


Rio memuji taktik Aliansi yang melakukan serangan bergelombang siang dan malam. Itu adalah taktik yang mampu mengurangi jumlah prajurit dan melemahkan beberapa sisi benteng yang diharapkan membuat moral musuh menurun.


“Ini pertaruhan yang buruk…” gumam Rio.


Saat ini dia memerintahkan 20.000 tentaranya untuk membuat prajurit Pasukan Ekspedisi yang mempertahankan sisi utara benteng semakin lelah.


Rio tahu ini adalah misi yang buruk saat dia diperintahkan untuk memimpin korps ini. Sebelum melakukan serangan besar-besaran, menguras amunisi Pasukan Ekspedisi adalah sebuah keharusan. Tentu saja yang menyebabkan berkurangnya daya serang adalah kelelahan prajurit dan berkurangya amunisi. Jika jumlah prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela tidak bisa dikurangi secara bertahap, dengan terpaksa Aliansi menggunakan tubuh prajuritnya untuk mengurangi pasokan amunisi Pasukan Ekspedisi.


Namun, Rio tidak berniat menggunakan taktik tersebut, meski cara itu cukup efektif.


Aliansi melatih tentaranya untuk lebih takut dengan rekan mereka daripada musuh mereka. Ketika pasukan pimpinan Rio berhasil mencapai parit sisi utara benteng, mereka melompat ke dalam parit, mencabut pedang mereka, dan menebas tubuh prajurit Pasukan Ekspedisi yang ketakutan dan kelelahan. Namun, seragam loreng prajurit yang dirancang tahan tebasan benda tajam mengharuskan prajurit Aliansi menebas mereka berkali-kali sebelum mereka benar-benar mati.


Lalu, perlawanan yang diberikan pasukan sukarela sangat sengit, terutama pertarungan para tentara bayaran dan tiga gadis yang Rio belum tahu identitas mereka. Tapi tetap saja, Rio memuji ketangguhan pasukan sukarela saat berhadapan dengan pasukannya.


“Kita berhasil menerobos sisi utara benteng, saatnya maju!”


Rio memerintahkan seluruh prajuritnya untuk melancarkan serangan langsung di sisi utara benteng yang diperjuangkan Grup Tempur 4 dan 6. Para perwira Grup Tempur terpaksa memerintahkan bawahan mereka selain terus bertarung, dengan atau tanpa semangat juang. Para prajurit Pasukan Ekspedisi telah memutuskan lebih baik mati sambil berjuang mati-matian daripada mati bunuh diri untuk menghindari pertarungan sengit ini.


Tapi…


“Tembakkan!”


Dari belakang garis pertahanan Grup Tempur 4 dan 6, beberapa mortir dengan kaliber besar ditembakkan dengan kebanggaan. Artileri mortir mengenai barisan pasukan pimpinan Rio, dan menggetarkan hati pemuda itu saat ratusan prajuritnya terkena serangan mortir.


“Tembakkan lagi…!”


Rangkaian mortir yang ditembakkan selanjutnya menghempaskan ratusan prajurit Pasukan Aliansi yang hampir berhasil memasuki sisi utara benteng. Mayat prajurit yang terkena ledakan mortir menghalangi jalan masuk ke sisi utara benteng, dan menyebabkan kemacetan pergerakan pasukan. Pada saat pasukan Rio melambat, kendaraan pendukung tembakan memulai serangan artileri.


“Tembak…!”


Dua kendaraan lapis baja yang dipasangi artileri medan di atapnya melepaskan tembakan menyapu dengan membentuk pola sabit. Serangan ini menyapu infanteri pasukan musuh. Selain itu, ada puluhan granat yang ditembakkan senjata pelontar granat dan membunuh prajurit musuh dengan serpihannya. Lalu, prajurit Grup Tempur 4 dan 6 menyerang musuh dengan pistol di tangan kiri dan pedang di tangan kanan.

__ADS_1


Mereka mulai mencincang tubuh pasukan musuh dengan wajah serius dan teriakan penuh semangat, seakan-akan melupakan jika jumlah musuh terlalu banyak untuk dikalahkan hanya dengan pistol dan pedang. Mungkin karena efek kurang tidur menyebabkan prajurit Grup Tempur 4 dan 6 stres, dan bertarung dengan gerakan seperti orang mabuk.


Pasukan kavaleri yang Rio kirimkan juga terpaksa berhenti setelah melihat prajurit Grup Tempur 4 dan 6 yang mambantai teman mereka dengan gila.


Beberapa kendaraan bantuan tembakan bergerak dengan pelan demi menghemat bahan bakar, dan menembakan artileri. Jumlah kendaraan yang sedikit tidak dapat menyebabkan kerusakan yang serius di pihak musuh, tetapi kendaraan bantuan tembakan yang bergerak pelan mengacaukan formasi pasukan kavaleri, dan tembakan dari sejumlah artileri berhasil melindungi sisi utara benteng di pertempuran ini.


Daya tembak yang masih luar biasa dari Pasukan Ekspedisi mendorong moral tentara amatir yang sudah rendah ke dasar lembah.


Lalu, setelah para prajurit amatir mencoba melarikan diri dengan berteriak dan marah…


“Bunuh semua yang melarikan diri dan tidak melawan…!”


Prajurit yang akan melarikan diri menoleh ke sumber suara, dan yang berteriak tadi adalah Pahlawan Nafsu, alias Baron. Setelah itu, apa yang terlihat adalah hujan anak panah dan lesatan Peluru Abadi milik Rio yang menghujani pasukan yang akan melarikan diri dan pejuang Grup Tempur 4 dan 6.


Di depan sisi utara benteng,puluhan ribu tentara bergerak saat hujan anak panah dan Peluru Abadi masih berlangsung. Seluruh prajurit Grup Tempur 4 dan 6 mengutuk lawan dan bergegas kembali ke dalam benteng sambil menyiapkan perlindungan.


Serangan terhadap prajurit yang akan melarikan diri membuat prajurit merasa tidak masuk akal. Dan hujan panah membuat Grup Tempur 4 dan 6 terpaksa mundur sementara karena perbedaan daya tembak yang sangat jelas.


Pasukan pimpinan Rio menyumbang jumlah korban tewas paling banyak di penyerangan ini, sama seperti yang terjadi saat pertempuran pertama Pasukan Ekspedisi melawan pasukan gabungan lima negara.


**


“Brengsek, aku sudah gagal dua kali!” Rio mengutuk dirinya sendiri di dalam hati.


Setelah pertempuran sebelumnya gagal, Rio dipermalukan di hadapan petinggi negara-negara anggota Aliansi. Meski dia sudah memiliki kekuatan besar dan pasukan yang besar juga, seharusnya Rio berhasil menerobos masuk ke dalam benteng Pasukan Ekspedisi.


Namun…


“Apa yang kau lakukan, Pahlawan Amarah!?”


Selama Rio memimpin pasukan yang diberikan Aliansi padanya, dia telah kehilangan 45% dari total kekuatan pasukannya. Secara umum, jumlah 45% adalah kerusakan yang berada di tingkat di mana sebuah pasukan kehilangan sebagian besar kekuatannya, dan dianggap tidak mampu bertempur lagi sampai reorganisasi selesai, sehingga bisa digambarkan sebagai ‘pembantaian’.


“Bahkan dia lebih payah dari kami yang tidak memiliki pengalaman tempur langsung,” cemooh Pahlawan Empati yang berasal dari Kekaisaran Jepang. Remaja yang melontarkan pernyataan yang merendahkan Rio itu bernama Nanaharu Sakuya.


Rio yang belum berkembang sama sekali sejak menjadi pahlawan, meski dirinya memiliki pengalaman tempur langsung yang cukup banyak, dia masih berada di level yang lebih rendah dari Pahlawan Kesedihan, alias Indah.


Kerusakan yang ditimbulkan kendaraan bantuan tembakan Grup Tempur 4 dan 6 memang sangat besar. Tetapi Rio telah memperhatikan bahwa tidak ada ledakan meriam, yang menandakan daya tembak tank dan meriam Pasukan Ekspedisi hampir habis.


“Kalau begitu, aku tidak punya pilihan selain melanjutkan, karena yang bisa ku lakukan hanya itu.”


Rio meyakinkan dirinya sendiri dengan keras, dan terpaksa memimpin lagi tentara ke kematian satu demi satu.


**


Serangan pasukan kerajaan anggota Aliansi menciptakan kerusakan besar pada para pejuang Pasukan Ekspedisi.


Sebelumnya, itu memang salah Pasukan Aliansi yang tidak melengkapi tentara rekrutan baru mereka dengan perlengkapan yang memadai, dan tidak melatih para tentara agar memiliki moral yang kuat. Itu adalah hal wajar jika penyerangan sebelumnya mengharuskan Aliansi menderita kerusakan besar.


Pasukan yang dipimpin Pahlawan Amarah Rio kembali dengan kegagalan yang tragis, dan negara anggota Aliansi lainnya kehilangan sedikit kekuatan mereka.


Di tempat lain, Maslac dan Pahlawan Iri Hati Theodore sedang merencanakan sesuatu dengan senjata ciptaan Pahlawan Iri Hati tersebut, sekaligus merencanakan strategi untuk menggunakan senjata ini setelah mengetahui semua kekurangan Pasukan Aliansi. Selain berhasil membuat para prajurit Pasukan Ekspedisi kelelahan tanpa member mereka waktu istirahat akibat serangan tiga kali sehari, mereka berdua memutuskan untuk membuat senjata ‘sekali pakai’ dengan sebaik mungkin.


Senjata ini diharapkan agar Aliansi mengucapkan kata perpisahan “Sampai jumpa” kepada Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela.


**


Sidik menghela napas ketika melihat waktu di jam tangannya sudah menunjukkan pukul 17.22. Disampingnya, Fariz bersandar di bahunya sambil memakan sebuah biskuit yang merupakan salah satu makanan dalam paket ransum. Sepasang kekasih ini saling berbagi makanan di saat logistik semakin menipis, bahkan berbagi biskuit yang hampir memiliki tingkat kekerasan setengah dari kekerasan batu bata. Itulah mengapa saat tes untuk bergabung Tentara Pelajar para pendaftar di periksa kesehatan gigi mereka.


Di samping sepasang kekasih ini, seluruh anggota Regu penjelajah 1 menatap mereka berdua dengan tatapan tajam, atau lebih tepatnya tatapan iri, tak terkecuali Nio yang sedang merasakan rindu yang luar biasa dengan kakaknya.


Mereka semua juga merasa lega saat pasukan musuh belum menunjukkan tanda-tanda menyerang petang ini. Meski begitu, seluruh prajurit yang bertugas mempertahankan parit pertahanan yang melindungi sisi selatan benteng tidak mengendurkan kesiagaan mereka.


Kendaraan bantuan tembakan dan seluruh kendaraan lapis baja kembali ke dalam benteng untuk mendapatkan pemeriksaan singkat. Seluruh prajurit yang memiliki brevet keahlian memperbaiki kendaraan tempur mengerahkan seluruh kemampuan dan tenaga yang tersisa untuk memperbaiki seluruh senjata dan kendaraan perang.


Sementara itu, beberapa perempuan pengungsi yang dibantu prajurit perempuan Pasukan Ekspedisi membagikan singkong rebus sebagai pengisi tenaga darurat para prajurit. Meski tanpa singkong rebus, para prajurit bisa menyalakan api unggun untuk membakar beberapa buah singkong.


Singkong masih jauh lebih baik daripada memakan bangkai kambing dan ayam yang dihabisi pasukan musuh pada penyerangan sebelumnya. Itu memang membuat pasukan marah, namun hal tersebut hanya membuat perut semakin lapar. Singkong masih jauh lebih mengenyangkan daripada mengolah kulit pohon atau rumput-rumputan.


Anggaran yang murah hati diberikan pemerintah kepada Pasukan Ekspedisi, dan itu digunakan untuk pembangunan di sini, termasuk membuka lahan pertanian dan berternak ayam dan kambing. Namun, semua itu hampir hancur ketika Pasukan Aliansi menyatakan perang dengan Pasukan Ekspedisi.

__ADS_1


Pasukan Ekspedisi memakan makan malam yang sangat sederhana, dengan perasaan penuh harapan akan bantuan yang entah akan ada atau tidak.


Mengapa Arevelk tidak mengirimkan pasukannya untuk membantu kita?


Bukankah Negara Yekirnovo juga sekutu kita, kenapa mereka tidak mengirimkan bantuan?


Pertanyaan semacam itu keluar dari mulut prajurit Pasukan Ekspedisi yang hampir putus asa dan kelelahan dengan pertempuran ini. Lux dan Zariv yang mendengarnya juga tak percaya dengan kata-kata yang mereka bedua dengar. Namun, mereka berdua tetap yakin jika Sigiz merencanakan sesuatu demi pasukan ini, dan segera menyelamatkan Nio.


Lalu, Edera hanya bisa mengawasi Nio, tanpa bisa bertarung di sampingnya. Gadis kucing ini khusus dalam pertarungan jarak dekat, dan tidak terlalu mahir menggunakan busur dan anak panah, atau senjata jarak jauh semacam itu.


Pendengarannya yang setajam kucing umumnya sudah lelah mendengar keluhan dan harapan prajurit Pasukan Ekspedisi akan sebuah bantuan, dan cara untuk kembali ke Indonesia.


Ketika mendengar hal semacam itu, Edera, Zariv, dan Lux menyimpulkan jika para prajurit Pasukan Ekspedisi hampir putus asa. Namun, ketiga gadis tersebut sangat kagum dengan prajurit TNI tersebut meski sangat kelelahan, hampir-hampir putus asa dengan pertarungan ini. Seluruh prajurit pasukan bantuan, termasuk ketiga gadis itu kagum dengan semangat juang prajurit Pasukan Ekspedisi yang seperti tanpa batas tersebut.


Angin malam yang sejuk dirasakan seluruh prajurit yang mempertahankan benteng ini.


Di tengah-tengah malam yang redup ini, Edera menyadari sesuatu dari angin yang berhembus ini.


“Aromanya aneh…”


Para prajurit memang sudah semakin terbiasa dengan aroma darah, dan mayat yang sudah membusuk. Namun, aroma angin malam ini benar-benar aneh.


Nio yang berjalan dari penyimpanan air dan terlihat membawa seember penuh air mendekati Edera yang tengah mengendus sesuatu. Nio merasa jika Edera yang terlihat mengendus sesuatu ini cukup lucu.


“Ada apa, apa yang kau cium?”


“Apa kau tidak mencium bau yang aneh, Tuan Nio?”


Setelah mendengar jawaban Edera, Nio meletakkan ember penuh airnya dan meniru cara Edera mengendus.


Lalu dia tercengang dengan apa yang dia dapatkan dari penciumannya.


“Bau ini… Tidak mungkin!”


Nio kemudian berlari sambil menenteng ember penuh airnya dan berteriak sekeras yang dia bisa, sampai-sampai dia merasakan tenggorokannya patah saking kerasnya berteriak. Dia merasa bertanggung jawab untuk menyebarkan kabar ini saat pasukan sedang beristirahat sebelum serangan musuh lagi.


Saat dia mencapai parit di sisi selatan benteng, aroma menyengat ini tercium semakin jelas, dan keringat dingin mulai membasahi punggung Nio. Dia melihat seluruh prajurit yang mempertahankan parit ini masih beraktivitas seakan-akan tidak ada yang aneh dengan aroma udara malam ini.


“Ada gas beracun…!!!”


Pada saat Nio mengatakan itulah bau menyengat yang dia cium mulai menyebar luas. Bau ini semakin menyengat yang menyakitkan mata dan pernapasan… seperti bau gas belerang.


Jika dirasakan dari aroma gas yang seperti telur busuk, tampaknya musuh mengumpulkan belerang dalam jumlah besar dari beberapa gunung berapi di wilayah Kekaisaran Luan dan negara anggota Aliansi lainnya. Gerbang tak sempurna mempercepat pengiriman belerang dari negara anggota Aliansi lainnya.


Pasukan Aliansi sepertinya membakar belerang untuk menghasilkan hidrogen sulfida atau karbon monoksida yang beracun dari pembakaran belerang. Atau mungkin mereka menggunakan zat atau sihir racun yang Pasukan Ekspedisi tidak ketahui. Jika itu benar, situasi akan semakin memburuk.


Jumlah pasukan musuh yang besar sudah sangat merepotkan, dan menghadapinya sangat melelahkan, dan jangan dintanyakan lagi apa yang terjadi jika Pasukan Aliansi menggunakan senjata kimia.


Keberadaan pahlawan juga memperkuat pernyataan jika Pasukan Aliansi berhasil membuat senjata kimia ini.


Masker gas tidak cukup untuk seluruh pasukan yang mempertahankan sisi selatan benteng, dan unit medis juga tidak mampu untuk merawat semua yang terdampak gas beracun dan terluka.


Efek psikologis dari gas beracun sangat besar, di atas segalanya. Seluruh prajurit yang mempertahankan parit sisi selatan benteng mulai panik. Jika musuh datang untuk menyerang, akan sangat mudah untuk menghabisi semua prajurit yang panik tersebut.


Untungnya, beberapa prajurit terlatih untuk mengatasi gas beracun dengan cara yang sangat sederhana. Beberapa prajurit berteriak untuk meminta teman mereka agar melepas seragam atau kain, lalu dibasahi menggunakan air, lalu menutupi wajah dengan kain basah tersebut. Namun, cara ini tidak terlalu efektif jika digunakan untuk menangkal gas beracun yang sangat kuat.


“Mundur! Tinggalkan posisi ini…!!!”


Nio memutuskan untuk memerintahkan seluruh bawahannya mundur sebelum dampat gas beracun benar-benar parah.


Sidik melepas dan merobek seragam lapangannya untuk dibasahi dengan air yang dibawakan Nio sebelumnya, dan menutup wajahnya dan Fariz dengan kain basah itu. Mereka berdua lalu mundur bersama anggota Regu penjelajah 1 lainnya dan prajurit yang mempertahankan parit sisi selatan benteng lainnya.


“Bre-brengsek…!”


Nio merinding pada persiapan Pasukan Aliansi. Dia berpikir jika musuh berpikir satu atau dua langkah ke depan.


Prajurit yang terkena gas beracun akan merasa seperti tercekik dengan sangat kuat dan mata yang terasa terbakar. Kemampuan darah untuk mengikat oksigen akan berkurang, sehingga jumlah oksigen akan berkurang, dan menyebabkan prajurit yang tidak beruntung gugur.


Namun, inilah hasil dari kecepatan berpikir dan kemampuan belajar Pasukan Aliansi, dan pengetahuan yang dibawa para pahlawan dari dunia mereka, inilah yang menjadi sumber kekuatan Pasukan Aliansi.

__ADS_1


__ADS_2